Kürtőskalàcs, Jajanan Kue Kaki Lima: Kuliner Budapest, Hungaria (3)

Kürtőskalács sedang dipanggang.
Kue dipanggang dengan karamel hingga berkerak.

 

Kue tampak sedang diuleni seperti roti biasa.

 

Kue ini juga bisa ditemukan di pinggir jalan, seperti tampak dalam foto dimana kedai tersebut belum buka.

 

Di Budapest, saya senang mengamati pasar Natal yang berada dekat dengan Basilika Santo Stephanus. Salah satu kios yang ramai dikunjungi adalah kedai kue khas kuliner setempat. Setelah dari sini, saya lihat banyak kedai kue serupa di kaki lima yang juga menjual kue sama. Itu artinya kue ini populer di Budapest.

 

Nama kue tersebut, Kürtőskalács yang wajib anda coba jika berkunjung ke sini. Ini semacam kue tradisional yang manis dan dikonsumsi sehari-hari. Menurut saya, kue ini seperti roti gulung yang dibungkus dengan rasa manis semacam karamel pada permukaannya sehingga mengkilap. Rasanya benar-benar renyah dan mengenyangkan menurut saya. Namun saat saya datang ke sini, kue ini memiliki berbagai varian rasa sebagaimana yang anda sukai misalnya vanila, strawberry dan sebagainya. 

Ada yang bilang kue ini juga dijumpai di daratan Eropa yang lain, namun memang paling banyak dijumpai di Hungaria. Kue ini dibuat dengan adonan seperti roti beragi, digulung dan dipanggang dalam bara api hingga berwarna kecoklatan. Setelah itu, diberi rasa sesuai selera yang dikehendaki.

Semua kedai yang saya jumpai menawarkan cara yang sama dengan rasa berbeda-beda, yakni kue diuleni, dipanggang dan kemudian diberi rasa sesuai permintaan. Harganya bervariasi namun di pasar musiman seperti Christmas Market tentu harganya bisa sedikit lebih mahal. Saya sarankan anda mencoba di jajanan kaki lima yang lain karena ternyata ini termasuk jajanan yang digemari jika berkunjung ke Hungaria.

Begitu asyiknya menikmati kue hingga saya lupa mengambil foto kue tersebut. 

Borjùpaprikà Galuskàva, Veal Stew with Galuska: Kuliner Budapest, Hungaria (2)

 

 

Borjùpaprikàs Galuskàva.
Coca cola dan teh hijau.

Kami kelaparan begitu tiba dari Jerman. Akhirnya berjalan tak jauh dari hotel, tempat kami menginap ada sebuah restoran di sudut jalan yang terlihat unik. Namanya KIRÀLY 100 Gastro Corner, Budapest. Anda bisa mencarinya sendiri yang letaknya berdekatan dengan wilayah hotel dan penginapan.

Konsep restorannya instragamable buat anak muda sehingga tempat ini tak pernah sepi dikunjungi. Ada barnya juga di dalam jika tak ingin makan apa pun. Lalu di sudut restoran, ada banyak tempelan mata uang berbagai negara. Ternyata pernah ada orang Indonesia juga makan di situ dan menempelkan selembar seratus ribu rupiah. Karena banyak orang, saya enggan mengambil foto sudut aneka uang tersebut.

Untuk pesanan saya, anda bisa lihat di artikel ini. Sedangkan kali ini, saya mengulas jenis makanan Hungaria yang terkenal dengan paprikanya. Makanan ini dipesan suami saya, Borjùpaprikàs Galuskàva. Ini semacam pot yang berisi potongan galuskàva dengan goulasch.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/29/gulyasleves-piros-labas-dan-tejfolos-ubokasalata-budapest-hungaria-1/

Galuskàva ini bisa dibilang semacam spätzle jika di Jerman dan sekitarnya. Si pramusaji menjelaskan dalam bahasa Inggris, ini semacam dumpling. Menurut saya, ini seperti mie telor atau pasta bagi kebanyakan orang Italia. Di Hungaria, mereka membuat galuskàva sebagai hidangan yang disantap bersama goulasch atau sup paprika.


Sedangkan borjùpaprikàs adalah nama lain dari goulasch paprika. Ini berisi potongan daging sapi, irisan paprika dan tomat yang disertai krim berbumbu seperti goulasch dan dimasak hingga daging melunak. Saya tanya ini ke rekan kerja suami dulu yang memang berasal dari Hungaria. Membuatnya pun mudah asalkan kita sudah punya bumbu kemasan. Dalam buku menu, masakan ini dalam bahasa Inggris disebut ‘veal stew with galuska‘ yakni daging yang direbus bersama mie.

Mereka yang suka foto-foto dijamin suka dengan suasana restoran yang menarik mata.

 

 

Ada bar juga dan tempelan berbagai mata uang, termasuk selembar seratus ribu dari Indonesia.

 

Bon dan alamat restoran mungkin bisa dikunjungi. Tertulis dalam mata uang HFU, mata uang Hungaria namun saya bisa membayar dengan Euro.

Hungaria terkenal dengan citarasa makanan paprika, bahkan beberapa tempat bisa dinamakan paprika seperti hotel atau restoran. Karena kuliner Hungaria juga dikenal mendunia, Budapest menawarkan tur gastronomi untuk mencicipi kuliner mereka.

Berdasarkan informasi dari tour guide kami, makanan Hungaria memiliki citarasa yang dekat dengan Austria dan Mediterania. Sementara untuk jajanan kue-kue begitu mirip dengan Perancis. Petualangan rasa saya belum berakhir, nantikan cerita kuliner saya yang lain.

Selamat Tahun Baru 2018! Happy New Year! viel Glück🎉🎊

Gulyàsleves Piros Làbas dan Tejfólós Ubokasalàta: Kuliner Budapest, Hungaria (1)

Gulyàsleves Piros Làbas.

Lihat kuahnya yang berbeda dari goulasch yang biasa saya ulas.

Roti untuk goulasch.


Saya berulangkali memposting goulasch dalam blog ini hingga suatu kali ada seorang pembaca bertanya makanan sejenis apa goulasch itu. Dia bertanya demikian pasalnya goulasch yang saya tampilkan selalu berbeda-beda. Itu sebab variasi goulasch tidak membosankan dan mudah diterima siapa saja. Buktinya, goulasch dari Hungaria bisa mendunia dan populer.

Saat berkunjung ke Budapest, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi goulasch. Saya cari dalam daftar menu tetapi tidak ketemu hingga pramusaji membantu saya menunjukkannya dalam daftar menu. Nama dalam daftar menu tertulis ‘Gulyàsleves Piros Làbas‘ dengan porsi kecil. Anda tahu meski saya memilih porsi kecil, saya pun tak kuasa menghabiskannya. Artinya, porsi tersebut cukup besar menurut saya, ditambah irisan roti.

Selang lima belas menit, datang pesanan minuman saya yakni green tea, yang diberi tambahan irisan lemon dan madu cair. Setidaknya baik juga untuk tubuh kala saya dan suami terlambat makan siang. Kami berdua baru saja tiba di Budapest, dengan mengendarai mobil pribadi. Suhu di luar sekitar 5 derajat celcius.

Tejfólós Ubokasalàta.


Pramusaji pun menawari saya salat sebagai makanan pembuka. Saya senang karena mengira ini adalah complimentary, baru kemudian saya tahu bahwa salat ini dibayarkan. Di beberapa restoran di Jerman, salat biasa dihidangkan sebagai makanan pembuka namun tidak dikenakan biaya. Ini semacam salat mentimun buatan ibu mertua, hanya saja irisan mentimun ditambahkan mayonaise dan ditaburi paprika bubuk. Hanya mentimun saja dalam salat, yang kemudian disebut Tejfólós Ubokasalàta

Kemudian pramusaji membawa beberapa irisan roti di hadapan saya. Itu berarti saya menyantap goulasch dengan roti. Lalu dia pun bersegera menghidangkan goulasch, sepertinya masih dalam kondisi panas. Isian sup ada kentang, wortel, buncis dan irisan daging sapi. Untuk menikmatinya, tentu bersama dengan roti.

Menurut saya, ini semacam sup daging buatan ibu saya di Jakarta. Hanya saja, kuahnya berbeda dan terasa lebih kaya rempah. Kuah goulasch di sini tidak terasa kental dibandingkan jika saya buat sendiri di Jerman. Soal variasi isi sup, saya pikir itu menjadi kekayaan goulasch sendiri sehingga bisa diterima oleh siapa saja dan dikreasikan menurut citarasa setempat. Misal, saya bisa kreasikan dengan sosis goulasch karena di Jerman ada banyak varian sosis. 

Harganya goulasch sekitar 1400HUF, dinilai dalam mata uang Hungaria. Sedangkan salat mentimun sekitar 750HUF. Meski restoran bisa menerima mata uang Euro, namun pastikan jika anda traveling ke Hungaria maka anda perlu memilikinya juga untuk transaksi lebih baik. 

Untuk menu pilihan suami, akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat!