Geburthaus Bruder Konrad: Mengunjungi Rumah Bersejarah Bruder Konrad dari Parzham

Rumah kelahiran bruder Konrad tampak depan.
Tampak muka pintu masuk.

Siapa itu bruder Konrad? Pastinya pertanyaan ini muncul dalam benak anda. Saya pun demikian awalnya, karena saya pun baru tahu sosok bruder ini setelah datang ke Altötting lalu kemudian saya berkunjung ke rumah bersejarahnya. Gerburthaus bisa diterjemahkan sebagai rumah tempat seseorang dilahirkan. Namun pertama-tama, siapa itu bruder Konrad? Silahkan baca artikel sebelumnya di sini!

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/04/altotting-bavaria-2-bruder-conrad-siapa-dia/

Rasa penasaran saya muncul saat saya melewati desa kelahiran bruder ini. Saya mampir sebentar ke rumah bersejarah bruder konrad yang menyimpan banyak kenangan dan misi beliau terhadap kemanusiaan.

Ketika tiba, ada sekelompok peziarah lanjut usia yang kebetulan juga sedang berkunjung ke situ. Tampak bis wisata memenuhi parkir depan yang tak luas. Rumah bersejarah ini terdiri dari beberapa bagian yakni rumah keluarga bruder sejak ia lahir, kapel, ruang pameran dan audio, ruang makan untuk tamu peziarah. Tiap hari rumah ini selalu didatangi peziarah yang ingin mengetahui profil orang kudus ini atau memang ingin berdoa melalui perantaraannya.

Rumah kayu tempat kelahirannya dibangun tahun 1750 dan punya ciri khas rumah Bavaria tampak menghiasi di depan. Bruder Konrad berasal dari keluarga petani yang cukup mapan di masa itu. Bruder Konrad lahir pada tahun 1818. Dia menghabiskan masa kecil yang indah di rumah itu sebagai anak kesebelas dari dua belas bersaudara. Jika melihat dari rumah ini, mereka memiliki sejumlah pekerja untuk mengerjakan ladang. Sedangkan bruder Konrad adalah anak lelaki yang seharusnya mendapatkan warisan dari kekayaan orangtuanya.

Ruang makan sekaligus ruang keluarga. Ini seperti ciri khas rumah Bavaria era 1800-an.
Kamar tidur bruder Konrad yang sederhana. Hanya tampak tempat tidur dan meja belajar. Di situ tampak patung Bunda Maria, lilin dan kitab suci.
Jubah dan alas kaki bruder Konrad semasa hidupnya.
Wilayah pelayanan bruder Konrad di seluruh dunia. Di Indonesia ada di pulau Flores.

Ia sendiri menolak hidup berkecukupan dan memilih panggilan hidup sebagai biarawan. Dia memilih ordo Fransikan dengan jubah cokelat tua dan sepatu sandal yang sudah usang. Semasa hidup dia banyak menghabiskan pelayanan untuk orang miskin dan mendoakan orang-orang yang datang padanya. Ia wafat tahun 1894. Selanjutnya karya bruder Konrad diteruskan kepada para biarawan yang terpanggil untuk melayani kaum papa dan miskin di seluruh dunia.

Rumah kelahiran ini menjadi tempat kunjungan ziarah dan terbuka untuk umum pada tahun 1970-an. Suasananya dibangun sedemikian rupa sehingga tampak seperti dulu kala. Tempat ini juga gratis dikunjungi. Jika ada kelompok peziarah biasanya ada misa harian dan penayangan film dokumenter.

Hari raya bruder Konrad diperingati setiap tanggal 21 April. Namanya juga banyak dipakai untuk gereja, sekolah dan komunitas pelayanan umat di Jerman.

Altötting, Bavaria (4): Stiffpfarkirche St. Philip und Jacob, Gereja Tua Bersejarah

Gereja dan kedua menaranya tampak dari kejauhan.


Melanjutkan kisah perjalanan ziarah terbesar umat Katolik di Altötting, Jerman maka tiba kami di Stiffpfarkirche, Santo Philipus dan Santo Yakobus. Gereja ini terletak di seberang Gnadenkappele, The Chapel of Grace atau di sebelah selatan kapel Black Madonna. Kubahnya ada dua seperti kembar, layaknya Gereja Frauenkirche di Munich.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Baca https://liwunfamily.com/2013/08/19/wisata-gratis-di-muenchen/

Gereja ini termasuk bangunan tertua sekitar abad 9 sudah berdiri. Namun mengingat masih satu kompleks ziarah, Gereja ini direnovasi bergaya Gothic. Ciri khasnya terletak pada menara atau kubah Gereja yang tajam runcing. Ini menjadi ciri banyak bangunan di Bavaria. Saya bisa temukan bangunan Gothic lain semisal Rathaus di Munich.

Langit Gereja dibangun bergaya gothic yang runcing.

Altarnya yang klasik masih terpelihara sampai sekarang.

Organ lama sejak tahun 1724.

Merenovasi Gereja ini dimulai dari tahun 1488 hingga 1508. Padahal abad 13, Gereja ini sudah resmi menjadi paroki sendiri. Sebagian bangunan sudah sejak lama ada, namun ada juga bangunan baru yang kemudian ditambahkan pada abad 16. Selain menara Gereja yang runcing dengan tinggi 48 meter, ciri khas lain dari Gereja ini adalah banyaknya peninggalan sejarah yang menyimpan memori kematian.

Itu sebab Paus Benedictus XVI menjadikan Gereja ini sebagai harta warisan Kekristenan yang patut dipelihara. Seperti bangunan yang bertahan sejak lama, abad 9 dan kemudian Altar klasiknya yang menjadi pusat perayaan Ekaristi. Ada pula organ, alat musik di Gereja ini yang sudah ada sejak tahun 1724. Namun lebih dari itu, Gereja ini menyimpan sejarah kematian.

Apa itu?

Der Tod von Edding (Altötting)

Manusia suatu saat pasti mati. Ini yang menandai Tod von Altötting, yakni patung mekanik dengan gigur tengkorak setinggi 50 sentimeter ditempatkan di kayu berlapis perak yang tinggi. Patung populer ini  sudah ada sejak abad 17 mengingatkan wabah penyakit yang pernah melanda Eropa Tengah. Jika anda mengingat sejarah yang pernah dipelajari dulu di sekolah, penyakit pes melanda juga area ini pada masa itu.

Wabah ini mendatangkan musibah kematian banyak orang. Mereka percaya musibah berhenti ketika manusia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu sebab Gereja ini disebut Gereja Pertobatan. Meski ini sebuah legenda tentang kematian, namun dentang patung yang dimainkan “Tod von Edding” seperti jam ini menandai bahwa manusia akan mati di suatu waktu.

Den Toten Der Kriege

Lanjut adalah Salib besar tergantung dengan Bunda Maria di bawah kaki Yesus dengan wajah berduka. Ini adalah prasasti dari nama-nama mereka yang menjadi korban perang dunia pertama, 1914-1918 dan perang dunia kedua, 1939-1945. Tak hanya itu, di sini juga terdapat  nama-nama mereka yang dianggap hilang oleh keluarga. Ini bisa menjadi sejarah suram bahwa kekejian perang tidak akan terulang lagi.

Krippenopfer

Patung Yesus Bermahkota Duri tampak berduka.

Daftar nama yang terbunuh pada April 1945 yang dikenang dan dihormati


Berlanjut ke sudut lain bangsal Gereja, adalah sebuah patung Yesus Berkepala Duri yang terlihat berduka. Kedukaan ini digambarkan karena di sini, pada April 1945 telah terjadi penembakan terhadap mereka yang dikenal berjasa, termasuk pemimpin kota Altötting pada masa itu. Di depan patung terdapat Salib dan beberapa lilin yang digunakan untuk berdoa kepada mereka yang tewas tertembak. Ini dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati mereka yang gugur pada masa perang dunia kedua.

Tak jauh dari situ tertulis sejumlah nama-nama mereka yang wafat karena perang di masa lampau. Sebuah Jahreskrippe milik Gereja, yakni diorama yang berisi figur tentang kejadian kelahiran Yesus Kristus. Hingga digambarkan wafatNya, dengan Salib besar tergantung di sekitar itu.

Bangsal Gereja.

Kapel yang terletak di atas.

Begitu luasnya bangsal Gereja, ada tangga menuju ke kapel kecil di atas. Di situ, siapa pun bisa berdoa meski tak luas tempatnya. Bunda Maria digambarkan berwajah duka. Lanjut ke area lain, menjorok ke bawah ada semacam tiga peti orang yang sudah meninggal terbuat dari lapisan perak. Tak ada informasi siapa yang terkubur di situ.

Gereja tua bersejarah ini menyimpan berbagai misteri kematian baik dikarenakan wabah penyakit maupun korban perang dunia. Itu semua menandai misteri ilahi bahwa suatu saat manusia pasti kembali kepada Sang Pencipta. Pintu Gereja pun terbuka bagi siapa saja yang datang untuk berdoa dan memohon rahmat dari Tuhan.

Semoga bermanfaat!

 

Altötting, Bavaria (2): Bruder Konrad, Siapa Dia?

Figur Bruder Konrad di dekat biara, tempat tinggalnya. 

Petunjuk di kompleks perziarahan Altötting.

Prasasti menandai kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1980.

Prasasti menandai kunjungan Paus Benedictus XVI asal Jerman tahun 2006.

Sewaktu berkendara melewati wilayah Bad Griesbach Bavaria, ada informasi tertulis ‘Geburthaus Bruder Konrad’ dengan papan petunjuk untuk menuju jalan ke dalam. Dalam hati bertanya, siapakah Bruder Konrad tersebut? Hingga pemerintah setempat mengabadikan rumah kelahirannya untuk dikunjungi. Pada akhirnya, saya tahu Bruder Konrad ketika mengunjungi Altötting, kompleks perziarahan di Jerman. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Bruder Konrad dari ordo Fransiskan kini sudah menjadi santo atau orang yang dikuduskan karena perilaku kesalehannya dan juga banyak orang meyakini doa-doanya terkabul melalui perantaraan beliau. Beliau lahir pada abad 19 dari keluarga petani yang cukup berada. Dia pun memutuskan untuk tidak menerima warisan keluarga dan memilih untuk hidup selibat dalam pelayanan dari ordo Fransiskan.

Selama lebih dari 40 tahun, Bruder Konrad melakukan pelayanan di Altötting dengan kehidupannya yang saleh dan bijaksana. Dia banyak menolong dan membantu orang miskin dan kelaparan. Kecintaannya pada pelayanan yang dilakukannya selama di Altötting membantu banyak orang untuk mengenal Black Madonna. Ia wafat pada tahun 1894.

Tempat tinggal Bruder Conrad semasa hidupnya tampak jendela kedua dari kiri.

Karena biara tinggal sedang diperbaiki, diorama masa hidup Bruder Conrad menggambarkan pelayanannya pada orang miskin dan kelaparan sekitar abad 19.

Diorama kedua bahwa hidup Bruder Conrad diisi dengan berdoa dan tirakat yang saleh.

Pada tahun 1930, Paus Pius XI mengangkat Bruder Konrad sebagai Beato berkat kejadian mujizat yang banyak dibuatnya dan kesaksian banyak orang. Empat tahun kemudian, sederetan daftar kesaksian orang-orang yang pernah berdoa melalui perantaraannya membuat Paus Pius XI mengangkatnya menjadi santo.

Di kompleks perziarahan Altötting anda bisa mendapatkan rumah tinggal Bruder Konrad semasa hidupnya. Saat saya datang, tempat ini sedang direnovasi dan tertutup. Ada juga miniatur yang menggambarkan kehidupan dari Bruder Konrad semasa hidupnya. Bahkan replika jenazahnya diletakkan di Basilika Santa Anna sebagai bentuk penghormatan.

Nantikan selengkapnya, Basilika Santa Anna di Altötting!❤

 

Altötting, Jantung Bavaria Jerman (1): Black Madonna dan Hati Raja Ludwig II di Gnadenkappelle

Salah satu lukisan di kapel.

Black Madonna replika yang saya beli di toko sovenir.

Black Madonna replika di kartu pos sebagai sovenir.

Welcome December!!!

Jika Perancis punya Lourdes, Italia punya Vatikan dan Portugal punya Fatima maka Jerman punya Altötting, tempat ziarah bagi umat Katolik.

The chapel of Grace atau Gnadenkappelle.

Petunjuk larang mendokumentasikan gambar selama di dalam kapel.

Suasana dinding bangunan dipenuhi berbagai lukisan kreasi banyak orang sebagai ungkapan pengalaman iman.

Bagaimana orang melukiskan pengalaman iman mereka lewat lukisan atau foto? Indah!

Jangan tanya berapa jumlah lukisan ini! Ini semacam pengalaman iman yang diekspresikan lewat lukisan menghiasi sekitar kapel.

Altötting menjadi terkenal sebagai jantung kota Bavaria, negara bagian Jerman. Mengapa? Karena di kapel ini terdapat hati Raja Bavaria, Ludwig II yang disimpan dalam guci perak sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Saya tidak tahu diletakkan dimana, saya baru mengetahuinya setelah keluar dari kapel. Lagipula saya tidak bisa ambil gambar selama di dalam kapel, ada larangan di pintu masuk kapel. 

Anda tahu siapa Raja Ludwig II? Silahkan kembali pada cerita Kastil Neuschwanstein yang pernah saya pos sebelumnya.

Baca https://liwunfamily.com/2014/02/24/kastil-dongeng-cinderela-jerman-munich-neuschwanstein/

Beratus tahun lamanya, orang berziarah ke sini sebagai tempat religius untuk menghormati Bunda Maria, yang dikenal dengan sebutan Black Madonna atau dalam Bahasa Jerman disebut “Die schwarze Madonna.” Patung Bunda Maria Hitam yang bisa disebut begitu dalam Bahasa Indonesia, adalah sebuah patung kayu Bunda Maria yang memiliki makna spriritualitas bagi umat Katolik.


Sejak tahun 1250, tempat ini sudah dibuka sebagai tempat pencarian spiritualitas yang datang ke Jerman. Diyakini sering ada mujizat terjadi bila berdoa di sini. Itu sebab anda menemukan berbagai orang dengan segala kebutuhan dan keinginan yang datang dan memohon rahmat melalui perantaraan Black Madonna ini.

Berawal dari kisah seorang ibu yang berduka karena anaknya tak terselamatkan di sungai karena tenggelam. Si ibu pun membawa anaknya dan berdoa di hadapan patung Black Madonna kemudian anaknya berhasil terselamatkan. Cerita berbagai mujizat juga menyebar ke banyak orang yang mengalami kesaksian setelah berdoa di sini. 

Mereka pun datang membuat lukisan dan membuat kreasi menghiasi kapel ini. Kapel yang disebut Chapel of Grace atau Gnadenkapelle, telah menyimpan berbagai misteri kehidupan bahwa Tuhan hadir menolong mereka yang datang kepadaNya. Itu sebab nama kapel ini, The Chapel of Grace atau Gnadenkappelle.

Ada petunjuk larangan dokumentasi di depan pintu kapel. Selain untuk menjaga kekhusukkan orang berdoa, tentu ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang datang untuk berdoa. Karena kapel yang tak luas, anda perlu antri satu per satu untuk berdoa dan masuk ke dalam. Di dalam terlihat banyak benda-benda rohani berkilau emas dan sebagian terkena asap kebakaran.

Dinding kapel.

Sisi lain dinding kapel.

Lukisan yang berhasil saya rekam.

Sederhana, namun menyentuh.

Apa yang terjadi?

Diceritakan pada tahun 900 ada sekelompok orang yang datang membakar kapel ini dan biara di sekitar. Hampir seluruh bagian tak terselamatkan, hanya patung Black Madonna yang selamat meski terbuat dari kayu dan benda-benda rohani seperti yang anda saksikan di dalam kapel. Meski terbuat dari kayu, namun patung tersebut tidak terbakar hanya terlihat warna hitam menyelimuti seluruhnya. Itu sebab dinamakan Black Madonna. Ini adalah bukti mujizat pertama. Selebihnya banyak orang datang berdoa melalui perantaraan Bunda Maria dan memohon keajaiban dalam hidup mereka.

Kapel ini juga menjadi saksi tragedi kemanusiaan periode 1939-1945. Dan Bunda Maria melindungi umatNya. 


Kapel ini menjadi destinasi utama ziarah jutaan umat Katolik dari seluruh dunia tiap tahun. Tak heran, tempat ini tak pernah sepi untuk menerima mereka yang datang dengan berbagai kebutuhan dan keluh kesah. 

Setiap orang punya pengalaman spiritual yang disebut sebagai keajaiban atau mujizat atau apa lah dalam hidupnya. Dan saya pun mengalaminya melalui pengalaman iman dalam hidup. 

Saat datang ke dalam kapel ini, ada aura magis yang membuat siapa saja merasa bermakna dalam hidup bersama Tuhan. Tidak bisa diungkapkan tetapi itu benar terjadi. Itu sebab tidak ada dokumentasi di dalam.

Nantikan cerita saya yang lain di Altötting!❤