CERPEN: Merajut serpihan hati

wp-image-1472552127
Dokumen pribadi.

Kala mentari menghiasi hari dengan terang, Perempuan itu berjalan mengais serajut mimpi. Tak ditemukan apa yang dicarinya. Ia mengiba pada mentari. Wajahnya peluh oleh keringat, hatinya penuh oleh gelora harapan tapi mimpi tak kunjung datang. Matanya terus mencari, tangannya bergerak-gerak mengais sesuatu yang ditemuinya di jalan.

Kosong.

Hampa.

Perempuan itu tidak menemukan apa pun.

Mentari terus memancarkan sinarnya. Teriknya tidak hanya membakar tubuh perempuan itu, tetapi membakar hatinya yang kacau oleh serpihan harapan yang dibangunnya sejak pagi datang.

Tuhan, keluh perempuan itu. Adakah Engkau disana, memperhatikan kerendahan hatiku? Adakah Engkau disana, melihat peluhku mencari serpihan hati ini yang retak dan kini entah dimana? Adakah Engkau disana, menyaksikanku menderita atas nama cinta?

Malam pun datang. Seisi kota hampir ditelusurinya dengan penuh harap, oleh perempuan itu. Tak kunjung pelita itu membantunya mencari serpihan hati yang dicarinya. Kala rembulan datang dengan temaram, perempuan itu tetap meringis menahan perih hati yang koyak.

Tubuhnya lemah, pikirannya kosong dan matanya nanar.

Malaikat datang menghampirinya. “Oh Malaikat, aku tak sanggup lagi!” seru perempuan itu. Malaikat pun menghampiri dan menatap perempuan itu.

“Malaikat, kau tau apa yang kurasakan sekarang. Hatiku hancur berkeping-keping. Tak kutemukan serpihannya di seisi kota. Tak ada yang tahu, dimana kau letakkan serpihan. Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpanya. Jiwaku luluh lantak, saat kau meretakkannya.”

Malaikat pun tersenyum.

“Aku sadar, jiwaku akan mati tanpanya. Aku sadar, bahwa masa lalu telah mengoyakkannya. Aku sadar, bahwa kesalahanku telah melukainya. Aku sadar bahwa itu semua karenaku. Aku sadar bahwa Tuhan telah menghukumku.”

“Aku sadar bahwa serpihan yang kurajut nanti saat kutemukan tak seindah yang dulu” teriak perempuan itu kepada Malaikat.

Malaikat pun tersenyum lagi. Malaikat meninggalkan perempuan itu disana, terkapar pasrah. Fisiknya lemah karena separuh hidupnya telah pergi. Asa masih bersama perempuan itu.

“Oh Tuhan, jika jiwa ini masih bisa bertahan tanpanya, biarkan dia menjadi milikku selamanya. Kan kurajut serpihan hati ini dengan penuh rasa cinta.”

Perempuan itu menutup mata. Nafasnya satu demi satu. Hidupnya tinggal sepenggal lagi. Serpihan hatinya yang tersisa masih digenggamnya kuat-kuat. Baik hanya separuh daripada aku harus kehilangan semuanya.

Tuhan tak diam. Ia tidak menutup mata terhadap perempuan ini.

Saat ingin mengkatupkan kedua tangannya, tangan yang satu menggenggam serpihan hati, tiba-tiba tangan yang lain menemukan serpihan yang selama ini dicarinya.

Sontak, perempuan itu bangkit dari kelemahannya. Matanya terbuka bahagia. Dilihatnya tangan yang lain, yang menggenggam serpihan yang baru saja ditemukannya itu.

Fisiknya yang lemah, tak dipedulikannya lagi.

Perempuan itu mengambil jarum kebahagiaan dan benang keindahan, dirajutnya serpihan itu, yang satu dengan yang lain. Meski butuh waktu untuk merajutnya, meski butuh usaha untuk menekuninya, meski butuh kesabaran untuk menantinya namun hati tak lagi terpisah.

Merajut serpihan hati bukanlah sebuah proses yang mudah, kemudahan akan dilancarkan olehNya, atas kehendak dan niat baik kita kepada Tuhan. Perempuan itu hidup kembali dengan hati yang terajut kembali. Lebih baik hidup dengan hati yang terajut kembali daripada tanpanya.

 

Bandung, permulaan bulan baik 2010.

 

Advertisements

MONOLOG HATI: Antara si baik dengan Si jahat

wp-image-852658345

Si baik: Apa yang harus aku lakukan? Tak tentu arah menemukan jawaban.

Si jahat: Teruslah bertanya, kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.

Si baik: Maksudmu?

Si jahat: Pertanyaan tidak akan mengubah keadaan. Keadaan berubah jika kamu mengubah apa yang ada di benakmu. Keadaan berubah jika kamu mengubah perilaku. Keadaan tidak akan berubah hanya dengan bertanya dan bertanya.

Si baik: Ya, kamu benar. Tapi aku tetap tak habis pikir mengapa pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama. Perilakuku juga hanya mengarah pada sebuah nama. Bagaimana mungkin sebuah nama ini terus menghias hatiku?

Si jahat: kalau begitu lakukan apa yang dikehendaki pikiranmu. Nama itu akan terus menghantuimu dan rasa bersalahmu karena kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Si baik: Meski aku tidak bisa memilikinya, akankah aku bisa mengorbakan hati yang jadi milikku untuknya.

Si Jahat: Apa? Kamu mau mengorbankan kita, hati, untuk dia. Gila aja. Perempuan sepertimu, bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Si baik: Tenanglah. Maksudku, kemanapun aku pergi pasti kamu akan ikut serta. Bahkan saat ‘sebuah nama’ bersamaku, kau selalu membujukku untuk mengorbankan kehormatan hati ini untuknya. Asal kamu tahu, aku selalu berhasil mengalahkanmu, kebaikan selalu menang.

Si jahat: Memang kau selalu menang tetapi kau tidak pernah bisa memenangkan pikiranmu padanya. Pikiranmu dan ruang hati selalu dipenuhi oleh ‘sebuah nama’. Aku muak. Mengapa kau tidak menuruti keinginanku?

Si baik: Hai bodoh, jika aku menuruti keinginanmu maka ruang dimana kita tinggal, yaitu hati, sudah kotor dipenuhi oleh nafsu. Jika aku menuruti keinginanmu maka aku akan melukai hati yang lain. Jika aku menuruti keinginanmu, maka aku tidak bisa mempertanggungjawabkan milikku kelak pada ‘Nama Lain’ yang pantas mendapatkannya. Jika aku menuruti keinginanmu, Tuhan pasti akan menghukumku atas kebodohanku menerima hadirnya dirimu, Si Jahat.

Si Jahat: Baiklah, kamu memang selalu bisa memenangkan pertandingan ini. Meski kamu menang tapi kamu tidak bisa memenangkan pikiranmu.

Si baik: Dengan terpaksa, aku harus mengubah pikiranku. Dengan terpaksa, kita akan menyapu bersih ‘Sebuah Nama’ itu dalam ruangan ini. Biarlah ruang ini bersih. Biarlah kehormatan kita tetap terjaga tanpa menyakiti hati yang lain. Apalah arti ‘Sebuah Nama’ jika hanya meninggalkan luka yang dalam.

Si Jahat: Kamu menang, Sobat.

Si baik: Kemenangan hati tidak terletak pada kebaikan semata tetapi bagaimana hati membantu pikiran dan perilaku untuk tetap mengarah pada kebaikan. Jika hati, pikiran dan perilaku baik maka kehormatan seseorang terpancar disana.

Si jahat: Yah, baiklah. Tuhan memang selalu mendukungmu, Sobat.

Si baik: Tuhan akan beserta siapa saja, si baik dan si jahat, tergantung bagaimana bisa memenangkannya.

 

Orangtua dan Agama

 

wpid-x_2.JPG
Dokumen pribadi.

Suatu kali, seorang teman mengaku pada saya bahwa dia telah berpindah keyakinan. Saat mendengar pernyataannya, saya pun tidak bisa memberi komentar apa pun. Apalagi dia beralasan bahwa dia sungguh-sungguh mendalami apa yang baru saja dianutnya itu.

Mungkin saat 5 tahun yang lalu, jika teman saya yang berpindah agama itu mengatakan pada saya, saya pasti akan marah besar. Atau, saya akan berusaha meyakinkan dia, untuk apa pindah agama. Atau, saya akan bujuk dia agar tidak pindah agama. Atau, saya akan ancam dia. Atau, saya akan jauhi dia dan menganggap tidak mengenalnya lagi. Segala macam cara pasti akan saya coba lakukan, asalkan dia tidak pindah agama. Tetapi itu dulu, tidak sekarang.

Saat teman saya mengatakan pindah keyakinan, saya pun menyetujuinya. Toh agama adalah pilihan hidup. Lagi-lagi, saya merenungi sejauhmana agama yang menjadi pilihan hidup itu mempengaruhi hidup yang mengatur relasi saya dengan Tuhan. Atau, agama lebih mengatur relasi saya dengan sesama. Sehingga, jika dia tidak seagama dengan saya, saya akan menjaga jarak. Saya akan lebih fanatik. Menurut saya, Agama saya paling benar. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Jika kita bertanya pada orang beragama pun, masih banyak yang mengaku agamanya paling benar.

Orang bijak berkata, Agama adalah sarana kita menuju Tuhan. Tapi bagaimana realitanya?

Belajar dari kasus kepindahan keyakinan dari teman saya itu, dia mengatakan bahwa dia akan lebih ‘committ’ terhadap pilihannya. Dia akan menjalani segala bentuk perilaku beragama yang dianutnya dengan sungguh-sungguh. Begitu katanya.

Lantas, hal ini berbeda dengan teman saya yang se-agama dengan teman saya itu. Teman saya yang kedua ini, sejak lahir sudah beragama demikian. Namun, perilaku beragamanya rendah. Frekuensi untuk berdoa pun rendah. Pengetahuan tentang agama pun minim. Sedangkan teman saya yang pertama, dia memiliki pengetahuan yang baik tentang agama yang dianutnya.

Teman saya yang pertama memaknai kepindahan keyakinan sebagai keputusan yang bertanggungjawab dengan mempelajari pengetahuan agama yang akan dipilihnya. Dengan pengambilan keputusan yang terjadi saat masa dewasa, diyakini seseorang akan lebih bertanggungjawab dengan pilihannya, termasuk konsekuensi yang harus dia tempuh. Sementara teman saya yang kedua, dia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Bahkan mungkin, orangtuanya tidak mengajarkan pengetahuan agama untuknya.

Dari kedua teman saya yang se-agama tetapi proses yang berbeda, saya berpendapat bahwa orangtua turut berperan bagi pertumbuhan pilihan keyakinan seseorang secara lebih positif, tidak fanatik berlebihan dan tetap mengarahkan.

Agama menjadi pedoman hidup seorang anak hingga ia tumbuh menjadi seperti yang diharapkan. Anak yang sholeh adalah harapan orangtua. Jika mendapati seorang anak yang berperilaku tidak sesuai harapan orangtua, atau biasa yang disebut sebagai ‘Anak Nakal’ tak jarang orangtua mengkaitkan dengan perilaku beragama anak. Agama menjadi landasan orangtua untuk mengetahui perilaku anak. Bahkan ada orangtua, yang sudah mulai memperkenalkan ritual agama sejak anak masih dalam kandungan. Lalu, saat anak lahir orangtua pun mensyukurinya dengan berdoa. Dan masih banyak cara dimana orangtua terus memperkenalkan agama sejak lahir.

Namun orangtua tetap berperan tidak hanya menjadikan seorang anak beragama, tetapi juga terus membimbingnya. Orangtua meminta anak untuk pergi ke tempat ibadah namun orangtua jarang pergi ke tempat ibadah. Orangtua meminta anak untuk sembahyang tetapi anak jarang melihat orangtua sembahyang. Orangtua adalah teladan bagi anak.

Orangtua mengajarkan anak untuk tidak berbohong sebagaimana yang diajarkan dalam agama, namun orangtua meminta anak untuk berbohong saat ada tamu yang tidak dikehendaki. Jelas tidak konsisten. Selain sebagai teladan, orangtua juga harus konsisten terhadap apa yang sudah diajarkan kepada anak

PUISI: Seperti Malaikat dan Iblis

wpid-10-Frauenkirche-inside_i-like-to-sit-longer-and-silent.jpg
Frauenkirche, konon kabarnya Iblis pun iri melihat kemegahan gereja ini. Dokumen pribadi.

Kamu seperti Malaikat,

Hatimu menyentuhku dengan pesona ketegaranmu menghadapi hidup

Kamu seperti Iblis,

Kamu menggodaku dengan sejuta rayu meluluhkan jiwa

Kamu seperti Malaikat,

Bayanganmu hadir menyelamatkan kerapuhan jiwaku

Kamu seperti Iblis,

Rayuanmu siap menerkam kelemahan diriku

Kamu seperti Malaikat,

Kebijaksanaanmu meluluhkan pikiranku

Kau seperti Iblis,

Memperlakukan diriku bak seorang Ratu Iblis

Kamu seperti Malaikat,

Hadirmu menguatkanku saat aku jatuh

Kamu seperti Iblis,

Mengajakku berdiskusi tentang Neraka

Kamu seperti Malaikat,

Pesona wajahmu bak seorang Raja Salomo

Kamu seperti Iblis,

Keinginanmu bak seorang Lucifer

Kamu seperti Malaikat,

Hatimu setulus merpati

Kamu seperti Iblis,

Seringnya kau tak setia pada janjimu

Kamu ya kamu,

Malaikat sekaligus Iblis

Menggodaku dengan pribadimu

Memperkosaku dengan nafsumu

Aku akan melupakanmu sebagai Iblis

Aku akan menganggapmu sebagai Malaikat

Jadilah Malaikat dalam hidupku

Meski tak akan pernah aku miliki

Jadilah dirimu sendiri

PUISI: Cinta dan Salah

wp-image-576008401
Kue jahe berbentuk hati dan berasa manis. Dokumen pribadi

Adakah cinta itu salah

Dia memanah rasa menjadi asa

Hingga suka menjadi duka

Adakah cinta itu salah?

Tak pernah bisa dimiliki tetapi bisa dirasakan

Mati pun tak mau, apalagi hidup

Adakah cinta itu salah?

Kala ditanyakan, tak jujur untuk menjawab

Ragu untuk melangkah

Adakah cinta itu salah?

Menyesakkan jiwa dengan sejuta rayuan, tertahan oleh nafsu

Dipendam oleh kerinduan

Adakah cinta itu salah?

Bagai malaikat ia hadir, nampak pula iblis mengikutinya

Bingung

Adakah cinta itu salah?

Rindu tercekat di tenggorokan, maaf terucap di bibir

Pedih menahan perih

Adakah cinta itu salah?

Diam berarti emas, tak pernah lekang oleh waktu

Abadi seperti berlian

Adakah cinta itu salah?

Sejuta mimpi muncul bersama, tertahan dalam angan

Terbang bersama burung dengan satu sayap

Adakah cinta itu salah?

Ada

Tidak

Salah

Tidak salah

Cinta tak pernah salah,

Hanya salah memanah orang yang dimabuk cinta.

PUISI: Aku mencintaimu

1y1.jpg
Dokumen pribadi.

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan setitik air

Dia berikan aku samudera

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan setangkai mawar

Dia berikan aku taman yang indah

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kesabaran

Dia berikan aku waktu untuk menanti

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kekuatan

Dia berikan aku ketegaran

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan pengharapan

Dia berikan aku kepastian

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kemenangan

Dia berikan aku kelegaan untuk menerima

 

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan cinta

Dia berikan kau sebagai jawabannya

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan teman hidup

Dia berikan kau sebagai pasangan hidup

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan belahan jiwa

Dia berikan kau sejiwa denganku

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan hidup

Dia berikan kau sebagai hidupku

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan kesetiaan

Dia berikan kau sebagai pengikat janji suci

Aku mencintaimu,

Ketika aku meminta pada Tuhan segala-galanya

Dia berikan kau sebagai jaminan hidupku

Betapa aku mencintaimu,

Terimakasih atas cinta ini

2009/12/10

Menggagas masa depan yang gemilang bagi Remaja

Dokumen pribadi.

Pengantar

Masa remaja adalah masa yang paling menentukan dalam hidup seseorang mengingat pada masa ini merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Dalam masa peralihan ini, remaja mengalami kebingungan terhadap perubahan yang terjadi dalam dirinya, baik secara fisik, psikologi dan sosial. Kondisi ini sering membuat orangtua tidak memahami apa yang terjadi dalam diri anaknya yang sudah menginjak remaja. Akibatnya, remaja pun lebih cenderung memiliki kedekatan dengan teman-teman yang mereka anggap senasib dan mengerti kondisi mereka. Minimnya informasi yang benar, kurang intimnya relasi dengan orangtua dan mudahnya remaja untuk terpengaruh oleh ajakan temannya menyebabkan remaja terjerumus pada hal yang tidak diinginkan seperti narkoba.

Narkoba atau yang lebih dikenal dalam istilah medis sebagai NAPZA, Narkotika; Psikotropika dan Zat Adiktif lainnnya, adalah sesuatu yang dimasukkan dalam tubuh berupa zat padat, cair dan gas (tidak termasuk makanan dan oksigen yang dimasukkan dalam tubuh) yang dapat merubah struktur dan fungsi tubuh secara fisik dan psikis (WHO, 1992). NAPZA yang sudah lama dikenal sejak sebelum jaman kemerdekaan, dulu hanya dikenal sebagai candu. Seiring berjalannya waktu, mengkonsumsi NAPZA pun semakin berkembang dan populer sebagai salah satu bagian dari gaya hidup.

Bentuk tubuh junkies, kurus dan tinggi, yang diinginkan oleh remaja adalah salah satu mitos atau informasi yang salah akibat pemakaian NAPZA. Minimnya informasi yang benar tentang NAPZA menyebabkan jumlah kasus remaja pecandu semakin bertambah. Negara Indonesia pun kini tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen setelah ditemukannya beberapa lokasi tempat yang dijadikan pabrik pembuatan NAPZA atau lebih dikenal di masyarakat sebagai narkoba.

Narkoba suntik

Kondisi ini masih diperparah oleh keadaan bahwa berdasarkan data dari Departemen Kesehatan tahun 2008, jumlah kasus HIV & AIDS tertinggi di DKI Jakarta lebih disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik. Lebih lanjut data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS berada pada kelompok usia 20-29 tahun. Jika masa menyerangnya virus HIV 5-10 tahun dalam tubuh seseorang, bisa dibayangkan pada usia 15-20 tahun, seseorang sudah mulai terinfeksi HIV. Kelompok usia ini termasuk dalam usia remaja, dimana mereka sudah mencoba bahkan kecanduan terhadap narkoba suntik.

Narkoba suntik adalah salah satu cara penularan HIV & AIDS yang terjadi melalui kontak darah yakni media alat suntik yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang. Suntik yang dimaksud jelas bukan suntik yang streril atau masih baru melainkan pernah dipakai (bekas) atau bersama-sama memakai. Seorang junkies atau pecandu pernah bercerita bahwa secara sadar mereka tahu risiko menggunakan jarum suntik bersama-sama namun apa daya membawa jarum suntik adalah risiko paling besar yang harus mereka hadapi jika harus tertangkap oleh polisi atau aparat terkait.

Narkoba suntik lebih diminati karena langsung terasa efeknya secara stimulan, halusinogen dan depresan dalam tubuh seseorang dibandingkan jenis narkoba lainnya. Selain itu, kenikmatan lain yang dirasakan apabila menggunakan bersama-sama (sharing) dengan teman, seolah-olah merasa senasib sepenanggungan (sense of belonging). Hal ini yang sebenarnya dicari oleh pecandu, terutama remaja yang bermasalah atau mencoba melarikan diri dari masalah kebingungan atau perubahan yang terjadi dalam diri mereka.

Media edukasi, informasi & komunikasi

Berdasarkan data jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia, DKI Jakarta menempati urutan pertama terbanyak. Oleh karena itu Pemerintah DKI Jakarta terus berupaya untuk mengembangkan berbagai upaya pencegahan bagi remaja mengingat remaja merupakan kelompok berisiko tinggi. Upaya pencegahan tentu tidak berjalan sendiri karena perlu didukung oleh semua pihak sebagai kelompok terdekat remaja.

Pertama, meningkatkan sarana media edukasi, informasi dan komunikasi agar semakin banyak orang paham mengenai bahaya narkoba. Masih banyak orangtua hanya memahami narkoba sebagai ‘benda berbahaya dan terlarang’ tanpa mengetahui kandungan atau efek yang terjadi jika seseorang menggunakan dan kecanduan narkoba. Oleh karena itu, perlu adanya media informasi dan edukasi seperti brosur dan poster yang dipasang di tempat-tempat publik seperti rumah sakit, sekolah, restoran, dll. Atau kampanye terbuka yang bisa saja melibatkan LSM yang bergerak di bidang remaja dan narkoba di tempat-tempat publik seperti mall.

Selain itu, maraknya program televisi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan informasi dimana orangtua dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang narkoba sekaligus media sharing atau komunikasi terhadap hal-hal yang harus dilakukan jika kedapatan anaknya kecanduan narkoba.

Peran sekolah

Kedua, memasukan pengetahuan bahaya narkoba di sekolah misalnya, sebagai bagian atau melalui kurikulum pendidikan sejak di SMP dan SMA dalam pelajaran budi pekerti. Tidak semua sekolah mampu dan memiliki akses untuk mendapatkan informasi dan penyuluhan tentang narkoba. Adanya kurikulum dalam pendidikan diharapkan sekolah pun turut serta melakukan pencegahan melalui informasi yang benar. Dalam kurikulum ini, remaja pun diajarkan mengenai ketrampilan diri (life skills) untuk melindungi diri terhadap tawaran dan ajakan untuk menggunakan narkoba. Diharapkan remaja dapat melatih sikap asertif untuk berpendapat terhadap nilai-nilai yang tidak sesuai atau bertentangan, seperti narkoba.

Sekolah juga dapat berperan meningkatkan pengetahuan bahaya narkoba melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolahnya. Misalnya, setiap kegiatan ekstrakurikuler minimal bisa menyediakan satu kali pertemuan tatap muka untuk membahas mengenai narkoba. Para pendidik sekolah dapat bekerjasama dengan pengurus atau pengelola ekstrakurikuler untuk membuat rencana kerja yang menyisipkan penyuluhan atau sharing pengalaman atau pendapat antar siswa mengenai bahaya narkoba.

Pengetahuan bahaya narkoba di sekolah dapat dilakukan saat memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS) yang dilaksanakan setiap awal tahun ajaran pendidikan. Kegiatan ini cukup bermanfaat sebagai pengenalan kepada siswa baru bahwa sekolah berkomitmen untuk ‘memerangi’ narkoba di sekolah. Dengan demikian siswa yang baru menginjakkan kaki di sekolah pun memiliki sikap waspada untuk tidak mencoba narkoba.

Meningkatkan pengetahuan bahaya narkoba di sekolah diperlukan dukungan dari orangtua. Pihak sekolah dapat menyisipkan agenda pertemuan tatap muka dengan orangtua yang membahas narkoba atau memperkaya wacana orangtua yang bertemakan bahaya narkoba. Melalui media pertemuan antara sekolah dengan orangtua tentu akan membantu sekolah dan orangtua dalam mengidentifikasikan remaja yang bermasalah, terutama kecenderungan untuk menggunakan narkoba. Sekolah pun dapat menyatakan sikap yang tegas di hadapan orangtua mengenai tindakan yang akan diambil jika anak kedapatan menggunakan narkoba.

Selain menempelkan spanduk, poster, brosur atau selebaran mengenai pengetahuan bahaya narkoba di Mading Sekolah, Sekolah dapat membentuk mitra pendidik sekolah yang berasal dari siswa. Mitra pendidik sekolah (peer educator) adalah siswa yang dilatih oleh sekolah dan bertugas untuk menyampaikan informasi yang benar tentang bahaya narkoba serta mengajak teman-temannya untuk melakukan kegiatan positif.

Peran orangtua dan masyarakat

Ketiga, meningkatkan komunikasi dan relasi antara orangtua dan remaja sehingga memungkinkan orangtua mengikuti dan mencermati perkembangan yang terjadi terhadap remaja. Orangtua perlu berperan sebagai ‘sahabat’ dan sumber informasi bagi remaja. Oleh karena itu, orangtua perlu dibekali pengetahuan yang benar akan bahaya narkoba dan HIV & AIDS. Dengan demikian remaja dapat membedakan mana yang benar dan salah mengenai hal-hal yang mungkin hendak dilakukannya.

Relasi yang intim antara orangtua dengan remaja tentu akan mempengaruhi pola komunikasi yang tercipta dengan konstruktif, melalui pendekatan keagamaan dan budi pekerti. Orangtua yang secara jelas menyatakan sikap dan pendapatnya tentang narkoba, misalnya, akan membantu remaja untuk memahami konsekuensi yang akan terjadi jika melanggar.

Peran orangtua sangat menentukan masa depan remaja sehingga perlu ada kewaspadaan bagi orangtua dan masyarakat untuk mengenali kondisi remaja dan pengetahuan yang cukup untuk melakukan tindakan pertama jika kedapatan remaja menggunakan narkoba, misalnya membawa anak ke panti rehabilitasi. Oleh karena itu, diperlukan peran semua pihak terutama Pemerintah dan LSM terkait untuk melakukan penyadaran seperti kampanye dan penyuluhan kepada orangtua yang menjadi bagian dari masyarakat.

Masyarakat yang sadar akan bahaya narkoba secara hukum dan medis, maka akan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi remaja untuk tidak menggunakan narkoba. Bagaimanapun, lingkungan dapat mempengaruhi seorang remaja untuk menggunakan narkoba jika terjadi sistim nilai yang rendah di masyarakat dan pengaruh/ajakan yang kuat dari teman-temannya.

Penutup

Remaja adalah tolok ukur bagi terciptanya generasi penerus yang sehat dan tangguh di masa yang akan datang. Dari lingkup terendah, keluarga, sampai dengan lingkup tertinggi, negara dan pemerintah, memiliki perhatian yang khusus untuk memutus mata rantai narkoba. Narkoba tidak hanya menyebabkan ketergantungan/adiksi dan penyakit seperti AIDS secara medis juga kejahatan/kriminalitas secara hukum, namun narkoba dapat menimbulkan kematian. Masalah narkoba adalah masalah sosial yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

***

PUISI: Cinta & Benci

wpid-foto-comics.jpg
Dokumen pribadi.

 

Setiap orang diciptakan untuk saling mencintai. Tetapi, mengapa ada kebencian? Perasaan benci berarti bukan cinta. Perasaan benci pasti berbeda dengan cinta. Bentuk perlakuan membenci pasti berbeda dengan mencinta.

Tuhan senantiasa mencintai manusia. Apakah Tuhan membenci manusia?

Jika Tuhan menciptakan hati untuk mencintai, mengapa hati yang diciptakan bisa menumbuhkan perasaan benci. Benci bukan berarti Benar-benar Cinta. Benci ya Benci. Tidak suka. Tidak Cinta. Jika ditanya, bagaimana benci itu tumbuh? Jawabnya pasti di hati. Hati yang membenci. Meski, banyak orang memandang kebencian dengan mata namun mata yang benci berawal dari hati.

Saat mencintai, pasti kita sulit untuk membenci. Begitu pun sebaliknya. Saat membenci, kita pun tidak bisa untuk mencinta.

Jika cinta bertumbuh dari hati, mengapa hati yang sama mampu menumbuhkan benci?

Cinta. Benci.

Dua hal yang berbeda.

Jika kita membenci, kita tidak pernah punya kesempatan untuk mencintai. Saat kita mencintai, kita pun tidak punya kesempatan untuk membenci. Lantas, mengapa kita tidak memulai dengan mencintai seseorang?

Tuhan hanya menciptakan satu hati. Hati yang berkembang untuk mencintai, bukan membenci.

Cinta selalu menumbuhkan kedamaian. Cinta menumbuhkan kebahagian.

Benci selalu menumbuhkan pertengkaran.

Cinta berasal dari Tuhan. Lantas, darimana benci bisa muncul?
Hanya Anda dan perasaan benci itu yang tahu.

Selamat mencintai!

Menulis adalah Seni. Ini Pendapat Saya

 

img-20160308-wa0020.jpg
Dokumen pribadi.

 

Menulis bukanlah hal yang sulit. Namun, banyak orang yang menganggap menulis membutuhkan skill dan metodologi khusus sehingga sulit pula untuk dikerjakan. Menulis pada dasarnya adalah seni. Seni untuk mengekspresikan diri. Seni untuk menyatakan pendapat. Seni untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Seni yang indah untuk menuangkan hal-hal yang sulit untuk diungkapkan.

Kecerdasan seseorang belum tentu mempengaruhi cara seseorang untuk menulis. Karena dalam menulis, anda tidak dituntut untuk cerdas. Yang dibutuhkan adalah ketrampilan anda dalam menuangkan gagasan atau ide. Sempatkan waktu untuk menulis saat anda sudah menemukan ide. Lalu tuangkan gagasan atau ide tersebut menjadi sebuah kalimat-kalimat yang tersusun sehingga menjadi sebuah paragraf. Kaitkan masing-masing paragraf menjadi sebuah tulisan.

Bumbui tulisan anda dengan hasil observasi yang mengarahkan pada tulisan anda. Agar lebih kaya tulisan anda, carilah literatur yang tepat dan cocok dengan tulisan anda. Misalnya, pendapat seorang ahli yang dikutip atau bisa juga sumber sebuah buku. Tuangkan semua hasil observasi dan kutipan anda dalam sebuah tulisan.

Jangan pernah merasa takut untuk memulai menulis! Ketakutan justru akan menghambat anda untuk memulai sesuatu. Jangan pernah ragu untuk menuangkan beberapa ide atau gagasan. Lalu mulailah menulis sebanyak-banyaknya kalimat yang anda temukan dalam pikiran. Jika sudah selesai dalam tulisan, jangan ragu-ragu untuk meminta pendapat dari orang sekitar untuk meninjau kembali tulisan Anda. Pendapat orang lain bisa menolong anda untuk tampil percaya diri dalam menulis. Meskipun kadang pendapat mereka justru mengkritik tulisan anda. Tetapi jangan pernah takut untuk mencoba. Semua berawal dari niat dan motivasi untuk memulai menulis dengan cepat. Secepat ketika anda sudah menemukan gagasan.

Rajin-rajinlah untuk membaca buku atau novel kesayangan ketika anda belum menemukan ide atau inspirasi untuk menulis. Upayakan bahwa semua kegiatan menulis anda, benar-benar tidak terkontaminasi oleh kegiatan lain. Hal seperti ini sering terjadi pada orang-orang yang memerlukan ketenangan atau kekhusyukkan saat menulis. Namun ada pula orang yang tidak terpengaruh untuk dengan kondisi sekitar sehingga tetap dapat menghasilakan sesuatu tulisan.

Ada pula tipe dimana anda perlu musik yang tenang seperti instrumen yang syahdu yang mendorong anda untuk menikmati seni untuk menulis. Semua terserah pada kondisi dan situasi yang anda ciptakan sendiri. Yang penting, kegiatan menulis harus dibuat senyaman mungkin.

Selain itu, biarkan pikiran anda bermain dalam tulisan yang anda hasilkan. Kadang ketakutan untuk menemukan ide justru memperkeruh keyakinan anda untuk mulai menulis. Atau, anda bisa juga dengan menuliskan poin-poin tertentu yang anda temukan jika anda sudah mendapatkan gagasan, yang dicatat di sebuah notes.

Kadang kita berpikir menulis memerlukan suatu intelegensi yang tinggi, padahal tidak demikan. Menulis adalah seni. Saat Anda bisa menemukan seni keindahan dari menulis, anda akan dapat merasakan bahwa menulis sesungguhnya lebih dari sekedar kegiatan mengumpulkan aksara dan menuangkannya menjadi sebuah gagasan.

Seni menulis tidak harus menunggu saat yang tepat, misalnya jika sudah meraih gelar pendidikan tertentu. Menulis dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja secepat saat anda sudah menemukan ide untuk menulis. Yang penting jangan pernah merasa khawatir apakah tulisan anda layak atau tidak? Karena menulis adalah seni yang dilatih dari kebiasaan terus menerus.

Seni menulis hanya mementingkan bagaimana suatu hal yang dirasakan atau dipikirkan dapat dituangkan dalam sebuah pikiran.  Hanya saja menulis selalu dianggap sebagai kendala yang menyulitkan dengan mindset yang memerlukan ketrampilan atau metodologi khusus.

Diperlukan niat agar anda benar-benar dapat menghasilkan tulisan yang memang sesuai dengan apa yang anda pikirkan dan rasakan. Jangan pernah takut untuk mencoba atau memulai untuk menulis! Karena tidak pernah ada teknik jitu untuk menulis yang sempurna.

OPINI: Malam Renungan AIDS 23 Mei

 

wpid-img_20151109_211639.jpg
Penyebaran HIV seumpama anda mencelupkan noda merah sedetik ke dalam gelas maka sepuluh menit kemudian air pun berubah menjadi warna merah. Ilustrasi.

 

Tanggal 23 Mei, hari ini, diperingati sebagai Malam Renungan AIDS. Saya sendiri yang pernah bekerja di Program HIV & AIDS, sudah lupa alasan terpilihnya tanggal tersebut sebagai Malam Renungan AIDS. Saya hanya masih mengingat sejarah Hari AIDS Sedunia, yang ditandai pita merah (red ribbon).

Meski kini, saya bekerja di dunia pendidikan, tetapi masih tergerak hati saya terhadap kasus HIV & AIDS yang tidak hanya menjadi persoalan kesehatan saja tetapi juga persoalan sosial dan masyarakat. Bagaimana pun, penularan HIV lebih disebabkan perilaku berisiko seseorang secara sadar atau tidak. Ada banyak pihak yang tidak melulu menjadi pelaku dari yang mengalami saja tetapi juga ‘korban’ dari keadaan. Miris memang! Namun, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius jika dibayangkan bahwa angka kasus HIV dan AIDS mengalami peningkatan, bukan penurunan seperti di negara-negara Asia lainnya.

Hari AIDS Sedunia, 1 Desember tahun yang lalu, saya dikejutkan oleh fenomena data statistik yang menyebutkan Provinsi Jawa Barat sebagai peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal jumlah kasus HIV & AIDS terbanyak di Indonesia. Saat ini, saya memang sedang bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Sungguh ironis bagi saya, manakala setahun sebelumnya (Maret 2008), Jawa Barat masih di bawah Provinsi Papua, yang menjadi Provinsi kedua terbanyak setelah Jakarta. Bulan Desember 2008, data sudah berbicara lain, bahwa Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi kedua terbanyak dalam kasus HIV & AIDS setelah DKI Jakarta.

Suatu hari di bulan Maret 2009, saya dimintai tolong oleh seorang rekan di Bandung. Beliau meminta tolong untuk merekomendasikan komunitas bagi ODHA yang kebetulan adalah anak jalanan. Saya tidak dapat berbuat banyak, ODHA itu sudah memasuki tahap memprihatinkan, tidak sekedar Orang Dengan HIV Positif. Saya kembali membayangkan data statistik kasus HIV & AIDS di bulan Desember 2008 lalu. Begitu cepatnya?

Di hari ini, saat Malam Renungan AIDS, saya kembali membuka data statistik (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf) mengenai jumlah kasus HIV & AIDS di Indonesia. Provinsi Jawa Barat sudah berada di posisi pertama sebagai provinsi terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV & AIDS. Dalam triwulan Januari-Maret 2009, ditemukan bahwa jumlah kasus HIV & AIDS di Provinsi Jawa Barat meningkat, terbanyak dibandingkan provinsi lain.

Sejak ditemukan tahun 1987, kasus HIV & AIDS di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tidak bisa di duga bahwa kini Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama terbanyak di Indonesia, yang biasanya ditempati oleh Jakarta atau Papua. Bisa dibayangkan bahwa virus HIV seperti setitik cairan merah yang dimasukkan dalam gelas berisi air putih, menyebar, sehingga gelas berisi cairan warna merah. Begitu cepatnya?

Di malam renungan AIDS, keprihatinan muncul untuk mengingatkan kembali pentingnya membekali diri untuk tidak mencoba perilaku berisiko tinggi.

  • Pendapat pribadi tahun 2008.