Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.
Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!

Advertisements

Berkunjung ke Wat Pho, Bangkok

‘The Reclining Buddha’ di Ayutthaya. Sumber foto: Dokumen pribadi.
‘The Reclining Buddha’ di Wat Pho, Bangkok. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Pernah dengar The Reclining Buddha yang ada di Thailand? Yups, the reclining Buddha menjadi icon populer bila berkunjung ke Thailand. The reclining Buddha atau dalam bahasa Thailand disebut Phra Buddha Saiyas berada di Wat Pho, Bangkok. Di sini imej Buddha dibangun berukuran 46 meter panjangnya dan tinggi 15 meter dengan kilau keemasan. Sementara The reclining Buddha yang lain yang pernah saya kunjungi juga berada di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya. Bedanya hanya tidak berkilau keemasan seperti yang saya jumpai di Wat Pho.

Jika anda tinggal di area Khao San Road maka cukup berjalan kaki sejauh 30 menit saja. Wat Pho letaknya tak jauh dari kompleks The Grand Palace. Tiket masuknya sebesar 100 Bath per orang. Sebagai tempat ibadah,  turis seperti anda akan sangat dihargai bila berpakaian yang pantas dan sopan. Petugas perempuan akan menegur bilamana pakaian anda tidak pantas. Jangan khawatir mereka juga menyediakan mantel yang bisa dipinjam selama di lokasi!

Wat Pho secara resmi disebut Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn. Namun banyak menyebutnya Wat Pho saja. Sempat berulang kali berganti nama sesuai Rama atau raja Thailand yang menjabat dan juga mengalami beberapa kali renovasi. Sebagai situs bersejarah, Wat Pho menyimpan inscriptions ‘the memory of world’ yang dilindungi, yakni sekumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan yang menjadi cermin bangsa Thailand. Di sini bisa ditemukan inscriptions dari berbagai kategori seperti sejarah, agama, tradisi, literatur, bahasa, keilmuan medis hingga kebijaksanaan tentang bangsa Thailand. 

Phra Buddha Lokanat yang berada di The East Assembly Hall, Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Di Wat Pho, saya jadi mengenal legenda Tha Tien, imej yang mudah ditemui di Thailand semisal di bandara Svarnabhumi, Bangkok. Kompleks Wat Pho yang luas banyak menyimpan sejarah masyarakat Thailand sehingga layak dikunjungi. Jika tidak paham, ada tour guide yang bersedia menemani. Misalnya 2-3 orang membayar 200 Baht. 

Lalu tiket masuk juga jangan dibuang, silahkan tukar dengan satu botol air mineral dingin! Ohya, anda juga bisa mencoba Wat Pho Massage yang konon terkenal di dunia karena menawarkan relaksasi. Bahkan mereka menawarkan kursus ‘Thai Massage Courses’ bersertifikat yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Thailand. Wow!

Petunjuk lokasi Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Tips dari saya:

1. Gunakan alas kaki yang nyaman. Di beberapa tempat, anda harus melepaskan alas kaki.

2. Daripada meminjam mantel, lebih baik berpakaian yang sopan. Ingatlah anda datang ke tempat ibadah! 

3. Tidak usah berpenampilan mencolok dan waspada terhadap copet. Di area yang ramai wisatawan, ada peringatan berhati-hati terhadap copet!

4. Hormati dan patuhi larangan yang diberlakukan semisal jangan duduk di area yang dilarang!

5. Perhatikan jika mengambil foto karena lagi-lagi ini tempat ibadah sehingga tidak mengusik mereka yang sedang sembahyang.

6. Jaga kebersihan! Dilarang buang sampah sembarangan!

7. Siapkan uang untuk berderma.Sebagai contoh anda bisa menyerahkan 20 Baht dan mendapatkan banyak uang receh yang dapat diletakkan di mangkuk derma.