Airbrau, Menikmati Sensasi Makanan Bavaria dan Biergarten di Airport: Rekomendasi Tempat (20)

Seelachs knusprig gebackene.
Altes Bayerischer Knuspriger Schweinebraten.

Liburan musim panas datang. Orang hilir mudik di bandara, termasuk bandara wilayah tempat tinggal yakni bandara Franz Josef Strauß. Bandara yang sempat menyandang bandara terbaik ketiga di dunia tahun 2016, juga tak luput dari kebanyakan orang di sini yang berlibur. Tak lupa kami pun berada di bandara Munich yang keren ini.

Di bandara ini bisa jadi anda berkesempatan hanya sekedar transit atau tidak punya waktu banyak. Perut lapar dan ingin mencoba sensasi kuliner khas Bavaria. Atau anda terbiasa minum bir dan ingin merasakan sensasi bir yang khas di sini, namun hanya punya waktu sebentardi bandara. Bisa jadi begitu banyak keinginan namun waktu tak banyak.

Rekomendasi tempat berikut adalah restoran dan biergarten ala Bavaria. Adalah Airbrau, restoran yang dibuat dengan suasana seperti biergarten dan citarasa masakan lokal yang lezat. Pramusaji pun mengenakan pakaian tradisional. Tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana di bandara.

Sebelum kami berpergian liburan, sempatkan mampir di sini. Bagi pecinta bir, silahkan tanyakan rekomendasi bir yang disuka. Sedangkan untuk makanan lokal, menu masakan tertera juga dalam bahasa Inggris.

Jika tidak ingin minum bir, ada banyak pilihan minuman lain juga yang bisa dinikmati. Suasananya asyik sambil menunggu di bandara. Ada banyak pilihan menu lokal dan lainnya yang juga bisa dipilih.

Advertisements

Museumsdorf Bayerischer Wald: Religiusitas Masyarakat Bavaria di Masa Lalu (4)

Di beberapa rumah di wilayah pedesaaan ditemukan berbagai kapel sederhana yang memudahkan warga berdoa.
Di museum ini diletakkan satu bagian yang mengumpulkan benda-benda rohani di masa lalu. Salib selalu dipajang di sudut ruangan di rumah dan berbagai bangunan di masa lalu.
Salah satu isi kapel sederhana di wilayah penduduk Bavaria di masa lalu.

Museum yang saya kunjungi beberapa waktu lalu memperlihatkan tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman di masa lalu. Saya menuliskannya menjadi beberapa bagian agar lebih spesifik menjelaskannya. Ulasan terakhir adalah tentang kehidupan beragama di Bavaria. Jika anda berkunjung ke Bavaria, ada banyak bangunan Gereja Katolik mendominasi dibandingkan bangunan ibadah lainnya. Pasalnya sudah sejak berabad-abad lalu Bavaria memang kental dengan keyakinan dan tradisi gereja katolik.

Pada abad pertengahan sekitar abad 17 dan abad 18 Jerman, yang dikenal Prusia membentuk kekaisaran monarki. Namun wilayah Bavaria yang banyak menganut katolik lebih memilih untuk membentuk kewenangan dan menjadi kerajaan tersendiri, yang masuk dalam kekaisaran Prusia masa itu. Pada tahun 1825 – 1848 Bavaria dipimpin oleh Raja Ludwig I. Sejarahnya bisa terlihat dalam link di sini. Bavaria tidak ingin didominasi oleh Protestan masa itu. Ini sudah membuktikan Bavaria sudah identik dengan katolik sejak dulu.

Baca https://liwunfamily.com/2018/06/10/walhala-di-jerman-jangan-pernah-lupakan-sejarah/

Terbentuknya kerajaan Bavaria menyebabkan masyarakatnya memiliki identitas dan kultur yang berbeda, bahkan mereka menganggap diri sebagai Bayerisch, bukan Deutsche.Bangunan gereja katolik dengan gaya arsitekturnya di Bavaria sudah pernah saya bahas di link di bawah ini:

Selain itu di museum yang saya kunjungi, ada satu bagian yang memperlihatkan tentang kehidupan religius masyarakat masa lalu. Mulai dari benda-benda rohani hingga informasi seputar keyakinan beragama.

Sebagai contoh mereka menempatkan patung Santo Johannes Nepomuk atau Johannes von Pomuk di dekat jembatan penghubung sungai karena diyakini memberikan berkat. Riwayat orang kudus ini dikarenakan, santo Johannes Nepomuk dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke sungai. Karena kesalehan hidupnya empat abad setelah kelahirannya, ia dinyatakan orang kudus. Itu sebab patungnya diletakkan di dekat di jembatan atau sungai di sini.

Patung santo Johannes Nepomuk dengan bentuk sudah tidak utuh dan indah lagi yang ditemukan di salah satu jembatan dekat sungai.
Kapel sederhana ini dibangun tahun 1826 di salah satu pedesaan.
Salah satu tugu batu yang mengingatkan tentang wabah pes yang ditemukan di salah satu wilayah penduduk.

Jika anda melihat rumah dan bangunan di sini selalu dilengkapi salib. Di rumah salib dipasang di sudut ruangan. Di wilayah pedesaan di Bavaria juga masih terdapat kapel kecil sederhana yang terbuat dari kayu. Ini memudahkan masyarakat untuk berdoa dan dekat dengan Tuhan. Ada juga kapel atau ruang doa yang tak besar dibangun di wilayah pertanian. Selain itu di jalan-jalan di pedesaan juga kerap dijumpai tugu batu yang diletakkan benda-benda rohani.

Mengapa dibangun tugu batu ini? Konon ini mengingatkan orang untuk dekat dengan Sang Pencipta. Selain itu, bahwa dulu pernah terjadi wabah penyakit yang mematikan. Tugu batu ini sebagai peringatan agar tidak terjadi lagi masa suram itu.

Pada abad pertengahan Eropa dilanda wabah penyakit pes yang sangat mematikan. Ribuan orang mati dan tidak bisa memiliki perawatan secara optimal. Penyakit ini membunuh hampir dua per tiga masyarakat kala itu. Itu sebab mereka menjulukinya “Black Death” karena penyebarannya sangat cepat melalui udara dari korban yang sudah meninggal. Banyak orang kala itu menutup diri karena khawatir bersentuhan dengan wabah penyakit ini. Periode suram di Eropa sudah terjadi pada abad 14. Namun kembali wabah penyakit ini melanda lagi pada abad 17 di Jerman. Ada yang menyebut masa suram wabah penyakit pada abad 17 dan abad 18 di Eropa disebut “Great Plague”. Di Jerman sendiri bahkan sampai ada kuburan massal karena begitu banyak korban meninggal.

Namun sebenarnya korban terbanyak dari penyakit ini adalah para biarawan-biarawati. Pasalnya tidak ada lagi keluarga atau orang yang mau merawat orang yang menjadi korban penyakit ini. Bahkan mereka dibiarkan meninggal tanpa mendapat perawatan dan penghormatan. Hanya biarawan-biarawati dari gereja yang diutus untuk merawat hingga memakamkannya bila sudah meninggal.

Begitulah kehidupan religius yang saya lihat di museum ini. Semoga bermanfaat!

Semangat Senin!

Museumsdorf Bayerischer Wald: Sekolah, Penjara dan Anak-anak di Masa Lalu (3)

Melanjutkan kunjungan saya ke museum tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman sekitar abad 16 hingga abad 20 di masa lalu, berikut lanjutannya. Untuk cerita sebelumnya dapat ditemukan dalam link berikut

Anak-anak

Spielhäuschen tampak depan.

Anak-anak mendapatkan perhatian di Jerman. Anak usia sekolah wajib bersekolah, tidak boleh seorang anak bekerja. Sebegitu perhatiannya di sini soal hak anak untuk bermain, sampai-sampai area publik seperti ruang tunggu di kantor, rumah sakit, toko pakaian, klinik, bank atau lainnya maka tersedia area bermain untuk anak. Tentang hal ini, bisa baca ulasan saya di link ini. Nah di museum ini diperlihatkan bahwa sudah ada spielhäuschen yakni arena bermain anak di masa lalu.

Kereta bayi dari masa ke masa.
Salah satu kereta bayi yang ditemukan pada abad 19.

Tak hanya itu saja, saya melihat area transportasi umum ramah terhadap orangtua yang membawa kereta bayi. Di bis umum, selalu ada area ini dan mendapatkan perhatian khusus. Lalu juga area parkir tampak orangtua dengan kereta bayi pun turut mendapatkan perhatian di sini. Berkenaan dengan kereta bayi, di museum ini diperlihatkan dari masa ke masa tentang perubahan kereta bayi. Menurut literatur dikatakan kereta bayi telah ada sejak abad 12. Perlahan dikenal juga di Jerman dan dipergunakan orangtua di sini sekitar abad 19. Museum ini lengkap memperlihatkan tentang bentuk kereta bayi yang disimpan dengan baik di sini.

Sekolah

Di bangunan ini pernah menjadi sekolah dasar, penjara sosial dan kantor pemerintahan.

Untuk mengambil gambaran seperti apa sekolah pada masa lalu, museum ini menempatkan das schulhaus yang pernah ada di salah satu kota di Bavaria. Sekolah ini semacam sekolah dasar untuk anak-anak, yang dibangun pada tahun 1666-1667. Tentu gedungnya sederhana sekali pada masa itu, masih berdinding balok kayu dan bertingkat.

Di papan informasi di museum tertulis bahwa bangunan itu pernah menjadi sekolah pada tahun 1670 – 1780. Ada beberapa ruang kelas di situ. Simulasi di salah satu kelas dijelaskan bahwa satu kelas terdiri atas bangku kayu, meja kayu, papan tulis hitam, kapur dan penghapus papan serta beberapa buku pengetahuan dan alat bantu belajar. Dalam kelas juga ada papan mengenal huruf dasar.

Papan informasi menjelaskan contoh ruangan kelas yang berlangsung selama 110 tahun, sekolah di masa lalu.
Contoh ijazah sekolah tahun 1853.

Hal menarik adalah saya mendapati bagaimana di masa lalu sudah terdapat laporan capaian siswa. Tidak dijelaskan apakah ini per semester, per tahun atau lamanya tahun. Ijazah sekolah disebut dalam bahasa Jerman “Schulzeugnis” dari seorang siswa yang pernah bersekolah di abad 19. Ada beberapa subjek mata pelajaran yang tertulis dengan tulisan tangan halus yang sudah tidak bisa terbaca oleh saya. Hanya saja penilaian dari angka 1 hingga 5. Angka 1 berarti sangat baik hingga angka 5 yang berarti sangat kurang baik. Itu asumsi saya membacanya ijazah tersebut.

Anak-anak di sini diwajibkan untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan. Orangtua harus mengupayakan anak agar mendapatkan pendidikan dan kebutuhan yang layak. Bahkan pemerintah pun tak segan memberikan bantuan material hingga non material yang memfasilitasi anak agar mendapatkan perhatian yang layak. Itu sebab di sini semua orang sudah bisa memiliki kemampuan dasar yakni membaca, menulis dan berhitung. Bayangkan bahwa tahun 1600-an di salah satu kota kecil di Bavaria, Jerman sudah dibangun sekolah dasar.

Penjara

Pojok adalah contoh masker yang dikenakan pada patung sebagai contoh hukuman. Kiri adalah papan informasi.
Contoh masker yang dikenakan pada orang yang bersalah.

Selanjutnya adalah penjara atau tempat untuk menahan orang-orang yang dianggap bersalah. Mengapa saya membahas penjara? Rupanya bangunan sekolah yang saya bahas di atas, berakhir sebagai sekolah pada tahun 1780. Di bangunan yang besar ini pula berdampingan penjara yang berlaku sekitar abad 17. Bahkan tak hanya sekolah dan penjara saja, ada Rathaus juga yang dikelola dalam bangunan yang sama. Rathaus semacam kantor urusan pemerintah.

Penjara yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang bersalah dan melanggar norma sosial dan menyangkut moral misalnya mencuri, menggunjingkan orang atau menguping. Hukumannya pun lebih pada penahanan selama satu atau sekian hari yang memberi dampak jera pada orang tersebut.

Masih ingat tentang kunjungan saya ke Schärding, Austria? Di situ saya mendapati masker atau topeng yang dipasang di wajah, sebagai hukuman bila bersalah. Di sini diperlihatkan bagaimana wajah orang yang bersalah juga mengenakan topeng seperti itu. Dikatakan mereka yang suka menggunjingkan orang maka mendapatkan masker berlidah panjang. Mereka yang bersalah dan menguping maka mendapatkan masker bertelinga besar. Atau mereka yang mencuri tangannya dipasung dengan palang kayu.

Jangan tanya siapa yang menjatuhkan hukuman tersebut! Atau bagaimana mereka yang bersalah sampai mendapatkan sanksi dan hukuman itu. Di sini tidak dijelaskan.

Masih ada satu topik lagi yang akan dibahas selanjutnya.

Museumsdorf Bayerischer Wald: Melihat Bavaria, Jerman di Masa Lalu (1)

Bavaria adalah satu dari 16 Bundesland di Jerman. Bavaria merupakan wilayah terbesar dibandingkan wilayah lain. Letaknya berada di Jerman bagian selatan, berbatasan dengan Austria. Ibukotanya cukup populer yakni Munich. Orang Jerman menyebut Bavaria sebagai Bayern dan Munich sebagai München. Bavaria memiliki bahasa lokal dan dialek yakni Boarisch yang berbeda dari bahasa Jerman, Deutsch pada umumnya. Selain kuliner yang sering saya bahas di sini, Bavaria menyimpan banyak sejarah yang tidak banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, suatu kali saya dan suami berkunjung ke salah satu museum di sini. Namanya Museumdorf Bayerischer Wald, yang berada di Tittling.

Karena ada banyak hal yang bisa diceritakan dari museum ini, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Pada bagian pertama, saya akan jelaskan tentang museum ini.

Museum ini dibuka hanya pada periode tertentu saja, mungkin disesuaikan dengan musim. Jika musim dingin, museum tutup. Itu karena museum ini berada di lahan terbuka 20 hektar, dengan jumlah objek ada 60.000. Jumlah objek cukup banyak apalagi memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sengaja dikumpulkan, objek tersebut telah ada sejak abad 16 hingga abad 20. Harga tiketnya sendiri 7€ per orang.

Di depan museum. Ada loket tiket, restoran, toilet umum dan ruang informasi umum.
Papan informasi sejarah toilet.
Bilik toilet tampak samping.
Tampak dalam toilet yakni untuk orang dewasa dan kiri untuk anak-anak.
Gerobak sebagai alat transportasi dan pengangkut panen.
Jika diamati, bilik toilet berada tak jauh dari bak air yang semuanya berada di luar rumah.

Museum ini digagas oleh Georg Höltl pada tahun 1972. Dia bermaksud mengumpulkan objek seperti rumah, pakaian, perkakas rumah tangga dan hal-hal yang terjadi di wilayah Bavaria pada masa lalu. Ini dimaksudkan tidak hanya mengandung nilai historis saja namun sebagai sumber informasi dan edukasi. Itu sebab suami saya sudah melakukan kunjungan belajar dari sekolahnya di masa lalu ke museum ini. Karena saya ingin tahu soal budaya dan sejarah di sini, dia pun mengajak saya berkunjung ke museum ini juga.

Di museum ini anda bisa menyaksikan bagaimana rumah di Bavaria dibangun dari masa ke masa. Dahulu orang membangun hanya dengan kayu saja, kemudian tembok lalu granit dan seterusnya hingga menjadi bangunan moderen seperti sekarang. Tak hanya itu, siapa yang terpikir soal urusan buang hajat alias toilet. Di sini saya bisa menyaksikan bagaimana orang-orang di sini membuat toilet yang terpisah dari rumah. Jika sekarang toilet sudah dibuat moderen, nyaman, bersih dan menjadi bagian dari ruangan di rumah. Di jaman dulu toilet berada di depan rumah, terbuat dari kayu dan terdiri dari bangku kayu yang diberi lubang. Toilet dulu semacam bilik kayu yang letaknya di depan rumah. Itu baru soal toilet.

Hal menarik lainnya dari museum ini juga bagaimana orangtua sudah memikirkan membawa bayi dengan keranjang dorong bayi. Bentuknya pun berbeda-beda dari masa ke masa. Lain lagi soal transportasi, bahwa ketika itu belum ada mobil maka ada sejumlah gerobak yang digunakan sebagai alat pengangkut. Untuk membuat suasana seperti pada masa lalu, bangunan dan objek hanya dipindahkan dan tidak diubah seperti kondisi sebelumnya. Atau bagaimana orang di masa lalu mendapatkan pendidikan dasar yang layak. Ini disebut Volkschule.

Saya pikir museum ini layak dikunjungi jika anda suka dengan sejarah dan punya rasa ingin tahu yang besar. Tak perlu khawatir kelaparan di sini karena tersedia restoran untuk pengunjung yang letaknya di depan pintu masuk dan terpisah dari objek museum.

Cerita selanjutnya, silahkan ditunggu!

Altötting, Bavaria (4): Stiffpfarkirche St. Philip und Jacob, Gereja Tua Bersejarah

Gereja dan kedua menaranya tampak dari kejauhan.


Melanjutkan kisah perjalanan ziarah terbesar umat Katolik di Altötting, Jerman maka tiba kami di Stiffpfarkirche, Santo Philipus dan Santo Yakobus. Gereja ini terletak di seberang Gnadenkappele, The Chapel of Grace atau di sebelah selatan kapel Black Madonna. Kubahnya ada dua seperti kembar, layaknya Gereja Frauenkirche di Munich.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Baca https://liwunfamily.com/2013/08/19/wisata-gratis-di-muenchen/

Gereja ini termasuk bangunan tertua sekitar abad 9 sudah berdiri. Namun mengingat masih satu kompleks ziarah, Gereja ini direnovasi bergaya Gothic. Ciri khasnya terletak pada menara atau kubah Gereja yang tajam runcing. Ini menjadi ciri banyak bangunan di Bavaria. Saya bisa temukan bangunan Gothic lain semisal Rathaus di Munich.

Langit Gereja dibangun bergaya gothic yang runcing.

Altarnya yang klasik masih terpelihara sampai sekarang.

Organ lama sejak tahun 1724.

Merenovasi Gereja ini dimulai dari tahun 1488 hingga 1508. Padahal abad 13, Gereja ini sudah resmi menjadi paroki sendiri. Sebagian bangunan sudah sejak lama ada, namun ada juga bangunan baru yang kemudian ditambahkan pada abad 16. Selain menara Gereja yang runcing dengan tinggi 48 meter, ciri khas lain dari Gereja ini adalah banyaknya peninggalan sejarah yang menyimpan memori kematian.

Itu sebab Paus Benedictus XVI menjadikan Gereja ini sebagai harta warisan Kekristenan yang patut dipelihara. Seperti bangunan yang bertahan sejak lama, abad 9 dan kemudian Altar klasiknya yang menjadi pusat perayaan Ekaristi. Ada pula organ, alat musik di Gereja ini yang sudah ada sejak tahun 1724. Namun lebih dari itu, Gereja ini menyimpan sejarah kematian.

Apa itu?

Der Tod von Edding (Altötting)

Manusia suatu saat pasti mati. Ini yang menandai Tod von Altötting, yakni patung mekanik dengan gigur tengkorak setinggi 50 sentimeter ditempatkan di kayu berlapis perak yang tinggi. Patung populer ini  sudah ada sejak abad 17 mengingatkan wabah penyakit yang pernah melanda Eropa Tengah. Jika anda mengingat sejarah yang pernah dipelajari dulu di sekolah, penyakit pes melanda juga area ini pada masa itu.

Wabah ini mendatangkan musibah kematian banyak orang. Mereka percaya musibah berhenti ketika manusia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu sebab Gereja ini disebut Gereja Pertobatan. Meski ini sebuah legenda tentang kematian, namun dentang patung yang dimainkan “Tod von Edding” seperti jam ini menandai bahwa manusia akan mati di suatu waktu.

Den Toten Der Kriege

Lanjut adalah Salib besar tergantung dengan Bunda Maria di bawah kaki Yesus dengan wajah berduka. Ini adalah prasasti dari nama-nama mereka yang menjadi korban perang dunia pertama, 1914-1918 dan perang dunia kedua, 1939-1945. Tak hanya itu, di sini juga terdapat  nama-nama mereka yang dianggap hilang oleh keluarga. Ini bisa menjadi sejarah suram bahwa kekejian perang tidak akan terulang lagi.

Krippenopfer

Patung Yesus Bermahkota Duri tampak berduka.

Daftar nama yang terbunuh pada April 1945 yang dikenang dan dihormati


Berlanjut ke sudut lain bangsal Gereja, adalah sebuah patung Yesus Berkepala Duri yang terlihat berduka. Kedukaan ini digambarkan karena di sini, pada April 1945 telah terjadi penembakan terhadap mereka yang dikenal berjasa, termasuk pemimpin kota Altötting pada masa itu. Di depan patung terdapat Salib dan beberapa lilin yang digunakan untuk berdoa kepada mereka yang tewas tertembak. Ini dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati mereka yang gugur pada masa perang dunia kedua.

Tak jauh dari situ tertulis sejumlah nama-nama mereka yang wafat karena perang di masa lampau. Sebuah Jahreskrippe milik Gereja, yakni diorama yang berisi figur tentang kejadian kelahiran Yesus Kristus. Hingga digambarkan wafatNya, dengan Salib besar tergantung di sekitar itu.

Bangsal Gereja.

Kapel yang terletak di atas.

Begitu luasnya bangsal Gereja, ada tangga menuju ke kapel kecil di atas. Di situ, siapa pun bisa berdoa meski tak luas tempatnya. Bunda Maria digambarkan berwajah duka. Lanjut ke area lain, menjorok ke bawah ada semacam tiga peti orang yang sudah meninggal terbuat dari lapisan perak. Tak ada informasi siapa yang terkubur di situ.

Gereja tua bersejarah ini menyimpan berbagai misteri kematian baik dikarenakan wabah penyakit maupun korban perang dunia. Itu semua menandai misteri ilahi bahwa suatu saat manusia pasti kembali kepada Sang Pencipta. Pintu Gereja pun terbuka bagi siapa saja yang datang untuk berdoa dan memohon rahmat dari Tuhan.

Semoga bermanfaat!

 

Gyrospfanne und Gyros Calamari di Griechiesches Restaurant ‘Restaurant Elia’ di Bavaria (2): Rekomendasi Tempat (4) 

Restoran tampak depan.

Suasana sekitar restoran.

Gyrospfanne.

Gyros und Calamari.

Melanjutkan pos sebelumnya tentang menu masakan di restoran Yunani, kali ini saya ceritakan menu utama yang kami pesan dan dessert sebagai complimentary dari restoran.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/06/coba-masakan-yunani-griechiesches-restaurant-restaurant-elia-di-bavaria-1-rekomendasi-tempat-4/

Selesai menyantap salat, makanan utama yang jadi pesanan kami pun datang. Kebetulan kami datang di hari weekdays, restoran pun menawarkan daftar makanan istimewa. Pilihan saya jatuh pada Gyrospfanne. Sedangkan suami saya memilih menu Gyros und Calamari. Sepertinya gyros adalah makanan khas negeri Yunani. 

Gyros adalah masakan khas Yunani yang terdiri atas potongan daging dengan bumbu ala mediterania. Menurut saya, ini seperti Kebab bilamana di Turki. Atau sate bila mengacu pada makanan tradisional Indonesia. Namun gyros disajikan tanpa tusuk sate, gyros seperti dönnerteller yang pernah saya ceritakan di restoran Turki. 

Jika melihat pembuatannya, kata suami saya, gyros disisir dari daging yang dipanggang seperti daging yang terdapat di dönner kebab. Namun bumbunya pun khas mediterania. Bahkan gyros pun disajikan di imbiss khusus masakan Yunani di Jerman. Namun saya belum menemukan imbiss masakan khusus Yunani, baru imbiss masakan Asia dan Turki saja di Jerman.

Gyrospfanne, jika dibuka ada lelehan keju sebagai topping gyros.

Pommes atau kentang goreng.

Makanan yang saya pesan, gyrospfanne datang. Ini adalah gyros yang diletakkan di atas mangkuk, terasa masih panas dan dibuatnya dipanggang di oven. Gyros pesanan saya terdiri atas potongan daging dengan bumbu rempah khas mediterania. Enak sekali. Tidak ada sayuran di dalam, hanya ada irisan bawang bombay. Sebagai topping adalah keju, sehingga untuk mendapatkan gyros di dalam, kita merobek lelehan keju tersebut. Lezat!

Makanan saya benar-benar mengenyangkan. Apalagi ditambah dengan pommes, kentang goreng. Saya benar-benar berpikir untuk tidak makan malam lagi. Luar biasa enak! Saya pikir anda pasti tak menduga porsinya yang membuat kenyang.

Makanan suami saya, gyros und calamari adalah gyros yang berisi potongan daging berbumbu dengan irisan cumi-cumi goreng yang renyah di sekitar. Ada saus mayonnaise dan irisan lemon di piring untuk menambah rasa. Di dalam piring juga tersedia kentang goreng, sama seperti saya. Luar biasa kedua makanan ini membuat kami kenyang! Makanan ini pun juga sama nikmatnya. 

Kami menikmati makanan perlahan sambil mendengarkan alunan musik sepertinya berbahasa Yunani. Usai menyantap makanan, pramusaji menarik piring-piring kami yang kotor. Kemudian pramusaji memberikan dessert sebagai makanan penutup. 

Dessert sebagai hidangan penutup.

Perut kami sudah hampir tak muat. Namun melihat dessert yang nikmat, kami pun menghabiskannya. Bagaimana tidak nikmat? Dessert yang diberikan cuma-cuma adalah es krim dengan topping saus lemon dan sedikit taburan kacang. Rasanya manis dan masam membuat lidah kami menyukainya meski perut sudah berasa kenyang. 

Puas menyantap seluruh hidangan. Pramusaji datang menyerahkan bon pembayaran dan bertanya rasa masakan. Kami mengaku puas karena makanan yang tersaji benar-benar lezat. Saat berpamitan menuju keluar restoran, seorang pramusaji menyalami kami, memberi salam perpisahan.  

Coba Masakan Yunani, Griechiesches Restaurant ‘Restaurant Elia’ di Bavaria 1: Rekomendasi Tempat (4)

Restoran tampak depan.

Daftar menu.

Saya pesan teh mint di sini, suami pesan Alpfelsaft.

Pergi ke Yunani? Tidak, berikut ini saya bagikan pengalaman petualangan rasa menikmati makanan di restoran bergaya Yunani. Jika di Jerman, restoran Yunani biasa disebut ‘Griechiesches Restaurant’ yang berasal dari kata ‘das Griechenland’, bahasa Jerman yang berarti Yunani.

Restoran ini terletak di wilayah Osterhofen-Altenmarkt, Bavaria. Kebetulan saya dan suami mencicipi petualangan masakan kala kami ingin bertemu teman yang lokasinya tak jauh dari restoran tersebut. Nama restorannya, Restaurant Elia. Suasana restoran yang diperlihatkan tampak hommy dan alunan musik berbahasa Yunani diperdengarkan selama kita makan di sana. 

Pramusaji pun ramah menyambut kami dari awal hingga selesai makan. Di akhir saat kami berpamitan, seorang pramusaji menyalami kami dan mengucapkan salam perpisahan. Mereka benar-benar ramah.

Bayangkan kami mendapatkan menu lengkap mulai dari welcome drinks, salat pembuka hingga dessert. Semuanya itu gratis, kita hanya membayar menu yang dipesankan saja. Menarik ya! Restorannya nyaman, bersih dan toilet umum dibuat semenarik dan senyaman mungkin untuk tamu. Di sini juga ada bar minuman, jika hanya ingin sekedar minum saja sambil duduk-duduk.

Ouzo, dua minuman mungil khas Yunani sebagai pembuka.

Bumbu pelengkap tersedia di meja, juga Ouzu dan Apfelsaft, milik suami.

Salat hidangan pembuka.

Roti baguette sebagai hidangan pembuka.

Pertama kali datang, pramusaji menyalakan lilin di meja kami. Kemudian dia datang lagi memberikan minuman pembuka yang secara tradisional biasa disajikan di Yunani. Namanya Ouzo, semacam minuman alkohol khas tradisional masyarakat Yunani. Minuman ini rasanya manis dan hangat di tenggorokan. Ouzo memang biasa ditempatkan sebagai minuman pembuka bersama makanan kecil lainnya di awal hidangan di Yunani.

Begitu tradisionalnya minuman ini hingga Ouzo diklaim sebagai produk Yunani. Jika datang ke Yunani pun, anda bisa singgah ke museum Ouzo juga. Saat datang ke restoran Yunani di Jerman, menurut suami saya maka Ouzo akan selalu disajikan di awal dan gratis. Ouzo diberikan dalam gelas kecil seperti layaknya anda meminum alkohol. Mungkin karena gratis jadi tamu hanya diberikan dalam gelas kecil. 

Ini semacam minuman yang tepat disajikan kala udara di luar memang sekitar 3 sampai 4 derajat celcius. Usai minuman pembuka, pramusaji datang lagi menawarkan salat pembuka. Tentu saja kami senang, gratis pula. Salat pembuka dan roti baguette tersedia di hadapan kami sebagai hidangan pembuka.

Salat pembuka terdiri atas aneka sayuran segar seperti salada hijau, salada merah, tomat, paprika, timun dan sebagainya. Dressing salat dibuat segar dan tidak masam. Rasanya luar biasa sembari kami menunggu menu makanan yang dipesan. Karena saya suka sayuran, maka salat itu pun habis tak tersisa. Ini enak dan gratis pula!

Nantikan makanan yang kami pesan di artikel kedua!❤

Brat’l in der Rein (Schweinebraten in der Rein): Masakan Khas Jerman (18)

Brat’l in der Rein.

Ini minuman saya, air putih.

Apfelsaft, minuman suami.

Wiken tiba, suami ajak makan di restoran karena libur untuk memasak di rumah. Saya usul untuk datang ke restoran Jerman dengan resep tradisional yang belum pernah saya coba. Suami setuju! Akhirnya kami berangkat ke salah satu restoran di suatu kota.

Saya ingin mengambil gambar suasana restoran di Jerman hanya saja, tak enak dipandang oleh orang sekitar yang sedang berada di restoran. Kami senang disambut baik oleh pramusaji karena tak perlu reservasi untuk datang ke restoran ini. Kebetulan suami kenal baik dengan pemilik restoran. Suami ada keperluan bisnis di dekat area restoran. 

Akhirnya saya memilih menu yang terdengar aneh, bisa jadi ide untuk dituliskan. Benar saja, ini menu yang susah juga untuk ditulis Brat’l in der Rein. Si pramusaji yang mendengar saya menyebutkan nama menunya sempat tersenyum. Maklum lidah orang Indonesia. Untuk minuman, saya pilih air putih saja. Pastinya air putihnya bersoda.

Saya melihat ke sekeliling tempat duduk. Di depan saya seperti keluarga besar yang sedang merayakan sesuatu yang istimewa, mereka berbicara dan tertawa sambil menikmati makanan. Di sudut lain, sepasang opa oma sedang menikmati makan siang bersama sambil bergandengan tangan. Romantis sekali! Di dekatnya, ada suatu keluarga yang juga sedang menikmati makan siang bersama kedua anak mereka. Sedangkan di depan saya, seorang perempuan duduk sendirian dan memesan salat.

Akhirnya makanan saya pun tiba. Porsi yang besar untuk ukuran saya. Si pramusaji mengenakan drindl, pakaian kebesaran perempuan Bavaria kemudian menata semua sajian di hadapan saya. Ada semacam rantang besar yang berisi makanan di dalam dan cangkir aluminium untuk saus daging. Setelah itu, pramusaji meletakkan perlengkapan makan berisi piring lebar, sendok, garpu dan pisau daging.  Rantang tersebut berisi kentang dan daging.

Bisa juga disebut schweinebraten in der Rein.

Saus yang jadi kuah daging.

Penampakan makanan di piring.

Ada sauerkraut tersembunyi di dalam tumpukan daging.

Brat’l in der Rein dimaksudkan adalah daging schweinefleisch yang sudah dibumbui terlebih dulu sehingga disebut schweinebraten. Ini bisa disebut juga brat’l yang ditaruh di dalam rantang, yang kemudian menu makanan ini menjadi brat’l in der Rein. Di dalam daging olahan tersebut, terselip saurkraut yang sering saya ceritakan dalam berbagai menu makanan khas Jerman.

Setelah dicicipi, saya cari tahu pembuatannya. Sepertinya schweinefleisch direndam dalam bumbu dengan gram, merica, jinten dan bawang putih. Daging yang dipilih pun tentunya tanpa lemak dan tulang. Setelah itu, daging dimasukkan dalam oven dengan periode waktu yang membuat daging tidak mengering tetapi kulitnya terasa crispy. Panggang selama beberapa jam. Kurang lebih seperti itu cara memasaknya. Sedangkan sausnya semacam fleischsuppe, yang diberi bumbu bawang putih dan air rendaman daging. Ini asumsi saya, karena saya tidak memasaknya. Kuah daging ini yang membuat rasa daging semakin nikmat.


Kentang yang tawar dan sauerkraut yang masak bercampur jadi satu dengan daging yang berkaldu. Rasanya tentu saja nikmat sekali! Inilah salah satu kuliner Bavarian di Jerman. Seharusnya untuk melengkapi makanan ini, saya harus memesan bir gandum agar lebih nikmat lagi. Apa daya, makanan ini saja sudah cukup mengenyangkan saya.

Suami selesai urusan bisnisnya, isteri senang mencicipi kuliner. Kerjasama yang luar biasa! Setidaknya saya bisa bercerita tentang kuliner tradisional di sini.
 

 

Surbraten mit Wienkraut und Schnitzel mit Preiselbeermarmelade: Masakan Khas Jerman (14)

Surbraten mit Wienkraut, minumnya apfelsaft yakni jus apel.


Hari minggu di Jerman dikenal Ruhetag atau dalam bahasa Inggris disebut rest day. Semua yang pernah datang ke Jerman tahu bahwa tidak ada aktivitas pertokoan dan perkantoran kala hari Minggu yang lalu. Mereka menikmati momen bersama keluarga, pergi ke Gereja atau berkumpul bersama kolega menikmati hari di restoran. Restoran memang buka meski tak semuanya juga buka. 

Seusai pergi ke Gereja, kami pun menikmati sajian tradisional di restoran khusus menyediakan makanan Jerman pada hari minggu lalu. Rencana yang tiba-tiba tanpa reservasi, rupanya tak mudah diperoleh di restoran yang sudah ternama. Jadi beberapa restoran di hari wiken sebaiknya memang sudah melakukan reservasi sebelumnya. Beruntungnya kami mendapatkan tempat duduk tetapi harus berbagi dengan pengunjung yang lain. Begitulah di Jerman, jangan kaget jika anda makan dan minum dalam satu meja bersama tamu lain jika restoran penuh.

Surbraten dengan kentang buatan.



Makanan tradisional yang dipesan suami saya adalah Surbraten. Kata suami saya, restoran ini terkenal dengan Surbraten-nya yang enak. Pantas saja, di hadapan saya seorang bapak sedang menghabiskan makanan tersebut dengan lahapnya. Sementara bapak yang lain di samping saya, dia hanya duduk menikmati bir. Ini benar-benar gaya Bayerisch. Lalu dua pemuda di sebelah suami saya memesan makanan hamburger dan kentang goreng sambil minum bir.

Surbraten adalah makanan khas Bayern dengan daging yang sudah dibumbui terlebih dulu. Ini bukan seperti daging asap pada umumnya. Untuk mengolah daging tersebut, juru masak perlu suhu panas yang lama sekitar 90 menit hingga 2 jam tergantung ukuran dan suhu oven. Sesekali tuangkan air sedikit ke atas daging. Setelah matang, daging pun disiram dengan saus berbumbu semacam fleisch soße. Disantapnya dengan kentang rebus atau kentang buatan juga bisa. 

Wienkraut.

Selanjutnya surbraten, pramusaji juga memberikan wienkraut. Ini terdengar seperti sauerkraut ya. Bahan yang digunakan juga sama, kol putih. Rasanya pun agak mirip dengan masam menyegarkan. Sepertinya jika saya coba ada cuka dan anggur putih yang bercampur dalam bumbunya. Rasanya tepat disajikan bersama Surbraten

Untuk makanan kedua adalah pilihan saya. Karena khawatir dengan porsi makannya yang terlalu besar, saya mencoba daftar makanan porsi kecil atau untuk anak-anak. Makanan yang saya pilih ini sudah biasa dikenal di Jerman yakni schnitzel. Schnitzel ini sering saya bahas dan mudah ditemukan di restoran Jerman di Asia. 

Schnitzel mit pommes, ditambah saus preiselbeermarmalede di mangkuk kecil.


Schnitzel adalah potongan daging tanpa lemak dan tulang kemudian dibungkus dengan tepung roti. Beberapa kali saya pun mencoba membuatnya di rumah. Karena saya yakin pasti ada yang berbeda jika saya pesan di restoran. Betul, saya mendapati saus preiselbeermarmelade

Schnitzel ini dimakan bersama kentang goreng, yang dalam bahasa Jerman disebut pommes. Sedangkan saus yang disajikan semacam selai buah bila diterjemahkan dari asal kata preiselbeermarmelade. Di Jerman ada bermacam-macam buah berri, disamping strawberi yang biasa dikenal mudah di Indonesia. Buah berri ini dihancurkan kemudian diberi air gula. Dimasak kurang lebih 5 menit. Rasanya masam manis bersamaan. 

Begitulah cerita dua masakan tradisional khas Jerman yang saya jumpai di restoran di Jerman. Tips kali ini adalah melakukan reservasi jika ingin makan bersama di restoran yang cukup ternama di Jerman, terutama pada akhir pekan. 


Weißwurst, Sosis Putih Makanan Khas Bavaria

Weißwurst dimasak sendiri di rumah bersama roti pretzel.

Roti pretzel.

Satu kali teman baik kami mengundang makan di salah satu restoran terbaik di Munich. Kami janji bertemu di Hauptbahnhof  Munich jam 9 pagi pada hari Sabtu, dimana kebanyakan saya dan suami bangun lebih siang karena tak ada aktivitas pekerjaan saat wiken. Alhasil kami bisa bertemu tepat waktu, sesuai janji karena tak baik bilamana kita datang terlambat di Jerman. Kami pun sama-sama menuju ke restoran untuk ngobrol, temu kangen dan makan sesuatu karena kami semua melewatkan sarapan pagi. 

Jika datang ke restoran khas Jerman memang tak ada pilihan menu makanan lain selain makanan tradisional. Makanan apa yang paling cocok disajikan di antara jeda sarapan pagi dan makan siang? Jawabannya weißwurst atau sosis putih. Saya ikut saja pilihan suami dan temannya namun saya yang belum pernah makan sosis ini. Saya sudah membayangkan pasti sosis berwarna putih. Karena ‘weiß‘ jika diterjemahkan adalah ‘putih.’

Selang lima menit memesan makanan, pramusaji datang membawakan semacam mangkok besar berbahan porselen berisi weißwurst. Lalu pramusaji menyiapkan pretzel, roti yang khas yang biasa ditemukan di Bavaria. Suami dan temannya meminum bir gandum, katanya cocok untuk menemani makan weißwurst. Saya kedapatan minum air putih bersoda. 

Ini pertama kali saya makan weißwurst sehingga saya perlu melihat bagaimana mereka mulai memakannya. Pertama-tama ambil sosis yang sudah dipanaskan tadi dari mangkok. Tiriskan airnya karena kita tidak memerlukan airnya. Lalu kupas kulit sosis dengan memotong ujung sosis yang terkelupas sedikit sehingga kemudian kita bisa merobek keseluruhan kulit sosis dengan mudah. 

Karena dimakan di rumah, boleh saya menggunakan tangan. Namun anda perlu belajar agar tetap menggunakan garpu dan pisau jika makan di restoran atau area publik.

Tampilannya jika sudah dibuka seperti ini.

Ini cocolannya, semacam mustard manis. Menurut saya seperti sambal kacang ya ‘kan?

Ini seperti perlu teknik khusus karena anda hanya perlu garpu dan pisau saja. Jika di rumah, mungkin anda bisa merobek kulit sosis dengan tangan langsung, tetapi di area publik seperti restoran maka gunakan peralatan makan anda. Rupanya saya berhasil mengupas kulit sosis dengan baik. Kata teman suami “Jetzt bist Du Bayerisch” kepada saya. Maksudnya, sekarang saya sudah menjadi penduduk Bavaria.


Weißwurst adalah makanan tradisional khas Bavaria, Jerman bagian selatan. Karena tidak ada pengawet di dalam sosis, banyak orang berpendapat sosis ini sebaiknya disajikan sebelum lonceng Gereja dibunyikan. Itu artinya dimakan sebelum makan siang dimana lonceng Gereja selalu dibunyikan saat jam 12 siang. Namun di masa kini yang penuh kemajuan teknologi seperti lemari pendingin yang baik maka weißwurst juga bisa disajikan saat malam hari setelah disimpan dulu di lemari pendingin. 

Mungkin anda bertanya mengapa sosis tersebut berwarna putih? Pertanyaan ini pun saya tanyakan kepada teman-teman saya orang Bayerisch. Sebenarnya semua sosis berasal dari daging yang berwarna merah. Lalu jika sosis itu berwarna putih karena sosis ini hanya menggunakan campuran garam meja saja sehingga daging yang semula merah jika dimasak berubah menjadi putih keabu-abuan. Garam meja tidak mengubah warna sosis. Setelah mengetahuai pembuatannya, itu sebab weißwurst harus dimakan sebelum makan siang. Begitulah sesuai kebiasaan masyarakat Bavaria jaman dulu kala ketika belum ada lemari pendingin. 

Jika anda datang saat festival semacam Oktoberfest, maka makanan weißwurst  biasa disajikan. Makannya dengan roti Pretzel lalu sosis dipotong kecil-kecil dan diberi sedikit cocolan mustard manis. Tadinya saya pikir mustard manis itu seperti sambal kacang loh karena mirip sekali. Bedanya mustard manis ini tidak pedas dan memang lebih manis. 

Begitulah informasi seputar makanan tradisional khas Bayerisch. Semoga bermanfaat! 🍻