Amsterdam (9): 5 Alasan Mengapa Banyak WNI Berkunjung

Seniman asal Belanda bernama G. Bredero yang diabadikan patungnya, dekat Niuewmarkt.
Sudut kota Amsterdam kala musim dingin.

Banyak alasan mengapa Warga Negara Indonesia (WNI) bisa berkunjung ke Belanda. Negara ini sudah dikenal ratusan tahun lalu di tanah air dan sebagian peninggalan jejak negeri Holland juga mudah ditemukan di pejuru Indonesia. Ya, negeri Belanda tak asing lagi bagi saya, warga Indonesia. Begitu melekatnya hubungan Indonesia dengan Belanda, wisatawan bisa berkunjung ke restoran Indonesia di pusat kota Amsterdam dan beberapa kota besar di Belanda.

Baca: 10 Destinasi wisata bila berada di Amsterdam

Hal menarik lainnya adalah ketersediaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dari sightseeing tour yang ditawarkan di sini. Mungkin pengelola wisata tahu bahwa warga negara Indonesia menjadi wisatawan dominan atau artinya jumlahnya meningkat. Sementara saya belum menemukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam sightseeing tour. Hal ini pasti ada alasan mengingat jumlah kunjungan wisatawan Indonesia yang mampir ke Amsterdam.

1. Alasan keterkaitan sejarah masa lalu

Multatuli Huis.

Siapa yang tak kenal negeri Belanda jika kita adalah warga negara Indonesia. Dalam pelajaran di sekolah atau tayangan film dokumenter sejak kita masih anak-anak tentang sejarah bangsa, Belanda adalah negara yang tak lepas dari masa lalu. Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang anak perempuan usia dua belas tahun yang berlibur bersama keluarganya ke Penang, Malaysia. Bahasa inggrisnya bagus. Karena kami menginap di hotel yang sama maka saya mengenalnya. Lalu dia tertarik untuk bertanya banyak hal pada saya setelah dia tahu bahwa saya berasal dari Indonesia. Rupanya pelajaran di sekolahnya pun tak lepas dari sejarah di Indonesia. Saya pun mengamini bahwa saya pun belajar hal saya sama soal sejarah Indonesia yang pernah menjadi negeri koloni dari Belanda.

2. Alasan penerbangan yang langsung

Dari Jakarta tersedia penerbangan langsung ke Amsterdam.

Apa yang menyebabkan Amsterdam menjadi magnet bagi warga Indonesia? Alasan praktis adalah soal penerbangan. Dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng ke Amsterdam Airport Schiphol tersedia jalur penerbangan langsung. Ini yang memudahkan orang seperti saya misalnya memilih jalur pertama ke Amsterdam dulu baru kemudian melanjutkan destinasi lainnya di Uni Eropa.

3. Alasan kuliner

Kejunya itu enak sekali!

Saya sempat berpikir bahwa kuliner nusantara itu mendapatkan pengaruh juga dari negeri Holland. Sebut saja makanan perkedel, pancake, semur, kroket dan kue cubit. Begitu pun ketika saya di Amsterdam, restoran Indonesia dan toko tentang bahan pangan Indonesia itu tersebar di banyak tempat. Kenalan asal Jerman menyebutkan indonesisch rijsttafel perlu dicoba saat berada di Belanda. Rupanya ini adalah hidangan seperti kita makan di restoran padang. Sebagai orang Jerman, hidangan itu menarik disajikan secara bersamaan.

4. Alasan kunjungan keluarga

Patung Perempuan dengan Selendang di Amsterdam.

Begitu dekatnya Indonesia dengan Belanda hingga saya mendapati banyak kenalan yang punya sanak keluarga tinggal di Belanda. Itu sudah saya dengar dan dapati sejak saya masih tinggal di Indonesia. Karena alasan kekerabatan tersebut maka Amsterdam menjadi impian destinasi untuk dikunjungi setelah berkunjung ke kerabat dan sanak keluarga di Belanda.

5. Alasan wisatanya yang banyak pilihan dan ramah turis

Selalu saja ada tempat wisata baru di sini, contohnya ini.
Science Museum juga menarik untuk disambangi.

Bagi penyuka museum, rasanya anda perlu ke Amsterdam. Aneka macam museum menarik ada di sini. Tentu anda masih ingat cerita lima museum seperti museum sex atau museum canabis di sini. Banyak pilihan menarik tersedia untuk wisatawan. Kota ini ramah turis dan penduduknya pun bisa bahasa inggris dengan baik.

Baca: 5 Museum yang bisa dipertimbangkan untuk dikunjungi

Alasan lain pun mungkin masih ada lagi, seperti alasan seni misalnya. Sedangkan yang lain bisa saja menyebut alasan studi karena ada tawaran dari lembaga penyedia beasiswa yang memberi kesempatan untuk studi lanjutan di Amsterdam. Pastinya anda juga punya alasan tersendiri, mengapa perlu berkunjung ke Amsterdam?

Amsterdam (8): 10 Destinasi Wisata Berbayar Hingga Gratis, Hanya dengan Berjalan Kaki

Belanda memang bukan Amsterdam saja, tetapi kecantikan kota ini seperti magnet untuk datang.
Canal night tour Amsterdam bisa anda pilih di musim dingin untuk mendapatkan pengalaman terbaik. Tampak belakang Basilika Santo Nikolaus.

Kami berencana jam 9 pagi sudah keluar hotel dan mulai menjelajah pusat kota Amsterdam. Apa daya, ini musim winter dimana jam 8 pagi masih terasa gelap dan begitu sepi. Rasanya kami pun masih ingin diam di kamar yang nyaman sembari menikmati sarapan pagi. Kami tak perlu khawatir juga untuk menjangkau destinasi wisata karena jarak hotel dengan pusat kota begitu dekat hanya dengan berjalan kaki.

Nah, sepuluh tempat berikut adalah destinasi wisata turis bilamana datang ke Amsterdam. Anda tak perlu keluar uang taksi, sewa sepeda apalagi membawa kendaraan. Cukup berjalan kaki, semua bisa dijangkau. Sepuluh tempat ini ada yang gratis tetapi ada pula yang berbayar. Semua pilihan ada di tangan anda.

1. Dam Square

National monument.
Delman di area Dam Square.

Pemberhentian pertama adalah semacam alun-alun kota dimana warga bisa bertemu dan berekspresi. Seperti saat kami datang, di sisi tengah ada orang yang mencari uang dengan membuat pertunjukan akrobat. Di sisi lain, pertunjukkan budaya suatu negara yang ramai. Dam Square dikenal juga sebagai meeting point untuk sightseeing tour di Amsterdam. Dam Square ditandai National Monument sebagai peringatan perang dunia kedua. Monumen tersebut dibangun tahun 1956.

Dam Square letaknya di pusat dan strategis. Di sini pula orang bisa melakukan unjuk rasa/demonstrasi atau acara yang melibatkan massa. Di sini pula dulu menjadi terminal trem, kendaraan seperti kereta yang melintas di jalan raya. Dam Square juga menjadi tempat berlangsungnya pasar jelang natal. Karena dulu area ini dikenal sebagai market square.

2. Museum kota Amsterdam

Pintu masuk.
Lorong menuju kafe museum.

Jika anda datang ke Amsterdam, tempat kedua yang wajib dikunjungi adalah museum kota. Museum ini berisikan tentang Amsterdam masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Enam ratus tahun lalu, bangunan museum ini semula adalah biara kemudian abad 16, bangunan dialihfungsikan menjadi panti asuhan yang menampung ribuan anak. Tahun 1975 fungsi panti asuhan direlokasi yang selanjutnya menjadi Amsterdam Museum. Museum ini berisi lebih dari soal sejarah Amsterdam di masa lalu, tetapi ada seni, budaya dan kebiasaan orang-orang di sini abad per abad.

Contohnya adalah kedatangan Napolleon Bonaparte ke Amsterdam.

Tidak hanya museum, di sini ada kafe dan teras yang sunyi untuk pengunjung di tengah hiruk pikuk kota Amsterdam. Anda bisa menikmati secangkir kopi dan kue-kue negeri Holland yang enak itu atau Heinaken bir mungkin. Museum buka tiap hari mulai dari jam 10 pagi dengan tiket masuk seharga 15€. Jika anda punya I am amsterdam city card maka anda gratis masuk.

3. Royal Palace

Royal palace dari seberang jalan, yakni area shopping centre.
Raja dan Ratu Belanda.

Royal Palace adalah tempat wajib yang dikunjungi di kota-kota besar di Eropa. Pasalnya ini tidak hanya menggambarkan kehidupan monarki pada jaman dulu kala tetapi bangunan istana memang berkesan dan menarik menjadi objek foto. Di depan royal palace seperti alun-alun kota yang tak pernah sepi turis. Selalu ada atraksi yang menarik minat wisatawan atau area berkumpulnya para warga.

Maket istana.

Istana ini didirikan abad 17 dengan gaya arsitektur klasik. Di sini pula terdapat balai kota pemerintahan kota yang diusung sejak dikenal Dutch Golden Age. Bangunan bercorak kuning ini memiliki interior yang melambangkan prestise dan kekusaan. Lebih jelasnya, anda bisa berkunjung ke sini pada jam operasional buka dengan membayar tiket 10€ per orang. Jika anda punya tiket museum terusan maka anda gratis berkunjung.

4. Madame Tussauds

Madame Tussauds di kota Amsterdam.

Tak jauh letaknya dari Royal Palace adalah museum lilin Madame Tussauds. Meski ada banyak museum Madame Tussauds, namun di Amsterdam pastinya ada yang berbeda dan menarik. Saya tidak masuk ke dalam museum karena saya pikir ini kurang lebih sama saja seperti museum madame tussauds yang pernah saya kunjungi di kota lain. Tiket masuknya pun bisa digabung dengan tiket Amsterdam Light Festival.

5. Central Station

Stasiun kereta utama yang besar dan megah di malam hari.
Stasiun yang bersebrangan dengan pusat informasi turis.

Dikutip dari laman informasi turis, setiap harinya diperkirakan sekitar seperempat juta orang lalu lalang melewati stasiun utama Amsterdam. Stasiun ini termasuk yang terbesar dari bandara udara Amsterdam yang ditransfer ke berbagai stasiun di wilayah lain di Belanda. Amsterdam central station juga menjadi titik terminal moda transportasi di ibukota Belanda ini. Stasiun ini pertama kali dibuat dan resmi digunakan pada abad 19 akhir.

Jika anda sudah tiba di stasiun ini, anda bisa mudah membeli tiket moda transportasi umum lainnya. Anda juga bisa langsung mendatangi pusat informasi turis yang letaknya di seberang stasiun. Dari sini juga anda bisa langsung menuju stasiun lain di belahan Belanda lainnya.

6. Zeedijk

Zeedijk Buddhist temple.
Restoran di Niuewmarkt.

Lokasi wisata selanjutnya adalah area chinatown yang dijadikan pusat kuliner selera asia, rumah ibadah seperti klenteng dan sovenir. Area ini cukup luas untuk dijelajahi, saya dan suami hanya mampir sebentar mengingat kami salah jalan yang pada akhirnya menemukan tempat ini. Letak chinatown dekat dengan Nieuwmarkt. Area ini mudah dikenali karena terdapat banyak restoran selera asia dan toko-toko sovenir. Sebenarnya ini kurang tepat juga disebut area pecinan mengingat ada juga warga asia lainnya semisal Thailand dan Indonesia misalnya yang juga berusaha di situ.

7. Pasar bunga atau Bloemenmarkt

Lengkapnya!
Sovenir juga aneka macam dijual di sini.

Sebagaimana anda tahu bahwa Amsterdam dikenal sebagai kota yang cantik karena dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah. Selain musim dingin, anda akan melihat cantiknya bunga-bunga bermekaran di Amsterdam. Tentu anda tak akan lupa bunga tulip yang menjadi kebanggaan warga Holland. Cek juga museum tulip yang pernah saya ulas sebelumnya.

Di Amsterdam saja terdapat beberapa lokasi pasar atau toko bunga. Ada masanya dahulu bunga Tulip menjadi kebanggaan warga di sini. Itu pula yang menyebabkan usaha tidak hanya menjual bunga saja, melainkan ada bibit bunga, pupuk hingga hiasan untuk taman. Saya dan suami membeli salah satu hiasan taman rumah belakang karena berkebun juga menjadi aktivitas sebagian orang Jerman diluar musim dingin.

Contoh sovenir yang dijual.

Area bloemenmarkt di jalan Singel Amsterdam menjadi perhatian turis seperti saya. Kami bisa melihat dan mengamati aneka bunga, perlengkapan berkebun hingga kebutuhan aksesoris lainnya. Di sini juga menjadi sentra penjualan buah tangan yang bisa dijadikan sovenir. Oh ya, anda juga bisa menikmati aneka kafe dan kuliner di sekitar sini. Kami pun mampir menikmati poffertjes yang pernah diulas sebelumnya.

8. Rembrandt square park dan museum

Dari kejauhan.
Dari dekat.

Rembrandt museum juga menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi, tetapi kali ini saya mengajak anda untuk melihat area rembrandt park yang menjadi ajang warga untuk berfoto ria. Pasalnya di sini ada patung miniatur yang menjadi spot turis berfoto. Saya sendiri tidak masuk ke museum Rembrandt. Kami akhirnya memilih berhenti dan di area park terdapat jajanan street foods yang bisa dicoba.

9. Magere Brug

Jembatan cinta.

Ini adalah jembatan romantis yang dijuluki sebagai ‘The Amsterdam Kissing Bridge” yang menawan di malam hari saat musim dingin. Jembatan ini menjadi salah satu ajang aktraksi saat Amsterdam Light Festival Show yang saya ceritakan sebelumnya. Magere Brug adalah jembatan kecil di atas Sungai Amstel yang terkenal. Jembatan ini menghubungkan tepi sungai di Kerkstraat, antara Keizersgracht dan Prinsengracht yang terkenal di pusat kota.

Saya mengetahui mitos “jembatan cinta” dari film drama dengan setting di kota Amsterdam yang ditayangkan di Jerman. Karena film itu, saya pun jadi tahu tentang jembatan yang sebenarnya tampak biasa saja. Kemudian penjelasan juru mudi sekaligus pemandu wisata dalam boat tour memperkuat dugaan mitos tersebut. Hal ini sebagai informasi agar anda tidak heran setibanya di jembatan ini, mungkin ada pasangan yang berciuman sebagai tanda kasih dan mempercayai mitos ini. Mitos bagi pasangan yang berciuman di bawah jembatan ini maka cinta mereka abadi.

10. Shopping Centre

Sebagian gang berbelanja yang selalu ramai.

Tempat terakhir diperuntukkan bagi pecinta shopping atau berbelanja yang luas dengan berbagai merek dunia. Anda bisa dipuaskan untuk memilih barang kesukaan anda di sini dengan tetap memperhatikan anggaran yang tersedia di dompet anda. Tak hanya berbelanja, anda bisa mengamati lalu lalang orang dengan menikmati secangkir kopi dan pancake Holland yang enak di kafe di sini.

Have a nice day!

Amsterdam (7): Begijnhof, Kisah Desa Tradisional di Pusat Kota

Sebagian besar didominasi bangunan abad 17 dan 18.
Ini area yang tidak boleh dimasuki turis.
Tak ada penjelasan siapa patung ini, mungkin ini adalah Cornelia Arents, the beguinage yang tidak mau dimakamkan di dekat gereja protestan. Tampak belakang adalah gereja protestan.

Jika di Seoul ada desa tradisional Namsangol Hanok village seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, maka di Amsterdam bisa jadi punya Begijnhof yang letaknya juga di pusat kota. Saya mengetahuinya setelah saya dan suami berkunjung ke Amsterdam Museum. Letaknya yang menjorok ke dalam memang tak mudah ditemukan. Begitu masuk ke dalam dalam, anda dilarang berisik dan membuat kegaduhan.

Baca: Desa tradisional di kota Seoul

Begijnhof dinyatakan muncul sekitar abad 14 dimana warga Belanda masih religius dan termasuk penganut Katolik taat, seperti yang tampak di sini. Di desa ini hidup banyak perempuan yang memilih untuk selibat, seperti biarawati yakni mereka memilih tidak menikah dan mengabdikan diri untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka sesungguhnya bukan biarawati karena mereka tidak mengambil sumpah. Begitu saya membacanya di papan informasi. Sebagian rumah-rumah di sini dibangun pada abad pertengahan dan sedikit mengalami perbaikan. Apalagi Beginjhof pernah mengalami kebakaran. Ada satu rumah yang diperbaiki juga tahun 1950-an.

Sebagaimana anda tahu bahwa abad 15 muncullah gerakan Luther yang mengawali perubahan dalam gereja Katolik. Gerakan protes Luther yang berasal dari Wittenberg, Jerman terhadap gereja memberi pengaruh hingga ke Belanda. Sempat terdengar, abad 16 terjadi reformasi gereja di Belanda sehingga sebagian besar warga beralih menjadi penganut gereja Lutheran. Banyak warga Belanda tak lagi menjadi penganut ajaran katolik, tetapi tidak untuk sekelompok warga yang tinggal di Beginjhof. Sebagai informasi, Belanda bagian utara didominasi warga Kristen Protestan dan warga di bagian selatan didominasi warga Katolik.

Baca: Mengunjungi gereja All Saints, tempat Luther menempelkan 150 Thesisnya

Penduduk di Begijnhof menamakan diri sebagai ‘the beguinage’ memilih bertahan di desa itu dan terisolir. Mereka mempertahankan gereja katolik yang ada di situ. Sekilas kapel yang terletak di nomor 31 seperti rumah biasa, dikarenakan mereka ingin menyembunyikannya. Munculnya gerakan reformasi gereja menyebabkan Beginjhof punya gereja protestan juga. Kini ada dua gereja, yakni gereja katolik dan gereja protestan. Ada yang menjuluki gereja ini adalah gereja tersembunyi karena umumnya gereja selalu tampak terlihat dan terbuka.

Salah satu dinding rumah warga.
Gerbang masuk yang di atas pintu tampak prasasti batu Santa Ursula, sebagai pelindung.
Gereja protestan.
Kapel, yang keseluruhan adalah bangunan asli abad 16, bangunan paling tua di situ.

Tercatat orang terakhir ‘the beguinage’ wafat sekitar tahun 1970. Meski tak ada lagi orang asli Begijnhof, tetapi masih ada sampai sekarang 108 perempuan yang memilih tetap tinggal dan merawat desa itu. Itu sebab, orang yang datang diminta untuk tidak buat kegaduhan. Turis boleh melihat-lihat, berfoto dan berdoa di dalam gereja juga.

Ini menjadi spot foto bagi turis karena desa ini masih terdapat bangunan Houten Huys, tipe bangunan di Belanda pada abad pertengahan. Di tengah keriuhan pusat wisata Amsterdam, ternyata ada Begijnhof yang memberi ketenangan. Mereka sengaja menciptakan suasana batin yang damai, terisolir dari hiruk pikuk kota Amsterdam.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Amsterdam (6): 5 Museum Menarik nan Unik yang Mungkin Anda Tertarik

Kota Amsterdam yang selalu cantik dan menjadi incaran wisata dunia.
Ilustrasi.

Amsterdam begitu menggoda siapa saja untuk datang. Padahal orang Belanda sudah menyarankan bahwa Belanda tidak hanya Amsterdam saja, ada kota-kota lain yang sama menariknya seperti Amsterdam. Kami juga berkunjung ke Den Haag dan Rotterdam. Namun kami berpikir tak lengkap rasanya ke Belanda, jika kami belum menjejakkan kaki di pusat ibukota Belanda meski kami sudah pernah melintasi Belanda sebelumnya. Dan akhirnya museum menjadi bagian dari keseruan kunjungan kami di sini.

Lima museum berikut berada di pusat kota Amsterdam dengan letaknya berdekatan satu sama lain. Begitu menariknya museum ini dikarenakan ini mungkin tabu di Indonesia untuk dibahas tetapi di sini anda bisa mendapatkannya.

Bagi pecinta museum dan bukan, museum berikut ini menawarkan atsmofer berbeda untuk pengunjung. Dijamin anda tidak akan bosan berkunjung ke museum. Staf museum memiliki informasi yang mumpuni, berbagai pertanyaan pengunjung bisa dijelaskan dengan baik. Dari yang berbayar hingga gratis, saya bagikan untuk anda.

1. Museum Tulip

Museum tampak depan.


Berdiri di jalan Prinsengracht, seberang jalan menuju Anne Frank Huis adalah lokasi museum Tulip. Museum Tulip tidak begitu besar, yang berisi sejarah, informasi dan berbagai pernak-pernik tentang bunga cantik ini. Seperti yang saya ketahui bahwa bunga tulip ini berawal sekitar abad 16 di Belanda, yang diperkenalkan saat jaman kekaisaran Ottoman. Bunga ini berhasil memikat banyak warga Belanda saat itu hingga menjadikannya sebagai investasi. Hingga kini, bunga tulip masih mendapat tempat di hati warga Belanda. Warna dan bentuknya yang rupawan menjadi daya tarik tersendiri sebagai objek foto.

Pengunjung bisa membayar tiket masuk sebesar 5€ untuk orang dewasa. Di sini kita bisa mendapatkan bibit hingga cara merawat bunga tulip. Selain itu, bunga tulip bukan asli pun bisa dijadikan dekorasi rumah atau sovenir. Letaknya tak jauh dari Museum Keju atau di seberang jalan menuju lokasi Anne Frank Huis.

2. Museum keju

Museum tampak depan.

Museum selanjutnya adalah museum keju yang letaknya hampir bersebelahan dengan museum tulip. Atau anda bisa berjalan kaki sekitar dua menit dari arah Anne Frank Huis. Ini bisa menjadi petunjuk itinerary anda bila berkunjung ke Amsterdam. Museum keju ini pun tak begitu luas tetapi kaya akan informasi keju yang menjadi makanan favorit orang Belanda. Museum ini diperuntukkan untuk siapa saja, bukan hanya penggemar keju saja. Anda bisa masuk gratis.

Museum keju menawarkan contoh keju yang bisa dicoba pengunjung yang datang. Tentu saja, anda bisa membeli dan membawa pulang aneka macam keju yang tersedia. Keju yang disedikan pun ada berbagai macam. Staf di sana dengan ramah menyambut dan memperkenalkan keju terbaik untuk anda. Anda pasti suka datang ke sini.

3. Museum Multatuli

Museum tampak muka.

Museum selanjutnya yang menarik untuk dikunjungi adalah Museum Multatuli. Siapa yang tak kenal Multatuli, nama yang disebut dalam pelajaran di sekolah saat saya bersekolah di Indonesia dulu. Saya sudah memasukkan jadwal mengunjungi tempat ini begitu tiba di Amsterdam. Sayangnya saya datang di hari libur dimana museum pun tutup. Mengenai Multatuli yang merupakan nama pena dari Eduard Douwes Decker, saya buatkan dalam artikel terpisah.

Museum ini berjarak sekitar 10 menit dengan berjalan kaki dari Anne Frank Huis. Museum ini pun gratis bagi siapa saja. Dulu museum ini adalah rumah kelahirannya, tetapi sejak dijadikan museum maka bangunan dialihkan sebagai peninggalan karya Multatuli menjadi dua lantai. Multatuli dikenal dengan buah pikirnya yang menolak kolonialisme. Di museum ini, pengunjung bisa mengenal sosok Multatuli yang sederhana dan buah pena hasil karyanya.

4. Museum Sex

Museum tampak depan.

Museum selanjutnya yang juga menarik dikunjungi adalah museum sex, yang berjarak sekitar dua menit saja dari Amsterdam Central Station. Museum yang berada di area lalu lalang para turis dan pejalan kaki ini mudah dijangkau. Namun mereka yang sudah berusia 16 tahun yang boleh masuk ke situ. Pengunjung juga boleh berfoto asalkan sudah membayar tiket masuk sebesar 5€. Museum ini lebih pada karya seni dan permainan multimedia yang dianggap tabu dan tidak dipertontonkan di muka publik.

5. Museum Cannabis

Museum terakhir yang bisa jadi informasi untuk anda adalah museum cannabis. Sebagaimana kita ketahui, para ahli terus berupaya membuktikan manfaat dari ganja untuk kehidupan manusia. Misalnya cannabis ternyata bermanfaat untuk perawatan kulit dan masih banyak lagi yang perlu dibuktikan. Meski manfaatnya pun masih menjadi pro dan kontra, museum ini menghadirkan nuansa informatif dan edukatif dari tanaman mariyuana ini.

Staf museum yang berpengalaman dan cukup informatif akan menjelaskan mariyuana dari sejarah, jenis-jenisnya hingga manfaatnya yang berbentuk produk. Pengunjung juga bisa melihat tanaman mariyuana yang masih hidup. Lokasi museum berada di Damstraat.

Bagi anda yang tertarik datang ke Amsterdam, bisa jadi informasi di atas menjadi pertimbangan agenda wisata anda mengunjungi jantung kota Amsterdam.

Selamat berhari Minggu!

Ketika Amsterdam dan Brussels Dilanda Jajanan Kentang Goreng Kekinian

Antrian di Brussels.
Antrian di Amsterdam.
Sebungkus kentang goreng yang berhasil saya dapatkan.

Ada pemandangan menarik ketika saya berkunjung ke Amsterdam dan Brussels di pusat kota. Ada antrian yang mengular menunggu giliran. Mereka berbaris rapi hanya untuk menikmati sebungkus kentang goreng. Saya mendapati pemandangan ini di pusat kota Amsterdam, area turis tepatnya seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Kini antrian yang sama untuk sebungkus kentang pun ada di Brussels. Ajaib!

Baca: 3 Jajanan di Amsterdam yang saya coba

Entah apakah terjadi trend yang sama antara Amsterdam dan Brussels, nyatanya saya mendapati pemandangan serupa di kedai kentang goreng. Saya berpikir, jajanan kentang goreng ini begitu istimewa hingga mengundang orang datang dan mengantri membelinya. Setelah saya amati, pembeli membeli kentang goreng kemudian mereka melakukan foto selfie. “Demam” makan kentang goreng kekinian sedang melanda di sini.

Bagi anda, kentang goreng bukan hal baru. Saya juga! Banyak kuliner yang saya liput dan muat di blog ini juga bercerita tentang kentang goreng, tetapi mengapa kentang goreng? Kentang goreng dalam bahasa Jerman disebut pommes, di sini mereka menyebutnya frite fries. Kentang goreng juga tak asing dijumpai di restoran cepat saji yang berasal dari negeri Paman Sam. Lalu apa istimewanya kentang goreng ini?

Saat malam hari, antrian kedai kentang goreng tampak mengular. Suami saya urung membelinya. Keesokan harinya, pemandangan antrian pun masih tetap sama. Tak hanya itu kedai yang menjual kentang goreng pun di sini mudah dijumpai. Ada yang berpendapat, anda harus membeli kentang goreng A dibandingkan B. Sementara saya sebagai turis tak tahu bagaimana membedakan rasanya.

Merek yang sama seperti di Amsterdam, tetapi kedai kentang goreng ini ada di Brussels.
Mengapa kentang goreng?

Karena penasaran, saya minta suami untuk berhenti di kedai kentang goreng tetapi kedainya harus menyediakan tempat duduk. Ini alasan saya untuk bisa duduk dan menikmati sebungkus kentang goreng. Sementara beberapa kedai kentang goreng lain tidak menyediakan tempat duduk. Pembeli bisa menikmati di tempat sambil berdiri atau dibawa pulang. Sebungkus kentang goreng punya harga bervariasi baik di Amsterdam maupun Brussels. Pastinya harga sebungkus normal itu masih dibawah 5€. Menurut hitungan saya, harga ini sedikit lebih mahal jika saya membeli kentang goreng di warung cepat saji.

Mereka mengklaim, kentang yang dibuat berasal dari kentang dengan kualitas terbaik. Cara mengolah hingga menggoreng kentang goreng itu menjadi rahasia tersendiri. Bahwa kentang goreng terasa renyah dan tak terlalu berminyak. Itu menjadi kesukaan orang-orang di sini. Tak hanya itu, ada saus istimewa untuk menemani kentang goreng kekinian. Pemesan bebas memilih varian saus yang dijual. Jika selama ini saya mengenal saus kentang goreng hanya saus tomat atau mayonnaise saja, mereka punya saus terenak lainnya untuk dinikmati bersama kentang goreng.

Setelah kita mendapatkan sebungkus kentang goreng, jangan lupa berfoto! Foto ini semakin menambah kekinian jajanan yang sedang digandrungi di sini.

Suami saya berpendapat mungkin trend jualan kentang goreng bisa menjadi ide bisnis di Jakarta. Who knows! Ide ini bisa dicoba jika anda tahu bagaimana strategi memasarkannya. Buktinya orang rela antri hanya untuk sebungkus kentang goreng.

Amsterdam (5): 6 Gereja Menawan di Pusat Kota

Basilika Santo Nikolaus tampak belakang.

Ketika berkunjung ke Belanda, hal yang ingin saya lakukan adalah berkunjung ke gereja karena saya dulu pernah bersekolah di sekolah katolik yang dididik oleh beberapa suster dan pastor yang berasal dari Belanda. Saya hanya membayangkan bahwa di Belanda pasti ada banyak gereja. Itu sebab salah satu tujuan saya adalah mendatangi gereja di Amsterdam, meski saya dan suami tidak pergi ke semua gereja di Amsterdam.

Enam gereja yang saya liput berikut memiliki bangunan arsitektur yang indah. Tampak menara gereja menjulang yang mudah terlihat siapa saja. Gereja ini ada yang menjadi kebanggaan kota Amsterdam dan ada yang memang terletak di jantung kota Amsterdam. Sebagian gereja yang saya liput masih aktif melayani ibadah dan kebaktian tetapi ada juga yang hanya menjadi museum.

1. Basilika Santo Nikolaus

Basilika Santo Nikolaus dari seberang Amsterdam Central Station.

Tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Basilika Santo Nikolaus, atau di Indonesia dikenal sebagai gereja sinterklas. Tokoh yang sering dikenal kala natal tiba. Itu pula yang mendasari saya untuk datang ke gereja tersebut. Sayangnya, saya datang di waktu kurang tepat. Jam 17.00 gereja katolik ini sudah tutup. Mengingat saya datang saat libur natal, saya berpikir bisa menyaksikan lebih dekat basilika ini, yang menurut sebagaian besar orang, basilika ini sangat indah dengan interior, ukiran jendela kaca dan muralnya. Saya hanya memandangi dari kejauhan karena letaknya di jantung kota Amsterdam sehingga membuatnya menjadi icon kota Amsterdam.

Dari dekat, Basilika Santo Nikolaus dengan dua menaranya.

Letak gereja katolik ini di seberang pusat informasi turis dan stasiun utama kereta. Dua menara gereja ini mengingatkan gereja-gereja di Jerman seperti Frauenkirche dengan mengusung gaya arsitektur neo-baroque. Dua kapel yang didedikasikan untuk santo Yosep dan santa Maria berada di sisi kanan dan kiri gereja. Basilika ini selesai dibangun tahun 1887 yang didedikasikan untuk santo nikolaus, pelindung kota Amsterdam. Pengunjung yang datang pasti terpesona dengan mural di dalam yang berisi 11 rasul Yesus, tanpa Yudas Iskariot di situ.

2. Oede kerk

Menara gereja.
Kini menjadi museum.

Gereja kedua ini saya tidak menemukan keseluruhan gereja, saya hanya mengambilnya dari jarak dekat. Disebut ‘old church‘ gereja tua karena paling tua didirikan yakni tahun 1280. Di gereja ini ada kursi untuk bangsawan dan pemimpin. Berangsur-angsur tiap abad terjadi perubahan dan restorasi. Kekacauan terjadi ketika gerakan Luther merambah ke Amsterdam. Gereja ini menjadi saksi sejarah tentang reformasi gereja di situ.

Hal menarik dari gereja ini adalah empat loncengnya yang melambangkan Iman, Harapan, Kasih dan Kebebasan. Berbagai ornamen dan lukisan yang menghiasi gereja ini berasal dari abad pertengahan. Kaca jendela gereja terukir indah dan penuh warna. Organnya juga spetakuler seperti umumnya gereja katolik di Jerman yang saya kunjungi.

3. Westerkerk

Gereja dari kejauhan.

Ini adalah gereja pertama yang saya kunjungi setelah berkunjung ke Anne Frank Huis. Letaknya dekat dengan museum keju, museum tulip dan museum Anne Frank. Gereja ini adalah gereja protestan yang menjadi kebanggaan kota Amsterdam. Gereja ini masih aktif menyelenggarakan kebaktian tiap Minggu, sedangkan tiap hari gereja dibuka jam 10.30 waktu setempat. Sebagai informasi, gereja dibangun pada abad 17 dengan towernya yang bisa dijangkau untuk melihat keindahan kota Amsterdam.

4. Zuiderkerk

Gereja ini memiliki menara setinggi 80 meter.

Bangunan keempat adalah gereja yang kini diubah menjadi pusat informasi. Dahulu bangunan ini adalah gereja pertama protestan di Amsterdam yang dibangun antara tahun 1603 hingga tahun 1611. Hal paling indah dari gereja ini adalah menaranya yang memainkan instrumen antara jam 12.00 hingga jam 13.00 waktu siang hari. Sejak tahun 1929, gereja ini tak aktif lagi sebagai gereja akibat minim pembiayaan mungkin. Sejak tahun 1988, pemerintah setempat mengalihfungsikan menjadi pusat informasi tata kota dan perumahan.

5. De Krijtberg

Gereja tampak dari kejauhan.

Gereja kelima adalah sekitar area shopping centre. Ini adalah gereja katolik yang disebut Paroki Santo Nikolaus. Gereja ini didedikasikan untuk Santo Fransiskus Xaverius dengan gaya arsitektur Neo-Gothic. Tak jauh dari gereja ada Ignatiushuis atau komunitas pengikut Santo Ignatius. Dibuka sejak tahun 1883, gereja ini masih aktif melayani umat seperti penyelenggaraan perayaan ekaristi, pengakuan dosa dan lain-lain.

6. De Nieuwe Kerk

Gereja yang letaknya di depan alun-alun.
Kiri adalah sebagian bangunan royal palace dan tampak ‘new church’.

Gereja terakhir adalah De Nieuw Kerk yang letaknya dekat dengan Royal Palace. Gereja ini adalah gereja protestan yang selesai dibangun pada abad 15. Konstruksinya sendiri sudah sejak abad 14, dengan gaya arsitektur neo-gothic. Pembangunan ‘new church’ sebagai terjemahan Nieuw Kerk dilakukan mengingat gereja ‘old church‘ atau oude kerk di atas sudah tidak muat lagi menampung jumlah umat. Tetapi berlangsungnya jaman mengubah fungsi gereja, kini ini menjadi museum dan tempat perhelatan resmi kenegaraan.

Demikian cerita liputan enam gereja yang saya telusuri di Amsterdam. Benar juga, selalu ada yang menarik di rumah Tuhan.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Amsterdam (4): Light Festival Show, Perpaduan Seni, Cahaya dan Urban Design yang Menarik

Amsterdam light festival.
Jalur tur warna hijau adalah pilihan saya.
Tema kupu-kupu dari artis asal Jepang.
Ini dari Korea Selatan.
Mobil hanyut karena banjir.

Musim dingin membuat malam begitu cepat datang. Jam 4 sore hari hari sudah mulai gelap namun tiap musim punya keindahan tersendiri, termasuk musim dingin. Ini pula yang membuat beberapa kota di Eropa memanfaatkannya menjadi aktraksi wisata seperti Amsterdam Light Festival. Light festival lainnya juga saya nikmati di Brussels, ibukota Belgia dan beberapa kota lain di Eropa.

Dikutip dari laman resmi, Amsterdam light show digelar setiap tahun di musim dingin yang menampilkan iluminasi mengagumkan yang melibatkan artis, designer dan arsitek dari berbagai dunia. Saat kami datang festival sedang berlangsung hingga 19 Januari 2020. Untuk tema festival kali ini adalah DISRUPT, yang bisa diartikan kekacauan tetapi bisa juga menginspirasi perubahan.

Beruntungnya saya bisa hadir menyaksikan keindahan seni dan cahaya yang dipadukan bersamaan. Ini sama seperti saat saya datang ke kota Seoul, Korea Selatan ketika ada malam festival lampion karena acara seperti ini hanya terjadi pada periode tertentu saja. Semua begitu indah menghiasi kota. Atraksi ini menjadi pilihan keluarga dimana anak-anak bergembira memperhatikan iluminasi cahaya yang dimainkam. Seperti yang saya lihat, beberapa keluarga membawa anak-anak serta dalam acara night boat tour.

Night boat tour di malam hari saat light festival terbagi dua jalur yakni hijau dan merah. Kami memilih rute warna hijau, dengan tiket harga 23,50€ per orang. Untuk tiket rute warna merah sepertinya hampir sama besarnya. Jika anda sudah memesan secara online, anda berhak mendapatkan potongan harga. Durasi perjalanan night boat tour warna hijau berlangsung selama 75 menit. Di dalam ada penjelasan dalam bahasa Belanda dan terjemahan dalam bahasa Inggris. Secara informatif, pemandu wisata yang merangkap kapten boat menjelaskan bagian demi bagian iluminasi dengan baik.

Pakaian digantungkan.
Restoran di tepi kanal pun ikut meramaikan festival cahaya.
Hanya tulisan saja sudah keren.
Tema lingkungan hidup, es meleleh dan di sini anda tidak hanya melihat es mengambang di air tetapi juga ada suaranya yang menyerupai bongkahan es meleleh.
Anda bisa melihat kan bayangan di atas yang dihasilkan dari iluminasi seniman.
Ini iluminasi seperti bayangan anak memanjat, padahal itu hanya karya seniman.
Di bawah jembatan ini, jika sepasang kekasih berciuman maka cinta mereka akan sejati. Mitosnya!

Sepanjang rute kami mendapatkan sajian cahaya yang menarik. Saya merasa ini menjadi atraksi wisata yang layak anda coba jika anda berkunjung ke Amsterdam. Amsterdam light festival dalam berbagai versi juga bisa anda lakukan. Saya melihat ada night romantic boat tour dimana ada layanan glühwein dan minuman selama tour. Tetapi untuk night boat tour yang saya lakukan di tahun ini ditiadakan minuman atas kebijakan pemerintah kota.

Untuk memesan Amsterdam Light Festival bisa dipesan secara online atau membeli langsung di tempat. Lokasi tiket dan titik keberangkatan untuk jalur merah di pusat informasi turis atau di seberang Amsterdam Central Station. Sedangkan jalur hijau berada sekitar seratus meter kemudian.

Saya hanya membayangkan jika pariwisata di Indonesia bisa menggarap ide ini. Ada banyak kota di dunia yang menjadikan wisata air sebagai aktraksi wisata yang menarik. Sungai yang bersih bukan tak mungkin akan menjaga alam tetap lestari dan mendatangkan pundi-pundi pariwisata buat wisatawan. Who knows ya!

Amsterdam (3): Hotel Suites Tanpa Resepsionis, Pernah Coba?

Amsterdam adalah salah satu kota yang dilalui banyak kanal.
Informasi keterangan hotel, tempat saya menginap. Kami puas dengan layanannya.

Traveling untuk bekerja atau liburan dan menginap di hotel bukan aktivitas pertama buat saya. Tetapi mencoba hotel tanpa resepsionis, ini adalah pengalaman pertama saya. Saya pernah mencoba berbagai hotel mulai dari yang berbintang sampai hotel melati, tetapi bagaimana hotel yang menawarkan tanpa resepsionis dan melakukan check in secara elektronik. Bisa jadi anda sudah pernah mengalaminya, silahkan bagikan dalam kolom komentar! Sementara anda yang belum pernah pasti penasaran ‘kan.

Seiring dengan berjamurnya fasilitas pelesiran berbagai orang di dunia di masa kini, tentu hotel sebagai tempat penginapan pun menawarkan berbagai fasilitas kekinian yang menarik minat wisatawan. Namun modernitas teknologi komunikasi bisa jadi mempermudah tamu hotel untuk self check in, membuat lebih praktis hingga tak perlu ada pekerja di bagian resepsionis. Segalanya dilakukan secara virtual yang terhubung lewat aplikasi dan komunikasi smartphone.

Saat saya liburan di Amsterdam, saya mencari hotel di pusat kota agar kami bisa dekat dengan berbagai destinasi wisata yang ditawarkan. Kami tak perlu merogoh kocek lagi untuk transportasi selama liburan dan mobil bisa kami parkirkan selama liburan. Oleh karena itu kami memilih hotel Sweets Beltbrug yang letaknya sekitar 20-30 menit berjalan kaki ke pusat kota. Selain itu hotel juga dekat dengan pusat kuliner dan mudah dijangkau dengan lokasi parkir umum. Kami puas dengan menginap di sini. Pelayanannya sungguh bagus.

Hotel suits ini berbeda dari kebanyakan hotel lainnya. Jumlahnya ada sekitar 28 suites dan lokasinya dekat dengan jembatan yang dahulu dijadikan transportasi air. Bangunan kamar kami dibuat tahun 1933 dengan rancangan arsitek P. L. Kraemer yang didominasi bata kuning. Tahun 2017 kamar di hotel SWEETS berganti kepemilikan dan dikelola untuk pariwisata kota. Tanpa mengubah struktur asli bangunan, kamar suites di dekat sungai ini menawarkan kenyamanan menginap di Amsterdam, yang dikenal memiliki banyak kanal.

Pemandangan di sekitar kamar.
Dekat dengan pusat kota.
Amsterdam tetap cantik meski di musim dingin, apalagi di musim panas.

Semula kamar suites kami adalah pos kontrol untuk jalur transportasi air, sebagaimana anda tahu bahwa Amsterdam terdiri dari beberapa jalur kanal. Kemudian seiring dengan kebutuhan pariwisata dan berkurangnya jalur transportasi air, pos kontrol diubah sesuai desain ulang tata kota. Kini pos itu menjadi kamar suites yang elegan dan mewah bagi turis seperti kami yang datang.

Kamar dibuat senyaman mungkin bagi tamu hotel. Fasilitas lengkap, hotel didesain unik, segalanya bersih dan pelayanan virtual yang ramah. Mengapa virtual? Kami tidak bertemu dengan siapa pun sebagai petugas layanan hotel, kami hanya berkomunikasi via email, telepon dan SMS. Lalu bagaimana check in saat kami datang?

Saya mendapatkan pemberitahuan bahwa hotel akan memberikan kode untuk self check in sebelum jam 16.00 atau waktu resmi check in. Kode diberikan via email yang mengharuskan kita mengunduh aplikasi Flexi Pass di google play store untuk android dan pilihan lain untuk Iphone dan sebagainya. Setelah tiba di hotel, kode yang diberikan via email dimasukkan dalam kode aplikasi Flexi Pass sebagaimana diminta. Setelah kami check in virtual, maka smartphone didekatkan beberapa saat di pintu kamar hingga tanda dari pintu untuk membukanya. Itu sudah menandakan kami telah check in. Proses check in hanya satu kali. Jika terjadi error atau pintu belum juga terbuka maka silahkan kontak petugas hotel yang berhubungan via email.

Untuk kebutuhan selanjutnya, ada kunci elektronik berbentuk kartu sebagaimana umumnya hotel yang menawarkan kartu elektronik sebagai kunci. Bila ada keperluan urgent atau genting, maka komunikasi bisa dilakukan secara virtual. Terbayang bahwa akomodasi atau tempat menginap di masa mendatang berikutnya bisa jadi memangkas anggaran untuk petugas jaga atau resepsionis misalnya.

Kelebihan dan kekurangan dengan sistim ini pasti ada. Bagi mereka yang tidak bisa terbiasa dengan panduan virtual, tidak menggunakan smart phone atau tidak suka dengan self service sebaiknya perlu berpikir ulang. Kelebihannya pun sudah diduga seperti yang anda tahu. Pengelola bisa memangkas anggaran staf resepsionis dan staf di muka hotel. Staf hotel pun bisa berkantor dimana saja.

Beberapa hotel di Jerman pun sudah mulai menerapkannya menurut pendapat seorang teman mahasiswa yang bekerja part time sebagai zimmermädchen. Saya berpikir mungkin ini bisa jadi alternatif ide penginapan moderen di tahun mendatang. Sementara hotel-hotel yang tumbuh di pusat kota besar di Eropa memang semakin sulit mendapatkan lokasi parkir. Anda bisa bayangkan pula hotel self service termasuk parkir mobil yang kemudian ditanggung tamu hotel.

Selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman parkir bertumpuk di suatu hotel di pusat kota.

Jika anda ingin datang ke Amsterdam, anda bisa mencoba layanan hotel suites nan ekslusif ini di pusat kota Amsterdam. Info lebih lanjut, cek website hotelnya.

Amsterdam (2): Restoran Ramen Ya, Sajian Masakan Mie Jepang Otentik Enaknya

The veggie ramen.

Di tengah penelusuran museum di pusat wisata Amsterdam, kami berdua mulai merasa lapar dan kedinginan. Suhu udara saat itu sekitar 5 derajat celcius. Mata saya mulai mencari dimana restoran yang bisa kami singgahi untuk rileks sebentar, sebelum kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ini pertanda kami sudah lapar dan kedinginan juga menjelajahi pusat kota Amsterdam. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang selera Asia.

Kami berhenti di restoran Ramen-Ya yang berada di pusat kota Amsterdam. Kami tiba jam makan siang dan tampak restoran ini penuh. Beberapa pengunjung tamu di depan kami seperti menunggu giliran masuk karena restoran penuh. Kami pasrah, mungkin kami tidak mendapatkan tempat duduk tanpa reservasi. Akhirnya kami dipersilahkan masuk dan duduk di dekat pintu masuk setelah beberapa anak muda di depan kami sudah masuk duluan. Kami senang langsung disambut pramusaji yang ramah dan menawarkan daftar menu.

Mengapa kami merekomendasikan restoran ini?

The Hakata Shio (salty)

Pertama nih, restoran ini menawarkan sajian masakan Jepang yang super enak. Kami berdua memesan mie ramen yang bertujuan mengusir rasa dingin setelah kami berjalan kaki menelusuri kota Amsterdam. Mie ramen yang dibuat di restoran ini otentik buatan sendiri. Teksturnya mie begitu lembut dan tidak tebal. Kuah ramen kental dan hangat. Mie ramen buatan restoran ini benar-benar fresh langsung diracik begitu dipesan. Yummy!

Baca juga: Makan Spicy Ramen di Hong Kong

Alasan kedua, tempat ini hampir dipenuhi turis dan anak muda. Tentu restoran ini merupakan tempat yang cozy dan nyaman untuk menikmati kebersamaan sambil makan masakan Jepang. Kami pun rileks dan beristirahat cukup lama setelah menikmati mie ramen. Kami senang bahwa kami bisa duduk santai dan tidak terganggu keramaian di area turis.

Alasan selanjutnya, yang mungkin anda penasaran adalah minuman yang tersedia. Saya memesan es teh yang juga home made alias racikan sendiri. Suami saya pesan Heineken, bir di Amsterdam. Sedangkan turis asal negeri Paman Sam sebelah kami berpendapat bahwa mereka suka sake, yakni minuman alkohol khas Jepang yang juga tersedia di sini.

Terakhir, rekomendasi kami karena restoran ini memiliki pramusaji yang ramah dan cekatan. Ketika jam makan siang tiba dan padat tamu yang datang, mereka tetap bersemangat melayani kami yang kelelahan berjalan. Mereka menyediakan tempat duduk untuk kami yang hampir membatalkan pesanan. Selesai membayar pesanan kami, mereka memberikan permen mint untuk kami. Menarik!

Begitulah hasil pengalaman kami menikmati kuliner di Amsterdam, salah satunya adalah restoran selera Asia. Kami pikir saran dari rekan kerja untuk menikmati makan ramen di restoran ini benar adanya. Mie ramen di sini so tasty.

Bagaimana pengalaman anda menikmati mie ramen?

Amsterdam (1): 3 Jajanan Kekinian yang Buat Penasaran Enaknya

Tebak, apa ini?
Orang mengantri untuk membeli jajanan kekinian dan mengabadikannya di media sosial.

Amsterdam sebagai ibukota Belanda, sudah sering menjadi destinasi wisata orang Indonesia. Tak heran saya kerap berjumpa dengan wisatawan asal Indonesia dalam perjalanan liburan saya yang singkat di salah satu kota terbesar di negeri kincir angin tersebut. Meski ini bukan kali pertama berkunjung ke sini, tetapi ini pertama kali saya mendokumentasikannya lewat tulisan. Seperti soal street foods yang mungkin menarik untuk dicoba saat anda datang ke sini.

Kroket kekinian (kanan) dijual pakai mesin otomatis.

1. Poffertjes

Pancake asli Belanda ini wajib dicoba.

Poffertjes mungkin tak asing lagi bila anda pernah menikmati sebelumnya. Saya sendiri pernah memesannya di salah satu kafe dimana sang pemilik berkewarganegaraan Belanda dan menetap di Indonesia. Poffertjes yang saya kenal saat itu adalah semacam pancake yang ditaburi gula icing atau gula bedak. Poffertjes itu pasti manis dan bisa dikreasikan sesuai pesanan.

Tiba di Amsterdam, poffertjes menjadi jajanan yang bisa dibeli. Meski ada juga pancake semacam crepes atau pfannkuchen yang disebut dalam bahasa Jerman. Namun poffertjes itu adalah pancake asli Belanda. Poffertjes ini saya pesan di salah satu kafe di area toko bunga dan sovenir. Teksturnya lembut, manisnya pas ditambah selipan butter sehingga aroma kue benar-benar terasa selagi hangat.

Dalam sejarahnya dikatakan poffertjes ini dibuat oleh Belanda bagian Selatan yang dulu banyak dianut masyarakat beragama Katolik. Bentuk poffertjes bulat, sedikit tawar dan sedikit berwarna putih bila diberi gula bedak maka ini mengingatkan pada bentuk komuni dalam misa kudus. Itu sebab kafe yang menjual poffertjes asli ini memajang patung Bunda Maria di sudut kafe. Kafe ini selalu ramai pengunjung dari berbagai belahan dunia. Anda bisa melihat aneka foto dan testimoni soal kuliner pancake yang mereka sajikan.

2. Frite fries (Kentang goreng)

Kentang goreng itu dijual di pusat kota Amsterdam.

Jajanan kedua yang sedang populer di ibukota negeri kincir angin adalah pommes dalam bahasa Jerman. Ya, kentang goreng yang sepertinya biasa kita nikmati di restoran. Kini kentang goreng itu dinikmati dengan aneka saus, tak hanya saus sambal saja. Ada saus mayonnaise, saus kari sampai saus sate segala. Katanya, anda wajib makan kentang goreng buatan negeri kincir angin karena kentang produksi mereka berkualitas baik.

Saya tak menyangka di pusat kota, ada sekian banyak kedai yang menjual kentang goreng. Namun ada satu tempat yang menjual kentang goreng yang perlu mengantri panjang bahkan hingga malam hari semakin panjang antriannya. Pasalnya pembeli yang kebanyakan anak muda memasang foto bersama kentang goreng ini dan memajangnya di media sosial. Ya, kentang goreng mannekinpis. Satu porsi kecil di sini sekitar 3,55 € yang sepertinya sedikit lebih mahal dibandingkan di tempat lain.

3. Kroket

Kroket yang dijual dimana saja, tidak lewat mesin.

Jajanan ketiga yang juga sedang kekinian adalah kroket. Mungkin ini adalah sudah menjadi makanan biasa seperti yang anda makan di Indonesia tetapi kroket ini tentu berbeda di negeri aslinya. Kroket berasal dari Belanda. Kroket berbahan dasar kentang ini kini bisa dibeli di mesin dan pembayarannya menggunakan kartu. Wah!

Kroket atau croquettes adalah cemilan yang digemari dari dulu hingga kini. Anda bisa melihat kroket dijual di restoran mewah, restoran cepat saji McDonalds atau jajanan street foods. Kroket ini seperti roti gulung yang didalamnya ada isian sesuai selera anda. Ada udang, daging ayam, sayur atau keju sesuai selera anda. Original kroket terbuat dari isian daging sapi muda. Rasanya yang lembut dan memecah di mulut membuat siapa saja suka makan kroket.

Nah, jajanan mana yang ingin anda praktikan sendiri di dapur anda?