Mengapa Pria Bukan Pendengar yang Baik?

Diorama masa perang di Vietnam. Sumber foto: Dokumen pribadi

Hey, pria apa benar begitu bahwa kalian tidak suka mendengarkan? Menurut pengalaman saya, tidak semua pria berlaku demikian. Namun sebagian besar ya. Kini saya cari tahu mengapa pria tidak suka mendengarkan kekasih atau isterinya. 

Di bawah ini adalah hasil pandangan saya:

1. Perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita 

Wanita adalah makhluk yang ekspresif, mereka bisa bercerita apa saja kepada teman atau kekasihnya. Ahli komunikasi menyatakan bahwa jumlah kata yang disampaikan perempuan tiap hari lebih banyak daripada pria. Wanita berkomunikasi tidak langsung, cenderung berbelit-belit atau tidak to the point. Sementara pria tidak suka itu. 

Belum lagi wanita juga suka berbicara di luar konteks atau topik yang disepakati. Misalnya, wanita mengatakan bahwa kita perlu membicarakan liburan keluarga. Lalu apa yang selanjutnya disampaikan oleh wanita adalah liburan orang lain, bukannya alasan kita perlu liburan atau kemana tujuan liburannya. Hal ini yang membuat pria malas mendengarkan wanita berbicara.

Perbedaan gaya komunikasi dapat diatasi jika wanita tahu siasat dan strateginya agar pria mau mendengarkan.

2. Tipe visual 

Jika pria suka wanita seksi berlekuk, itu wajar. Kebanyakan pria bertipe visual, yang berarti mereka lebih mengutamakan visualisasi/penglihatan ketimbang mendengarkan, bertipe auditoris. Untuk menarik perhatiannya, anda tinggal mematikan televisi, cari ruang yang sepi hingga pria tidak bisa melihat kanan kiri saat berbicara dengan anda. Jadikan anda pusat perhatian sehingga pria konsentrasi dan jadi pendengar yang baik.

Beruntung sekali jika anda mendapatkan pria bertipe auditoris yang mau mendengarkan keluhan atau curhat anda. Namun itu jarang sekali.

3. Tidak sabar
Pria yang suka mendengarkan wanita adalah pria yang sabar. Mereka tahu bahwa wanita banyak bicara dan ‘it takes the time‘ merasa hanya menghabiskan waktu saja bilamana mendengarkan wanita. Sebaiknya anda sebagai wanita tidak berbelit-belit saat berkomunikasi dengan pacar atau suami anda. 

Pria merasa wanita cenderung membahas hal yang sama dan pria sudah tahu jawaban permasalahan tersebut. Pria menjadi tidak sabar ketika apa yang dibicarakan wanita sudah diketahui jawabannya. 

So para pria, apa anda setuju dengan pendapat saya di atas?

Mengapa Sulit Jadi Pendengar yang Baik?

Di suatu sore, seorang anak bertanya pada ibunya:

Anak : Ibu, mengapa kau selalu mendengarkan aku berbicara?

Ibu : Karena aku ingin tahu tentang keseharianmu dan apa saja yang kau lakukan, nak.

Anak : Mengapa temanku tidak suka mendengarkan aku bicara di kelas?

Ibu : Tentu, kau tidak boleh bicara saat dalam kelas. Kita tidak mungkin memahami dengan baik, jika ada dua orang bicara. Jadi jika kau ingin memahami pelajaran di kelas, jadilah pendengar yang baik.

Anak : Baik, Bu. Itu sudah sering aku lakukan hanya saja mengapa temanku itu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan?

Ibu : Apa yang kau katakan pada temanmu?

Anak : Aku bilang Klara itu terlihat suka makan, lalu temanku ini mengatakan kepada Klara bahwa aku mengejeknya gendut. Oh ibu, aku tidak berkata demikian. Akhirnya Klara marah padaku.

Ibu : Kau sudah jelaskan pada Klara soal itu?

Anak : Aku sudah berusaha tetapi Klara tidak mau jadi pendengar yang baik seperti ibu.

Ibu : Kau tahu Nak, kunci agar orang mau mendengarkanmu adalah pilihlah apa yang ingin didengarnya.

Anak: Mungkin bu. Seperti yang disampaikan Maria padaku, Klara ingin aku minta maaf.

Ibu : Yups, awali kalimatmu saat mendekati Klara dengan kata ‘maaf’ dengan begitu kau sudah curi perhatiannya untuk diam dan mulai mendengarkanmu. Umumnya setiap orang mendengarkan apa yang dipilihnya untuk didengar. Tidak ada yang seratus persen orang benar-benar mengucapkan secara sempurna dan tepat apa yang baru didengarnya. Seperti yang kau katakan pada temanmu tentang Klara, suka makan tidak serta merta gemuk ‘kan?

Anak : Ya Bu.

Ibu : Jadi jangan mudah percaya apa yang temanmu katakan yang berasal dari orang lain! Jika informasi itu belum benar namanya gosip. Karena mereka yang bergosip bisa menambahkan atau mengurangi fakta yang didengarnya. Ini juga alasan orang sukar jadi pendengar yang baik, nak.

Anak :  Baik bu, itu berarti ibu menjadi pendengar yang baik karena ibu percaya padaku ‘kann?

Ibu : Ya, kunci jadi pendengar yang baik adalah kepercayaan. Dengan begitu, jangan mudah menaruh kepercayaan dengan bercerita masalah pribadimu kepada orang lain! Sebaiknya jika ada masalah, ceritakan pada orang yang kamu percayai, Nak atau ke Tuhan dengan berdoa. Jangan suka mengumbarnya pada orang lain!

Anak : Baik Bu, karena pada dasarnya kita tidak mudah menjadi pendengar yang baik ya.

***

Kata orang itu sambil bercerita mengenang masa kecilnya. “Sekarang aku jadi begini bahwa aku adalah orang yang tidak suka mengumbar segalanya kepada orang lain atau media sosial. Segalanya diceritakan pada yang dipercayai atau kepada Tuhan,” katanya sambil matanya basah berlinang. Ia menyimpan perkaranya dalam hati.

Lalu ia menutup percakapan kami dengan berkata, “Jika yang kamu lihat masih persepsi, dilihat dari berbagai sudut pandang, dan apa yang kamu dengar bisa saja masih opini, mengapa mudah kau jadikan itu sebagai informasi. Kemajuan komunikasi dan informasi tidak serta merta kau terima sebagai kenyataan, pelajari dulu. Ada data baru bicara,” tegasnya. Ia pun berlalu.

 

 

 

 

 

Mendengarkan dengan Penuh Perhatian

Pernahkah anda menjadi tumpuan curhat seseorang? Apakah anda termasuk orang yang suka mendengarkan atau sekedar mendengar?

Dalam kehidupan sehari-hari kerap saya harus mendengarkan dengan penuh perhatian orang yang saya kenal ketika mereka bercerita pengalaman dan perasaan yang sedang dihadapinya. Ada yang mengatakan mendengarkan yang baik adalah mereka yang mampu menjadi pendengar aktif, tetapi disini saya hanya berbicara bagaimana kita belajar mendengarkan dengan penuh atensi. Mereka yang mampu mendengarkan dengan penuh atensi dipastikan akan sering dimintai bantuan untuk menjadi teman sharing atau bertukar pendapat mengenai permasalahan yang dihadapi seseorang. Meski bukan berlatarbelakang Konselor, tetapi naluri kemanusiaan kita pun diuji untuk belajar mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sebenarnya ketika seseorang sedang mulai bercerita, hal terpenting yang mereka perlukan hanya didengarkan, tidak lebih. Jika mereka bertanya tentang solusi masalah, itu adalah bentuk umpan balik mereka apakah kita cukup paham masalah yang sedang mereka hadapi. Sesungguhnya pun, solusi terhadap masalah mereka bukan di tangan kita. Mereka sendirilah yang seharusnya menemukan solusi terhadap persoalan mereka sendiri. Jadi belajar siapkan “telinga” yang lebar ketika kita mendengarkan dengan penuh perhatian.

Berikut langkah-langkah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian:

1. Empati
Pertama-tama empati diperlukan agar kita benar-benar memahami persoalan yang sedang mereka hadapi. Empati adalah bagaimana kita menempatkan diri seolah-olah kita mengalami dan merasakan seperti yang dialaminya. Dengan demikian, kita menjadi mudah memahami situasi persoalan yang dihadapi, kesedihan, kesulitan, keputusasaan, penderitaan, dsb. Respon yang bisa diberikan seperti, “Saya bisa memahami apa yang kamu alami.”; “Oh, jika saya seperti kamu pasti keadaannya juga sulit ya.” Gunakan bahasa tubuh yang menyentuh seperti sentuhan, pelukan dan sapaan sehingga kita seolah-olah turut merasakan apa yang sedang mereka alami.

2. Tidak menggurui
“Seharusnya kamu jangan bersikap begitu, kamu harus lebih tegas. Lebih berani terhadap dia.” Demikian adalah contoh respon dari menggurui yang mungkin muncul terhadap sikap kita. Bila kita ingin mendengarkan dengan penuh perhatian, menggurui bukan dari bagian respon yang diharapkan mereka. Toh kita pun tidak ingin orang lain mendikte perilaku kita ketika pengalaman buruk sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Setiap orang berusaha untuk menjadi dirinya sendiri, meksi mereka dalam keadaan sulit sekali pun. Kita dapat menekankan bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan, yang berlalu biarlah berlalu. Respon yang bisa kita berikan kepada mereka seperti mengulang pernyataan mereka sehingga mereka dapat menemukan kembali solusi untuk diri mereka sendiri. Misalnya, “Kamu bilang bahwa dia tidak suka kamu membeli makanan di restoran? Lalu menurut kamu sebaiknya bagaimana?”; “Jadi orangtua kamu tidak setuju jika kamu mengambil jurusan kuliah itu. Apa yang seharusnya kamu lakukan untuk meyakinkan mereka?”

3. Tidak memberikan penilaian atau menghakimi secara mendasar
Saat mendengarkan dengan penuh atensi, emosi kita pun diuji agar kita tetap tenang dan stabil menghadapi situasi yang sedang mereka hadapi, tidak ikut terpancing. Terkadang kita lebih mudah ikut serta terbawa emosi naluriah karena ingin segera memberi solusi atau penilaian terhadap apa yang baru saja didengar. Ingatlah bahwa kita baru saja mendengarkan secara sepihak dan kita pun tidak berhak untuk menghakimi persoalan yang baru saja didengar. Bersikaplah netral dan tidak terlibat dengan situasi yang sedang bergejolak.

4. Mendorong untuk berbicara lebih lanjut
Buatlah mereka senyaman mungkin untuk bercerita dan berbicara lebih terbuka, ketimbang anda lebih banyak berbicara. Yakinkan mereka dengan bahasa tubuh dan respon yang hangat seolah-olah anda adalah orang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan cerita mereka. Jangan biarkan anda terpancing untuk menceritakan pengalaman serupa! Buatlah anggukan kepala, sentuhan dan respon umpan balik yang menandakan anda mengerti permasalahan merereka.

Bagaimana? Tertarik untuk mempraktekkannya? Selamat mendengarkan dengan penuh perhatian!