Saya Pilih Bahagia

Jika hidup dikatakan pilihan, maka pilihlah menjadi bahagia. Buat apa memikirkan hal yang rumit? Sementara hal yang sederhana bisa dilakukan yakni jadi bahagia. 

Orang lain punya ini itu, kita pun punya sesuatu yaitu tetap bahagia. Bahagia itu mudah, semudah melakukannya. Hal yang susah untuk bahagia bilamana kita mematok dan memasang syarat menjadi bahagia. Sejatinya bahagia itu tanpa syarat.

Tidak ada alasan buat menjadi bahagia. Bahagia itu dipraktikkan, bukan sekedar pola pikir. Bahagia itu tidak ditentukan dengan apa pun juga. Karena sejatinya tiap orang berbeda-beda untuk menjadi bahagia. Bukankah tiap pribadi itu unik pola pikirnya?

Jika buat kalian makan sambal terasi dan ikan asin tidak bahagia, justru buat saya yang jauh dari Indonesia, makanan tersebut membahagiakan. Bahagia itu lebih dari sekedar rasa karena tidak dapat dideskripsikan. Bahagia itu jadi menikmati ikan asin dan sambal melebihi makanan lain di sini.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang teman Jerman yang baru saja naik balon udara. Wisata balon udara menyenangkan saat musim panas di Jerman seperti ini karena kita bisa melihat keindahan warna dari atas sana. 

Nah saya tanya apa perasaannya setelah naik balon udara? Dia jawab bahwa ‘saya merasa bahagia’ lalu saya pikir yah pasti bahagia karena wisata balon udara itu kan perlu uang yang tak sedikit. Artinya jadi bahagia itu perlu uang atau mahal harganya.

Saya salah! Teman saya menjelaskan begini. ‘Anna, syarat untuk naik balon udara adalah jadi bahagia.’ Bengong dong saya. Katanya ‘Saat kamu di atas dalam balon udara, pikirkanlah yang membahagiakan. Rasakan bahwa kamu bahagia. Jika perasaanmu tidak bahagia, sebaiknya tidak usah naik (balon udara).’ 

 Heh!!!

Jika kita tidak bahagia, kita tidak dapat menikmati keindahan pemandangan dari balon udara.

Pertama-tama dalam melakukan sesuatu, pilihlah jadi bahagia. Mengapa? Saat kita bahagia, kita dapat menikmati apa pun juga, keindahan hidup ini.


Selamat Hari Minggu! Happy sunday! 

Rinder-Rostbraten in Champignonsauce und Nudeln

(Siap disajikan dengan salat tomat. Saya tambahkan pula saus Maggi yang dimaksud.)

Lagi-lagi saya dapat resep baru dari mertua. Makan siang kali ini saya coba masakan, yang boleh dibilang seperti rendang ya. Masaknya juga mudah dan simpel. Agar semakin menyehatkan, makannya bersama salat tomat. Untuk pembuatan salat tomat dapat dilihat dalam link di sini.

Bahan yang diperlukan: 

1. 180 Gram daging sapi tanpa lemak, dibelah dua seperti steak. Pukul-pukul daging agar lunak saat dimasak.

2. 100 Gram mie.

3. Jamur Champignon.

4. Satu bungkus Maggi saus Rinder-braten. (Lihat gambar yang dimaksud, satu pak)

5. 3 Sendok makan Fett.

6. Garam dan lada secukupnya.

7. Dua liter air untuk mie.

8. 200 ml air panas untuk saus.

Cara memasak:

1. Memasak mie terlebih dulu. Masak dua liter air. Masukkan garam secukupnya. Setelah mendidih, masukkan mie. Masak mie kurang lebih 10 menit. Setelah masak, coba kekenyalannya, jika suka silahkan disisihkan sementara.

2. Ambil daging sapi, taburi kedua sisi daging dengan garam dan lada. 

3. Panaskan panci. Masukkan fett ke dalam panci panas. Setelah itu, masak daging dalam panci.

4. Masukkan air masak 200 ml ke dalam panci. Lalu masukkan saus Maggi Rinder-braten dan aduk perlahan-lahan. Masak ke dua sisi selama satu jam.

5. Setelah sejam, masukkan jamur ke dalam panci yang berisi daging. Masak lagi selama setengah jam. 

6. Setelah harum, silahkan disajikan untuk 2 porsi.

Catatan:

1. Jamur yang saya pakai adalah jamur kemasan yang biasa tersedia di supermarket.

2. Mie yang saya maksud semacam pasta. Anda bisa mengganti pasta sesuai selera. Atau anda bisa ganti juga dengan sayuran yang sudah direbus seperti wortel, brokoli dan buncis.

3. Memasak daging total selama satu jam setengah, mohon perhatian besaran api. Karena saya menggunakan kompor listrik.

4. Fett juga bisa diganti dengan minyak sayur. 

Selamat mencoba!

Vogelpark Irgenöd, Taman Burung di Bayern: Ternyata Indonesia Kaya Varian Burung

Bangganya datang ke taman burung di sini, karena ternyata banyak juga jenis burung yang berasal dari Indonesia. Sebagai contoh, di setiap lokasi burung disebutkan dalam papan informasi darimana asal burung tersebut yang kebanyakan papan informasi hanya menyebut nama benua saja, tetapi jenis burung asal Indonesia secara langsung tertera di papan informasi berasal dari Indonesia. Bangga ya!


(Lihat di papan informasi yang menunjukkan Indonesia disebut secara langsung, sedangkan yang lain hanya disebut benua atau bagian benua saja.)

Alasan lain mengapa saya, suami dan mertua datang ke taman burung. Suatu kali saya dan suami menonton siaran fauna di salah satu televisi Jerman. Sang informan dalam program tv tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar burung-burung tersebut berasal dari tanah air, Indonesia. Wah! Indonesia itu kaya, kaya flora dan fauna. 

Awalnya vogelpark tidak sebesar sekarang. Itu cerita suami saya yang pernah datang beberapa kali sejak masih kanak-kanak. Bertambahnya aneka jenis burung, vogelpark pun semakin luas. Apalagi taman ini dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak di beberapa tempat. Selain belajar tentang jenis burung yang beraneka ragam, anak-anak juga bisa bermain riang dengan suasana alam terbuka.

Taman burung seluas 60 ribu kuadrat meter ini mengikuti kontur geografis alam sekitar dan berdasarkan habitat burung. Kebutuhan dan kehidupan burung di sini benar-benar diperhatikan. Ada lebih 100 burung yang hidup di sini. Pengunjung tidak hanya mendapatkan edukasi tentang burung yang beraneka ragam jenisnya, namun juga menikmati relaksasi segarnya alam sekitar.

Harga tiket bisa dilihat dalam papan informasi (lihat foto bawah) 

(Harga tiket dan tiket masuk berwarna oranye.)

yakni 6€, sedangkan anak-anak hingga usia 12 tahun dikenakan biaya 3€. Ada juga tiket 1 tahun berlangganan. Yang menarik, harga tiket tidak berubah saat hari libur/hari minggu. Kebetulan kami datang saat hari libur, 15 Agustus yang diperingati tiap tahun sebagian Jerman, terutama Bayern yang mayoritas Katolik sebagai ‘Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga’ atau ‘Mariä Himmelfahrt’.

(Arena bermain anak-anak dan tempat duduk untuk melepas lelah tersedia di beberapa titik.)

Di beberapa tempat tersedia bangku-bangku dan saung jika lelah berjalan menyusuri taman. Taman ini dilengkapi pula restoran dan kafe dengan harga terjangkau. Anda juga bisa membeli aneka sovenir menarik di akhir kunjungan.

Jika tertarik, anda bisa datang ke Vogelpark Irgenöd di Otenburg. Jika tidak ada kendaraan pribadi, silahkan naik bis dari Passau ke Otenberg. Semoga bermanfaat!

Jajanan Khas Negeri Italia di Italienische Einkaufsnacht

Apa yang anda pikirkan tentang negara Italia? Salah satunya pasti makanan contoh saja, pizza dan pasta. Betul sekali, baru-baru ini di sebuah kota di Bayern mengadakan Italien Einkaufsnacht atau bisa diistilahkan, malam keakraban dan kebudayaan negeri Italia.

Di sini beragam ditawarkan, mulai dari musik, makanan hingga paket tur wisata ke negeri Italia, tetangga Jerman tersebut. Karena judulnya berbelanja, di beberapa tenant toko di tempat berlangsungnya festival memberikan diskon berbelanja hingga larut malam. Seru kan?!

So, apa saja jajanan festival yang dijajakan? Berikut yang saya coba:

1. Pizza

Tahu dong makanan yang sudah mendunia ini? Pizza termasuk jajanan yang mudah ditemukan di Italia sendiri. Ada aneka rasa yang pasti menggugah selera, apalagi pizza margharita yang saya pesan di bawah ini:

2. Bruchetta


Sejenis roti baguette atau roti perancis yang diiris kemudian dipanggang sebentar dalam oven. Setelah itu, taruh di atas roti tomatten salat yang segar. Ada pula burger ala Italia, namun saya tidak coba membeli.

3. Creppes


Jajanan ini juga pastinya sudah ada di Indonesia, ya kan? Ada banyak varian rasa. Namun di sini semua creppes dijual dengan rasa manis, mulai dari harga 4€ saja. Tertarik?

4. Eiscreme 

Italia juga dikenal dengan aneka rasa ice cream yang menggugah lidah, apalagi di musim panas di Eropa. Datanglah ke Eropa saat musim panas seperti sekarang, banyak gerai ice cream khas Italia dipenuhi orang-orang yang bersantai ria! Festival ini juga tak kalah menjual ice cream meski di malam hari.

Menyenangkan bukan?

Belajar ‘Branding’ dari Indomie

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Artikel ini tidak bermaksud advertorial namun saya jadi tertarik membahas mengenai ‘branding’ produk ini setelah saya mendapati artikel bahwa produk ini sudah menjangkau ke Nigeria, Afrika. Ternyata tidak hanya sampai di Afrika, saya pun bisa mendapati produk ini di Jerman. 

Sejalan dengan pendapat seorang ahli marketing (2000) bahwa bagaimana produk bisa semakin dikenal, salah satunya melalui multiple market places. Ini mungkin cara dimana indomie tidak saja bisa dirasakan di Indonesia, namun hingga mancanegara. 

Kali ini saya ingin mengulas bagaimana pembentukan citra indomie hingga saya pun ingin beli meski jauh dari Indonesia. Bahkan saya saja sampai membawa 1 dus Indomie ke Korea Selatan buat seorang teman Indonesia yang menitipkan indomie. Itu artinya branding indomie melekat pada mereka yang pernah merasakan nikmatnya makan indomie. 
Saya jabarkan dalam empat (4) P berikut ini:

1. Placement (Branding)

Teknik marketing ini merujuk pada bagaimana indomie dikenal sebagai produk mie dengan citarasa Indonesia. Strategi placement branding semula muncul saat booming film di era tahun 1940-an yang menunjukkan bagaimana seorang artis dalam film dengan citra produk yang melekat pada mereka. Produk tersebut bukan sekedar tempelan film namun bertujuan mempengaruhi siapa pun yang melihat.

Begitu pun dengan indomie, meski ada produk lain memiliki aneka rasa masakan khas Indonesia, namun indomie mampu melekat kekhasannya sebagai produk Indonesia. Dari pemilihan nama saja, saat saya memilih indomie di toko Asia, si kasir langsung menebak saya berasal dari Indonesia. Semula banyak orang Asia di sekitar saya menduga saya dari Thailand atau Filipina, namun saat membayar indomie maka mereka pun tahu asal saya.

Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang melukiskan budaya Indonesia. Iklan indomie yang saya kenang adalah bukan tentang bagaimana memasak indomie itu sendiri atau rasa indomie, namun kekhasan atau budaya Indonesia. Menarik bukan? 

2. Price

Sebagai anak kos dulu, saya pernah merasakan bagaimana menikmati indomie seperti makan di restoran. Mengapa? Saya tidak punya uang tetapi cukup dengan indomie saya bisa merasakan rasa yang kurang lebih sama dengan makanan yang dimaksud. Artinya, harga indomie cukup terjangkau untuk kocek saya kala itu.

Ada banyak pula pilihan produk mie instan lain di Jerman, dari yang berharga murah atau setara dengan indomie hingga yang mahal. Namun hanya dengan kisaran 0,39€ – 0,70€ atau 39 cents Euro hingga 70 cents Euro, saya sudah bisa mengobati rasa rindu masakan Indonesia meski jauh di mata. Harga itu bervariasi saat saya temukan di berbagai supermarket dan toko Asia di sini.

3. Product

Produknya bagaimana? Anda bisa menilai sendiri. Menurut saya, meski indomie berasal dari Indonesia namun bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Lihat saja contoh indomie rasa kari ayam maka ditulis Nodelsuppe mit Hühnergeschmack! Jadi siapa pun yang tidak paham bahasa Indonesia dapat mengerti rasa kemasan yang beraneka ragam di muka depan produk. Ini pula termasuk petunjuk memasaknya dalam bahasa setempat di muka belakang produk.

Dalam produk muka depan, jelas ditampilkan rasa kemasan, termasuk imej yang menggambarkan makanan tersebut saat disajikan. Setidaknya visualisasi akan membantu saat orang memilih produk. Soalnya saya pernah traveling di Asia, lalu saya dan suami mampir ke toko membeli kemasan mie instan setempat, namun di produk muka depan tidak tertera seperti apa penampakan setelah memasak. Saya dan suami hanya bisa menebak seperti apa hasilnya setelah dimasak. 

Lalu informasi 3 menit di sampul muka produk cukup membuat puas bagi mereka yang ingin segera makan tanpa berlama-lama memasak. Memang ada yang lebih dari 3 menit? Ada saja. Artinya tiap produk punya informasi masing-masing, namun indomie punya keunggulan, dalam 3 menit anda sudah bisa makan.

4. Promotion

Saya masih ingat ketika di Indonesia, iklan indomie begitu touching, bukan karena soal produk makanan, namun soal budaya Indonesia. Iklan indomie begitu menggaung apalagi saat baru meluncurkan rasa baru karena iklannya yang berdurasi cukup lama dan berulang-ulang. Saya yakin promosi indomie sudah cukup mendulang kesuksesannya. 

Sekali lagi di akhir, saya tegaskan bahwa ini tidak bermaksud iklan atau advertorial namun belajar bagaimana strategi komunikasi suatu produk bisa mendunia. Tulisan ini juga bukan karena ikut kontes menulis atau kompetisi blog, tapi murni ini pendapat saya. Terimakasih indomie. 

Masihkah Pekerjaan Menentukan Identitas Sosial?

Dalam diskusi budaya antara Timur dan Barat, ditemukan bahwa bagi orang Timur katakanlah Indonesia, begitu mudah menanyakan apa profesi seseorang bahkan dengan orang asing atau yang baru dikenal. Namun, ternyata hal ini dalam budaya Barat menjadi dianggap ‘tidak sopan’ jika kita menanyakan ‘apa pekerjaan anda?’ pada orang lain meski bertanya pada seorang teman.

Semakin maju dunia, pekerjaan tidak lagi dipandang hanya bekerja di kantor, berangkat pagi pulang sore atau bekerja dengan sebutan ‘guru’, ‘dokter’, ‘karyawan’ dan aneka profesi lainnya. Kini bekerja pun bisa tanpa harus ke kantor, mereka yang bekerja secara online. Atau profesi pekerjaan pun cakupannya menjadi luas saat sekarang. 

Sebagai misal, ada 2 orang tukang batu. Lalu, saya yang semula tidak tahu apa pekerjaan mereka sebenarnya, bertanya begini “Apa yang anda lakukan hari ini?” Orang pertama menjawab “Saya menyusun batu” di kesempatan terpisah, saya bertanya pada orang kedua, dia pun menjawab “Saya membangun istana.” 

Dengan pertanyaan sama ternyata saya bisa menghasilkan dua respon yang berbeda. Jika melihat jawaban orang pertama, jelas saya bisa memandang orang ini mungkin tukang bangunan atau tukang batu. Sedangkan pada orang kedua, saya bisa berpikir mungkin orang tersebut adalah seorang Arsistek, Perancang Bangunan, Supervisor/Mandor pekerja bangunan, dsb. Padahal keduanya adalah tukang batu. 

Begitu mudah kita bertanya, apa yang sedang kau kerjakan sekarang? Itu dimaksudkan untuk bertanya profesi pekerjaannya. Profesi pekerjaan dipandang sebagai identitas sosial. 

Lalu orang mengkotak-kotakkan dalam kelompok tertentu dan mengkaitkan dengan tindakan dan norma sosial. Jika seorang pembela hukum, tidak boleh salah. Jika seorang dokter, tidak boleh sakit. Jika seorang ahli agama, tidak boleh salah. Jika seorang guru, harus santun. Dan seterusnya untuk hal lain. Identitas sosial ini yang kemudian dikaitkan profesi pekerjaan. 

Boleh dibilang, di tengah berbagai tuntutan ekonomi misalnya, masih ada saja orang yang berpikir salah karir. Atau hukum ‘The right man is in the right place’ belum tentu juga benar saat dilakukan seleksi karyawan. Namun profesi pekerjaan disandang sebagai identitas sosial, sehingga untuk mengenal seseorang, tanyakan apa pekerjaannya. 

Ada yang memilih pekerjaan karena pilihannya, namun ada pula karena terpaksa memilih dengan berbagai alasan. 

Ada yang bangga dengan profesi pekerjaannya, lalu ketika terjadi masalah. Orang-orang sekitar mencap dan mengkaitkan dengan pekerjaan. Misal, “Jadi guru kok bicaranya tak sopan”; “Jadi dokter kok bisa sakit ya” ; “Ahli komunikasi kok bicara saja tidak jelas” dan segala macamnya. 

Namun lepas dari apa pekerjaan kita dan identitas sosial yang melekat pada kita, kita sebenarnya ingin dikenal jadi diri sendiri. Ini saya, tanpa embel-embel gelar kesarjanaan atau profesi pekerjaan. 

Di sini saya paham, budaya di Jerman (Barat) bahwa mereka mampu memisahkan urusan pekerjaan dengan personal. Jika saya dan beberapa orang terlibat dalam diskusi obrolan pertemanan, tidak lagi kami berbicara soal pekerjaan. “Saat di dalam kantor, saya pakai jubah bos, namun di luar kantor saya adalah teman baik dan *****” kata teman saya sambil menyebutkan namanya. 

Jika di kartu identitas diri (KTP) saya di Indonesia ada kolom pekerjaan, di Jerman dalam kartu identitas diri tidak dicantumkan profesi pekerjaan. Artinya saya ingin dikenal lepas dari apa pun profesi saya. Ich bin Ich.

Memasak Wurst-Gulasch

Jangan heran kalau banyak postingan tentang resep memasak, maklum liburan musim panas diisi dengan menikmati aneka masakan yang belum pernah saya coba sebelumnya.

Gulasch adalah sejenis sup yang mudah ditemukan pada masakan di Jerman. Ada yang klaim bahwa gulasch sesungguhnya dari negeri Hungaria, tetapi beberapa kali saya pergi ke restoran Jerman di Asia, masakan gulasch terkadang diselipkan dalam daftar menu. 

Daripada panjang lebar membahas gulasch, mari sekarang memasak gulasch. Gulasch yang sering saya coba di restoran Jerman di Asia adalah gulasch dengan isian daging dan beberapa sayuran. Makan bersamaan dengan roti. 

Kali ini saya coba Wurst-Gulasch resep mertua yang praktis. Itu artinya gulasch memakai Wurst, atau sosis. Saya yakin semua bisa memasaknya karena praktis dan mudah.

Bahan-bahan yang diperlukan:

1. 180 Gram Fleisch Wurst.

2. 1 siung bawang bombay.

3. 10 buah paprika besar.

4. 2 liter air.

5. 1 sendok makan Fett.

6. 3 Würfel (pak) Fleish Suppe.

7. 1 sendok makan tepung.

8. 2 sendok pasta tomat.

9. Paprika bubuk

Langkah memasak:

1. Siapkan panci kemudian masukkan fett jika sudah panas. Setelah itu masukkan bawang bombay yang sudah dicincang halus.

2. Setelah tercium harum kira-kira 2 menit, masukkan paprika besar yang sudah diiris halus. Lalu masukkan air ke dalam panci.

3. Tunggu air hingga mendidih, lalu masukkan wurst yang sudah diiris kecil ke dalam. 

4. Masukkan lagi 3 pak fleish suppe, tepung dan diaduk perlahan.

5. Setelah air mengental, tambahkan bubuk paprika dan pasta tomat. Masak kurang lebih 30 menit hingga bercampur rata dan kuah mengental.
6. Siap disajikan dengan nasi. Hidangan ini untuk porsi 6 orang.

Perhatian:

1. Di Jerman ada banyak varian sosis, pilih fleisch wurst. Anda juga bisa mengganti juga denga daging sapi sesuai selera.

2. Fett bisa diganti dengan minyak sayur.

3. Kaldu bubuk Fleish Suppe adalah semacam bumbu yang dicampurkan dalam sup. Di Indonesia anda bisa ganti dengan Maggi Kaldu rasa sapi.

(Bubuk penyedap rasa yang dimaksud. Di Indonesia mungkin bisa digantikan Maggi.)

4. Wurst-Gulasch bisa disajikan dengan mie, tergantung selera. Saya makan di sini dengan nasi.

Mudah bukan? Selamat mencoba!

Pasta Salmon dengan Saus Arabiata

Ada banyak varian memasak pasta. Kali ini saya coba padukan dengan ikan salmon yang dipanggang. Begini caranya:

Bahan-bahan yang diperlukan:

1. Dua potong salmon

2. 150 gram pasta. Silahkan pilih pasta bebas sesuai dengan selera.

3. Minyak goreng

4. Margarin

5. 6 buah tomat kecil yang segar

6. 2 paprika besar

7. Seperempat bawang bombay

8. 4 sendok makan saus Arabiata. Saus ini mudah didapatkan di supermarket.

9. Garam, paprika bubuk dan merica secukupnya.

Langkah memasak:

1. Masukkan air sebanyak dua liter. Masukkan sedikit garam dan minyak sayur. Kemudian masukkan pasta dan masak selama 10 menit setelah air mendidih di panci. 

2. Setelah 10 menit, tiriskan pasta dan singkirkan sementara.

3. Taburi salmon pada kedua sisi yakni garam, paprika bubuk dan merica. Diamkan sebentar.

4. Siapkan wajan panas, masukkan margarin. Setelah mencair, panggang salmon dalam api kecil selama lima menit pada masing-masing sisi salmon. Kemudian angkat setelah salmon berwarna kecoklatan.

5. Siapkan wajan panas, masukkan minyak secukupnya. Kemudian masukkan paprika, tomat dan bawang bombay. Tumis hingga harum. 

6. Masukkan saus Arabiata ke dalam wajan dan aduk bersamaan. Setelah 5 menit, masukkan pasta yang sudah tiris dari air. Aduk perlahan-lahan agar saus bercampur rata.

7. Tunggu hingga bumbu meresap 3 – 5 menit kemudian siap disajikan bersama salmon yang sudah masak.

Bagaimana? Mudah bukan? Anda juga bisa berkreasi sendiri.

Perhatian:

1. Jika membeli salmon beku, silahkan keluarkan 1-2 jam sebelum dimasak agar mencair. Lalu keringkan kedua sisi dengan tisu, baru kemudian dilumuri bumbu seperti garam, merica dan paprika bubuk.

2. Paprika dan tomat hanya variasi rasa saja. Jika tidak suka, boleh tidak memakainya. Saya kebetulan suka sekali paprika dan bawang.

Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!

(Salah satu kasino perbatasan. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan.

Makan siang sudah tiba. Aku bertemu dengan seorang teman yang ajak makan siang bersama di restoran perbatasan. Sebenarnya aku tak terlalu suka dengan dengan rekan suamiku ini. Alasannya klise sih, teman ini suka pergi ke kasino. Halah! Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengenalnya. Siapa tahu aku bisa belajar darinya! Bukan belajar berjudi tetapi belajar tentang hidup menurut pandangannya.

Perbatasan Kamboja-Vietnam begitu panas terik siang itu, tambah terik lagi dengar obrolan suami dan rekannya yang tidak aku mengerti. Wajar karena mereka berbicara satu sama lain tentang aneka topik yang tidak aku mengerti. 

Ternyata aku salah menilai orang, rekan ini orangnya sangat baik dan murah hati. Ia membayarkan makanan yang terbilang cukup mahal karena si kasir melihat tampang kami turis sehingga ia cepat menyebutkan nominal total makanan yang dipesan tanpa berhitung panjang. Pikirku jangan-jangan semacam dipalak, dipaksa bayar. 

Rekan suamiku langsung berkata “Saya akan bayar semua. Ini uangnya!” serunya pada si kasir restoran. Kasir dengan girang menerima uang dan melanjutkan pesanan.

Tidak hanya karena ia sudah membayarkan makanan, teman ini juga mengajari arti kemenangan diri. Rasanya jiwaku yang kalah karena harus membayar makanan, langsung antusias ingin tahu. 

Kau tahu Anna. Saat kau masuk kasino, kau harus terlihat elegan dan berpenampilan rapi. Meski kau membawa uang banyak, namun penampilan itu utama agar kau bisa diterima,” katanya. Aku mendengarkan termangut-mangut. Pantas saja ya orang-orang dalam kasino terlihat elegan seperti film-film yang sering aku tonton.

Lanjutnya, “Aku bermain hanya sebatas hiburan, tidak lebih. Mereka yang sudah kecanduan adalah mereka yang menuntut lebih dari seharusnya.” Waduh apa pula?!

“Aku habiskan seratus ribu misalnya. Lalu aku dapatkan tujuh lima ribu. Ya sudah, aku selesai. Anggaplah itu cuma hiburan, tak lebih,” jelasnya sambil ia mengunyah makanan yang baru saja disajikan. Hmm, menarik juga ya.

Aku pun antusias bertanya “Apa kau tak ingin menang lalu menjadi kaya?” Aku bertanya menyelidiki, sementara suamiku menyenggol kaki di bawah, memberi kode agar aku berhenti bertanya.

Rekan ini malah tertawa. Suamiku yang sungkan ikut tertawa setelah menyenggol kakiku. 

“Anna, itu dua hal yang berbeda. Kaya dan menang,” jawabnya. “Jika kau ingin menang, kau harus punya rasa cukup dan bersyukur. Itu menang namanya. Seberapa pun kau dapat, ambil dan pergi. Jangan menuntut lebih! Kau pasti tidak akan menang jika menginginkan lebih dari yang kau dapat.” Dia menjelaskan panjang lebar arti kemenangan sesungguhnya. Kemenangan itu tidak pernah abadi.

Kebanyakan orang setelah menang bertaruh, mereka ingin coba lagi, lagi dan lagi. Mereka berpikir kurang dan ingin lebih. Akhirnya mereka pulang dengan kekalahan karena candu. Ingin punya rasa menang sebaiknya bersyukur dan cukup menerima yang sudah didapat. Jangan mengambil berlebihan. Itu sih makna yang aku dapat dari rekanku ini. 

Aku bahkan tidak menikmati sajian makan siang khas Indocina ini dan memilih menikmati obrolan dari pendapat teman yang baru aku kenal. 

“So kaya? Siapa pun ingin kaya! Begitu ‘kan Anna?” tanyanya dan aku pun mengangguk. Sementara suamiku menjelaskan bahwa terkadang orang mencari cara instan untuk datang ke kasino misalnya untuk mendapatkan kekayaan.

“Tidak. Itu salah jika mereka datang mencari kekayaan di sana. Itu hanya hiburan,” jelasnya pada suamiku. 

“Kaya adalah pola pikir. Jika kau merasa kaya, kau akan merasa cukup dan bersyukur. Menjadi kaya bukan melakukan cara agar disebut kaya. Kau bisa membeli tas harga ratusan Dollar agar disebut kaya namun apalah artinya jika di dalam tas kau hanya punya tiga Dollar. Lebih baik kau punya tas harga tiga Dollar tetapi di dalam tas kau punya ratusan Dollar.” Aku dan suami mengangguk-angguk dan memperhatikan orang di hadapan kami seperti seorang yang memberikan pencerahan. Padahal awalnya aku menolak bertemu dengannya karena ia suka pergi ke kasino.

Siang yang terik ini aku jadi menikmati obrolan yang semula kupikir membosankan. Ternyata aku salah. 

Banyak orang tak pernah puas saat mendapatkan apa yang mereka inginkan, akhirnya mereka “kekurangan” dan tak pernah menang malahan. Lagi-lagi bersyukur dan merasa cukup atas apa yang dimiliki. 

Jangan pula mencari cara untuk kaya dengan cara instan! Kau tidak akan pernah mendapatkannya. Mengapa? Kemenangan dan kekayaan tiada yang abadi. Tetapi rasa syukur dan cukup itu yang utama dalam hidup sehingga merasa menang. 

Jika dalam pertandingan, kau tidak menjadi juara, kau tetap menang karena kau sudah cukup ambil bagian jadi peserta dan bersyukur bertemu dengan Sang Juara. Kalah menang, kaya miskin itu semua hanya pola pikir. Seberapa pun harta yang dimiliki, jika kau merasa puas dan bersyukur maka berpikirlah kaya.

Pencerahan tidak melulu dari seorang Maha Guru. Dari seorang yang semula tidak aku sukai karena sering pergi ke kasino, ternyata aku belajar arti kemenangan dan kekayaan.