Dom Salzburg: Perpaduan Seni Baroque dan Gothic Sejak Tahun 774

Dom Salzburg tampak depan.

Menara gereja seperti layaknya gereja di Jerman.

Pintu gereja ada tiga yang menandai Iman, Harapan dan Kasih.

Kemegahannya sudah tampak dari pintu masuk.

Wajar saja jika butuh waktu berpuluh-puluh tahun membangun gereja ini. Lihat kubahnya terukir indah dengan pahatan yang sempurna dan lukisan indah.

Bilik pengakuan dosa.

Lekukan kubah yang indah dan menawan.

Lukisan uskup pendahulu gereja.

Organ besar di tengah atas dan dua organ kecil. Keren.

Altar, persembahan misa kudus.

Kapel bawah tanah.

Berjalan menyusuri kota lama Salzburg yang berdekatan dengan Rathaus, kami menemukan Dom Salzburg yang kemegahannya sudah terlihat mata dari jauh. Lonceng gereja berbunyi berkali-kali kala jam 3 sore. Kami mengikuti arah dimana lonceng dibunyikan. Rupanya setelah kami mencari tahu lonceng gereja telah ada sejak 1628. Panggilannya begitu kuat mendetang.

Di depan gereja beberapa turis tampak mengambil foto. Ada taman dan air mancur yang megah khas Baroque. Gerbang gereja dihiasi patung pahatan yang sempurna dengan tahun pembuatannya. Wow, gereja ini menyimpan sejarah yang terekam selama berabad-abad lamanya. 

Di katedral ini pula saksi bisu dimana Mozart, tokoh dunia musik terkenal dibabtis. Konon gereja yang dibangun sejak tahun 774 lalu sempat terjadi kebakaran yang hebat, gereja direnovasi lagi tahun 1181 dan baru selesai 1628. Ratusan tahun membangun gereja ini? Tak salah karena setiap kubahnya dibuat detil khas Baroque dengan lukisan yang menawan. Katedral ini juga menyimpan memori kala sempat menjadi sasaran perang dunia kedua. Kemudian direnovasi dan selesai 1959. Luar biasa!

Ada tiga pintu, namun untuk masuk gunakan pintu tengah. Pintu pertama bertuliskan 774, pintu kedua bertuliskan 1628 dan pintu ketiga 1959. Ketiga pintu ini merupakan simbol IMAN, HARAPAN dan KASIH. Kubahnya yang tinggi menggambarkan keindahan dengan lukisan dan pahatan karya seni. Ini disebut ciri gothic. Sempurna! Di sisi gereja ada lukisan para orang kudus dan tempat untuk berdoa. Sejenak saya berdoa dan suami tampak memotret setiap sisi gereja. 

Di koridornya ada patung empat pengarang Injil yakni St. LUKAS, St. MATIUS, St. MARKUS dan St. YOHANES. Di belakang gereja saya melihat bilik kayu yang kokoh dengan ukuran semacam kamar privat. Ini adalah ruang pengakuan dosa. Di Indonesia ruangan ini selalu menyatu dengan bangunan gereja. Di sini terpisah dan sepertinya masih menjadi gaya lama. 

Bangku di depan altar sepertinya bangku lama saat gereja ini berdiri karena tampak tua dan sederhana sekali. Tak sebanding dengan kemegahan gereja yang luar biasa. Namun bangku umat sudah tampak moderen seperti layaknya gereja yang saya temui di Jakarta. Mungkin di bangku lama untuk tempat spesial para diakon atau petugas misa, mungkin loh.

Di sekitar atas altar saya mendapati organ lama seperti yang pernah saya jumpai di Dom Passau, Jerman. Organ besar ada di tiga tempat dan yang terbesar di atas balkon gereja. Tak terbayang keindahan suara yang dihasilkan kala koor menyanyikan pujian bagi Tuhan. Pastinya merdu menambah kekhusyukan ibadah.

Altar yang menjadi pusat perayaan ibadah dibangun dengan keindahan ciri khas Baroque. Di sisi altar ada lukisan sepertinya ini adalah lukisan tokoh setempat dengan pakaian kebesaran dan khas seperti uskup di masa lalu atau pengagas bangunan ini. 

Tak jauh dari tempat koor, ada tangga menuju ke bawah. Di bawah ada kapel untuk ukuran umat yang tak banyak. Di kapel ini ada foto dan museum untuk menyimpan benda-benda rohani pada masa awal gereja. Lalu masih di lantai bawah gereja dijelaskan bahwa uskup pertama dari gereja dimakamkan di sini. 

Jika menelisik bangunan Dom Salzburg sekilas seperti Dom di Passau bentuk bangunannya. Namun ciri gothik terlihat dari atas gereja dengan kubahnya yang menjulang. Untuk masuk gereja, tidak ada biaya alias gratis. 

Namun saran saya sebagai berikut:

  • Berpakaianlah yang sopan dan pantas karena dimana pun tempat ibadah, petugas selalu melarang turis bila berpakaian yang kurang sopan.
  • Tidak makan dan minum selama di gereja.
  • Jaga kebersihan!
  • Buka topi!
  • Tidak berisik.
  • Dilarang ambil foto tentang orang yang berdoa!
  • Tidak mengambil foto di area altar. Di depan altar boleh.

Demikian laporan pandangan mata saya. Bagaimana pengalaman anda melihat tempat ibadah yang menurut anda menarik?

Menyimak Penggunaan Bis di Salzburg, Austria

Pemandangan Salzburg dari dalam bis.

Beli tiket di sini.

Bisnya panjang semacam bis gandeng.

Ada tempat untuk binatang peliharaan.

Reklame aplikasi untuk membantu penumpang bis.

Suasana bis yang nyaman dan bersih.

Halte tujuan selalu nampak otomatis di atas.

Penumpang yang berdiri disediakan tali gantung yang nyaman. Lalu ada informasi juga jika anda bisa membeli tiket pada sopir.

Tombol stop otomatis untuk mengingatkan sopir agar berhenti.

Tampak di luar adalah halte bis moderen dengan papan informasi otomatis tentang bis dan lama menunggu.

Di sini disediakan juga city tour bilamana anda suka film ‘Sound of Music’ karena mengambil latar shooting di Salzburg.

Beberapa kali datang ke Austria, saya biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Lain waktu saya ingin mencoba moda transportasi umum, bis. Bis di Salzburg itu terlihat moderen dan bersih. Bisnya panjang semacam bis gandeng. Lalu pintunya otomatis serta petunjuk informasi halte pun dilakukan secara otomatis pula. Keren deh!
Terminal bis dekat dengan stasiun Hauptbahnhof Salzburg, berjalan kira-kira seratus meter ke depan. Jangan bayangkan terminal bis sebesar kota Jakarta dan kacaunya lalu lalang kendaraan! Di sini terminalnya sederhana hanya beberapa lajur dengan nama tujuan halte tertera secara otomatis di tiap lajur. Untuk bisa naik anda harus membeli tiket. Karena ingin sightseeing, maka saya pilih tiket 1 hari dengan biaya 4€ per orang. Pembayaran tiket juga bisa melalui kartu kredit atau debit asalkan ada logo yang sama yang tertera di mesin.

Ini semua adalah sistim kepercayaan bahwa anda punya tiket kala naik bis. Anda juga bisa beli tiket langsung ke sopir saat hendak naik. Di sekitar sopir ada mesin kasir dengan uang kembalian. Lengkap! Sementara saya pernah naik bis di Penang, Malaysia tidak punya uang kecil akhirnya saya ditolong penumpang lain untuk dibayarkan. Karena sopir bis di Penang tidak melayani transaksi pengembalian uang. Di Salzburg tidak, sopir bis punya mesin kasir untuk mengembalikan uang anda bila anda membayar dalam nominal yang besar.

Saya pikir setiap orang di bis dipercaya punya tiket di kantongnya. Ternyata baik di Jerman maupun di Austria diberlakukan petugas kontrol tiket dengan pakaian non dinas. Siapa sangka jika petugas memeriksa secara random dan anda kedapatan tak punya tiket! Apa yang terjadi? Anda kena denda. Nah itu saya tidak tahu berapa besarnya denda. 

Hanya saja saat pengalaman naik bis pertama kali di Salzburg, petugas tiket yakni pria berambut blonde dan berpakaian non dinas layaknya penumpang menunjukkan kartu kepada sopir. Dia meminta setiap penumpang untuk menunjukkan tiket kepadanya. Syukurlah saya membeli tiket! Pengalaman saya kena denda karena bertransportasi umum bisa di lihat di sini. Dari situ saya betul-betul menyimak bagaimana seharusnya berkendara agar tidak kena denda lagi. Di Eropa bo, mahal segalanya!

Bacahttps://liwunfamily.com/2014/07/20/tips-bertransportasi-umum-di-negeri-orang/

Begitu canggihnya bis ini sampai ada aplikasi penggunaan bis loh! Tuh lihat di promosi yang ditempelkan dalam bis. Setiap halte yang dituju bis tertulis dengan baik secara otomatis di layar atas dekat dengan sopir. Setiap halte bis akan berhenti. Tidak ada aturan lewat pintu mana saat naik atau turun namun jika anda belum ada tiket usahakan naik dari pintu depan agar bisa langsung membeli di sopir. Sebaiknya persilahkan dulu penumpang lain untuk turun, baru kita bisa naik bis agar tertib. 

Bisnya bersih dan bangkunya nyaman. Usahakan untuk tidak membuang sampah dalam bis. Ada tombol stop untuk pemberhentian mengingatkan sopir. Lalu di sudut lain, bagi penumpang yang membawa binatang peliharaan ada space khusus termasuk tali untuk anjing peliharaan agar nyaman. Jika tidak kebagian tempat duduk, anda bisa nyaman bergelantungan di tali bis yang disediakan. 

Bis berhenti sesuai halte yang ada, tidak bisa di sembarang tempat. Di halte ada yang sudah moderen dengan memasang papan halte otomatis yang bertuliskan spesifik bis dan lama menunggu. Keren ya seperti di stasiun saja. Namun ada juga halte yang belum terpasang papan informasi otomatis seperti itu. Pastinya turis yang datang tidak tersesat dan nyaman dalam bertransportasi umum.

Jika anda punya uang lebih, anda bisa menggunakan taksi juga. Taksi tersedia di beberapa tempat termasuk di depan mall, dekat stasiun Hauptbahnhof Salzburg. Namun jika ingin lihat-lihat kota, silahkan menggunakan bis! 

Apakah anda punya pengalaman lain soal bertransportasi umum? 

Siapakah Mozart? Cari Tahu di Mozart Geburthaus, Salzburg

Rumah tempat dimana Mozart dilahirkan. 

Patung Mozart berdiri dekat museum.

Sebuah prasasti menandai kelahiran Mozart pada 27 Januari 1756.

Ada promosi paket tur lain menyusuri sungai di seberang museum dengan kapal yang romantis.

Harga tiket masuk.

Gereja di ujung jalan.

Oleh-oleh yang bisa jadi buah tangan.

Mozart terlahir dengan nama Wolfgang Amadeus Mozart pada tahun 1756 di Salzburg, tepatnya di jalan Getreidegasse. Namanya dikenal memberi pengaruh besar pada dunia musik. Dia bahkan memulai debutnya ketika penampilannya berhasil memukau Pangeran dari Bavarian. Sejak itu karyanya semakin dicintai oleh siapa saja. Ini terbukti saat ia konser keliling Eropa, karyanya dikagumi banyak orang.

Sejarah yang panjang yang dilewati Mozart menjadikan karyanya seolah abadi. Ingat tiada yang instan di dunia ini. Saat saya memasuki rumah kelahiran tokoh musik dunia ini, saya terkagum atas usaha pemerintah setempat untuk melestarikan dan memelihara peninggalan milik Mozart dan keluarganya. Bayangkan bahwa turis seluruh dunia datang ke Salzburg hanya untuk menyimak dan mempelajari riwayat komposer terkenal ini. Entah karena kelelahan dan faktor makan siang, saya belum menikmati makan siang saat waktunya tiba sehingga banyak informasi yang saya lewatkan. Sebaiknya jika berkunjung ke museum atau tempat bersejarah tidak dalam kondisi kelelahan dan kelaparan sehingga fokus.

Untuk menuju ke rumah kelahiran Mozart, anda naik bis dari stasiun Hauptbahnhof Salzburg. Bayar saja 4€ per orang untuk 24 jam sehingga anda puas berkeliling, tidak hanya di rumah bersejarah Mozart. Anda bisa naik bis jurusan ke Rathaus atau Altstadt (kota tua). Turunlah di halte bis Rathaus, berjalan kaki kira-kira 3 menit maka anda sudah tiba. 

Per orang dikenakan tiket masuk 11€. Cukup mahal memang namun bagi pengagum karya Mozart, mereka rela bayar tiket tersebut. Tak jauh dari situ, anda bisa menikmati aneka sovenir dengan gambar Mozart seperti coklat, makanan, pernak-pernik hingga bel musik sebagai hadiah. Semua lengkap! 

Suasana kota tua yang sejuk dan dihiasi bangunan khas baroque layaknya di Jerman menambah keindahan untuk berfoto. Beberapa turis tampak asyik berfoto, selebihnya mereka berbelanja di area pertokoan dengan merek-merek ternama. Namanya area turis tak lengkap bila tidak ada restoran. Aneka restoran ada di sini mulai makanan laut (seafood), McD, makanan India, masakan Italia, restoran Asia bahkan makanan Jerman, semua ada. Untuk menarik atensi pengunjung di restoran Austria, mereka menambah iringan musik karya Mozart sehingga terkesan romantis. 

Setelah mengunjungi rumah kelahiran Mozart atau Mozart Geburthaus, perjalanan sejarah bisa dilanjutkan ke Mozart Wohnhaus atau rumah tinggal Mozart. 

Tidak hanya Mozart, di Salzburg ada beberapa rumah kelahiran Musikus dunia juga. Ini bisa anda dapatkan asalkan anda bersedia berkeliling hingga museum Salzburg. Penasarankan siapa saja tokoh musik dunia lainnya? Silahkan datang ke Salzburg!

Tips dari saya:

  • Jika anda berkunjung ke museum, sebaiknya anda dalam kondisi yang nyaman, tidak kelaparan atau kelelahan agar setiap informasi bisa tersampaikan dengan baik.
  • Bawa uang tunai untuk bayar tiket masuk! Jika di beberapa negara masih diterima pembayaran kartu kredit atau debit, di sini tidak.
  • Udaranya dingin meski masih di musim gugur. Bawa jaket/syal/baju hangat agar merasa nyaman. Mungkin letaknya di sekitar pegunungan membuat suasana begitu sejuk dan dingin.
  • Hasrat untuk ‘urusan ke belakang’ karena udara begitu dingin, di sini tidak ada WC umum. Manfaatkan saat di museum atau restoran saat makan siang di sana secara gratis.

Well, tiada yang paling berkesan bahwa dalam hidup kita masih dikenang dengan karya-karya yang baik. Semua proses yang dilalui Mozart begitu panjang, namun masih diingat orang hingga sekarang. Impian itu tidak ada yang instan, asalkan kita berani bayar mahal harga kesabaran. 

Semoga bermanfaat!

Nasi Goreng Indonesia Digemari di Luar Negeri? Datang ke ‘Yuen China Restaurant’ di Salzburg, Austria!

Nasi goreng khas Indonesia. Terlihat sederhana namun harganya tidak sederhana. Rasanya enak sekali!

Sayur bambu dan jamur yang dipesan suami.

Daftar minuman tersedia di sini.

Suasana restoran khas Asia.

Ini semacam tungku untuk menghangatkan makanan, di dalam ada lilin yang menyala. Makanan diletakkan di atas tungku ini agar tetap hangat.

Letaknya di kota tua, tak jauh dari rumah kelahiran Mozart.

Ini jadi nasi goreng termahal saya.

Siapa yang tak kenal nasi goreng di Indonesia? Dari harga termurah sepuluh ribu rupiah di pedagang gerobak hingga harga termahal puluhan ribu rupiah di restoran eksklusif untuk seporsi nasi goreng. Saya suka nasi goreng bila berada di luar Indonesia dan rindu masakan tanah air. Mengapa? Nasi goreng adalah menu masakan Indonesia yang mudah dijumpai di luar negeri. 

Konon kata ibu saya, nasi goreng adalah makanan rakyat dimana masa perang ketika banyak orang begitu susah untuk makan, mereka menggoreng nasi agar tetap bisa dimakan dengan enak. Betul saja bumbu nasi goreng yang sederhana, berbeda dengan masakan Indonesia lain yang kaya bumbu maka nasi goreng digemari lidah orang-orang non Indonesia. Termasuk suami juga suka nasi goreng yang menjadi makanan favorit sejak kenal Indonesia. 

Tak percaya bahwa nasi goreng populer di luar negeri. Datanglah ke ‘China Restaurant Yuen’ di Salzburg, Austria! Letaknya tak jauh dari Mozart Geburthaus, rumah kelahiran Mozart di kota tua. Terdapat beberapa menu nasi goreng di sini. Saya pikir pramusaji atau pemiliknya adalah orang Indonesia namun ternyata tidak. Katanya banyak orang juga datang dan memesan nasi goreng, bukan hanya dari Indonesia saja. Mereka pun menyebut ‘Nasi Goreng Khas Indonesia’ dalam daftar menu mereka.

Saya pesan nasi goreng dan suami pesan sayur bambu. Tak berapa lama pramusaji yang ramah menyediakan pesanan kami dalam wadah yang dihangatkan dengan lilin. Dengan begitu makanan akan tetap hangat. Maklum saja Salzburg tetaplah kota yang sejuk dan dingin sehingga paling enak jika menyantap makanan selagi hangat. Enak sekali! Kerinduan saya terbalaskan di sini. Rindu masakan di rumah. 

Bagi anda di Indonesia, nasi goreng adalah menu biasa. Namun bagi saya di luar sini, nasi goreng pun menjadi istimewa. Ini pertama kali saya makan nasi goreng seporsi dengan harga paling mahal. Biasanya saya makan nasi goreng di pedagang kaki lima hanya sepuluh ribu rupiah. Kini saya makan nasi goreng dengan harga lebih dari seratus ribu rupiah yakni 11,90€. Ya sudah, harga tak masalah. Setidaknya rasa lidah terobati, rindu masakan Indonesia.

Apakah anda suka nasi goreng juga? Bagaimana pengalaman anda dengan nasi goreng?

‘Love Locked Bridge’ Jembatan Penuh Cinta di Salzburg

Contoh gembok-gembok yang diikatkan pada jembatan. Warna dan bentuknya yang unik menghiasi jembatan. Jangan lupa kuncinya dibuang ke sungai!

Lihat saja banyak orang lalu lalang di jembatan ini, tak pernah sepi!

Terlihat indah sekali, berwarna-warni menghiasi jembatan.

Pemandangan yang indah dari atas jembatan. Keren!

Ini pasti bukan saya! Ada nama pasangan dan tanggal anniversary di gembok.

Gembok cinta adalah kiasan bilamana sepasang kekasih berkomitmen untuk terus bersama, menuliskan nama mereka di gembok kunci sebagai bukti cinta kemudian mengikat gembok di pinggir jembatan. Setelah itu kunci dari gembok dibuang ke sungai di hadapan mereka. Cinta mereka abadi karena tidak bisa dibuka dan terikat pada jembatan. Begitu cara memaknai ‘Love Locked Bridge‘ yang saya temukan di Salzburg. Di Jerman saya juga menemukannya di kota Regensburg. Kali ini tak jauh berbeda dengan yang ada di Regensburg, ada jembatan cinta juga di dekat kota tua (Altstadt) Salzburg, Austria.

Tidak ada informasi waktu jembatan cinta ini dipenuhi oleh gembok-gembok yang bertuliskan nama sepasang kekasih. Saat saya tanya penduduk setempat, mereka angkat bahu. Jelasnya, jembatan ini selalu dipadati banyak orang, entah keperluan menyeberangi sungai atau memang ingin mengabadikan cinta mereka di sini. Letaknya yang berada di kota tua memang tepat didatangi oleh turis untuk mendokumentasikan keindahan jembatan dan pemandangan di sekitarnya.

Penasaran ‘kan? Sayangnya keberadaan jembatan ini tidak begitu populer sehingga saya hanya kebetulan lewat di situ setelah puas berkeliling di kota tua Salzburg. Seandainya saya tahu sebelumnya, saya pasti sudah bawakan gembok besar dengan hiasan nama saya dengan suami untuk ditancapkan di pinggir jembatan. Meski pernah dua kali berada di ‘Love Locked Bridge’ kok saya belum sempat memasangkan gembok bertuliskan nama dan suami. Lain kali mungkin!

Jembatan di wilayah area pejalan kaki dekat ‘Mirabel palace’ ini memang asyik untuk dikunjungi. Suasana sore hari saat musim gugur seperti ini terlihat romantis buat pasangan yang datang. Jembatan ini dikenal dengan nama jembatan Markarsteg dengan pemandangan sungai Salzach. Di tengah jembatan anda akan melihat hamparan bukit dan gunung yang menjulang dengan sinar matahari kala senja. Keren!

Setelah anda berkunjung ke ‘Mozart Geburthaus’ atau rumah kelahiran Mozart, berjalan kaki sekitar tiga menit melewati jalan Ferdinand Hanusch Platz maka anda akan menemukan jembatan tersebut. Atau dari stasiun Salzburg Hauptbahnhof maka anda cukup naik bis nomor 160, 170 atau 180 lamanya kira-kira 10 menit. 

Tips:

  • Bawa gembok jika ingin memulai kisah ‘Love Locked Bridge’ di sini daripada membeli karena mahal harganya.
  • Bawa kamera.
  • Di sekitar situ ada beberapa kafe, sesaat setelah mengabadikan cinta lewat gembok, silahkan mampir untuk menikmati senja di sekitar jembatan.

Semoga bermanfaat!

Menyimak Pengelolaan Pom BBM di Jerman (Bayern) dan Austria

Contoh pom bensin di Jerman (Bayern).

Contoh pom bensin di dekat perbatasan di Austria. 

Harganya berbeda dan harga ini murah karena bayar langsung pakai kartu debit. Itu mungkin karena pengelola memangkas biaya menggaji karyawan yang bertugas jadi kasir.

Lagipula tak ada petugas yang membantu mengisikan BBM ke tangki mobil anda. Pelayanan mandiri.

Memiliki kendaraan yang membutuhkan BBM (=Bahan Bakar Minyak) sepertinya perlu jeli dalam membelinya. Saya ambil contoh Bayern saja karena mungkin tiap bundesland atau negara bagian berbeda-beda. Lagipula saya belum mengalami isi bensin di wilayah negara bagian lain.

Di Bayern tiap pom bensin bisa berbeda-beda harganya. Mengapa? Karena pom bensin dikelola oleh pihak swasta. Meski hanya sekian cents Euro, namun bayangkan jika sekali membeli bensin full tank, tentu berbeda cents pun berpengaruh menjadi besar nominalnya saat dibayar.

Katakanlah pom bensin di wilayah rest area dekat tol bisa mematok harga lebih mahal dibandingkan wilayah pemukiman. Karena letaknya yang strategis di jalan tol tentu amat memungkinkan mobil butuh BBM setiap saat. Oleh karena itu terkadang untuk mendapatkan harga termurah, saya melaju ke negara tetangga, Austria yang sedikit lebih murah. 

Di Austria juga sama. Pengelolaan pom bensin diserahkan kepada pihak swasta. Pihak swasta bisa berlakukan tarif sesuai ketentuan. Nantinya pihak swasta pengelola pom bensin yang bertanggungjawab atas pajak BBM kepada negara. Ada yang menggabungkan layanan pom bensin dengan mini market sehingga pembayaran bensin dibayarkan di kasir mini market. Ada pula pembayaran dengan kartu debit langsung, artinya tidak ada kasir yang menerima pembayaran. Karena tidak ada kasir maka harga bensin biasanya lebih murah. Jangan coba-coba kabur setelah isi bensin karena ada rekaman CCTV yang akan mencatat nomor polisi mobil anda!

Baik di Jerman maupun di Austria menerapkan pelayanan mandiri. Artinya sopir yang membawa mobil mengisi bahan bakar yang diperlukan langsung dari tangki. Tidak ada petugas yang membantu. Sebaiknya matikan mesin mobil saat anda sedang mengisi bensin. Semua petunjuknya jelas terbaca untuk diikuti. Lalu ambil kertas bon yang tercetak di mesin otomatis dekat tangki. Bawa bon untuk pembayaran di kasir.

Berdasarkan data statistik, di tahun 2015, Jerman memiliki jumlah stasiun pengisian bahan bakar tertinggi kedua di Eropa, jauh tertinggal dari Italia. Bila dibandingkan tahun 1970, jumlah pom bensin atau stasiun pengisian BBM hanya 46 ribu di Jerman. Kini jumlah bertambahnya bahkan untiuk setiap jarak terdekat ada pom bensin. 

Begitulah hasil pengamatan saya. Ada pendapat?

Finding Peaceful Mind in Hallstatt, Austria

Hallstatt is one of world heritages that claimed by UNESCO. One day me and my husband visited this old city by car from Germany. This located is linked from Salzburg then less one hour driving without highway to Hallstatt. 

Thus Hallstatt is popular known by Salzwetten which means produce the biggest amount of salt in the world. Not only as salt mine, Hallstatt could be famous as panaroma view near lake among the mountains around.

Some world tours offer to look around the city by walking within 30 minutes. You can try going by rent of boat on spot. No entrance ticket to come here. 

Please notice this information board!

Rent boat to look around.

Hmmm, I can find peaceful mind for awhile after looking this view. 

Menjangkau Perbatasan Jerman – Austria

Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Jerman adalah Austria. Begitu dekatnya dengan Austria, sampai-sampai seperti tidak ada perbedaan yang mencolok dalam segi budaya. 

Antara Jerman dengan Austria dibelah oleh sungai yang besar, Inn. Lalu dihubungkan dengan jembatan kemudian di kota pertama yang dijejak di Austria adalah Schärding.  Schärding dikenal dengan sebutan Baroqstadt, kota yang banyak dipenuhi bangunan bergaya khas Baroq. Di sini banyak pula turis yang singgah menikmati tata kota nan lampau namun masih cantik hingga sekarang. 

(Jembatan penghubung antara Jerman dengan Austria, menjejakkan kaki pertama di Schärding)

(Kota Schärding, Austria)

(Seberang sungai adalah negeri Austria)