CERPEN (43): Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 9 Januari 2016. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. "Ayo bangun, nak. Apa kamu tidak sekolah?" tanya ibu dari luar kamar. Ibu langung masuk kamarku yang memang tidak terkunci. "Bergegas berangkat ke sekolah, kamu bisa bareng dengan abangmu." "Ibu, mengapa aku harus … Continue reading CERPEN (43): Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit

CERPEN (42): Balon-balon yang Pergi Bersama Masa Lalu

https://i.postimg.cc/zXp9DMq4/1.png Ilustrasi.   Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 17 Januari 2016. "Cup. Cup. Sudah berhenti nangisnya," seru ibu mengelus bahuku. Aku terisak sesaat menghentikan tangisku. Aku tersenyum. "Ibu tahu apa yang kau butuhkan. Ini!" kata ibu sambil menyerahkan dua balon warna kesukaan padaku. Aku tertawa … Continue reading CERPEN (42): Balon-balon yang Pergi Bersama Masa Lalu

CERPEN (41): Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 10 September 2014 Anak: "Ibu, mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana?" Ibu: "Mungkin kau lupa berdoa ketika merencanakannya, anakku.” Anak: "Oh tentu tidak, Bu. Aku berdoa selalu setiap pagi dan malam hari. Aku pergi ke gereja setiap minggu. Tetapi mengapa … Continue reading CERPEN (41): Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?

CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 29 Mei 2016. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu! Aku membaca tulisan yang tertempel di dinding apartemen milik teman baikku ini. Kalimat tersebut terukir indah di sebilah papan berhias sebagai penghias dinding. Tulisan tersebut tampak menohok karena tepat … Continue reading CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

CERPEN (39): “Tujuanmu Ada di Depan, Bukan di Belakang”

Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan sudah tayang pada 14 Februari 2016. ______________ Aku terus melangkah menyusuri bibir pantai senja itu. Sayup-sayup angin melipir terasa di wajahku. Tak aku hiraukan ketika seseorang memanggil namaku untuk kembali. Percuma! "Tetaplah melangkah ke depan! Jangan pernah berjalan mundur ke belakang! Mungkin tapak kaki yang kau pijak … Continue reading CERPEN (39): “Tujuanmu Ada di Depan, Bukan di Belakang”

CERPEN (38): Mengasah Kesempatan menjadi Impian

Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan tayang pada 2 Desember 2014. ________________________ Aku sengaja membawa ibu ke vila terpencil yang jauh dari kebisingan kota agar bisa menikmati ketenangan bersama. Aku mengundang ibu menikmati secangkir teh dan kue buatannya. Kami duduk di balkon arah taman sambil berbincang hangat mengenai berbagai topik. Kadang aku begitu … Continue reading CERPEN (38): Mengasah Kesempatan menjadi Impian

CERPEN (37): Kapankah Masalah Akan Berhenti?

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 1 Juni 2016. __________________________________________________________ Seorang anak kecil datang pada ibunya dan bertanya, “Ibu, kapankah masalah akan berhenti?” Ia begitu sedih melihat ibunya menangis menatap jendela. Segera ibunya melap tangis dengan kedua tangannya. Ibunya sadar, anaknya memperhatikannya sedari tadi. Lalu ibu berbalik menghampiri anak kecil itu untuk menenangkannya. … Continue reading CERPEN (37): Kapankah Masalah Akan Berhenti?

CERPEN 35: Katak Belajar Keluar dari Kotak Sampah

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 19 Agustus 2010. __________________________________________________________ Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap untuk tugas kantor. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk … Continue reading CERPEN 35: Katak Belajar Keluar dari Kotak Sampah

CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas, Jangan Ingin Lebih!

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan sudah tayang pada 8 Agustus 2017. __________________________________________________________ Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan. Makan siang … Continue reading CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas, Jangan Ingin Lebih!

CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 13 September 2017. __________________________________________________________ Dialog ibu dan anak: Anak : Ibu, mengapa semua orang ingin menganggap dirinya benar? Ibu : Mengapa kau berpikir demikian, nak? Anak : Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak salah saat menabrakkan sepeda ke bapak itu tadi di jalan menuju pulang … Continue reading CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

CERPEN 32: Cari Jalan Lain atau Pecahkan Batu Itu!

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 12 Maret 2016. Seorang pemuda bermimpi agar dapat melamar gadis pujaannya yang berada di seberang desa. Ia mendapatkan firasat bahwa gadis pujaannya tersebut memenuhi impiannya tentang pasangan hidup yang selama ini sudah dinantikannya. Gadis pujaannya itu tak lama lagi akan dipersunting pemuda lain, pilihan orangtuanya. … Continue reading CERPEN 32: Cari Jalan Lain atau Pecahkan Batu Itu!

CERPEN (31): Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?

Ilustrasi Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya di sini, yang tayang pada 24 Mei 2016. _____________________________________________________________________________________________ Rinai hujan turun di luar, aku duduk sore itu bersama ayahku di teras belakang rumah. Dia membawa kue cokelat buatan ibu dan sepoci teh manis hangat. Ia menuangkan teh itu dalam cangkirku. “Ini buatmu, nak” katanya padaku. Aku mengangguk perlahan … Continue reading CERPEN (31): Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?

CERPEN (30): Burung Takut Terbang

Cara untuk mengatasi masalah terkadang harus berada pada titik yang paling tinggi, menyulitkan dan berisiko, namun disitulah kita memiliki keberanian. (Anna Liwun) Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang pada tanggal 29 September 2010 di link berikut. __________________________________________________________________________________ Seekor burung ragu-ragu untuk terbang. Ia merasa bahwa belum cukup umur seperti burung-burung lain … Continue reading CERPEN (30): Burung Takut Terbang

CERPEN (28): Mengapa Kita Berbagi?

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang di link ini pada tanggal 28 Mei 2016. ________________________________________________________________________________________________________ “Ini buatmu!” kata anak kecil berambut sebahu, berbando merah dan berbaju atasan putih dengan rok lipit merah selutut kepada teman berseragam sama. Ia kemudian duduk di sebelah temannya yang diberi cokelat. “Terimakasih Anna” sahut temannya sambil … Continue reading CERPEN (28): Mengapa Kita Berbagi?

CERPEN (27): “Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia”

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel yang tayang pada 6 Januari 2017 di link ini. _______________________________________ Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. “Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau … Continue reading CERPEN (27): “Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia”

CERPEN (25): Menanti Jawaban Doa

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel https://liwunfamily.com/2014/08/25/menanti-jawaban-doa/ sebelumnya yang tayang pada 25 Agustus 2014. ---------------------- Di suatu kisah diceritakan seorang perempuan yang setiap hari datang berdoa kepada Tuhan melalui doa Novena yang didoakan selama sembilan hari berturut-turut. Hanya satu pintanya, “Saya ingin Tuhan memberikan saya kupu-kupu yang indah pada bunga yang kupunya ini.” Dengan tekun … Continue reading CERPEN (25): Menanti Jawaban Doa

CERPEN 24: Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Setangkai Bunga

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 16 Januari 2017 di link ini. Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata "Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum … Continue reading CERPEN 24: Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Setangkai Bunga

CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 29 Juni 2017. -------------—--—– Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. … Continue reading CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi?

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang di sini pada tanggal 17 Februari 2017. –———–———–———–——— Sumpah, aku tak minum kopi. Bau kopi di pagi hari membuatku mual. Aku bahkan hampir muntah saat ayahku membuat kopi untuknya. Setelah aku mengaku tak kuat minum kopi apalagi mencium aromanya, ayah beralih suka minum teh tiap … Continue reading CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi?

CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari cerita sebelumnya yang sudah dimuat pada 1 Oktober 2017 yang bisa diklik pada link yang ditautkan. *** Siang itu ibu mengundangku untuk datang menjenguknya. Maklumlah di usia ibu yang tak lagi muda, ibu meminta bantuanku untuk membuatkan kue coklat. Katanya, ia sudah tak sanggup mengaduk adonan kue coklat. Meski kue … Continue reading CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

Ilustrasi. "Was denkst du, Anna?” tanyanya. Apa yang kau pikirkan. Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. Aku gugup menjawabnya “Nicht”. Tidak ada yang aku pikirkan. Aku … Continue reading CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari link pada 05.09.2010 yang bisa dicek pada link yang ditautkan. Rupa wajah yang tak setampan Romeo dalam Shakespeare. Mata yang tajam seperti elang dengan sorot seperti surya di pagi hari. Sesungging senyum seperti wangi bunga di pagi hari, meluluhkan hati. Wanita mana yang tak terpesona oleh mata dan senyum yang … Continue reading CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

CERPEN (18): Jadi Orang Baik Sudah Cukup, Nak

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari link pada 21.07.2017 yang sudah dimuat sebelumnya. "Memang penting menjadi yang terbaik dalam apa pun, nak” kata ibuku di sela-sela pembicaraan lewat telpon sore itu. “Namun kebanyakan orang lupa saat menjadi terbaik, mereka bukan orang yang baik,” lanjut ibu. Iya juga sih. Aku mengamini ucapan ibu sore itu. Sore waktu … Continue reading CERPEN (18): Jadi Orang Baik Sudah Cukup, Nak

CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Buat Orang Lain!

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang bisa dicek di link ini. Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. “Ada apa sayang?” tanya … Continue reading CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Buat Orang Lain!

CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

Ilustrasi. Jadilah manusia yang berguna setidaknya tidak berbicara buruk dan menyakiti hati orang lain! Ini adalah reblog dari artikel 04.12.2016 yang bisa dibaca di link ini. Demikian kalimat bijaksana meluncur dari seorang perempuan tua yang sudah melewati seabad usianya. 102 tahun, wow! Aku terkejut sekaligus kagum padanya. Ditemui di panti jompo, nenek yang bernama Isabel … Continue reading CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

CERPEN (15): Teruslah Berlari!

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari link pada 29 Januari 2014. Alkisah diceritakan ada seorang yang memiliki fisik kecil, terlihat begitu lemah tapi bersemangat untuk ikut lomba lari di desanya. Ibunya melarang si anak untuk tampil ikut serta dalam lomba. Namun si anak tetap nekad dan gigih untuk bisa memenangkan putaran lomba lari tersebut. Sebelum lomba, … Continue reading CERPEN (15): Teruslah Berlari!

CERPEN (14): Kualitas Kopi atau Cangkir?

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari artikel per 29.08.2014 di link ini. Ada seorang murid bertanya kepada Guru bijaksana tentang tujuan hidup. “Guru, apa sebenarnya tujuan hidup anda sebenarnya?” Sang Guru pun tersipu menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan lagi, “Apa tujuan hidupmu juga, anakku?” Mereka pun diam dan saling memandang satu sama lain. Begitulah orang bijak, mereka … Continue reading CERPEN (14): Kualitas Kopi atau Cangkir?

CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/09/14/menikmati-hidup-apa-adanya/ Kali ini saya diajaknya oleh penikmat kopi lagi untuk ngobrol soal kehidupan. Katanya lebih nikmat jika ngobrol itu sambil minum kopi. Wah, saya tidak punya kopi di rumah. Kami pun sepakat ngopi-ngopi di luar rumah. Karena saya tidak tahu banyak soal kopi dan tempat minum kopi, saya manut saja … Continue reading CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

CERPEN (12): Meramal Lewat Secangkir Kopi, Anda Percaya?

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/11/22/meramal-lewat-secangkir-kopi/ Rupanya tak puas sekedar minum kopi saja, kali ini teman baik saya ini mengajak minum kopi lagi. Aduh, rasanya tak puas abang satu ini berbicara soal kehidupan dengan saya. Dia ingin ajak saya untuk pergi minum kopi. “Baiklah Bang, kita ketemu di kedai kopi biasa” tuturku menjawab ajakannya lewat telpon. “Kita … Continue reading CERPEN (12): Meramal Lewat Secangkir Kopi, Anda Percaya?

CERPEN (9): Di Bawah Patung Bunda Maria

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2008/11/23/dibawah-patung-bunda-maria/ Date: November 23, 2008Author: Anna Liwun0 Comments Waktu menunjukkan pukul 19.10 wib tetapi misa minggu sore belum berakhir. Resah. Itulah yang dirasakan oleh Perempuan itu. Ia pun bergegas membereskan teks misa dan buku Puji Syukur di hadapannya. Perempuan itu berdecak lagi, menggoyang-goyangkan kedua kakinya naik turun, menggumam sambil menengok … Continue reading CERPEN (9): Di Bawah Patung Bunda Maria

CERPEN (8): Pria Bertangan Emas

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2008/11/23/pria-bertangan-emas/ Date: November 23, 2008Author: Anna Liwun0 Comments Di jaman dahulu kala, ada seseorang yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya menjadi terlunta-lunta oleh karena kemiskinan. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Ia berdoa sepanjang masa kepada dewa agar ia bisa hidup kaya dan memiliki pasangan hidup yang cantik jelita. Lima tahun kemudian, pria … Continue reading CERPEN (8): Pria Bertangan Emas

CERPEN (7): Tukang Cukur dan Guru Bijak

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2009/01/07/mengapa-mereka-tidak-datang-pada-ku/ Date: January 7, 2009Author: Anna Liwun0 Comments Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru.  Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa … Continue reading CERPEN (7): Tukang Cukur dan Guru Bijak

CERPEN (3): Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2010/08/11/begitulah-cinta-jodoh/ Seorang Perempuan berparas cantik namun sayang Tuhan memberikan takdir buta saat ia memasuki usia remaja. Setiap hari Perempuan itu memandang diri di cermin. Ia meraba wajahnya yang cantik. Meski tak bisa melihat tetapi ia bisa merasakan bahwa wajahnya cantik. Suatu kali, ia menemukan Peri Jahat dalam dirinya. Peri Jahat … Continue reading CERPEN (3): Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

CERPEN (2): Ncrut Ncrit

Ini adalah reblog https://liwunfamily.com/2011/05/12/ncrut-ncrit/ dari May 12, 2011. Ilustrasi. Sebut saja Ncrut, pria paruh baya yang memiliki wajah rupawan, duit melimpah tetapi tak punya hati. Misi hidup Ncrut di dunia adalah menjadikan Ncrit adalah miliknya, sebagai yang utama dari para selir yang dimiliki tetapi tidak diakui sebagai orang yang dicintainya. Ncrit adalah perempuan biasa namun memiliki … Continue reading CERPEN (2): Ncrut Ncrit

CERPEN (1): Mata, Mulut, Telinga

Ilustrasi. Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/01/30/mata-mulut-telinga/ Suatu hari Iblis datang hendak menggoda manusia. Ia melihat bahwa orang-orang berikut ini memerlukan bantuannya. Pertama, Iblis datang kepada orang buta. “Hey, aku tahu kau tidak bisa melihat keindahan dunia. Oleh karena itu, aku datang menawarkan padamu sepasang mata indah yang cocok denganmu asal kau menuruti kemauanku.” Orang yang tak … Continue reading CERPEN (1): Mata, Mulut, Telinga

CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Siang itu ibu mengundangku untuk datang menjenguknya. Maklumlah di usia ibu yang tak lagi muda, ibu meminta bantuanku untuk membuatkan kue coklat. Katanya, ia sudah tak sanggup mengaduk adonan kue coklat. Meski kue coklat buatanku tak seenak ibu atau nenek, tetapi ia mempercayakannya padaku. Aku mulai menyusun semua bahan di dapur. Sudah lama aku tak … Continue reading CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

"Hallo abang, bisakah kita bertemu di Hauptbahnhof München?" kataku via telpon.  Suara di seberang sana langsung menjawab "Wann ist der termin?" Sahutnya jam berapa kita bertemu.  Aku jawab "Am Dienstag Nachmittag Um drei uhr" "Gerne. Bis dann" kata orang yang aku sebut abang ini. Dia sedang bertugas di Jerman, namun tidak di München.  *** Saat … Continue reading CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Dialog ibu dan anak: Anak      : Ibu, mengapa semua orang ingin menganggap dirinya benar? Ibu         : Mengapa kau berpikir demikian, nak? Anak      : Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak salah saat menabrakkan sepeda ke   bapak itu tadi di jalan menuju pulang ke rumah. Tetapi bapak itu merasa dirinya benar dan menganggap aku salah mengambil … Continue reading CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

CERPEN (72): Selamat Hari Ayah! Kasih Ayah pada Anaknya

Anak : Ayah, mengapa aku harus mengikuti keinginan ayah? Ayah : Karena aku adalah ayahmu, sayang. Aku tahu apa yang kau butuhkan untuk masa depan. Anak : Masa depan seperti apa ayah? Ayah : Ayah ingin kau menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Jadi saat ini terpaksa kau harus mengikuti keinginan ayah. Ayah akan … Continue reading CERPEN (72): Selamat Hari Ayah! Kasih Ayah pada Anaknya

CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!

Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan. Makan siang sudah tiba. Aku bertemu dengan seorang teman yang ajak makan siang bersama di restoran perbatasan. Sebenarnya … Continue reading CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!

CERPEN (36): Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?

"Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?" pesan ibu lewat whatsapp sore ini. Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar. Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa … Continue reading CERPEN (36): Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?

CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai. Sejak pindah dari wilayah pegunungan … Continue reading CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

"Was denkst du, Anna?" tanyanya. Apa yang kau pikirkan. Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. Aku gugup menjawabnya "Nicht". Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun … Continue reading CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi? 

Sumpah, aku tak minum kopi. Bau kopi di pagi hari membuatku mual. Aku bahkan hampir muntah saat ayahku membuat kopi untuknya. Setelah aku mengaku tak kuat minum kopi apalagi mencium aromanya, ayah beralih suka minum teh tiap pagi. Syukurlah! Batinku dalam hati. Orang suka sekali minum kopi di pagi hari. Mereka dengan bangganya bawa secangkir … Continue reading CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi? 

CERPEN (24): Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Bunga

Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata "Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum pernah melihatnya di dunia selama ini." Si bapak tukang taman berpikir bagaimana bisa mewujudkan keinginan perempuan … Continue reading CERPEN (24): Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Bunga

CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Orang Lain! 

Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. "Ada apa sayang?" tanya ibuku sambil membawa secangkir teh. Seperti biasa aku mampir sebentar di rumah … Continue reading CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Orang Lain! 

CERPEN (27): Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia’

Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. "Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau terlalu baik untukku," katanya. Bagaimana mungkin ia mengatakan itu setelah aku jatuh cinta padanya. Dulu ia … Continue reading CERPEN (27): Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia’

CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

Jadilah manusia yang berguna setidaknya tidak berbicara buruk dan menyakiti orang lain! Demikian kalimat bijaksana meluncur dari seorang perempuan tua yang sudah melewati seabad usianya. 102 tahun, wow! Aku terkejut sekaligus kagum padanya. Ditemui di panti jompo, nenek yang bernama Isabel itu tampak asyik menekuni pekerjaan merajut yang jadi hobinya beberapa tahun belakangan ini, kata … Continue reading CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

CERPEN (25): Segala Sesuatu Ada Waktunya

​ Di suatu kisah diceritakan seorang perempuan yang setiap hari datang berdoa kepada Tuhan melalui doa Novena yang didoakan selama sembilan hari berturut-turut. Hanya satu pintanya, “Saya ingin Tuhan memberikan saya kupu-kupu yang indah pada bunga yang kupunya ini.” Dengan tekun dia berdoa dan berharap kepada Tuhan dari hari pertama hingga seterusnya di hari ke … Continue reading CERPEN (25): Segala Sesuatu Ada Waktunya

CERPEN (61): Mengapa Kita Tidak Kaya?

"Mama, mama..." teriak Anna yang baru saja tiba di rumah sambil melepas sepatu. Ia segera bergegas melepas seragam sekolahnya di kamar dan menggantinya dengan kaos dan celana pendek khas anak umur 10 tahun. "Eh anak mama sudah pulang," sambut ibunya di dekat kamar Anna. Si ibu tampak sedang menyiapkan adonan kue dan mengolesi loyang cetakan … Continue reading CERPEN (61): Mengapa Kita Tidak Kaya?