Mesir (14): Kuil Esna di Pinggir Sungai Nil

Tampak depan.
Jejak bersejarah depan kuil Esna kini tak nampak lagi. Dahulu ada patung berkepala singa di sini.
Pemandangan dari dalam kuil ke luar, tampak petugas berjaga.

Pagi subuh Sang Kapten sudah mengemudikan kapal dari Edfu ke Esna, jaraknya 55 kilometer dari Luxor. Esna ini bagian dari teritori pemerintahan kota Qena, yang pernah saya ceritakan di sini. Bisa dikatakan letak Esna menjadi persinggahan dari Luxor ke Assuan, begitu pun sebaliknya. Di Esna ini kami akan mengunjungi kuil Khnum yang letaknya di pinggir sungai nil. Dahulu temple ini begitu mengagumkan karena temple ini dibangun untuk Dewa Khnum.

Kami sudah bersiap di lobby bawah untuk berjalan dalam rombongan turis berbahasa Jerman. Rupanya jarak temple dengan dermaga kapal begitu dekat. Sementara kami trip ke temple, karyawan kapal pergi sembahyang di masjid dermaga. Ya, ini adalah hari Jumat. Senandung pujian dilantunkan di masjid dekat dermaga, sambil kami berjalan kaki mendekati Esna Temple, dengan jarak tak jauh dari dermaga.

Suhu hari itu mencapai 40 derajat celcius. Kami sudah mengetahuinya dari tour guide kemarin. Masing-masing kami sudah dilengkapi topi atau penutup kepala, kacamata surya dan sunblock untuk melindungi kulit. Untuk mencapai temple kami harus melewati area rumah penduduk yang dijadikan toko sovenir. Kini temple yang dulunya begitu indah, karya peninggalan kejayaan romawi sudah tampak tak terawat. Konon kuil khnum pernah ada pada jaman Ptolomeus, didirikan saat dinasti Tuthmosis III.

Ketika kami tiba, petugas pintu masuk mengontrol barang bawaan kami dan menyobek tiket masuk. Letak temple menjorok ke bawah, dimana kami harus menggunakan tangga kayu seadanya. Di samping temple dibangun rumah penduduk yang rapat. Jika anda masuk langsung ke tengah, kita bisa melihat jejak asap yang menutupi langit-langit temple yang dulunya indah. Ya, penduduk setempat pernah menetap dan tinggal dalam kuil. Mereka memasak dan menjadikan kuil sebagai tempat tinggal.

Gambaran raja dengan senjatanya jaman dulu.
Tampak tangan terikat bagi mereka yang melanggar kejahatan.
Ada 24 tiang besar setinggi 17 meter berhiaskan pujian dan nyanyian untuk dewa.
Langit-langitnya tampak menghitam, akibat tak terawat dulu.
Di atas tampak domba jantan yang mewakili Dewa, selain Dewa Khnum.

Kuil ini rupanya tidak hanya didedikasikan untuk Dewa Khnum saja, ada beberapa dewa lain yang juga disenandungkan lewat ukiran yang ditampilkan di sini seperti Neith, Heka, Seftet dan Menheyet. Ukiran tersebut tampak lebih baik dibandingkan kuil lain, seperti ada warna-warni yang berhias pada kuil. Itu dikarenakan kuil ini dibangun pada jaman orang Mesir sudah mengalami kemajuan, pada periode Yunani dan Romawi. Bahkan Kaisar Claudius dari Bangsa Romawi sempat memperlebar kuil ini yang semula hanya berada di sisi barat aula saja. Total ada 24 tiang besar di aula kuil yang dipenuhi dekorasi hiasan, dengan atasnya adalah ukiran bunga seperti bunga lotus yang jadi simbol wilayah Mesir atas atau bagian selatan Mesir.

Seperti aula yang besar dengan tinggi mencapai tujuh belas meter, kuil ini berhiaskan pujian kepada Dewa Khnum. Selain itu kuil ini memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat dahulu di jaman kekaisaran romawi. Bagaimana raja mempersenjatai dirinya untuk melawan kejahatan. Di sisi lain diperlihatkan penjara itu ada bagi mereka yang bersalah dan harus dihukum. Ada tangan-tangan terikat yang diperlihatkan jelas bagi mereka yang pantas dihukum. Pemerintahan dan keadilan sudah lama diterapkan di Mesir kuno.

Langit-langit kuil sebagian hitam dan sebagian lain memperlihatkan astronomi dalam huruf hierogliph. Di sini diperlihatkan zodiak tentang gambaran masyarakat dulu mempercayainya simbol dan lambang kelahiran. Lainnya kita bisa melihat hewan dan unggas yang juga hidup pada masa tersebut. Dahulu hewan liar dianggap mewakili roh jahat, yang harus berhati-hati menghadapinya. Sedangkan domba diperlihatkan sebagai hewan baik.

Gambaran astronomi dan zodiak, misalnya lambang scorpio.
Warna-warni pada huruf hierofliph memperlihatkan kuil ini dibangun pada saat masyarakat dulu tampak maju dibandingkan yang lain.

Di depan kuil kini sudah tak utuh lagi. Dahulu ada patung berkepala singa yang melambangkan Dewa Manheyet. Kini semua tampak tak terlihat utuh. Menariknya di sini terdapat sisa-sisa kapel para jemaat Kristen Awal yang diperlihatkan batu altar yang tak utuh dan ruang ganti imam. Di Mesir ada sebagian kecil penganut kristen yang disebut orang Koptik.

Kami tak berlama di kuil ini. Selain suhu udara yang menyengat, kami sudah merasa waktu makan siang segera tiba. Kami bergegas menuju kapal, tepatnya restoran untuk makan siang. Anak buah kapal dan karyawan yang melayani kami di kapal kini telah kembali dari sembahyang di masjid terdekat.

Advertisements

Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.
Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!

Berkunjung ke Wat Pho, Bangkok

‘The Reclining Buddha’ di Ayutthaya. Sumber foto: Dokumen pribadi.
‘The Reclining Buddha’ di Wat Pho, Bangkok. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Pernah dengar The Reclining Buddha yang ada di Thailand? Yups, the reclining Buddha menjadi icon populer bila berkunjung ke Thailand. The reclining Buddha atau dalam bahasa Thailand disebut Phra Buddha Saiyas berada di Wat Pho, Bangkok. Di sini imej Buddha dibangun berukuran 46 meter panjangnya dan tinggi 15 meter dengan kilau keemasan. Sementara The reclining Buddha yang lain yang pernah saya kunjungi juga berada di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya. Bedanya hanya tidak berkilau keemasan seperti yang saya jumpai di Wat Pho.

Jika anda tinggal di area Khao San Road maka cukup berjalan kaki sejauh 30 menit saja. Wat Pho letaknya tak jauh dari kompleks The Grand Palace. Tiket masuknya sebesar 100 Bath per orang. Sebagai tempat ibadah,  turis seperti anda akan sangat dihargai bila berpakaian yang pantas dan sopan. Petugas perempuan akan menegur bilamana pakaian anda tidak pantas. Jangan khawatir mereka juga menyediakan mantel yang bisa dipinjam selama di lokasi!

Wat Pho secara resmi disebut Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn. Namun banyak menyebutnya Wat Pho saja. Sempat berulang kali berganti nama sesuai Rama atau raja Thailand yang menjabat dan juga mengalami beberapa kali renovasi. Sebagai situs bersejarah, Wat Pho menyimpan inscriptions ‘the memory of world’ yang dilindungi, yakni sekumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan yang menjadi cermin bangsa Thailand. Di sini bisa ditemukan inscriptions dari berbagai kategori seperti sejarah, agama, tradisi, literatur, bahasa, keilmuan medis hingga kebijaksanaan tentang bangsa Thailand. 

Phra Buddha Lokanat yang berada di The East Assembly Hall, Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Di Wat Pho, saya jadi mengenal legenda Tha Tien, imej yang mudah ditemui di Thailand semisal di bandara Svarnabhumi, Bangkok. Kompleks Wat Pho yang luas banyak menyimpan sejarah masyarakat Thailand sehingga layak dikunjungi. Jika tidak paham, ada tour guide yang bersedia menemani. Misalnya 2-3 orang membayar 200 Baht. 

Lalu tiket masuk juga jangan dibuang, silahkan tukar dengan satu botol air mineral dingin! Ohya, anda juga bisa mencoba Wat Pho Massage yang konon terkenal di dunia karena menawarkan relaksasi. Bahkan mereka menawarkan kursus ‘Thai Massage Courses’ bersertifikat yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Thailand. Wow!

Petunjuk lokasi Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Tips dari saya:

1. Gunakan alas kaki yang nyaman. Di beberapa tempat, anda harus melepaskan alas kaki.

2. Daripada meminjam mantel, lebih baik berpakaian yang sopan. Ingatlah anda datang ke tempat ibadah! 

3. Tidak usah berpenampilan mencolok dan waspada terhadap copet. Di area yang ramai wisatawan, ada peringatan berhati-hati terhadap copet!

4. Hormati dan patuhi larangan yang diberlakukan semisal jangan duduk di area yang dilarang!

5. Perhatikan jika mengambil foto karena lagi-lagi ini tempat ibadah sehingga tidak mengusik mereka yang sedang sembahyang.

6. Jaga kebersihan! Dilarang buang sampah sembarangan!

7. Siapkan uang untuk berderma.Sebagai contoh anda bisa menyerahkan 20 Baht dan mendapatkan banyak uang receh yang dapat diletakkan di mangkuk derma.