Braunau am Inn, Austria: Gereja St. Stephan, Menara Gereja Tertinggi di Austria (2)

Bangunan Gereja dengan menaranya yang tertinggi di Austria.

Keterangan informasi.

Tampak salah satu sisi Gereja.

Ornamen Santo Stephanus, pelindung Gereja.



Melanjutkan cerita saya pada pos sebelumnya di Kota Braunau am Inn, Austria maka kita membahas kunjungan yang tak kalah menariknya yakni Gereja Katolik St. Stephan yang bergaya gothik.

Baca https://liwunfamily.com/2017/11/24/braunau-am-inn-austria-kota-kecil-tetapi-nilai-sejarahnya-besar-1/

Menara Gereja Katolik ini sudah terlihat megah dari kejauhan. Menara setinggi 87 meter ini diyakini menjadi menara Gereja tertinggi di Austria. Pantas saja! Saya kagum dengan bangunan Gereja Katolik yang megah ini. Apalagi seisi Gereja masih terawat baik meski sudah berusia ratusan tahun.

Butuh waktu berpuluh tahun untuk membangun Gereja ini antara tahun 1439 hingga tahun 1466. Tak ada informasi pembaharuan dari bangunan Gereja, terbukti bahwa lantainya pun tak mulus. Bangunan Gereja ini dianggap sebagai bangunan terakhir bergaya Gothic, menggantikan kapel yang ada di seberang Gereja. Itu sebab Gereja dibangun cukup luas. 

Kursi di dalam Gereja.

Ada nama umat tertera.

Dari belakang Gereja menuju ke Altar.

Altar untuk persembahkan misa.



Kursi Gereja pun masih bergaya lama. Bayangkan setiap orang yang jadi umat di sini sudah mendapatkan namanya yang tertera di meja untuk duduk di kursi dalam Gereja. Uniknya setiap orang untuk berlutut masih bergaya lama dimana ada lekukan tubuh yang memudahkan orang berlutut. Saya belum pernah menjumpai kursi umat seperti ini di Gereja Katolik lain.

Selain kursi umat yang menarik bagi saya, ada organ tertua yang pernah saya saksikan juga di Dom St. Stephan, Passau. Tertulis dalam lembar informasi bahwa organ sudah berusia 350 tahun. Sejak kapan dihitung, tak ada informasi. Namun organ ini menjadi peninggalan yang masih lestari di Gereja ini. 

Organ tertua milik Gereja tampak di atas.

Ini sepertinya bilik pengakuan dosa.

Ornamen menghiasi dinding luar Gereja.

Di seberang Gereja, terdapat kapel. Sisi kapel dengan patung Pieta di atas tulisan periode tahun dengan simbol Salib di tengah.


Dinding luar Gereja dihiasai berbagai ornament yang membutuhkan ketelitian dan membuat Gereja ini tampak indah. Bagusnya Pemerintah setempat melestarikan dan merawat Gereja ini, termasuk menyediakan papan informasi yang jelas bagi pengunjung. Artinya setiap orang bisa memahami riwayat informasi peninggalan dengan baik.

Di seberang Gereja, masih berdiri megah kapel lama. Namun sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Di sisi kapel, ada replika patung Pieta yang terbuat dari batu. Di bawahnya ada simbol Salib dan tertulis 1914-1918 dan 1939-1945. Mungkin kapel ini adalah saksi pernah terjadi kekejaman perang pada periode perang dunia pertama dan perang dunia kedua sebagaimana tahun yang dituliskan. Sayangnya tak ada informasi di situ.

Stadtpfarrkirche St. Stephan, begitu nama Gereja Katolik ini disebut di sini. Tempat ini menjadi lokasi yang paling sering dikunjungi Turis. Seperti yang saya katakan bisa jadi Gereja Katolik ini juga menyimpan sejarah mengenai masa lalu, termasuk kejadian kemanusiaan melalui perang dunia. Tak ada yang bisa menjelaskan. Penduduk di kota ini lebih senang untuk melihat hal baru ke depan ketimbang masa lalu yang sudah jadi bagian sejarah. 

Semoga anda pun demikian. Masa depan adalah harapan!

Tips dari saya:

  • Sebagai tempat ibadah, sebaiknya anda menghormati peraturan yang berlaku semisal membuka topi, tidak berisik, tidak meninggalkan sampah, dan lain-lain.
  • Jika ingin berdoa dengan lilin, anda bisa keluarkan uang kecil sekian cents Euro sebagai donasi.

Semoga bermanfaat!

Baca https://liwunfamily.com/2014/05/21/8-tips-mengunjungi-tempat-ibadah-yang-jadi-lokasi-wisata/

Braunau am Inn, Austria: Kota Kecil Tetapi Nilai Sejarahnya Besar (1)

Stadtplatz dari Kota Braunau am Inn, di depan Rathaus.

Monumen di kota Simbach am Inn. Jika dari Bayern, Jerman maka kota Braunau am Inn, berbatasan dengan Kota Simbach am Inn.

Menara kota atau stadttorturm dari kejauhan.

Braunau am Inn menjadi kota kecil yang berbatasan langsung dengan Jerman. Jika dari Bayern, anda bisa melewati kota Simbach am Inn. Itu berarti kedua kota ini dilalui oleh sungai Inn yang memisahkan keduanya menjadi negara berbeda, Simbach am Inn adalah wilayah Jerman dan Braunau am Inn adalah wilayah Austria. 

Sebelum ada Uni Eropa jembatan di penghubung kedua kota ini, terdapat pos pengecekan imigrasi. Kini sudah tidak ada lagi. Kami mengendarai mobil ke sini untuk melihat-lihat. Pada hari minggu tak banyak yang bisa dilakukan. Sepi. 

Ada dua hal yang menarik yang ditemukan di sini. Pertama, kota ini dikenal sebagai kota kelahiran Hitler, sang tokoh melegenda. Kedua, terdapat sebuah Gereja Katolik tua bergaya Gothik dengan menara tertinggi di Austria.

Sebelum kita mengulik kedua tempat menarik tersebut, apa saja yang bisa dilihat di kota ini?

1. Fischbrunnen

Fischbrunnen.

Patung ini kecil dan tidak terlihat jelas karena silaunya matahari saat saya datang. Ini semacam air mancur di tengah kota. Konon patung ini menandai bahwa di tempat ini dulu para nelayan berkumpul dan menjajakan ikan. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Jumat, hingga tahun 1939. Arah patung menuju utara. Jadi ingat bahwa toko jual ikan di dekat rumah di Jerman juga bukanya setiap hari Jumat saja. Ada kaitan? Entah ya!

Dijelaskan bahwa di kota ini pernah ada akademi kemaritiman yang ditandai foto kelompok siswa pada tanggal 6 Mei 1916.

Lalu di sini juga pernah ada Akademi Kemaritiman yang gedungnya berada di Jalan Salzburger Vorstadt nomor 13. Di papan informasi pusat kota, ada foto kelompok para siswa di akademi (Marienakademie) tersebut pada 6 Mei 1916. 

2. Stadttorturm (Salzburger Torturm)

Menara ini berbentuk Neo-Gothic.

Tertulis di depan menara.

Tak ada keterangan foto.

Ini semacam gerbang kota yang indah menurut saya. Di atas gerbang ada tulisan bahwa Kota Braunau am Inn adalah kota tua. Lalu terlihat megah dari kejauhan. Menara kota ini berdasarkan papan informasi berbahasa Jerman dikatakan mendapatkan sentuhan Neo-Gothic dengan ujung menara berakhir dengan atap baji. 

Menara dibangun pada tahun 1940. Menara bersejarah ini sebagai penanda bahwa bangunan di luar menara merupakan pemukiman baru setelah sempat terjadi kebakaran di masa lalu. Jadi bisa dikatakan bahwa menara ini penghubung sejarah kota di masa lalu dengan tumbuhnya bangunan baru. 

3. Mahnstein

Tampak depan.

Tampak belakang.



Mahnstein ini merupakan batu besar semacam monumen. Batu berada di depan rumah nomor 15, Jalan Salzburger Vorstadt. Batu ini bertuliskan “Untuk Perdamaian, Kebebasan dan Demokrasi. Jangan pernah ada lagi Fasisme! Ini mengingatkan kita, jutaan mati karenanya.” Semua tertulis dengan baik dalam bahasa Jerman. Batu ini dipasang pada tahun 1989 sebagai peringatan seabad kelahiran Hitler, yang lahir pada 20 April 1889. 

Dibalik batu, tertulis dalam bahasa Jerman. Dikatakan bahwa batu diambil dari tambang yang pernah menjadi salah satu kamp konsentrasi kala perang. Sepertinya tulisan tersebut tak lekang oleh waktu bahwa sejarah pernah terjadi dan mengingatkan lagi agar tragedi kemanusiaan itu tak akan terulang.

4. Rumah nomor 15 di Jalan Salzburger Vorstadt

Tampak depan dan tak terawat.

Tampak depan.

Tampak belakang.

Rumah yang beralamat di Jalan Salzburger Vorstadt nomor 15, Braunau adalah bangunan seluas 800 meter yang sudah dikosongkan sejak 2011. Karena khawatir menyulut rasa tak aman dan tak nyaman bagi penduduk yang tinggal di kota ini, gedung ini tak memberikan petunjuk penjelasan di sekitarnya. Gedung berlantai tiga ini terlihat misterius bahkan terlihat sudah lama tak terawat. 

Rumah ini adalah tempat lahirnya tokoh penulis buku “Mein Kampf.” Si ayah katanya hanya menyewa sebuah kamar hingga Hitler lahir. Setelah beberapa hari, mereka pun pindah ke tempat lain masih di kota yang sama ini. Sejak lahir hingga usia 3 tahun, Hitler dikabarkan berada di kota ini, sebelum akhirnya ayahnya dipindahtugaskan ke Kota Passau, Jerman

Meski kekhawatiran bermunculan namun sang pemilik yang tak ada kaitan dengan gerakan yang didirikan Hitler, memenangkan gedung ini untuk bertahan. Pemilik gedung berhasil mempertahankan miliknya melalui sidang pengadilan yang ketat. Awalnya gedung ini adalah penginapan, kemudian berganti-ganti fungsi hingga terakhir menjadi rumah perlindungan bagi para kaum difabel.

Masih ada lagi kelanjutan bangunan bersejarah lainnya di kota ini. Nantikan cerita saya selanjutnya!

Tips dari saya:

  1. Sebagai pendatang sebaiknya kita tidak banyak cari tahu seperti bertanya atau menyelidiki kepada penduduk setempat terutama bertanya apa yang pernah jadi sejarah di tempat tersebut. Bagaimana pun ini adalah hal sensitif bagi penduduk sekitar kota itu. 
  2. Bangunan nomor 15 pada poin 4 di atas masih menjadi kontroversi keberadaannya karena membuat rasa tak aman dan tak nyaman penduduk sekitar. Sebaiknya kita bersikap santun dan bijak sebagai pendatang atau turis. 

Sejarah adalah masa lalu yang dikenang dan kita belajar lebih baik lagi karenanya. Masa depan adalah harapan semua orang. Mereka, penduduk kota, lebih senang untuk tidak membahas apa yang pernah terjadi sebagai tragedi kemanusiaan. 

    Semoga bermanfaat!