Menjangkau Perbatasan Jerman – Austria

Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Jerman adalah Austria. Begitu dekatnya dengan Austria, sampai-sampai seperti tidak ada perbedaan yang mencolok dalam segi budaya. 

Antara Jerman dengan Austria dibelah oleh sungai yang besar, Inn. Lalu dihubungkan dengan jembatan kemudian di kota pertama yang dijejak di Austria adalah Schärding.  Schärding dikenal dengan sebutan Baroqstadt, kota yang banyak dipenuhi bangunan bergaya khas Baroq. Di sini banyak pula turis yang singgah menikmati tata kota nan lampau namun masih cantik hingga sekarang. 

(Jembatan penghubung antara Jerman dengan Austria, menjejakkan kaki pertama di Schärding)

(Kota Schärding, Austria)

(Seberang sungai adalah negeri Austria)

Kursi Pijat di Bandara yang Berbayar

Segala yang gratis itu pasti disukai, termasuk kursi pijat di Bandara. Saat tiba di bandara Atartuk, Istanbul langsung buru-buru saya mendapati kursi pijat setelah penerbangan yang cukup lama, 12 jam saja dari Bandara Soetta. 

Oopps, saya tidak bisa menggunakannya karena berbayar. Kata suami, ‘lo pikir gratis kayak di tempat lain’ langsung saya manyun meratapi bahwa saya tak punya mata uang lokal, 2 Turkish Lira. Padahal gerai makanan atau tenant apa saja yang ada bandara bisa berbelanja lewat mata uang Euro. 

Ya sudah, tak usah berebut juga karena banyak kursi pijat yang kosong juga. Mungkin mereka seperti saya yang tak punya mata uang lokal.

Lalu penerbangan dengan Turkish juga mengesankan. Selain full entertainment sepanjang penerbangan, ada juga pilihan makanan in-flight meals untuk selera Asia atau Western

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

Parkir Berbayar Otomatis

(Ini kasir otomatis untuk bayar parkir yang tampak di suatu rumah sakit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

(Ini salah satu Parkautomat 20 cents € untuk 30 menit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sewaktu di Jakarta, saya dan suami mampir di wilayah Sabang untuk membuat pas foto. Karena sudah lama tidak di Jakarta, saya lupa jika di Sabang berlaku parkir berbayar otomatis, entah apa namanya. Oopps, suami sudah terlanjur parkir, ya sudah, terima nasib bagaimana menggunakannya. 

Saat mau coba utak-atik mesin otomatis parkir atau Parkautomat, tiba-tiba ada bapak pengatur parkir datang membantu. Dia tanya keperluan saya. Pikirnya jika untuk pas foto, mungkin hanya lima ribu rupiah. Saya serahkan uang tersebut. Done!

Nah, di Jerman Parkautomat juga diberlakukan. Baru-baru ini stasiun televisi Jerman menayangkan liputan implementasi Parkautomat lalu kemudian meminta pendapat warga seputar hal itu. Ada yang suka karena lebih praktis. Ada pula yang tak suka karena terbiasa gratis dan sekarang harus bayar, dan sebagainya. 

Tidak semua area pakai Parkautomat, kebanyakan area pemerintahan atau publik yang ramai seperti rumah sakit, dsb. Jika bisa gratis mengapa harus bayar hahaha.. Jadi saya dan suami pun berebut cari lahan parkir gratis meski jaraknya jauh dari tempat yang dituju. Risiko ya?!

Misalkan 20 cents € untuk 30 menit, ada orang yang sudah terlanjur bayar untuk 30 menit kemudian pergi setelah 20 menit. Berarti masih ada 10 menit tersisa, kita bisa pakai juga 10 menit berikutnya gratis. Ini semua terlihat di penunjuk waktu Parkautomat. Biasanya urusan di sini tidak terlalu lama, lumayan gratis 10 menit hehehe…

Lalu bagaimana jika cuek dan tidak bayar, ‘kan di Jerman tidak ada petugas parkir yang cek alias semua berdasarkan kesadaran? Hmm… siapa berani berhadapan dengan polisi dan kena denda?! Jadi daripada kena denda lebih baik bayar. Polisi terbiasa memantau dan berpatroli.

Oh ya, ada pula sistim Parkautomat yang biasa di Indonesia perlu ada staff yang beri karcis. Di sini mereka yang akan parkir masuk dan ambil tiket otomatis. Kartu dari mesin parkir itu disimpan. Setelah selesai urusan, kita bayar langsung di Kassenautomat yang bekerja otomatis dengan memasukkan kartu parkir. Di situ akan tertera besaran € yang harus dibayar. Setelah bayar dengan jumlah sesuai, kartu parkir dikembalikan. Kartu tersebut digunakan untuk keluar area parkiran dengan memasukkan ke mesin otomatis.

Semua dilakukan secara swalayan dan otomatis. So, berapa banyak karyawan yang dihilangkan di sini? Petugas pemberi karcis, petugas jaga + pengatur parkir dan petugas yang jadi kasir penerima uang. 

Begitulah cara kerja parkir berbayar otomatis yang saya ketahui. Dengan menjamurnya kendaraan, retribusi parkir menjadi sumber penerimaan yang lumayan besar jika dikelola dengan tepat.

Saya jadi ingat sewaktu masih kuliah di Jakarta, sempat membantu jadi Note-Taker FGD tentang perpakiran di Jakarta sekitar tahun 2000-an. FGD ini diselenggarakan oleh NGO. Nah, di sini saya paham bahwa retribusi parkir merupakan pasokan uang harian yang lumayan besar. Itu kira-kira 10 tahun-an lalu, kebayang jika dana parkir bisa dikelola dengan baik untuk pembangunan bersama.

☆ Foto menyusul…

“Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

*Fiksi*

Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai. 

Sejak pindah dari wilayah pegunungan ke tepi pantai, aku selalu lupa bagaimana rasanya hawa sejuk pagi hari yang berembun bila matahari muncul di timur, menyembul dari pegunungan. Aku bahkan lupa bagaimana memetik teh dan mencium aroma embun pagi.

Apakah kau menyesal tinggal di sini?” tanyanya. Tidak ada yang pernah disesali dalam hidup. Untuk apa? Toh, kita tidak bisa mengembalikan waktu dan mengubah segalanya. Aku tak suka bila ada orang yang masih menyesali masa lalu, karena masa lalu bukan seharusnya disesali atau ditangisi. 

Aku menggeleng. Aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi dengan hidup ini. Karena masa lalu memberikan aku pelajaran, bukan kenangan. 

Aku senang tinggal di mana saja. Di pegunungan atau di dekat pantai, asal bersamamu,” kataku menyanjung.

Tidak ada orang yang berhak mengatakan aku ‘kampungan’ atau ‘norak’ hanya karena aku belum pernah tinggal di tepi pantai. Tidak ada pula yang mengatakan tinggal di pegunungan itu lebih baik daripada tepi pantai. Itu hidup, kedua hal yang berlawanan harus dicoba. Panas dingin udaranya. Tinggi rendah wilayahnya, namun tak satu pun yang boleh mengklaim ini atau itu lebih baik.

Syukurlah kalau begitu,” katanya. “Banyak orang hidup membandingkan masa lalu dengan masa kini agar bisa menentukan masa depan” tambahnya. Maksudnya, mereka komplen dan tidak bisa menerima keadaan. 

Hidup itu sebenarnya menghidupi. Buat apa menjalani masa kini tetapi masih memikirkan masa lalu? Buat apa pula menjalani masa kini namun mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi?

Jika kau bisa hidup di hawa panas dan sejuk, itu artinya kau tidak bergantung pada kondisi sekitarmu,” serunya sambil memandang ke arah laut. 

Aku diam saja. Aku biarkan dia berlalu sementara aku masih menikmati semburat malu-malu dari fajar pagi hari.

Aku tak bergantung dengan keadaan. Namun orang banyak di sekitar rumah kami di tepi pantai seolah-olah menghakimi bahwa aku tak bisa hidup di tepi pantai. Jadi aku pun tak ingin menggantungkan perasaan pada penilaian orang-orang sekitar. 

Mereka tak berhak menghakimi diriku karena mereka belum mengenalku. Mereka juga tak kuasa menentukan masa depan karena aku lebih berkuasa dalam hidupku ketimbang mereka.

Mengapa Kita Perlu Memvisualisasikan Keinginan?

Pertama yang terjadi dalam hidup saya adalah memvisualisasikan hidup di luar negeri. Now it happened😊.

Ada segudang keinginan dalam hidup anda. Betul? Nah, apakah anda merupakan salah satu dari orang-orang yang suka memvisualisasikan keinginan? Jika ya, selamat bagi anda. 

Jika tidak, nih saya kasih alasan mengapa kita perlu memvisualisasikan keinginan.
Saya sering berhadapan dengan banyak orang dalam menyampaikan gagasan semisal di kantor atau dunia pekerjaan atau bahkan di kampus, tempat studi. Setiap dari mereka begitu ahli berpendapat tentang berbagai ide atau gagasan, saya akan langsung membayangkannya. Atau saya meminta mereka menggambarkannya di kertas buram tak terpakai atau di papan tulis. Apa maksudnya? Saya mengaku bahwa saya termasuk tipe visual. Apa itu? Silahkan cari sendiri ya:)

Jadi saya butuh memvisualisasikan apa yang muncul dalam benak orang lain agar saya paham dan mengerti. Begitu pun saat saya menghendaki sesuatu atau ingin melakukan sesuatu, saya sudah memvisualisasikan dalam pikiran saya. Tak jarang saya pun berujar kepada sesuatu atau seseorang yang saya visualisikan, kok ternyata berbeda ya?! Namun visualisasi tadi membantu saya bahkan seperti tak jauh berbeda dengan imej yang saya buat.

Nah, balik ke topik mengapa kita perlu memvisualisasikan. Ini dia alasannya:

1. Tidak ada yang bisa menebak keinginan anda, bahkan Tuhan sekalipun

Seorang rekan kerja bertanya apakah suami saya adalah pria yang sesuai dengan keinginan. Saya jawab ya. Mengapa? Saya berdoa pagi, siang, malam dengan memvisualisasikan pria seperti apa yang saya mau kepada Tuhan. Terbukti! 

Lalu teman saya ini berpendapat bahwa dia merasa Tuhan juga mengabulkan keinginannya mendapatkan jodoh cuma ada beberapa hal yang tidak dia inginkan. Katanya “Mungkin sewaktu berdoa, saya lupa menyebutkan seperti apa (visualisasikan) jodoh saya, akhirnya hanya dapat jodoh saja.” Hahahaha! Bercanda saudara-saudara. 

Jadi bagaimana pun visualisasikan keinginan yang terucap dalam doa, mengapa tidak? Sepertinya Tuhan tahu saya adalah tipe visual sehingga Tuhan mengabulkan doa saya seperti imej yang saya buat meski tidak semua doa. Artinya visualisasi memudahkan siapa saja menebak keinginan anda.

Pernah begini, dapat pertanyaan pesanan makanan? Saya jawab saya ingin makan mie ayam bang gondrong, tanpa micin, saus sambal dipisah, pakai kuah dipisah, dan seterusnya. Maka orang yang mendapat pesanan makan tersebut, office assistant akan bisa menebak makanan yang saya inginkan. Pesanan makan yang demikian juga bentuk visualisasi ketimbang anda hanya mengatakan saya mau mie ayam saja atau terserah deh.

2. Visualisasi membantu mengarahkan apa yang diinginkan

Saya pernah melatih dalam grup karyawan di suatu training tentang pentingnya visualisasi. Ada dua orang yang saya perlakukan berbeda. Satu orang pertama ini saya minta menggambarkan rumah yang diinginkan dalam imej pikirannya. Saya beri waktu 5 menit untuk dia memvisualisasikan. 

Orang kedua yang lain saya minta tanpa ada waktu visualisasi. Jadi tiba-tiba saya meminta dia menggambarkan rumah yang diinginkannya.

Apa yang terjadi?

Ternyata orang yang sudah memiliki visualisasi dalam benak pikirannya lebih mudah untuk menggambarkan rumah impian ketimbang yang tidak diberi waktu visualisasi. 

Orang pertama yang punya visualisasi terlihat tenang dan tekun menggambar, bahkan minim kesalahan. Orang kedua terlihat gugup, bingung dan menebak-nebak lalu banyak kali kesalahan menggambar. Kedua orang ini tidak diberi penghapus bila ada kesalahan dan punya waktu yang sama untuk menggambar.

So bagaimana dengan anda?

Sukses Itu…

Ketika saya masih anak-anak, saya berpikir kesuksesan adalah menikmati apa yang sudah dikerjakan. Itu artinya saya harus bekerja keras agar bisa menikmatinya. Kelak saya akan disebut ‘sukses’.

Semakin dewasa, saya sadar bahwa kesuksesan adalah menikmati apa yang sedang dikerjakan. 

Sampai sini, anda tahu beda kedua kesuksesan rumusan saya di atas ‘kan?

Adalah seorang pengusaha kapal yang kaya raya dan berhasil dengan usaha sewa kapal untuk para nelayan. Suatu hari si pengusaha bertemu dengan seorang nelayan miskin yang menyewa kapalnya untuk memancing ikan. Pengusaha melihat tampak nelayan ini sedang duduk dan berleha-leha di pinggir pantai. Pengusaha pun menghampiri hendak bertanya dan memberikan nasihat.

“Hey nelayan, bodoh sekali kau berleha-leha duduk di sini!” seru pengusaha. Lanjutnya “Bukankah kau seharusnya bekerja menangkap ikan?”

Si nelayan yang ditegur itu pun tampak santai dan merespon teguran pengusaha. “Aku sudah berangkat mencari ikan sejak subuh. Kini tiba saatnya aku beristirahat” sahut si nelayan.

“Bagaimana kau bisa menjadi orang kaya sepertiku jika kau sudah beristirahat seperti ini?” kata pengusaha.

Nelayan menyahut “Lalu aku harus bagaimana?”

Pengusaha menghampiri dan menjelaskan “Kau adalah seorang nelayan. Kau sudah berangkat mencari ikan sejak pagi. Kau terus mencari ikan hingga tak pernah beristirahat dan berhasil mendapatkan banyak ikan.”

“Lalu?” tanya nelayan lagi.

“Ikan yang banyak kau jual sehingga kau punya cukup uang untuk membeli kapal. Kau tak perlu keluar uang untuk sewa kapal lagi” jelas pengusaha.

Nelayan semakin penasaran “lalu?”

“Setelah punya kapal sendiri, kau giat mencari ikan dan semakin banyak ikan yang kau dapatkan. Kau akan punya banyak uang”

Nelayan mengangguk memahami dan bertanya lagi “lalu?”

“Setelah kau punya banyak uang, kau akan beli apa yang kau inginkan termasuk membeli banyak kapal. Kau akan jadi seperti aku nantinya. Kau tak perlu bekerja keras lagi karena kau tinggal menikmati hidup saja.”

Nelayan pun terdiam. Dia pun menjawab “Aku tak perlu jadi seperti Anda jika ingin menikmati hidup. Aku sudah cukup hidup sebagai nelayan miskin. Berangkat pagi cari ikan lalu pulang siang beristirahat seperti ini. Aku sudah menikmati apa yang sedang aku kerjakan.”

Berangkat dari kisah yang diambil dari buku Anthony De Mello yang saya baca tersebut, saya melihat dua sisi kesuksesan yang berbeda. Ada pemahaman lain tentang kisah nelayan dan pengusaha. Namun saya mengambil sisi bagaimana dua orang memandang kesuksesan.

Jika anda berpikir sukses akan diraih setelah anda bekerja keras mendapatkannya atau meniru orang lain, maka itu salah besar. Bisa jadi sukses yang demikian perlu waktu meraih sukses. 

Ada yang bisa meraihnya, namun ada pula yang tidak bisa hingga menyebut diri mereka kaum yang gagal atau sukses yang tertunda. 

Namun apa pun dan bagaimana pun anda. Jika anda sedang menikmati apa yang dikerjakan, itu sukses. Tidak banyak orang memandang sukses dengan cara itu. Kebanyakan sukses dilihat seperti pendapat si pengusaha di atas. 

So apa sukses menurut anda? Sukes itu…