Bratislava, Slowakia (10): Kastil di Tepi Sungai Danube dan Simbol Kota

Kastil dari kejauhan.
Salah satu dari empat menara.
Gerbang utama yang dikenal “Gerbang Ksatria”.
Di depan kastil.

Dalam rujukan kunjungan ke Bratislava, ada yang mengatakan bahwa tak lengkap berkunjung ke sini tanpa menjejakkan kaki ke kastil. Bahkan kastil ini adalah bangunan pertama yang kami lihat saat menyebrangi sungai danube. Kastil ini memang berada di bukit sehingga terlihat begitu mudah di seputar ibukota Slowakia ini.

Kastil yang berdiri sejak abad 9 ini memang menjadi prioritas utama dari sightseeing city tours yang ditawarkan. Di dekat kastil berdiri Slovak Nationals museum. Kemudian kami melihat bangunan megah yang memiliki empat sayap, dimana tiap sayap ada menara menjulang. Kemudian kami disambut dengan taman yang berukir patung-patung indah. Dari sini anda bisa melihat keindahan panorama kota Bratislava seperti Katedral Santo Martin atau gedung UFO.

Patung Santa Elizabeth dari Hungaria.
Benteng sekitar kastil dan seberang sungai danube adalah kota Bratislava yang baru.
Menuju pondasi basilika, namun tertutup untuk umum.
Menara katedral Santo Martin dari taman kastil.

Di sekitar teras luar kastil, kami menemukan pondasi basilika yang dulu dikenal sebagai “the great Moravian basilica”. Konon bangunan ini telah ada dua abad setelah pendirian kastil. Kastil ini juga menjadi bukti otentik bagaimana hubungan sejarah terjadi dengan Hungaria. Ya, kastil ini menyimpan memori penobatan Raja Hungaria, Stephanus I.

Berjalan ke arah selatan, kami menemukan patung Santa Elizabeth. Ini ada kaitan dengan gereja biru yang saya kunjungi sebelumnya dengan dinasti kerajaan di Hungaria. Konon di menara bagian selatan tampak mewah karena dulu sempat dijadikan tempat penobatan raja dan ratu. Di samping patung santa Elizabeth, ada prasasti yang menjelaskan profil beliau yang pernah hidup tahun 1207 – 1231.

Di taman belakang ini banyak orang sibuk berfoto. Sebagian lagi memilih duduk di bangku yang sediakan. Namun jika ada pengunjung ingin menikmati secangkir kopi dan kue atau menikmati makan siang, maka anda bisa datang di restoran ekslusif. Pemandangan yang indah dan kuliner yang lezat menjadi pilihan bagi pengunjung kastil.

Bagaimana akhir pekan anda hari ini?

Bratislava, Slowakia (9): Mencicipi Keju Domba Goreng Hingga Creamy Pasta Selera Lokal

Keju Domba Goreng dengan saus yoghurt asam.

Tiba di kota tua Bratislava yang menjadi destinasi wisata turis, tentu kami ingin melengkapinya dengan mencoba kuliner lokal. Makanan khas Slovak memang patut dicoba manakala makanan ini disajikan oleh restoran lokal. Adalah Slovak Restaurant yang tepat berada di jantung kota Bratislava mendorong kami untuk mampir sejenak.

Kami tiba saat makan siang dan sempat tak ada tempat untuk kami. Karena kami sudah lapar, kami urung menunggu. Sepasang turis segera beranjak keluar karena mereka sudah selesai makan. Kami pun segera menempati tempat mereka. Dengan cekatan, pramusaji merapikan meja dan memberi kami buku menu.

Pasta creamy, lupa apa namanya.

Buku menu tertulis dalam tiga bahasa yakni bahasa lokal, bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Tentu ini memudahkan pengunjung seperti kami yang benar-benar tak paham kuliner lokal. Tiap makanan diberi deskripsi dan foto. Kemudian kami pun sudah tak tahan ingin memesan hanya dengan membaca deskripsi makanan, meski kami tidak tahu bagaimana rasanya. Jujur, restoran ini penuh pengunjung di dua lantai yang dimilikinya. Pertanda bahwa restoran cukup enak.

Pramusaji datang menghidangkan minuman yang kami pesan berikut bertanya apakah pesanan kami selanjutnya. Saya memilih keju domba goreng seperti yang disarankan pramusaji cantik di hadapan saya. Karena saya memang tidak ingin makan dalam porsi besar. Sedangkan suami memilih makanan sejenis pasta yang cremy dengan keju.

Silahkan datang ke restoran ini!

Sebenarnya saya pernah mencicipi keju domba fresh dalam berbagai kuliner Jerman. Namun, rasa keju domba digoreng pasti berbeda. Saya mendapat dua potong keju yang sudah digoreng matang berwarna kecokelatan. Rasa keju yang sedikit asam dan teksturnya liat membuat saya takjub. Untuk mencicipingnya, potongan keju dicelupkan dengan saus yoghurt asam. Begitulah rasanya!

Sedangkan suami saya tampak bersemangat menikmati pasta yang dipesannya. Saya melihat dia kesulitan mengunyahnya karena pasta yang terlalu creamy dan mengenyangkan. Ditambah lagi pasta creamy ini ditaburi keju lagi. Anda bisa membayangkan bahwa makanan ini pasti enak bagi pecinta keju sebenarnya.

Harga kedua makanan tersebut tidak begitu mahal menurut saya, untuk kawasan pusat wisata. Soal rasa, saya kembalikan kepada tiap orang tergantung selera masing-masing saat mencicipi kuliner lokal. Namun kedua kuliner di atas layak dicoba.

Hmmm…

Bratislava, Slowakia (8): Devin Castle, Batu Tua Penuh Legenda dan Layak Dikunjungi

Panorama yang ditawarkan benar-benar indah.
Luas dan tak lengkap bangunannya.
Salah satu tembok pengintai.
Sisi sungai di sekitar kastil.
Pengunjung dilarang menuju ke sana, mungkin bangunannya yang riskan.
Kiri adalah sumur yang dulunya menjadi sumber mata air.

Happy Sunday!

Jika anda menemukan perangko atau uang koin sebelum diberlakukan mata uang Euro di Slowakia, anda bisa melihat monumen batu yang jadi kejayaan bangsa, Slavia. Itu adalah devin castle yang letaknya sekitar 12 kilometer dari pusat kota tua. Kami berkendara dengan kendaraan pribadi sekitar sepuluh menit lamanya.

Devin castle diyakini keberadaannya sejak abad 5 sebelum masehi atau bangunan ini sudah ada sejak jaman neolitikum. Awal masehi bangsa romawi memperkuat bangunan batu yang menjadi ciri khas peninggalannya. Itu sebab ada jejak jemaat kristen awal di sini. Sekitar tahun 20 dan 30 masehi, bangsa romawi memanfaatkan tempat ini mengingat tempat ini subur, berada di pertemuan dua sungai besar, yakni morava dan danube. Pembangunan tahap dua kastil berlangsung pada abad pertengahan sekitar abad 13 dan 15 masehi. Kastil ini menjadi saksi sejarah dari masa ke masa, bahkan pada masa Napoleon. Kini kasil tinggal puing yang menjadi monumen penting sejarah dan arkeologi yang masih terus diselediki.

Begitu tiba tampak tumpukan batu yang sudah tidak utuh namun masih terjaga. Pintu tiket masuk baru saja dibuka saat kami menjejakkan kaki di gerbang pintu masuk. Harga tiket dua Euro per orang sebagai retribusi. Kemudian kami segera memasuki lokasi yang menawarkan panorama yang indah dan menawan. Di satu sisi pegunungan dan sisi lain sungai. Ini seperti yang pernah disampaikan guru sejarah saya di sekolah bahwa peradaban manusia diawali di tepian sungai.

Imajinasi saya membayangkan bangsa Slavia masa lalu di kastil batu yang berjaya. Jejak kaki pertama adalah kapel umat kristen awal sekitar abad 4. Lalu arah pandangan ke tumpukan batu yang dulu pernah menjadi kastil yang indah. Naik ke atas, kami menemukan menara pengintai dengan beberapa lubang batu yang masih bertahan. Kemudian ada juga upper castle yang berada di atas bukit.

Berjalan menyusuri ke arah depan, nampak sumur yang dulu dijadikan sumber air tentunya. Kedalaman sumur berdasarkan informasi sekitar 55 meter dan sepenuhnya dibangun dengan batu. Rupanya bangunan batu ini tidak hanya pernah menjadi kastil. Sumber lain menyebutkan bahwa tempat ini pernah menjadi gudang senjata. Kami akhirnya menemukan tempat yang dulu pernah menjadi gudang amunisi.

Kemudian turun ke bawah, ada gerbang batu dihiasi jendela untuk melihat ke arah seberang sungai. Tepatnya, itu adalah negara Austria.

Pengalaman menarik saat kami tiba di sana adalah si penjual tiket meminta kami membayar dengan uang pas koin 2€ karena petugas tidak punya uang kembalian. Akhirnya kami merelakan tanpa uang kembalian. Lainnya adalah kami kesulitan mencari toilet umum. Letaknya WC umum yang agak jauh dari lokasi wisata dan juga saat kami membutuhkan, toilet masih terkunci. Asyiknya, kami mendapatkan gratis parkir mobil, sementara di lokasi wisata lain kami perlu bayar.

Begitulah kastil tua yang kami jejaki di Bratislava. Bagaimana pengalaman anda hari ini?

Bratislava, Slowakia (5): Grilled Ribs, Schnitzel dan Pressack yang Jadi Selera Lokal

Grilled ribs, terdiri atas 450 gram iga panggang, salad dan dua macam saus.

Tak lengkap rasanya jika traveling tanpa berhenti di restoran selera lokal. Itu yang jadi pemikiran kami begitu tiba di hotel berbintang empat yang menjadi tujuan liburan selama di Bratislava. Letak hotel ini memang jauh dari pusat wisata namun dekat dengan pusat industri dan perkantoran. Mengingat harga hotel yang cukup terjangkau dan kami bawa kendaraan pribadi maka kami putuskan tinggal di hotel yang berada sejauh tiga puluh menit dari alun-alun kota.

Kami pun cari tahu lokasi kuliner yang mudah dijangkau saat membaca reviu hotel. Beberapa orang yang pernah menginap di hotel, tempat kami menginap, berpendapat ada restoran mewah yang selalu ramai karena citarasa makanannya yang memang lezat. Ternyata benar, restoran ini tak pernah sepi dan selalu ramai didatangi tamu.

Restoran ini bergaya seperti restoran tradisional Bavaria. Meja dan bangku restoran terbuat dari kayu jati yang kokoh. Interior bangunan didominasi dengan unsur kayu. Sebagian orang senang ngobrol sambil minum bir. Sebagian lagi seperti kami yang datang mencicipi kuliner malam.

1. Grilled Ribs

Hmmm, iga panggang yang lezat!

Saya lihat daftar menu restoran ternyata harganya tak merobek kantong. Saya pun langsung memilih menu grilled ribs yang jadi pilihan istimewa restoran itu. Saat memesan, saya tidak memperhatikan bahwa porsi iga seberat 450 gram. Jelas ini besar buat saya, bahkan saya tidak menghabiskan satu iga panggang lainnya. Si pramusaji pun membungkusnya untuk saya bawa pulang.

Iga panggang diletakkan dalam wadah kayu, yang terdiri atas salad sayuran rasa menyegarkan, dua potong iga panggang dan dua macam saus yang beda rasa. Iga panggangnya benar-benar empuk dan bumbunya pun tak begitu menyengat, kaya rempah. Ada rasa thymian, rosemarin dan sedikit madu sepertinya sebagai olesan di daging iga. Enak sekali!

2. Schnitzel

Makanan kedua ini pasti dipesan oleh suami saya, yang tidak suka mencoba kuliner yang tidak dikenalinya. Schnitzel adalah makanan meriah berasal dari Jerman, terbuat dari daging yang dipipihkan dan diberi tepung. Pengaruh kehadiran migrasi orang Jerman jaman dulu ternyata memberi pengaruh kuliner pada selera lokal Slowakia. Contohnya adalah schnitzel dan gaya restoran, tempat kami makan.

Schnitzel dibuat dengan daging dan olesan tepung roti. Ada tambahan kentang yang dipotong dadu, bukan pommes, kentang goreng ala Jerman. Selanjutnya ada salad sayuran di pinggir piring. Porsinya cukup besar. Menariknya, schnitzel ini diberi taburan keju parmesan di atas daging. Hmmm, tidak pernah bertemu schnitzel demikian.

3. Pressack

Sosis, saus asam di tengah dan irisan bawang bombay.

Kuliner terakhir adalah sejenis sosis dengan saus asam. Kuliner ini dipesan oleh suami sementara saya memesan kentang goreng saja. Saus seperti ini juga biasa dijumpai di wilayah tempat tinggal kami. Ini membuktikan bahwa kuliner lokal juga mendapatkan pengaruh dari kehadiran orang Jerman di masa lalu.

Sosis ini sulit saya jelaskan karena ada ragam jenis sosis di Eropa. Sebagai makanan dingin, sosis ini sebelumnya dibekukan terlebih dulu untuk dicetak dalam wadah. Untuk menikmatinya, ada saus asam dan bawang bombay yang diberi garam sedikit.

Kira-kira kuliner mana yang mungkin anda coba di Bratislava?

Kofola, Kopi Dalam Minuman Bersoda di Slowakia: Bratislava (3)

Anda pasti penasaran jika saya cerita bahwa ada minuman kopi bersoda. Pasalnya, saya yang juga peminum kopi mendapati taste yang berbeda sebagai pengalaman menarik saat traveling. Ya, namanya kofola. Anda hanya bisa mendapatkan minuman ini di Ceko dan Slowakia. Dulu memang kedua negara ini bersatu, sekarang menjadi dua negara bertetangga.

Di suatu siang menjelang waktu makan, saya mencolek suami, memberi tanda untuk berhenti di restoran di pusat kota Bratislava. Dia pun setuju. Kami bermaksud berhenti di salah satu restoran. Mengingat kota tua Bratislava menjadi destinasi utama turis maka begitu banyak restoran yang bisa dipilih. Restoran selera lokal hingga internasional tersedia di sini. Kami pun sepakat berhenti pada restoran yang mengklaim restoran tradisional yang menyediakan menu lokal. Tentang rekomendasi restoran ini menyusul dituliskan.

Restoran begitu penuh. Mungkin karena udara di luar yang begitu dingin atau waktu makan siang memang sedang berjalan. Beruntungnya ada tamu yang duduk di jendela sudah selesai, mereka mempersilahkan kami untuk duduk. Kami pun segera mengecek menu yang tertera di buku menu.

Hal pertama yang ditanyakan pramusaji adalah minuman yang dipesan. Saya yang mendapat giliran pertanyaan mendadak bingung, apa yang akan menjadi minuman saya? Sementara suami memilih minuman soft drinks yang sudah umum. Saya pun berdialog dengan pramusaji dalam bahasa Inggris.

“Saya mau minuman yang segar tetapi saya tidak ingin minuman alkohol.”

Lalu si pramusaji menawarkan minuman soft drinks yang sama seperti suami saya. Saya pun menggeleng.

Saya bertanya lagi

“Apakah anda punya kopi?”

“Ya, kami ada kopi, cappucino, caffe latte. Anda mau yang mana?

Tiba-tiba pertanyaan konyol saya muncul.

“Apakah anda punya minuman kopi tradisional dari Slowakia?”

Sebenarnya pertanyaan di awal sungguh-sungguh tidak ada hubungannya, antara minuman segar dengan minuman kopi tradisional.

Beruntungnya si pramusaji itu masih sabar melayani saya, meski saat itu penuh tamu di dalam restoran. Barangkali orang Slowakia tahu bagaimana memperlakukan turis seperti dengan saya dengan baik. Suami saya yang duduk di sebelah sudah tampak tak sabar karena melihat saya masih berdialog soal minuman. Lapar!

Akhirnya si pramusaji cantik itu pun mengeluarkan pernyataan begini,

“Anda perlu mencoba minuman lokal di sini. Namanya Kofola. Ini minuman soda dan ada kafeinnya, sama seperti kopi.”

Selesai berbicara begitu, pramusaji segera bergegas ke tempat lain karena panggilan untuk melayani tamu yang lain menanti.

Tak lama kemudian, dia sudah datang membawakan pesanan minuman kami berdua.

Kofola itu punya rasa yang berbeda dari kebanyakan soft drinks yang pernah saya coba. Ada taste kopi dan soda dalam mulut. Minuman ini diklaim tak banyak mengandung gula dibandingkan minuman soft drinks umumnya. Ada campuran herbal di dalam rasa kofola. Di supermarket, saya menjumpai kofola dalam berbagai rasa seperti lemon, karamel, dan lain-lain.

***

Menurut teman asal Slowakia, kofola adalah minuman istimewa yang sudah dinikmatinya sejak kecil. Kini saat teman saya ini sudah tidak berada lagi di Bratislava, dia masih belum menemukan minuman dengan rasa yang sama seperti kofola di luar Slowakia. Sambil bernostalgia, teman saya asal Slowakia ini berpendapat bahwa minuman non alkohol ini adalah sumber kebanggaan bagi masyarakat lokal.

Hmm, good to know!

Bratislava, Slowakia (1): Gereja Biru yang Instragramable Dan Diburu Untuk Berfoto

Menara gereja biru.
Dari sisi lain.
Gereja biru tampak kejauhan.
Karena tertutup, saya memotret dari kaca jendela. Tampak dalam gereja pun bernuansa biru pastel.

Berbagai isu kekinian yang menjadi spot foto memang sedang digandrungi. Tua muda artinya tidak hanya oleh anak muda, senang juga mendapati suatu tempat yang indah sebagai obyek foto. Mereka pun berburu tempat yang instragamable agar bisa menarik mata. Ini pula yang saya rasakan kala pertama kali menjejakkan kaki di Bratislava, ibukota Slowakia.

Hari pertama di Bratislava, saya ditemani suami segera meluncur ke gereja biru. Mengapa disebut begitu? Anda pasti percaya bahwa tampilan gereja yang demikian wajar bila dikatakan bahwa ini adalah gereja biru. Warna pastel pada gereja seperti tampak indah bagi pemburu foto. Banyak turis datang hanya untuk mendapatkan gambaran depan gereja. Pasalnya gereja katolik tersebut memang tidak dibuka jika sedang tidak ada kegiatan ibadah.

Aslinya ini adalah gereja katolik St. Elizabeth. Dalam daftar destinasi wisata, dikatakan “The Blue Church” atau “The Church of St. Elizabeth”. Letaknya di timur dari Bratislava dan memang agak jauh dari old town. Karena bentuknya yang kecil, ini bisa disebut juga kapel. Bahkan letaknya yang berdekatan dengan sekolah, dikatakan ini juga kapel milik sekolah. Kapel ini didekasikan untuk seorang putri dari Hungaria, yang bernama Elizabeth. Bangunannya yang dibangun seperti mosaik dan diberi warna biru pastel menyebabkan kapel ini menjadi tersohor.

Kapel ini dibangun sekitar awal tahun 1900-an. Gaya arsitektur bangunannya terbilang baru dibandingkan bangunan gereja katolik pada umumnya. Ini adalah ciri yang banyak ditemukan di Eropa awal tahun 1900an. Bentuknya memang total seni dengan keseluruhan warnanya yang biru pastel sehingga indah dipandang di mata.

Saat kami datang, pintu gereja tampak tertutup. Banyak sekali orang hanya untuk memotret bagian luar gereja. Ada juga yang sesekali berselfie atau membuat video dari kunjungan ke gereja biru tersebut. Tetapi memang kita tidak bisa memasuki gereja seperti umumnya gereja katolik lainnya.

Rasanya cocok jika kita menyematkan Bratislava sebagai kota instragamble. Nantikan juga spot foto lainnya di kunjungan berikutnya!

Selamat berhari Minggu!