Mesir (6): Ada Banyak Alasan Berkunjung, Anda Perlu Tahu

Pesisir laut merah yang indah.

Beberapa teman bertanya, mengapa kami memilih liburan musim panas ke Mesir? Jawabannya banyak. Pertama, kami suka dengan kultur atau budaya. Mesir adalah negara yang termasuk tertua di dunia yang kaya akan budaya sejak sebelum masehi. Kita tidak akan pernah habis menjejalahi budayanya yang sarat sejarah sejak saya belajar dulu di sekolah. Biasanya kami liburan di suatu negara tidak lama, namun kali ini kami punya lebih dari dua minggu hanya untuk Mesir.

Mesir tidak hanya piramida dan sphinx saja. Ada banyak alasan untuk datang ke sini.

Piramida dan sphinx yang ada di Kairo sudah ada dari ribuan tahun lalu.

Alasan kedua adalah Mesir juga punya alam dan pantai yang indah. Meski hanya sepuluh persen wilayah Mesir berisi gurun pasir, tetapi selalu ada sisi yang indah dan menarik untuk dikunjungi. Kami mengeksplor kota Luxor dan Assuan di pesisir sungai nil dengan kapal wisata. Sungai nil pun punya pesona tersendiri. Benar kata orang Mesir, sungai nil adalah hadiah terindah dari Tuhan. Di satu sisi sungai nil begitu subur sehingga dihuni banyak penduduk dan di sisi lain sungai nil dipenuhi padang yang gersang nan tandus.

Kaya kuliner dan selalu puas dengan makan dan minum selama traveling.

Bersamaan dengan kami adalah turis asal Eropa yang menghabiskan waktu liburan musim panas di Mesir. Mereka menghabiskan diri dengan berjemur. Di tepi laut merah letak hotel kami selanjutnya. Jika anda suka diving dan snorkling, ini wajib sekali dicoba. Pantainya sangat indah. Dari sini, ada ferry yang bisa mengantar penumpang ke negara Saudi Arabia dengan waktu tempuh tiga setengah jam.

Jika suka sejarah, Mesir adalah tempatnya.

Mesir pun hanya ditempuh selama empat jam setengah dari bandar udara Munich, Jerman. Itu contohnya. Jadi penerbangan dari Eropa ke Mesir hanya beberapa jam saja sudah menjadi alasan untuk datang ke sini. Bayangkan jika mesti terbang menempuh belasan jam, mereka sudah merasa bosan. Mesir bisa jadi pilihan orang-orang Eropa berlibur.

Seorang penari Nubian sedang bersiap tampil.

Alasan lain semua kembali pada diri masing-masing. Kami pun bertemu dengan beberapa orang Eropa yang mengaku datang ke Mesir tiap liburan musim panas. Atau mereka datang bukan kali pertama seperti kami. Satu hal buat kami, selalu ada sisi menarik lebih dari sekedar traveling. Tinggallah beberapa lama di Mesir maka anda akan menemukan alasannya.

Huruf hierogliph yang menandakan Mesir sudah menjadi pelopor komunikasi lewat simbol-simbol.

Berikut 10 hal menarik saat saya traveling di Mesir.

  1. Orang di sini mengakui tidak mudah buat orang Jerman yang terbiasa disiplin waktu. Janjian kami dengan petugas tur selalu tidak tepat. Waktu singkat dipikir hanya 10-15 menit, kenyataannya berlaku lebih dari 30 menit. Buat kami tidak masalah, ini adalah liburan. Tetapi bagi warga di sini, kebiasaan tak tepat waktu sudah menjadi tradisi.
  2. Kebiasaan memberikan tip atau uang jasa. Dalam kultur Mesir ini disebut ‘Bakischich’ dalam bahasa Arab. Besarannya sekitar 10-15 persen dari total yang dibelanjakan. Agar pelayanan lebih maksimal, berikan tip di awal. Hari pertama semisal menginap di hotel beberapa hari maka kami sudah berikan tip di awal sehingga service room memuaskan. Tak segan, mereka yang membantu juga meminta tip untuk diberikan setelah selesai jasa layanan seperti tour guide, porter tas, kusir delman, sopir bis wisata, dsb. Ini sudah menjadi kebiasaaan mereka.
  3. Biaya hidup terjangkau dan paket wisata yang murah. Biasanya saya cukup sibuk menentukan soal makanan selama kami traveling. Di Mesir, kami bisa mendapatkan paket ‘all inclusive’ makan dan minuman dari pagi hingga malam yang lengkap selama traveling. Kulinernya sesuai lidah dan enak. Ada program acara yang menarik sehingga wisatawan seperti kami tak bosan dan betah selama di Mesir.
  4. Hari Jumat adalah hari libur di sini, sama seperti hari Minggu di Jerman. Sedangkan Kamis seperti layaknya hari Sabtu dan hari Minggu seperti hari Senin.
  5. Mesir menggunakan mata uang Egpytian Pound (LE) Mesir, meski begitu berlaku juga mata uang Euro untuk berbelanja di toko sovenir dan area pariwisata.
  6. Makanan yang disediakan adalah halal. Meski wisatawan selama saya berpergian adalah orang-orang Eropa, mereka puas dengan kuliner yang disediakan. Semua enak dan pas di lidah. Tiap hari ada tema kuliner yang buat wisatawan tidak bosan.
  7. Begitu pun soal minuman alkohol. Karena kami tinggal di wilayah pariwisata yang pastinya dihuni turis dari berbagai dunia maka mereka menyediakan alkohol dengan harga yang cukup mahal.
  8. Bahasa sehari-hari orang Mesir adalah bahasa Arab. Namun mereka yang bekerja di sektor pariwisata bisa berbicara dengan baik dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Prancis.
  9. Tidak ada harga yang pasti saat anda berbelanja. Mereka memasang harga tetapi anda juga berhak menawar.
  10. Saat musim panas di Eropa seperti saat kedatangan kami, tidak ada perbedaan waktu antara Mesir dan Jerman. Kira-kira untuk waktu Indonesia Bagian Barat maka terjadi perbedaan lima jam lebih awal saat musim panas, semisal di Mesir jam 7 pagi maka di Jakarta jam 12 siang.

Alasan lain, warga Mesir sangat ramah kepada wisatawan yang datang.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Makanan Khas Afrika (5): Roz bil Laban, Pudding Nasi dari Mesir

Pudding nasi original buatan Mesir.

Anda mungkin masih ingat, saya pernah membahas tentang rice pudding atau pudding nasi beberapa waktu lalu. Ulasan tersebut bisa dicek di sini.

Ditambahkan sedikit cinamon untuk menambah rasa.

Berkaitan dengan rice pudding, saya mendapatkannya juga saat bermalam di kapal wisata di Mesir. Pudding nasi ini disajikan sebagai sarapan pagi Saya cukup terkejut juga mendapatinya dalam etalase sarapan pagi. Semula saya pikir ini adalah bubur karena tampak jelas terlihat bulir-bulir nasinya. Rupanya itu adalah pudding nasi.

Pudding nasi dengan gula putih tabur, enak juga loh.

Saya tentu saja mengambilnya dalam mangkuk. Saat duduk, saya bertanya pada pramusaji yang ramah melayani saya. Dia katakan itu adalah pudding nasi. Dia pun dengan senang menceritakan bagaimana pembuatan pudding nasi buatan isterinya di rumah.

Pudding nasi sebenarnya hanya berisi beras yang dimasak bersamaan susu. Diberi garam sedikit dan rasa vanila jika suka. Rice pudding buatan isterinya itu sangat enak. Jelas si pramusaji yang bernama Husein kepada saya.

Tak mau kalah, saya jelaskan saya juga suka pudding nasi sejak tinggal di Jerman. Saya justru baru mengetahui bahwa Mesir juga menjadikan pudding nasi sebagai sarapan pagi. Saya pun suka pudding nasi rasa vanila atau kadang ditambahkan kayu manis.Seperti bersemangat merespon cerita saya, Husein pergi ke bagian dapur.

Begitulah orang Mesir yang selalu ramah pada turis. Bergegas Husein membawakan bubuk kayu manis. Saya pun memasukkannya sedikit ke dalam mangkuk.

Anda bisa melihat dua pudding nasi asli dan pudding nasi dengan tambahan kayu manis.

Anda suka mana?

Makanan Khas Afrika (4): Egyptian Zuccini Oven Baked with Bechamel, Timun Jepang Panggang

Makanan berikut dari Afrika yang saya perkenalkan berasal dari Mesir. Maklum saja karena kami baru saja berpergian ke sana untuk menghabiskan liburan musim panas.

Tertulis courgitte dalam etalase makanan. Saya pun mengambilnya sedikit untuk mencicipinya. Saya khawatir menyisakannya di piring jika tidak suka. Semula saya pikir ini adalah semacam lasagna buatan Mesir.

Saat saya duduk, beberapa rekan sesama turis berbahasa Jerman membicarakan courgitte. Saya pun mendengarkannya. Ternyata ini bukan lasagna seperti dalam pikiran saya. Orang Jerman menyebut timun jepang sebagai zucchini. Sebenarnya ini adalah timun jepang yang dipanggang.

Kok bisa? Penasaran ‘kan?

Nama sebenarnya tertulis dalam bahasa Arab yakni Kousa bil Bechamel. Untuk membuatnya pun agak mirip dengan lasagna. Husein, si pramusaji yang ramah melayani kami pun tak segan menjelaskannya pada saya, saat saya bertanya bagaimana pembuatannya.

Pertama, tentu anda harus membuat saus daging dulu. Daging sapi cincang ditumis bersamaan dengan bawang merah dan bawang putih cincang. Masak hingga berwarna kecokelatan selama kurang lebih lima belas menit.

Selanjutnya adalah menambahkan saus tomat, bubuk pala dan merica. Beri sedikit air dan didihkan hingga membuat daging sapi cincang matang.

Kedua, membuat saus béchamel. Caranya adalah cairkan mentega dalam panci dan tambahkan bumbu. Aduk terus sambil masukkan susu sedikit hingga saus mengental. Panaskan oven untuk memanggang.

Tahap terakhir adalah melumuri loyang dengan mentega. Lapisi dengan timun jepang yang sudah dipotong kecil. Kemudian lapisan selanjutnya, tentu daging cincang yang ditumis. Lakukan seterusnya hingga loyang terisi penuh. Tutup dengan saus bechamel. Panggang dalam oven hingga matang.

Karena piring berisi courgette telah habis saya nikmati, saya jadi lupa mengabadikannya dalam foto. Saya terlalu asyik mendengarkan penjelasan Husein. Courgitte biasa disajikan dengan nasi.

Apakah ini mirip dengan Lasagna?

Mesir (5): Hibiscus Tea, Teh Hitam, Teh Mint dan Kegemaran Minum Teh

Hibicus tea yang berwarna merah dan teh hitam yang berwarna cokelat gelap.

Ada hal menarik jika kita bertamu ke rumah warga Mesir, mereka memberi minum teh kepada tamu. Hal ini kerap saya dapatkan semisal saat bertandang ke rumah salah seorang warga di desa wisata di Assuan. Para tamu yang notabene adalah turis dari berbagai dunia, mendapatkan suguhan minuman teh dari si empunya rumah.

Teh Mesir.

Pengalaman lainnya soal minum teh adalah saat kami datang ke toko sovenir yang menjadi rangkaian tur. Sebelum seorang pria yang menjadi sales menjelaskan produk mereka, pria ini meminta rekannya untuk membawakan minuman untuk kami sebagai tamu yang datang. Dan minuman teh datang, kemudian pria yang notabene sales menjelaskan bahwa warna teh merah adalah teh karkadeh atau hibiscus tea dan warna teh gelap adalah teh hitam.

Penyambutan tamu dengan teh.

Tentang teh hitam, saya pernah membahasnya di link ini.

Pengalaman lain adalah di kapal wisata kami juga disuguhi teh mint setelah tiba di pintu utama kapal. Teh penyambutan ini diberikan ke tiap wisatawan yang menginap di kapal wisata sesudah kami seharian di luar melakukan pelesiran dengan suhu yang luar biasa panas. Anda bisa bayangkan suami saya tidak terbiasa minum teh dan beberapa jam di luar sudah membuatnya tak nyaman karena suhu yang sangat panas. Akhirnya dia terpaksa menerimanya. Saya jelaskan teh mint baik untuk kesehatan setelah kami berpanas ria di luar.

Teh memang baik untuk kesehatan seperti yang saya jelaskan di link ini. Siapa pun tak menyangkal itu.

Selain baik untuk kesehatan, warga di sini berharap kita akan kembali lagi datang ke Mesir karena kita sudah minum teh suguhan mereka. Itu barangkali alasan beberapa pasangan yang sudah senior dan berusia lanjut datang rutin ke Mesir sebagai liburan mereka. Mereka meninggalkan Eropa dan terbang ke Mesir untuk liburan.

Teh lokal yang berasal dari Mesir itu berwarna merah. Saya sendiri memilih minum teh hitam. Tetapi suatu kesempatan, saya mencoba teh karkadeh yang ternyata saya tidak suka rasanya. Mungkin beda selera, suami saya akhirnya memilih minum teh karkadeh daripada dia tidak mendapat minum sama sekali.

Begitulah keramahan warga Mesir bila menyambut kita sebagai tamu. Di kapal wisata pun, kami mendapatkan beberapa kesempatan tea time di teras kapal.

Jika anda suka minum teh, jangan lewatkan kesempatan mencoba teh karkadeh dari Mesir!

Mesir (4): Museum Buaya Berisi Mumi Buaya Ribuan Tahun Lalu

Museum Buaya berada di sebelah Kuil Ombo atau Candi Sobek. Sobek adalah nama salah satu dewa Mesir jaman dulu yang digambarkan berwajah buaya. Sobek diyakini pernah memerintah pada 2500 Sebelum Masehi. Sobek juga dipercaya penguasa air. Air bagi masyarakat Mesir adalah cinta. Bahkan mereka menyebut sungai nil adalah hadiah terindah warga Mesir. Bayangkan bahwa hujan hanya datang satu kali dalam setahun. Itu sebab air punya makna kehidupan sejak dulu.

Mumi buaya yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Sudah hampir gelap kami tiba di museum buaya. Petugas jaga memeriksa tiket masuk dan mempersilahkan kami masuk. Tour guide kami menunggu di luar. Kami diperingatkan petugas jaga museum tidak boleh mendokumentasikan dengan kamera atau video elektronik. Kami hanya boleh menggunakan kamera telepon genggam, tanpa blitz. Karena buaya di sini sudah berbentuk mumi yang disucikan.

Telur hingga anak buaya yang dimumikan.

Setelah pintu masuk tampak 20 buaya yang sudah tak bernyawa di dalam etalase kaca. Kami melihat di luar kaca buaya-buaya ini tampak menghitam dengan ukuran bervariasi. Ukuran buaya mulai dari 4,3 meter hingga 2 meter. Buaya ini pernah hidup di lembah sungai nil. Kini buaya tersebut sudah berpindah habitat ke sungai selatan Aswan.

Kuil pemujaan dewa Sobek.

Buaya dianggap suci karena mewakili dewa Sobek, yang menguasai air. Di sisi lain, buaya adalah hewan vertebrata tertua yang pernah hidup di dunia. Usianya juga panjang.Di etalase lain, buaya tampak masih dimumikan dibungkus dengan kain. Terdapat juga kertas doa, namun sayang saya tidak mendokumentasikannya. Etalase lain menggambarkan perkembangan buaya yang sudah dimumikan juga. Mulai dari telur buaya, bayi buaya hingga buaya yang masih berusia beberapa bulan dalam etalase tersebut. Kunjungan museum yang singkat diakhiri dengan toko souvenir untuk turis. Selanjutnya, saya perkenalkan satu desa yang memperlihatkan buaya dan manusia bisa hidup bersama. Buaya dijadikan hewan peliharaan keluarga.

Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.
Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!

Mesir (2): Malam Pertama Menginap di Hotel, Malam Kedua di Kapal Wisata

Sunset di sungai Nil, kota Luxor.
Makan malam dari kapal wisata.

Tiba di Hurghada, bandara internasional, kami segera mengurus visa. Antrian begitu banyak mengingat pesawat yang kami tumpangi dari Jerman membawa turis yang hendak berlibur. Setelah urusan visa dan bagasi selesai, kami bergegas menuju pintu keluar.

Di petunjuk informasi agen tur kami dikatakan bahwa ada petugas tur yang menjemput. Ternyata seorang petugas biro perjalanan mengarahkan kami pada mobil mini van menuju hotel, tempat kami menginap malam pertama. Rupanya dalam mobil sudah ada turis-turis dari Jerman juga yang menuju ke hotel dengan jalur yang sama.

Dance performance sebagai program malam di hotel kami menginap malam pertama.
Buah jambu biji ada di Mesir.

Tiba di hotel, petugas resepsionis menyambut kami dengan ramah dalam bahasa Jerman. Karena kami sudah lapar, kami langsung bisa menuju lokasi restoran, tempat makan malam. Cerita soal makanan bisa dicek sebelumnya di sini.

Setelah makan malam, kami melihat sekelompok tamu hotel duduk di tepi kolam renang menikmati shisa dan menonton film di layar lebar. Kami melewatinya karena kami mendengar atraksi musik dan tarian yang lebih menarik. Lokasinya ada di amphiteater. Ini adalah amphiteater buatan hotel yang membuat tamu hotel bisa menyaksikan apa saja di panggung dengan bangku-bangku mirip stadion.

Perjalanan dari Hurghada ke Luxor.

Atraksi undian dari hotel hingga tarian mempesona kami sebagai tamu hotel. Kami jadi tidak bosan selama di hotel yang berada di tepi laut merah ini. Pihak hotel juga menyediakan aneka minuman seperti kopi, teh hingg cocktail gratis. Sedangkan minuman alkohol harus membayar ekstra. Tersedia juga gratis popcorn dan permen kapas sesuai permintaan.

Ini liburan malam pertama, kami sudah lelah. Padahal tidak ada perbedaan waktu antara Jerman dan Mesir di musim panas.

Masjid besar di kota Qena.
Melewati kota Qena.

Besok pagi kami harus berpindah kota dari Hurghada ke Luxor. Setelah makan pagi di restoran, ada mini van yang menjemput kami sebelum kami berpindah naik bis ke Luxor.

Kami menempuh perjalanan selama 5 jam dari Hurghada dengan menumpang bis ekslusif, tanpa khawatir kepanasan. Padahal suhu udara di Mesir mencapai 40 derajat celcius. Luar biasa kan!

Kami berhenti 30 menit di untuk istirahat dan ‘urusan toilet’. Sepanjang perjalanan, kami hanya menemukan padang luas yang berbatu dan gersang.

Bis hampir mendekati kota Luxor, tiba-tiba tour guide mengatakan bahwa kami tiba di kota yang cukup besar bernama Qena. Kota ini berada di selatan Mesir. Kami bisa mengamati bagaimana kehidupan masyarakat Mesir umumnya.

Setelah kota Qena, kami langsung menuju Luxor. Kota Luxor berarti kota yang terkesan lux karena terdapat istana raja. Kota ini dilalui sungai nil. Di sini kami akan melalui wisata sungai nil dan menginap satu minggu di kapal wisata.

Tampak desain lobby kapal menuju ke kamar.

Tiba di kapal wisata tujuan, pemandu tur sudah menyambut kami. Kami langsung mendapatkan kamar tidur dan bergegas mendapatkan himbauan mengenai panduan perjalanan selama kami di kapal.

Makan siang dan makan malam dilayani secara prasmanan. Malam ini kami berlabuh di Luxor. Dan selama tujuh hari kami menginap di sini, dengan fasilitas seperti hotel bintang lima. Di kamar mandi didesain ekslusif dengan bathtube misalnya. Atau dek atas terdapat balkon, kafe, kolam renang, klinik dan fasilitas lainnya akan diceritakan secara terpisah.

Makanan Khas Afrika (3): Tumis Hati Sapi ala Mesir

Nasi dan tumis hati sapi.

Waktu makan malam tiba. Kami masih dalam perjalanan dari bandara udara menuju hotel. Begitu tiba di hotel, tempat kami menginap pertama kali, kami sudah mencium aroma masakan. Maklum saja, kami sedang melalukan check in di resepsionis hotel yang ternyata letaknya dekat dengan restoran. Selesai check in, petugas mengarahkan kami untuk makan malam sementara barang dan koper kami langsung di antar ke kamar.

Aksi koki memasak tumis hati sapi.

Makan yang disediakan hotel itu sistim buffet, saya memilih yang saya mau. Tiba di giliran bagian daging, matanya saya tertuju pada aksi koki yang memasaknya penuh semangat berapi-api. Bayangkan saja aksinya ini membuat aroma masakan semakin menjadi-jadi. Saya pun lapar. Tertulis nama menu adalah tumis hati sapi.

Si koki tersenyum saat saya menyodorkan piring. Koki menjelaskan dalam bahasa Inggris 2 menit lagi. Saya pun menunggu demi tumis hati yang saya inginkan.

Piring pun terisi porsi tumis hati sapi yang saya inginkan. Ini berbeda dengan tumis hati yang pernah saya pesan di restoran Yunani. Cerita saya di cek di sini.

Segera saya mengambil nasi putih yang dimasak dengan gaya khas Mesir. Warna nasi pun tak putih seperti yang sering saya makan. Ada rasa dan bumbu yang dimasukkan di dalamnya. Ini seperti nasi berbumbu dengan warna cokelat terang. Tetapi ini bukan nasi goreng.

Kembali ke tumis hati sapi, ada warna cokelat kehitaman dari saus yang diberikan. Ini berasa sedikit manis gurih dalam sausnya. Sementara potongan hati sapi dibiarkan menyatu dengan potongan sayur. Ada wortel, timun jepang, paprika, daun capri dan bawang bombay. Rasanya sudah pasti mantap dan enak!

Ini mungkin bisa jadi ide anda memasak tumis hati sapi ala Mesir seperti yang saya ceritakan di atas.

Mesir (1): Begini Urus Visa Wisata

Selamat datang di bandara udara Internasional Hurghada, Mesir.

Akhirnya liburan musim panas tiba. Kami putuskan pergi ke Mesir tahun ini. Kami memang mengagendakan berangkat ke Mesir untuk merasakan sensasi wellness urlaub seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Menurut suami saya, liburan seyogyanya tidak disibukkan dengan berbagai urusan ini itu yang membuat stress. Dia ingin bahwa kami bisa berlibur dengan rileks, santai dan membuat kita benar-benar merasakan liburan.

Sepakat! Saya pun harus urus visa Mesir di Frankfurt. Di Jerman, ada tiga tempat untuk mengurusnya dan yang terdekat dari lokasi rumah tinggal adalah Frankfurt. Meskipun begitu, saya dan suami harus menginap semalam di hotel di Frankfurt. Akhirnya saya pun menyambangi kota metropolitan Frankfurt untuk selembar visa.

Sebagai penduduk Jerman, suami hanya perlu visa on arrival. Dia membayar 30€ begitu tiba di pintu terminal kedatangan bandara internasional Hurghada.

Syarat visa yang diperlukan untuk saya adalah

1. Pas foto berlatarbelakang putih 2 lembar.

2. Formulir aplikasi yang bisa diunduh di website kedutaan Mesir atau datang langsung ke kantor pengurusan visa Mesir. Setelah formulir terisi, fotokopi sebanyak dua kali.

3. Agenda perjalanan dan booking hotel dari biro perjalanan dan fotokopi dua kali.

4. Paspor asli dan dua lembar fotokopinya.

5. Kartu ijin tinggal di Jerman dan dua lembar fotokopinya.

6. Lembar amplop tertutup (karena visa saya dikirimkan via pos yang terdaftar)

7. Terakhir, bayar visa sebesar 38€.

Mudah ‘kan?

Tiba di gedung konsuler Mesir di Frankfurt, kami disambut petugas jaga di depan pintu. Telepon genggam ditahan petugas. Kami pun ditanya tujuan kedatangan. Karena kami bermaksud untuk membuat visa wisata ke Mesir maka kami diberi kartu beraksara bukan latin. Kartu ini sebagai jaminan penahanan telepon genggam. Jika urusan sudah selesai, kartu diberikan kepada petugas untuk mendapatkan telepon genggam kembali.

Kami diarahkan pada bagian pengurusan visa yang dilayani secara manual oleh satu orang petugas. Kami pun berdiri mengantri.

Saat saya menyerahkan dokumen, tidak banyak pertanyaan dari petugas. Stafnya dengan ramah membantu saya untuk menyiapkan dokumen yang langsung saya lengkapi saat itu juga. Bahkan beliau menyarankan saya agar visa yang sudah selesai sebaiknya dikirim via pos, ketimbang menunggu dua hari kemudian.

Done! Visa selesai. Kemudian visa dikirim via pos dalam kurun waktu kurang dari lima hari.

Keren!

Tips,

  1. Datang lebih awal sehingga bisa melengkapi kekurangan yang diminta petugas.
  2. Siapkan dokumen sesuai tujuan anda.
  3. Berpakaianlah rapi dan sopan.

Nantikan cerita liburan saya ke Mesir selanjutnya!

My Indigo, Restoran Kekinian, Lebih dari Sekedar Makan: Rekomendasi Tempat (30)

Apa yang terbayang dalam benak anda jika mendengar restoran kekinian? Ini pendapat saya. Restoran tersebut dipenuhi banyak generasi milenial untuk makan, ngobrol, diskusi, ambil foto dan upload di media sosial. Dengan interior didominasi kayu, lampu temaram dan spot-spot instragammable, maka konsep yang diusung restoran My Indigo ini benar-benar menyenangkan dan suasana yang hangat untuk semua kalangan, terutama generasi milenial.

Untuk alasan privasi, saya tidak mengambil suasana pengunjung yang sedang ramai saat wiken. Ya, saya datang saat wiken minggu lalu. Tempatnya ramai dan enak untuk ngobrol.

Saya berkunjung ke restoran My Indigo di Linz, Austria. Sepertinya restoran ini mengusung konsep lebih dari sekedar makanan yang ditawarkan. Makanan yang alami dan sehat bisa menjadi pilihan para vegan dan vegetaris juga di sini. Karena dua orang di samping saya yang sedang memesan, mereka menyebut pilihan makanan vegetaris.

Menu yang tersedia di restoran tersedia di papan informasi atas, dekat meja pemesanan makanan. Lalu saat anda sudah menemukan apa yang ingin dipesan, berdirilah di di depan etalase makanan. Anda akan mendapatkan mangkuk besar berwarna hitam untuk meracik apa yang diinginkan. Untuk side dishes, anda bisa memilih nasi, noodle atau quinoa. Saya akhirnya memilih nasi. Main dishes akan dipandu untuk petunjuk pengambilannya. Misalnya menu saya adalah Austrian Beef Chili maka ada chili corn cane yang dicampur dengan nasi.

Tak berhenti di situ, pesanan saya berlanjut dengan salad yang diracik sesuai selera dan kebutuhan pembeli. Ada tauge, wortel, tomat cheri, buah zaitun, jagung dan lainnya yang biasanya disajikan di salad. Saya memilih alpukat dan dressing mayonaise. Saya tambahkan sambal sesuai selera saya. Setelah pembeli meracik menu yang diinginkan, dia bisa memilih minuman yang dibuat sendiri dari dapur My Indigo. Saya memilih teh klasik. Lalu pembeli langsung ke meja sebelah, yakni kasir dan membayar semuanya.

My Indigo menawarkan citarasa kreatif dari menu yang sesungguhnya. Misalnya, saya memesan Austrian Beef Chilli. Lalu ada makanan lainnya seperti sushi, ramen, Kari dari Thailand dan Pho dari Vietnam. Makanan khas India juga tersedia seperti tandoori dan dal. Di sini pula My Indigo menawarkan makanan bio atau organik yang disukai seperti kue, kopi dan minuman lainnya.

Anda bisa memesan makanan sebagai salad, mie atau sup hangat. Semua itu sesuai kreativitas dan selera anda untuk mencampurkannya dalam mangkuk anda.

Tertarik mencoba?