Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Bunga

Sumber foto: Dokumen pribadi. 

Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata “Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum pernah melihatnya di dunia selama ini.” 

Si bapak tukang taman berpikir bagaimana bisa mewujudkan keinginan perempuan muda itu. Saban hari ia berpikir bagaimana meyakinkan bahwa ia berhasil membuat setangkai bunga yang paling indah sedunia. ‘Tuhan Sang Pencipta segalanya saja belum berhasil menciptakan bunga yang paling indah menurut perempuan itu, bagaimana dengan saya?’ pikir bapak itu. 

Waktu yang ditentukan pun tiba. Ia datang ke rumah perempuan muda itu. Bapak tua, si pembuat taman mengetuk pintu rumah perempuan itu. Ia pasrahkan pada kekuatan Tuhan untuk membuat setiap pesanan orang. 

“Silahkan masuk!” seru perempuan itu. “Bapak hanya punya waktu selama seminggu untuk membuat setangkai bunga paling indah. Aku akan kembali untuk menilai dan membayar bapak jika bapak berhasil menemukannya,” kata perempuan itu  lagi. Lalu ia pun bergegas meninggalkan bapak tua dengan segala kebingungannya. 

***

Seminggu kemudian, perempuan muda itu datang kembali ingin melihat hasil kerja si tukang taman. 

Bapak tua itu pun berujar “Pekerjaanku sudah selesai. Sekarang aku tidak ingin mendengarkan komentar nona terlebih dulu. Silahkan nona periksa sendiri bunga yang paling indah menurutmu!” 

Perempuan muda itu tidak hanya mendapati setangkai bunga indah tetapi sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga. Ia pun patuh pada pinta si tukang taman untuk tidak berkomentar dulu, melainkan mencari bunga yang paling indah. 

Selang beberapa jam, perempuan muda itu kembali kepada tukang taman. Dia berkata “Aku tidak menemukan setangkai bunga yang paling indah. Aku begitu bingung saat melihat semua bunga terlihat indah di taman ini” 

“Nona, aku sengaja membuatkan sebuah taman yang indah saat kau meminta setangkai bunga. Aku berpikir ini akan memudahkanmu mendapatkan setangkai bunga yang paling indah” kata tukang taman. Dia bertanya “Bukankah kau hanya menginginkan satu bunga yang indah saja?”

Perempuan muda itu pun diam. 

Bapak pembuat taman pun berkata lagi pada nona pemesan itu “Saat kita meminta setangkai bunga, Tuhan bahkan memberimu sebuah taman agar kau bisa memilihnya. Namun yang terjadi, kau tetap merasa bingung dan berkomentar bahwa tak ada bunga yang paling indah sesuai keinginanmu.” 

Perempuan muda itu tertunduk malu pada tukang taman tua yang sederhana dan bijak ini. 

***

Terkadang yang diperlukan bukan sekedar melihat dengan keindahan mata saja, tetapi keindahan rasa. Jika kita tak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita, bagaimana kita bisa melihat bahwa hidup itu sejatinya indah. 

Dalam hidup, kita terlalu banyak menuntut padahal sesungguhnya kita sudah diberi apa yang diberikan Tuhan. Ingat, saat kita meminta setangkai bunga, Dia beri kita sebuah taman. Saat kita meminta kesabaran, Dia beri kita ujian. Bahwa sesungguhnya kita hanya bingung karena semua terlalu indah saat kita sudah melewatinya. 

ICE, Kereta Cepat Jerman Punya WiFi 

Jika anda sebagai traveler, kini tak perlu ragu lagi jika ingin tetap eksis di dunia maya selama di kereta. 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Pasalnya tahun 2017 ini, Jerman akan membuat koneksi internet yang cepat untuk mereka yang menggunakan kereta cepat, ICE. Meski sudah dimulai dari tahun 2016, pengadaan wifi konon masih terbatas pada beberapa kursi penumpang saja. 

Seperti yang dirilis dalam berita thelocal.de dikatakan bahwa Jerman akan mulai menyamai kecanggihan teknologi negara lain dalam menyediakan layanan wifi di kereta tercepat mereka ICE. 

Kereta cepat seperti yang pernah saya pernah ulas sebelumnya ini, akan menyediakan koneksi internet tanpa batas bagi para penumpang kelas satu. Namun untuk kelas lainnya, penumpang yang terhubung internet masih memiliki kapasitas limit data. 

Tentu ini menjadi hal menarik bagi mereka yang ingin tetap terhubung dengan internet untuk bekerja atau berwisata. Menarik ya! 

Seafood Panggang Cah Sayur 

Atas, porsi kecil dengan irisan cabe. Bawah, porsi besar dengan tambahan lada bubuk. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Saya tidak tahu akan menamakan masakan ini apa, tetapi ini hasil kreasi saya sendiri. Lihat isi kulkas lalu buat makanan itu menjadi sensasi lidah yang disukai! Apalagi jika itu sehat dan mengenyangkan. 

Makanan laut yang saya miliki adalah 

1. Fillet ikan Dori dari 200 gram

2.Udang besar 0,25 kg

Untuk Cah Sayur, ini bahan yang saya miliki:

1. Kentang 2-3 buah

2. Buncis secukupnya

3. Jagung manis yang sudah dibuat bonggolnya

4. Bawang bombay

Untuk bumbu pelengkap yakni

1. Margarin secukupnya 

2. Minyak goreng

3. Jeruk nipis

4. Bubuk Oregano

5. Olive oil

6. Garam

7. Lada atau cabe hijau. 

Langkah memasak:

1 .Cah Sayur dimulai dengan merebus kentang selama 30 menit setelah dikelas. Kemudian potong-potong kentang menjadi dadu lalu singkirkan. Kedua, rebus buncis setelah di potong-potong 2 sentimeter. Jangan terlalu matang rebus buncis, kira-kira 2 menit dengan api sedang! Lalu singkirkan buncis. Ketiga, siapkan wajan panas lalu masukkan margarin dan sedikit minyak sayur. Masukkan irisan bawang bombay hingga layu. Kemudian masukkan pipilan jagung manis dan oseng bersama bawang bombay. Masukkan kentang dan juga buncis setelah itu. Oseng bersama hingga layu. Masukkan garam sedikit. Lalu biarkan matang. Jika suka pedas, bisa dimasukkan cabe juga. 

2. Bersihkan udang,  singkirkan kepala dan ekornya. Taburi jeruk nipis, garam secukupnya dan bubuk oregano. Lalu panggang dalam api kecil udang di teflon setelah diberi olive oil atau minyak sayur jika tidak ada. Lihat hingga warna kecokelatan kurang lebih 3-5 menit. Kemudian singkirkan.

2. Potong fillet ikan Dori menjadi beberapa bagian. Taburi dengan bubuk oregano dan garam secukupnya. Panaskan teflon dan masukkan olive oil sedikit kemudian panggang ikan yang dibumbui dalam air kecil. Masak kurang lebih 5 menit. Kemudian singkirkan dan beri jeruk nipis di atasnya. 

Hidangan siap disajikan. Selamat mencoba! 

Jika ke Singapura, Silahkan Coba Masakan Jerman di Sini! 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Yeaay, datang ke Singapura tentu anda ingin melewatkan berbagai sensasi wisata dan kuliner, termasuk makanan Jerman. Mari saya ceritakan di sini!

Di wilayah Somerset, anda bisa mampir ke restoran otentik untuk sosis dan bir yang khas Bavarian. Brotzeit adalah restoran franchise didirikan tahun 2006 dan bermarkas di Singapura, kini sudah menyebar ke beberapa negara Asia Pasifik lainnya. Wow! Resto ini mengusung Bavarian cuisine and beer untuk menunya.

Saat saya berkunjung, konsepnya di outdoor seperti layaknya Biergarten dengan meja dan kursi dari kayu yang disusun berhadapan. Konsep interior di dalam dengan hiasan murah bertema Jerman. Ada pula kursi bar. Pelayan akan ramah menyapa dan menyambut anda untuk memilih tempat duduk. 

Menu yang ditampilkan adalah masakan familiar seperti curry wurst, goulash, bretzel, dan lain-lain. Bir yang dipesan juga seperti layaknya di wilayah Bayern. Katanya sih kalau sedang Oktoberfest di Jerman, resto ini pun juga dipenuhi penggila bir atau mereka yang datang dengan sensasi Oktoberfest di München. 

Silahkan datang karena rasanya tasty dan harga yang terjangkau meski berada di antara kafe resto bertemu eksklusif. Lebih lengkap, anda juga bisa mengunjungi websitenya di sini

Menikmati Masakan Khas Jerman dengan Pemandangan Pantai Pattaya

Restoran Jerman sederhana dengan rasa luar biasa. Sumber foto: Dokumen pribadi.
Pemandangan pantai Pattaya yang indah. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Dimanakah kita bisa mendapatkan makanan khas Jerman di Pattaya? Demikian pertanyaanku saat pertama kali saya dan suami datang di sini dan menikmati romantis liburan kami. 

Yups, anda akan mudah menemukan restoran Jerman di sekitar North Pattaya. Sambil menikmati pemandangan pantai yang indah, anda bisa merasakan sensasi masakan yang diracik sendiri oleh si empunya resto. Sosisnya adalah hand-made dan rasanya tak jauh berbeda seperti di negeri asalnya. Dia adalah pria Jerman yang sudah menetap dan menikahi perempuan Thailand. 

Siang itu, saya berencana dengan suami makan siang di restoran tersebut sambil kami masih bisa menikmati pemandangan pantai yang indah. Suami saya memesan curry wurst sementara saya memesan masakan khas Thai. Di beberapa meja yang tak luas di restoran itu, saya menemukan beberapa pria yang berbicara Deutsch.  Tak selang berapa lama restoran menjadi penuh karena mereka pun datang memesan makanan dan bir di waktu makan siang tiba. 

Beberapa nama menu makanan terasa familiar buat suami saya. Sementara menu lain adalah khas Thailand. Restoran ini tidak seluas restoran di sekitarnya namun rasa dan harganya terbayar sudah. Harganya benar-benar sesuai kantong. Tak ada pengunjung lain yang tidak berbicara bahasa Jerman. Dari dialeknya, mereka berasal dari Austria, Jerman Utara dan Swiss. 

Pelayan dan pemiliknya sangat ramah kepada pengunjung yang datang. Mereka akan bertanya dari sebelah Jerman mana kita berasal. Memang tak cukup waktu untuk nongkrong atau ngobrol lama di restoran ini karena kita harus segera berbagi dengan tamu yang lain jika sudah selesai. 

Restoran ini mengusung konsep sederhana dan keakraban antar tamu. Itu yang saya rasakan dibandingkan restoran lain di sekitarnya. Silahkan berkunjung karena harganya yang terjangkau dan rasanya masakan yang ‘lecker‘  di restoran ini. 

PS: Curry wurst tidak sempat terekam kamera handphone. 

Restoran Jerman lainnya bisa dilihat di sini juga. 

Ada yang Berbeda dari Rujak KL, Malaysia

Rojak, rujak khas KL Malaysia. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Beberapa kali berkunjung ke Malaysia, saya tidak pernah sempat membeli rujak khas negeri jiran ini. Apakah ada yang berbeda dari sekedar rujak yang ada di Indonesia atau semacam salad buah seperti yang dijumpai di Thailand? Saya suka rujak dan biasanya saya pesan buah-buahan yang dicampur adalah buah yang tidak masam ditambah bumbu rujak cukup dua cabai saja. Lalu bagaimana di Malaysia? 

Suatu kali saya berhenti KLCC untuk transit dan pindah pesawat menuju negeri yang lain. Sambil transit, saya berkeliling mencari panganan yang enak. Di salah satu tenant yang ditawarkan  ada rojak, bukan rujak. Begitu mereka menulis dagangannya. Saya lupa harganya karena tergiur untuk membelinya saat dirasa nikmat pastinya menunggu jeda transit dengan sepiring rujak. 

Untuk isi rojak, memang berbeda dari rujak yang biasa saya beli di Jakarta, Bogor dan Bandung sekitarnya. Ada campuran sayur yang sudah direbus dulu. Ini jadi mengingatkan saya pada rujak cingur khas Jawa Timur, yang memasukkan sayuran dalam rujak. Selain itu ini yang membedakan pula yakni tahu pong yang dipotong kecil-kecil. So, ternyata berbeda ‘kan rujak dengan rojak? 

Untuk buah-buahan saya pikir adalah hal wajib dimasukkan dalam rujak. Jadi selain buah-buahan segar seperti pepaya, mangga, ketimun, nanas. Ada pula sayuran rebusan plus tahu. Lalu diberi saus kacang. 

Saus kacang ini juga berbeda. Jika saya terbiasa makan rujak dengan saus kacang yang sudah dihancurkan sebelumnya dan kental, sehingga untuk merasakannya colek ujung buah dengan saus kacangnya. Untuk rojak, saus kacang dibiarkan encer dan terasa sekali rasa belacang di dalam saus. Belacang adalah sebutan terasi di Malaysia. Di akhir, kacang tanah tumbuk yang tidak begitu halus ditaburkan di atas. 

Selanjutnya hal yang membedakan juga adalah rojak menggunakan kerupuk sebagai topping. Kerupuk yang digunakan terasa seperti kerupuk udang. Hmm, rasa rojak ini memang luar biasa nikmat juga. Tak kalah dengan rujak yang biasa saya makan. 

So, apakah anda tertarik mencobanya? 

Mengapa Rumah di Jerman Punya Banyak Jendela? 


Rumah di Jerman dari kejauhan. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ketika saya dan suami memutuskan berumah tangga, kami sepakat untuk tinggal di suatu kota dengan menyewa sebuah rumah. Saat memilih rumah, suami saya sangat concern untuk memperhatikan sirkulasi udara rumah. Ciri rumah tersebut adalah banyaknya jendela dalam setiap ruang. 

Yup, jika saya amati rumah-rumah di Jerman memiliki jendela yang banyak. Bahkan jendela-jendala itu tidak hanya untuk sirkulasi udara namun pencahayaan yang bagus, pendapat suami. 

Berbeda di rumah saya di Jakarta, rumah kami tertutup karena ada AC sebagai pendingin ruangan. Begitu pula, jendela juga tidak banyak. Selain itu, hasil kunjungan saya ke beberapa rumah adat di Indonesia, rumah tradisionalnya dibangun bahkan ada yang tanpa jendela. Mereka melakukan apa saja termasuk memasak di dalam rumah tanpa dibiarkan asap keluar rumah, hanya melalui pintu masuk atau pintu keluar saja. 

Begitu saya dan suami memilih rumah, jendela sebagai pencahayaan dan sirkulasi udara menjadi penentu. Maklum tidak banyak rumah yang memiliki pendingin udara, jadi perlu membiarkan udara masuk agar terasa nyaman dan adem. Rumah di Jerman memang harus memiliki penghangat ruangan atau Heizung yang dimanfaatkan saat musim dingin tiba. 

Berkat Epiphany: Heilige Drei Könige

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Perayaan Epiphany diperingati Gereja Katolik termasuk di Jerman  pada tanggal 6 Januari setiap tahun. Tanggal ini pula menjadi hari Natal bagi kaum Kristen Ortodoks seperti mereka yang tinggal di Rusia, beberapa negara di Eropa dan sebagainya. 

Perayaan Epiphany juga dikenal dengan perayaan ‘Tiga Raja dari Timur’ yang dikatakan dalam bahasa Jerman ‘Heilige Drei Könige’ lalu siapa mereka? Tiga Raja ini diakui datang saat kelahiran Yesus Kristus dengan mengikuti tanda bintang di langit. Nama mereka adalah Caspar, Melchior dan Bathasar. 

Apa makna tradisi ini? 

Gereja Katolik memiliki banyak tradisi yang kemudian diikuti oleh masyarakat Jerman pada umumnya yang masih mengimani Gereja Katolik. 

Usai pulang misa merayakan Epiphany di minggu ini, kami membawa pulang kapur yang sudah diberkati oleh pastor. Kapur ini menandai pintu rumah masing-masing keluarga. Palang pintu masuk diberi tulisan sebagai berikut:

Angka 20 dan 17 adalah angka tahun ini,  2017. Huruf C,  M, B adalah singkatan nama tiga raja tersebut. Namun ada pula yang beranggapan C, M, B merupakan singkatan bahasa latin, Christus Mansionem Benedicat yang berarti ‘Semoga Kristus memberkati rumah ini’  dan lambang + sebagai salib. 

Penulisannya menjadi seperti ini:

20 + C + M + B + 17

Suami saya kemudian menuliskannya di palang pintu masuk. Ini bukan jimat, bukan pula mantra atau bala mengusir roh jahat tetapi sebagai penghayatan iman agar Tuhan memberkati keluarga kami sepanjang tahun 2017 ini. 

Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Orang Lain! 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. 

“Ada apa sayang?” tanya ibuku sambil membawa secangkir teh. Seperti biasa aku mampir sebentar di rumah ibu. Aku jenuh bekerja. Aku curi waktu kantor dan memanggil taksi ke rumah orangtuaku. Aku pikir ini cara terbaik untuk mengistirahatkan batin dan pikiranku. Aku lelah batin. 

“Tidak ada bu,” jawabku. “Aku hanya banyak pikiran akhir-akhir ini. Ibu tahu aku dapat posisi jabatan yang baru. Belum lagi masalah dengan suamiku di rumah. Dia terlalu banyak menuntut. Lalu anakku semata wayang ingin agar aku berhenti bekerja,”  keluhku pada ibu. “Aku lelah bu mengikuti semua” ceritaku lagi sambil memijit pangkal hidungku, saat aku mengernyitkan keningku. 

Apa bisa kita menampung semua masalah ini hanya seorang diri? Aku rasa tidak. Oleh karena itu aku datang dan berbagi cerita pada ibu. Aku juga rindu teh buatan ibu. Menurutku teh buatan ibu yang terbaik. Setelah aku bercerita, minum teh lalu dipeluk ibu maka aku akan merasa lebih baik. 

“Minumlah tehmu! Jika dingin, rasanya tak enak” kata ibu sambil menyodorkan secangkir teh padaku. 

Aku meminumnya seteguk. Ibu bertanya “Bagaimana rasanya?” 

“Ini akan selalu jadi teh terbaik di seluruh dunia bu,” seruku. Aku pun menuangkan pot teh dan meminum lagi lebih banyak. Rasanya nikmat sekali. 

“Aku membuatkan teh tanpa berpikir ini akan jadi teh yang terbaik untukmu, nak. Namun aku berusaha menyajikan teh ini dengan cara terbaik agar kau suka saat merasakannya.” Kalimat ibu meluncur bijaknya. 

Aku mengangguk. Kataku, “Nah itu, bagaimana menjadi yang terbaik dalam hidup. Aku sudah berusaha jadi yang terbaik buat atasanku sehingga aku dapat promosi pekerjaan. Aku sudah berusaha jadi ibu yang terbaik untuk anakku sehingga ia ingin aku tinggal bersamanya dan tidak bekerja. Aku juga sudah berusaha jadi isteri yang terbaik sehingga segala kebutuhan suamiku terpenuhi.” Aku menarik napas panjang. “Apa yang aku dapat dari menjadi yang terbaik untuk orang lain?” tanyaku pada ibu hingga air mataku menetes lagi. 

Ibu memberiku tisu. Aku hapus air mata yang menetes. 

“Itulah sebab kau akan selalu merasa lelah. Mengapa? Karena selalu berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri. Kau tidak menikmati hidupmu sesungguhnya. kau tidak menikmati peranmu sebagai ibu, isteri dan karyawan. Kau mengerti itu sayang?” tanya ibu. 

Aku mengangguk. Yup, aku hanya memenuhi ambisi orang lain jadi yang terbaik tanpa pernah memikirkan apakah aku bahagia menjalani ini semua. 

“Jangan pernah berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain! Jadilah diri sendiri sudah cukup yang terbaik dalam hidup ini!” seru ibu. Ibu lalu menjelaskan bahwa menjadi yang terbaik tidak akan pernah terpuaskan. Melakukan dengan cara terbaik adalah cara mujarab untuk menyempurnakan hidup di dunia ini. 

“Tiada teh terbaik di dunia tanpa pernah kau membuat dengan cara terbaik dan merasakannya. Begitu pun hidup ini, nak. Rasakan bagaimana kau sudah melakukan cara terbaik untuk semua itu,” kata ibu lagi. 

Jadi menjalani hidup yang terbaik adalah menjadi diri sendiri.

“Bahagia itu saat kamu tahu bahwa kamu sudah jadi yang terbaik untuk diri sendiri” tegas ibu sambil menarikku dalam pelukannya. 

Ibu benar. 

Dipeluk ibu membuatku nyaman sesaat dan damai. Adakah ibu terbaik di dunia ini tanpa pernah melakukan cara terbaik dan merasakan kasihnya? 

‘Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia’

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. 

“Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau terlalu baik untukku,” katanya. 

Bagaimana mungkin ia mengatakan itu setelah aku jatuh cinta padanya. Dulu ia memujaku bak seorang ratu. Aku bahkan tak peduli ketika ia berusaha mendekatiku. Aku tak menyangka dua tahun kami sudah bersama sebagai sepasang kekasih. 

“Anna, aku hanya tak bisa membahagiakanmu. Jalan impian kita berbeda, dunia kita berbeda.”

Aku tetap diam seribu bahasa. Aku bingung. Perasaanku bercampur aduk. Bahagia karena aku kini jatuh cinta dengannya. Senang karena aku diterima bekerja di negeri antah berantah ini. Bangga karena aku bisa mengandalkan kekasihku tinggal di kota ini. Sedih karena ia saat ini memutuskan hubungan cinta kami. 

“Anna, aku pun tahu bahwa sesungguhnya kamu tak pernah mencintaiku. Kamu tak pernah mengatakan ‘I love you’ selama kita berpacaran. Kau bilang akan mengatakan itu saat kita menikah nanti. Kau ingat itu, Anna?” tanyanya padaku sambil ia mengguncangkan tubuhku. Aku tetap diam. Tetapi aku juga bingung. 

Apakah dia lebih mementingkan kalimat ‘I love you’ ketimbang perasaan cintaku yang kini bersemi karena kebaikan dan ketulusan nya? Lalu mengapa ia memutuskan hubungan kami? Cinta ini benar-benar rumit. 

“Aku bahagia bersamamu, Anna. Kau bagaikan malaikat yang mengajariku cinta. Hanya saja aku sadar dunia kita berbeda. Kita tak mungkin bersama.” Dia menggenggam kedua tanganku dan matanya terlihat rapuh. Lagi-lagi aku bingung. 

Apakah cinta itu mengajari kita untuk hidup dalam dunia berbeda? Lalu buat apa mencintai jika kita tak bisa melengkapi satu sama lain karena dunia yang berbeda? Dia memelukku erat. Aku diam dan tak bisa menangis sewajarnya. 

Jika aku sedih, aku mudah menangis bahkan bila aku teringat keluargaku di Indonesia. Aku menangis padanya. Kini saat aku sedih hendak ditinggalkannya, mengapa aku tak bisa menangis? Ada apa denganku? 

Memang benar orang bijak berpesan. Bagi dunia, kamu hanya seorang tetapi bagi seseorang, kamu adalah dunianya. Hanya dia duniaku sekarang. Aku tak punya siapa-siapa di negeri asing ini. Keluargaku di Indonesia. Apa yang terjadi dalam hidupku tanpa dia di sini? 

Jika dia bahagia denganku, mengapa ia memutuskan hubungan indah ini? Apa alasannya? Dunia yang berbeda adalah omong kosong. Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan berjanji bahwa pria ini akan jadi yang terakhir berlabuh di hatiku. 

“Aku yakin kau akan bahagia menemukan belahan jiwamu,” katanya sambil mengusap rambutku. Belahan jiwa? Kalimat apa ini. Apa beda cinta dengan belahan jiwa? Aku jadi ingat perkataan temanku. Bahwa kau bisa jatuh cinta berkali-kali tetapi belahan jiwa itu hanya datang sekali. Apakah itu berarti bukan dia belahan jiwaku? 

Aku tetap bingung dalam kebisuanku. Ia pun melepaskan pelukannya. Apakah aku rela melepaskannya seperti rela melepaskan mimpiku bersama dengannya? Mengapa ia tidak memperjuangkan hubungan kami jika ia mencintaiku? Kata ibu, cinta itu perjuangan. 

Bila cinta adalah perjuangan maka berarti butuh pengorbanan. Aku berjanji akan mengorbankan mimpiku, tetapi mengapa ia tidak memperjuangkan cinta ini? 

Aku melihatnya mengepak pakaian dan barang miliknya. Sepertinya ia benar-benar menyiapkan perpisahannya. Ia sudah membawa kopernya. Aku pun tetap tak bisa berkutik. Apa aku perlu mengemis agar ia tidak meninggalkanku? 

“Semoga kau bahagia Anna! Semoga kau segera menemukan belahan jiwamu! Maafkan aku!” katanya lirih sambil mengangkat tangan melambai di depan pintu. Aku pun melihat dengan tak merespon sepatah kata pun. Inikah akhir sebuah cinta? 

Terkadang cinta memang tidak ditakdirkan untuk seorang pengecut atau pecundang. Mereka yang benar-benar memiliki cinta untuk hidup bersama adalah mereka yang berani, termasuk berani berkurban. 

Aku mengusap tangis di pipiku. Aku mendengar bunyi SMS di ponselku. Lagi-lagi dia mengirim pesan. Aku baru saja berencana untuk memblokir nomor dan namanya.

‘Membuat bahagia orang lain itu baik, Anna. Tetapi lebih baik kamu layak bahagia juga. Terimaksih untuk kebersamaan kita selama dua tahun’ 

Aku pun hanya membaca dan tak ingin membalas pesannya. Untuk apa? Setidaknya aku sudah hadir dalam hidupnya dan membuatnya bahagia. Rupanya dia paham bahwa aku belum bahagia bersama dengannya.