Flohmarkt: Ketika Barang Tak Terpakai Masih Bernilai

Di suatu kota yang saya jumpai, saya menemukan papan informasi bahwa akan segera digelar Flohmarkt. Apa itu Flohmarkt? Pasar barang bekas. Pasar yang menjadi tempat bertemunya penjual yang menjajakan barang tak terpakai namun layak dan bernilai. Atau pasar antik, juga bisa karena anda akan menemukan barang-barang kuno yang bernilai. Penyelenggaranya adalah pemerintah setempat.

Ibaratnya jika ada barang yang sudah tidak terpakai lagi di rumah, siapa tahu ada orang lain di luar sana yang tertarik memanfaatkannya. Apa iya? Itu mengapa saya menjumpai salah satu Flohmarkt yang tak terlalu besar. Biasanya Flohmarkt diadakan di tempat publik atau terbuka yang dijangkau banyak orang. 

Di sana saya menemukan aneka macam benda mulai dari pakaian, alas kaki, buku, elektronik, perabotan hingga aksesoris rumah tangga. Lengkap! 

Saya amati bagaimana mereka bertransaksi. Jika ada penjual yang memajangkan harga per benda atau per kelompok barang, maka jangan menawar lagi! Kata suami, tak elok. Namun jika barang dagangan tak terpajang harga, ya silahkan bertanya lalu buat penawaran harga.

So jika anda mampir ke Jerman, anda bisa sempatkan untuk datang di setiap kota yang menawarkan pasar terbuka seperti ini. Siapa tahu anda bisa mendapatkan barang langka namun masih bernilai?! 

Fatima Kapelle Schardenberg, Austria

Bagi anda pecinta devosi kepada Bunda Maria, tentu ingat Bunda Maria dari Fatima yang menampakkan diri kepada tiga orang anak di Portugal. Usia kejadiannya kini memasuki 100 tahun. Yups, tahun 1917 yang lalu. 

Kapel ini didekasikan pada kejadian 100 tahun yang lalu. Di sekitar altar, tampak patung 2 anak yang mendapatkan penampakan tersebut. Saat saya tanya mengapa hanya 2 anak saja, mungkin karena anak yang seorang lagi masih hidup sampai sekarang. 

Tempatnya tenang dan khusuk untuk berdoa karena berada di bawah kaki pegunungan Alpen. Pintu kapel terbuka bagi mereka yang datang berdoa atau sekedar berkunjung. 

Saya jadi ingat di Jakarta, saya dan keluarga juga masih ikut berdevosi setiap tanggal 13 dari bulan Mei hingga Oktober berturut-turut di Gereja Gembala Baik, Jatinegara. 

Edit

Buat Salat Mentimun: Gurkensalat

Atas: Salat tertutup dalam wadah dan didiamkan selama dua-tiga jam. Bawah: Salat yang siap dihidangkan ditambahkan merica sesuai selera)

Paling asyik jika musim panas menikmati salat mentimun yang segar di kala makan siang. Di Indonesia, salat mentimun atau acar mentimun bukan hal yang baru. Kali ini saya buat hal yang berbeda dari acar mentimun yang biasa dikenal. 

Nah, berikut yang perlu disiapkan:

Bahan-bahan:

1. Satu buah mentimun yang segar. Ukuran mentimun di sini lebih panjang dari ukuran di Indonesia. Jadi buat berdua saja, satu buah sudah cukup. Lalu potong-potong tipis mentimun dengan alat bantu atau jika berhasil bisa juga sesuai kreasi sendiri.

2. Bubuk penyedap Dill-Kräuter yang bisa didapatkan mudah di supermarket. Ini hanya semacam penyedap rasa saja. Jika ingin buat sendiri juga bisa memotong daun Dill kecil-kecil. 

3. Tiga sendok makan air

4. Tiga sendok makan minyak sayur

5. Satu sendok makan cuka

6. Sedikit garam dan merica

Langkah membuatnya:

1. Siapkan wadah yang cukup, semacam box yang ada tutupnya. Karena nanti akan diguncang-diguncangkan sehingga rasanya tercampur. Masukkan air, minyak sayur dan cuka. Lalu aduk-aduk perlahan.

2. Masukkan lagi bubuk Dill-Kräuter bersamaan dengan campuran nomor satu di atas. Tambahkan garam secukupnya. Aduk kembali.

3. Masukkan mentimun yang sudah dipotong iris tipis. Lalu aduk perlahan sehingga meresap ke dalam.

4. Tutup wadahnya lalu guncangkan beberapa saat supaya tercampur rata. 

5. Diamkan selama dua sampai tiga jam. 

6. Sebelum dihidangkan taburi sedikit merica sesuai selera. Siap dihidangkan untuk 2 porsi.

Perhatian:

1. Sebaiknya salat tidak usah dimasukkan dalam lemari pendingin agar rasanya natural saja dan tidak cair. 

2. Jika ingin disajikan segera, dibuat 2 atau 3 jam sebelumnya.

3. Memotong dengan alat bantu memiliki hasil yang konstan sama dan tampilannya lebih menarik.

Menjangkau Perbatasan Jerman – Austria

Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Jerman adalah Austria. Begitu dekatnya dengan Austria, sampai-sampai seperti tidak ada perbedaan yang mencolok dalam segi budaya. 

Antara Jerman dengan Austria dibelah oleh sungai yang besar, Inn. Lalu dihubungkan dengan jembatan kemudian di kota pertama yang dijejak di Austria adalah Schärding.  Schärding dikenal dengan sebutan Baroqstadt, kota yang banyak dipenuhi bangunan bergaya khas Baroq. Di sini banyak pula turis yang singgah menikmati tata kota nan lampau namun masih cantik hingga sekarang. 

(Jembatan penghubung antara Jerman dengan Austria, menjejakkan kaki pertama di Schärding)

(Kota Schärding, Austria)

(Seberang sungai adalah negeri Austria)

Kursi Pijat di Bandara yang Berbayar

Segala yang gratis itu pasti disukai, termasuk kursi pijat di Bandara. Saat tiba di bandara Atartuk, Istanbul langsung buru-buru saya mendapati kursi pijat setelah penerbangan yang cukup lama, 12 jam saja dari Bandara Soetta. 

Oopps, saya tidak bisa menggunakannya karena berbayar. Kata suami, ‘lo pikir gratis kayak di tempat lain’ langsung saya manyun meratapi bahwa saya tak punya mata uang lokal, 2 Turkish Lira. Padahal gerai makanan atau tenant apa saja yang ada bandara bisa berbelanja lewat mata uang Euro. 

Ya sudah, tak usah berebut juga karena banyak kursi pijat yang kosong juga. Mungkin mereka seperti saya yang tak punya mata uang lokal.

Lalu penerbangan dengan Turkish juga mengesankan. Selain full entertainment sepanjang penerbangan, ada juga pilihan makanan in-flight meals untuk selera Asia atau Western

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

Parkir Berbayar Otomatis

(Ini kasir otomatis untuk bayar parkir yang tampak di suatu rumah sakit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

(Ini salah satu Parkautomat 20 cents € untuk 30 menit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sewaktu di Jakarta, saya dan suami mampir di wilayah Sabang untuk membuat pas foto. Karena sudah lama tidak di Jakarta, saya lupa jika di Sabang berlaku parkir berbayar otomatis, entah apa namanya. Oopps, suami sudah terlanjur parkir, ya sudah, terima nasib bagaimana menggunakannya. 

Saat mau coba utak-atik mesin otomatis parkir atau Parkautomat, tiba-tiba ada bapak pengatur parkir datang membantu. Dia tanya keperluan saya. Pikirnya jika untuk pas foto, mungkin hanya lima ribu rupiah. Saya serahkan uang tersebut. Done!

Nah, di Jerman Parkautomat juga diberlakukan. Baru-baru ini stasiun televisi Jerman menayangkan liputan implementasi Parkautomat lalu kemudian meminta pendapat warga seputar hal itu. Ada yang suka karena lebih praktis. Ada pula yang tak suka karena terbiasa gratis dan sekarang harus bayar, dan sebagainya. 

Tidak semua area pakai Parkautomat, kebanyakan area pemerintahan atau publik yang ramai seperti rumah sakit, dsb. Jika bisa gratis mengapa harus bayar hahaha.. Jadi saya dan suami pun berebut cari lahan parkir gratis meski jaraknya jauh dari tempat yang dituju. Risiko ya?!

Misalkan 20 cents € untuk 30 menit, ada orang yang sudah terlanjur bayar untuk 30 menit kemudian pergi setelah 20 menit. Berarti masih ada 10 menit tersisa, kita bisa pakai juga 10 menit berikutnya gratis. Ini semua terlihat di penunjuk waktu Parkautomat. Biasanya urusan di sini tidak terlalu lama, lumayan gratis 10 menit hehehe…

Lalu bagaimana jika cuek dan tidak bayar, ‘kan di Jerman tidak ada petugas parkir yang cek alias semua berdasarkan kesadaran? Hmm… siapa berani berhadapan dengan polisi dan kena denda?! Jadi daripada kena denda lebih baik bayar. Polisi terbiasa memantau dan berpatroli.

Oh ya, ada pula sistim Parkautomat yang biasa di Indonesia perlu ada staff yang beri karcis. Di sini mereka yang akan parkir masuk dan ambil tiket otomatis. Kartu dari mesin parkir itu disimpan. Setelah selesai urusan, kita bayar langsung di Kassenautomat yang bekerja otomatis dengan memasukkan kartu parkir. Di situ akan tertera besaran € yang harus dibayar. Setelah bayar dengan jumlah sesuai, kartu parkir dikembalikan. Kartu tersebut digunakan untuk keluar area parkiran dengan memasukkan ke mesin otomatis.

Semua dilakukan secara swalayan dan otomatis. So, berapa banyak karyawan yang dihilangkan di sini? Petugas pemberi karcis, petugas jaga + pengatur parkir dan petugas yang jadi kasir penerima uang. 

Begitulah cara kerja parkir berbayar otomatis yang saya ketahui. Dengan menjamurnya kendaraan, retribusi parkir menjadi sumber penerimaan yang lumayan besar jika dikelola dengan tepat.

Saya jadi ingat sewaktu masih kuliah di Jakarta, sempat membantu jadi Note-Taker FGD tentang perpakiran di Jakarta sekitar tahun 2000-an. FGD ini diselenggarakan oleh NGO. Nah, di sini saya paham bahwa retribusi parkir merupakan pasokan uang harian yang lumayan besar. Itu kira-kira 10 tahun-an lalu, kebayang jika dana parkir bisa dikelola dengan baik untuk pembangunan bersama.

☆ Foto menyusul…