CERPEN: Balada Perempuan

wp-image-595702827

“Sungguh aku tidak tahu jalan mana yang harus kupilih” keluhku. Perempuan itu berjalan terus dan meraba-raba setiap benda yang disentuhnya. “Aku buta, aku menyerah, tolong bantu aku!” pintanya sekali lagi.

“Jangan menyerah, kamulah yang menemukan tujuanmu!” kata suara itu.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” perempuan itu menyahut sambil terus berjalan. “Mengapa jalan yang kulalui penuh rintangan?”

“Dengar hai perempuan, kau harus mendengarkan suara hatimu. Dengarlah suara hatimu dalam keheningan, bukan keluh kesahmu. Disitulah kau menemukan dirimu yang selaras dengan pikiran dan perasaanmu” kata suara itu sekali lagi.

Perempuan itu diam. Suasana hening. Tidak ada suara. “Hm, tidak ada pilihan. Jalan yang aku lalui ini penuh rintangan. Sia-sia” sahut perempuan itu tiba-tiba.

Suara itu pun menyahut, “Jika jalan yang kau tempuh bebas dari rintangan, jalan itu tidak berguna. Kau harus membuka dirimu terhadap alam semesta. Yang harus kau miliki adalah keyakinan maka mereka akan menopangmu. Pilihlah jalanmu, bertindaklah sekarang. Saat ini adalah waktu yang tepat.”

“Darimana aku harus memulainya?” tanya perempuan itu sekali lagi.

Suara itu menjawab, “Mulailah dari tempatmu ini berada dan bersiaplah untuk kecewa. Sebab, jalan yang kau lalui, tidak selamanya mulus.”

Bandung, 020509

CERPEN: Tukang Cukur dan Guru Bijak

wp-image-979156162

 

Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru. Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa pekerjaan anda?” Guru pun hanya menjawab biasa saja, “Saya ini hanya Hamba Tuhan.”

 

Si Tukang cukur mulai bercerita bahwa ia tidak pernah percaya tentang kehadiran Tuhan. Sang Guru balik bertanya, mengapa Tukang Cukur tidak percaya dengan Tuhan? Tukang Cukur pun menjawab sambil menunjuk ke arah Pengemis di luar sana, sedang berdiri dan meminta-minta belas kasihan kepada orang-orang yang lewat.

 

Jawab Tukang Cukur “Jika memang ada Tuhan maka Pengemis itu tidak perlu ada. Jika memang Tuhan ada maka tidak perlu ada kejahatan, kemiskinan dan keadaan buruk lainnya di dunia ini.”

 

Sang Guru bukannya menyangkal jawaban Tukang Cukur tetapi hanya termangut-mangut saja. Si Tukang cukur pun selesai mencukur Sang Guru. Sang Guru memberikan upah, mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada Tukang Cukur.

 

Saat dalam perjalanan pulang, Sang Guru pun bingung bagaimana meyakinkan Tukang Cukur. Sambil berjalan, ia melihat seorang pemuda berambut gondrong, tidak beraturan dan rambutnya berantakan sekali. Kemudian, Sang Guru pun berlari dan menemui Tukang Cukur. Ia mendapati Tukang Cukur sedang tidak mengerjakan tugasnya. Tukang cukur pun terkejut mendapati Sang Guru kembali datang.

 

Sang Guru pun berkata kepada Tukang Cukur begini, “Saat dalam perjalanan pulang, saya menjumpai seorang pemuda berambut gondrong, rambutnya berantakan dan tidak rapi. Jika memang ada Tukang cukur, mengapa masih ada orang seperti itu?”

 

Sang Guru pun penasaran dengan jawaban Tukang Cukur. Tukang Cukur pun menjawab begini, “Lah, mengapa mereka tidak datang kepada saya?” sanggahnya. Sang Guru pun membalas, “Begitu pun dengan pernyataanmu tadi tentang Tuhan. Mengapa mereka juga tidak datang kepada-Nya, yang empunya segalanya?”

 

Sebagaimana yang ditangkap oleh Penulis saat kotbah di suatu Misa pagi.

 

Tuhan ada dan hadir dimana saja dan kapan saja. Bagaimana kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Kembali kepada diri kita masing-masing. Mengapa kita tidak datang kepada-Nya, jika kondisi hidup kita buruk? Apakah Tuhan akan membalikkan nasib kita? Pastinya nasib bukan ditentukan oleh kehadiran Tuhan. Tuhan telah menyediakan segala cara dan tanda-tanda untuk kita pahami bahwa Tuhan itu ada.

AR (01/07/09)

Tiga Cara Belajar Meminta Maaf

img-20160909-wa0005.jpgPernahkah terbayangkan oleh Saudara tentang makna kata ‘Maaf’. Meskipun kita sering menyebutkan kata maaf berulang kali secara tidak sengaja namun pernahkah Saudara menyadari kata yang terucapkan tersebut adalah sungguh-sungguh dan tulus. Ataukah kata maaf tersebut hanya sekedar terucapkan saat kita tidak sengaja menginjak kaki seseorang, misalnya.

 

Saudara, kita diajak untuk meminta maaf bukan sekedar memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan kita dan memohon orang lain untuk memaafkan kita. Tentunya ini berbeda dengan memaafkan orang lain. Meminta maaf berarti kita memberi sedangkan memaafkan berarti kita menerima.

Berikut ini adalah tips untuk belajar meminta maaf kepada orang lain terutama orang yang sudah menyakiti kita:

 

Pertama, tidak menghakimi orang lain.

Mengapa meminta maaf begitu sulitnya untuk kita ucapkan? Konon, meminta maaf diidentikkan bahwa kita kalah, salah dan mengakuinya kepada orang lain. Disinilah letaknya, kita begitu sulitnya untuk merasa kalah dan salah, apalagi mengakuinya di hadapan orang lain. Toh, belum tentu hanya kita saja yang salah, bisa saja orang lain itu juga melakukan kesalahan. Hal ini menghambat kita untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain. Artinya, kita masih melihat selumbar di mata orang lain padahal balok dalam mata kita saja sulit untuk dikeluarkan. Kita masih menghakimi orang lain dan belum secara tulus mengakui kesalahan kita.

Proses menghakimi orang lain lebih mudah daripada kita menghakimi diri sendiri. Untuk sebuah persoalan yang sepele, kita banyak menjadikan orang lain sebagai pangkal penyebab kesalahan. Lantas bagaimana dengan kita sendiri? Tentunya kita nomor dua setelah orang lain kita salahkan. Dengan pandangan seperti ini, kita menjadi semakin sulit untuk meminta maaf kepada orang lain karena masih memandang orang lain-lah yang salah, saya tidak. Sehingga muncullah, istilah perkataan, “Sori ya, kalau saya dulu yang harus minta maaf. Emang salah saya apa?” Dengan demikian, sebelum menjatuhkan tuduhan kesalahan kepada orang lain, kita perlu selidiki dan refleksi diri. Jika kita memang tidak melakukan kesalahan, apa salahnya untuk memulai relasi yang lebih baik dengan memulai meminta maaf. Reaksi selanjutnya pasti tidak terduga dari lawan kita. Itulah keindahan kata ‘Maaf’.

 

Kedua, lepaskan egoisme.

Sering kita mengucapkan ‘Nobody’s perfect’ atau di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ketidaksempurnaan ini menyebabkan kita sulit untuk mengakui kesempurnaan diri kita. “Yah namanya juga manusia, pasti tidak luput dari kesalahan.” Kata-kata itu akan terucapkan oleh kita saat kita berbuat kesalahan. Kita menganggap ketidaksempurnaan kita dipahami oleh orang yang telah kita lukai atau sakiti hatinya sehingga kita yakin bahwa orang yang kita lukai tersebut paham. Kita tidak perlu minta maaf lagi, toh, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan termasuk orang yang kita sakiti hatinya.

Egoisme diri muncul ketika kita menganggap orang lain sudah memaklumi kesalahan kita dan melupakannya. Padahal belum tentu demikian. Persoalan terberat yang akan dihadapi seseorang ketika meminta maaf kepada orang lain adalah egoisme diri. Kita belum bisa menyangkal diri kita dan mengakui kelemahan kita. Betul, di dunia ini memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi apakah kita tidak dapat mengakui ketidaksempurnaan (kesalahan) tersebut dan mengakuinya sehingga terjalin relasi yang sempurna?

Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini pasti memiliki ego. Ego membentuk jati diri seseorang. Melepaskan egoisme dimaksudkan untuk melepaskan diri kita dan berempati atau menempatkan diri kita menjadi lawan/musuh kita. Kesulitan untuk melepaskan ego berdasar bahwa kita sulit untuk mengakui ketidaksempurnaan diri kita.

 

Ketiga, korbankan waktu dan perasaan.

Dalam belajar meminta maaf,  kita tidak pernah menyediakan waktu. Kita menganggap hal itu sia-sia saja dan percuma. Jika kita melakukan kesalahan, apakah tidak lebih baik kita langsung meminta maaf kepada orang lain? Saudara dapat membayangkan apa yang terjadi jika saudara menginjak kaki seseorang dan meminta maaf tiga hari kemudian. Bagaimana rekasi orang yang diinjak kakinya? Ia pasti tersenyum menerimanya atau barangkali menganggap hal itu tidak pernah terjadi karena ia sudah melupakannya. Sedangkan Saudara membayangkan peristiwa tersebut selama tiga hari, tidak tidur pula karena memikirkan peristiwa dimana saudara menginjak kaki orang itu. Sementara orang yang diinjak kakinya telah melupakannya, syukur jika demikian. Tentu ia akan tersenyum karena hal itu sudah terlewat jauh dari peristiwa yang terjadi.

 

Saudara, belajarlah untuk memulai mengatakan maaf setelah sebuah kejadian berlalu. Dengan mengatakan maaf sesaat setelah kejadian, berarti kita telah mengontrol dan mengendalikan emosi kita sehingga menjadi lebih positif. Kita tidak akan lagi merasa tidak nyaman dan berlarut-larut mengenai masalah ini. Toh, kita sudah cukup lega dengan meminta maaf atas peristiwa yang terjadi.

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini, belajarlah untuk bisa menyempurnakan dunia dengan memaafkan orang lain.”

Ingatlah pula bahwa kita harus menyiapkan perasaan kita saat meminta maaf. Tentu perasaan yang muncul beragam saat kita meminta maaf termasuk malu, tidak percaya diri, takut, cemas dan perasaan psikologis lainnya. Namun, saudara harus yakin bahwa perasaan itu wajar dan alami terjadi.

 

September 08

Belajar dari ‘Sang Juara’

 

20171104_191202 (2)
Ilustrasi.

 

Suatu malam, saya menonton tayangan talk show mengenai keberhasilan para atlet yang mencapai prestasi di dunia olahraga. Dengan durasi lebih dari satu jam yang mengampilkan sosok Atlet Bulu Tangkis, Pembalap Mobil dan Atlet Tinju,  kira-kira pengalaman berharga apa yang bisa saya petik?

 

Berikut ini adalah cara saya belajar dari mereka:

 

1. Terus belajar dan berlatih.

Sambil menonton tayangan tersebut, saya merekam kalimat inspirasi dari setiap Atlet. Saya menyimak kegigihan mereka dalam meraih prestasi. Pantaslah mereka disebut Berprestasi, mereka mampu mempertahankan kejuaran yang mereka pernah raih. Artinya, mereka tidak pernah merasa berhenti untuk terus berlatih dan belajar sehingga mereka dapat mempertahankan prestasi mereka. Setelah mereka berhasil meraih kejuaraan, mereka tidak langsung merasa puas diri. Berlatih dan belajar tidak pernah berhenti. Kebanggaan itu tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka layak disebut Berprestasi karena mereka mampu untuk mempertahankannya pula.

 

Ada sebuah pepatah mengatakan hidup adalah belajar. Kita tidak langsung bisa berjalan.  Kita belajar bagaimana cara berjalan. Belajar berjalan pun bertahap, bahkan kita pun merasakan pahitnya belajar berjalan, kita mengalami jatuh, terluka, dimarahi orangtua, menangis dsb. Belajar dan berlatih dilakukan secara bertahap dan tidak instan.

Seperti menjadi Juara, toh mereka yang berprestasi tidak langsung instan menjadi Juara. Ada tahap latihan dan belajar. Mereka pun mengalami kepahitan saat belajar dan berlatih. Setelah menjadi Juara, mereka pun masih terus belajar dan berlatih. Pada akhirnya, mereka mampu mempertahankannya. Jangan pernah merasa takut untuk dicap ‘bodoh’ karena masih terus belajar dan berlatih. Jangan pernah takut untuk mencoba. Jangan takut untuk merasakan kepahitan dan kegalalan. Dengan belajar dan berlatih, kita mengenal arti kegagalan sekaligus keberhasilan. Pengalaman adalah Guru terbaik. Pengalaman berisikan bagaimana kita terus belajar dan berlatih.

 

2.  Berpikir Positif

Sang Atlet Kejuaran Bulu Tangkis mengatakan bahwa ia pernah punya pengalaman yang mengesankan di saat ia harus mempertahankan juara untuk ke-7 kalinya. Saat set ke-2, skornya ketinggalan cukup jauh dengan sang lawan. Sementara sang lawan, sudah menang di set pertama. Satu hal yang harus dimiliki oleh Sang Atlet saat itu adalah tetap berpikir positif. Waktu yang sempit untuk mengejar ketertinggalannya melawan Sang Lawan digunakannya untuk mempertahankan pikiran positif bahwa Ia pasti mampu menjadi juara. Sang Atlet pun mampu untuk mengejar ketertinggalan skornya dan menang di set ke-2, hingga pada akhirnya Ia mampu untuk meraih juara untuk ke-7 kalinya. Apa yang tidak boleh dimiliki seseorang saat Ia jatuh dan gagal adalah Pikiran negatif. Pikiran negatif akan mengontrol perilaku dan tindakan kita untuk mengikuti cara kerja otak yang sudah negatif. Hasilnya, pasti dapat dibayangkan.

Berpikir positif akan menguatkan cara kerja dan perasaan kita yang akan mempengaruhi tindakan dan perilaku kita. Mulailah untuk berpikir positif di saat kita sedang mengalami kegagalan atau jatuh. Ubahlah cara berpikir kita terhadap hal-hal yang positif. Bayangkan saat kesempatan untuk menang itu memiliki waktu yang sempit, satu hal yang harus tetap dipegang oleh Sang Juara adalah Berpikir Positif.

 

3. Berani berkurban

Suatu kemenangan atau keberhasilan diperlukan keberanian dalam berkurban. Hal ini pula yang dirasakan oleh Sang Atlet saat mereka mengenang pengalaman mereka. Di saat usia masih muda, mereka harus mengurbankan kesenangan mereka sebagai anak-anak dan remaja untuk berlatih menjadi Atlet. Mereka bangun pagi-pagi untuk berlatih kemudian melanjutkannya dengan bersekolah. Mereka harus membagi waktu antara latihan dengan sekolah. Sempat terbersit rasa iri mereka terhadap teman-teman seusia mereka yang asyik menikmati waktu.

Pengurbanan waktu adalah contoh konkrit. Apakah kita mau mengurbankan waktu kesenangan kita untuk melakukan hal-hal yang mungkin buat kita monoton atau menjemukan? Bisa dibayangkan, Sang Juara harus berlatih kegiatan menjemukan setiap hari. Nah, apakah kita bisa juga berani mengurbankan keinginan atau minat menyenangkan kita dengan sesuatu yang monoton? Konon, sesuatu yang dilakukan berulang dan terus menerus akan mendekatkan kita pada keberhasilan yang ingin kita raih.

 

Seorang Pahlawan berani untuk mengurbankan diri mereka. Seorang Penemu mampu mengurbankan waktu mereka untuk terus mencoba dan berusaha. Seorang Atlet Berprestasi mau mengurbankan waktu mereka untuk berlatih. Ada banyak pengurbanan yang dilakukan agar berhasil. Yang jelas, berkurban bukan hal yang mudah, diperlukan keberanian dan tekad.

 

Dengan berani berkurban, kita memahami tentang proses saat kita meraih keberhasilan. Berani untuk berkurban akan mampu untuk mengalahkan kenyamanan diri kita. Seorang tokoh seperti Ibu Theresa dari India, adalah figur dimana ia berani berkurban kenyamanan dengan keluar dari komunitasnya, berani mengurbankan waktu dengan mengunjungi orang-orang yang sakit, berani mengurbankan perasaan saat orang-orang sekitarnya mencibir dan mengejek perbuatannya dan berani mengurbankan miliknya agar orang-orang yang menderita itu dapat diselamatkan.

 

4. Disiplin

Sang Atlet Berprestasi menceritakan bagaimana pengalamannya saat berlatih. Di saat usia mereka masih anak-anak, mereka sudah belajar untuk disiplin. Displin membantu mereka untuk mengatur waktu. Disiplin akan membantu mereka untuk memiliki kesempatan untuk belajar dan berlatih, kesempatan untuk melakukan hal lain. Disiplin membentuk kita untuk menghargai waktu yang ada.

 

Toh, setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam satu hari. Tidak ada yang lebih atau yang kurang. Sang Juara mengajarkan kita untuk hidup disiplin. Disiplin akan mendorong kita untuk menghargai diri kita tetapi belum tentu orang lain. Disiplin diibaratkan oleh orang-orang yang tidak terbiasa sebagai aturan yang ketat dan kaku. Padahal, tidak demikian.

Jika kita hidup dengan disiplin, kita akan selalu punya waktu. Dengan disiplin, kita akan mampu menghargai waktu. Dengan disiplin, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak sia-sia. Dengan disiplin, hidup kita lebih terencana.

 

5. Memiliki mental Juara

Seorang Juara pasti memiliki mental juara. Mental Juara maksudnya bahwa kita mampu mengalahkan kenyamanan kita. Kita memiliki semangat dan pikiran optimis. Kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit. Kita akan terus berjuang untuk mengalahkan ‘musuh kita’

Lalu bagaimana dalam hidup kita sehari-hari? Adakah musuh kita? Pastinya ada. Musuh bisa berarti banyak hal, apakah itu kesenangan, kenyamanan, pujian, materi, dsb? Seorang bermentalkan Juara berarti ia mampu untuk mempertahankan prestasi Juaranya dan tidak terlena. Seorang Juara berarti ia tidak pernah puas diri. Seorang Juara pasti akan terus mencoba hingga ia berhasil.

 

Apakah seorang Juara tidak pernah gagal? Siapa bilang? Seorang Juara pasti pernah mengalami kegagalan. Tetapi bagaimana sikap Sang Juara dengan yang lain, itulah yang membedakannya. Seorang Juara akan bangkit dari kegagalan sesegera mungkin dan mengejar ketertinggalannya. Seorang Juara tidak akan menyerah oleh nasib. Seorang Juara akan terus berpikir positif meskipun ia gagal. Seorang Juara terus berpikir bagaimana ia dapat menaklukan musuhnya. Seorang Juara akan memandang hidup adalah prestasi yang membanggakan.

 

Apakah setiap orang bisa menjadi Juara? Jawabannya, pasti dan harus bisa menjadi Juara. Juara tidak selalu diidentikkan dengan keberhasilan dalam memenangkan kompetisi atau perlombaan. Kompetisi atau perlombaan diibaratkan bak roda kehidupan kita. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Kita berupaya agar roda kehidupan kita tidak kempes, sehingga tidak berjalan lagi. Bagaimana caranya agar kita dapat terus memutarkan roda kehidupan kita, adalah kompetisi atau perlombaan. Kita menjadi Juara jika kita mampu terus memutarkan roda kehidupan kita.

 

Sahabat, itulah refleksi yang saya peroleh saat saya menyimak pengalaman hidup Sang Juara. Kita dilahirkan dengan talenta dan kemampuan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Setiap manusia itu unik dan tidak ada yang sama tetapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Juara. Katanya jika dunia dijadikan kompetisi, maka Sang Juara adalah mereka yang paling berbahagia. Bagaimana menurut anda?

AR 261108

CERPEN: Pria Bertangan emas

 

wp-image-1108807384
Ilustrasi.

 

Di jaman dahulu kala, ada seseorang yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya menjadi terlunta-lunta oleh karena kemiskinan. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Ia berdoa sepanjang masa kepada dewa agar ia bisa hidup kaya dan memiliki pasangan hidup yang cantik jelita.

Lima tahun kemudian, Pria ini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Ladang peninggalan orangtuanya telah habis terjual. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup, hanya rumah yang dihuninya sejak ia lahir di dunia ini.

Saat usianya memasuki 20 tahun, rumah satu-satunya yang ia tempati pun raib di tangan “Penagih Hutang.” Ia begitu sedih. Apalah daya, ia sudah berupaya untuk berdoa setiap waktu kepada dewa dan berpuasa. Toh, hasilnya nihil.

Ketika tiba waktu “Penagih Hutang” datang untuk mengambil rumahnya, ia berlutut kepadanya dan meminta agar waktu pengambilan rumahnya dapat diundur.

“Aku berjanji… kali ini aku berjanji… bahwa aku akan membayarkan hutangku. Tetapi aku mohon kali ini, jangan ambil rumahku!” pinta pria itu. Ia bersujud di tanah sambil kedua tangannya menelungkup seperti berdoa. Ia membungkuk tiga kali.

Pria itu mengintip, memperhatikan Si Penagih Hutang. Pria itu berharap “Penagih Hutang” akan menuruti pintanya, meskipun ia sendiri tidak tahu darimana uang sebanyak itu. Agar lebih meyakinkan si Penagih Hutang, Pria itu menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung di tanah. Perilakunya yang demikian membuat para tetangganya datang dan memperhatikan kejadian itu. Banyak tetangga yang berbisik. Bisikan mereka seolah-olah membela pria malang itu. Mengapa Si Penagih Hutang begitu jahat, toh pria ini akan membayarkan hutangnya seminggu lagi? bisik para tetangga. Dimana pria ini akan tinggal jika rumahnya diambil oleh Penagih Hutang. Ada pula tetangga yang berbisik demikian. Luluhlah hati si pemilik uang.

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi ingat, waktunya hanya seminggu ya. Hutangmu terlalu banyak. Dan jika seminggu lagi aku datang, kau belum memiliki uang yang cukup maka aku dengan terpaksa akan mengambil rumahmu ini” seru Penagih Hutang.

Pria pemiliki hutang ini merasa bersyukur sekali. Ia mengelus-elus dadanya. Tiba-tiba “Penagih Hutang” membalikkan badannya dan berseru “Kau seharusnya bersyukur pada tetanggamu yang membelamu. Jika tidak ada mereka, aku sudah mengambil rumah ini. Mengerti!” bentak si Penagih Hutang.

Pria ini hanya tertunduk malu dan menggangguk tanda setuju. Ia mengucapkan terimakasih atas bantuan para tetangganya. Ia berjanji kepada tetangganya bahwa jika ia berhasil mendapatkan uang yang banyak maka ia akan mengadakan syukuran. Tetangganya berlalu meninggalkan rumahnya sambil berpikir darimana Pria ini mendapatkan uang sebanyak itu. Toh, pria ini tidak bekerja.

Setelah kejadian tersebut, Pria ini berpuasa tiga hari lamanya. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia tidak tidur. Ia terus menerus menghaturkan pujian kepada Sang Dewa. Akhirnya, Dewa pun merasa iba oleh karena ketulusan dan penderitaan Pria ini.

Saat malam ketiga dari puasanya, Pria ini bertemu dengan Sang Dewa melalui penglihatannya. Dewa akan memberikan keajaiban melalui tangan kanan pria ini. Pria ini akan dikaruniai tangan yang ajaib. Jika pria ini berhasil memegang sesuatu dan berkata “Tolong!” maka apa pun yang akan dipegangnya akan menjadi emas.

Seusai penglihatannya, pria itu pun menguji keajaiban tangannya. Ia segera memegang sendok sambil berkata “Tolong!”. Akhirnya sendok itu pun menjadi emas. Begitu seterusnya ketika Pria ini memegang benda-benda yang lain. Ia pun kegirangan, melompat-lompat dan berteriak-teriak keliling rumah. Setelah terkumpul banyak barang yang bisa menjadi emas, pria ini menjualnya untuk membeli barang-barang yang diperlukan.

Dua hari kemudian rumahnya pun dipenuhi oleh banyak perabotan mewah. Hal ini membuat para tetangganya takjub dan kagum. Darimana pria ini mendapatkan uang sementara ia tidak bekerja? pikir tetangganya saat mereka melewati rumahnya. Ada pula tetangganya yang datang berkunjung dan ingin mengetahui rahasianya. Namun, pria ini tidak memberitahukan rahasianya. Padahal tetangga yang datang ini telah menolongnya saat Si Penagih Hutang datang dan mengambil rumahnya.

Karena ketakutan hartanya akan dirampok oleh tetangganya dan rahasianya diketahui oleh mereka maka pria ini pun pindah ke desa lain setelah ia membayar hutangnya kepada Penagih Hutang.

Di desanya yang baru, pria ini pun tidak berubah. Ia hanya duduk dan menikmati kemewahan perabotan yang dimilikinya. Ia tidak bekerja namun memiliki banyak emas. Karena kemewahan dan kekayaannya, banyak orang ingin mengenalnya termasuk seorang gadis yang begitu cantik jelita. Konon gadis ini adalah perempuan tercantik di desa ini namun begitu miskin. Begitu mendengar namanya, gadis ini pun datang ke rumah pria ini dan hendak bekerja di rumahnya.

Begitu melihat rupa gadis ini, pria itu pun terkejut. Ia langsung mengingat bahwa ia pernah berdoa kepada Dewa untuk mendapatkan pasangan hidup yang cantik jelita. Dewa telah mengabulkan seluruh doanya, pikir pria ini. Ia pun meminta gadis ini menjadi Isterinya. Pria ini membayar semua hutang Istrinya dan meminta Istrinya untuk melayani segala keperluannya dan merawat rumahnya yang megah bak istana itu.

Pria ini pun hidup bahagia dengan istrinya. Dari hari ke hari, isterinya begitu baik melayani pria ini bak seorang Raja. Sangking senangnya, ia terus berdoa kepada dewa agar dapat diberikan seorang anak. Ia bersyukur karena dewa telah mengabulkan doanya. Pria ini begitu menyayangi isterinya.

Istrinya pun bahagia karena dulu ia begitu miskin sehingga harus berkerja keras untuk menghidupi keluarganya. Namun, satu hal yang terus membuat isterinya semakin curiga darimana suaminya ini mendapatkan emas-emas, sementara suaminya tidak pernah bekerja. Tentu hal ini berbeda dengan falsafah kehidupan yang diajarkan keluarganya, kita akan dapat mempertahankan kehidupan dengan bekerja. Sedangkan isterinya tidak pernah melihat suaminya bekerja.

Sampai suatu saat, ia mengintip perilaku suaminya di dalam kamar. Ia terkejut ketika diketahuinya suaminya dapat mengubah benda menjadi emas. Ia pun berpikir bahwa suaminya pastilah seorang siluman. Manusia seperti apa yang dapat mengubah suatu benda menjadi emas jika ia pasti seorang siluman. Ia pun takut dan memutuskan untuk meninggalkan suaminya. Pantas saja, tidak boleh ada yang tinggal di dalam rumah megahnya ini, pikirnya.

Saat bergegas membawa barangnya keluar dari rumah, suaminya memanggilnya. Pria itu berseru “Mau kemana kau? Malam-malam begini membawa tas dan barang-barangmu…” Isterinya kaget melihat kehadiran suaminya. Ia pun berteriak-teriak menjuluki suaminya dengan kata ‘Siluman’.

Pria yang dipanggil Siluman itu kaget melihat perilaku isterinya. Ia begitu sayang kepada isterinya. Apa yang menyebabkan isterinya menuduhnya sebagai siluman?  Ia tidak ingin kehilangan isteri yang begitu disayanginya. Jika yang dimaksud siluman adalah perilakunya mengubah benda menjadi emas, tentu ia akan menjelaskannya.

Segera pria ini menarik tangan istrinya, ia berkata “Tolong… mengertilah!” pintanya. Tentu saja, isterinya langsung diam dan terbujur kaku, tidak bergerak. Pria ini takjub dan sedih ketika dilihatnya sang isteri sudah menjadi patung emas dengan posisi memalingkan muka, hendak berlari dan sebelah tangannya sedang dipegang oleh suaminya. Pria ini pun menangis dan merintih memanggil sng isteri untuk hidup kembali. Apalah daya, sang isteri telah menjadi patung emas.

“Tidak… Tidak….Jangan ambil Istri yang kusayangi ini!” teriak pria itu yang memeluk patung emas isterinya

Sambil menangis, berlari cari pertolongan kepada penduduk di desa itu. Ia mengetuk rumah dan memegang tangan tetangganya sambil meminta pertolongan. Tak lama kemudian, ia mendapati tetangganya itu menjadi patung emas. Ia terkejut.

Ketika dilihatnya seseorang menjadi Patung Emas karena perilaku Pria kaya yang meminta pertolongan itu maka seluruh penduduk desa menjauhi dan melempari Pria ini dengan batu. Seluruh penduduk desa mengira Pria ini adalah siluman yang berhasil mengubah seseorang menjadi patung emas.

Pria yang meminta pertolongan itu pun kabur karena dilempari batu. Ia pun diusir dari desa itu. Pria ini begitu sedih dan bingung. Malang benar nasibnya, ia telah kehilangan istrinya. Kini ia telah kehilangan seluruh miliknya.

Begitu merana nasib Pria ini. Ia pun tidak berani kembali ke Desanya dulu dimana ia dilahirkan. Ia malu karena telah berpikir buruk terhadap mereka. Ia juga telah mengingkari janjinya untuk mengadakan syukuran jika ia sudah memiliki uang.

Ia begitu sedihnya sehingga hidupnya terlunta-lunta. Pria Bertangan Emas itu pun mati sia-sia karena kesedihannya. Apalah artinya hidup berkelimpahan harta jika harus kehilangan cinta dari orang yang kita sayangi.

 

***

Kakek yang mendongeng dengan pesan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari apa yang kita miliki tetapi apa yang kita rasakan. “Nak, kau akan bahagia karena hatimu bahagia. Bukan apa yang kau pakai atau apa yang kau miliki” seru Kakek sambil menutup kisah dongengnya.

Harta tidak menjamin seseorang akan hidup bahagia.

Ketamakan seseorang akan harta telah menutup arti cinta yang sesungguhnya yang berarti rela untuk mengorbankan apa yang kita miliki bagi orang lain.

Jika seseorang ingin berhasil tentu harus bekerja keras.

“Nak, uang bukan segala-galanya dalam hidup tetapi segala-galanya dalam hidup memerlukan uang. Jadi manfaatkan uang yang kau dapatkan dengan bekerja keras sebaik mungkin” pinta kakek kepada cucunya.

“Kek, falsafah yang diajarkan oleh gadis yang menjadi isteri pria itu. Bahwa kita dapat mempertahankan hidup dengan bekerja”  jawab si cucu menanggapi kisah dongeng Kakeknya.

“Ada satu hal lain yang menarik dari kisah ini selain pesan-pesan tadi” kata kakek menimpali cucunya.

“Apa?” tanya cucunya.

“Bahwa memang benar kamu dapat mempertahankan kehidupan dari apa yang kamu peroleh tetapi sesungguhnya kamu dapat menciptakan kehidupan jika kamu belajar memberi kepada orang lain. Dan itulah arti cinta sesungguhnya” kata Kakek kepada cucunya. “Tidurlah, sudah malam. Semoga kamu dapat memetik pengalaman berharga dari kisah pria bertangan emas ini” seru kakek sambil menyelimuit cucunya.

Kakek kemudian mematikan lampu di kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Ia menutup pintu kamar cucunya. Ia berharap cucunya dapat memahami tentang pesan moral dari kisah dongengnya itu.

dibuat oleh: AR (160808)

CERPEN: Dibawah Patung Bunda Maria

???????????????????????????????
Patung Bunda Maria di dalam gereja. Sumber foto: Dokumen pribadi

 

Waktu menunjukkan pukul 19.10 wib tetapi misa minggu sore belum berakhir. Resah. Itulah yang dirasakan oleh Perempuan itu. Ia pun bergegas membereskan teks misa dan buku Puji Syukur di hadapannya. Perempuan itu berdecak lagi, menggoyang-goyangkan kedua kakinya naik turun, menggumam sambil menengok kanan kiri. Ia berharap akan ada orang yang akan segera berkomentar, mendukung keresahannya akan waktu misa yang lama. Hasilnya nihil. Perempuan itu malah merasa dipandang aneh oleh jemaat yang duduk dalam satu barisan yang sama dengannya.

Perempuan itu kembali melihat jam tangan di tangan kirinya. Lima menit telah berlalu. Dia semakin tidak tahan untuk segera meninggalkan gereja. Ia meraih tas mungil warna merah, yang selalu sering dibawanya. Buru-buru, Perempuan itu meninggalkan bangkunya. Ia sengaja duduk di bangku panjang paling pinggir. Ia nyaman duduk di pinggir bangku dibandingkan di tengah. Ia tidak perlu merasa malu jika harus meninggalkan misa sebelum waktunya. Maklum, ritual terakhir sebagai tanda berakhirnya misa adalah pengucapan berkat dan perutusan dari Imam. Namun, kadang-kadang ada pula umat yang sudah meninggalkan gereja setelah waktu komuni tanpa menunggu doa penutup, pengumuman dan berkat dari Imam.

Segera Ia membuat tanda salib, sedikit membungkuk dan berlutut di ujung bangku. Ia bermaksud pamit dan meninggalkan gereja. Kemudian, Perempuan itu bergerak bangkit namun Ia begitu berat berdiri. Tas merahnya yang terbuat dari bahan rajutan tangan tersangkut oleh paku di pinggir bangku panjang. Perempuan itu menarik tasnya. Tidak berhasil. Ia kembali menarik paksa tasnya. Tentu, umat yang duduk di sekitar bangku dimana perempuan itu tadi duduk, langsung melihat reaksi perempuan itu. Beberapa remaja perempuan seperti berbisik dan tertawa cekikikan memperhatikan tingkah perempuan itu. Perempuan itu tertunduk malu sambil berjalan menuju pintu gereja.

Suara selop tingginya sempat menjadi perhatian umat yang berada di sekitar pintu keluar. Perempuan itu menutup mukanya dengan rambutnya. Ia sengaja untuk menguraikan rambut panjangnya agar menyamarkan wajahnya. Sebenarnya, Perempuan itu tidak perlu menyembunyikan wajahnya. Toh, sebagian umat telah mengenalinya dari tingkah polanya yang tidak pernah mengakhiri misa sesuai waktunya. Perempuan itu selalu pergi meninggalkan gereja sebelum misa berakhir. Atau lebih tepatnya, Perempuan itu akan pergi keluar gereja saat waktu pengumuman.

Perempuan itu bergegas mengambil air suci yang disediakan di samping pintu. Ia mengambil air suci dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tas merahnya. Ia sempat menyesali mengapa insiden tas tadi terjadi. Namun, Ia langsung melupakannya begitu tangan kanannya memegang dahi, menyentuhnya dengan air suci yang diambilnya. Setelah dahi, Ia sedikit menyentuh dadanya lalu ujung bahu kanannya dan diakhiri dengan menyentuh ujung bahu kirinya. Ia merasa nyaman dengan tanda yang dibuatnya. Tanda salib itu telah dikenalnya sejak Ia mulai belajar bicara. Bahkan saat masih kecil dulu, Ia membuat tanda salib sambil menyanyikannya.

Beberapa umat yang duduk di dekat pintu tampak memperhatikan Perempuan itu. Ia sempat gugup untuk menuruni tangga halaman gereja. Entah apa yang membuatnya gugup, Ia sampai tidak memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di hadapannya. Ia hampir menabrak seorang anak perempuan yang berusia lebih kurang 3 tahun. Anak perempuan itu langsung menangis. Anak itu menangis bukan karena jatuh atau tertabrak oleh Perempuan itu. Anak itu menangis karena melihat orang asing di hadapannya. Apalagi Perempuan itu sempat menyentuh tangannya dan meminta maaf kepada anak itu. Anak itu memang belum mengerti apa artinya maaf tetapi yang dilihatnya adalah orang asing. Seorang ibu langsung buru-buru menghampiri anak perempuan itu. Ibu itu membungkuk, mengambil anak itu dalam pelukannya dan pergi meninggalkan Perempuan yang telah membuat anaknya menangis itu dengan wajah tidak simpatik.

Kini semakin banyak umat yang duduk di luar gereja memperhatikan perilakunya yang telah membuat anak menangis. Perempuan itu semakin menundukkan kepalanya dan membiarkan rambutnya semakin menutupi wajahnya. Pikirnya pasti karena pakaian yang saat ini sedang dikenakannya. Ia sengaja mengenakan gaun merah selutut dan sedikit ada sulaman manik, bila berada di tempat gelap maka akan berkilau-kilauan. Gaun itu adalah kesukaannya sama seperti warna merah yang menjadi favoritnya. Benarkah warna merah berarti menandakan pusat perhatian? Padahal, Perempuan itu sudah menutupi lengan putihnya yang mulus dengan kardigan hitam. Ia pun merasa sopan karena Ia menutupi bagian dadanya dengan kancing-kancing kardigan. Tidak layakkah orang semacam dia untuk hadir di rumah ibadah yang suci ini.

Sambil membelokkan langkah menuju Gua Maria yang berada di bawah gereja. Ia terus berpikir mengapa umat memperhatikannya. Bunyi selop hitamnya semakin nyaring terdengar ketika Imam bersiap untuk memberikan berkat dan perutusan. Selop itu adalah pemberian seorang pria yang mengagumi kecantikannya. Selop itu sederhana. Namun, selop itu terlihat indah saat Perempuan itu mengenakannya. Bisa jadi karena Perempuan itu berkulit putih mulus. Bisa jadi karena selop itu berharga mahal dan belum tentu ada umat yang sanggup membelinya dan merasa iri memperhatikannya. Bisa jadi selop itu mampu membentuk tubuhnya terlihat seksi sehingga umat memperhatikannya. Stop pikiran negatif itu!, pikir perempuan itu.

Ia menuruni anak tangga yang menuju Gua Maria. Sebagai orang katolik, Ia meyakini betul keberadaan Bunda Maria, Ibu Yesus, dalam hidupnya. Hanya Bunda Maria-lah yang masih menerimanya. Tidak orangtuanya. Bukan sahabat-sahabatnya. Apalagi pasangan hidupnya. Semua menolaknya. Apakah umat yang tadi memperhatikannya tahu apa yang sedang dirasakannya? Tidak mungkin. Stop! Itulah yang disarankan oleh Romo itu. Kita harus bisa berpikir positif apapun kondisinya. Perempuan itu menarik napas dan berdiri memandangi Patung Bunda Maria dalam Gua gelap yang diterangi oleh sebuah lampu. Suasana syahdu langsung merasuki Perempuan itu.

Perempuan itu bergegas mencari tempat yang tepat untuk berdoa kepada Bunda Maria. Namun, Ia kecewa. Di depan Gua Maria tampak 2 orang remaja putri sedang duduk sambil asyik bercerita. Dasar ABG, pikir perempuan itu. Perempuan itu merasa dahulu Ia tidak seperti itu. Ia begitu sopan di dalam gereja. Ia tidak berani bicara sedikitpun. Ia ingat Ibunya akan mencubit pahanya jika Ia ketahuan berbisik kepada adiknya. Cubitan ibu akan selalu membekas berhari-hari baginya karena rasanya perih sekali. Mulai saat itu, Perempuan itu tidak berani lagi mencoba berbisik apalagi bercerita dalam gereja. Perempuan itu menarik napas lagi, mendesah karena bingung menyaksikan keinginannya yang gagal.

Ia bergumam. Ia kesal. Mulai terdengar deru mesin motor yang dinyalakan. Letak Gua Maria memang tidak jauh dari lokasi parkir motor. Perempuan itu juga bingung, mengapa letak Gua Maria tidak di tempat sunyi sehingga umat bisa berdoa dengan khusyuk. Atau, mengapa tidak ada tulisan untuk dilarang berbicara di area wilayah Gua Maria. Atau, memang salahkah jika berdoa di Gua Maria saat misa berakhir. Perempuan itu memang baru pertama kalinya hendak berdoa di Gua Maria. Selama ini, Perempuan itu akan segera keluar gereja dan langsung menuju lokasi parkir mobil, yang lokasinya berada di halaman sekolah katolik, dekat dengan gereja. Perempuan itu berpikir kemungkinan untuk berdoa di Gua Maria di hari kerja saja. Ia akan menyempatkan waktu untuk mampir di gereja dan berdoa kepada Bunda Maria selama mungkin. Ia ingin Bunda Maria memahami  kesulitan yang dihadapinya. Ia ingin Bunda Maria tahu bahwa manusia manapun di dunia ini sulit menerima kenyataan pahit seperti dirinya. Ia menyesal saat ini Bunda Maria belum mengetahui apa yang sedang dirasakannya.

Perempuan itu melangkah menjauhi Gua Maria. Ia berjalan menuju Gedung Pertemuan, bangunan berlantai tiga yang berisi ruang-ruang pertemuan. Entah mengapa Perempuan itu tidak ingin cepat-cepat pulang. Ia ingin merefleksikan diri. Begitu kata Romo kepada Perempuan itu. Refleksi akan membantu kita mengenali siapa kita dan apa saja hal-hal yang sudah kita lakukan. Kita akan menarik pembelajaran dari pengalaman hidup kita. Kita akan belajar untuk tidak melakukannya jika itu salah, dosa, mengecewakan hati Tuhan dan sesama. Tanpa sadar, Perempuan itu sudah menarik salah satu kursi dari tumpukan kursi.

Ia menarik kursi itu di sudut ruang pertemuan lantai 1.Ruang itu memang gelap dan hanya diterangi oleh seberkas cahaya lampu gereja yang letaknya lebih tinggi dari lantai 1 Gedung Pertemuan. Ia melihat sekeliling lokasi duduknya. Tidak ada orang. Ia menyilangkan kaki kanannya, bertumpu pada kaki kirinya. Tangan kanannya sibuk mencari sesuatu di dalam tas, sementara tangan kirinya memegang tas merah mungil miliknya. Ia lega telah berhasil menemukan benda yang dicarinya. Lalu, Perempuan itu mengeluarkan korek dan berhasil menyalakan 1 batang benda putih yang tadi dicarinya. Ia menghirup ujung benda putih itu dalam-dalam, mengepulkan asap putih dari mulutnya dan menikmati setiap hirupan dari benda putih itu. Perempuan itu memonyongkan bibirnya yang berwarna merah oleh lipstik.

Refleksi! Aku harus refleksi, pikir Perempuan itu. Pembelajaran. Perempuan itu mengingat kembali pengalaman pahitnya hingga Ia bisa terinfeksi HIV. Mustahil. Enam bulan lalu, ia berkenalan dengan seorang pria di sebuah mall. Ia kagum pada kesopanan pria itu. Ia tertarik oleh setiap topik pembicaraan yang ditawarkan pria itu. Tentang cinta. Cinta memang menghanyutkan. Karena cinta, ia lupa bahwa dirinya telah bersuami dan memiliki dua orang putri yang cantik-cantik. Karena cinta, ia sampai menyerahkan segala waktu dan tenaga untuk menemani pria itu berpergian ke Bali. Karena cinta, ia sampai membohongi suaminya. Karena cinta, ia melupakan fungsinya sebagai ibu bagi kedua putrinya. Sampai suatu saat, pertengkaran itupun terjadi. Antara dirinya dengan suaminya. Dan karena cinta, suami dan anak-anaknya kini meninggalkan dirinya. Cinta siapakah? Kepada Pria pembawa virus itu? Stop! Berpikir positif. Lagi-lagi, ia teringat dengan pesan romo itu.

Perempuan itu kembali meraih kotak yang membungkus benda putih itu. Ia meraih benda putih panjang kedua kalinya. Ia menyalakan korek dan meletakkan apinya pada ujung benda itu. Ia menghela napas panjang. Ia mulai memikirkan kata-kata si konselor yang mengajaknya berkonsultasi sebelum dilakukan tes. Ia akan selalu ingat kalimat ini, pernahkah ibu melakukan perilaku berisiko? Perilaku berisiko. Seks di luar nikah.

Cepat-cepat Perempuan itu mematikan api benda putih panjang itu. Ia menekan ujungnya di pinggir kursi. Ia bergegas keluar ketika didengarnya suara-suara beberapa orang memasuki lantai 1 itu. Mungkin akan ada pertemuan, pikirnya. Perempuan itu berjalan ke Gua Maria. Ia berharap kali ini tidak gagal lagi untuk berdoa kepada Bunda Maria. Ia merapikan roknya yang terlipat ke belakang, mengebaskan kardigan dengan tangannya agar tidak tercium bau rokok. Ia keluarkan botol spray pewangi mulut, disemprotkannya hingga 2 kali ke dalam mulutnya.

Seperti harapannya, kini Gua Maria itu begitu sepi. Hanya 1 orang pria berumur empat puluhan tahun memegang butir-butir rosario sambil mulutnya berkomat-kamit. Pria itu berdiri di dekat pohon tetapi sedikit menjorok ke dalam sehingga tidak terlihat jika diperhatikan dari luar Gua Maria. Bunda Maria, inikah kesempatanku bertanya padaMu?

Ia bingung harus bagaimana memulai permohonan atau doa atau apa saja yang menjadi keluhannya kepada Bunda Maria. Ia sudah lupa berdoa rosario seperti yang dilakukan bapak itu. Tidak mungkin mengawalinya dengan doa rosario. Ia tidak bawa rosario.

Bunda, itulah kata pertama yang disebutnya. Tiba-tiba air mata menetes dari kedua belah matanya, mengalir dan terasa asin di bibirnya. Bunda, kata kedua disebutnya. Tangisnya semakin tidak tertahankan lagi. Tas merah mungilnya melorot dari pegangan tangan kirinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menutup rasa malunya pada Bunda Maria. Menutup tangisnya yang semakin meluap tak tertahankan. Menutup kepedihan yang semakin dirasakannya. HIV, kata itu terbayang dalam benaknya.

Perempuan itu segera duduk di hadapan Gua Maria. Ia tidak lagi memikirkan kotor atau tidak tempat yang didudukinya. Bagi Perempuan itu, dirinya lebih kotor dari debu tempat pijakan duduknya. Di depan Gua Maria, Perempuan itu menangis tersedu-sedu.

Terbayang oleh Perempuan itu, peristiwa saat ia menabrak anak itu. Anak itu menangis bukan karena disakiti atau terluka. Ia menangis karena disentuh oleh orang asing. Ia langsung teringat bahwa dirinya tidak terluka atau disakiti. Ia menangis karena virus yang menjadi ‘orang asing’ telah menyentuh tubuhnya. Mengapa harus dirinya yang terinfeksi HIV padahal ia hanya sekali berhubungan intim dengan pria yang dikenalnya enam bulan lalu? Ya, hanya sekali saja tetapi Perempuan itu sungguh-sungguh menikmatinya dan menyesali sesudahnya.

Lebih Banyak mana, Lajang atau Sudah Berkeluarga?

wp-image-2077371113

Setiap saya berbicara dengan teman-teman mengenai pengeluaran akhir bulan, selalu muncul perdebatan antara mereka yang sudah menikah dengan orang yang belum/tidak berkeluarga. Jika saya tanya pada teman yang sudah menikah dan berkeluarga, mereka mengatakan kepada saya: “Wah, kamu itu enak belum berkeluarga. Kamu belum berpikir untuk membiayai keluarga. Kamu belum mengeluarkan biaya untuk susu anak atau pendidikan anak.” celetuk seorang rekan yang sudah memiliki 2 anak. Lain lagi dengan teman saya, “Duh, jika boleh mengulang waktu, lebih baik saya menikah jika sudah mapan. Kamu tahu tidak? Hidup berkeluarga itu tidak mudah. Kamu harus menanggung dua orang sekaligus, belum anak. Lalu, kamu harus memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.” keluh temanku satu lagi mengenai pengeluarannya di akhir bulan.

 

Lantas, bagaimana dengan pendapat  teman yang belum menikah tentang pengeluaran mereka? Saya coba bertanya dengan rekan Pria yang belum menikah. “Siapa bilang hidup single itu tidak banyak pengeluaran?. Gaji saya saja dipakai untuk membiayai keluarga. Padahal orangtua saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari pekerjaannya dan sewa kontrakan.”

Ada lagi rekan saya yang berpendapat, “Meskipun kita belum menikah, An. Kita masih bertanggungjawab dengan keluarga kita. Lalu, kita harus menanggung biaya hidup kita sendirian. Seandainya kita sudah menikah, toh biaya hidup kita ditanggung berdua dengan suami.”, komentar temanku perempuan yang masih melajang di usianya yang ke-33 tahun.

 

Saya bingung karena pada dasarnya pendapat teman yang sudah menikah dengan yang belum menikah hampir serupa. Mereka punya banyak alasan mengenai rincian pengeluaran. Saya pun berpikir bahwa menikah adalah solusi keuangan. Artinya, hidup saya terjamin dengan kehadiran suami. Tapi apakah itu benar? Ataukah, apakah asumsi saya itu salah?

Saat masih skripsi dulu, saya sempat membahas mengenai teori perkawinan dimana salah satu alasan orang untuk menikah adalah ekonomi sehingga kehadiran pasangan diharapkan dapat meningkatkan status sosial ekonomi juga.

Saya memang belum menikah. Saat ini, saya sempat berpikir untuk ‘melarikan’ tanggungjawab saya dari keluarga saya dengan menikah. Saya berpikir, saya akan menikahi Pria yang mapan secara ekonomi. Saya pun berpikir, keluarga saya tidak akan mengutak-atik keuangan saya karena malu dengan pihak suami.

 

Rasanya cukup untuk menjadi ‘sandaran’ keluarga. Atau, Tuhan sendiri telah mengatur keuangan kita bahkan menempatkan kita pada posisi pekerjaan yang pas sehingga menyadari bahwa kita masih menanggung biaya hidup keluarga.

Kemarin ketika ke Karawang, saya diantar oleh supir yang disewa oleh Pihak Kantor. Sepanjang perjalanan, kami berbincang tentang kondisi ekonomi yang saat ini sedang mengalami krisis. Saya juga bertanya tentang kehidupan supir ini, Apa yang terjadi? Saya terkejut mendengarkan jawabannya. Supir ini memang sudah berkeluarga. Tetapi, ia mengatakan bahwa dengan berkeluarga atau menikah, pengeluaran dapat ditanggung berdua bahkan lebih baik saat kita belum menikah. Segala sesuatu dapat dibicarakan berdua dengan pasangan. Apalagi, saat ini, istripun harus diberi kepercayaan untuk mengelola keuangan dan suami pun dipercayai dalam pekerjaannya.

 

Di akhir perbincangan kami, saya menyimpulkan bahwa baik hidup melajang atau menikah, Tuhan sudah merencanakan bahwa kehidupan kita cukup, tidak berkekurangan. Jika belum menikah, wajar jika kita berbakti kepada orangtua dengan mendukung keluarga kita secara ekonomi. Sepanjang kita membantu keluarga saat belum menikah, tidak akan membuat kita menjadi miskin. Namun, kita perlu tetap memperhitungkan apa yang menjadi hak kita untuk menabung demi masa depan.

Sementara, bagi mereka yang sudah berkeluarga, kehadiran pasangan akan membantu kita berkompromi dalam mengatur ekonomi bersama. Bersama pasangan, kita dapat merencanakan yang terbaik untuk anak-anak kelak. Tentunya, kepercayaan kepada pasangan dalam mengelola keuangan adalah kunci agar keharmonisan hubungan dapat terus terjalin.

 

Akhirnya, saya menyadari, bahwa bersyukur adalah kunci semua itu, baik sudah menikah atau belum. Bersyukur akan mampu meruntuhkan kita dari prasangka mana yang lebih baik, melajang atau berkeluarga. Kita tidak akan bisa menghitung secara matematis mengenai pengeluaran yang lebih baik antara sudah menikah atau belum, karena semuanya didasari oleh syukur.

 

November 2008

Ukuran kebahagiaan terletak di hati

wp-image-1421451147

Hidup memang indah namun tidak seindah saat menjalaninya. Begitu mudah orang mengungkapkan keindahan hidup namun sulit untuk menjalani hidup dengan indah. Kadang terpikir, apakah keindahan hanya terbersit di angan semata? Ataukah, keindahan hidup terjadi saat kita sedang mengalami kesenangan, puas ketika keinginan atau harapan kita tercapai. Apa benar itu makna keindah hidup yang sesungguhnya?

 

Saya tidak puas jika saya belum mendapatkan anu. Saya bangga jika saya bisa memperoleh anu. Saya yakin bahwa saya akan bahagia jika saya mampu menjadi anu. Dan sebagainya. Segudang harapan dan impian kita tentang hidup.

 

Apakah pernyataan di atas adalah cerminan bahwa hidup sejatinya akan menjadi indah, jika kita memiliki atau menjadi anu? Tentu tidak. Hidup memang dibentuk oleh harapan. Ada pepatah mengatakan bahwa manusia dapat bertahan hidup beberapa hari jika tidak makan, manusia dapat bertahan hidup beberapa jam jika tidak minum namun manusia tidak dapat bertahan hidup jika ia tidak memiliki harapan.

 

Lantas, apakah harapan ditentukan oleh sesuatu atau seseorang? Apakah dengan menjadi atau memiliki, impian atau harapan kita terwujud? Jawabannya tidak. Kita tidak akan pernah puas untuk mencapai harapan jika harapan itu ditentukan oleh sesuatu atau seseorang. Sesuatu atau seseorang hanyalah ukuran yang diciptakan oleh masyarakat kita.

 

Lihat, betapa banyak orang mudah putus asa, depresi, gangguan jiwa bahkan bunuh diri hanya karena tidak terpenuhinya ukuran yang diciptakan oleh masyarakat itu. Jika harapan tidak menjadi objektif, bagaimana harapan itu dapat diraih?

 

Jawabannya, harapan dapat diraih karena unsur subjektivitas. Hanya diri kita saja yang dapat menyadari apakah harapan kita sudah terpenuhi atau tidak. Harapan terletak di hati nurani. “Saya berharap akan bahagia.” Harapan bahagia bagaimanakah yang akan kita raih? Tentunya, hal ini kembali kepada kita sendiri. Kebahagiaan diukur dari hati bukan dari sesuatu yang berada di luar pribadi kita.

 

October 2008