CERPEN (64): Seberapa Berat Bebanmu?

  Ini adalah Reblog dari artikel yang sudah dimuat pada 2 Juni 2016. Ada seorang murid yang datang kepada guru bijaksana. Dia mengeluh tentang beban hidupnya. Menurut si murid, ia sudah tidak tahan lagi. "Guru, saya merasa hidup ini tidak adil. Beban hidup yang saya pikul terlalu berat, sementara adik saya yang punya pekerjaan mapan … Continue reading CERPEN (64): Seberapa Berat Bebanmu?

CERPEN (63): Lompatlah Melebihi Dari yang Dipikirkan!

Ini adalah Reblog dari cerita pendek dengan judul sama yang sudah diterbitkan pada 18 Februari 2016. Bruk!!!! Aku terjatuh. Sial, lompatannya begitu bagus, umpatku. Si Bapak Tua ini melompat dengan lincahnya di setiap pijakan batu. Dia tertawa melihatku jatuh. Ia menghampiriku lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, kamu pasti bisa!" serunya menyemangati. "Jika kau ingin melompat, lihatlah … Continue reading CERPEN (63): Lompatlah Melebihi Dari yang Dipikirkan!

CERPEN (62): Lihatlah Masalah Dari Berbagai Sudut Pandang!

  Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama yang sudah dirilis pada 9 Maret 2016. Seorang Profesor yang bijak memberi sebuah foto dalam layar yang terpajang di dinding kelas. Ia menunjukkan sebuah foto dan bertanya kepada mahasiswanya. "Ada yang tahu ini gambar apa?" tanyanya. Seorang mahasiswa berkacamata mengacungkan jari dan menjawab, "Bunga, Pak." Professor menggeleng. … Continue reading CERPEN (62): Lihatlah Masalah Dari Berbagai Sudut Pandang!

CERPEN (61): Mengapa Kita Tidak Kaya?

Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama yang sudah tayang pada 10 Juni 2016. "Mama, mama..." teriak Anna yang baru saja tiba di rumah sambil melepas sepatu. Ia segera bergegas melepas seragam sekolahnya di kamar dan menggantinya dengan kaos dan celana pendek khas anak umur 10 tahun. "Eh anak mama sudah pulang," sambut ibunya di … Continue reading CERPEN (61): Mengapa Kita Tidak Kaya?

CERPEN (59): “Das ist nicht mein Bier”

(Sumber foto: Dokumen pribadi) Ini adalah Reblog dari cerita berjudul sama yang sudah terbit pada 13 Januari 2015. Sudah lama tak berjumpa dengan abang, sahabat baikku ini. Kami pun bertemu saat saya dan suami sedang berada di Singapura, sementara abang hanya mampir sebentar. Saya tinggalkan suami yang sedang bertemu dengan teman sesama Jerman dan menjumpai … Continue reading CERPEN (59): “Das ist nicht mein Bier”

CERPEN (55): Hanya Waktu yang Tidak Bisa Dibeli, Percayakah Anda?

Ini adalah cerita pendek dengan judul sama yang sudah diterbitkan pada link yang ditautkan pada 4 Februari 2012. Sebuah perumpamaan muncul di negeri bijak. Ada sebuah toko yang ramai dikunjungi orang. Banyak orang antri untuk mendapatkan yang diinginkan. Seorang perempuan cantik bangga keluar dari toko itu, Ia berhasil membeli 'kecantikan'. Wajahnya berubah sebagaimana yang diinginkan. … Continue reading CERPEN (55): Hanya Waktu yang Tidak Bisa Dibeli, Percayakah Anda?

CERPEN (54): Dialog Ibu dan Anak yang Bertanya tentang Tuhan

Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama dan sudah tayang pada 29 September 2010. Anak: “Ibu, sebenarnya siapa itu Tuhan?” Ibu: “Mengapa kau mempertanyakan itu, nak?” Anak: “Aku sering mendengar orang berbicara tentang Tuhan. Saat mereka berbicara tentangNya, aku tak melihat sosok Tuhan. Sebenarnya siapakah Dia, ibu?” Ibu: “Tuhan adalah Yang Agung, Yang Ilahi. Rupanya … Continue reading CERPEN (54): Dialog Ibu dan Anak yang Bertanya tentang Tuhan

CERPEN (53): Arti Mimpi tentang Jodoh

Apa yang kau cari sedang mencarimu. Konsep jodoh. Ini adalah Reblog dari artikel yang sama dan sudah tayang pada 2 Oktober 2015. Aku datang tergopoh-gopoh menuju meja kerjaku. Aku datang terlambat. Aku menundukkan kepala dan cepat-cepat meraih laptopku untuk mulai bekerja. Aku lihat kanan kiri, rekan kerja sekitar seperti asyik dengan pekerjaannya. Oops, tidak dengan … Continue reading CERPEN (53): Arti Mimpi tentang Jodoh

CERPEN (52): Pengalaman Itu Mahal Harganya!

Ini adalah Reblog dari artikel berjudul sama yang sudah tayang pada 27 April 2016. Pagi itu, aku bertemu dengan seorang nenek tua di tepian desa. Dia sedang mengambil air di sumur tua milik desa. Sumur tua yang terletak jauh dari keramaian desa, sehingga setiap orang harus berjalan berkilo-kilo untuk menjangkaunya, termasuk nenek tua di sebelahku … Continue reading CERPEN (52): Pengalaman Itu Mahal Harganya!

CERPEN (50): Kopi yang Tak Pernah Manis

Ini adalah Reblog dari artikel fiksi yang sudah tayang sebelumnya pada 7 September 2015. “Zwei Kaffee, bitte!” seru abang teman baikku. Abang datang mengajakku ngobrol di warung kopi. Meski warung kopi ini sederhana, entah mengapa ia memuji racikan kopi tempat ini. “Ok!” sahut sang pelayan yang sepertinya sudah terbiasa menerima order dari abang. Bisa jadi … Continue reading CERPEN (50): Kopi yang Tak Pernah Manis