CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

"Hallo abang, bisakah kita bertemu di Hauptbahnhof München?" kataku via telpon.  Suara di seberang sana langsung menjawab "Wann ist der termin?" Sahutnya jam berapa kita bertemu.  Aku jawab "Am Dienstag Nachmittag Um drei uhr" "Gerne. Bis dann" kata orang yang aku sebut abang ini. Dia sedang bertugas di Jerman, namun tidak di München.  *** Saat … Continue reading CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu! Aku membaca tulisan yang tertempel di dinding apartemen milik teman baikku ini. Kalimat tersebut terukir indah di sebilah papan berhias sebagai penghias dinding. Tulisan tersebut tampak menohok karena tepat berada di depan pintu. Siapa pun yang membukanya pasti akan langsung membaca tulisan itu. "Hebat tulisannya, bang. Seperti … Continue reading CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

CERPEN (46): Cinta dalam Secangkir Kopi Panas

"Ayo diminum kopinya. Kalau dingin, rasanya gak enak," kata ibu penjual warung kopi membuyarkan lamunanku. Slurput. Aku meminumnya seteguk sambil menghisap rokok di tangan kananku. "Kalau ngopi, harus merokok juga ya, nak?" Aku bingung jawabnya. Aku rapikan rok mini yang sedikit terlipat akibat posisi duduk. Aku ambil kaca yang sudah retak untuk lihat warna lipstikku. … Continue reading CERPEN (46): Cinta dalam Secangkir Kopi Panas

CERPEN (50): Kopi yang Tak Pernah Manis

“Zwei Kaffee, bitte!” seru abang teman baikku. Abang datang mengajakku ngobrol di warung kopi. Meski warung kopi ini sederhana, entah mengapa ia memuji racikan kopi tempat ini. “Ok!” sahut sang pelayan yang sepertinya sudah terbiasa menerima order dari abang. Bisa jadi abang sering datang ke kedai ini. Tanpa menyebutkan spesifik kopi yang diminta, si pelayan … Continue reading CERPEN (50): Kopi yang Tak Pernah Manis

CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

Masih ingat cerita saya soal kopi dan cangkir? Di sini link-nya. Kali ini saya diajaknya oleh Penikmat Kopi lagi untuk ngobrol soal kehidupan. Katanya lebih nikmat jika ngobrol itu sambil minum kopi. Wah, saya tidak punya kopi di rumah. Kami pun sepakat ngopi-ngopi di luar rumah. Karena saya tidak tahu banyak soal kopi dan tempat … Continue reading CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

CERPEN (14): Kualitas “Kopi” atau “Cangkir”

Ada seorang murid bertanya kepada Guru bijaksana tentang tujuan hidup. "Guru, apa sebenarnya tujuan hidup anda sebenarnya?" Sang Guru pun tersipu menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan lagi, "Apa tujuan hidupmu juga, anakku?" Mereka pun diam dan saling memandang satu sama lain. Begitulah orang bijak, mereka akan merespon dengan pertanyaan atau perumpamaan agar muridnya bisa memahaminya. … Continue reading CERPEN (14): Kualitas “Kopi” atau “Cangkir”