Amsterdam (2): Restoran Ramen Ya, Sajian Masakan Mie Jepang Otentik Enaknya

The veggie ramen.

Di tengah penelusuran museum di pusat wisata Amsterdam, kami berdua mulai merasa lapar dan kedinginan. Suhu udara saat itu sekitar 5 derajat celcius. Mata saya mulai mencari dimana restoran yang bisa kami singgahi untuk rileks sebentar, sebelum kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ini pertanda kami sudah lapar dan kedinginan juga menjelajahi pusat kota Amsterdam. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang selera Asia.

Kami berhenti di restoran Ramen-Ya yang berada di pusat kota Amsterdam. Kami tiba jam makan siang dan tampak restoran ini penuh. Beberapa pengunjung tamu di depan kami seperti menunggu giliran masuk karena restoran penuh. Kami pasrah, mungkin kami tidak mendapatkan tempat duduk tanpa reservasi. Akhirnya kami dipersilahkan masuk dan duduk di dekat pintu masuk setelah beberapa anak muda di depan kami sudah masuk duluan. Kami senang langsung disambut pramusaji yang ramah dan menawarkan daftar menu.

Mengapa kami merekomendasikan restoran ini?

The Hakata Shio (salty)

Pertama nih, restoran ini menawarkan sajian masakan Jepang yang super enak. Kami berdua memesan mie ramen yang bertujuan mengusir rasa dingin setelah kami berjalan kaki menelusuri kota Amsterdam. Mie ramen yang dibuat di restoran ini otentik buatan sendiri. Teksturnya mie begitu lembut dan tidak tebal. Kuah ramen kental dan hangat. Mie ramen buatan restoran ini benar-benar fresh langsung diracik begitu dipesan. Yummy!

Baca juga: Makan Spicy Ramen di Hong Kong

Alasan kedua, tempat ini hampir dipenuhi turis dan anak muda. Tentu restoran ini merupakan tempat yang cozy dan nyaman untuk menikmati kebersamaan sambil makan masakan Jepang. Kami pun rileks dan beristirahat cukup lama setelah menikmati mie ramen. Kami senang bahwa kami bisa duduk santai dan tidak terganggu keramaian di area turis.

Alasan selanjutnya, yang mungkin anda penasaran adalah minuman yang tersedia. Saya memesan es teh yang juga home made alias racikan sendiri. Suami saya pesan Heineken, bir di Amsterdam. Sedangkan turis asal negeri Paman Sam sebelah kami berpendapat bahwa mereka suka sake, yakni minuman alkohol khas Jepang yang juga tersedia di sini.

Terakhir, rekomendasi kami karena restoran ini memiliki pramusaji yang ramah dan cekatan. Ketika jam makan siang tiba dan padat tamu yang datang, mereka tetap bersemangat melayani kami yang kelelahan berjalan. Mereka menyediakan tempat duduk untuk kami yang hampir membatalkan pesanan. Selesai membayar pesanan kami, mereka memberikan permen mint untuk kami. Menarik!

Begitulah hasil pengalaman kami menikmati kuliner di Amsterdam, salah satunya adalah restoran selera Asia. Kami pikir saran dari rekan kerja untuk menikmati makan ramen di restoran ini benar adanya. Mie ramen di sini so tasty.

Bagaimana pengalaman anda menikmati mie ramen?

Rekomendasi Tempat (32): Restoran Jang Tse, Ausburg yang Menawarkan Makan Sepuasnya dengan Harga Terjangkau

Tampak depan.
Suasana restoran.
Sup pembuka dan sushi.
Contoh makanan utama.

Akhir pekan bisa jadi anda berencana makan bersama keluarga di luar rumah. Oleh karena itu, saya ulas makan sepuasnya di restoran di Ausburg, yang menjadi kota terbesar ketiga di negara bagian Bavaria, Jerman. Tentang Ausburg selintas akan saya jelaskan kemudian.

Setibanya di kota ini, kami mulai merasa lapar. Maklum kami datang saat jam makan siang. Kami berputar mencari lokasi parkir di pusat kota, sayangnya tak mudah juga mendapatkannya. Imbiss Asia di sini menawarkan paket makan dibawa pulang, sementara kami ingin mencari restoran yang nyaman untuk beristirahat sejenak.

Pilihan makan sepuasnya yang dihitung per orang mungkin menjadi alternatif pengisi waktu akhir pekan bersama keluarga.

Pencarian tak sia-sia. Kami mendapati restoran selera Tiongkok yang cukup besar dan nyaman untuk beristirahat sejenak setelah berkendara berjam-jam. Restoran ini terletak di lokasi perbelanjaan. Untuk parkir mobil, setiap mobil dibatasi hanya dua jam gratis dan selebihnya harus membayar. Siasat jitu mengatasi perparkiran di kota besar yang semakin sempit lahan parkir mobil.

Restoran Jang Tse berada di lantai 2 dengan pintu masuk berdekorasi negeri tirai bambu yang mudah dikenali siapa saja. Mulai dari aksara Tiongkok hingga patung barongsai menghiasi pintu masuk. Begitu tiba pun suasana restoran khas Tiongkok begitu kental. Ada akuarium besar dan berbagai ornamen dekorasi bergaya restoran Tiongkok tampak sekali di sini. Ini mengingatkan pengalaman kami berdua di Tiongkok tempo lalu.

Restoran yang luas dan cocok dijadikan restoran keluarga. Kita bisa makan siang dengan penawaran makan prasmanan yang dihitung per orang. Untuk hari Senin hingga Jumat saat makan siang maka harga per orang sangat terjangkau, yakni 8,90€. Apalagi tiap orang bebas makan apa saja yang disediakan. Makanan disediakan secara buffet mulai dari makanan pembuka seperti sup, roti atau sushi ada di sini. Bahkan krupuk atau aneka gorengan seperti lumpia pun juga ada, tetapi ini baru sisi pembukaan.

Aneka sushi.
Salad.
Dessert.
Dessert lainnya.
Salad sayuran dan lainnya.

Makanan utama pun terdiri aneka lauk pauk lengkap dari daging ayam, daging sapi, daging babi, daging bebek dan sea food. Diracik dengan selera masakan tiongkok umumnya, tentu anda tahu bahwa ini enak. Tak lupa sayuran mulai dari cap cay, tumis sayuran warna-warni dan sayur segar lainnya. Anda juga bisa makan dengan nasi putih atau mie goreng sepanjang perut anda bisa menampungnya.

Sebagai penutup hidangan, anda bisa mengambil aneka buah dan salad sayuran dan buah. Ada juga aneka cokelat dan manisan. Lainnya seperti agar-agar jelly, aneka pudding hingga kue khas Jerman bisa anda pilih. Sekali lagi, makanlah sesuai kebutuhan anda dan hanya makan di tempat.

Pramusaji yang ramah, restoran bersih dan nyaman hingga makanan yang enak adalah harapan tamu restoran seperti kami. Nyatanya menikmati makan prasmanan bersama keluarga bisa menjadi pilihan di akhir pekan. Meski harga per orang saat wiken sedikit lebih mahal, tetapi restoran seperti ini layak direkomendasikan.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

Saus Hoisin? Temukan Nikmatnya dalam Cah Cumi-cumi: Makanan Khas Asia (45)

Cumi saus hoisin pertama.

Cumi saus hoisin kedua.

Saus Hoisin adalah salah satu menu yang biasa disajikan di restoran Asia di Jerman. Sebenarnya saya sudah mengenal masakan dengan saus hoisin saat saya berkunjung ke Hong Kong tempo lalu. Namun rasa saus hoisin menjadi berbeda ketika makanan itu menjadi ciri khas kuliner asia di Eropa.

Jika ada menu yang tertulis menggunakan saus hoisin, itu artinya makanan akan dicampur saus yang berwarna hitam kecokelatan yang kental. Seperti yang saya dapatkan pada dua menu tersebut di atas di dua tempat berbeda. Bahwa saus hoisin yang disajikan di restoran Vietnam sedikit lebih kental dan warna pun pekat. Untuk mencampurkan cumi, ada tambahan aneka sayuran seperti wortel, brokoli, daun bambu, kol cina, timun jepang dan daun bawang.

Warna hitam yang dihasilkan pada saus hoisin bukan berasal dari makanan laut. Setelah saya cari tahu, ternyata terbuat dari kedelai panggang yang ditumbuk. Itu sebab warna dan kekentalannya pun mirip dengan kecap yang biasa kita jumpai di Indonesia. Hanya saja rasa saus hoisin tidaklah manis, seperti kecap kebanyakan di Indonesia.

Namun saus hoisin itu paling enak dan tepat disajikan bersamaan dengan hidangan laut seperti yang saya pesan. Yakni hidangan cumi saus hoisin. Cumi-cuminya pun dibiarkan tampak balutan tepung. Cumi berbentuk cincin memang harus pandai mengolahnya agar teksturnya tidak liat saat dimakan.

Saya pikir, segala sayuran yang dikehendaki ditumis terlebih dahulu hingga layu. Kemudian cumi dimasukkan untuk dicampurkan menjadi satu. Ketika hampir matang, saus hoisin ditambahkan sebagai sentuhan akhir.

Bagaimana menurut anda?

Schweinefleisch mit Gemüse in Schacha Soße: Makanan Asia di Jerman (22)

The following culinary such below is regarding pork stir fry vegetables with scha cha sauce that usually served in Asian restaurant in Germany. I figured out this sauce was been known popular in Taiwan. 

Scha cha sauce looked dark brown that made by soya and shrimp. To be best taste, this sauce mixed in variant of fried such as my ordering food in seen picture. 

***

Makanan berikut yang dibagikan biasa dijumpai di restoran Asia di sini. Schacha soße atau ada juga yang menulis Scha cha sauce berasal dari bumbu masakan asal Taiwan. Saya penasaran sekali seperti apa saus yang melengkapi makanan ini.

Konon saus ini hampir menyerupai seperti bumbu sate jika di Indonesia karena sebagai pelengkap rasa untuk makanan bakar. Namun bisa juga digunakan untuk aneka tumisan. Rasanya gurih dan sedikit pedas memang. 

Meski demikian ketika saya memesannya, makanan ini bercampur dengan cah daging babi dan aneka sayuran lainnya sehingga rasanya gurih. 

Warna sausnya kecoklatan mungkin karena bahan dasar dari saus adalah kedelai dan udang yang dihancurkan, kemudian menjadi pasta. Tentu saus ini bisa dibeli dalam bentuk kemasan di supermarket. 

Semua makanan terlihat mirip memang, hal yang membedakan tentu daging yang digunakan dan saus sebagai rasanya. Saus schacha ini banyak dijumpai di area Vietnam juga. Berbagai masakan yang menggunakan saus ini bisa berupa sup atau tumisan seperti yang saya pesan ini.

Semoga bermanfaat!