Kreasi Sendiri (33): Kue Nagasari Tampak Eksotis dengan Daun Pisangnya yang Susah Ditemukan

Kue nagasari atau kue pisang yang dijajakan di malam budaya.
Kue pisang tampak eksotis di Eropa karena rasa dan pembungkusnya.

Sebagaimana yang saya janjikan tempo lalu bahwa saya menyediakan kue pisang atau yang disebut kue nagasari saat acara malam budaya di kampus. Cerita saya sebelumnya adalah saya berhasil mencoba kue pastel pakai puff pastry, tetapi saya berpikir ulang untuk menyajikannya. Akhirnya resep kue pastel ini dipakai kelompok mahasiswa dari Thailand.

Mengapa kue nagasari? Bisa jadi pertanyaan itu muncul dalam benak anda. Pemilihan kue nagasari menurut saya tak mudah sebagaimana sulitnya mencari daun pisang untuk membungkus kue nagasari. Bukan tanpa alasan, saya memilih kue nagasari untuk ditampilkan dalam malam budaya. Ternyata mereka suka dengan kue buatan saya.

Ini alasan pemilihan kue nagasari. Pertama, kue ini bisa diterima oleh berbagai kalangan baik vegan, vegetaris atau pemakan segala. Kue ini berisi tepung beras, sedikit tepung maizena, santan kelapa dan diberi irisan pisang. Tentu kue nagasari bisa dirasakan di semua lidah karena rasanya sederhana. Bagaimana pun di sini kami perlu menjelaskan apa yang menjadi deskripsi isian makanan yang dijajakan.

Alasan kedua, kue nagasari itu ternyata punya makna filosofinya sebagai salah satu jajanan pasar di Indonesia. Kue ini konon dahulu disajikan sebagai makanan untuk para tamu terhormat kerajaan. Belakangan diketahui siapa pun bisa menikmati kue nagasari karena pembuatannya yang sederhana. Bahkan kue nagasari tidak luput dari acara budaya di pulau Jawa. Kue nagasari dianggap simbol ketulusan hati karena warnanya yang putih.

Kue nagasari dipandang punya filosofi tradisi Jawa sehingga menjadi salah satu jajanan pasar.

Alasan berikutnya, kue nagasari tampak menawan dalam balutan daun pisang. Untuk mendapatkan daun pisang di sini, itu tidak mudah. Saya harus memesannya secara online. Daun pisang yang saya peroleh import dari negeri Thailand.

Kue nagasari menjadi misteri tersendiri bagi pengunjung yang datang. Apalagi tampilan kue nagasari menjadi khas dan unik ketika mereka sendiri baru pertama kali mencicipi kue nagasari. Mereka terkesan dan suka dengan rasa kue nagasari yang sedikit manis, gurih dan sederhana. Enak, kata mereka!

Alasan terakhir nih, aroma kue nagasari itu memang berbeda. Daun pisang ternyata membantu memberi aroma alami pada makanan yang dibungkusnya. Tak hanya itu, saya juga menambahkan daun pandan saat merebus santan sebelum dicampurkan tepung. Anda bisa membayangkan bahwa daun pandan itu memberi aroma yang enak untuk citarasa jajanan nusantara.

Jangan tanya saya lagi, bagaimana saya juga bisa mendapatkan daun pandan! Itu pastinya butuh perjuangan juga. Sama seperti daun pisang, daun pandan pun dipesan khusus sehingga wangi kue nagasari itu alami dan mengesankan.

Setelah berjibaku membuat kue ini, saya senang bahwa saya berhasil membuatnya dengan baik. Semua suka dengan rasa dan tampilan kue nagasari ini. Saya bangga bisa memperkenalkan kue ini kepada mereka yang belum pernah makan kue nagasari sebelumnya, apalagi ada juga yang belum pernah berkunjung ke Indonesia.

Makanan Khas Asia (56): Korean Food Gimbap, Lalu Adakah Bedanya dengan Sushi?

Gimbap bisa diisi sesuai selera anda.
Gimbap yang saya nikmati di pasar pagi di Seoul, Korsel. Gimbap dibalut minyak wijen pada rumput laut. Ini juga membedakannya dengan sushi.

Hallo pecinta makanan Korea, saya kembali lagi mengulas makanan yang mungkin tertarik mencoba atau anda sudah pernah mencicipinya barangkali. Jika anda pernah ke Korea Selatan (Korsel) maka anda akan tahu gimbap itu begitu mudah dijumpai. Gimbap yang saya bahas ini diperoleh dari teman mahasiswa asal Korea Selatan yang memperkenalkannya dalam acara malam budaya di kampus, tempat saya belajar di Jerman.

Pernahkah anda makan gimbap?

Jika dilihat lebih dekat, maka anda perhatikan bahwa ini seperti sushi.

Atau pernahkah anda menikmati sushi, makanan khas Jepang?

Jika anda perhatikan sekilas, gimbap itu mirip dengan sushi ‘kan? Ketika teman asal Korsel ini sedang merencanakan untuk membuatnya, dia bermaksud meminjam sushi maker yang saya punya. Dalam artikel tersebut, saya bercerita bagaimana membuat sushi dengan bantuan alat tersebut, yang saya beli Jerman. Itu berarti sushi dan gimbap, sama atau beda?

Ternyata saya tidak sendiri. Ada sejumlah teman mahasiswa lain yang juga bertanya, apakah gimbap itu sama dengan sushi? Kebetulan satu orang mahasiswa berjaga dan memberikan satu per satu makanan asal negaranya, yang menjadi tanggungjawabnya. Dari penjelasannya, saya menjadi tahu bahwa sushi dan gimbap terdapat perbedaan. Penasaran ‘kan?

Gimbap bisa juga disebut kimbap. Mungkin kimbap terasa familiar, sedangkan bagi orang Korea lebih menyebutnya gimbap, hanya karena pengejaannya saja. Baik gimbap maupun kimbap adalah sama. Tetapi gimbap itu berbeda dengan sushi, makanan khas asal Jepang. Sushi sendiri sudah tak asing lagi di Jakarta, Indonesia. Ada banyak gerai sushi yang membuka bisnisnya. Saya kerap mencicipinya dahulu saat saya masih di Jakarta.

Gimbap di atas disajikan dua pilihan, yakni vegetaris dan non vegetaris. Untuk vegetaris terdapat telur dan sayuran di dalamnya. Sedangkan gimbap isian non vegetaris terdapat ikan dan daging. Gimbap menggunakan beras sedangkan untuk sushi biasanya menggunakan beras sushi khusus. Di supermarket di sini tersedia pilihan beras sushi yang memang berbeda dari beras pada umumnya. Itu sudah menjelaskan perbedaannya dengan sushi.

Disebut gimbap karena gim berarti rumput laut yang membungkusnya. Seperti yang anda lihat, tiap gimbap dibungkus dengan rumput laut. Sedangkan bap dimaksudkan dengan beras. Dari asal kedua kata ini maka makanan ini dikenal gimbap. Sedangkan orang luar Korsel lebih mengejanya menjadi kimbap.

Perbedaan lainnya juga pada saat kita membumbui sushi dan gimbap. Sushi bisa dibumbui dengan saus yang sedikit kecut seperti cuka dan wasabi. Ini sudah jelas membedakan antara sushi dan gimbap. Gimbap biasa dinikmati dengan minyak wijen. Gimbap terasa lebih manis, sedangkan sushi tidak.

Jika anda bertanya, manakah yang lebih dulu otentik gimbap atau sushi? Saya sendiri pernah mengulas bagaimana Korsel itu merupakan perpaduan dua budaya Tiongkok dan Jepang yang pernah menguasai negara tersebut. Kedatangan bangsa Jepang di masa lalu bisa jadi mempengaruhi kuliner di Korsel. Tentang kunjungan saya ke Korsel, bisa dicek di artikel-artikel sebelumnya.