Es Krim Cappucino? Ini Bedanya dengan Es Cappucino

Es krim cappucino, enaknya!
Ini dia es krim rasa cappucino.

Di saat suhu udara masih hangat seperti di Jakarta, barangkali es krim rasa cappucino ini bisa jadi pilihan. Penasaran ‘kan?

Saya kerap memesan cappucino jika saya duduk di kafe. Cappucino itu bukan saja nikmat rasanya tetapi kini menjadi instragamable dengan dekorasi di busa susunya. Busa susu bisa dikreasikan menarik mata hingga dibentuk sesuai racikan barista. Dengan begitu, cappucino kekinian bukan lagi sekedar minum kopi.

Namun ada sisi menarik dari cappucino yang saya temukan baru-baru ini. Es krim rasa cappucino di toko es krim Italia.

Lalu apa bedanya es krim cappucino dan es cappucino yang biasanya mudah dipesan di Jerman pada musim panas?

Es cappucino seperti yang sering saya ulas punya rasa berbeda dengan es kopi. Anda bisa menyimaknya di link ini. Es cappucino terdiri atas cappucino yang sudah dingin diberi es rasa vanila dan topping krim kue. Ini benar-benar enak.

Jika es cappucino atau eiscappucino terdiri atas bahan-bahan di atas maka es krim rasa cappucino memiliki ingredients yang berbeda. Setelah saya cari tahu, rupanya es krim rasa cappucino terbuat dari berbagai macam bahan seperti espresso dan campuran lain yakni bubuk cokelat, cinammon, vanila ekstrak dan lain sebagainya. Justru rasa cappucino didapat dari perpaduan kopi dengan yang lainnya.

Untuk rasa es cappucino dan es krim rasa cappucino, saya kembalikan pada selera anda masing-masing.

Anda tertarik mencoba yang mana?

Advertisements

Pizza Mare e Monti, Ristorante Pizzeria ‘Gran Sasso’: Rekomendasi Tempat (8)

Pizza yang dimaksud.



Siapa yang tak mengenal pizza, makanan khas dari Italia? Makanan ini digemari siapa saja termasuk di Indonesia. Saya ingat sewaktu masih sekolah, saya sudah bangga diundang datang ke pesta ulangtahun di suatu restoran pizza di Jakarta. Dulu bagi saya, makan pizza sudah berasa mewah. Kini pizza begitu mudah ditemukan di mana saja bahkan di Jerman sekali pun.

Saat saya berkunjung ke negeri asalnya, Pizza mulai dijajakan mulai dari jajanan kaki lima atau street foods hingga makanan eksklusif yang tersedia di restoran. Di Roma, saya mencoba jajanan pinggir jalan pizza marinara yang berharga 1,5€. Jika anda mengamati kedua jenis pizza ini berdasarkan foto yang saya tampilkan tentu beda harga beda pula topping-nya. Harga lebih murah maka pizza tentu tanpa seafood meski diklaim pizza dengan rasa makanan laut.

wp-image-1569068856
Pizza marinara (kanan) ala jajanan kaki lima di Roma.

 

Kali ini saya membicarakan pizza dengan keunikan yang karena tidak mudah ditemui di Indonesia. Pizza Mare e Monti ini sejenis pizza marinara. Apa itu? Pizza yang berisi topping dari makanan laut lengkap. Di atas pizza ini ada udang, cumi-cumi, ikan, kerang dan jamur. 

Tertarik mencobanya?

Cappucino.

Tentu pizza jenis ini cocok disantap bila anda tidak alergi dengan makanan laut. Rasanya memang nikmat sekali! Sepertinya koki tahu bagaimana membuat campuran makanan laut sehingga teksturnya pas, tidak mentah apalagi berbau amis. Saya suka pizza ini.

Ketika ditanya apa minumannya? Saya paham sekali bahwa cappucino selalu disajikan terbaik di restoran Italia. Akhirnya saya memesan cappucino setelah saya memesan air mineral biasa. Tentu cappucino-nya selalu berbuih yang tinggi memenuhi bibir cangkir.

Ini makan siang yang sempurna khas Italia.

Coba Milchkaffee di Kafe Barista, Austria: Rekomendasi Tempat (2)

Satu cappucino di depan dan satu milchkaffe milik saya.

Milchkaffee rasanya mantap di sini.

Ada juga pilihan minum berbagai varian teh dari berbagai belahan dunia lainnya.

Ini dia tempatnya.

Sambil menikmati suasana kota Baroque di luar kafe.


Tanggal 31 Oktober kemarin adalah hari libur di Jerman. Saya dan suami memutuskan berbelanja dan jalan-jalan di kota Schärding, Austria. Kota ini pernah saya bahas sebelumnya, karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Jerman. Usai jalan, saya pun menikmati pusat kota dengan nongkrong di warung kopi layaknya turis. Saya lihat ternyata banyak juga orang Jerman yang datang ke sini. Ini terlihat dari plat mobil mereka yang lalu lalang dan parkir.

Baca https://liwunfamily.com/2017/11/06/scharding-kota-tua-di-austria-bergaya-baroque-2/

Sebagian turis senang untuk berada di luar kafe karena bisa menikmati pemandangan bangunan baroque di sekitar kafe. Lagi pula udaranya yang sejuk seperti membuka pintu kulkas, membuat mereka betah duduk di luar kafe. Sementara suami saya tahu bahwa saya lebih memilih duduk di dalam karena ingin menghangatkan badan. Kafe yang saya kunjungi bernama ‘Barista: Làchinger’s Cafè & Bar’ berada di deretan bangunan baroque di pusat kota Schärding. 

Struktur bangunan yang menarik di dalam kafe membuat banyak orang betah dan nyaman. Saat kami datang, kafe ramai dikunjungi terlihat dari hilir mudik pramusaji memenuhi permintaan pelanggan. Jadi sebagai tamu kafe, kita tinggal duduk hingga si pramusaji datang dan menanyakan pesanan. Begitu pun saat selesai memesan dan ingin membayar, kita panggil lagi pramusaji. Pramusaji bertugas merangkap sebagai kasir juga. Dia akan membuatkan bon pesanan kita dan menerima pembayaran. Jangan lupa tip ya!

Baca https://liwunfamily.com/2017/08/23/jangan-pelit-beri-tip/

Karena saya tidak ingin minum kopi, pilihan jatuh antara teh atau milchkaffee. Di sini ada beragam teh yang kelihatannya mampu membuat saya rileks dan hangat setelah berdingin ria di luar. Tiba-tiba pramusaji datang menanyakan pesanan. Suami langsung berkata “Eins capuccino und eins milchkaffe.” Ya saya tidak protes juga karena saya juga bingung di antara dua pilihan. Milchkaffee, mengapa tidak?

Milchkaffee di sini bisa juga disebut hauskaffee. Di Indonesia boleh diartikan secara harafiah adalah kopi susu, namun ini berbeda seperti biasa dikenal di Indonesia dimana menggunakan susu kental manis. Di Jerman, milchkaffee populer bila mereka tak terlalu suka dengan kuatnya kafein dalam kopi. Kopinya pertama-tama disaring. Lalu komposisinya 50% kopi dan 50% susu cair, tanpa perlu pemanis lagi. Biasanya ada yang menaburkan juga bubuk kakao agar ada rasa manisnya. Ada yang mengatakan milchkaffee seperti minuman espresso yang mewah. 

Selang lima belas menit kemudian, pesanan datang. Ukuran cangkir cappucino lebih kecil ketimbang cangkir milchkaffee. Lalu kami berdua mendapatkan masing-masing satu gelas kecil isi air putih biasa. Setelah dinikmati keduanya benar-benar enak. Tempatnya pun nyaman dan asyik untuk ngobrol.

Selain itu, kafe ini juga menyediakan kue-kue yang terlihat lezat. Sayangnya saya tidak mencobanya. Kami juga senang karena kafe ini juga menyediakan toilet yang nyaman bagi pengunjung. Ini penting karena di daerah wisata, kita masih kesulitan mendapatkan toilet umum.

Mungkin lain kali lagi kami datang, saya ingin mencoba aneka teh yang berasal dari berbagai belahan dunia lain. Tempatnya recommended, bila anda berwisata ke sini.

Menurut saya milchkaffee rasanya tepat jika anda suka kopi namun tidak terlalu kuat kandungan kafeinnya. Karena milchkaffee juga mengandung susu, bukan krim atau creamer loh. Jika anda datang ke Jerman atau Austria, silahkan coba milchkaffee atau hauskaffee, dijamin ketagihan deh!

Semoga bermanfaat!

Bagaimana pengalaman anda meminum milchkaffee atau mungkin kopi susu?

Rahasia Kopi Ada di Tangan Si Pembuat. “It Comes From your Heart”

Kopi espresso yang dibuatkan spesial untuk saya karena penasaran dengan rahasia kopi mereka.

Mesin kopi milik hotel.

Dua cappucino yang membuat saya jatuh cinta pada kopi lagi.

“I love your cappucino. Could you tell me how to make it?” tanya saya pada staff hotel di Roma. Dia sudah membuatkan saya dua kali cappucino untuk sarapan pagi ini. Bahkan saat meminta cappucino kedua kalinya, perempuan mungil seperti saya ini, tersenyum dan menjawab dengan senang hati. Sebenarnya meracik kopi bukan pekerjaannya, namun dia belajar untuk menjadi bagian dari pekerjaannya. 

“I just learned how to make it. This is my pleasure if you like my coffee,” kata staf hotel itu lagi seraya memberikan dua cappucino untuk saya dan suami.

Ketika jam sarapan sudah mulai tutup, jam 09.30 waktu Roma maka staf pun memperhatikan apa yang diperlukan lagi buat para tamunya. Keperluan saya pun belum selesai bertanya rahasia kopi buatan mereka. Selama beberapa hari di Roma, saya jatuh cinta dengan kopi buatan mereka.

“You know there are two ways to make a good coffee. First, it depends on your branding coffee. We have the best coffee in the world. We called ‘Illy.’ If you find Illy in cafe, it means that cafe has the best coffee from Italy,” kata staf hotel menjawab pertanyaan saya. Menarik ya! 

Karena rasa penasaran saya tentang kopi. Dia melihat dua kopi di depan mata pun telah habis diminum, dia tawarkan lagi espresso. Hah! Saya khawatir bermasalah dengan maag saya jika meminum kopi dengan kadar kafein terlalu tinggi. Namun semoga tidak ada masalah apa pun. Dia bawakan dua cangkir kopi espresso untuk saya dan suami.

“Before explaining the second ways and the secret, you must try this caffee” tawar dia sembari memberikan dua kopi espresso. Rasa kopi esspresso itu seperti meminum wine. Minumnya hanya sedikit atau porsi kecil namun rasa kafeinnya mampu bertahan hingga tiga sampai empat jam di lidah. Aroma kopinya begitu kuat saat saya mencium. Betul saja! Di lidah rasa kopi ini masih ada hingga beberapa lama. 

Meminum espresso itu memang hanya porsi kecil. Sesungguhnya khasiat kopi bila anda tidak mencampurkan kopi dengan apa pun juga seperti gula atau susu. Rasa kopi asli adalah pilihan utama bahwa kopi itu sesungguhnya tanpa rasa.

“The second ways, you must know how procedure to make a good coffee. We have special coffee machine” jelasnya kepada kami. Kami pun termangut-mangut masih ‘mabuk’ dengan rasa espresso pagi itu. Bayangkan ini pertama kali saya minum espresso. Puji Tuhan, perut saya tidak bermasalah setelah meminumnya!

“Above all, how to make the best coffee actually. This” kata dia sambil menunjukkan tangan di bagian dada. “The secret comes from your heart. You ensure you do it the best. Do it with love!” 

Pelajaran kopi yang menarik pagi ini dari orang Italia. Coba deh anda buat kopi sambil mengumpat atau dalam keadaan marah, apakah kopi berasa nikmat? Kopi yang dibuat dengan penuh cinta akan selalu membuat anda terkesan.

Tak peduli seberapa canggihnya mesin kopi atau seberapa enaknya biji kopi namun apa lah daya jika pembuat kopi tidak melakukannya dengan penuh cinta. Jika anda membuat kopi dengan cinta, maka mereka yang meminumnya akan jatuh cinta seperti saya saat ini di Roma. 

Para pembuat kopi di Italia akan selalu bangga jika mereka mampu menyajikan kopi terbaik kepada pelanggannya. Mereka suka jika anda puji kopi buatannya. Meminum kopi di Italia itu bisa lebih dari sekali setiap hari. Kebiasaan minum kopi di Italia bukan sekedar gaya hidup. Minum kopi di Italia adalah budaya. 

Ini budaya yang tercipta karena tradisi bahwa kopi lebih sekedar minuman. Kopi adalah gairah hidup setiap hari. Slurput, nikmat sekali! ☕

Suka Kopi? Masukkan Ini Dalam Daftar Kuliner Saat di Roma, Italia

Dua orang dengan selera kopi berbeda, kiri adalah espresso dan kanan adalah cappucino. Nikmati di kafe tertua di Roma, Italia yang konon sudah ada sejak 1922.

Dua cappucino pagi ini dari hotel membuat saya tergila-gila. Enak sekali.

“Uno Caffé, Uno Cappocino” kata si pramusaji saat saya dan suami memesan kopi setelah lelah berkeliling seharian. Itu maksudnya pramusaji di kafe mengatakan satu kopi espresso dan satu cappucino. Kaffeetrinken pun dimulai. Letak kafe tak jauh dari Spanish Steps, salah satu lokasi wisata populer di Roma. 

Kafe ini letaknya sejajaran dengan butik ternama jika suka shopping. Namun sayangnya saya hanya ingin berhenti sejenak menikmati secangkir kopi sekaligus numpang ke toilet. 

Kopi dari hotel yang juga rasanya mantap. Kiri adalah cappucino dan kanan adalah espresso. 

Hotel tempat kami menginap khas Italia dengan kopinya yang mantap.

Secangkir cappucino sudah saya dapatkan hari ini dua kali. Pertama saya dapatkan saat sarapan di hotel, tempat kami menginap. Saat kami memesan hotel, banyak testimoni tamu-tamu hotel sebelumnya yang berpendapat bahwa kopi di hotel ini enak sekali. Katanya “Anda tak akan menyesal menginap di sini karena anda puas menikmati kopinya yang enak.” Begitu kata salah satu tamu dalam testimoninya. 

Benar saja saya tergila-gila dengan cappucinonya. Enak sekali! Suami saya pun berpendapat hal yang sama untuk segelas espresso yang dipesannya. Luar biasa kopi yang diracik di Italia. Begitu pun hal yang sama saat kami memesan kedua kalinya di kafe pada sore hari. Segelas espresso dan segelas cappucino berasa nikmat sekali. 

Hal menarik dari kopi yang bisa ditemukan di sini:

  • Semua cangkir kopi berukuran kecil dari biasa yang saya temukan di luar Italia. Segelas espresso memang selalu bercangkir kecil. Di sini lebih kecil lagi, seperti meminum sesuatu yang berharga dan mantap. Cappucino pun demikian. Cangkir cappucino juga lebih kecil dari cangkir normal yang biasa saya minum di luar Italia. Cappucino bisa dipesan ukuran normal seperti yang saya pesan atau ukuran besar (XL) dengan harga double.
  • Katanya sih tidak menyebut espresso saat memesan kopi espresso. Karena memang dalam menu mereka sebut hanya un caffé saja. 
  • Budaya minum kopi sepertinya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Roma. Jadi anda tinggal pilih kafe dengan mudahnya. Bahkan habis makan siang pun mereka tetap minum kopi. Luar biasa!
  • Anda juga mesti mencoba latte macchiato atau caffé macchiato, namun sayangnya saya lebih pilih cappucino.
  • Meski Roma yang saya singgahi cuacanya cerah dan cenderung lebih panas dari Jerman, namun kopi sebaiknya dipesan dalam keadaan panas. Katanya orang Roma senang membasahi bibir mereka dengan kopi yang panas. 
  • Minum kopi setelah makan siang boleh dilakukan namun tidak meminum kopi dengan susu. Katanya lagi si koki yang memasak akan tersinggung mengapa anda belum kenyang dengan makanan yang mereka sajikan? Memang makanan yang dipesan di Ristorante, restoran dalam bahasa Italia, memang luar biasa enak menurut saya.

Begitulah, sekedar cerita dari Italia, membuat saya paham bahwa tiap negara punya kisah sendiri tentang kopi. Jika anda berkunjung ke Italia, amati dan alami gaya meminum kopi khas mereka. Saya jatuh cinta dengan racikan kopi di sini.

Apakah anda punya pengalaman lain tentang gaya minum kopi?