Bruder Konrad: Kediaman Terakhir dan Dokumentasi Karyanya

Profil Bruder Konrad yang didokumentasikan.

Benda peninggalan Bruder Konrad.
Pada 21 April 1894, Bruder Konrad wafat di sini.
Ruang pribadi dan kamar tidur Bruder Konrad.

Mengunjungi kompleks perziarahan Ältoting ternyata tak hanya Gnadennkapelle atau Black Madonna saja, peziarah yang datang bisa melihat kapel Bruder Konrad. Semula gereja ini adalah kapel St. Anna yang didirikan tahun 1657. Pada perkembangannya kapel ini dipergunakan sebagai memori Bruder Konrad. Selanjutnya kapel St. Anna menjadi basilika St. Anna, yang letaknya tak jauh juga.

Siapa itu Bruder Konrad, silahkan baca di bawah ini!

Ketika saya mengunjungi Ältoting sebelumnya, kapel Bruder Konrad sedang mengalami renovasi. Akhirnya kami tidak bisa masuk ke dalam. Lalu kali berikutnya, saya mendapati kapel tersebut sudah selesai direnovasi. Banyak orang datang ke situ untuk menghadiri misa yang memang sedang diselenggarakan. Sedangkan sebagian umat lainnya datang mengunjungi kediaman terakhir Bruder Konrad dan dokumentasi karyanya yang menjadi museum.

Saya merasa perjalanan saya menjadi lengkap. Saya pernah mengunjungi rumah kelahiran Bruder Konrad dan kini saya berhasil mengunjungi kediaman terakhir saat beliau wafat. Di kapel Santa Anna, yang kini menjadi kapel Bruder Konrad adalah tempat dimana beliau berkarya yang mendedikasikan hidupnya untuk orang miskin, kelaparan dan tak mampu. Bruder Konrad sendiri banyak menghabiskan diri melayani umat waktu Eropa saat itu terlanda bahaya kelaparan, epidemi penyakit dan perang. Devosinya pada Bunda Maria diperlihatkan melalui ruang doa miniatur yang bisa dilihat pengunjung.

Keranda bekas peninggalannya.
Media lukisan, surat dsb dari orang-orang yang merasakan pengalaman iman melalui Bruder Konrad.
Ruang yang menyimpan media pengalaman iman melalui perantara Bruder Konrad.

Salah satu pengunjung melukiskan pengalaman iman dimana dia disembuhkan dari sakit yang dideritanya.

Di sini pengunjung bisa melihat karya Bruder Konrad yang didokumentasikan dengan baik. Kita bisa melihat bagaimana umat yang berdoa melalui perantara Bruder Konrad terkabul doanya. Melalui dokumentasi ini, beliau layak menjadi orang kudus. Pengalaman iman ini didokumentasikan melalui banyak media seperti lukisan, surat, bahkan donasi untuk kelanjutan karya Bruder Konrad.

Naik ke atas, pengunjung bisa melihat ruang doa dan audiensi Bruder Konrad yang pernah dilakukan selama hidupnya. Dan di sudut kamar lain adalah ruang sederhana dimana beliau wafat dengan damai.

Bruder Konrad adalah salah satu figur yang memperlihatkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, seperti yang pernah disabdakan Tuhan Yesus. Figur Bruder Konrad memberi harapan kepada umat di Eropa saat itu yang dilanda polemik kehidupan. Banyak orang datang ke sini tidak hanya sekedar mencari tahu tetapi juga menyadari pengalaman beriman yang sudah ditampakkan beliau. Bahwa harapan itu akan selalu ada, asalkan kita datang padaNya.

Selamat berhari Minggu!

Advertisements

Ingin Tahu Pakaian Tradisional Bavaria Masa ke Masa? Simak Ini

Pakaian tradisional adalah identitas budaya. Begitu pun yang saya amati setiap ada pergelaran budaya selama tinggal di Bavaria, bagian Jerman selatan. Mode pakaiannya pun tampak memiliki ciri tersendiri dibandingkan pakaian tradisional di wilayah Jerman bagian lainnya. Tak hanya itu saja, perkembangan jaman juga memperlihatkan perbedaan pakaian yang dulu terkesan konvensional menjadi lebih fashionable untuk dikenakan.

Bagaimana saya bisa mengetahuinya?

Suatu kali saya datang ke Volkfest atau semacam festival budaya yang rutin digelar, sebagaimana cerita saya di sini. Di festival tersebut, pria dan perempuan setempat mengenakan pakaian yang khas. Jika perempuan, mereka mengenakan dirndl dan pria mengenakan celana lederhöse yang juga sangat khas dengan aksesorisnya. Tak hanya pengunjung yang meramaikan saja berpakaian demikian, para pramusaji di biergarten yang melayani tamu pun berpakaian kebesaran khas orang Bavaria.

Ini juga bisa anda jumpai saat anda berkunjung ke Oktoberfest.

Dalam festival yang saya ceritakan tadi, ada bagian tentang budaya yang menampilkan perkembangan mode dari masa ke masa. Pada abad 19, wilayah Bavaria didominasi dengan pertanian sebagai pekerjaan utama. Pakaian yang masih konvensional nampak pada pria dan perempuan masa itu. Perempuan memakai dirndl yang panjang, menutupi mata kaki. Bahkan ada aksesoris tutup kepala hingga kaos kaki panjang sebelum mengenakan sepatu. Sementara pria tak berbeda jauh dengan mode sekarang. Lederhöse yakni celana berbahan kulit memang hanya sebatas lutut. Bahannya pun harus kuat karena mereka harus bekerja di ladang juga. Untuk jaket dan kaos kaki yang dikenakan pria jaman dulu, tak berbeda jauh dengan kondisi sekarang.

Mode kondisi sekarang?

Saya pernah dibelikan suami dirndl seperti cerita saya di sini. Sayangnya dia membelikan saya sebagai kejutan sehingga ukurannya tak sesuai. Rupanya untuk memakai dirndl ada triknya tersendiri. Seperti kebaya, tubuh perempuan dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak elegan dan anggun. Jadi ukuran drindl itu harus dikenakan satu nomor kurang dari seharusnya. Misalnya, ukuran baju saya di Jerman adalah nomor 32 atau 34 kadang-kadang. Jadi ukuran dirndl saya tepatnya adalah nomor 30.

Kini saya punya beberapa dirndl. Dan ternyata harga dirndl pun fantastis mahalnya karena itu tergantung kekhasan dan dekorasi yang ditampilkannya. Harganya bervariasi sekitar 100€ sampai dengan 400€. Itu pun belum termasuk aksesoris, pakaian dalam drindl dan hal-hal lain yang melengkapinya, jika ingin. Tetapi jangan khawatir, jika tak ingin mengeluarkan kocek tebal, anda bisa mendapatkan model biasa di toko pakaian atau supermarket mulai dari 25€ hingga 60€.

Dirndl sekarang itu tidak sepanjang dahulu. Bagian seperti ‘celemek’ di masa kini dibuat dengan dekorasi yang indah dan tentu semakin rumit mengerjakannya maka semakin mahal harganya. Untuk pakaian dalam, ada yang memang tersedia khusus sehingga tampak serasi. Demikian juga aksesoris lainnya seperti anting, kalung, tas hingga sepatu.

Bersyukurlah sekarang para perempuan tidak perlu menggunakan dirndl tiap hari. Namun pakaian dirndl menjadi identitas saat acara festival budaya digelar.

So, siap-siap beli dirndl baru untuk Oktoberfest nih!

Iga Panggang plus Salad Kentang, Joe Wasner Best Bavarian Food: Rekomendasi Tempat (22)

Coba Iga Panggang ala Jerman, memang menggiurkan. Teman mahasiswa asal Jerman memperkenalkan saya tempat baru dengan harga terjangkau. Harga terjangkau juga berarti kita tidak memberi uang tip selesai makan. Maklum mahasiswa. Akhirnya, kami pun pergi ke imbiss yang baru buka di mall terdekat.

Apa itu imbiss bisa cek di sini?

Menurut saya, tidak banyak imbiss yang membuka kuliner Jerman. Kebanyakan imbiss seperti makanan asia atau makanan italia. Ketika ada imbiss yang menyediakan makanan Jerman, tentu saja ramai dikunjungi. Salah satu imbiss yang menyediakan makanan Jerman, terutama makanan khas Bavaria adalah Joe Wasner.

Dengan mengusung tema, Best Bavarian Foods, resto layanan cepat dan berharga terjangkau ini semakin memperluas pasar. Joe Wasner baru saja buka, tak jauh dari lokasi kampus. Saya dan beberapa mahasiswa Jerman pun langsung menyerbu ke sana. Kami juga bermaksud diskusi tentang tema yang jadi bahan tugas kuliah.

Selain pelayanan yang cepat dan bersih, imbiss ini juga sering mengadakan paket istimewa di beberapa hari tertentu. Paket makanan istimewa biasanya ditulis dengan kapur di papan tulis hitam. Lagi pula tempat yang nyaman seperti biergarten membuat banyak orang Bayern sendiri sering mampir dan berlama-lama duduk, sembari menikmati bir.

Karena kami sedang serius diskusi, kami putuskan tidak ada bir. Tiap orang memesan makanan yang dikehendaki. Mata saya tertuju dengan menu yang belum pernah saya coba sebelumnya. ‘Ripperl mit Kartoffelsalat’ adalah menu yang saya pilih. Pikiran saya saat memesan adalah bagaimana menikmati iga panggang tanpa nasi?

Tidak ada pramusaji saat memesan, cukup kita datang ke dekat meja kasir. Sebut pesanan yang dimaksud. Biasanya di restoran, kita butuh waktu yang lama untuk mendapatkan pesanan. Di sini kita langsung mendapatkan apa yang dipesan.

Iga panggangnya cukup empuk, berbeda dari kebanyakan iga panggang lainnya yang pernah saya coba. Warna kecokelatan yang dihasilkan maksimal. Meski bumbunya menurut lidah saya sederhana, namun rasa lezat tetap kaya.

Warna cokelat menyeluruh di seluruh bagian iga membuktikan bahwa kedai ini memasak dengan baik. Saya benar-benar puas menikmati iga panggang ini karena satu porsinya ada tiga potong iga yang sangat lezat. Kartoffelsalat juga enak, rasanya tidak terlalu asam. Kentangnya cukup empuk dan terasa fresh.

Jika ingin mencoba makanan ala Bavaria dengan harga terjangkau, sepertinya anda bisa datang ke sini!

An Guadn! Adalah bahasa lokal Bavaria, yang berarti selamat menikmati. Ucapan ini tertera di dinding kedai ini.

Christkindlmarkt, Ini 5 Hal Seru yang Bisa Diperoleh

Minggu ini sudah memasuki Minggu Advent kedua. Keriaan menyiapkan dan menyambut natal sudah mulai terasa sejak akhir November lalu. Satu hal menarik menjelang natal di setiap pelosok Eropa, termasuk Jerman adalah pasar menjelang natal. Di sini biasa disebut Christkindlmarkt atau Weichnachtsmarkt. Ada yang menggelarnya sejak Minggu Akhir November, ada pula hanya di akhir pekan selama masa Adven berlangsung. Pastinya tiap kota di Jerman menggelarnya sesuai keunikan dan tradisi masing-masing.

Christkindlmarkt digelar di lapangan terbuka yang dekat dengan pusat kota dan gereja setempat. Udara di akhir tahun di Eropa tentu saja dingin, kerap hujan dan angin kencang. Dengan kondisi yang demikian tidak menyurutkan orang untuk datang dan meramaikan pasar rakyat nan meriah ini. Di sini pula orang sibuk saling menyapa satu sama lain dan bertemu satu sama lain sambil menikmati hidangan yang ada. Meski harga makanan dan minuman di Christkindlmarkt tidak lebih murah dibandingkan pasar sesungguhnya. Namun Christkindlmarkt tak pernah sepi. Bahkan kini sebagian gerai penjualan juga bisa menerima pembayaran tidak tunai, alias melalui kartu.

Berikut lima hal yang bisa anda lihat di sudut salah satu Christkindlmarkt di wilayah Bavaria:

1. die Krippe

Ini adalah representasi figur kisah natal dimana Yesus digambarkan di palungan yang didampingi Bunda Maria dan Santo Yosep. Di situ pula dilengkapi para gembala dan hewan ternak, ditambah Tiga Raja dari Timur. Krippe selalu ditempatkan di sudut terpisah di Christkindlmarkt. Tiap Christkindlmarkt menempatkan krippe sesuai tradisi dan kebiasaan. Contohnya jika anda berkunjung ke Christkindlmarkt di Nuremberg.

2. Paduan suara/Agenda tema Natal lainnya

Di Christkindlmarkt tidak melulu kesibukan orang berjualan dan berbelanja. Di sini ada agenda yang disusun panitia untuk memeriahkan pasar menjelang natal. Satu yang saya temui misalnya paduan suara menyanyikan lagu-lagu bertema natal. Ada pula konser musik yang syahdu dan memikat pengunjung untuk datang. Hal lainnya misal ada Sinterklas atau Santa Klaus yang datang menarik minat anak-anak untuk berfoto dan menyapa.

3. Aneka sovenir dan perabotan rumah tangga yang berkaitan dengan perayaan natal

Sebagaimana ide awal penyelenggaraan Christkindlmarkt yang menjadi wadah bagi warga untuk menyiapkan natal, maka pasar rakyat Christkindlmarkt pun demikian. Ada banyak dagangan perabotan rumah tangga yang dijual di sini, mulai dari yang bertema natal hingga kebutuhan sehari-hari. Barang dagangan yang dijual juga merupakan kerajinan tangan atau industri rumahan hingga hasil olahan industri kecil masyarakat. Semua lengkap termasuk penyediaan keperluan pribadi di sini, yang diproduksi warga.

4. Makanan dan minuman

Glühwein dengan kreasinya.

Jajanan kue yang memikat.

Bagaimana pun pasar rakyat tak pernah ketinggalan dari makanan dan minuman yang memikat. Orang senang menikmati minuman glühwein dengan kreasinya untuk mengusir rasa dingin. Ada banyak jajanan lainnya yang menambah keriaan orang untuk menikmatinya. Semua orang senang menikmati kuliner sembari bercakap-cakap atau melihat lalu lalang orang. Seru ‘kan!

5. Donasi

Menjelang hari raya, orang yang datang ke Christkindlmarkt diajak untuk berdonasi bagi mereka yang membutuhkan. Bentuk donasi yang diselenggarakan Christkindlmarkt bermacam-macam. Ada berupa kupon kunjungan, penjualan barang tertentu yang hasilnya nanti disumbangkan, atau gerai informasi yang terbuka bagi para donatur. Beberapa lembaga yang membutuhkan biasanya turut berpartisipasi di Christkindlmarkt.

Kesimpulan

Bagaimana pun Christkindlmarkt bukan sekedar keperluan bisnis semata. Di sini masih tersimpan tradisi budaya yang mempererat antar warga satu sama lain. Christkindlmarkt juga menjadi kesempatan charity untuk berbagi bagi mereka yang membutuhkan agar mereka pun bisa merayakan natal. Christkindlmarkt akan selalu dirindukan tiap tahun.

Bayerische Kesselfleisch, Kuliner Tradisional Khas Bavaria: Makanan Khas Jerman (39)

Sebagaimana yang diketahui saya berkunjung ke Chiemsee, salah satu danau di wilayah Bavaria. Cerita saya tentang Chiemsee dapat dilihat di sini. Tak lengkap rasanya tanpa bercerita kuliner yang disantap di sana. Kami pun mampir di salah satu restoran eksklusif yang letaknya tak jauh dari dermaga.

Baca https://liwunfamily.com/2018/07/19/menjelajah-chiemsee-danau-cantik-berisi-pulau-laki-laki-dan-pulau-perempuan/

Kami tiba setelah makan siang di Prien. Kami berharap untuk bisa menikmati sajian tradisional khas Bavaria. Betul saja, kami mendapati menu sajian khas Bavaria di antara deretan kafe dan hotel di sekitarnya.

Pramusaji segera menawarkan buku menu. Penasaran saya pun memilih bayerische kesselfleisch, meski sejujurnya di awal saya tidak tahu makanan seperti apa ini. Pramusaji menyanggupi pesanan saya.

Pesanan yang ditunggu datang. Ini semacam daging babi yang direbus. Makanan ini juga disajikan tidak hanya ala Bavaria, tetapi juga ala Schwäbischen atau di Jerman di bagian utara. Daging babi direndam bersama bumbu hinggs benar-benar masak. Kriteria masak ditentukan dengan rasa daging yang sudah empuk.

Untuk penyajian, daging diiris tipis dan diberi kuah sedikit. Kentang rebus yang dibelah dua. Lalu seperti biasa, tak ketinggalan sauerkraut di sela-sela daging. Tak lupa diberi meeretich, semacam wasabi. Irisan lobak putih ini menjadi penguat rasa sajian ini. Sebagai penghias hidangan, ditaburi irisan daun peterselli.

Baca https://liwunfamily.com/2017/07/14/meerrettich-cocolan-semacam-wasabi/

Begitulah sajian non halal yang menjadi menu tradisional di sini. Semoga bermanfaat!

Königssee, Danau Tercantik di Jerman (1)

Setelah saya mengulas chiemsee sebagai danau yang layak dikunjungi saat anda bertandang ke Jerman, maka satu lagi danau paling cantik yakni Königssee. Siapa pun mata yang memandang ke danau ini pasti terpikat karena begitu indah. Suasana alam pegunungan dan riak danau yang tenang membuat siapa pun larut menikmatinya.

Baca https://liwunfamily.com/2018/07/19/menjelajah-chiemsee-danau-cantik-berisi-pulau-laki-laki-dan-pulau-perempuan/

Di sini pun kami menyaksikan sepasang pengantin asal Asia melangsungkan pernikahan di gereja katolik Sankt Bartholomà, di sekitar danau. Mungkin suasana alam danau ini mendukung sisi romantis. Tak hanya itu musim panas memang menjadi alasan untuk berkunjung ke sini. Dengan begitu pemandangan alam di sekitar danau menjadi jelas dan terang. Pasalnya saat menjelang sore, hujan turun membuat kabut datang. Ini membuat suasana danau berkabut dan tidak terang. Tak terbayang juga jika datang musim dingin ke danau ini. Salju menutupi dan tentu dinginnya membuat tak nyaman saat menyusuri jalur alam. Itu sebab rekomendasi terbaik berkunjung adalah musim panas.

Begitu indahnya danau ini karena dikeliling hutan dan pegunungan yang indah. Banyak pendaki memasuki danau ini sebagai pintu masuk menjangkau jalur pendakian. Di sini terdapat taman nasional Berchtesgeden yang dilindungi pemerintah. Tidak heran jika kita bertemu penumpang di kapal yang notabene adalah pendaki.

Kapal wisata yang disediakan di sini berbeda dari kebanyakan penyedia jasa transportasi di Jerman. Kapal wisatanya cukup unik, terlihat masih konvensional namun instragamble. Kapal wisata tersedia setiap 30 menit dari pagi hingga sore hari. Ada pilihan tiket untuk setengan jalur yakni hanya ke Sankt Bartholomà atau hingga ke Salet, Obersee. Kami memilih jalur penuh.

Setelah membeli tiket, kita diarahkan menuju ke kapal wisata. Di kapal wisata, ada pemandu wisata yang memakai pakaian tradisional khas Bavaria dengan celana lederhose. Si pemandu pun bisa berbicara dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Namun ada satu yang berbeda dari kebanyakan pemandu wisata pada umumnya. Di kapal kami, si pemandu bisa meniupkan terompet di tengah perjalanan. Terompet ditiup dengan nada yang indah lalu disambut dengan pantulan suara dari balik gunung. Hal ini untuk membuktikan adanya echo yang tercipta di balik gunung-gunung sekitar Königssee.

Si pemandu wisata sekaligus peniup terompet mengaku bahwa tak semua pemandu mau melakukan hal itu. Kebanyakan mereka tak mau dan merasa tak ahli meniup terompet. Kami merasa beruntung mendapatkan pemandu tersebut. Tiap penumpang pun memberikan tip yang dimasukkan dalam topi si pemandu.

Lengkapnya anda bisa saksikan video di bawah ini.

Begitu indahnya Königssee hingga membawa Eva Braun dan Hitler kerap bersantai sejenak di sini. Pemandu sempat menunjukkan sebuah villa yang menjadi tempat rehat mereka di salah satu bukit. Kini tempat tersebut sudah dialihfungsikan.

Sepanjang perjalanan si pemandu bercerita tentang kondisi alam dari Königsee. Königssee luasnya hanya sekitar 8 kilometer. Ada satu jenis ikan yang hidup di sini. Namanya ikan saibling. Untuk menangkapnya pun hanya boleh nelayan tertentu yang sudah dapat ijin. Jika kita ingin menyantapnya ada satu restoran tradisional yang sudah lama menjajakan ikan ini dengan cara dipanggang. Cerita kuliner tentang ikan menyusul.

Tujuan pertama pun tiba, Sankt Bartholomà. Gereja kecil yang indah di tepi danau. Simak cerita selanjutnya ya!

Menjelajah Chiemsee, Danau Cantik Berisi Pulau Laki-laki dan Pulau Perempuan

Pemandangan dari atas kapal.

Pemandangan di sekitar dermaga Prien.

Dermaga Prien.

Kereta api Chiemsee-bahn.

Jika anda berkunjung ke Jerman, tepatnya di Bavaria maka tak lupa mampir ke dua danau tercantik di sini. Pertama adalah danau chiemsee yang dibahas kali ini sedangkan danau lain akan dibahas kali berikutnya. Chiemsee memang menarik dikunjungi mengingat menjadi salah satu obyek wisatawan yang berkunjung ke wilayah Bavaria. Letaknya sendiri bisa ditempuh sekitar sejam dari München.

Ketika sampai Chiemsee anda tentu perlu menjelalajah dengan menggunakan kapal wisata yang disediakan. Kapal wisata ini memiliki dua rute, setengah rute yang bertujuan untuk mengunjungi Herreninsel, atau yang diterjemahkan jadi pulau laki-laki dan Fraueninsel, pulau perempuan. Rute lain yakni full rute berkeliling ke beberapa dermaga lainnya sekitar pulau. Sementara kami memutuskan rute berkeliling pulau saja.

Kami naik dari dermaga Prien/Stock jam 15 waktu setempat. Sebetulnya ini sudah terlambat jika ingin berwisata ke Herreninsel atau Fraueninsel. Dua pulau tersebut memang menjadi target wisata. Tentu kita butuh waktu lebih lama untuk mengunjungi dan berkeliling dua pulau tersebut. Jadi tipsnya, datanglah sebelum siang tiba di Chiemsee.

Chiemsee ini sebetulnya adalah danau yang terbentuk secara alam ribuan tahun lalu. Di sekelilingnya gunung dan pemandangan hutan yang indah. Dua kendaraan bersejarah yang patut dicoba adalah chiemsee-bahn yakni semacam kereta yang telah ada sejak tahun 1887. Kereta ini dari stasiun Prien menuju dermaga Prien jika anda bermaksud ke sini dengan kereta api. Kami berangkat naik mobil dengan bea parkir 5€ untuk lamanya lebih dari 4 jam. Kendaraan lain yakni kapal ferry yang telah melayani penumpang lebih dari 170 tahun lalu. Itu sebab saya katakan dua kendaraan ini bersejarah.

Kastil Bayerische Versailles tampak kejauhan.

Dermaga Herreninsel.

Pemandangan ke Fraueninsel.

Dermaga lainnya.

Chiemsee menjadi populer karena pemandangan alam danau yang indah. Namun tak hanya itu, di pulau laki-laki atau Herreninsel terdapat kastil yang dibuat Raja Ludwig II dari Bavaria. Kastil ini mulai dibangun tahun 1878 terlihat sangat cantik dan dibangun bergaya baroque. Kastil ini disebut juga ‘Bayerische Versailles’ karena dibangun menyerupai Versailles di Prancis. Kastil ini sendiri konon kabarnya tak selesai dibangun karena kekurangan dana.

Sementara di pulau perempuan atau Fraueninsel terdapat gereja katolik bergaya baroque dan juga biara biarawati dari ordo Benediktine. Di sini kita bisa menikmati hasil tangkapan ikan nelayan dari penduduk yang tinggal di situ atau membeli minuman/cinderamata yang diproduksi dari para biarawati. Kedua pulau ini masih berpenghuni meski tak banyak penduduk di sana.

Sebenarnya masih ada satu pulau lainnya, namanya saya lupa. Pulau ini tak berpenghuni dan hanya padang rumput yang luas. Untuk melihat keindahan danau, anda bisa naik dari dermaga Bernau, Übersee, Chieming, Seebruck atau Gstadt. Namun para pelancong lebih memilih datang ke Prien.

Saat kami datang tampak sepasang pengantin melakukan sesi foto pre-wedding di salah satu pulau. Mungkin karena alamnya indah bisa menjadi inspirasi. Atau mereka punya alasan personal memilih tempat ini. Jadi, danau ini layak dikunjungi.

Begini Hubungan Bersejarah Hungaria dengan Bavaria, Jerman

Prasasti batu yang ditulis dalam dua bahasa, kiri bahasa Hungaria dan kanan bahasa Jerman.

Biara tampak depan.

Suatu kali seorang teman asal Hungaria bertanya letak suatu biara di Bavaria, Jerman. Alasannya dia tertarik mengunjungi biara tersebut yang masih berkaitan dengan sejarah bangsanya. Setelah dilakukan pencarian, akhirnya kami menemukan Kloster Niedernburg. Sudah lama biara ini tidak digunakan lagi, namun bagi turis yang datang maka tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata.

Jika merunut ke pengalaman di Hungaria, anda pasti tahu Dom St. Stephan yang megah di kota Budapest. Silahkan cek artikelnya di sini! Bahwa nama katedral tersebut diambil dari nama Raja Hungaria I, Santo Stephan, yang juga diakui sebagai orang kudus dalam tradisi gereja katolik.

Baca https://liwunfamily.com/2018/01/20/basilika-santo-stephan-budapest-hungaria-7/

Beliau diangkat menjadi Raja Hungaria I, dengan simulasi pengangkatannya berupa patung di depan gedung parlemen Hungaria, di Budapest yang terlihat cantik itu. Beliau diangkat oleh Paus pada tahun 1000 Masehi.

Figur Raja Stephan I mendapatkan topi pengangkatan sebagai raja oleh Paus. Ditemukan di depan gedung parlemen di Budapest.

Baca https://liwunfamily.com/2018/01/05/10-tempat-wisata-yang-wajib-dikunjungi-budapest-hungaria-3/

Kemudian Sang Raja menikahi putri dari Bavaria, Jerman. Beliau bernama Gisela, putri bangsawan dari Bavaria. Dapat dikatakan Gisela adalah keponakan dari Raja Otto I. Mereka menikah tahun 995 Masehi. Pernikahan ini juga menandai hubungan diplomatik antara Eropa Barat dan Eropa Timur di masa itu. Karena kepiawaian Raja Stephan I maka Hungaria dikenal sebagai jalur perdagangan dan ziarah. Dia juga dikenal meningkatkan penyebaran ajaran kristiani di Hungaria saat itu.

Figur Gisela yang digambarkan sebagai Ratu Hungaria dan Abdi Tuhan.

Tak jauh dari makam Gisela.

Lambang Gisela yakni mahkota di kanan dan salib di kiri.

Di sini Sang Ratu Hungaria, Gisela dimakamkan.

Raja Stephan I bisa dikatakan “Founder of Hungary” karena kehebatannya membangun bangsa. Dalam usia ke 68 tahun, Raja Hungaria I wafat. Usia isterinya, Gisela saat itu masih muda. Dia pun meminta diri untuk pamit dari istana kerajaan dan menepi di biara Nierdernburg tahun 1060. Biara ini yang menjadi tujuan wisata dari teman saya asal Hungaria dan sekelompok turis yang saya ceritakan di awal.

Gisela dikenal sebagai Ratu Hungaria sekaligus pelayan Tuhan. Setelah suaminya wafat, ia membaktikan diri di biara ini sehingga biara ini berkembang baik. Suaminya dimakamkan di Dom St. Stephan sedangkan beliau memilih di biara Nierdernburg, di Bavaria. Banyak orang mengagumi kesalehan hidup Gisela.

Biara ini terletak di kota tua Passau. Di sini anda melihat makam Ratu Hungaria tersebut. Menurut tour guide, banyak orang Hungaria yang paham sejarah mencari letak biara dan makam sang ratu.

Pernikahan putri Gisela dari Bavaria dengan Raja Stephan dari Hungaria mendatangkan sejarah baru bagi Hungaria. Itu sebab dikatakan ada hubungan antara Bavaria, Jerman dengan Hungaria. Biara yang dibangun sekitar abad 11 ini telah menyimpan sejarah dalam peradaban manusia.

Museumsdorf Bayerischer Wald: Religiusitas Masyarakat Bavaria di Masa Lalu (4)

Di beberapa rumah di wilayah pedesaaan ditemukan berbagai kapel sederhana yang memudahkan warga berdoa.

Di museum ini diletakkan satu bagian yang mengumpulkan benda-benda rohani di masa lalu. Salib selalu dipajang di sudut ruangan di rumah dan berbagai bangunan di masa lalu.

Salah satu isi kapel sederhana di wilayah penduduk Bavaria di masa lalu.

Museum yang saya kunjungi beberapa waktu lalu memperlihatkan tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman di masa lalu. Saya menuliskannya menjadi beberapa bagian agar lebih spesifik menjelaskannya. Ulasan terakhir adalah tentang kehidupan beragama di Bavaria. Jika anda berkunjung ke Bavaria, ada banyak bangunan Gereja Katolik mendominasi dibandingkan bangunan ibadah lainnya. Pasalnya sudah sejak berabad-abad lalu Bavaria memang kental dengan keyakinan dan tradisi gereja katolik.

Pada abad pertengahan sekitar abad 17 dan abad 18 Jerman, yang dikenal Prusia membentuk kekaisaran monarki. Namun wilayah Bavaria yang banyak menganut katolik lebih memilih untuk membentuk kewenangan dan menjadi kerajaan tersendiri, yang masuk dalam kekaisaran Prusia masa itu. Pada tahun 1825 – 1848 Bavaria dipimpin oleh Raja Ludwig I. Sejarahnya bisa terlihat dalam link di sini. Bavaria tidak ingin didominasi oleh Protestan masa itu. Ini sudah membuktikan Bavaria sudah identik dengan katolik sejak dulu.

Baca https://liwunfamily.com/2018/06/10/walhala-di-jerman-jangan-pernah-lupakan-sejarah/

Terbentuknya kerajaan Bavaria menyebabkan masyarakatnya memiliki identitas dan kultur yang berbeda, bahkan mereka menganggap diri sebagai Bayerisch, bukan Deutsche.Bangunan gereja katolik dengan gaya arsitekturnya di Bavaria sudah pernah saya bahas di link di bawah ini:

Selain itu di museum yang saya kunjungi, ada satu bagian yang memperlihatkan tentang kehidupan religius masyarakat masa lalu. Mulai dari benda-benda rohani hingga informasi seputar keyakinan beragama.

Sebagai contoh mereka menempatkan patung Santo Johannes Nepomuk atau Johannes von Pomuk di dekat jembatan penghubung sungai karena diyakini memberikan berkat. Riwayat orang kudus ini dikarenakan, santo Johannes Nepomuk dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke sungai. Karena kesalehan hidupnya empat abad setelah kelahirannya, ia dinyatakan orang kudus. Itu sebab patungnya diletakkan di dekat di jembatan atau sungai di sini.

Patung santo Johannes Nepomuk dengan bentuk sudah tidak utuh dan indah lagi yang ditemukan di salah satu jembatan dekat sungai.

Kapel sederhana ini dibangun tahun 1826 di salah satu pedesaan.

Salah satu tugu batu yang mengingatkan tentang wabah pes yang ditemukan di salah satu wilayah penduduk.

Jika anda melihat rumah dan bangunan di sini selalu dilengkapi salib. Di rumah salib dipasang di sudut ruangan. Di wilayah pedesaan di Bavaria juga masih terdapat kapel kecil sederhana yang terbuat dari kayu. Ini memudahkan masyarakat untuk berdoa dan dekat dengan Tuhan. Ada juga kapel atau ruang doa yang tak besar dibangun di wilayah pertanian. Selain itu di jalan-jalan di pedesaan juga kerap dijumpai tugu batu yang diletakkan benda-benda rohani.

Mengapa dibangun tugu batu ini? Konon ini mengingatkan orang untuk dekat dengan Sang Pencipta. Selain itu, bahwa dulu pernah terjadi wabah penyakit yang mematikan. Tugu batu ini sebagai peringatan agar tidak terjadi lagi masa suram itu.

Pada abad pertengahan Eropa dilanda wabah penyakit pes yang sangat mematikan. Ribuan orang mati dan tidak bisa memiliki perawatan secara optimal. Penyakit ini membunuh hampir dua per tiga masyarakat kala itu. Itu sebab mereka menjulukinya “Black Death” karena penyebarannya sangat cepat melalui udara dari korban yang sudah meninggal. Banyak orang kala itu menutup diri karena khawatir bersentuhan dengan wabah penyakit ini. Periode suram di Eropa sudah terjadi pada abad 14. Namun kembali wabah penyakit ini melanda lagi pada abad 17 di Jerman. Ada yang menyebut masa suram wabah penyakit pada abad 17 dan abad 18 di Eropa disebut “Great Plague”. Di Jerman sendiri bahkan sampai ada kuburan massal karena begitu banyak korban meninggal.

Namun sebenarnya korban terbanyak dari penyakit ini adalah para biarawan-biarawati. Pasalnya tidak ada lagi keluarga atau orang yang mau merawat orang yang menjadi korban penyakit ini. Bahkan mereka dibiarkan meninggal tanpa mendapat perawatan dan penghormatan. Hanya biarawan-biarawati dari gereja yang diutus untuk merawat hingga memakamkannya bila sudah meninggal.

Begitulah kehidupan religius yang saya lihat di museum ini. Semoga bermanfaat!

Semangat Senin!

Museumsdorf Bayerischer Wald: Sekolah, Penjara dan Anak-anak di Masa Lalu (3)

Melanjutkan kunjungan saya ke museum tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman sekitar abad 16 hingga abad 20 di masa lalu, berikut lanjutannya. Untuk cerita sebelumnya dapat ditemukan dalam link berikut

Anak-anak

Spielhäuschen tampak depan.

Anak-anak mendapatkan perhatian di Jerman. Anak usia sekolah wajib bersekolah, tidak boleh seorang anak bekerja. Sebegitu perhatiannya di sini soal hak anak untuk bermain, sampai-sampai area publik seperti ruang tunggu di kantor, rumah sakit, toko pakaian, klinik, bank atau lainnya maka tersedia area bermain untuk anak. Tentang hal ini, bisa baca ulasan saya di link ini. Nah di museum ini diperlihatkan bahwa sudah ada spielhäuschen yakni arena bermain anak di masa lalu.

Kereta bayi dari masa ke masa.

Salah satu kereta bayi yang ditemukan pada abad 19.

Tak hanya itu saja, saya melihat area transportasi umum ramah terhadap orangtua yang membawa kereta bayi. Di bis umum, selalu ada area ini dan mendapatkan perhatian khusus. Lalu juga area parkir tampak orangtua dengan kereta bayi pun turut mendapatkan perhatian di sini. Berkenaan dengan kereta bayi, di museum ini diperlihatkan dari masa ke masa tentang perubahan kereta bayi. Menurut literatur dikatakan kereta bayi telah ada sejak abad 12. Perlahan dikenal juga di Jerman dan dipergunakan orangtua di sini sekitar abad 19. Museum ini lengkap memperlihatkan tentang bentuk kereta bayi yang disimpan dengan baik di sini.

Sekolah

Di bangunan ini pernah menjadi sekolah dasar, penjara sosial dan kantor pemerintahan.

Untuk mengambil gambaran seperti apa sekolah pada masa lalu, museum ini menempatkan das schulhaus yang pernah ada di salah satu kota di Bavaria. Sekolah ini semacam sekolah dasar untuk anak-anak, yang dibangun pada tahun 1666-1667. Tentu gedungnya sederhana sekali pada masa itu, masih berdinding balok kayu dan bertingkat.

Di papan informasi di museum tertulis bahwa bangunan itu pernah menjadi sekolah pada tahun 1670 – 1780. Ada beberapa ruang kelas di situ. Simulasi di salah satu kelas dijelaskan bahwa satu kelas terdiri atas bangku kayu, meja kayu, papan tulis hitam, kapur dan penghapus papan serta beberapa buku pengetahuan dan alat bantu belajar. Dalam kelas juga ada papan mengenal huruf dasar.

Papan informasi menjelaskan contoh ruangan kelas yang berlangsung selama 110 tahun, sekolah di masa lalu.

Contoh ijazah sekolah tahun 1853.

Hal menarik adalah saya mendapati bagaimana di masa lalu sudah terdapat laporan capaian siswa. Tidak dijelaskan apakah ini per semester, per tahun atau lamanya tahun. Ijazah sekolah disebut dalam bahasa Jerman “Schulzeugnis” dari seorang siswa yang pernah bersekolah di abad 19. Ada beberapa subjek mata pelajaran yang tertulis dengan tulisan tangan halus yang sudah tidak bisa terbaca oleh saya. Hanya saja penilaian dari angka 1 hingga 5. Angka 1 berarti sangat baik hingga angka 5 yang berarti sangat kurang baik. Itu asumsi saya membacanya ijazah tersebut.

Anak-anak di sini diwajibkan untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan. Orangtua harus mengupayakan anak agar mendapatkan pendidikan dan kebutuhan yang layak. Bahkan pemerintah pun tak segan memberikan bantuan material hingga non material yang memfasilitasi anak agar mendapatkan perhatian yang layak. Itu sebab di sini semua orang sudah bisa memiliki kemampuan dasar yakni membaca, menulis dan berhitung. Bayangkan bahwa tahun 1600-an di salah satu kota kecil di Bavaria, Jerman sudah dibangun sekolah dasar.

Penjara

Pojok adalah contoh masker yang dikenakan pada patung sebagai contoh hukuman. Kiri adalah papan informasi.

Contoh masker yang dikenakan pada orang yang bersalah.

Selanjutnya adalah penjara atau tempat untuk menahan orang-orang yang dianggap bersalah. Mengapa saya membahas penjara? Rupanya bangunan sekolah yang saya bahas di atas, berakhir sebagai sekolah pada tahun 1780. Di bangunan yang besar ini pula berdampingan penjara yang berlaku sekitar abad 17. Bahkan tak hanya sekolah dan penjara saja, ada Rathaus juga yang dikelola dalam bangunan yang sama. Rathaus semacam kantor urusan pemerintah.

Penjara yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang bersalah dan melanggar norma sosial dan menyangkut moral misalnya mencuri, menggunjingkan orang atau menguping. Hukumannya pun lebih pada penahanan selama satu atau sekian hari yang memberi dampak jera pada orang tersebut.

Masih ingat tentang kunjungan saya ke Schärding, Austria? Di situ saya mendapati masker atau topeng yang dipasang di wajah, sebagai hukuman bila bersalah. Di sini diperlihatkan bagaimana wajah orang yang bersalah juga mengenakan topeng seperti itu. Dikatakan mereka yang suka menggunjingkan orang maka mendapatkan masker berlidah panjang. Mereka yang bersalah dan menguping maka mendapatkan masker bertelinga besar. Atau mereka yang mencuri tangannya dipasung dengan palang kayu.

Jangan tanya siapa yang menjatuhkan hukuman tersebut! Atau bagaimana mereka yang bersalah sampai mendapatkan sanksi dan hukuman itu. Di sini tidak dijelaskan.

Masih ada satu topik lagi yang akan dibahas selanjutnya.