Rekomendasi Tempat (16): Drei Goldene Kugeln, Mall Plus City Austria

Wiener Schnitzel 150 gram.

Rekomendasi selanjutnya adalah restoran yang mengusung citarasa masakan Austria. Sebagai informasi, kuliner Austria dengan Jerman itu sepertinya hampir identik. Kita bisa menemukan ragam kuliner Austria yang mirip dengan Jerman, begitu pun sebaliknya. Apalagi saya yang tinggal di negara bagian Bavaria, dapat dipastikan memiliki citarasa kuliner yang sama dengan negeri tetangga, Austria. Termasuk tiga kuliner berikut yang dipesan di restoran lokal di salah satu pusat perbelanjaan Plus City.

Di akhir pekan, pilihan menikmati kuliner negeri tetangga memang menggoda. Ini menjadi ide menarik dimana kami ingin shopping sambil menikmati waktu keluarga dengan makan siang di mall. Pilihannya jatuh pada restoran lokal, Drei Goldene Kugeln yang ada di depan pintu masuk lantai 1 mall Plus City, Austria. Restoran ini memang selalu ramai, bahkan kami beberapa kali ke situ dan tidak mendapatkan tempat. Untuk kesekian kalinya, kami berhasil mendapatkan tempat duduk sehingga kami pun memesan menu lokal di situ.

Seehect gegrillt mit Krauterbutter.
Schweinebraten mit Knödel.
Buku menu.

Tak ada yang berbeda antara menu lokal Jerman dengan Austria. Ini tampak sekilas dari buku menu yang ditawarkan. Berhubung kami sudah lapar, kami memesan tiga menu karena kami pergi bersama ibu mertua. Pramusaji pun dengan sigap mencatat tiga pesanan kami. Beruntungnya kami segera mendapatkan tempat duduk di saat jam sibuk, waku makan siang di akhir pekan.

Untuk schnitzel, ini adalah menu andalan yang ditawarkan restoran ini. Schnitzel bukan hal baru bagi kami di Jerman. Makanan ini pun sudah mendunia dan saya sudah sempat memesannya di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kala kami traveling. Namun pasti ada yang berbeda dari schnitzel di sini. Ya, schnitzel di sini dibedakan dengan kategori beratnya daging yang diinginkan. Ukuran schnitzel yang paling kecil adalah 150 gram dan masih ada dua pilihan schnitzel yang berat lainnya. Seperti saya yang tak suka makan dalam porsi besar, saya memesan schnitzel dalam porsi kecil.

Baca: Schnitzel yang saya beli di Jerman

Menu lainnya yang dipesan juga bisa anda simak yakni ikan panggang. Jangan bayangkan ikan panggang dengan nasi plus lalapan sambal pedas! Seperti yang anda lihat, ini adalah ikan tanpa duri dengan kentang salad. Untuk menambahkan rasanya, ikan diberi butter yang berasa herbal atau disebut krautterbutter. Bagi penyuka makan ikan, menu seperti ini bisa menjadi kreasi tersendiri karena ini berbeda dengan menu ikan ala nusantara yang terkenal pedas.

Baca: Makan ikan tanpa nasi dan sambal

Menu lokal ketiga yang dipesan adalah schweinebraten mit knödel. Ini bukan kali pertama saya membahasnya, anda bisa lihat sendiri ini sama seperti menu lokal Jerman. Sauerkraut adalah salah satu yang menjadi ciri khas makanan lokal Jerman dan Austria.

Baca: Schweinebraten yang dipesan di Jerman

Lokasi yang strategis dan pelayanan cepat memang menjadi nilai plus di restoran ini. Restoran ini memberikan keistimewaan citarasa menu andalan lokal, di antara restoran-restoran lain di mall Plus City yang memang didominasi menu makanan non lokal.

Bagaimana pun makanan lokal di Austria tak ubahnya makanan yang didapat di Jerman. Ini bisa menjadi gambaran jika anda datang ke Austria.

My Indigo, Restoran Kekinian, Lebih dari Sekedar Makan: Rekomendasi Tempat (30)

Apa yang terbayang dalam benak anda jika mendengar restoran kekinian? Ini pendapat saya. Restoran tersebut dipenuhi banyak generasi milenial untuk makan, ngobrol, diskusi, ambil foto dan upload di media sosial. Dengan interior didominasi kayu, lampu temaram dan spot-spot instragammable, maka konsep yang diusung restoran My Indigo ini benar-benar menyenangkan dan suasana yang hangat untuk semua kalangan, terutama generasi milenial.

Untuk alasan privasi, saya tidak mengambil suasana pengunjung yang sedang ramai saat wiken. Ya, saya datang saat wiken minggu lalu. Tempatnya ramai dan enak untuk ngobrol.

Saya berkunjung ke restoran My Indigo di Linz, Austria. Sepertinya restoran ini mengusung konsep lebih dari sekedar makanan yang ditawarkan. Makanan yang alami dan sehat bisa menjadi pilihan para vegan dan vegetaris juga di sini. Karena dua orang di samping saya yang sedang memesan, mereka menyebut pilihan makanan vegetaris.

Menu yang tersedia di restoran tersedia di papan informasi atas, dekat meja pemesanan makanan. Lalu saat anda sudah menemukan apa yang ingin dipesan, berdirilah di di depan etalase makanan. Anda akan mendapatkan mangkuk besar berwarna hitam untuk meracik apa yang diinginkan. Untuk side dishes, anda bisa memilih nasi, noodle atau quinoa. Saya akhirnya memilih nasi. Main dishes akan dipandu untuk petunjuk pengambilannya. Misalnya menu saya adalah Austrian Beef Chili maka ada chili corn cane yang dicampur dengan nasi.

Tak berhenti di situ, pesanan saya berlanjut dengan salad yang diracik sesuai selera dan kebutuhan pembeli. Ada tauge, wortel, tomat cheri, buah zaitun, jagung dan lainnya yang biasanya disajikan di salad. Saya memilih alpukat dan dressing mayonaise. Saya tambahkan sambal sesuai selera saya. Setelah pembeli meracik menu yang diinginkan, dia bisa memilih minuman yang dibuat sendiri dari dapur My Indigo. Saya memilih teh klasik. Lalu pembeli langsung ke meja sebelah, yakni kasir dan membayar semuanya.

My Indigo menawarkan citarasa kreatif dari menu yang sesungguhnya. Misalnya, saya memesan Austrian Beef Chilli. Lalu ada makanan lainnya seperti sushi, ramen, Kari dari Thailand dan Pho dari Vietnam. Makanan khas India juga tersedia seperti tandoori dan dal. Di sini pula My Indigo menawarkan makanan bio atau organik yang disukai seperti kue, kopi dan minuman lainnya.

Anda bisa memesan makanan sebagai salad, mie atau sup hangat. Semua itu sesuai kreativitas dan selera anda untuk mencampurkannya dalam mangkuk anda.

Tertarik mencoba?

Naik Kapal Kristal Swaroski Antara Jerman – Austria, Wah!

Kapal Kristal Swaroski yang didesain elegan, mewah dan eksklusif.

Lampu kristal di tengah.

Tangga kristal.

Pernahkah anda membayangkan naik kapal wisata melalui sungai di antara dua negara, Jerman dan Austria? Tak hanya itu, kapal wisata yang dinaiki adalah kapal wisata yang mencerminkan kristal swaroski. Anda tahu kan kristal swaroski? Di sini penumpang seperti dimanjakan dengan keistimewaan dekorasi kristal yang menjadi interior kapal. Penumpang pun bisa melihat keindahan panorama indah sungai yang membelah dua negara. Asyik, deh!

Interior kristal lainnya.

Ruangan lainnya.

Saya, suami dan ibu-bapak mertua berangkat untuk ikut paket wisata dengan kapal kristal swaroski selama dua jam untuk menjangkau perbatasan dua negara Jerman dan Austria. Kami datang di hari Minggu sewaktu Jerman sedang libur anak sekolah dan libur musim panas. Penumpang pun antusias untuk menumpang kapal ini. Tampak pula sekelompok turis yang datang ke Passau, turut serta dalam kapal bersama kami. Penumpang pun bebas memilih bangku-bangku yang dirancang seperti di hotel atau restoran eksklusif.

Meksipun ini adalah musim panas, namun dalam kapal tersedia AC yang mendinginkan suasana. Kapal ada tiga lantai. Sebagian penumpang memilih berdiam di lantai dua. Sebagian lagi memilih duduk di atas kapal, lantai tiga yang terbuka luas dengan angin semilir menyusuri sungai. Mereka yang senang dengan hangatnya matahari dan menikmati panorama bisa memilih duduk di sini atau di balkon tiap lantai.

Kolam putri duyung.

Kapal ini tersedia juga pramusaji yang siap melayani anda untuk memesan kuliner khas Bavaria. Anda pasti tahu schnitzel, sosis hingga makanan vegetaris bisa dipesan di sini. Tak ingin makan, anda juga bisa memesan minuman hangat dan dingin. Mungkin anda tertarik menikmati es krim seperti mertua saya atau minum es kopi. Tentu, anda harus membayar semua itu diluar harga tiket kapal.

Petugas patroli selalu menjaga dan mengawasi segala hal yang terjadi untuk menghindari hal tak terduga dan tidak dikehendaki.

Suasana yang nyaman dan tidak membuat mabuk kapal tentu disukai penumpang. Penumpang terasa nyaman. Bahkan anda bisa menikmati fasilitas toilet yang juga eksklusif dan tersedia pula toilet untuk penumpang berkebutuhan khusus seperti menggunakan kursi roda. Di lantai 1 tersedia toko yang menawarkan parfum, makanan hingga perhiasan kristal tentunya. Jika anda suka perhiasan kristal, di sini anda bisa membelinya langsung. Asli kristal swaroski untuk aksesoris perempuan seperti anting, kalung, cincin dan gelang. Sedangkan untuk pria, tersedia bolpoin berlapis kristal swaroski juga yang menawan.

Mau belanja aksesoris krital juga bisa.

Di dekat toko cinderamata, saya terpaku pada sudut dekorasi putri duyung dengan dekorasi kristal. Biasanya putri duyung dengan air mancur, namun ini digantikan dengan bayangan optik. Tampak yang menjadi kolam dipenuhi koin-koin berkilau yang saya kenali sebagai uang cents EURO. Sepertinya ini gambaran bagaimana mereka melempar koin ke dalam kolam putri duyung sembari mengucapkan keinginan.

Teras luar dimana anda bisa melihat panorama langsung dengan mata telanjang.

Sebagai penumpang, saya benar-benar menikmati panorama dua negara yang dibelah sungai. Anda bahkan menjumpai kapal wisata besar yang berasal dari negara-negara tetangga di seputaran Eropa seperti Swiss, Hungaria, Austria dan sebagainya melintasi sungai yang sama. Seru!

Bagaimana menjangkaunya?

Untuk naik kapal wisata ini, anda perlu naik dermaga dari kota Passau. Durasi perjalanan sekitar dua jam. Dari Hauptbahnhof Passau, anda perlu berjalan kaki sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk tiba di dermaga kapal.

Apakah anda tertarik mencobanya?

Lachs Teriyaki, Akakiko Japan Restaurant Pluscity Austria: Rekomendasi Tempat (27)

Rekomendasi tempat selanjutnya yang dipilih ada di Austria. Saat saya berbelanja di salah satu shopping center di sana, Pluscity maka saya mendapati restoran citarasa Asia. Dari namanya, restoran ini terkesan bercitarasa kuliner Jepang. Ternyata benar, di buku menu terdapat aneka sushi yang bisa dipilih dan makanan asal negeri matahari terbit.

Makanan yang saya pesan adalah lachs teriyaki. Sebagaiman foto di atas, anda melihat ada potongan ikan lachs atau ikan salmon yang digoreng dengan tepung. Di atas potongan ikan salmon tepung tersebut terdapat sayuran yang terdiri atas bermacam-macam warna dan bentuk. Selain itu ada salad sayuran berupa kubis, chinakohl dalam bahasa Jerman. Terakhir, nasi putih untuk menikmatinya.

Untuk ikan salmon digoreng dengan tepung dan memang tidak berbumbu apa pun. Justru melengkapi rasa ikan, ada tumisan sayur yang menjadi topping dan dekorasi. Sayuran ditumis dengan saus teriyaki, yang menjadi kekhasan masakan Jepang. Saus teriyaki adalah bumbu dasar dari masakan negeri matahari terbit.

Saus teriyaki berwarna kecokelatan yang kental dan rasanya sedikit manis. Saus teriyaki berbeda dengan kecap manis yang biasa dicampurkan dalam sajian nusantara. Saus teriyaki juga menjadi inti rasa dari masakan yang saya pesan. Konon saus teriyaki terbuat dari komposisi kecap, sake, gula dan jahe. Warnanya yang cokelat mengkilap tentu mudah dikenali di antara jenis saus dan kecap lainnya.

Untuk rasa masakan yang saya pesan, saya menilai enak dan lezat. Harganya pun terjangkau dan sesuai untuk masakan asia di restoran. Suasananya yang cozy dan strategis membuat restoran ini kerap ramai. Oh ya, jika anda tak bisa menggunkan sumpit maka anda bisa memesan perlengkapan makan lainnya. Mungkin suatu saat saya akan memilih masakan khas Jepang lainnya seperti sushi atau ramen.

Semoga bermanfaat.

Linz, Austria (5): 4,5 Euro Puas Berkeliling Seharian Pakai Kendaraan Umum

Tiket 4,5€ per orang.

Jalur transportasi selama di Linz jadi petunjuk moda transportasi.

Dalam kereta ada monitor petunjuk halte dan informasi berita.

S-Bahn tampak sebelah kiri. Jalurnya selalu di tengah jalan raya.

Kereta sightseeing di alun-alun kota.

Berkeliling kota Linz kali ini saya lakukan dengan kendaraan umum. Di Linz ada S-Bahn atau straßebahn, sejenis kereta listrik yang menghubungkan satu halte ke halte lainnya, jika kita tidak bawa kendaraan pribadi atau tidak ingin naik taksi. Ada juga pilihan car sharing jika anda suka terhubung dengan aplikasi pintar. Sayangnya saya tidak mencoba aplikasi tersebut. Ternyata saya cukup bayar bis atau kendaraan umum 4,5€ maka kita bisa berkeliling selama dua puluh empat jam di kota ini.

Harganya yang murah sebanding dengan pelayanan keretanya juga. Di dalam kereta sangat nyaman dan bersih juga perjalanannya cepat. Tak perlu khawatir terlewat jalur stasiun tujuan karena tersedia monitor halte tujuan dan suara yang diperdengarkan ke penumpang. Monitor dalam kereta di letakkan di atas, dekat langit-langit kereta. Di situ juga terdapat informasi online news, semacam berita yang bisa dibaca penumpang.

Dalam kereta ada ruang juga untuk ibu yang membawa kereta dorong bayi atau orang yang berkebutuhan khusus dan duduk di kursi roda. Kereta yang nyaman untuk segala kalangan pastinya.

Jika sudah di alun-alun kota, anda bisa naik kereta sightseeing kota linz dan ikut jadwal program tur bersama turis yang lainnya. Puas berjalan keliling kota, anda juga bisa menikmati keindahan sungai danube dengan naik ferry. Sebagaimana pengalaman saya naik ferry di kota Linz yang diceritakan di link ini. Pilihan lain bagi yang suka shopping, anda bisa ke pusat perbelanjaan Pluscity yang menyediakan aneka kebutuhan anda.

Saran saya,

1. Bayarlah tiket sesuai keperluan! Jika anda kedapatan tidak ada tiket saat pemeriksaan oleh petugas maka anda dikenakan denda yang cukup besar.

2. Jagalah kebersihan selama perjalanan! Bagaimana pun kita senang jika mendapati kereta bersih dan nyaman.

3. Turunlah sesuai tujuan tiket, kecuali anda gunakan tiket terusan 24 jam! Jika kedapatan tidak sesuai tujuan tiket kereta maka anda dikenakan denda.

4. Saat di stasiun utama (Hauptbahnhof) dan stasiun terakhir, semua penumpang wajib turun. Itu peraturannya.

5. Tiket kereta juga bisa digunakan untuk bis kota Linz. Cukup bayar 4,5€ maka anda bisa gunakan moda transportasi umum bis atau kereta di Linz.

Selamat bertualang!

Wina, Austria (3): Kastil Schönbrunn Nan Megah dan Punya Legenda

Tampak depan. Bila musim panas, maka taman kastil akan dihiasi air mancur dan bunga-bunga indah.

Maket kastil dan anda bisa melihat betapa luasnya kompleks ini.

Kastil ini tak pernah sepi dan selalu diminati turis.

Salah satu ruang dalam kastil dengan lukisan “Sissi” yang melegenda.

Begitu mendarat di ibukota Austria, anda pasti bingung hendak kemana destinasi wisata selanjutnya. Jika anda datang di musim panas, pastinya banyak tempat bisa dikunjungi. Kami datang di musim winter menurut orang Jerman, suhunya menjadi lebih dingin dan rasanya hanya ingin berada di dalam ruangan saja. Destinasi wisata di Wina adalah Dom St. Stephan yang jadi landmark kota. Saya pernah menuliskannya di sini.

Untuk destinasi lainnya, bagaimana bila berkunjung ke kastil schönbrunn?

Kastil bergaya asitektur baroque ini memang jadi incaran wisatawan saat datang ke ibukota Austria. Tentu bangunannya yang mempesona sebagai kastil terindah. Kompleks istana yang luas, mewah dan indah ditemani taman yang mengagumkan juga. Sayang kami datang di musim dingin dimana tak ada bunga warna-warni dan air mancur taman. Namun pengunjung kastil tak pernah sepi.

Kaisar Franz Joseph I adalah raja terakhir dan terlama memimpin Austria dan sekitarnya. Beliau dilahirkan dan wafat di istana ini. Beliau memperisteri puteri kerajaan dari Bavaria, Jerman yang bernama Elizabeth, dengan lebih banyak dikenal dengan nama “Sissi“. Karena karakter dan kepribadian ratu ini maka kisah ratu “Sissi” didokumentasikan dalam film. Film ini membuat istana pun menjadi perhatian publik. Film “Sissi” hampir diputar setiap Desember atau libur natal di Jerman.

Legenda Ratu “Sissi” menjadi cerita menarik yang mirip dengan dongeng. Ia tak hanya cantik tetapi disukai karena kepribadiannya. Cerita ini yang divisualisasikan menjadi film dengan latar belakang istana schönbrunn. Istana ini begitu melegenda sehingga banyak orang datang mengunjunginya.

Schönbrunn juga menjadi tempat publik. Datang di saat musim dingin, ada pasar menjelang natal dan tahun baru sebagaimana yang pernah saya ceritakan di sini. Di musim panas di sekitar istana terdapat konser musik karya-karya pemusik Austria yang sudah mendunia. Itu sebab kastil tak pernah sepi pengunjung.

Penasaran bagaimana kondisi dalam istana? Silahkan datang dengan bayar tiket masuk 22€ per orang!

Linz, Austria (2): Neuer Dom, Gereja Terbesar di Austria

Neuer Dom Linz. Begitu besarnya hingga kamera saya tidak cukup mendokumentasikan keseluruhannya.

Pintu masuk.

Salah satu menara gereja.

Bergaya arsitektur neo-gothic.

Sudut gereja untuk berdoa.

Bilik pengakuan dosa.

Salah satu sisi di ruang gereja tertulis demikian.

Kiri adalah organ gereja dan kanan adalah salah satu jendelanya yang dibuat menganggumkan.

Apa kabar anda di hari Minggu? Saya ajak anda berkunjung ke gereja katedral di Linz, Austria. Katedral ini juga dikenal Mariendom dalam bahasa Jerman atau dalam bahasa Indonesia menjadi katedral Santa Maria Tak Bernoda. Namun banyak pula yang menyebutnya Neuer Dom. Perkiraan saya mengapa disebut demikian, bisa jadi gereja dibangun awal abad 20. Umumnya katedral atau dom di Jerman dan Austria dibangun sebelum abad 20.

Kami tiba saat musim dingin di gereja ini. Untuk memarkirkan mobil, ada beberapa lokasi. Udara dingin di luar sungguh tak tertahankan. Namun pesona menara gereja dari kejauhan menuntun kami menuju ke gereja. Ya, menara gereja ini memang tinggi. Namun penelusuran informasi mengatakan bahwa menara di Neuer Dom Linz bukanlah yang tertinggi.

Omong-omong soal menara gereja, kita juga bisa loh ke puncak menara seperti Dom Santo Stephan di Wina, Austria. Pengalaman saya menuju ke menara dom, yakni saat saya dan suami berada di Dom Köln yang sangat tinggi, bisa dicek di link ini. Untuk menuju ke puncak, kami perlu naik tangga biasa dan cukup melelahkan pastinya. Pengalaman menuju puncak menara Neuer Dom di Linz tidak kami lakukan. Saya berpikir udara dinginnya membuat saya hanya ingin diam dalam ruangan saja. Meski pilihan ini layak untuk melihat panorama kota Linz yang dilalui sungai donau dan rhein. Akhirnya saya pun memasuki dalam gereja Neuer Dom.

Sebagai katedral yang dibangun baru abad 20 tentu masih terlihat kokoh dan sempurna. Tak salah jika gereja ini dijuluki gereja terbesar di Austria. Katanya sih, gereja ini mampu menampung umat hingga 20.000 orang. Sumber informasi wisata di Linz mengatakan ini adalah katedral terbesar di Austria. Bahkan tinggi salib di menara gereja sedikit lebih tinggi dibandingkan Dom St. Stephan di kota Wina.

Banyak orang senang berkunjung ke sini, kata penduduk Linz. Pasalnya gereja menawarkan kedamaian dan ketenangan batin. Suasana dalam gereja memang tenang dan sunyi. Tak ada misa atau ibadah saat saya datang. Tampak beberapa orang memang sedang khusuk berdoa. Sebagian lagi seperti saya, mengamati tiap sisi gereja yang luas dan ada sudut-sudut yang menceritakan pengalaman iman dari tokoh-tokoh orang Austria.

Untuk menyelami bagian tiap bagian gereja, rasanya anda perlu waktu lama. Halaman gereja sendiri sering dijadikan pergeleran acara spesial Linz. Jika anda beruntung hadir saat misa di hari Minggu, mungkin anda akan menyaksikan paduan suara yang dibawakan organ gereja yang megah. Kemegahan gereja ini juga didukung oleh tiap jendela yang berhias dan mengagumkan.

Have a blessed Sunday!

Wina, Austria (2): Kota Layak Huni dan Kota Musik

Patung Kaisar Franz Joseph I di pusat kota Wina.

Dari Wina, ada jalan tol yang langsung terhubung ke ibukota tiga negara yakni Praha, Budapest dan Bratislava.

Salah satu museum di pusat kota Wina.

Kastil Schönbrunn tampak kejauhan yang juga menjadi destinasi wisata.

Kunjungan ke ibukota Austria, Wina adalah kali sekian bagi kami. Itu artinya, kunjungan ke Wina bukan kali pertama. Jika kami menyeberang ke Ceko, Hungaria dan Slowakia maka kami melewati kota ini. Namun ada juga kesempatan lain, kami datang ke Wina untuk berkeliling seperti cerita tentang Dom St. Stephan.

Dom Santo Stephan memang menjadi landmark kota Wina. Nama santo Stephanus atau Dom St. Stephan juga ada di Passau, Jerman dan Budapest, Hungaria sepertinya ada keterkaitan sejarah. Dom St. Stephan di Wina ini menjadi pusat kota dan destinasi wisata yang digemari wisatawan. Pasalnya, wisatawan bisa naik ke menara gereja maka pengunjung bisa melihat panorama kota Wina dengan arsitektur yang indah. Kebanyakan bangunannya berciri baroque.

Kota Wina juga dikenal Kota Musik. Kota ini sering menggelar festival dan konser. Kemarin saja di awal tahun 1 Januari ada konser musik tahunan yang rutin digelar di Staatoper atau Vienna State Opera. Konser musik ini membawakan karya musik legendaris yang dikenal dunia seperti Mozart, Beethoven, Haydn, dll. Meski tiket masuk opera harganya terbilang mahal menurut saya, namun konser ini layak ditonton. Harga tiket tergantung posisi duduk anda. Penonton pun penuh sesak dan selalu menyambut meriah di akhir instrumen.

Sedangkan jika anda datang di musim panas, di kota ini menawarkan summer night concert. Konser musik ini biasa digelar di kastil Schönbrunn. Konser megah dan menawan ini memang patut dikunjungi, terutama pecinta musik. Di Wina, ada beberapa tempat yang memang menyajikan konser musik kontemporer, musik klasik bergaya Mozart dan sejenisnya. Ini alasan citra kota ini disebut kota musik.

Kota ini menawarkan stabilitas di segala bidang. Itu sebab Wina sudah mendapat peringkat kota layak huni sejak 2015. Kota ini bahkan sudah memiliki kerangka Smart City menuju tahun 2050. Pastinya mengesankan juga soal kendaraan umum.

Setelah kami mencoba dua pengalaman yakni menggunakan kereta api dari Jerman dan kendaraan pribadi maka kami menilai menggunakan kendaraan umum lebih murah. Jika menggunakan kendaraan pribadi maka ada biaya tol dengan nilai terendah 9€ untuk 10 hari. Parkir di pusat kota Wina, dimulai dari sekitar 1,9€ hingga 3,9€ per jam. Mungkin ini cara yang mendorong orang menggunakan kendaraan umum. Semakin sedikit berkendara di dalam kota Wina tentu baik bagi pengurangan polusi yang menjadi tujuan jangka panjang Smart City kota Wina. Mengesankan!

Bagi para turis, kota ini perlu dikunjungi karena ada sekitar 100 museum yang berkaitan dengan seni. Kota ini juga pernah menjadi kediaman tokoh dunia. Sebut saja Beethoven, Mozart, Sigmund Freud, dan berbagai tokoh dunia lainnya. Karena Wina pernah menjadi kota kediaman Kaisar maka tak salah banyak bangunan yang menarik dan instragamable. Asyik ‘kan!

Linz, Austria (1): Freinbergkirche Hl. Maximillian, Gereja dan Menara di Atas Bukit

Tampak samping memperlihatkan ciri arsitektur gereja.

Gereja bersisian dengan benteng yang material pembangunannya mirip.

Dari sisi lain.

Menara batu, di samping gereja.

Penggambaran gaya arsitektur gothick dan batu, baik itu bata merah maupun batu alam.

Happy Sunday! Apa rencana anda di hari Minggu ini? Bagaimana jika saya ajak anda mengunjungi salah satu gereja katolik di Linz, yang menurut saya bentuk bangunannya menarik?

Kami tiba di Freinberg, dekat pinggiran kota Linz, Austria. Freinberg ini seperti bukit dan dari sini kita bisa melihat panorama kota Linz. Karena kami melihat tak tersedia tempat parkir mobil, maka kami urung memutuskan ambil foto panorama kota Linz. Lagipula salju turun lebat menutupi pemandangan menjadi putih dan berawan. Kami terus melaju dengan kendaraan.

Tampak kanan ada gereja yang dibangun unik nan menarik. Kami pun jadi penasaran. Suami segera melipir, tepat di situ tersedia tempat parkir. Kami pun berhenti sejenak untuk mendokumentasikan.

Gereja ini mungil dan tak banyak bangku umat di dalam. Suasana di dalam umum seperti kebanyakan gereja-gereja katolik lainnya. Altar sederhana dan tampak di seberangnya adalah organ besar. Bangku umat masih tampak kokoh yang terbuat dari kayu. Jumlahnya tak banyak, dibandingkan kebanyakan gereja katolik di Jakarta. Tak ada orang yang berdoa dalam gereja. Sepi.

Kemudian saya keluar gereja. Saya lebih tertarik mengamati bentuk bangunan yang berbeda ciri arsitekturnya. Biasanya saya dengan mudah menebak bentuk arsitektur gereja, seperti baroque, gothic, brick gothic, atau rococo. Tebakan saya, gereja ini berciri brick gothic.

Brick gothic dalam bahasa Jerman disebut backsteingothic, yang mengusung konsep gothic dan bangunan batu. Gaya gothic terlihat dari ujung-ujung menara yang dibuat lancip. Sedangkan bangunan seluruhnya dengan batu, dihiasi juga bata merah sebagaimana umumnya. Ini disebut ciri bangunan gereja gaya backsteingothic.

Penelusuran informasi dikatakan bahwa gereja dibangun atas inisiatif Archduke Maximilian dari Austria Este. Memang ada prasasti di dinding gereja tertulis bahwa ini adalah gereja maximilian. Sementara samping gereja adalah menara batu yang juga sama-sama indah bangunannya. Dihiasi jendela-jendela dan bata merah. Rupanya dahulu ini adalah benteng pertahanan.

Sekitar tahun 1828 gereja dan benteng pertahanan dibangun bersamaan. Kemudian tahun 1837 gereja diresmikan dan menjadi bagian dari para biarawan Yesuit. Tak jauh dari menara dan gereja memang ada kompleks sekolah katolik. Sementara di seberang gereja ada jalur pedestrian dimana orang-orang bisa mengamati panorama kota Linz dari atas.

Hmm, menarik! Setidaknya kami tidak lupa berkunjung ke rumah Tuhan.