ABC in Pursuing A Dream

In English

The wise man says “It is better to keep walking slowly than remain silence.” Even though you feel tired to find your path, but God knows you did the best. 

Why we must run faster if walking slowly can teach you better. You learn how be patience huh!  Why we get hurry up if the time does not belong to us. All the time in universe is always in the right time and true. 

We get what we dream, but it required the three things as written below:

1. Action  

When you put your dream as vision, please describe to be action becomes the list to do regularly. Let say, you want to make true your vision within 5 years. You break the entire actions to be done in every year during 5 years. It can be called periodically actions. We need it to ensure that all things do smoothly and still on track. 

2. Be Passion

Do what you love. Love what you do! Never make your life bored without doing nothing. Find the things raise up your Talent! Think back again, am I love doing that? Passion is always connected with love feeling when you do it. 

3. Commitment

The key to be successful is a commitment to follow your actions. Have willingness to spare your energy and time to focus on your vision. That is commitment. A commitment is defined also a dedicated person to fulfil his/her promise. Thus do your promise to yourself then the universe will find a way to give it to you. What is it? A dream. 

After reading the ABC formula as mentioned above, you can see why we keep walking even slowly. There is a dream when we may not be there yet. But today we are closer than yesterday. 

 In Bahasa

Orang bijak mengatakan “Lebih baik terus berjalan meski lambat daripada tetap diam.” Meskipun Anda merasa lelah untuk menemukan jalannya, tetapi Tuhan tahu Anda sudah melakukan yang terbaik.

Mengapa kita harus berjalan lebih cepat jika berjalan perlahan-lahan dapat mengajari kita banyak hal. Anda belajar bagaimana menjadi sabar ‘kan! Mengapa kita harus terburu-buru jika waktu bukan milik kita. Semua waktu di alam semesta ini selalu ada waktunya, tepat dan benar.

Kita mendapatkan apa yang kita impikan, tetapi diperlukan tiga hal seperti yang tertulis di bawah ini:

1. AKSI

Bila Anda meletakkan impian Anda sebagai visi, silahkan jabarkan jadi tindakan sehingga jadi daftar yang harus dilakukan secara teratur. Katakanlah, Anda ingin mewujudkan visi Anda dalam waktu 5 tahun. Maka anda memecahkan seluruh tindakan yang akan dilakukan setiap tahun selama 5 tahun. Hal ini dapat disebut tindakan rutin. Ini perlu untuk memastikan bahwa segala sesuatu dilakukan dengan lancar dan masih sesuai jalur.

2. Jadilah Bergairah

Lakukan apa yang anda sukai. Cintai apa yang anda lakukan! Ini tidak akan pernah membuat hidup Anda bosan daripada tanpa melakukan apa-apa. Temukan hal-hal yang membangkitkan bakat Anda! Pikirkan kembali lagi, apakah saya suka melakukannya? Kegairahan selalu terhubung dengan perasaan cinta saat Anda melakukannya.

3.  KOMITMEN

Kunci untuk menjadi sukses adalah komitmen untuk melakukan aksi nyata Anda. Miliki kemauan untuk menyediakan energi dan waktu yang berfokus pada visi Anda. Itu adalah komitmen. Komitmen juga didefinisikan sebagai orang yang berdedikasi untuk memenuhinya janjinya. Begitulah janji Anda kepada diri sendiri maka alam semesta akan menemukan cara untuk memberikannya kepada Anda. Apa itu? Mimpi.

Setelah membaca rumus ABC seperti yang disebutkan di atas, Anda dapat melihat mengapa kita harus terus berjalan meski perlahan-lahan. Ada mimpi ketika kita mungkin belum mencapainya. Tetapi hari ini kita lebih dekat daripada yang kemarin.

Advertisements

Be Realistic for Big Dream! 

All people grown up with fully plans and dream. Everyone reaches out their dream to be successful people in life. But they must aware the authority to approve a dream. That is reality. 

In Bahasa Indonesia

Semua orang bertumbuh dalam rencana dan impian sepenuhnya. Setiap orang menggapai impian mereka untuk menjadi orang sukses dalam hidup. Namun mereka harus sadar bahwa ada kekuasaan untuk menyetujui sebuah mimpi. Itu dinamakan kenyataan.

Anda adalah Apa yang Diimpikan

Banyak orang yang tidak tahu apa mimpi mereka? Jika mereka tahu, mereka tak akan iri akan apa yang diraih orang lain. 

Jalan setiap orang berbeda karena tujuannya berbeda. Ada yang berjalan lambat, ada yang perlu berhenti sejenak, ada yang terus berjalan tak kenal waktu bahkan ada yang berlari karena tak sabar mencapai tujuan. Lalu apa tujuanmu?

Saat orang bercerita tentang mimpinya, apa yang ada di benakmu? Bukankah itu indah? atau rasanya tak mungkin untukmu meraihnya?

Bayangkan jika kamu memulai mimpi dengan iman! Tentu segalanya mungkin bagi Tuhan. Dia tahu apa yang kamu butuhkan melebihi yang kamu inginkan. Jadi mengapa kau meragukan mimpimu? 

Jika kau tak mempercayai dirimu untuk meraih mimpi, bagaimana orang lain percaya pada ucapanmu?

Teruslah bermimpi meski dunia tak lagi sama! Jangan dikira waktu tak punya kuasa untuk mewujudkannya! Atau alam semesta tak akan membiarkanmu meraihnya sendiri.Mimpi.

Yups, hold on to your dream!

Sukses dan Visi Hidup

image
Sebuah perjalanan dimulai dari satu langkah. Kemana dan bagaimana anda melangkah ditentukan visi yang dimiliki. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Pepatah mengatakan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda tetapi mengapa kita tidak siap untuk gagal? Padahal kita meyakini bahwa keberhasilan butuh perjuangan dan percobaan berkali-kali, tetapi mengapa kita berhenti di tengah jalan dan menyerah. Jika kita melihat orang sukses, kita ingin mencontohnya tetapi saat mereplikasikannya, mengapa kesuksesan kita berbeda dengan orang tersebut?

Jawabannya adalah VISI hidup. Sudahkah anda punya visi dalam hidup? Seorang bijak pernah berkata, “Nak, lebih baik kamu buta daripada tidak punya visi dalam hidupmu.”

Mengapa VISI penting? Karena mereka yang punya visi akan tahu “bagaimana mereka” di masa mendatang. Visi akan membuat anda bertahan meski gagal berkali-kali.Visi akan menentukan kesuksesan yang akan dibuat.

Visi hidup yang berhasil selalu diiringi tindakan. Dua hal yang menyebabkan kegagalan, (1). Mereka yang pernah berpikir tanpa pernah bertindak, atau (2). Mereka yang bertindak tanpa pernah berpikir.

‘Jalani hidup apa adanya’ bukan berarti hidup tanpa tujuan tetapi lebih menerima dan mengikhlaskan apa pun yang terjadi dalam hidup sebagai pengalaman. Visi hidup mengarahkan peluang kesuksesan yang ingin kita capai. Jika kita punya visi, berarti kita tahu potensi diri dan percaya kita mampu mewujudkannya.

Jika ingin sukses, sudahkah anda punya visi dalam hidup?

Jangan Pernah Berhenti Bermimpi! – Hört niemals auf zu träumen!

Tuhan melihat dari awal hingga akhir. Jangan menyerah!

“Sesuatu itu mungkin asalkan kamu kerja keras. Hört niemals auf zu träumen! Keep your dream ya!” katanya padaku saat aku menangis tidak terima kenyataan yang sedang terjadi.

Dia memberikan tisu dan melap tangisku yang membasahi pipi. Sebagai sahabat, ia tahu bahwa aku adalah pejuang mimpi yang tak pernah menyerah. “Hey, setiap impian itu butuh usaha, keringat, air mata, percobaan berkali-kali, kegagalan dan penolakan,” katanya sambil menggegam tanganku.

Aku suka gayamu, Anna. Kau gigih memperjuangkan keyakinanmu. Kau begitu percaya diri.”

Aku berhenti menangis. Aku jarang mendengarnya memuji diriku.

Impian itu juga butuh keyakinan. Jika kau tak yakin pada diri sendiri, jangan pernah bermimpi! katanya sembari menawari minum kopi yang dibuatkan untukku.

Aku menggeleng. Aku tak ingin minum saat dia memintaku minum kopi yang dituangnya.

“Banyak pejuang mimpi yang berhenti saat mereka merasa tidak sanggup menjalankannya. Padahal yang dibutuhkan mereka adalah iman dan keyakinan agar mereka tidak kelelahan lalu berhenti,” serunya sambil menyeruput kopi miliknya. “Teruslah bergerak selama bisa bernafas, Anna!!! Dengan begitu kau akan mendapatkan cara untuk menggapainya. Selalu ada bayaran bagi mereka yang sudah kerja keras,” katanya mantap.

Salju lebat sekali di luar. Aku memandang dari jendela dan mulai memikirkan untuk pulang. Aku lihat tak banyak orang lalu lalang pada jam delapan malam ini. Karyawan kafe juga bergegas menata perabotan milik mereka.

Jangan pernah mengkhawatirkan hal yang belum terjadi!”

Sepertinya sahabatku ini tahu kegundahan perasaanku untuk pulang malam yang diiringi salju yang lebat. Yups, itu yang aku rasakan untuk menggapai impian, khawatir.

Jika saat ini tidak sesuai seperti rencanamu, bukan berarti kamu kalah. Memang kita tidak bisa mengendalikan keadaan dan situasi tetapi kita bisa mengontrol pikiran dan perasaan diri sendiri. Dengan begitu kamu belajar arti kesabaran, bukan kegagalan.”

Kalimat bijaksana meluncur deras dari mulut sahabatku, sederas salju yang turun malam itu.

Zalhlen, bitte!” teriak sahabatku meminta bon kepada pelayan kafe. Pria yang menyadari lambaian tangan sahabatku, mengangguk dan mengiyakan.

Pelayan tersebut datang dan membawa selembar bon. Dia berkata, “Bitteschön!”

Sahabatku mengeluarkan dua lembar uang 10 euro. Sambil merengkuh uang yang diberikannya, pelayan itu bertanya padaku tentang kopi yang tak diminum. “Entschuldigung, Ihr kaffe,” tanyanya.

Nein, Danke!” jawabku. Sahabatku menjelaskan dalam bahasa Jerman yang baik bahwa aku sedang tidak enak badan. Pelayan itu tersenyum padaku.

***

Mimpi adalah saat kita tahu apa yang diinginkan untuk terwujud.

Teruslah bermimpi karena dunia ini dibangun oleh orang-orang yang berhasil mewujudkan mimpinya.

Lompatlah Melebihi Dari yang Dipikirkan!

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Bruk!!!! Aku terjatuh. Sial, lompatannya begitu bagus, umpatku. Si Bapak Tua ini melompat dengan lincahnya di setiap pijakan batu. Dia tertawa melihatku jatuh. Ia menghampiriku lalu mengulurkan tangannya.

“Ayo, kamu pasti bisa!” serunya menyemangati. “Jika kau ingin melompat, lihatlah ruang yang tak ada batunya, bukan batunya!” katanya. Dengan bijak, ia menjelaskan bahwa batu pijakan yang kita lihat malah terkadang menghambat kita untuk melihat. “Dalam hidup kita ingin melompat lebih jauh, lebih tinggi dan melihat batu di hadapan yang jadi hambatan, maka kita cenderung jatuh. Sebaiknya lihatlah ruang kosong di sekitar batu yang jadi tantanganmu untuk melompat,” tegas Bapak Tua menjelaskan kemahirannya melompat satu batu ke batu lain menyusuri anak sungai yang aku lewati.

Dia menepuk bahuku sekali lagi, “Saat melompat, jangan lihat hambatanmu! lihatlah apa yang jadi tantangan di sekitarmu!”

Aku melompati batu kembali. Aku ikuti tantangan Bapak Tua menyusuri anak sungai yang sedang deras itu. “Kau lihat air sungai yang mengalir itu,” seru Bapak Tua sambil menunjuk ke arah air sungai di hadapan. “Benar pepatah orangtua. Dalam kehidupan, jadilah seperti air sungai yang mengalir. Lenturlah, tidak usah kaku! Mereka yang tidak bisa mengikuti arus kehidupan akan berhenti dan ditinggalkan.”

Aku mengiyakan yang disampaikannya. Hal yang aku pikirkan adalah cepat sampai tujuan. Titik!

Bruk!!! Aku jatuh lagi. Brengsek, umpatku.

“Nak, pasti kamu tidak fokus ya?” tanya Bapak Tua padaku. Aku mengangguk. “Kadang mereka terlalu ingin cepat sampai pada tujuan hingga tidak fokus pada langkah-langkahnya. Hati-hati!” serunya.

Aku segera bangkit berdiri dan bersiap melompat lagi. Entah mengapa batu yang ingin aku pijak bertambah jauh dari sebelumnya. Apakah aku yang tidak fokus atau air sungai mengubah posisinya? Pikiranku makin kacau. Sementara Bapak Tua memperhatikan aku dari kejauhan.

“Berapa jauh batu ini dengan batu itu?” tanyaku pada Bapak Tua. Bapak Tua menggeleng. “Lalu bagaimana kau bisa melompat Bapak Tua?” tanyaku sekali lagi. “Jika ingin mendapatkan lompatan lebih baik, aku selalu melompat melebihi apa yang aku pikirkan,” serunya dengan lantang menjawab pertanyaanku dari kejauhan. Menurutnya, pikiran kerap membuat orang takut melompat.

Kunci dari lompatan yang berhasil adalah mempercayai kemampuan diri sendiri,” kata Bapak Tua menyemangatiku lagi. Jika kita tidak mempercayai kemampuan diri sendiri sebaiknya jangan pernah melompat. Seberapa pun lemahnya fisik tetapi jika kita yakin pada kemampuan diri sendiri, lompatan itu akan berhasil melebihi apa yang dipikirkan.

Yeah!!! Aku berhasil. Bapak Tua memelukku. “Untuk sampai pada tujuanmu, kau kadang perlu berlari dan melompat. Tidak sekedar berjalan,” katanya lirih.

Akhirnya aku sampai di seberang sungai. Puji Tuhan!!! Ternyata untuk melompat, ada banyak rintangan yang tak mudah. “Buatlah rintangan itu jadi tantangan saat melompat! Bukan hambatan,” tegas Bapak Tua sambil berlalu pergi meninggalkan aku di bibir sungai.

“Tujuanmu Ada di Depan, Bukan di Belakang”

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Aku terus melangkah menyusuri bibir pantai senja itu. Sayup-sayup angin melipir terasa di wajahku. Tak aku hiraukan ketika seseorang memanggil namaku untuk kembali. Percuma!

“Tetaplah melangkah ke depan! Jangan pernah berjalan mundur ke belakang! Mungkin tapak kaki yang kau pijak telah kabur seiring waktu. Kembali pun belum tentu menyelesaikan penyesalan,” bisik suara hatiku.

Aku mengikuti suara hati yang berbisik untuk tidak kembali. Panggilan namaku mulai tak terdengar lagi. Suara ombak di pantai itu mendominasi pikiranku. Terhanyut aku akan nostalgia masa lalu. Gemuruh ombak berkejar-kejaran tak pernah berhenti, ku layangkan pikiranku pada kejadian tiga tahun lalu.

“Luasnya laut tak bisa aku selami, begitu pun misteri cinta yang tak bisa aku pahami. Anna, aku begitu mengagumimu,” katanya sembari meraih wajahku. Aku membisu. “Aku hanya bisa mengagumi keindahan laut tanpa bisa memilikinya. Begitupun engkau, aku tak bisa memilikimu. Hanya bisa mengagumimu,” katanya sekali lagi.

Terlalu dini untuk jatuh cinta pada seorang pria sepertimu, pikirku. “Meski aku tak bisa menampung air laut seluruhnya, tetapi aku bisa merasakan rasa asinnya,” seruku padanya.

Pikiranku kembali dipenuhi suara deburan ombak di sekitarku, membuyarkan lamunan lama yang tak ingin aku ingat. Aku menoleh ke belakang, melihat jejak-jejak kakiku sendiri. Yang masih terlihat adalah jejak kaki yang masih dekat, sisanya entah kemana.

“Anna, buat apa melihat ke belakang? Kau sudah melangkah jauh. Tak usah kembali. Tujuanmu ada di depan, bukan di belakang,” suara hati kembali berbisik.

Aku berjalan lagi dan menarik napas panjang. Aku kelelahan sendiri. Aku mengusap keringat yang menetes di keningku. Matahari terlalu ramah menyertaiku sedari tadi.

“Jika kau tahu tujuanmu, kau akan berjalan dengan penuh keyakinan,” kata suara hatiku menenangkan rasa lelahku. Itu benar!

Tiba-tiba tangan kuat menggenggam tanganku, dia berseru, “Aku akan berjalan bersamamu, Anna.” Lalu ia melanjutkan, “Berjalan di sampingmu, bukan di belakang atau di depan!”

Aku tersentak bahagia. “Aku akan mengatur tiap langkahmu sehingga kau akan berjalan dengan penuh iman. Tak perlu khawatir karena kau tidak akan kelelahan. Yang diperlukan adalah kesabaran,” seru suara orang yang menggenggam tanganku itu.

* Persembahan fiksi bagi mereka yang belum bisa move on

****
Tetap optimis saat menjalani kehidupan, bukan pesimis. Mereka yang pesimis akan melihat jalan panjang sebagai hambatan nan membosankan, sedangkan optimis akan menganggap sebagai kesempatan petualangan.

Mereka yang optimis akan melihat masa lalu sebagai pelajaran sedangkan pesimis akan selalu memandang masa lalu sebagai kenangan.

Anda bagaimana?

Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. “Ayo bangun, nak. Apa kamu tidak sekolah?” tanya ibu dari luar kamar.

Ibu langung masuk kamarku yang memang tidak terkunci. “Bergegas berangkat ke sekolah, kamu bisa bareng dengan abangmu.”

“Ibu, mengapa aku harus ke sekolah?” tanyaku pada ibu sambil berpakaian seragam merah putih.

Karena sekolah akan membantumu meraih cita-citamu. Apa cita-citamu anak cantik?” tanya ibu kembali, sambil menyiapkan kaos kaki dan sepatuku.

“Aku ingin jadi dokter.” Aku lirik jam dinding kamar, masih ada waktu buat bersiap diri. “Bu, mengapa kita perlu cita-cita dalam hidup?” tanyaku.

“Cita-cita adalah gambaran masa depanmu kelak. Dengan memiliki gambaran masa depan, kamu tahu darimana kamu melangkah mencapai tujuan itu,” sahut ibu.

“Bu, saya tidak tahu bagaimana meraih cita-cita saya. Saya merasa tidak percaya diri,” kataku sambil menunduk malu.

Nak, hal terpenting meraih cita-cita bukan bagaimana meraihnya tetapi darimana memulainya. Sekolah adalah awal kamu memulainya. Tidak mungkin jadi dokter jika kamu tidak bersekolah,” kata ibu meyakinkan. Ibu langsung meraih tas dan sepatuku agar berkemas menyusul abang di ruang makan. Ibu pun menegaskan lagi, “Tuh seperti pepatah yang kau pajang di dinding kamar, gantungkan cita-citamu setinggi langit.”

Sebelum menutup pintu, aku berbalik lagi pada ibu dan bertanya, “Cita-cita itu memang harus tinggi bu, mengapa begitu?”

Ibu mendorongku keluar kamar sambil menutup pintu kamar, tanda aku harus segera berangkat ke sekolah. “Cita-cita itu harus kau gantungkan di tempat paling tinggi agar tidak mudah untuk diraihnya dan butuh perjuangan. Ingat pula, tidak setiap orang mampu meraihnya karena berada di tempat yang tinggi,” kata ibu sambil mencium pipiku dan mengantarku keluar pagar rumah.

Dari mata ibu, aku tahu bahwa ibu selalu mendoakan aku untuk meraih cita-citaku sehingga kini aku jadi dokter bedah yang ternama.

***

Setiap orang punya cita-cita dalam hidupnya. Cita-cita adalah harapan di masa mendatang. Bukan bagaimana kita memulai menggapai cita-cita tetapi darimana kita memulainya. Aku jadi tahu dari keluarga dan sekolah aku memulai menggapai cita-cita.

Mengapa Resolusi Tidak Terwujud?

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Tahun lalu resolusi saya dalam dunia tulis menulis blog adalah mencapai pengunjung 100 ribu. Sementara tahun sebelumnya, pengunjung dalam blog saya baru setengahnya. Apakah mungkin? itu pikir saya karena selama lebih dari lima tahun, pengunjung blog hanya 50 ribu lalu saya berharap setahun bisa mencapai 100 ribu. It seems possible until it done. Yups, bulan December 2015 blog saya mencapai 100 ribu pengunjung. BERHASIL!!!

Mengapa perlu resolusi?

Beberapa kali saya mesti berhadapan dengan teman baik yang frustrasi karena resolusi yang ditulisnya di awal tahun tidak bisa terwujud hingga akhir tahun. “Males gua bikin resolusi, paling juga gak terwujud,” kata teman baik saya. “Buat apa sih resolusi? Wong, pasti gak terwujud,” sahut teman yang lain.

Lalu ini jawab saya, “Karena resolusi membantu kita menemukan hidup bertujuan.” Tujuan itu menentukan apa yang akan dilakukan sepanjang tahun. Oleh karena itu, resolusi selalu membawa perubahan dan peningkatan yang lebih baik.

“Mengapa kita perlu resolusi?” tanya teman saya balik. “Karena hidup perlu perubahan” jawab saya. Resolusi akan menandai perubahan hidup seseorang.

Mengapa resolusi saya tidak terwujud?

Berikut hasil pengalaman pribadi dan beberapa orang yang saya wawancarai:

1. Resolusi tidak terwujud karena tidak objektif.
Bagaimana resolusi terwujud jika anda secara pribadi tidak yakin terwujud karena tidak objektif. Secara objektif, anda bisa merumuskannya karena anda mampu, mau dan punya sumber daya untuk melakukannya. Misal, saya tidak mungkin menulis resolusi mencapai pengunjung blog sejuta, karena ukuran lebih lima tahun saja hanya mencapai 50 ribu. Saya menulis resolusi pengunjung blog 100 ribu karena saya mampu menulis beberapa post dalam sebulan. Jika saya merasa mampu, itu menandai bahwa hal tersebut objektif.

2. Resolusi tidak terwujud karena terlalu banyak dan tidak fokus.
Saya pernah menyusun 10 hal yang jadi resolusi. Ternyata dari 10 hal, hanya 2 atau 3 yang terwujud. Saya evaluasi diri, saya terlalu banyak menuliskannya sehingga sulit mewujudkannya karena tidak fokus. Jadi pilih hal yang menjadi fokus anda di tahun ini!

3. Resolusi tidak terwujud karena anda tidak berkomitmen mewujudkannya.
Komitmen diperlukan agar membuktikan anda bersungguh-sungguh mewujudkannya. Komitmen menandai anda sudah memulai dan harus menyelesaikannya. Bagaimana saya bisa mencapai pengunjung 100ribu jika tidak berkomitmen memulai sebuah tulisan dan terus menulis. Komitmen bukan menjawab bagaimana anda seharusnya mewujudkan resolusi tetapi kapan anda segera mewujudkannya.

4. Resolusi tidak terwujud karena anda merasa “sok bisa” tanpa orang lain.
Berbagai studi menunjukkan bahwa segala hal yang dibantu orang lain akan terasa lebih ringan dan tertolong. Hey, kita makhluk sosial. Kita perlu orang lain mewujudkannya. Bagikan resolusi kepada orang lain agar membantu mengingatkan anda. Tahun lalu, saya sampaikan niat kepada suami mewujudkan pengunjung blog 100ribu. Alhasil suami bantu saya untuk mengingatkan agar menulis. Resolusi ingin bisa naik sepeda atau bicara bahasa asing, kita sampaikan kepada orang lain seperti sahabat, orangtua misalnya sehingga mereka membantu mengajari anda atau minimal tahu apa yang harus dilakukan untuk anda.

Perubahan di tahun ini tidak ditentukan dari resolusi yang anda buat tetapi resolusi menentukan perubahan hidup anda di tahun ini. Semangat mewujudkan resolusi bagi anda semua:)

Mulailah Dari Apa yang Bisa Kau Lakukan!

blog3Siang itu, seorang anak datang menghampiri ayahnya. Ia bermaksud untuk meminta bantuan ayahnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolah. “Ayah, apakah kau sibuk saat ini?” tanya anak tersebut.

“Sedikit,” sahut ayah.

“Apakah kau bisa membantu pekerjaan rumahku? Aku tidak suka pelajaran matematika ini.”

“Mengapa kau tidak suka pelajaran matematika?” tanya ayah sambil menghampiri putri semata wayangnya itu.

“Karena gurunya galak,” sahut anak itu. Kemudian ia menjelaskan lagi, “Gurunya selalu berteriak saat mengajar. Ia memiliki mata yang melotot seperti orang mau marah.”

“Nak, jangan habiskan waktumu hanya memikirkan guru matematika yang tidak kau sukai. Sebaiknya habiskan waktumu untuk memikirkan bagaimana kau memahami pelajaran matematika,” kata ayah sambil menepuk bahu anak itu. Maksud ayah, jika kita sudah membenci sesuatu maka energi akan terbuang untuk hal-hal yang semakin sulit. Ketidakmengertian berawal dari ketidaksukaan.

Ayah lalu melanjutkan, “jadi jika kau ingin mengerti pelajaran matematika, kau harus menyukainya. Sukai gurunya yang menurutmu galak, sukai waktu kamu mengerjakan soal-soal itu, dan sebagainya.”

Hmm, baiklah jadi selama ini jika kita tidak menyukai seseorang itu berarti kita tidak mengerti perangainya atau karakternya. Ketidakmengertian menjadi alasan untuk membenci sesuatu atau seseorang. Pelajaran menarik dari ayah.

“Ayah, bagaimana aku bisa menjadi guru matematika?” tanya anak itu sambil menjawab beberapa soal matematika yang masih rumit. “Sepertinya aku ingin menjadi guru matematika. Aku yakin matematika bisa menjawab permasalahan kehidupan,” katanya sekali lagi.

Jawaban ayah sungguh menyentuh anak itu, “Nak, jika kau ingin mencapai impianmu, mulailah dari apa yang bisa kau lakukan. Kebanyakan orang yang bermimpi selalu berawal dari apa yang ingin mereka lakukan dan mereka lupa mewujudkannya.”

Sejak saat itu, anak itu tidak pernah membenci matematika karena matematika menjadi bagian dari kehidupannya saat ini. Ia kini menjadi guru matematika yang cukup disegani.

Pelajaran yang bisa dipetik dari cerita di atas:

  1. Jangan habiskan energi hanya untuk membenci sesuatu hal atau seseorang! Beri waktu yang cukup memahaminya, bukankah di dunia ini segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan?
  2. Belajarlah menerima dan menyukai apa yang tidak kau sukai!
  3. Awalilah mimpimu dari apa yang bisa kau lakukan!