Hey, Please Think Before Posting!

20170723_215308
Sebelum meledak seperti kembang api, sebaiknya pikirkan saat posting di media sosial. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Hey, Please Think Before Posting

Sontak saya terperanjat membaca email dari seorang senior yang memiliki posisi dihormati tetapi cara beliau mengkomunikasikan pesan tidak menunjukkan simpati. Akibat ulahnya yang berulangkali itu, hampir semua staf tidak menaruh respek lagi terhadapnya.

Contoh kedua, saat saya membaca status teman saya di dunia maya. Teman saya berpikir bahwa statusnya adalah bentuk eksistensi pendapat dan ekspresi emosinya tetapi dia lupa bahwa orang dalam kontaknya akan membaca dan mengetahuinya. Akhirnya, dia bermasalah dengan lingkungan sekitarnya, karena dianggap labil. Orang yang awalnya simpati menjadi antipati.

Kini hubungan komunikasi hanya seluas jari-jari tangan, karena kemudahan melakukan dan menerimanya.  Dengan kemudahan tersebut, mem-posting-kan sesuatu hanya karena ego, emosi dan tidak memperhitungkan orang lain membacanya adalah bentuk eksistensi diri di dunia maya yang salah. Mengapa? Cobalah bersikap santun, meski dalam dunia maya.

Hitung sampai dengan 10 detik sambil berpikir ulang akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari gunakan lebih bijak lagi media ekspresi dalam dunia maya!

Advertisements

CERPEN: Ncrut Ncrit

wp-image--185307520
Ilustrasi. Dokumen pribadi.

Sebut saja Ncrut, Pria paruh baya yang memiliki wajah rupawan, duit melimpah tetapi tak punya hati. Misi hidup Ncrut di dunia adalah menjadikan Ncrit adalah miliknya, sebagai yang utama dari para selir yang dimiliki tetapi tidak diakui sebagai orang yang dicintainya.

Ncrit adalah perempuan biasa namun memiliki pesona yang luar biasa. Banyak pria mengaguminya bukan karena kecantikannya tetapi karena kepintarannya dalam hidup. Apa saja yang dimiliki Ncrit, disukai oleh Pria. Tubuhnya langsing, rambutnya hitam legam dibiarkan terurai, kulit bersih dan payudara yang montok jelas mengundang birahi setiap pria, termasuk Ncrut. Meski tak cantik, tetapi para pria mengagumi Ncrit sebagai perempuan seksi nan pintar.

Singkat cerita Ncrut mendengar dari celotehan para pria dari negeri seberang tentang Ncrit. Ia menjadi tertarik untuk mengetahui seperti apa Ncrit yang dimaksud mereka. Didengarnya baik-baik komentar para pria tentang Ncrit. Mulailah dibayangkan seperti apa sosok Ncrit ini dalam benak Ncrut.

Ncrut yang memiliki uang, bermaksud untuk membeli Ncrit. Dia pikir setiap perempuan dapat tunduk dengan harta kekayaan dan materi. Ternyata tidak, saat Orang Suruhan Ncrut datang membawa segepok uang, sekotak berlian, segenggam emas dan selembar sertifikat tanah, Ncrit menolak dan mengusirnya.

Kata Ncrit pada Pria Suruhan Ncrut, “Katakan pada Pria Sombong itu, Perempuan lebih berharga dari benda apa pun yang kau bawakan itu.”

Pria itu pun berlalu.

Ncrut yang mendengar pesan Ncrit pun panas hati. Ditendangnya semua barang-barang persembahan untuk Ncrit, dipukulnya Pria Suruhannya dan dikutuknya Ncrit dalam hatinya.

“Bedebah, Perempuan macam apa kau? Tak laku pula kau hingga tak menikah sampai sekarang. Kau pikir kau tak kan tunduk padaku.”

Ncrut pun mencari akal untuk mendapatkan Ncrit. Meski hatinya tak terlalu kepincut seperti apa yang dirasakan pada bunga desa, kampung sebelah, tetapi hasrat menguasai terpancar jelas dalam hatinya. Toh, sebagai pria, Ncrut tak ingin kalah saing dengan para pria yang mengagumi Ncrit.

Dipanggilnya ahli kesehatan, Ncrut pun meminta obat malarindu tropikangen agar Ncrit pun merindukannya hingga hatinya pun terpaut padanya. Ahli kesehatan pun datang dan memberikan nasihat pada Ncrut.

Resep obat malarindu tropikangen terdiri dari:

  1. Secangkir air putih.
  2. Segenggam bunga melati.
  3. Sebuah rasa rindu Ncrut.
  4. Seucap mantra, dung dang ding deng lilipat

Datanglah Ncrut ke rumah Ncrit sambil membawa obat malarindu tropikangen. Sambil berpakaian bagus dan wangi, Ncrut datang dengan sejuta topik obrolan agar pertemuannya tak lagi membosankan.

Di jalan, obat malarindu tropikangen dijompa-jampi oleh mantra si ahli kesehatan. Dung dang ding deng lilipat. Sebuah rasa rindu pun diberikan dalam obat ini.

Berjumpa dengan Ncrit, tidak membosankan bagi Ncrut karena Ncrit penuh dengan cerita menarik. Pantas saja, para pria membicarakannya. Bukan kecantikan yang ada pada Ncrit, tetapi daya tarik yang berbeda yang tak dimiliki oleh perempuan mana pun.

Ncrut pun menceritakan maksud kedatangannya, sambil menunjukkan kehebatan obat malarindu tropikangen sebagai air ajaib yang mujarab di dalam gelas, bisa menyembuhkan penyakit apa saja.

Ncrit pun kagum pada kebaikan Ncrut, diterimanya air mujarab itu dan diucapkannya terimakasih. Ncrut pun pulang dengan bangga hati bahwa Ncrit akan berhasil merasakan pahitnya rindu yang tak tertahankan hingga ia bertekut lutut menanti dirinya sebagai penawar rasa sakitnya.

Ncrit yang baik, merasa bahwa air ajaib ini tak boleh sembarang diminum. Disimpannya baik-baik air ini agar bisa digunakan saat penyakit datang. Ncrit tak pernah lagi mengingat lagi Ncrut, toh dia adalah satu dari banyak pria yang datang dan pergi tanpa kepastian dan komitmen. Datang tak diundang dan datang tak pernah membawa seikat harapan, sekali untuk selamanya, menikah.

Ncrut yang bodoh, merasa bahwa Ncrit akan berhasil ditaklukkan. Dia pun berpuasa agar niatnya yang jahat dapat terwujud dengan bantuan para iblis. Ncrut yang malang, tak pernah berpuasa, tak pernah susah dan tak pernah tak makan, hingga akhirnya ia jatuh sakit.

Mendengar Ncrut sakit, seluruh wilayah kekuasaannya pun heboh. Orang-orang suruhannya pun segera mencari ahli ramal untuk mengetahui kesembuhan tuannya itu. Mereka lupa bahwa ramalan tak akan menyelesaikan masalah kesehatan tetapi membuat gaduh si Ncrut mendengarkan hasil ramalan.

Si Ahli Ramal bilang bahwa Ncrut akan menderita sakit karena rindu, kontan saja Ncrut marah besar pada si tukang ramal. “Tukang Ramal brengsek. Tak tahukah kamu bahwa saya tak sudi bersanding dengan Ncrit sialan itu. Dia hanya mangsa buat saya. Saya tak tertarik pada perempuan seperti itu. Saya butuh tabib bukan peramal” teriak Ncrut tiba-tiba.

Seisi wilayah Ncrut, geger karena teriakannya. Mereka bingung. Kadang orang merasa bahwa sakit butuh peramal bukan dokter. Sakit tidak melulu identik dengan penyakit. Sakit bisa karena pribadi yang egois dan mau menang sendiri. Sakit justru semakin menyakiti kalau mendera pada orang-orang yang tak menerima keadaan. Sakit adalah rasa akibat sesuatu, bukan karena kebutuhan untuk diketahui sesuatu. Orang memandang sakit karena nasib. Orang memandang nasib berdasarkan sakit. Salah besar.

Singkat cerita, sakit Ncrut tak kunjung sembuh. Ia bahkan semakin menderita dan merana. Ia menyesal melakukan tapa laku puasa hanya untuk kepuasan batin agar ia dapat ‘memangsa’ Ncrit. Begitulah kira-kira, jika menganggap sesama adalah mangsa, ia tak ubahnya tuan dari nasibnya. Dia lupa bahwa Tuhan adalah tuan bagi nasib setiap orang.

Saat penderitaan sakitnya tak jua sembuh, tak ada pula ahli kesehatan yang sanggup menyembuhkannya. Ahli kesehatan hanya bisa menyembuhkan apa yang diderita secara fisik tetapi batin tidak. Dipanggilnya ahli jiwa, untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada Ncrut.

Ahli jiwa belum tentu mengetahui apa yang sungguh dijiwai Ncrut. Ahli jiwa tidak menjiwai apa yang dirasakan sesungguhnya oleh manusia. Jiwa seperti apa yang disembuhkan oleh mereka. Keahlian seseorang tidak berkaitan dengan julukan yang diberikan kepada mereka. Bahkan seorang tabib sekalipun belum tentu dapat menyembuhkan dirinya sendiri.

Tuhan pun kecewa melihat kacau balau wilayah Ncrut. Tak ada yang sesungguhnya tepat mengetahui peristiwa hidup. Tuhan yang disembah, meski tak kelihatan bukan berarti tak tahu apa yang sedang dihadapi umatnya. Ia membiarkan setiap peristiwa yang terjadi pada Ncrut sebagai pelajaran yang harus dialami agar ia bisa menghargai hidup.

Dibawa oleh angin berita sakit Ncrut kepada Ncrit. Kaget luar biasa mendengar berita tersebut, Ncrit pun bermaksud mengunjungi Ncrut dan memberikan air mujarab yang pernah diberikan kepadanya.

Saat kunjungan datang, Ncrut menolak bertemu Ncrit. Ncrut merasa bahwa kunjungannya hanya bermaksud mencela sakit yang dialami. Begitulah manusia, sudah membentuk opini yang menjadi halangan kesembuhan sakit yang dideritanya. Begitulah Ncrut, saat sakit pun, ia tak ingin dikasihani, bahkan oleh orang yang dianggap mangsa sekalipun.

Ncrit pun membiarkan perilaku Ncrut. Dimintanya orang suruhan untuk meminumkan air mujarab tersebut.

Jika di dunia ini, virus dibuat oleh si Penangkal virus. Jika seorang yang ahli dibodohi oleh keahliannya sendiri. Jika seorang yang sudah memberikan obat malarindu tropikangen harus meminum penangkal untuk meredakan sakitnya, apa yang bisa ditangkap? Ncrut pun sembuh. Ia justru merindukan Ncrit. Ia meminta Ncrit untuk tinggal dan hidup bersamanya.

Sakit dibuatlah oleh perilaku kita sendiri. Ncrut yang memberikan obat agar Ncrit merindukannya, justru obat itulah yang menyembuhkannya dari rasa sakit yang dibuatnya sendiri.

Mencintai berarati mengorbankan ego kita. Mencintai bukan berarti memberikan obat tanpa memberikan penangkalnya. Mencintai berarti menyangkal diri sendiri, pasrah kepada keadaan sekitar dan tak mempercayai semua ahli apa pun di dunia ini. Mencintai sesungguhnya sadar bahwa Tuhan itu ada, yang tak pernah menjadikan kita sebagai mangsa.

Ncrit menanti Ncrut.

 

Belajar Profesionalitas Ala Tukang Nasi Goreng

wp-image-470966136jpeg.jpeg
Ilustrasi. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Siapa yang tak kenal nasi goreng?

Makanan yang satu ini punya rasa yang berbeda meski hanya sekedar nasi yang diberikan bumbu dan tambahan lauk lainnya. Jika nasi goreng sudah di tangan ahlinya, siapa pun akan mengagumi rasa nasi goreng ini. Rasa yang biasa menjadi luar biasa lezat tergantung dari bagaimana Sang Pencipta nasi goreng ini membuatnya.

Sejujurnya, nasi goreng bukan makanan kesukaan saya tetapi sejak saya mengenal nasi goreng buatan Si Mang Kabul (bukan nama asli), lidah saya pun bergoyang dan ketagihan ingin membeli.

Saya mengenal betul Mang Kabul yang masih baru berjualan dan belum memiliki pelanggan. Pasalnya, dia merintis nasi goreng sejak ia berpisah dengan kakaknya, yang berjualan nasi goreng juga. Namun kini, Mang Kabul memiliki banyak pelanggan. Jualannya memang tak hanya nasi goreng saja, ada mie goreng dan mie rebus juga, tetapi saya menyukai nasi goreng buatannya.

Setelah beberapa tahun sejak memulai usahanya, saya mulai memperhatikan cara kerja Mang Kabul yang menurut saya menarik untuk dibagikan:

  • Penampilan Rapi dan Bersih.

Dalam bekerja, terkadang kita mengabaikan penampilan yang menjadi kata kunci kita untuk bisa bekerja nyaman di kantor. Seorang tukang nasi goreng memang tidak perlu menggunakan dasi atau memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan yang halus, tetapi bagaimana ia menampilkan dirinya secara bersih dan rapi telah membuat para pelanggannya tersihir untuk datang membeli. Coba anda bayangkan, jika si tukang nasi goreng ini memakai pakaian lusuh, rambut berantakan, kuku yang kotor dan bau badan karena belum mandi, apa yang terjadi kemudian?

Bagi mereka yang bekerja dengan menghadapi klien atau bersosialisasi dengan orang-orang di luar kantor tentu penampilan adalah kata kunci untuk anda. Seorang sales akan terlihat menarik dengan penampilan yang cukup meyakinkan lewat penampilannya. Tidak hanya untuk pekerjaan tertentu saja, tetapi penampilan akan membantu kita untuk terlihat menarik bagi siapa saja yang melihat anda di kantor, terutama bos/atasan kita.

Siapa saja suka melihat orang yang berpenampilan rapi dan dan bersih, karena menampilkan citra diri anda yang mampu mengurus diri anda sendiri. Jika anda mampu mengurus diri sendiri maka anda pun diyakini akan mampu mengurus pekerjaan anda dan mungkin juga tanggungjawab di luar diri anda seperti orang lain, dsb.

Tak perlu mahal untuk berpenampilan rapi dan bersih, yang penting sesuai, nyaman dan cukup membuat orang di sekitar anda nyaman terhadap kondisi anda. Siapa yang mau bekerja dengan orang yang bau badan dan berpenampilan jorok?

  • Konsisten dan fokus.

Konsisten adalah cara bagaimana kita bisa bersikap teguh terhadap apa yang diucapkan dan dikerjakan. Bukan berarti keras kepala atau kepala batu, tetapi konsisten akan membantu kita untuk bertanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang kita kerjakan. Si Mang Kabul pun demikian, dia akan membuatkan nasi goreng satu per satu berdasarkan pesanan. Dia akan mengatakan kepada pelanggannya apabila sudah banyak pesanan, apakah si pelanggan mau menunggu atau tidak? Bukan mencari duit sebanyak-banyaknya lalu ia ‘mengiyakan’ setiap permintaan. Jika kita mengerjakan dengan penuh konsisten maka hasil yang diperoleh akan maksimal. Orang seperti saya yang suka multitasking akan sulit untuk konsisten terhadap sebuah pekerjaan. Saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan, tetapi hasil kerjanya tak ada yang sempurna hehehehe…

Konsisten dan fokus terhadap pekerjaan yang menjadi tanggungjawab akan sangat diperlukan oleh atasan kita dibandingkan kita menerima banyak tanggungjawab tetapi semua ‘keteteran’. Tiap hari lakukan konsistensi dan fokus terhadap hal-hal apa yang akan dikerjakan sehingga semua ‘dateline’ terkejar dengan baik. Untuk membantu, buatlah daftar list pekerjaan yang akan dilakukan, lalu tempel di dinding kerja anda. Anda dapat bersikap asertif terhadap penawaran kerja selanjutnya jika belum selesai. Tetapi harus diingat, manajemen waktu diperlukan agar semua pekerjaan bisa diselesaikan sebelum waktunya.

  • Bersih dan tertata baik.

Sebagian orang bisa bekerja dengan meja berantakan, sebagian lagi tidak. Memang hasil kerja adalah produk dari sebuah pekerjaan, tak peduli betapa prosesnya merepotkan dan membuat runyam seisi ruang kerja anda. Tetapi siapa pun pasti suka melihat dan merasa nyaman apabila berada di ruang kerja yang bersih dan tertata baik.

Mang Kabul pun demikian. Ia mampu menata dimana letak bumbu yang diperlukan dan bahan-bahan, sehingga ia tak perlu repot untuk mencari. Ia melap setiap sajian makanan yang selesai agar meja tempatnya bekerja terlihat rapi. Ia akan mengganti dan membersihkan wajan apabila habis dipakai oleh pelanggan sebelumnya. Meski Mang Kabul hanya memiliki dua wajan tetapi dia mampu memindahkan satu wajan ke wajan lain, dan merebuskan air bersih agar wajan kembali bersih.

Jika menurut anda sulit untuk membersihkan ruang kerja, maka aturlah waktu untuk membersihkannya, misalnya pagi hari sebelum bekerja atau seminggu sekali di akhir pekerjaan.

Memberi kesan ruang kerja yang rapi dan tertata adalah cermin performa seseorang dalam mengelola sebaik mungkin bagaimana ia bekerja.

  • Segala sesuatu punya ukurannya sendiri

Mang Kabul telah terbiasa untuk mengelola rasa masakannya hingga tetap disukai oleh pelanggannya. Segala sesuatu punya ukurannya sendiri. Dia tahu bagaimana menjamu pelanggan dan hafal setiap pesanan para pelanggannya sehingga cita rasa yang ditawarkannya tak pernah berbeda. Bagaimana dalam bekerja?

Jika Bos atau Atasan kita memiliki kepercayaan bahwa kita mampu untuk mengerjakannya permintaannya, itu berarti ia telah mengetahui ukuran kinerja kita. Mungkin berat, mungkin susah atau mungkin tak pernah kita lakukan tetapi Atasan telah memakai ukuran kinerja sebagaimana yang selama ini sudah kita lakukan, agar kita tidak kehilangan ‘Pelanggan’, dalam hal ini berarti citra kita di mata Atasan atau Bos.

  • Menjaga kepercayaan.

Masih berkaitan dengan poin 4, menjafa kepercayaan dimaksudkan sebagai bentuk komitmen terhadap apa yang sudah kita lakukan. Menjaga kepercayaan antar relasi satu departemen, menjaga kepercayaan antara saya dengan atasan, atau menjaga kepercayaan antara saya dengan orang di bawah saya. Intinya, menjaga kepercayaan diyakini sebagai orang yang memiliki integritas dalam bersikap dan berpikir, terutama dalam mengambil keputusan.

  • Mengelola sarana/media bekerja.

Manfaatkanlah sarana atau media bekerja yang selama ini telah membantu kita. Jangan berpikir bahwa sarana atau media tersebut adalah properti kantor sehingga kita dengan mudah menggunakannya tanpa merawat dan menjaganya. Tentu, sarana/media bekerja telah membantu kita untuk melaksanakan tugas-tugas kita. Kebayang jika laptop/komputer kerja kita rusak satu hari saja, berapa banyak tumpukan pekerjaan selanjutnya yang akan kita kerjakan.

  • Selalu tersenyum.

Apa pun yang terjadi, saya selalu melihat Mang Kabul ini tersenyum menyapa setiap pelanggan atau setiap orang yang hanya sekedar lewat di depan dagangannya. Senyum itu gratis, tak ada pula yang melarang. Apa yang dipancarkan dari raut muka tersenyum adalah pancaran hati yang bahagia dan menerima dibandingkan muka yang cemberut. Siapa yang akan datang pada Mang Kabul unuk dimintai membuat nasi goreng jika bermuka cemberut? Tersenyum akan menghiasi hari anda dalam bekerja dengan rasa yang lebih baik dan penuh syukur.

Meski Mang Kabul adalah penjual nasi goreng kaki lima namun bagi saya sebagai pekerja kantoran, tentu saya belajar banyak darinya. Bahwa sebuah pekerjaan apa pun itu, melayani adalah kuncinya. Melayani menjadi dinding yang kokoh untuk berjiwa profesional seberapa pun tinggi posisi jabatan yang diemban. Dari Mang Kabul, saya belajar bahwa bekerja profesional itu harus dilakukan kala anda dipanggil untuk bertugas. 

 

3 Hal Tentang Perubahan Hidup yang Harus Diketahui

Setelah lama tidak menekuni kegiatan menjadi fasilitator training soft skills, hari ini saya kembali berkutat untuk berbagi tentang materi perubahan. Ada sebuah permainan menarik yang saya peroleh dari rekan sejawat saya dalam training tersebut.

Setiap peserta dalam permainan diminta untuk berpasang-pasangan. Setelah menemukan pasangannya, beri waktu selama 10 menit untuk mengamati pasangannya secara mendetil, mulai dari ujung kaki hingga kepala. Perhatikan dengan seksama apa yang ada dalam diri pasangannya masing-masing. Kemudian, setiap peserta diminta untuk membalikan tubuh dengan berarti setiap pasangan saling membelakangi yang berjarak lima langkah. Instruksi selanjutnya adalah setiap peserta diminta untuk membuat tiga perubahan yang ada dalam diri mereka saja hingga pasangan mereka tidak mengenali. Selama 5 menit, peserta diminta untuk membuat perubahan. Saat waktunya tiba, setiap peserta berhadapan muka dengan pasangan mereka. Minta pasangan menebak tiga hal yang berubah dari mereka.

 

Dari permainan tersebut, ada tiga hal yang bisa dibagikan tentang perubahan:

 

1. Berubah dari hal yang kecil.

Saat diminta untuk melakukan perubahan, setiap peserta mulai untuk bergiat agar tidak mudah ditebak oleh pasangannya. Salah satunya adalah mencopot cincin, jam tangan, gelang, anting, atau benda-benda yang selama ini melekat dalam dirinya tetapi tidak terlihat oleh orang lain. Jika diminta untuk menebak, kebanyakan pasangan salah dan kurang tepat karena benda-benda yang kecil ini tidak terlihat oleh mereka.

Perubahan tidak harus selamanya berawal dari hal yang besar. Dari hal yang kecil saja, orang lain pun sukar untuk mengenali apa yang terjadi pada diri kita. Artinya, tak sukar untuk melakukan perubahan karena kita dapat saja membuang hal-hal yang kecil atau melakukan hal-hal yang kecil yang mungkin saja orang lain tidak mengenali perubahan kita.

Untuk berubah diperlukan keberanian padahal mengubah hal-hal yang kecil dan sederhana pun belum tentu orang mudah menebak apa yang terjadi pada diri kita. Jadi, berani untuk berubah. Karena tak mudah melakukan perubahan, maka lakukan perubahan dari hal-hal kecil atau dianggap sepele atau yang selama ini tak terlihat oleh mata.

 

2.   Berubah tidak harus membuang yang sudah ada.

Saat berpikir untuk berubah hal yang pertama dilakukan adalah bagaimana membuang atau menghilangkan yang sudah ada/melekat dalam diri. Dalam permainan yang dicontohkan di atas, tidak ada satu orang pun yang memanfaatkan benda-benda lain di luar dirinya, misalnya memakai jaket yang semula tidak dipakai. Semua peserta berpikir untuk menghilangkan yang sudah ada saja.

Baik memang menghilangkan yang telah ada selama ini tetapi kita lupa bahwa berubah juga perlu hal-hal lain yang ada di sekitar diri agar perubahan menjadi optimal. Mungkin perubahan dari luar diri bisa dengan mudah ditebak oleh orang lain. Misalnya, seorang peserta yang tidak memakai alas kaki lalu saat instruksi perubahan dapat saja memakai alas kaki. Pasangannya akan dengan mudah menebak perubahan tersebut. Karena hal-hal yang selama ini sudah melekat atau ada dalam diri mudah dikenali oleh orang-orang sekitar kita tetapi menambahkan hal yang baru dari hal yang tidak kita miliki sebelumnya memberikan ‘penampilan’ yang berbeda dalam diri kita.

Berani berubah tidak hanya dengan membuang atau menghilangkan yang sudah ada tetapi juga mengamati di luar diri lalu kemudian menambahkannya pada diri kita agar perubahannya terjadi maksimal.

 

3. Berubah butuh waktu dan proses.

Usai permainan tadi, kebanyakan dari peserta mengembalikan dirinya sebagaimana adanya diri mereka. Mereka yang mencopot anting, mengenakannya kembali. Mereka yang melinting lengan baju, mengembalikan lengan baju mereka seperti sedia kala.

Tidak mudah saat seseorang yang berubah penampilan untuk tampil dengan perubahannya. Semua perubahan butuh proses agar bisa diterima oleh orang sekitar. Proses yang dijalankan membutuhkan waktu atau tidak instan. Mudah melakukan perubahan tetapi belum tentu berani untuk bertahan terhadap perubahan tersebut.

 

Tantangan yang terbesar saat melakukan perubahan adalah takut untuk berubah. Jadi mulailah untuk hal-hal yang kecil, sepele dan atau sederhana agar menjadi pribadi yang lebih baik.

 

 

Monolog: Menunggu

wp-image-595702827

Perempuan      : “Aku bosan menunggu. Pekerjaan yang paling membosankan itu adalah   menunggu. Tak pasti, aku tak suka itu.”

Malaikat          : “Sabarlah sayang. Kau tahu saatnya kan tiba.”

Perempuan      : “Sabar, Sabar, Sabar. Sampai kapan sabar? Sudah habis kesabaranku.”

Malaikat          : “Menunggu itu adalah sebuah proses untuk menguji kesabaran setiap orang. Jika kamu bisa melewatinya, buah dari kesabaran itu adalah harapan. Percayalah.”

Perempuan      : “Aku benci untuk bersikap sabar. Aku masih punya harapan kok. Hanya saja, aku bosan. Kau tahu, bahwa aku adalah perempuan super sibuk. Menghabiskan hari dengan bekerja, berpergian, beraktivitas dengan teman-temanku, menikmati dunia dengan aneka kesukaanku. Sekarang, aku harus menunggu tanpa aku tahu mau dibawa kemana semua ini.”

Malaikat          : “Karena itu, Tuhan membuatmu melakukan hal yang tidak kau sukai. Menunggu. Suka atau tidak, menunggu adalah bayaran atas perbuatan super sibuk yang kamu lakukan selama ini. Kau berpikir bahwa dunia sudah kau atur menurut kehendak dan rencanamu. Kau dipenuhi dengan target-target. Kau lupa bahwa Tuhan adalah penentu dari target dan rencanamu. Ingat, kau hanya berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Menunggu itu menguji kesabaranmu atas apa yang kamu alami dan menguji keberanianmu terhadap apa yang akan terjadi secara tiba-tiba.”

Perempuan      : “Ya, benar. Aku memang tidak sabar, ingin serba cepat. Aku tak suka untuk bekerja lamban. Aku memang dipenuhi rencana-rencana. Bagaimana mungkin hidup tanpa rencana?”

Malaikat          : (tertawa) “Apakah kau berpikir hidup tanpa rencana, seseorang tidak bisa hidup? Hidup dengan rencana dan target adalah baik, tetapi lebih baik untuk tidak ‘dihidupi’ oleh target sehingga kau akan frustrasi jika tak mampu melakukannya. Waktu adalah Sang Penguasa dari target dan rencana. Tuhan adalah tuan dari waktu. Jangan paksa Tuhan untuk menentukan target dan rencana! Biarkan semua mengalir apa adanya!”

Perempuan      : “Bagaimana caranya agar bisa menunggu dengan lebih berkualitas? Bagaimana caranya untuk membiarkan semua mengalir apa adanya? Bagaimana caranya agar aku tak merasa bosan dengan menunggu?”

Malaikat          : “Pikiranmu yang membuat hidupmu semakin rumit. Hidup itu sederhana. Menunggu juga sederhana. Sederhana saja, pasrahkan kepada Tuhan yang empunya segalanya, termasuk waktu. Saat kau pasrah, kau sungguh menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan kepada alam raya. Tak usahlah kau rumitkan dengan kalimat menunggu yang berkualitas. Ukuran kualitas ditentukan oleh manusia, Tuhan tak pernah menentukan buruk dan baik. Biarkan Tuhan yang mengatur! Saat kau kehilangan kendali, tak tentu arah, berdoalah dalam hatimu, dimana Tuhan ada agar Ia menuntunmu.”

Perempuan      : “Baiklah, menunggu bukan hal yang baik untuk dilakukan. Tak pasti. Jika aku tahu seperti ini, aku akan membuat rencana-rencana alternatif hingga waktu tak terbuang percuma. Jika aku bisa mengulang waktu, pasti tidak ada lagi yang namanya menunggu.”

Malaikat          : (tertawa) “Manusia sudah terbentuk oleh namanya budaya instan. Ingin langsung jadi, tanpa mengetahui bahwa keindahan dari sebuah proses. Menunggu adalah sebuah proses bukan hasil. Kau menikmati hasil tetapi kau tidak menyukai proses. Jika kau merenungi saat mendapatkan hasil, kau akan tahu bahwa disitulah Tuhan bekerja dengan cara yang indah, termasuk sang waktu. Kau terlalu dipenuhi oleh aneka rencana. Hidup yang terencana hanya mengekang kebebasanmu dan melupakan kondisi alam raya. Apakah terjadi bencana, sudah menjadi rencana? Siapakah yang membuat rencana, jika seorang manusia itu lahir atau mati, seseorang itu  hidup berkelimpahan atau hidup dalam kesusahan? Rencana itu baik, karena membantumu untuk mengarahkan kepada kebaikan hidup, tetapi bukan membatasi hidup. Satu lagi, tak ada waktu terbuang percuma. Manusia saja yang berpikir dan tak bisa memanfaatkan waktu yang diberikan. Waktu yang diberikan setiap manusia di dunia ini adalah sama, tak ada yang berbeda. Yang berbeda adalah bagaimana kau menghargai setiap detik yang berharga yang diberikan Tuhan.”

Perempuan      : “Apakah menunggu juga sesuatu yang berharga?”

Malaikat          : “Menunggu tetap sebuah proses yang berharga. Manfaatkan waktu menunggu dengan mengenali sekitarmu, mengidentifikasikan tujuanmu, menyadari sekelilingmu, menikmati detik demi detik dan bersyukur bahwa kelak hadiah dari menunggu itu akan datang. Tuhan akan membayar sebagaimana waktu kan tiba.”

 

FIKSI: Burung Takut Terbang

wp-image-1742351425

Seekor burung ragu-ragu untuk terbang. Ia merasa bahwa belum cukup umur seperti burung-burung lain untuk terbang. Ia bertanya pada ibunya, “Ibu, apakah aku sudah layak untuk terbang” tanyanya suatu kali.

Ibunya pun menyahut, “Mengapa kau ragukan kemampuanmu untuk terbang?”

Jawabnya, “Meski aku adalah burung, tetapi aku merasa bahwa aku belum bisa terbang seperti teman-teman yang lain.”

“Nak, itu hanya perasaanmu saja. Jika kemampuan diukur dari perasaan, kau tak akan bisa mengenali dirimu. Setiap burung pasti bisa terbang, jika ia terlahir sebagai burung” sahut ibunya.

Si Burung pun menunduk, cemas memperhatikan dua kepak sayapnya. Dipandangnya sayap dirinya dengan Sang Ibu, sama, tak ada yang beda. Kaki ibu dengan kakinya pun sama, tak berbeda. Jumlah bulu yang dimiliki ibu, juga pasti sama seperti yang dimilikinya. Pikiran yang bodoh, apakah mungkin jumlah bulu mempengaruhi kemampuan terbang.

Usai bertemu Ibunya, Si Burung mendapati teman-temannya yang terbang membelah langit. Mereka tampak tertawa ria, menikmati keindahan dunia dengan terbang, pikirnya. Wajah Si Burung muram, memikirkan ketidakmampuannya terbang.

Melihat hal itu, tergeraklah hati Burung Hantu yang bijaksana. Meski tak bisa memiliki kemampuan terbang seperti burung-burung yang lain, namun Burung Hantu dianggap makhluk yang paling bijaksana di antara para burung.

“Hei, mengapa kau bermuram durja seperti itu? Tidakkah kau bermain bersama teman-temanmu yang lain?” tanya Burung Hantu penuh selidik.

“Tidak, aku tak bisa terbang” sahut Si Burung dengan nada sedih.

Tertawalah Burung Hantu mendengarkan jawaban Si Burung. Baru kali ini, dia mengenal seekor burung yang menyatakan tak bisa terbang.

“Jangan tertawa! Aku memang tak bisa terbang. Aku takut kalau-kalau aku jatuh saat terbang. Aku khawatir tak bisa menjaga keseimbangan. Mungkin pula sayapku tak cukup kuat membawa aku pergi di atas angin” kata Si Burung menunduk malu.

Aneh, pikir Burung Hantu.

“Hei, siapa dirimu hingga menganggap kau tak bisa terbang?” tanya Burung Hantu.

“Aku adalah Burung” jawab Si Burung dengan tegas.

“Jika kau burung, mengapa kau harus berpikir seperti itu? Takut jatuh, tak bisa menjaga keseimbangan apalagi memikirkan sayap yang tak cukup kuat. Pernahkah kau bertanya kepada teman-temanmu, apakah mereka tidak takut jatuh saat terbang? Atau bertanya, tidakkah sayap kalian cukup kuat menyanggah?” tanya Burung Hantu sekali lagi.

Si Burung menggeleng.

“Aku memang tak pernah bertanya demikian. Tetapi aku pernah bertanya, apakah saat kalian terbang, kalian tidak berpikir bahwa suatu saat kalian akan jatuh?” sahut Si Burung.

Burung Hantu semakin penasaran akan jawabannya, “Lalu, apa jawaban mereka?”

“Mereka bilang bahwa saat mereka terbang, mereka tak pernah berpikir apapun. Mereka terbang karena mereka percaya bahwa setiap burung pasti bisa terbang jika saatnya tiba” cerita Si Burung.

Burung Hantu pun tertawa lagi.

“Betul sekali, saat terbang adalah sebuah kodrat yang diberikan Tuhan, mengapa kita harus berpikir dan takut mencoba.”

“Apa maksudmu?” tanya Si Burung.

“Kau telah mengakui bahwa kau adalah burung. Di dunia ini, Tuhan telah menciptakan setiap burung adalah sama satu sama lain. Setiap burung seperti dirimu pasti bisa terbang. Pikiran sepertimu kerap malah menghambatmu untuk mencoba. Pikiran itu yang menciptakan perasaan takut untuk terbang.”

Si Burung menimpali, “Aku tidak yakin pada diriku sendiri, apakah aku bisa terbang atau tidak?”

Kini tawa Burung Hantu semakin keras.

“Macam mana kau tertawa. Kau tidak membantuku tetapi menterawai kelemahanku” seru Si Burung dengan penuh emosi.

“Bagaimana aku tidak tertawa, selama ini kepercayaan diri itu tidak hanya diukur dari satu hal saja? Kepercayaan diri adalah sebuah proses saat engkau mengenali siapa dirimu, menemukan masalahmu dan menjadikan masalah itu sebagai berkah dalam hidupmu. Berkah terjadi karena kau yakin bahwa kau pasti bisa mengatasi masalah.”

Si Burung pun semakin yakin, bahwa takut terbang adalah masalahnya. Masalah yang selama ini dipikirkannya adalah apakah sayapnya cukup kuat untuk membawanya terbang?

Burung Hantu membuatnya tersadar bahwa masalah yang ada dalam dirinya bukan terletak pada kemampuan sayap. Tuhan sudah memberikan sayap pada setiap burung adalah sama. Tuhan tidak akan memberikan masalah dalam setiap sayap burung, tetapi masalah setiap burung terletak dari pikiran untuk membiarkan sayap bekerja sebagaimana yang diciptakannya.

“Dengar!” seru Burung Hantu menganggetkannya. “Biarkan alam bekerja dengan caranya sendiri. Tuhan tidak akan menciptakan hambatan dalam hidup setiap ciptaanNya. Hambatan terbesar terletak dalam diri setiap ciptaanNya. Hambatan itu dikenali sebagai masalah oleh dirimu.”

“Hei, Burung Hantu. Masalahnya aku tak tidak tahu bagaimana mengatasi rasa takut terbang” pinta Si Burung.

“Gunakanlah sayapmu untuk terbang. Lihatlah teman-temanmu yang lain, mereka dapat terbang dengan sayap yang sama denganmu. Terkadang kita sendiri yang membuat perbedaan satu sama lain. Kita menganggap burung A lebih jago dariku. Atau, kehebatan terbang dilihat seberapa jauh kau bisa pergi. Tak ada yang hebat, semua sama. Sayap yang diberikan pun sama dengan kau. Kau hanya perlu latihan yang tekun agar kau bisa melakukan itu. Kau hanya perlu kesabaran agar bisa melewati semua itu. Kau perlu bantuan orang-orang sekitarmu atau burung yang jago untuk membantumu mewujudkannya. Sekali lagi, kukatakan padamu, terbanglah dengan sayapmu.”

“Itu benar. Cara kita membandingkan burung yang jago terbang dengan diriku, kerap membawa aku takut untuk mencoba” kata Si Burung. “Jika aku mulai belajar terbang sekarang dengan sayapku, aku tidak terlambat untuk mengatasi rasa takutku.”

“Tiada kata terlambat untuk memulai sesuatu.”, kilah Burung Hantu. “Kau harus ingat, bahwa diperlukan keberanian untuk melakukannya. Biarkan angin membawamu terbang. Lepaskan kekhawatiranmu saat kau terbang. Nikmati setiap desiran angin, syukurilah bahwa kau dapat melihat keindahan dunia ini dengan terbang. Ingat pula, semua butuh proses, perlu ketekunan, sabar kuncinya. Jangan mudah menyerah! Saat kau mencoba, satu yang pasti akan kau alami adalah rintangan untuk melakukannya. Rintangan itu dibuat untuk mengukur kemampuanmu, keberanianmu dan kesabaranmu” tambah Burung Hantu sekali lagi.

“Berani. Aku pasti bisa” seru Si Burung sekali lagi.

“Pasti, asal kau yakin pada dirimu sendiri. Anggaplah setiap masalah yang kau hadapi sebagai berkah dalam hidupmu, bukan musibah yang mengacaukan hidupmu. Setiap makhluk hidup memiliki masalah agar bisa mengetahui seberapa hebat kuasa Tuhan menciptakan dunia ini. Jadikan masalah itu adalah berkah yang memberikanmu hikmah” tambah Burung Hantu semakin bijaksana dan menguatkan Si Burung.

“Aku akan menutup mata, jika takut melihat apa yang ada di hadapanku. Agar keberanian muncul bukan dari apa yang dilihat tetapi dari yang tak terlihat. Kekuatan yang Tuhan berikan padaku.”

“Iya, itu harus. Tutuplah mata, pasrahkan kepada keadaan sekitarmu. Jangan paksa sesuatu sebagaimana yang kau kehendaki. Alam punya caranya sendiri.”

“Mulailah menggerakkan sayapmu, ringankan tubuhmu dan pergilah sesuka hatimu dan jangan takut untuk terbang lebih jauh lagi” tambah Burung Hantu.

Si Burung mulai mengepakkan sayapnya. Ia turunkan lagi. Ia angkat lagi. Ia kepak-kepakkan sayapnya sekali lagi.

Burung Hantu membawa Si Burung ke tempat yang tinggi dan berisiko banyak angin, hingga jika tak terbang pun, angin akan mudah membawanya pergi.

“Mulai!” teriak Burung Hantu.

Cara untuk mengatasi masalah terkadang harus berada pada titik yang paling tinggi, menyulitkan dan berisiko, namun disitulah kita memiliki keberanian.

 

Dialog Ibu & Anak: Siapakah Tuhan?

20170705_163538

Anak: “Ibu, sebenarnya siapa itu Tuhan?”

Ibu: “Mengapa kau mempertanyakan itu, nak?”

Anak: “Aku sering mendengar orang berbicara tentang Tuhan. Saat mereka berbicara tentangNya, aku tak melihat sosok Tuhan. Sebenarnya siapakah Dia, Ibu?”

Ibu:  “Tuhan adalah Yang Agung, Yang Ilahi. Rupanya memang tak tampak.”

Anak: “Yang Agung dan Ilahi itu seperti apa, bu?”

Ibu: “Agung dan Ilahi karena tak ada manusia yang dapat menandingi kehebatannya.”

Anak: “Begitu hebatnya kah Tuhan, hingga tak terlihat, bu? Lantas bagaimana kita tahu bahwa Dia hebat?”

Ibu: “Hebat hingga saat kau atau ibu sakit, Tuhan menyembuhkan kita melalui obat-obat dari dokter. Saat kau jatuh, Tuhan menolongmu agar kau tidak semakin celaka. Saat kau ujian, Tuhan membantumu hingga kau mendapatkan nilai bagus.”

Anak: “Sebegitu hebatnya Tuhan, ibu. Tetapi mengapa ada penyakit, mengapa aku jatuh dan mengapa harus ada ujian. Apa maksud Tuhan, bu?”

Ibu: “Setiap peristiwa dalam hidup tak bisa dijelaskan bagaimana caranya mendapatkan rumus satu ditambah satu. Atau, bagaimana membuat pisang goreng. Atau bagaimana membuat baju. Tuhan tidak bisa ditangkap oleh pengetahuan. Jika laut begitu luas, Tuhan lebih luas dari apa yang bisa dijelaskan.”

Anak: “Seperti apa Tuhan itu, bu? Apakah dia Pria atau Wanita?”

Ibu: “Tuhan tidak bisa dijelaskan apakah berpihak kepada Pria atau Wanita. Tuhan adalah sebutan Ilahi yang diberikan manusia. Kau bisa bayangkan Tuhan, saat kau susah mengerjakan soal-soal Pekerjaan Rumahmu maka kau minta Ayahmu membantunya menyelesaikan PR. Saat kau belajar naik sepeda, Ayah mengajarimu tentang bagaimana naik sepeda, hingga kau bisa bersepeda sendiri. Atau, saat kau sakit, kau pasti panggil Ibu untuk merawat dan menjagamu. Kau jatuh dari sepeda, Ibu akan menolongmu agar kau tidak menderita karena sakit.”

Anak: “Jadi, Tuhan memiliki sifat yang baik seperti Ayah atau Ibu?”

Ibu: “Tuhan adalah sumber kebaikan. Ia ada dalam diri setiap orang. Ayah atau Ibu adalah bagian dari ciptaanNya. Kita diciptakan serupa denganNya.”

Anak: “Jika kita serupa dengan Tuhan, mengapa ada orang jahat, bu?”

Ibu pun tak menjawab. Diam.

Tak ada orang yang jahat di dunia ini. Yang ada adalah orang-orang yang tak bisa mengerti apa arti kebaikan Tuhan dan menganggap Tuhan adalah milik mereka.

Jika Tuhan dimonopoli oleh sekelompok orang, disitulah kejahatan.

 

PUISI: Diam Sama Dengan Emas

wp-image--134545219

Ada kala diam adalah emas

Tak selamanya diam juga emas

Kadang diam tak menghasilkan apa pun yang kuharapkan

Diam tak menjawab pintaku

Aku diam

Dia pun diam

Aku tak mengerti apa maunya

Serba salah

Aku hanya manusia biasa

Aku tak sempurna

Dengan diam, aku berharap kau mengerti

Aku bingung

Diam membuatku bertanya tentang dirimu

Kau hanya sejauh angan, meski dekat di hati

Diammu hanya melukai hatiku

Diammu membuatku sedih

Diammu membuatku ragu akan rasa ini

Tolong, hentikan diam

Jika waktu dapat berputar

Sungguh, aku tak akan memilih untuk diam

Sungguh, aku tak akan membiarkanmu diam

Seribu basa, engkau diam

Jawablah…

(hanya diam)

Cerbung: Suminah & Nasibnya

Dokumen pribadi.

Kala mentari terajut oleh senja sore, tak terbayang rembulan akan segera datang menggantikannya. Mungkinkah angan akan berakhir di senja sore ini? Pikir perempuan itu sekali lagi.  Dhisapnya rokok sebatang, menarik topi menutupi raut muka yang gosong oleh sinar mentari sepanjang tadi dan mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Barang-barang usang yang selalu dibawa, buku alamat; sebungkus rokok; sekotak korek api, telpon genggam lama; kaca dan sisir.

Telah disisir seisi kota untuk menemukan keberadaanya. Mengandalkan buku alamat yang bertuliskan alamatnya, Jalan Ciasem Nomor 1, Jakarta, ia berusaha mendapatkannya. Tak kunjung jua ditemukan raut mukanya yang sendu dan mempesona tiga tahun lalu.

Dengan rok panjang hitam selutut, berkemeja merah, berbedak tipis dan menguncir kuda rambut hitamnya yang sudah mulai memutih, Perempuan berusia empat puluhan mulai gelisah memperhatikan jalan di hadapannya. Kali ini, ia tampak ragu dengan penampilannya. Ia mengaca sedikit, lalu mengambil lipstik merah di tasnya. Ia merasa kurang cantik dengan lipstiknya yang sudah mulai pudar oleh gorengan bakwan yang baru saja dikunyahnya. Tiga gorengan bakwan ditambah segelas teh manis cukup untuk mengganjal perutnya yang mulai kosong, tak terisi oleh makanan sejak malam sebelumnya.

Beruntung ibu penjual gorengan, mengijinkan perempuan itu duduk untuk menikmati gorengan dan menunggu beberapa saat. Entah apa yang ditunggu oleh perempuan pembeli tiga gorengan bakwan, pikir si ibu penjual gorengan.

“Gak papa kan, bu? Saya masih menunggu di sini” tanya perempuan itu kepada penjual gorengan.

“Silahkan saja, bu. Gak papa kok” sahut ibu penjual gorengan.

“Nama saya Suminah, tinggal di kontrakan Pak Maman. Saya datang ke Jakarta, hendak mencari suami saya, bu. Sudah tiga tahun, saya tak bertemu dengannya” lanjut Suminah, perempuan pembeli tiga gorengan bakwan. Pikirnya lebih baik memperkenalkan diri terlebih dulu sebelum penjual gorengan bertanya balik siapa dirinya. Budaya ketimuran nan santun ingin ditunjukkan kepada penjual gorengan bahwa ia adalah perempuan baik-baik yang telah bersuami.

Penjual gorengan nampak cuek dengan perkenalan Suminah barusan. Sambil sibuk mempersiapkan adonan bakwan, ia tampak acuh terhadap kehadiran orang-orang seperti Suminah. Kota sebesar Jakarta tentu akan mudah ditemukan perempuan-perempuan malang seperti Suminah yang mencari suami, kerabatnya, anaknya, dan lain-lain. Ia tak peduli. Toh, hidup di Jakarta adalah kegetiran setiap orang yang harus dihadapi. Begitu pula dengan hidupnya sebagai penjual gorengan selama tiga belas tahun, setelah meninggalkan kampung halaman yang berniat semula untuk mencari suaminya di Jakarta.

Kini perempuan yang mengaku bernama Suminah, bernasib sama seperti dirinya. Ah, masak bodoh. Sambil terus menguleni adonan dan menggoreng, ia sibuk melayani beberapa pria yang duduk di sebelah timur, yang sedang menikmati gorengan yang masih panas.

Suminah memakai lipstik merahnya. Ia memperhatikan bibirnya, merapatkan kedua bibirnya agar semua lipstiknya tersapu rata, dan memonyongkan sedikit bibirnya. Ini adalah trik Suminah yang hanya punya satu lipstik, agar bisa terlihat cantik oleh suaminya nanti. Bibirnya yang terlihat tebal dan sedikit hitam karena batang rokok yang dibakarnya tiap hari harus ditutupi oleh warna lipstik merahnya. Begitu kesannya. Mungkin suaminya sekarang tak akan tahu bahwa ia telah merokok.

Merokok adalah aktivitas yang membuat Suminah merasa nyaman dan larut dalam persoalan yang sedang dipikirkannya. Dengan merokok, pikirnya, ia pasti akan memikirkan bagaimana caranya agar dapat uang, sehingga dapat membeli rokok sebungkus tiap hari. Tidak lagi sebungkus, pikirnya. Ia kini telah berhasil menghabiskan dua bungkus lebih rokok. Itu artinya, ia harus semakin getol mencari uang untuk membeli rokok.

Dulu di kampung halamannya, Suminah dikenal sebagai tukang pijit panggilan. Ia sudah cukup dikenal, bukan karena keahliannya untuk memijit lalu sembuh tetapi karena pijatannya yang aduhai yang dinikmati oleh setiap lelaki yang menginginkannya. Anehnya, para istri yang meminta suaminya dipijat tak pernah protes. Bodohkah sang istri? Pikir Suminah. Atau memang sebagai istri, kita hanya bisa tertunduk diam terhadap keinginan dan mungkin kebutuhan para suami.

Suminah tak peduli terhadap pendapat para ibu di kampung halamannya. Toh, ia tetap dikenal oleh para bapak di kampungnya, bahkan para pejabat desa yang berjarak jauh dengan kampungnya. Mungkin pijatannya telah cukup dikenal menggairahkan bagi para pria yang menginginkannya lebih dari sekedar menghilangkan pegal-pegal.

Sepeninggalan suaminya, ia berhasil mengumpulkan banyak uang. Pundi-pundi uang yang terkumpul digunakannya untuk mencari suaminya di Jakarta. Niat yang indah telah terpatri dalam ingatan Suminah bahwa kelak setahun setelah di Jakarta, suami Suminah akan membawanya tinggal di Jakarta. Janji tinggal janji. Ia tak kunjung datang.

Benih cinta yang harusnya tumbuh dan besar, kini tiada oleh kecelakaan yang seharusnya tak terjadi. Entah apa yang  akan dikatakan suaminya terhadap kecerobohannya itu. Telah tiga kali, Suminah keguguran. Tiga kali itu pula, suami suminah selalu melakukan kekerasan terhadap dirinya. Ia dicap sebagai perempuan bodoh. Ia dipukul, tangannya diikat, kakinya diikat dan perutnya disundut oleh rokok. Suminah hanya diam. Ia masih menurut dan menerima perlakuan itu. Atas dasar cinta, ia menerima semua ini. Bodohkah ia sebagai perempuan dan juga istri? Atau, Suminah takut kehilangan suaminya sama seperti sekarang ia berusaha mencarinya agar suami yang jadi miliknya akan selalu menjadi miliknya.

Waktu menunjukkan menjelang maghrib. Para lelaki yang berada di hadapan Suminah, pamit kepada penjual gorengan.

“Loh, ambil lima kok bayarnya cuma dua. Hai, utang yang kemarin, gimana?” seru penjual gorengan kepada seorang bapak berbaju hitam yang segera lari meninggalkan warung kecil itu.

Seperti mengiyakan perilaku pembeli gorengan, penjual gorengan tampak diam dan pasrah. Mungkin ini nasibnya. Entah sebagai perempuan yang tak bisa melawan atau sebagai kaum yang lemah. Bahkan untuk memperjuangkan haknya sebagai penjual gorengan pun, ia tak bisa. Ia sudah tersakiti oleh perlakuan suaminya yang sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah untuk mempertahankan hidup, para pria ini juga menyerang hidupnya yang sudah lemah dan rapuh oleh kebaikannya? Perasaan itu yang dirasakan oleh penjual gorengan.

Melihat gelagat penjual gorengan, yang kecewa dengan perlakuan bapak-bapak di hadapannya, Suminah pun berkata, “Bu, biar nanti saya yang bayar. Hitung-hitung bayar saya duduk lama di sini.” Harga gorengan lima ratus perak, jika dikalikan tiga gorengan yang belum terbayar, Suminah masih cukup untuk membayarnya. Ia sudah bertahan hanya makan sekali saja sehari.

“Gak usah, bu. Memang sudah nasib saya sebagai perempuan. Kita hanya bisa nrimo. Ya begitu itu” keluh penjual gorengan.

Suminah tak mengerti kaitan antara membayar gorengan dengan nasib sebagai perempuan. Apakah nasib perempuan memang selalu menjadi korban ketidakadilan lelaki? Apakah perempuan tak mampu membela haknya? Dia pun segera mengulurkan uang lima ribu rupiah dari balik kutang, yang digulung halus bersama duit seribu dan dua puluh ribu lainnya. “Ini bu. Terimalah. Buat bayar gorengan, teh manis dan upah duduk di sini.”, seru Suminah.

“Kembali seribu, bu” jawab Penjual gorengan.

“Tak usah, ambil saja kembaliannya, bu” timpal Suminah kemudian.

Sebagai bentuk penghargaan dan budaya kesantunan, kedua perempuan ini sama-sama memanggil ibu. Meski tidak tahu mana yang lebih tua atau lebih muda, tetapi kata ibu seperti menyepakati bahwa perempuan ini sudah berumur paruh baya, sudah memiliki anak mungkin, tetapi mungkin sudah bersuami.

Sudah hari kelima, Suminah berada di kota besar Jakarta. Kota yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kota yang dijanjikan oleh suaminya. Kota impian bagi para perempuan di kampungnya. Kota yang menjanjikan perubahan hidup menurut kebanyakan orang di kampungnya. Tetapi, ia tak punya siapa pun di kota ini. Ia tak mencatat tempat tinggal orang-orang di kampungnya yang mungkin saja sukses hidup di Jakarta.

Tinggal di kontrakan berukuran dua meter kali tiga meter, bukan sebuah tempat yang nyaman bagi Suminah. Namun, hanya tempat itu yang bersedia untuk membayar waktu menunggunya selama sepuluh hari di Jakarta. Ia membayar lima puluh ribu untuk sepuluh hari tinggal di tempat itu. Mahal, pikirnya. Apa boleh buat, ia harus membayar dan harus menemukan suaminya segera. Pundi-pundi uangnya sudah mulai menipis.

Bersambung

4 Cara Ajak Anak Membaca

wpid-img-20151001-wa0011.jpg
Dokumen pribadi.

Buku adalah Jendela Dunia. Pepatah tersebut menyiratkan makna bahwa membaca buku akan membuka cakrawala berpikir kita tentang banyak hal. Oleh karena itu, membaca lebih dari sekedar hobi atau mengasah kesenangan semata, tetapi keharusan agar wawasan kita semakin luas dan kaya.

Meski kecanggihan teknologi saat ini mampu mengalahkan imajinasi bacaan, namun membaca ternyata mampu meningkatkan fungsi otak sebagai daya imajinasi dan daya pikir yang melampaui visualisasi yang diciptakan dalam sebuah film atau animasi lainnya.

Menumbuhkan minat baca bukan perkara mudah bagi mereka yang memang tidak menjadikannya kesenangan atau menyediakan waktu khusus untuk membaca. Padahal minat baca perlu ditanamkan sejak dini agar membaca tidak lagi sebagai kesenangan semata atau hobi.

Berikut adalah tips bagi orangtua untuk menumbuhkan minat baca bagi anak,

1. Berikan teladan membaca

Teladan adalah praktik terbaik yang bisa diberikan kepada anak. Jika kita berharap agar anak suka membaca, tentunya kita pun harus suka membaca. Jika anda tidak terbiasa membaca, luangkan waktu di pagi hari untuk membaca koran setiap hari. Biarkan koran itu juga bisa dikonsumsi oleh anak sehingga anda dapat memilih koran yang berbahasa baik dan sesuai untuk perkembangan anak.

Saat anda membaca koran atau buku kesenangan anda, tentu anak akan melihat kebiasaan baik anda sebagai pendorong baginya untuk mulai membaca.

Teladan membaca juga bisa diterapkan saat anda meminta anak anda untuk membaca, lalu anda pun ikut larut untuk membaca apa yang menjadi kesenangan anda, seperti koran, majalah atau novel. Yang jelas saat anak membaca, jangan malah anda sibuk menonton atau melakukan aktivitas yang berbeda.

Saat anak membaca, anda perlu juga mendampinginya terlebih bagi mereka yang baru belajar membaca. Orangtua yang dapat memberikan teladan membaca lebih dari sekedar contoh tetapi juga pendampingan bagi anak saat membaca. Mendampingi anak saat membaca juga membantu anak untuk mengasah kosakata anak. Anda dapat bertanya, apakah anak cukup jelas dengan kosakata yang ditemukan dalam bacaan, misalnya Singa. Anda dapat bertanya bagaimana rupa singa, dsb.

Teladan membaca juga berdampak pada anak saat anda mampu menunjukkan bahwa anda berlangganan koran atau majalah, atau anda gemar membeli buku-buku kesayangan.

2.   Kesabaran

Melatih anak untuk membaca diperlukan kesabaran ekstra, mengingat tidak semua orang suka membaca. Menjadikan kesenangan atau minat baca pun bukan perkara mudah layaknya tukang sulap.

Jika sekali membaca, anak sudah bosan bukan berarti anak tidak berminat membaca. Anda dapat mencobanya terus, tergantung bagaimana trik yang anda lakukan. Lakukan dengan penuh kesabaran, saat anak anda mulai membaca. Ajak anak untuk mengeksplorasi bacaan yang baru dibacanya. Misalnya, anak baru saja membaca buku cerita, Si Macan yang Sombong, Anda dapat mengeksplorasi, perihal sifat macan atau kesombongan seperti apa yang diungkapkan dalam buku.

Saat anak menolak membaca, anda pun harus dengan sabar menyadari bahwa anak anda tidak terlalu berminat membaca. Tanyakan dengan sabar, hal yang menyebabkannya tidak suka membaca. Dengan sabar pula, anda dapat menjelaskan pentingnya membaca, seperti kita dapat melihat apa yang terjadi di belahan lain dengan membaca buku “Menjelajah Dunia”, dan masih banyak lagi.

Sabar adalah kuncinya saat membaca menjadi hal yang membosankan bagi anak anda.

3. Melalui permainan

Agar membaca menjadi lebih menyenangkan bagi anak, anda dapat menciptakan berbagai permainan yang menyenangkan seperti, berburu harta karun. Dimana orangtua mempersiapkan benda-benda yang terkait dengan buku cerita. Misalnya, Buku Macan Dan Kelinci. Orangtua dapat menyiapkan boneka atau mainan macan,dan benda-benda lain yang tidak terkait dengan cerita tersebut. Mintalah anak untuk menemukan benda-benda dalam sebuah peti yang dianggap peti harta karun. Jika anak berhasil menemukan benda yang dimaksud sesuai dengan buku ceritanya, orangtua dapat meminta anak menceritakan kembali buku yang sudah berhasil dibaca anak.

Di akhir permainan, orangtua dapat memberikan ‘reward’ atau hadiah kecil yang memotivasi anak untuk rajin membaca.

4. Hadiah buku

Orangtua yang ingin agar anaknya rajin membaca, hendaknya perlu mempertimbangkan secara bijaksana saat akan memberikan hadiah. Hadiah buku adalah contoh hadiah yang mendidik dan mendorong anak untuk rajin membaca. Jika orangtua tidak tahu buku yang disenanginnya, orangtua dapat mengajak anak untuk pergi bersama-sama ke toko buku untuk memilih buku yang digemarinya.

Terakhir, diperlukan teladan dalam mendidik anak agar membaca menjadi sebuah kesukaan bagi si anak. Namun, jika membaca bukan minat si anak, jangan paksakan anak. Hal ini dilakukan agar si anak tidak menjadikan buku sebagai bumerang yang memunculkan masalah di kemudian hari. Hal yang utama, kenali minat baca anak sedini mungkin.