Latte Macchiato, Càfe Segafredo Zanetti: Rekomendasi Tempat (11)

Meminum kopi memang selalu menggairahkan, apalagi di saat jeda antara makan siang dan makan malam. Rasa kantuk yang tertahan membuat saya berhenti sejenak menikmati secangkir latte macchiato di suatu kafe.

Yups, nama kafenya adalah Càfe Segafredo Zannetti. Sepertinya kafe ini sudah mendunia sebagaimana yang terlihat nama-nama kota di dunia yang menjadi cabang dari kafe ini. Menarik!

Pramusaji dan barista kafe sepertinya orang Italia. Mereka berbicara bahasa Italia meski saya dan suami sedang tidak berada di Italia. Mereka dengan ramah menawarkan berbagai pilihan kopi.

Saya pilih Latte Verona. Apa itu? Ini semacam Latte Macchiato dengan saus karamel. Kopinya tidak terlalu banyak sebagaimana yang saya minta. Namun terasa enak dengan saus karamelnya. Mereka punya bumbu racikan yang enak sekali bercampur dengan rasa kafein kopi.

Saya suka sekali! 

Apakah anda punya cerita lain tentang latte macchiato dengan rasa berbeda?

Kopi Tarek: Popular Coffee From North Sumatera, Indonesia

Here it is, Kopi Tarek!

Hey coffee lovers, please notice this popular coffee of Indonesian drinks! I was been in Medan, a capital city of North Sumatera at few years ago. This is so funny, why I should explain now. Because I love this coffee then the world must know it. Awesome!

When you have a plan to visit Indonesia, you can stop by local cafe in North Sumatera. You need more one hour to fly from Jakarta to Medan by aircraft. Medan is one of the biggest cities in Indonesia. This coffee known by Kopi Tarek that means ‘kopi’ as coffee and ‘tarek’ as pulled. In literally it sounds joke, but its name derived by pouring process of ‘pulling’ the coffee prior served.

For me, the best taste served in cold.


This is a reason why we called it ‘Kopi Tarek.’

No wonder this performance needs a special skill for the brewers.

The best taste as consideration, you can choose in hot or cold drink. This coffee doesn’t seem black as normally coffee. It made from real coffee and milk. I recommend to drink in cold for sure. The flavour of coffee is so fresh, despite of the strong aroma coffee. You can order some snacks as local cookies while you are chilling out gather friends. 

To attract visitors in cafe, two brewers show competition to perform their skills. This performance is really awesome. It is such a bonus while you are waiting for coffee. 

Would you like to bring me a cup of coffee today? ☕ Hehehe…

Coffee Morning in December: Pink and Blue

blog5One day in the morning, he invited me to come in coffee morning at cafe near my apartment. Honestly, this is not my style to drink coffee in the morning. I am tea addicted actually. Okay, I respect his invitation after he says “Having coffee morning is a perfect idea in beginning to know you in real.” Oh Gosh, it was so romantic idea. But again I never drink coffee in the morning.

We are two who haven’t yet met before. We just known each other through online chatting since two years ago. We thought we have chemistry to move next step. Yeah!!!! we are online lover, unknown in reality. Although we can not speak English, but we tried to explain everything as well. He comes from somewhere in Europe.

“Good morning Anna! Thanks for coming,” said him. He gave me a chair in front of him. He wears elegant clothing.

“With my pleasure, December. You’re looking good.” I am doubtful to say my first statement. I am worried he dislikes since meeting first time.

I feel my heart beating more faster when we sat together. What happened? Damned, I think I am falling in love again.

He stares my eyes then touching my hands. He asked me, “Would you be my girl, Anna?”

I am wondering when he said that. My face feels blushing on. I forget my coffee for a while. My minds is flying happy to get heaven.

December brought a such a happiness of my life once in the morning. I am thinking that I was not being single anymore.

***

People said life begins from coffee. This is true. After that I have got clue, he gone. I figure out heart attack hit him. For the first time we met then never come back again.

Lovely coffee morning made me so pink and blue. This is not story about coffee, but empty love. It happened virtually love, in reality not so good. Love came to December and me. I wish this is the last one.

That is a reason why I am being single now. I told my December to a friend of mine. She reminds me, “Do not try to forget someone whom you love, but try to get better.”

 

Apakah Perempuan yang Sedang Hamil Boleh Minum Kopi?

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sebagai perempuan, kita kerap dihadapkan pada berbagai informasi yang bisa jadi mitos. Mitos yang belum tentu fakta memang bisa dipercaya, termasuk soal kopi.

Pagi ini temanku yang sedang hamil bercerita bahwa ia dilarang minum kopi oleh suaminya. Suaminya berkata, “Eits, perempuan hamil tidak boleh minum kopi. Ingat, ada kafein di dalamnya.” Saat ditanya balik, jawabannya karena kopi mengandung kafein.

Jika minum kopi saat hamil, kulit anak akan bisa menjadi hitam?

Dulu sewaktu SMA, guru biologi saya bercerita bahwa anaknya yang sulung berkulit lebih hitam daripada dia. Alasannya, guru saya ini suka minum kopi saat hamil. Ia bahkan merasa kecanduan dan meminum kopi hingga lebih dari dua kali sehari.

Sebenarnya belum bisa dibuktikan secara ilmiah perihal meminum kopi dengan warna kulit bayi saat hamil. Warna kulit bayi lebih ditentukan oleh genetik atau apa yang diturunkan oleh orangtua.

Lalu apakah meminum kopi saat hamil bisa menurunkan kecerdasan bayi dan mempengaruhi perilaku anak kelak?

Baru-baru ini American Journal of Epidemiology merilis studi bahwa perempuan hamil meminum kopi dalam jumlah normal atau rata-rata dipercaya tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Bahkan dikatakan jika kafein yang terkandung dalam kopi tidak mempengaruhi masalah perilaku (behavior disorder) bagi anak.

Perilaku perempuan hamil meminum kopi dalam ambang batas satu atau dua gelas sehari tidak berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak, masalah perilaku atau obesitas. Para peneliti tidak menemukan hubungan antara asupan kafein ibu mereka dengan obesitas anak yang mereka kandung.

Peneliti juga menyarankan agar perempuan hamil menghindari minum kopi terlalu banyak karena dapat mempengaruhi detak jantung bayi. Beberapa penelitian lain menunjukkan kafein yang terlalu banyak berisiko keguguran.

Menurut saya, apa pun sebaiknya dilakukan dalam jumlah normal dan tidak berlebihan. Karena saat hamil, anda tidak hanya mengkonsumsi untuk diri sendiri tetapi anak anda juga.

Sumber bacaan: http://www.dailymail.co.uk/health/article-3327553/One-two-coffees-day-WON-T-harm-baby-Moderate-amounts-caffeine-pregnancy-doesn-t-increase-risk-obesity-behaviour-problems.html

Meramal Lewat Secangkir Kopi

 

wpid-img_20150930_213333.jpg
Dokumen pribadi.

 

 

Rupanya tak puas sekedar minum kopi saja, kali ini teman baik saya ini mengajak minum kopi lagi. Aduh, rasanya tak puas abang satu ini berbicara soal kehidupan dengan saya. Dia ingin ajak saya untuk pergi minum kopi. “Baiklah Bang, kita ketemu di kedai kopi biasa” tuturku menjawab ajakannya lewat telpon.

“Kita bertemu sore ya, An. Kaffetrinke. Ada yang mau aku tunjukkan padamu. Aku yakin kamu suka” sahutnya dengan gembira setelah aku merespon undangan minum kopi sore hari.

Meski saya bukan penikmat kopi, tetapi saya menikmati kebersamaan bersama teman saya yang hobi minum kopi ini. Pantas saja, kedai kopi selalu dipenuhi orang-orang yang berbincang soal kehidupan, pekerjaan, politik, ekonomi dan macam-macam lainnya. Memang bukan soal rasa kopi tetapi rasa obrolan yang ditawarkan lebih dari secangkir kopi.

Rupanya saya datang terlambat karena saya salah turun di stasiun terdekat. Saya berjalan kaki cukup jauh menuju kedai kopi itu. Terlihat abang sudah duduk bersama pria tua di pojok kedai kopi dengan satu bangku kosong di hadapan mereka. Sepertinya mereka sengaja menyediakan bangku itu untukku. Tetapi siapa pria di sebelah abang itu, batinku dalam hati.

“Maaf, saya datang terlambat. Saya salah turun stasiun. Tahu sendiri ‘kan di Jerman, semua serba tertib. Lagipula salju turun lumayan lebat juga, membuat saya kesulitan jalan ke sini. Hallo Bang, apa kabar?” sapaku sambil beralasan soal keterlambatan kereta.

“Baik An. Perkenalkan ini teman Abang. Dia orang Indonesia juga. Sudah lama tinggal di Jerman juga. Dia mampir ke sini karena lagi ada tugas di kota ini.”

Saya pun menyapa “hallo” sambil menjabat tangannya.

“Saya biasa dipanggil Zimmermann. Panggil saja begitu, Anna” sahut Zimmerman. Teman-teman Zimmermann menyebutnya begitu karena Zimmer dalam bahasa Jerman berarti kamar. Zimmerman suka sekali menyendiri di kamarnya. Ada pula alasan disebut Zimmermann karena ia bekerja di perusahaan kayu. Ah, entahlah.

“Aku sudah memilihkan pesanan kopi untukmu juga seperti biasa. Zimmermann ini punya keahlian khusus. Aku yakin kamu pasti suka, An” sahut abang memperkenalkan Zimmermann padaku.

Zimmermann adalah pria paruh baya dengan usia yang tak jauh dari abang. Ia sudah lama tinggal di Jerman dan bekerja di perusahaan kayu. Entah bagaimana abang berkenalan dengan Zimmermann tetapi mereka cukup akrab. Mereka beberapa kali bercerita tentang kawan-kawan mereka, kadang Zimmermann kenal dengan nama yang disebut abang, kadang pula Zimmermann tidak mengenal nama yang disebut.

Keahlian yang disebut abang adalah keahlian meramal masa depan dengan hanya meminum kopi. Menarik kan? Pantas abang ajak aku bertemu dengan Zimmerman. Abang tahu bahwa kadang aku selalu ingin tahu soal masa depan, tak sabar menanti waktu tiba. Namun meramal hanya lewat kopi, itu yang membuatku bertahan di kedai kopi itu hingga berlama-lama menemani teman baikku ini.

“Anna, jangan paksa Zimmermann dengan pertanyaan-pertanyaan sintingmu soal masa depan. Meramal itu natural. Jika meramal itu dipaksa namanya dukun. Zimmermann bukan dukun. Ia hanya mencoba mendapatkan inspirasi soal cara minum kopi.”

“Baiklah, Bang. Aku hanya terkesan dengan keahlian Zimmermann. Aku tak terlalu tertarik soal ramalan, tetapi bagaimana secangkir kopi dapat meramal masa depan, itu membuatku menarik.”

Aku meminum kopi sampai habis sambil mendengarkan obrolan mereka berdua soal berbagai topik. Kadang ada hal lucu, kami tertawa. Kadang ada hal yang tak saya mengerti, saya pun diam saja. Saya sedang menunggu sampai insting Zimmermann datang untuk membuat ramalan tentang saya.

“Dengar Anna! Saya melihat kamu sebagai pejuang impian. Kamu orang yang tidak mudah menyerah dengan keadaan. Kamu akan mendapatkan impianmu, tetapi…” secara tiba-tiba Zimmermann berbicara kepada saya tentang diri saya tanpa saya memintanya. Ia hanya menebak dari cara saya menikmati kopi dan ampas kopi yang saya minum. Ampas kopi itu dituangnya di piring kecil alas cangkir. Bagi saya, ampas kopi itu hanyalah ampas. Bagi Zimmermann, ampas kopi itu bisa memberikan arti tersendiri.

Sore itu secara mengejutkan saya bertemu dengan Zimmermann yang mampu menggambarkan saya dan impian saya, meski tidak spesifik. Saya tidak mengenalnya tetapi saya seperti larut dengan imajinasinya. Saya tertarik dengan celotehannya.

“Teruslah berjuang untuk mimpimu, Anna”  kata Zimmermann sekali lagi menutup visualisasinya tentang saya.

“Sebagian ada yang benar, sebagian ada yang tidak. Saya berterimakasih sudah dibantu, Zimmermann. Saya memang sedang memperjuangkan impian saya. Hanya saja bahwa memperjuangkan impian itu tak mudah. Mustahil.”

“Anna, orangtua saya bilang tidak ada mimpi yang terlalu besar. Tidak ada pula pemimpi yang terlalu kecil. Jadi tetaplah berjuang.”

“Abang tahu kau rajin berdoa. Teruslah berdoa karena itulah kekuatanmu” sahut abang menambahkan.

Secangkir kopi di sore hari memberikan arti dan kehangatan kala salju turun di luar kedai kopi. Setangkup harapan diperdengarkan kembali dari Zimmermann dan teman baikku ini, bahwa segalanya itu mungkin bagi mereka yang percaya dan terus berjuang.

Usai dari kedai kopi, abang mengantarku pulang dengan mobilnya. Kami meninggalkan Zimmermann di stasiun terdekat menuju hauptbahnhof  München setelahnya ia kembali ke kotanya.

“Anna anggaplah kamu adalah kapal yang kokoh. Meski terbuat dari kayu, pikirkanlah bahwa kapalmu tetap bisa berlayar meski badai, topan dan angin menerjang. Ingatlah bahwa kamu bisa berlayar menuju pantai harapan yang menjadi impianmu! Jangan takut! Tetaplah berdoa. Kembangkan layarmu dan teruslah pergi sampai kemana angin membawamu. Aku yakin, kapalmu tak pernah tenggelam karena Tuhan besertamu. Berlayarlah menuju pantai impianmu. Kadang maju kadang mundur, tetapi jangan pernah biarkan kapalmu terhenti.”

Menikmati Hidup Apa Adanya

Masih ingat cerita saya soal kopi dan cangkir? Di sini link-nya.

 

wp-image-1705949733

Kali ini saya diajaknya oleh Penikmat Kopi lagi untuk ngobrol soal kehidupan. Katanya lebih nikmat jika ngobrol itu sambil minum kopi. Wah, saya tidak punya kopi di rumah. Kami pun sepakat ngopi-ngopi di luar rumah.

Karena saya tidak tahu banyak soal kopi dan tempat minum kopi, saya jadi manut saja ketika dia memberhentikan mobil di sebuah kedai kopi sederhana. Saya pikir tadinya mau diajak nongkrong dan minum kopi di Mall atau gerai kopi ternama gitu. Eh malah saya diajaknya ke kedai kopi di sudut kota yang konon asyik buat diskusi dan ngobrol.

Sambil memesan minuman dan cemilan, saya mengamati beberapa meja yang berisi sepasang orang sedang ngobrol serius, ada pula segerombolan anak muda seperti musisi yang membawa alat musik sambil menyanyikan sebait demi sebait sedangkan di sudut lain ada sekelompok ibu-ibu muda yang membicarakan mode pakaian.

“Nah kembali soal kopi, Anna. Saya ingin kamu mencoba menikmati rasanya” seru teman saya ini memecahkan keheningan.

“Saya tidak tahu membedakannya.”

“Anna, kau tidak perlu ahli untuk menikmatinya. Hanya nikmati. Tak usah kau pikir yang rumit dengan teori. Jalani saja apa adanya.”

Tiba-tiba pramusaji datang membawakan pesanan dua cangkir kopi dan cemilan. Teman saya langsung menyeruput kopi dengan gayanya yang khas. Dengan bahasa tubuhnya, saya diminta meminum kopi di hadapan saya.

“Dalam hidup ini, terkadang kita dipusingkan oleh pencitraan. Kau sudah terbawa oleh arus dunia. Jika minum kopi, kau selalu bayangkan kedai kopi mewah ternama. Padahal yang kau butuhkan hanya secangkir kopi dengan rasanya yang nikmat. Ingat Anna, hidup itu juga cuma soal rasa. Jadi nikmati rasanya. Pahit manis. Apapun itu” katanya kembali seolah-olah kebijaksanaannya muncul usai menyeruput kopi.

“Apakah abang tidak pernah memiliki target dalam hidup? Misalnya target nikah gitu. Kok hidup abang santai banget” tanyaku sinis agar dia pun bisa memikirkan hidupnya juga.

“Seperti yang saya bilang apa sih tujuan kau minum kopi? Gak ada ‘kan. Ada kopi diminum, dinikmati setiap tegukannya. Jika kau terlalu memusingkan tujuan minum kopi, pikiranmu hanya dipenuhi target-target dan melupakan rasa nikmatnya. Jika hidupmu dipenuhi target, maka kau akan melupakan bagaimana caranya menikmati hidup ini. Dengar Anna, jangan biarkan target-target itu mengendalikanmu menikmati hidup ini.”

“Bang, jika kita tidak punya tujuan hidup, untuk apa kita hidup? Abang  terlalu menikmati hidup sampai abang lupa menikmati rasanya menikah” seruku sekali lagi dengan sinis kepadanya.

Dia pun tertawa. Saya pun tertawa juga pada akhirnya.

“Abang ingin melamarmu tetapi kau sudah ada yang punya”  kelakarnya kembali kepadaku.

“Anna, buatlah pikiranmu sesederhana seperti kau menikmati kopi ini. Bahagiakan dirimu dengan rasanya, dengan suasana sekitarnya yang nyaman dan indah, dengan senyum pramusajinya yang ramah, dengan harganya yang terjangkau, dengan cemilannya yang enak. Dan aku pun langsung bahagia. Bahagia itu ternyata sederhana, yakni kamu nikmati apa adanya. Pahit dan manis itu adalah bagian dari rasanya.”

“Aku sengaja memilihkan kedai kopi tak bernama ini kepadamu. Aku ingin membuyarkan rencana indahmu untuk nongkrong di gerai kopi ternama dan eksklusif. Aku ingin tahu, apa reaksimu jika rencanamu berubah? Yang kulihat, kamu kaget dan bingung. Namun itu wajar. Dalam hidup, apa yang terjadi jika rencana-rencanamu berubah? Syok, takut, cemas, bingung, putus asa, atau komplen sambil marah-marah.”

Aku pun tersinyum kecut mengingat aku sempat protes saat dia memarkir mobilnya di depan kedai kopi ini.

“Orang masa kini terlalu banyak dipenuhi oleh pikiran yang kompleks dan tujuan yang mengendalikan hidup mereka. Rasakan dan nikmati hidup ini ibarat kau nikmati kopi ini. Jangan pernah takut untuk menghadapi kenyataan jika rencanamu berubah. Hidup itu soal pilihan, Anna. Jadi pilihlah apa yang membahagiakanmu!”

Lalu kami pun menikmati cemilan dan kopi sambil mendengar iringan musik dari gerombolan anak muda yang tadi baru aku amati. Hidup ini jadi ringan sesaat, tanpa beban ketika kita sungguh-sungguh menikmatinya. Betul juga kata Abang, temanku yang baik hati ini.

Kaffeetrinken: Gaya Hidup Minum Kopi ala Jerman

image
(Kaffe und kuchen ala orang Jerman. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Meminum kopi menjadi bagian dari keseharian orang Jerman, disamping mereka adalah Beer Lovers. Tetapi minum kopi ditemani roti jadi menu sarapan yang sering dijumpai, termasuk suami saya. Berdasarkan Euromonitor International tahun 2013 yang ditulis World Tea News Maret 2014 mencatat Jerman menempati urutan ketiga sebagai negara ritel pangsa pasar buat konsumsi kopi. Sedangkan untuk teh, dalam informasi yang sama menyebutkan Jerman menduduki posisi kelima.

Menurut koran Inggris tahun 2009 menyebutkan penelitian Universitas Glasgow bahwa ada hubungan antara konsumsi kopi dengan kemampuan intelektualitas. Laporan lengkap menyatakan bahwa mereka yang suka kopi memiliki kecerdasan di atas rata-rata karena dibekali kemampuan mental yang lebih tajam daripada mereka yang tidak. Namun beberapa pihak masih meragukan hal ini secara ilmiah bagaimana kopi dapat mempengaruhi tingkat intelektualitas.

Jerman yang dikenal sebagai negeri lahirnya pemikir dan pujangga langsung dikaitkan dengan kebiasaan minum kopi ala mereka. Adanya warung kopi atau kafe memang sering dikunjungi para seniman dan kaum intelektual yang membahas persoalan ekonomi, budaya hingga politik sembari berdiskusi menikmati seruputan kopi.

Mengkonsumsi kopi di Jerman sudah dikenal sejak abad 17. Sebuah warung kopi atau kafe sudah dibuka di kota Leipzig pertama kali tahun 1694.

Selain meminum kopi saat sarapan, di Jerman ada istilah gaya hidup minum kopi sore hari yang dikenal “Kaffeeundkuchen”, “Kaffeetrinken” atau “Kaffeeklatsch”. Suatu kebiasaan yang dilakukan antara jam 15:00 hingga 17:00 bersama keluarga, teman atau rekan kerja meminum kopi dan menikmati kue-kue. Jerman memang dikenal aneka kue yang enak. Contohnya kue Black Forest yang ternyata berasal dari Jerman, dengan nama Schwarzwälder Kirschtorte.

Bagaimana? Apakah punya ide buat usaha warung kopi di Jerman?