PUISI: Diam Sama Dengan Emas

wp-image--134545219

Ada kala diam adalah emas

Tak selamanya diam juga emas

Kadang diam tak menghasilkan apa pun yang kuharapkan

Diam tak menjawab pintaku

Aku diam

Dia pun diam

Aku tak mengerti apa maunya

Serba salah

Aku hanya manusia biasa

Aku tak sempurna

Dengan diam, aku berharap kau mengerti

Aku bingung

Diam membuatku bertanya tentang dirimu

Kau hanya sejauh angan, meski dekat di hati

Diammu hanya melukai hatiku

Diammu membuatku sedih

Diammu membuatku ragu akan rasa ini

Tolong, hentikan diam

Jika waktu dapat berputar

Sungguh, aku tak akan memilih untuk diam

Sungguh, aku tak akan membiarkanmu diam

Seribu basa, engkau diam

Jawablah…

(hanya diam)

Cerbung: Suminah & Nasibnya

Dokumen pribadi.

Kala mentari terajut oleh senja sore, tak terbayang rembulan akan segera datang menggantikannya. Mungkinkah angan akan berakhir di senja sore ini? Pikir perempuan itu sekali lagi.  Dhisapnya rokok sebatang, menarik topi menutupi raut muka yang gosong oleh sinar mentari sepanjang tadi dan mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Barang-barang usang yang selalu dibawa, buku alamat; sebungkus rokok; sekotak korek api, telpon genggam lama; kaca dan sisir.

Telah disisir seisi kota untuk menemukan keberadaanya. Mengandalkan buku alamat yang bertuliskan alamatnya, Jalan Ciasem Nomor 1, Jakarta, ia berusaha mendapatkannya. Tak kunjung jua ditemukan raut mukanya yang sendu dan mempesona tiga tahun lalu.

Dengan rok panjang hitam selutut, berkemeja merah, berbedak tipis dan menguncir kuda rambut hitamnya yang sudah mulai memutih, Perempuan berusia empat puluhan mulai gelisah memperhatikan jalan di hadapannya. Kali ini, ia tampak ragu dengan penampilannya. Ia mengaca sedikit, lalu mengambil lipstik merah di tasnya. Ia merasa kurang cantik dengan lipstiknya yang sudah mulai pudar oleh gorengan bakwan yang baru saja dikunyahnya. Tiga gorengan bakwan ditambah segelas teh manis cukup untuk mengganjal perutnya yang mulai kosong, tak terisi oleh makanan sejak malam sebelumnya.

Beruntung ibu penjual gorengan, mengijinkan perempuan itu duduk untuk menikmati gorengan dan menunggu beberapa saat. Entah apa yang ditunggu oleh perempuan pembeli tiga gorengan bakwan, pikir si ibu penjual gorengan.

“Gak papa kan, bu? Saya masih menunggu di sini” tanya perempuan itu kepada penjual gorengan.

“Silahkan saja, bu. Gak papa kok” sahut ibu penjual gorengan.

“Nama saya Suminah, tinggal di kontrakan Pak Maman. Saya datang ke Jakarta, hendak mencari suami saya, bu. Sudah tiga tahun, saya tak bertemu dengannya” lanjut Suminah, perempuan pembeli tiga gorengan bakwan. Pikirnya lebih baik memperkenalkan diri terlebih dulu sebelum penjual gorengan bertanya balik siapa dirinya. Budaya ketimuran nan santun ingin ditunjukkan kepada penjual gorengan bahwa ia adalah perempuan baik-baik yang telah bersuami.

Penjual gorengan nampak cuek dengan perkenalan Suminah barusan. Sambil sibuk mempersiapkan adonan bakwan, ia tampak acuh terhadap kehadiran orang-orang seperti Suminah. Kota sebesar Jakarta tentu akan mudah ditemukan perempuan-perempuan malang seperti Suminah yang mencari suami, kerabatnya, anaknya, dan lain-lain. Ia tak peduli. Toh, hidup di Jakarta adalah kegetiran setiap orang yang harus dihadapi. Begitu pula dengan hidupnya sebagai penjual gorengan selama tiga belas tahun, setelah meninggalkan kampung halaman yang berniat semula untuk mencari suaminya di Jakarta.

Kini perempuan yang mengaku bernama Suminah, bernasib sama seperti dirinya. Ah, masak bodoh. Sambil terus menguleni adonan dan menggoreng, ia sibuk melayani beberapa pria yang duduk di sebelah timur, yang sedang menikmati gorengan yang masih panas.

Suminah memakai lipstik merahnya. Ia memperhatikan bibirnya, merapatkan kedua bibirnya agar semua lipstiknya tersapu rata, dan memonyongkan sedikit bibirnya. Ini adalah trik Suminah yang hanya punya satu lipstik, agar bisa terlihat cantik oleh suaminya nanti. Bibirnya yang terlihat tebal dan sedikit hitam karena batang rokok yang dibakarnya tiap hari harus ditutupi oleh warna lipstik merahnya. Begitu kesannya. Mungkin suaminya sekarang tak akan tahu bahwa ia telah merokok.

Merokok adalah aktivitas yang membuat Suminah merasa nyaman dan larut dalam persoalan yang sedang dipikirkannya. Dengan merokok, pikirnya, ia pasti akan memikirkan bagaimana caranya agar dapat uang, sehingga dapat membeli rokok sebungkus tiap hari. Tidak lagi sebungkus, pikirnya. Ia kini telah berhasil menghabiskan dua bungkus lebih rokok. Itu artinya, ia harus semakin getol mencari uang untuk membeli rokok.

Dulu di kampung halamannya, Suminah dikenal sebagai tukang pijit panggilan. Ia sudah cukup dikenal, bukan karena keahliannya untuk memijit lalu sembuh tetapi karena pijatannya yang aduhai yang dinikmati oleh setiap lelaki yang menginginkannya. Anehnya, para istri yang meminta suaminya dipijat tak pernah protes. Bodohkah sang istri? Pikir Suminah. Atau memang sebagai istri, kita hanya bisa tertunduk diam terhadap keinginan dan mungkin kebutuhan para suami.

Suminah tak peduli terhadap pendapat para ibu di kampung halamannya. Toh, ia tetap dikenal oleh para bapak di kampungnya, bahkan para pejabat desa yang berjarak jauh dengan kampungnya. Mungkin pijatannya telah cukup dikenal menggairahkan bagi para pria yang menginginkannya lebih dari sekedar menghilangkan pegal-pegal.

Sepeninggalan suaminya, ia berhasil mengumpulkan banyak uang. Pundi-pundi uang yang terkumpul digunakannya untuk mencari suaminya di Jakarta. Niat yang indah telah terpatri dalam ingatan Suminah bahwa kelak setahun setelah di Jakarta, suami Suminah akan membawanya tinggal di Jakarta. Janji tinggal janji. Ia tak kunjung datang.

Benih cinta yang harusnya tumbuh dan besar, kini tiada oleh kecelakaan yang seharusnya tak terjadi. Entah apa yang  akan dikatakan suaminya terhadap kecerobohannya itu. Telah tiga kali, Suminah keguguran. Tiga kali itu pula, suami suminah selalu melakukan kekerasan terhadap dirinya. Ia dicap sebagai perempuan bodoh. Ia dipukul, tangannya diikat, kakinya diikat dan perutnya disundut oleh rokok. Suminah hanya diam. Ia masih menurut dan menerima perlakuan itu. Atas dasar cinta, ia menerima semua ini. Bodohkah ia sebagai perempuan dan juga istri? Atau, Suminah takut kehilangan suaminya sama seperti sekarang ia berusaha mencarinya agar suami yang jadi miliknya akan selalu menjadi miliknya.

Waktu menunjukkan menjelang maghrib. Para lelaki yang berada di hadapan Suminah, pamit kepada penjual gorengan.

“Loh, ambil lima kok bayarnya cuma dua. Hai, utang yang kemarin, gimana?” seru penjual gorengan kepada seorang bapak berbaju hitam yang segera lari meninggalkan warung kecil itu.

Seperti mengiyakan perilaku pembeli gorengan, penjual gorengan tampak diam dan pasrah. Mungkin ini nasibnya. Entah sebagai perempuan yang tak bisa melawan atau sebagai kaum yang lemah. Bahkan untuk memperjuangkan haknya sebagai penjual gorengan pun, ia tak bisa. Ia sudah tersakiti oleh perlakuan suaminya yang sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah untuk mempertahankan hidup, para pria ini juga menyerang hidupnya yang sudah lemah dan rapuh oleh kebaikannya? Perasaan itu yang dirasakan oleh penjual gorengan.

Melihat gelagat penjual gorengan, yang kecewa dengan perlakuan bapak-bapak di hadapannya, Suminah pun berkata, “Bu, biar nanti saya yang bayar. Hitung-hitung bayar saya duduk lama di sini.” Harga gorengan lima ratus perak, jika dikalikan tiga gorengan yang belum terbayar, Suminah masih cukup untuk membayarnya. Ia sudah bertahan hanya makan sekali saja sehari.

“Gak usah, bu. Memang sudah nasib saya sebagai perempuan. Kita hanya bisa nrimo. Ya begitu itu” keluh penjual gorengan.

Suminah tak mengerti kaitan antara membayar gorengan dengan nasib sebagai perempuan. Apakah nasib perempuan memang selalu menjadi korban ketidakadilan lelaki? Apakah perempuan tak mampu membela haknya? Dia pun segera mengulurkan uang lima ribu rupiah dari balik kutang, yang digulung halus bersama duit seribu dan dua puluh ribu lainnya. “Ini bu. Terimalah. Buat bayar gorengan, teh manis dan upah duduk di sini.”, seru Suminah.

“Kembali seribu, bu” jawab Penjual gorengan.

“Tak usah, ambil saja kembaliannya, bu” timpal Suminah kemudian.

Sebagai bentuk penghargaan dan budaya kesantunan, kedua perempuan ini sama-sama memanggil ibu. Meski tidak tahu mana yang lebih tua atau lebih muda, tetapi kata ibu seperti menyepakati bahwa perempuan ini sudah berumur paruh baya, sudah memiliki anak mungkin, tetapi mungkin sudah bersuami.

Sudah hari kelima, Suminah berada di kota besar Jakarta. Kota yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kota yang dijanjikan oleh suaminya. Kota impian bagi para perempuan di kampungnya. Kota yang menjanjikan perubahan hidup menurut kebanyakan orang di kampungnya. Tetapi, ia tak punya siapa pun di kota ini. Ia tak mencatat tempat tinggal orang-orang di kampungnya yang mungkin saja sukses hidup di Jakarta.

Tinggal di kontrakan berukuran dua meter kali tiga meter, bukan sebuah tempat yang nyaman bagi Suminah. Namun, hanya tempat itu yang bersedia untuk membayar waktu menunggunya selama sepuluh hari di Jakarta. Ia membayar lima puluh ribu untuk sepuluh hari tinggal di tempat itu. Mahal, pikirnya. Apa boleh buat, ia harus membayar dan harus menemukan suaminya segera. Pundi-pundi uangnya sudah mulai menipis.

Bersambung

4 Cara Ajak Anak Membaca

wpid-img-20151001-wa0011.jpg
Dokumen pribadi.

Buku adalah Jendela Dunia. Pepatah tersebut menyiratkan makna bahwa membaca buku akan membuka cakrawala berpikir kita tentang banyak hal. Oleh karena itu, membaca lebih dari sekedar hobi atau mengasah kesenangan semata, tetapi keharusan agar wawasan kita semakin luas dan kaya.

Meski kecanggihan teknologi saat ini mampu mengalahkan imajinasi bacaan, namun membaca ternyata mampu meningkatkan fungsi otak sebagai daya imajinasi dan daya pikir yang melampaui visualisasi yang diciptakan dalam sebuah film atau animasi lainnya.

Menumbuhkan minat baca bukan perkara mudah bagi mereka yang memang tidak menjadikannya kesenangan atau menyediakan waktu khusus untuk membaca. Padahal minat baca perlu ditanamkan sejak dini agar membaca tidak lagi sebagai kesenangan semata atau hobi.

Berikut adalah tips bagi orangtua untuk menumbuhkan minat baca bagi anak,

1. Berikan teladan membaca

Teladan adalah praktik terbaik yang bisa diberikan kepada anak. Jika kita berharap agar anak suka membaca, tentunya kita pun harus suka membaca. Jika anda tidak terbiasa membaca, luangkan waktu di pagi hari untuk membaca koran setiap hari. Biarkan koran itu juga bisa dikonsumsi oleh anak sehingga anda dapat memilih koran yang berbahasa baik dan sesuai untuk perkembangan anak.

Saat anda membaca koran atau buku kesenangan anda, tentu anak akan melihat kebiasaan baik anda sebagai pendorong baginya untuk mulai membaca.

Teladan membaca juga bisa diterapkan saat anda meminta anak anda untuk membaca, lalu anda pun ikut larut untuk membaca apa yang menjadi kesenangan anda, seperti koran, majalah atau novel. Yang jelas saat anak membaca, jangan malah anda sibuk menonton atau melakukan aktivitas yang berbeda.

Saat anak membaca, anda perlu juga mendampinginya terlebih bagi mereka yang baru belajar membaca. Orangtua yang dapat memberikan teladan membaca lebih dari sekedar contoh tetapi juga pendampingan bagi anak saat membaca. Mendampingi anak saat membaca juga membantu anak untuk mengasah kosakata anak. Anda dapat bertanya, apakah anak cukup jelas dengan kosakata yang ditemukan dalam bacaan, misalnya Singa. Anda dapat bertanya bagaimana rupa singa, dsb.

Teladan membaca juga berdampak pada anak saat anda mampu menunjukkan bahwa anda berlangganan koran atau majalah, atau anda gemar membeli buku-buku kesayangan.

2.   Kesabaran

Melatih anak untuk membaca diperlukan kesabaran ekstra, mengingat tidak semua orang suka membaca. Menjadikan kesenangan atau minat baca pun bukan perkara mudah layaknya tukang sulap.

Jika sekali membaca, anak sudah bosan bukan berarti anak tidak berminat membaca. Anda dapat mencobanya terus, tergantung bagaimana trik yang anda lakukan. Lakukan dengan penuh kesabaran, saat anak anda mulai membaca. Ajak anak untuk mengeksplorasi bacaan yang baru dibacanya. Misalnya, anak baru saja membaca buku cerita, Si Macan yang Sombong, Anda dapat mengeksplorasi, perihal sifat macan atau kesombongan seperti apa yang diungkapkan dalam buku.

Saat anak menolak membaca, anda pun harus dengan sabar menyadari bahwa anak anda tidak terlalu berminat membaca. Tanyakan dengan sabar, hal yang menyebabkannya tidak suka membaca. Dengan sabar pula, anda dapat menjelaskan pentingnya membaca, seperti kita dapat melihat apa yang terjadi di belahan lain dengan membaca buku “Menjelajah Dunia”, dan masih banyak lagi.

Sabar adalah kuncinya saat membaca menjadi hal yang membosankan bagi anak anda.

3. Melalui permainan

Agar membaca menjadi lebih menyenangkan bagi anak, anda dapat menciptakan berbagai permainan yang menyenangkan seperti, berburu harta karun. Dimana orangtua mempersiapkan benda-benda yang terkait dengan buku cerita. Misalnya, Buku Macan Dan Kelinci. Orangtua dapat menyiapkan boneka atau mainan macan,dan benda-benda lain yang tidak terkait dengan cerita tersebut. Mintalah anak untuk menemukan benda-benda dalam sebuah peti yang dianggap peti harta karun. Jika anak berhasil menemukan benda yang dimaksud sesuai dengan buku ceritanya, orangtua dapat meminta anak menceritakan kembali buku yang sudah berhasil dibaca anak.

Di akhir permainan, orangtua dapat memberikan ‘reward’ atau hadiah kecil yang memotivasi anak untuk rajin membaca.

4. Hadiah buku

Orangtua yang ingin agar anaknya rajin membaca, hendaknya perlu mempertimbangkan secara bijaksana saat akan memberikan hadiah. Hadiah buku adalah contoh hadiah yang mendidik dan mendorong anak untuk rajin membaca. Jika orangtua tidak tahu buku yang disenanginnya, orangtua dapat mengajak anak untuk pergi bersama-sama ke toko buku untuk memilih buku yang digemarinya.

Terakhir, diperlukan teladan dalam mendidik anak agar membaca menjadi sebuah kesukaan bagi si anak. Namun, jika membaca bukan minat si anak, jangan paksakan anak. Hal ini dilakukan agar si anak tidak menjadikan buku sebagai bumerang yang memunculkan masalah di kemudian hari. Hal yang utama, kenali minat baca anak sedini mungkin.


PUISI: Kidung Cinta Pangeran Kodok

wp-image--613944796

Rupa wajah yang tak setampan Romeo dalam Shakespeare. Mata yang tajam seperti elang dengan sorot seperti surya di pagi hari. Sesungging senyum seperti wangi bunga di pagi hari, meluluhkan hati. Wanita mana yang tak terpesona oleh mata dan senyum yang memanah hati?

Pangeran Kodok.

Kuberanikan diri menyapa keangkuhan hatinya. Ia hanya mengganggukan kepala. Sopan dan santun. Matanya menyelidik setiap lekuk tubuhku. Aku seperti ditelanjangi oleh sorot bintang dalam matanya. Gelora hati yang malu, tak kuasa aku menahan panah hati.

Pangeran Kodok.

Ia berlalu. Seiring waktu, ia tak terlihat. Ia pergi terbawa oleh kebisuan hatiku. Ia tak kembali hanya karena aku tak mampu menyelami samudera hatinya. Hatinya yang luas tak terbendung oleh jangkuan anganku. Memasuki hatinya seperti puri misteri yang gelap, hanya meraba dan sulit dipahami.

Kini senandung mesra, ditiupkan oleh Pangeran Kodok yang pergi membawa seraut tanya. Tak pernah kembali, meski hati memintanya. Tak pernah angin membawa kabar. Tak ada merpati yang tulus, terbang membawakan kidung mesra lagi padaku. Ia larut dalam misteri jiwa yang tak pernah kuselami.

Gelora cinta telah ditabuh olehnya. Sadarkah ia betapa aku mendambakannya? Tahukah ia betapa aku menginginkannya? Adakah ruang rindu antara aku dengannya dalam bilik hatinya? Maukah waktu sejenak mempertemukan kami kembali?

Tak kuasa aku menahan kidung mesra yang tertulis oleh suratan takdir. Tertulis nama Pangeran Kodok dan diriku dalam jalinan kisah asmara. Dewi Cinta mengukir nama kami berdua. Namun, sang waktu membawa impianku bersamanya.

Saat rembulan hadir bersama bintang. Kutiupkan nama Pangeran Kodok sambil berharap, malam itu akan kembali bersama kami lagi. Malam yang dihiasi oleh semburat merah jambu di sekelilingku. Malam yang berhasil mempertemukan kami dalam alunan emosi jiwa. Malam yang menggoda kami untuk saling menggenggam jemari tapi bukan hati.

Rasa rindu ini semakin membara. Rindu yang hampir menenggelamkan jiwaku. Rindu yang membuatku hampir gila, mencarinya. Kulambungkan anganku untuk seorang Pangeran Kodok dalam sebuah mimpi.

Sadar diri bahwa mimpi tak bertepi ini telah ditinggalkannya. Maaf telah terucap namun rindu masih tertinggal. Nama masih disebut dalam doa pada yang Ilahi. Agar kidung cinta ini masih terpatri dalam buku kisah asmara milik Dewi Cinta.

Semoga Kidung Cinta tak dihapus oleh Sang Waktu.

 

Anak Lelaki Sulung Selalu Lebih Disayang Ibu, Betulkah?

g
Ilustrasi. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Baru-baru ini, saya bertemu dengan seorang teman pria yang kebetulan mengajak makan malam untuk bercerita tentang hidupnya. Telah lama kami menjalin pertemanan hingga cuma saya yang paling bisa memahami hidupnya. Begitulah pria, sukar sekali dimengerti oleh wanita.

Seperti biasa, kami mulai bercerita mengenai pekerjaan dan kehidupan kami yang lowong saat kami tidak bersama setelah sekian bulan tak bertemu. Sukar dipercaya, tipe pria sempurna di hadapan saya ini memiliki masalah dalam hidupnya, termasuk pasangan hidup.

Singkat cerita, pasangan hidup bukan inti dari apa yang hendak saya ceritakan. Saya tertarik dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Ia adalah anak ke-sekian dari sekian bersaudara. Artinya, ia bukan anak lelaki sulung. Sebagai bukan anak sulung, ia bercerita panjang lebar mengenai pengalaman bersama saudara sekandungnya. Hal yang menarik dari pembicaraan kami, apakah anak sulung lelaki selalu menjadi sanjungan bagi orangtua, terutama Ibu?

Teman saya ini begitu cemburu dengan perhatian dan perlakuan yang diterima oleh abangnya. Menurut saya, dipanggil abang karena teman saya lahir dari keluarga yang berbudaya patriaki. Selain jarak lahir antara abang sulung dengan dia begitu jauh, bisa dibayangkan memang saat dia baru menginjak kelas 6 SD, sementara abangnya sudah memasuki dunia kampus, teman saya merasa abangnya tak pernah menjalin komunikasi yang intense dengan dirinya.

Abangnya yang sulung selalu menjadi kebanggaan dan idola keluarga. Itu menurutnya. Di masa kini, saat si abang sudah berkeluarga dan berhasil  mendapatkan istri dari keluarga terpandang (baca: Keluarga kaya), si ibu masih tetap menjadikan abang sebagai ukuran untuk mendapatkan jodoh. Artinya, teman saya ini harus mendapatkan perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan harus memiliki pekerjaan serta kemapanan seperti abangnya.

Kontan, teman saya ini kecewa dengan cara dan perlakuan si ibu. Lalu, dia menceritakan bahwa si Ibu selalu menyorot apa pun pilihan hidupnya. Ia merasa diri dikekang. Sampai sekarang, ia sadar betul tak pernah tahu seperti apa pilihan hidupnya. Kini, si ibu telah tiada. Tiada lagi halangan buat dia menikah. Namun, kesulitan muncul saat keluarga besarnya tetap menjadikan abangnya sebagai tolok ukur keberhasilan dirinya.

Lantas, ia bertanya seberapa besar pengaruh ibu terhadap perhatian pada anak sulung laki-laki?

Pembicaraan kami semakin seru. Manakala teman saya mengingat semua bentuk ketidakadilan yang dilakukan si ibu terhadap dirinya. Adakah teori yang membahas ini? Mungkin ada, tapi saya sedang tidak ingin berteori.

Sepanjang pengamatan dan pengalaman dari kisah-kisah keluarga orang sekitar saya, memang ditemukan ada kecenderungan seorang ibu akan lebih menaruh perhatian terhadap anak lelaki sulungnya. Saya pikir, ibu akan mengindentifikasikan si anak sulung laki-laki ini sebagai suaminya atau ayah di masa lalunya. Namun, mengapa ini bisa terjadi? Saya tidak tahu. Yang jelas keadaan ini, membuat siapa pun yang menjadi anak diluar anak sulung laki-laki akan merasa cemburu.

Sejujurnya, anak sulung laki-laki juga memiliki tanggungjawab moral untuk dapat menjadi model bagi adik-adiknya. Ukuran yang dipakai dalam keluarga biasanya adalah anak pertama, meski tidak selalu demikian. Anak laki-laki dalam keluarga patriaki dijadikan simbol keberhasilan dalam keluarga. Bahkan, keluarga akan menghalalkan segala cara agar anak sulung laki-laki ini mendapatkan tempat terhormat, termasuk menyekolahkan di sekolah terbaik dibandingkan adik-adiknya. Itu bisa saja terjadi.

Jika saya berempati sebagai seorang ibu, mungkin ibu berharap besar agar si anak sulung lelaki ini bisa membawa perubahan dalam keluarga dan menjadi panutan kelak bagi adik-adiknya. Kadang saya tak bisa mengerti mengapa hal itu terjadi, karena saya belum menjadi seorang ibu.

Identifikasi ibu terhadap anak sulung laki-laki hendak mencerminkan bahwa pengasuhan setiap anak memiliki porsi yang sama, agar kelak perbedaan perlakuan dan pengasuhan tidak menimbulkan imej atau citra yang negatif dan tertanam dalam benak adik-adiknya. Biasanya si adik akan mengeluh dan menjadikan ‘luka batin’ terhadap pembedaan perlakuan.

Demikian juga anak sulung laki-laki hendaknya menaruh kepercayaan yang diberikan sepenuhnya, tidak hanya dari ibu tetapi juga keluarga agar mampu bertanggungjawab terhadap hidupnya. Jika salah asuh, kebanyakan anak sulung laki-laki menjadi besar kepala, sombong, egois, mau menang sendiri dan tak ubahnya ia merasa menjadi’raja kecil’ dalam keluarga. Jika salah asuh, bisa jadi manja dan tak mendidik bagi dirinya untuk mandiri.

Memang pola pengasuhan bukan perkara mudah bagi seorang ibu dan juga ayah. Yang jelas, keadilan dalam perlakuan dan pengasuhan dilakukan dengan sama rata dan sama rasa agar masing-masing pihak dapat tumbuh secara normal.

Menjadi Perempuan Cantik

wp-image-956376049

 

Perempuan cantik adalah idaman setiap perempuan dan pujaan bagi setiap pria yang memilikinya. Kecantikan seorang diingat oleh setiap orang sebagai memoria mata yang tertangkap oleh penilaian pikiran. Menjadi cantik adalah sebuah keadaan yang terlahir biasa namun sesungguhnya membuat kecantikan menjadi suatu daya dalam diri seorang perempuan adalah luar biasa.

Menikmati kecantikan dalam diri seorang perempuan adalah dambaan setiap orang yang mengaguminya. Baik laki-laki maupun perempuan senang jika berada bersama perempuan cantik. Perempuan cantik dianggap membawa aura yang menarik bagi orang di sekitarnya sehingga turut dikagumi bagi yang melihat. Ini pula yang memungkinkan setiap perempuan berusaha melakukan vermak terhadap bentuk fisik yang dimilikinya agar bisa terlihat menarik dan diterima sebagaimana konsep cantik dalam budaya yang sedang berlaku.

Jika kecantikan adalah sebuah standar budaya yang sedang berlaku maka tak ubahnya kecantikan adalah virus yang menyerang dan mudah berganti-ganti. Kecantikan adalah nilai yang diberikan kepada seseorang saat seorang perempuan mampu memancarkan daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Kecantikan sejatinya tak terlihat dari rupa saja namun dari budi yang mencerminkan jiwa bagi pemiliknya.

Melihat seorang artis berbibir seksi bak Angelina Jolie bukan perkara sulit. Teknologi mampu menciptakan seorang perempuan untuk menghasilkan bibir yang diinginkan. Namun, bibir yang cantik adalah saat kita mampu berucap kata-kata kebaikan yang mengalir dari mulut kita. Orang akan terpana akan pesona kata-kata kebaikan yang disampaikannya ketimbang memperhatikan bentuk bibir yang mengucapkannya. Benar jika dikatakan lebih baik diam daripada tak mampu mengucapkan kata-kata baik. Karena kata-kata adalah pedang yang mampu ‘membunuh’ hati setiap orang. Jika teknologi mampu memudahkan membentuk bibir indah, maka keseharian dari bibir indah sulit untuk dibentuk.

Memiliki mata yang indah adalah keinginan setiap perempuan. Banyak ahli kosmetik menciptakan teknik yang membuat mata setiap perempuan menjadi indah seperti eye shadow, eye liner, pensil alis, penghilang kerut mata, dsb. Semua itu diciptakan agar mata yang menjadi sorot utama setiap orang akan terlihat menarik bagi siapapun yang menatapnya. Tak ubahnya bibir, mata yang indah adalah saat kita mampu melihat kebaikan dalam diri setiap orang. Kita mampu untuk membuang prasangka buruk dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa setiap pribadi sesungguhnya adalah baik. Orang jahat sekalipun pasti punya alasan kebaikan dalam hidup. Melihat kebaikan setiap orang akan menurunkan hati yang damai dan tak berprasangka. Mata yang memperlihatkan kebaikan tentu akan menciptakan pikiran dan perasaan yang baik pula.

Setiap perempuan menginginkan bentuk tubuh ideal yang langsing agar telihat mempesona bagi siapa saja yang memandangnya. Memiliki bentuk tubuh langsing adalah upaya yang dilakukan dengan berbagai cara seperti diet, mengeluarkan kocek untuk olahraga hingga mengkonsumsi pelangsing tubuh. Padahal tubuh yang langsing adalah sebuah cara saat kita mampu mengelola hati penuh syukur dan mau berbagi dengan orang lain, seperti makanan yang kita santap. Menjadi langsing saat kita berhasil mengurangi kerakusan untuk memiliki sesuatu. Menjadi langsing adalah pesona yang terpancar saat kita yang penuh syukur mampu berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Saat waktu terus berjalan, perempuan pun menginginkan agar selalu terlihat muda. Agak mengkhawatirkan jika mulai terlihat dengan keriput di wajah. Ibu Theresa yang telah melewati usia senja, tampak keriput dengan kulitnya, namun Ia terlihat bersahaja dengan pancaran hati dan perilaku yang dimilikinya. Setiap orang akan mengagumi seri kecantikan Ibu Theresa. Apa resepnya? Ia tak pernah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi namun menjalani kondisi di masa kini adalah rahasia agar kita selalu diliputi rasa syukur dan sadar untuk memanfaatkan sebaik mungkin sekarang. Sang waktu adalah rahasia hidup yang menjadi harapan bahwa hidup sesungguhnya indah dan menerima keindahan itu.

Kecantikan adalah cermin saat Perempuan memandangnya namun cermin itu yang mampu berujar rupa jiwa pemiliknya. Jiwa yang tulus dan baik adalah kosmetik yang tak terjual di toko mana pun. Mari mencoba resep kecantikan yang sulit namun bisa dilakukan dengan niat dan berkat. Menjadi cantik bukan keadaan tetapi pilihan. Memilih menjadi cantik adalah cara agar kita bisa memancarkan kebaikan dalam diri setiap orang.

 

Jangan Jadi Pribadi Seperti Kentang!

 

wp-image-86968895
Contoh kentang yang dimasak dalam masakan steak yang saya buat.

 

Saya suka sekali memasak. Menurut saya, memasak adalah sebuah seni seperti menulis dimana ketrampilan untuk menyajikan yang terbaik lewat rasa pengecapan dan penciuman terwujud jadi satu melalui makanan. Memasak dengan hati akan tercermin dari sajian dan kelezatan makanan yang tercipta setelah kita mencicipinya. Jika kondisi hati tak baik maka makanan yang sedang kita masak pun akan terasa tak baik pula untuk dimakan. Sebagai contoh, saat saya sedang marah sambil mengulek sambal, maka rasa sambal luar biasa pedas dan tak sedap di lidah. Atau, masakan bisa terasa keasinan meski bukan bermaksud ingin segera menikah. Intinya, memasak dengan penuh cinta akan terasa menyenangkan sekaligus melezatkan di hasil akhir makanan yang tersaji.

Di suatu minggu, saya ingin membuat kue pastel yang berisi kentang dan wortel yang dipotong dadu kecil-kecil. Salah satu tugas yang harus dipersiapkan untuk membuat pastel adalah membersihkan bahan-bahan masakan, termasuk kentang. Sambil memilih kentang untuk dikupas, Mama bercerita bahwa harga kentang yang baru dibelinya termasuk mahal. Menurutnya, Penjual Kentang telah memilih kentang terbaik miliknya sehingga ia meminta Mama membelinya dengan harga tinggi.

Tak sampai lima menit, saya mengupas satu kentang yang cukup besar, saya berujar bahwa kentang dalam keadaan yang kurang baik. Memang saat dikupas kulitnya satu per satu, saya memperhatikan kondisi kentang yang bagus, keras dan bersih. Setelah dikupas, tampak kulit kentang ‘blurik’ coklat, tanda tak baik.

Mama pun protes dan mengomel. Ia menyesal mengikuti kemauan si Penjual tetapi malah mendapati kentang yang dibelinya bukan kentang berkualitas baik. Saya masih menenangkan hati mama dan mungkin ada cara lain untuk mengobati kekesalan Mama. Sejujurnya sebagai perempuan, saya kadang tak mau kalah dengan Penjual. Saya tak kalah gengsi jika harus membayar mahal terhadap barang yang memang berkualitas baik. Terutama di pasar tradisional, saya pun harus menang untuk berhasil menawar harga yang paling murah, meski hanya beberapa sen rupiah.

Singkat cerita, kentang diibaratkan oleh Mama sebagai bentuk sifat dan pribadi manusia. Menurutnya, ada pepatah yang mengatakan bahwa tak baik manusia berkulit kentang. Maksudnya, tampak luar pribadi orang tersebut terlihat menarik dan baik namun dalamnya hati (yang selalu diibaratkan berada di dalam pribadi) tak ada yang tahu, bahkan mungkin tak sebaik seperti terlihat di luar.

Sekedar mengupas kulit kentang, saya merefleksikan pengalaman berelasi dengan orang lain. Jujur, saya pun mungkin seperti kulit kentang. Pada akhirnya, ketika sudah diketahui dalamnya, orang pun tak suka. Seperti kentang, kita bisa saja dibuang dan dicampakkan, meksi kita terlihat dari luar baik, menarik dan punya nilai jual tinggi. Siapa sangka, kita langsung terlempar di ‘tempat sampah’, karena sifat pribadi yang tak sebaik dengan tampilan luar.

Kesan pertama setiap orang memang terlihat dari penampilan luar. Dalamnya hati tak ada yang tahu, termasuk sifat yang terpendam dalam pribadi setiap orang. Orang juga dengan mudah menilai setiap pribadi dari penampilan luar saja. Padahal perkataan Tukul, “Dont judge book by the cover” ada benarnya juga. Menilai hingga menjatuhkan pribadi seseorang hanya dari tampilan luar bukan sebuah perilaku terpuji. Sesungguhnya, tak ada yang bisa mengenali karakter pribadi itu sendiri kecuali individu itu sendiri. Sebagai pengamat, orang lain yang melihat penampilan luar memiliki penilaian baik buruk, mahal murah, dsb, karena melihat fisik yang terukur oleh mata. Bagaimana dengan ukuran hati? Tak ada yang tahu.

Belajar dari kentang telah membuat saya percaya bahwa tak mudah mengenali pribadi setiap orang hanya dari luar, atau fisik yang terlihat saja. Sebagaimana yang terlihat dalam diri setiap orang, tak baik pula menilai dan memberi ‘harga’ hanya karena fisik yang tertangkap oleh mata. Jangan sampai tertipu oleh pendapat mata, tapi dengarkan suara hati yang tersaji lewat budi setiap orang yang dikenali!

Menjadi kentang yang cantik adalah keharusan agar kita terlihat menarik di mata orang lain sebagai pengamat, penilai atau pembeli. Namun, bagaimana menjadi kentang yang cantik luar dalam, itu yang harus diperhitungkan agar tidak mengecewakan orang yang telah menaruh hati pada kita.

 

Orang Optimis vs Orang Pesimis. Pilih Mana?

img_20160218_220341_809.jpg
Orang Optimis adalah mereka yang tak peduli risiko di depannya. Orang pesimis adalah mereka yang peduli risiko tanpa pernah memulainya. Dokumen pribadi.

Benar, jika pepatah mengatakan bahwa orang optimis selalu melihat masalah sebagai kesempatan sedangkan orang pesimis akan melihat masalah sebagai hambatan. Lalu apa bedanya kedua sifat orang ini? Selain, perbedaan sudut padang kedua orang tipe ini, mereka juga berbeda dalam cara mengatasi suatu masalah.

Menjadi orang optimis akan melihat lubang untuk dilewati sedangkan orang pesimis akan melihat lubang untuk ditangisi dan ditakuti. Tak semua orang sempurna, hingga orang menjadi orang super optimis. Namun, sebagai makhluk yang memiliki akal budi, manusia mengetahui bagaimana sikap yang harus dilakukan saat harus melewati masalah. Jika Burung dapat terbang, katak dapat melompat, ikan dapat berenang maka manusia dapat berpikir apa yang bisa dilakukan dalam hidupnya. Itulah manusia.

Kecenderungan orang untuk malas berpikir, ingin serba instan, mau tahu beres, tak sabar menunggu proses dan tak suka berbasa-basi mungkin adalah tipe orang pesimis. Jika pemandangan yang dilihatnya membosankan hanya melulu gunung, sawah dan pemandangan menjulang hijau, apa yang terbayang dalam benaknya, adalah ingin cepat sampai, mudah meremehkan, dsb, yang jauh membuat perasaan menjadi tak nyaman. Jika orang pesimis ditanya, ia akan menggambarkan apa yang diperolehnya. Itulah tipenya. Mungkin hanya memikirkan pikiran dan perasaannya sendiri.

Bagaimana dengan orang optimis? Jika pemandangan yang disungguhkan sama, maka jawaban orang optimis lebih menekankan kekaguman, rasa syukur, keindahan dan perasaan menyenangkan atas apa yang dilihatnya. Waktu akan terasa berharga bagi orang optimis. Karena apa yang ditekankan oleh orang optmis lebih pada apa yang bisa saya pelajari dari apa yang ditawarkan pada saya.

Apa beda kedua tipe orang ini? Orang pesimis cenderung untuk melihat keuntungan apa yang dapat saya peroleh, sehingga lebih pada menguntungkan diri sendiri. Sedangkan orang optimis cenderung untuk melihat apa yang bisa saya pelajari. Begitulah, keduanya hampir sama namun bisa jadi orang dihadapkan untuk menjadi pesimis dan atau optimis sekaligus, tergantung bagaimana kondisinya.

Apa yang saya jabarkan hanya sekedar wacana bukan teori, sekedar berbagi dan mengalami bahwa hidup tak melulu berpihak pada satu tipe saja. Ada kalanya menjadi orang pesimis diperlukan agar kita mewaspadai hidup ini, namun tidak bersikap ekstrim dan cukup menggangu. Sedangkan orang optimis, terkadang lupa bahwa dalam hidup ada orang sekitar yang mungkin memiliki kodrat tingkat ketakutan yang berbeda, daya juang yang berbeda atau karakter pribadi yang memang telah dibentuk sejak kecil sedemikian rupa oleh pengasuhan dan pengalaman hidupnya.

Sebaiknya, menjadi orang optimis mengajarkan kepada kita untuk bersikap dinamis. Hidup selalu berubah, ada kalanya mundur atau maju namun tak pernah diam di tempat. Oleh karena itu, orang optimis harus melihat peluang dalam setiap masalah sebagai kesempatan yang harus diraih. Optimis melatih otak kita untuk berpikir setingkat lebih maju dibandingkan mengurungkan pikiran negatif yang membebani hidup lebih buruk lagi.

Apa pun yang terjadi dalam hidup, hendaklah kita selalu menyadari buat apa bersusah hati untuk memikirkan kesusahan atau masalah, toh setiap orang memiliki masalah juga dengan tingkat dan kadar yang sesuai dengan dirinya. Menjadi orang optimis membuat kita lebih kuat dalam menghadapi hidup.

Semangat menjadi orang optimis!

Katak Belajar Keluar Kotak

wp-image--1043924362

Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk mengeluarkannya. Intinya, saya tidak ingin bersama binatang itu. Segala cara saya coba lakukan, sayangnya saya tidak bisa mengusir katak itu dalam kamar saya. Oh ya, saya belum juga bisa membedakan apakah itu katak atau kodok. Kata para ahli, kodok dan katak itu berbeda. Yang jelas saya hanya menemukan seekor binatang yang suka melompat dengan kedua kaki di belakangnya.

Saya putar otak untuk mengusir katak ini dari kamar saya, tetapi tidak bisa. Jika saya pukul dan membunuhnya, saya tak bisa. Lantas, saya melirik di sekitar meja ada sebuah tempat sampah dengan tinggi sekitar 40 cm, berbentuk kotak. Saya ambil dan saya tutupi katak itu dengan kotak sampah. Saya berpikir, saya akan terselamatkan karena katak tidak akan menggoda saya saat berada di kamar.

Dengan bernapas lega, saya berhasil memasukkan binatang yang membuat saya tak bisa tidur itu ke dalam sebuah kotak.

Apa yang saya perhatikan sekarang adalah seekor katak dalam sebuah tempat sampah yang sedang berusaha melompati bibir tempat sampah, agar bisa keluar. Sedih sebenarnya. Saya akui saya bukan orang jahat yang suka menyiksa tetapi saya pun takut jika hanya karena katak, besok saya jadi tidak nyaman dan kurang tidur.

Katak adalah binatang yang dikenal pandai dalam melompat. Toh, saat ia terkurung dalam sebuah kotak, ia tetap harus berpikir bagaimana keahliannya dapat digunakan untuk keluar dari masalahnya.

Karena saya prihatin terhadap katak dan terhadap diri saya yang takut akan katak. Saya pun memutuskan untuk tidur dan membiarkan katak terkurung dalam kotak tersebut.

Saya menginap di hotel tersebut selama tiga malam empat hari. Saya berpikir terselamatkan untuk tidur malam kedua tanpa gangguan katak. Terus terang, meski katak hanya sekedar melompat, namun entah mengapa sugesti yang tidak baik kerap menghantui saya. Daripada tidak tidur, toh saya memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan menaruh katak dalam tempat yang aman, tersembunyi dan tidak bisa keluar.

Malam kedua, saya berhasil tidur dengan nyaman. Agar memastikan kondisi si katak, saya pun melongok ke dalam kotak sampah. Saya masih melihat katak masih berjuang untuk keluar dan mencapai bibir kotak sampah. Miris memang. Binatang yang lihai dalam melompat, dikalahkan oleh sekotak sampah. Lebih tepatnya terkungkung dalam sebuah kotak.

Saya pun merenung. Dalam hidup, kita memiliki keahlian dan kompetensi yang cukup dikenal dan dibanggakan. Namun sayangnya, saat kita masuk dalam sebuah ‘Kotak sampah’ kita terkungkung, dan tak bisa keluar. Kita diam dalam ‘Kotak Sampah’ dan tak bisa berkutik apa-apa.

“Kotak sampah” menjadi masalah kita. “Kotak sampah” ibarat pikiran. “Kotak sampah” ibarat hambatan. Ada banyak umpama yang bisa kita andaikan dengan “Kotak sampah” namun yang jelas. “Kotak sampah” membuat kita terpasung, tak bisa bergerak, mengeluarkan diri atau menggali potensi kita.

Karena penasaran, saya pun memegang bibir tempat sampah tersebut. Mungkin, katak telah mengukur potensi lompatannya, setelah semalaman dikurung. Mungkin, katak telah mengetahui apa yang menjadi hambatannya itu. Mungkin, katak juga telah berlatih semalaman agar bisa keluar dari tempat sampah. Katak tersebut berhasil meloloskan diri. Katak melompat keluar, melewati bibir tempat sampah.

Sangking paniknya ditambah gerakan keberanian yang luar biasa muncul dalam diri, saya pun segera mencari cara, agar saya bisa menangkap katak kembali. Pokoknya, katak harus segera ‘diamankan’. Saya tidak ingin terganggu lagi dengan kehadiran katak.

Disitu saya melihat lompatan katak hanya seluas lebar tempat sampah. Katak dalam benak saya, mampu melompat tinggi dan lebar. Ini hanya karena saya tidak pandai belajar dalam biologi, sehingga saya juga lupa berapa lebar dan berapa tinggi katak melompat. Katak ini begitu lemah dalam melompat. Saat saya tahu dalam kelemahannya yang sedemikian itu. Saya pun dengan sigap, menangkapnya kembali.

Dengan kotak sampah di tangan ditambah keberanian, saya berhasil menutup dan memasukkan katak kembali dalam kotak sampah. Agak sedikit ngeri memang. Saya hanya membayangkan, bahwa saya pasti akan dihantui rasa bersalah karena membuat katak semakin menderita. Tapi apa daya, saya harus melakukannya. Saat itu pun, saya tidak mendapati ide atau pikiran untuk mengeluarkan dari kamar saya, atau meletakkan di taman dan membiarkannya pergi. Niat saya baik kok. Itu pikiran saya. Saya hanya menyimpannya hingga saya keluar dari hotel dan membiarkan katak hidup kembali.

Tinggal semalam lagi pikir saya. Saya pun melanjutkan tidur dengan rasa nyaman. Saya biarkan katak terkurung lagi. Maafkan saya katak.

Malam terakhir, saya pun berkemas-kemas dengan barang-barang yang saya miliki. Setidaknya pikiran saya saat itu, merapikan barang milik saya. Saya masih belum berpikir dengan si katak.

Menjelang tidur, saya baru terpikir untuk mengembalikan katak pada habitat aslinya. Atau lebih tepatnya, membiarkan ia kembali hidup normal.

Saat saya melihat ke dalam kotak sampah. Katak yang dua malam ini, saya lihat sibuk untuk melewati bibir kotak sampah, kita diam, tak bergeming.

Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas, saya merasa bersalah dan takut saat itu.

Baru kepikiran oleh saya, untuk membawa kotak sampah keluar atau mengeluarkan katak keluar dari kamar saya.

Saat keluar, saya meletakkan kotak sampah terbalik, agar memudahkan katak keluar dengan mudah.

Yang terjadi adalah katak keluar mudah tapi tak melompat lagi seperti yang dilakukannya kemarin. Apa yang terjadi? Pikir saya.

Katak diam. Katak mati.

Saya kaget luar biasa. Entah apa yang menyebabkan dia mati. Lagi-lagi saya tak pandai dalam biologi, hingga tak tahu apa yang menyebabkan katak mati.

Katak mati. Mati karena putus asa, mungkin. Mati karena tidak mendapatkan makanan, selama tiga malam, mungkin. Mati karena tidak bisa keluar dari kotak sampah, mungkin. Mati karena tidak bisa menyelesaikan masalah, mungkin. Mati karena katak ternyata tidak ahli melompat setinggi bibir kotak sampah, mungkin. Mati karena pasrah, lemah dan tak berdaya, mungkin. Mati karena dirundung kemalangan, mungkin. Mati karena Tuhan memberi takdirnya untuk mati dalam kotak sampah.

Tak pernah ada yang tahu, apa yang menyebabkan akhir dari segalanya.

“Kotak sampah” adalah gambaran yang mudah yang diibaratkan dalam hidup kita dan menghambat pertumbuhan diri kita. “Kotak sampah” bisa lingkungan kita, teman-teman kita, kata cercaan yang menghancurkan diri kita, status sosial kita, dan masih banyak lagi.

Kita tidak mungkin mati seperti katak itu.

Kita diciptakan seperti katak, punya keahlian masing-masing tinggal bagaimana kita memanfaatkan keahliannya untuk keluar dan bertahan saat “kotak sampah” itu ‘membunuh’ diri kita. Setiap orang diciptakan dengan daya tahan dan daya juang berbeda, tinggal tergantung bagaimana kita memaknainya dalam hidup.

Belajar keluar dari “kotak” dari seekor katak, semoga menginspirasi kita semua. Terimakasih katak, maafkan jika aku harus melukaimu untuk belajar hal yang baru dalam hidup.

 

 

CERPEN: Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

cropped-img_20161017_152839_153.jpg
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitulah cinta, tidak ada yang sempurna. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Seorang Perempuan berparas cantik namun sayang Tuhan memberikan takdir buta saat ia memasuki usia remaja. Setiap hari Perempuan itu memandang diri di cermin. Ia meraba wajahnya yang cantik. Meski tak bisa melihat tetapi ia bisa merasakan bahwa wajahnya cantik.

Suatu kali, ia menemukan Peri Jahat dalam dirinya. Peri Jahat itu membisikkan ke telinganya saban pagi, setiap Perempuan itu berkaca di depan cermin. “Kamu jelek sekali. Pantas, tak ada lelaki yang mau bersamamu” ujar Peri Jahat itu.

Perempuan itu hanya bisa diam. Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa ia adalah perempuan cantik? Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa ia dapat menyangkal Peri Jahat ini? Ia pun tetap diam setiap Peri Jahat itu membisikkannya.

Perempuan itu buta. Hanya itu yang diketahuinya.

Ia sadar bahwa ia bukanlah perempuan cantik sebagaimana dulu para pria mengaguminya. Ia sadar dengan kelemahannya yang buta, hingga ia tak menemukan pria yang layak untuk bersanding dengannya dalam hidupnya kelak.

Perempuan cantik nan malang. Ia hanya bisa meratapi nasibnya sebagai Perempuan buruk rupa. Gambaran cantik hanya dalam kenangannya. Gambaran buruk rupa kini dalam benaknya. Peri Jahat itu berhasil menghasutnya.

Perempuan itu buta. Ia tidak menyadari bahwa selama ini bukan keadaan yang menyebabkan ia tak bisa mengenali dirinya lagi. Perempuan itu buta, tak melihat tapi bisa mendengarkan. Mendengarkan bukan dengan suara hatinya. Perempuan itu mendengarkan Peri Jahat yang kerap datang menghampirinya.

Perempuan yang cantik dirundung kemalangan. Setiap hari, penglihatannya hanya bayangan gelap yang tertanam sebagai Perempuan buruk rupa nan malang hingga tak ada seorang pria pun membukakan tabir penglihatannya.

Perempuan itu terus berdoa dan berharap bahwa kelak Tuhan mempertemukannya dengan seorang Pria yang menjadi Penglihatan buat hidupnya kelak.

Peri Jahat datang terus menghampiri dan membisikkannya.

Perempuan itu pun terus berdoa dan berharap pada Tuhan agar keajaiban itu muncul. Ia tak mungkin menyingkirkan Peri Jahat, karena Peri Jahat tinggal dalam hatinya.

Suatu saat, Tuhan mendengarkan doa perempuan ini. Seorang Pria baik hati datang hendak mencari Pendamping Hidupnya. Pria baik hati ini mendengarkan bahwa ada seorang perempuan buta yang mencari pendamping hidup. Didatanginya perempuan itu dengan penuh harapan, agar kelak mereka dapat hidup bersama.

Alangkah bahagianya Perempuan ini mendengarkan niat baik Pria baik hati ini. Semua orang menutup rapat-rapat mulut mereka agar Perempuan ini tidak mengetahui bahwa sebenarnya Pria baik hati ini juga adalah seorang yang memiliki kelemahan fisik. Pria baik hati ini adalah seorang yang tidak memiliki pendengaran. Sejak kecil, Tuhan memberikan hidupnya sebagai orang yang tak bisa mendengar tetapi memiliki indera yang peka. Bicaranya tak lancar karena ia kesulitan untuk mendengarkan. Namun, dengan hatinya, Pria baik hati ini mampu mengkomunikasikan apa yang dikehendaki.

Itulah Tuhan, Dia membuat sesuatu yang tak mustahil menjadi terjadi.

Perempuan cantik dan buta itu menikahi Pria baik hati yang tuli. Kini, Perempuan ini tak lagi malang, ia sudah menemukan Pendamping Hidupnya.

Pria baik hati hanya bisa mengatakan, “Kamu adalah Perempuan yang cantik.” Sebagaimana yang terus diajarkan orangtuanya sejak ia ingin menikahi perempuan ini.

Setiap pagi, Pria baik hati ini akan menuntun Perempuan ini berjalan menyusuri keindahan kota, tetapi tak banyak yang bisa dipercakapkannya. Pria baik hati ini, hanya bisa berujar, “Kamu adalah Perempun yang cantik.”

Meski Perempuan ini tak bisa melihat keindahan dunia, tetapi dalam pikirannya ia sadar bahwa ia adalah perempuan yang cantik. Karena, sang suami, Pria baik hati, telah mengatakannya padanya.

Keindahan dunia hanya bisa dirasakan lewat hatinya, yaitu cinta yang dirasakan terhadap kebaikan hati Pria ini.

Itulah cinta, ketidaksempurnaan yang menyempurnakan kedua insan yang tak sempurna agar memandang keindahan dunia dengan caranya sendiri.

Pria baik hati ini, bisa melihat keindangan dunia ini dan memandang istrinya yang cantik tetapi tak bisa mendengar. Ia bersyukur Tuhan menutup telinganya, sehingga ia tidak pernah mendengarkan suara seperti Peri Jahat.

Perempuan yang cantik ini, tak lagi melihat buta sebagai kemalangan hidupnya. Ia telah menemukan tambatan hatinya. Setiap hari, ia bisa mendengarkan Pria, kini suaminya, berujar bahwa ia adalah perempuan yang cantik. Ia bersyukur Tuhan menutup matanya, sehingga ia tak perlu lagi melihat rupa Pria baik hati ini. Menurutnya, kebaikan hati tak lagi dipandang dari rupanya. Ia tak perlu lagi melihat keindahan dunia ini dengan matanya, tetapi cukup dengan hatinya yang penuh syukur bahwa ia adalah perempuan yang cantik.

Begitulah cinta. Tuhan yang baik hati telah mengatur bagaimana pasangan hidup tercipta agar saling melengkapi.

Begitulah cinta. Cinta tidak tumbuh dari keindahan dunia atau keelokan seseorang, tetapi dari hati yang tulus.

Begitulah cinta. Ia memandang kerendahan hati seseorang untuk menerima pasangannya apa adanya, tanpa melihat kelemahannya.

Dan, begitulah cinta. Tiada yang paling indah, selain menyadari bahwa kau dicintai, seperti apapun dirimu.

Bandung, di awal bulan baik 2010