Mittelalterfest, Festival Abad Pertengahan di Jerman

Lomba memanah yang menarik. Lihat kostum mereka!
Ini spanduknya.

Apa yang anda lakukan jika anda pernah hidup seperti di film Robin Hood di Eropa pula? Jika itu adalah salah satu keinginan anda, mungkin anda bisa bergabung dengan komunitas berikut yang ada di Jerman. Komunitas ini memang memiliki minat dan kesamaan gaya hidup pada masa abad pertengahan. Itu sebab saya melihat spanduk bertuliskan “grosses Mittelalterfest” yang diikuti seribu peserta. Wow!

Bermain perang-perangan seperti di film dengan perlengkapan dan kostum mirip tempo dulu.
Tenda peserta.
Tampak menyatu dengan alam, salah satu ruang makan.

Saya dan suami berkendara menyusuri kota di Bavaria yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Mata saya memandang banyak orang berpakaian seperti layaknya aktor dan aktris yang berperan di film Robin Hood. Karena kami penasaran, kami pun berhenti dan mencari tahu. Saya pun segera mendokumentasikan festival orang-orang yang punya minat pada kehidupan abad pertengahan tersebut.

Suami saya bertutur bahwa ada beberapa kolega kerjanya yang juga punya minat sama pada festival ini. Mereka mengadakan pertemuan rutin untuk berbagi kebersamaan dan kecintaan pada abad pertengahan yang sudah berlalu ratusan tahun lalu. Melalui festival yang digelar rutin, tentu mereka membawa misi untuk mengedukasi masyarakat luas tentang kehidupan di abad pertengahan. Ini hanya dugaan saya saja karena saya tak berani bertanya atau mewawancarai panitia penyelenggara.

Sepatu kayu yang dijual dan menarik pengunjung.
Salah satu ruang tidur yang terekam kamera. Tampak selimut tebal berbulu dan lilin sebagai penerangan.
Salah satu sudut ruangan yang mereka gunakan, benar-benar alami.
Oven membuat roti dari kayu.

Pertanyaan saya, apakah anda bisa bertahan beberapa lama untuk tidak menggunakan listrik, perlengkapan moderen bahkan menggenggam smartphone anda?

Saya mengamati bagaimana perlengkapan makan terbuat dari tembikar, kayu atau gading gajah. Wow! Bahkan seseorang perempuan yang saya amati berpakaian tempo dulu itu mengenakan alas kaki pun dari kayu. Sedangkan jubah-jubah pria dan wanita seperti yang ditemukan dalam film Robin Hood pun tampak dijual di sini bagi mereka yang tertarik membeli. Untuk jubah dan selimut berbulu tampak memenuhi di ruang tidur untuk menghangatkan badan. Saya mengamati juga ada lilin dan obor sebagai penerangan. Jadi jangan bayangkan ada televisi atau radio sebagai hiburan.

Untuk mengisi waktu luang selama festival sekaligus hiburan, saya mengamati sebagian kelompok duduk di suatu tenda, berdiskusi, tertawa dan bermain bersama. Kelompok lain, saya melihat sedang menyiapkan makan siang dengan membuat perapian terlebih dulu. Tak hanya itu, ada kompetisi memanah mirip seperti di film Robin Hood. Lainnya, tampak sibuk di lapangan luas mendekati panggung hiburan dengan musik atau nyanyian. Dan kelompok lain membuat kompetisi bermain perang dua kelompok dengan peralatan seperti film Robin Hood. Menarik!

Mereka tampak berbahagia dengan situasi yang sedang mereka jalani selama festival. Tampaknya ini bisa menjadi ide di saat kita jenuh dengan modernitas, festival ini memberikan makna terdalam relasi antar pribadi satu sama lain dan relasi dengan alam. Hmm…

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Empat Varian Rasa Pizza, Mana yang Disuka?

Karena rasanya yang pedas, pizza ini dikenal dengan nama ‘pizza devil’.

Pizza adalah makanan khas Italia yang sudah mendunia. Tidak hanya di Italia saja, di Eropa begitu mudah mendapati pizza. Pizza bisa disajikan secara ekslusif atau bahkan dijual di kedai Imbiss yang harganya terjangkau dompet.

Menurut saya, pizza di sini punya tekstur yang berbeda dan rasa yang khas ketimbang di Jakarta. Tua muda suka dengan pizza. Hal ini terlihat jika saya berkunjung ke restoran yang menyajikan khusus pizza. Makanan ini begitu digemari dengan banyak pilihan topping yang disukai.

Sebetulnya pizza berawal dari jenis pizza margherita. Pizza margherita terdiri atas saus tomat spesial, keju mozarella, daun basil, garam dan ekstra minyak zaitun. Cikal bakal pizza dimulai sekitar abad 19. Seiring zaman para juru masak mulai meracik dengan topping yang berbeda.

Kembali ketiga pilihan pizza berikut, mana yang kira-kira anda sukai?

1. Pizza fungi

Pizza pertama yang saya perkenalkan adalah pizza fungi. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa pizza berikut memasukkan jamur (fungi) sebagai rasa utama. Yups, bagi anda yang tidak ingin makan daging dan termasuk vegetaris maka pilihan pizza fungi bisa dicoba. Pizza ini terdiri atas tomatensauce, keju mozarella dan champignon.

2. Pizza Fruti di Mare

Selanjutnya saya perkenalkan pizza untuk mereka yang suka makanan laut. Saya sih belum pernah mencoba pizza rasa ini di Jakarta. Terus terang saya suka dengan seafood, namun jadi penasaran ketika ini dipadukan di atas pizza.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, keju mozarella, kerang, udang, cumi-cumi, daging kepiting dan minyak bawang putih. Setelah saya memesannya, rasanya luar biasa enak. Bayangkan bahwa kerangnya masih terbungkus namun sudah matang. Mungkin juru masak tahu durasi pembuatannya sehingga tekstur makanan lautnya benar-benar pas. Seperti cumi-cumi dan udang pun dimasak dengan pas dan tidak berbau amis.

3. Pizza Diavolo

Pizza berikutnya ditujukan bagi mereka pecinta rasa pedas. Karena saya suka pedas dan tertarik dengan namanya ‘pizza devil’ maka saya tertantang mencobanya. Di sini tidak ada level rasa pedas, hanya saja perlu dipastikan bahwa anda benar-benar tidak bermasalah dengan rasa pedas.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, keju mozarella, salami rasa pedas, cabai hijau (peperoni), buah zaitun dan minyak cabai. Karena tidak suka dengan zaitun, saya pesan kepada pramusaji untuk tidak memasukkannya. Setelah pesanan pizza datang, rupanya atas pizza masih ditaburi lagi bubuk cabai. Jadi anda bisa tahu alasan disebut pizza devil. Soal rasa pedas, saya suka sekali. Ini nikmat!

4. Pizza Tuna

Terakhir, pizza tuna. Pizza ini berbeda dari ketiga pizza yang disampaikan di atas. Pasalnya pizza ini dibeli di tempat berbeda. Kebetulan kami pergi ke Wien, Austria dan membelinya di kedai imbiss. Terus terang rasanya lumayan enak. Karena pizza dibuat tidak fresh. Ketika kami memesannya, pramusaji menghangatkan lagi di oven.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, daun basil, irisan bawang bombay dan tuna. Jika anda suka makan ikan, maka pilihan pizza tuna bisa dicoba.

Bakmi Goreng und Nudeln Gebraten Huhn – Krabben: Makanan Asia di Jerman (18)

Makanan Indonesia seperti nasi goreng dan bakmi goreng ternyata cukup populer diminati oleh masyarakat di sini. Terbukti kedua menu tersebut ada dalam daftar menu di restoran atau kedai Imbiss Asia. 

Begitu pengalaman saya di sini dan teman-teman setelah kami memutuskan makan di restoran Asia. Mereka yang penasaran dengan masakan Asia pun luluh dengan rasa makanan yang tak pernah dicoba sebelumnya. 

Kedua teman saya memilih untuk menikmati mie atau yang biasa disebut nudeln dalam bahasa Jerman. Untuk bakmi goreng memang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Cukup diberi deskripsi isi sajian makanan tersebut. Sementara mungkin masakan Asia lainnya memang diterjemahkan dalam bahasa Jerman.

Pertama, bakmi goreng

Bagaimana menurut anda berdasarkan tampilan foto? Apakah terlihat cukup enak? 

Bakmi goreng ini seperti layaknya bakmi goreng di Indonesia pada umumnya. Ada isian aneka sayuran dengan tambahan telur dan udang di dalam. Menurut saya rasa bakmi ini agak manis. Sepertinya menggunakan kecap manis sebagai penguat rasa. 

Hal menarik dalam mie ini adalah kacang polong. Apakah ini variasi rasa? Saya sendiri tidak tahu.

Kedua, nudeln gebraten hühn-krabben

Makanan selanjutnya yang memang hampir serupa adalah sejenis mie goreng juga namun berbeda bumbu dan isian.

Dalam bahasa Jerman, bakmi goreng bisa dikatakan “nudeln gebraten” bahkan mie yang digunakan sama persis dengan bakmi goreng. Isian di dalam juga seperti sayuran dan telur juga ada.

Sesuai nama menunya yakni Hühn dan Krabben, maka bakmi ini menggunakan suwiran daging ayam dan kepiting. Rasanya asin dan gurih seperti layaknya mie seafood. Ini tidak semanis bakmi goreng dari Indonesia.

So, ada pendapat?

10 Saran Berkunjung: Budapest, Hungaria (2)

 

Sungai Danube membelah kota Buda dan Pest.

 

Jembatan penghubung kota Budapest.
wp-image-679459984
Cantiknya di malam hari. Siapa pun ingin berkunjung ke sini.

Budapest adalah ibukota negara Hungaria yang terkenal elok karena dilalui oleh sungai Danube atau Donau. Sungai ini juga melalui Passau, Jerman. Tak hanya itu, kota ini populer dengan arsitektur bangunannya yang indah dan terkenal di Eropa. Kota ini sendiri dihuni oleh dua puluh persen dari total penduduk Hungaria.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/19/passau-germany-2-kota-persinggahan-para-turis/

Sungai Danube membelah kota Buda di sisi satu dan pest di sisi lain. Setelah tiba saya baru tahu bahwa ini adalah gabungan dua kota yang dilalui oleh sungai Danube. Jika mengacu pada sejarah, peradaban manusia dimulai di wilayah yang subur di dekat sungai. Ya, di sini perpaduan kebudayaan romawi dan celtic tumbuh. Hungaria adalah salah satu negara tertua di Eropa. Wow!

Saya dan suami berkunjung dengan berkendara mobil dari Jerman. Kami sempat berpindah hotel sehingga kami bisa mengenali kehidupan di Budapest selama di sana.

Berikut sarannya:

Mata uang Hungaria.

(1). Hungaria menggunakan mata uang Hungarian Forints (HUF). Sebagai contoh, kami menukar uang 50€ di penukaran uang maka kami dapat 15.400 HUF. Itu artinya 1€ setara dengan 308HUF. Di beberapa restoran dan kafe, ada yang menerima transaksi dalam bentuk Euro. Namun umumnya, mereka ingin pembayaran dalam mata uang mereka. Lagipula anda sangat perlu HUF bilamana anda membayar toilet umum, berbelanja di supermarket atau membayar tiket parkir mobil.

 

Kotak Hijau adalah toilet umum berbayar.

 

(2). Mengacu pada pengalaman menggunakan toilet di tempat wisata, Budapest tak ubahnya di kota-kota besar di Eropa. Budapest menggunakan layanan toilet umum berbayar. Untuk WC dengan pintu otomatis, anda harus punya uang 250HUF. Namun jika ada petugas kasir yang berjaga, kisaran toilet berbayar antara 150HUF sampai 250HUF. Mau yang gratis? Saya pernah menumpang di Kafe atau restoran cepat saji. Namun anda harus membeli sesuatu terlebih dulu lalu bon pembayaran biasanya tersedia kode untuk membuka pintu WC.

 

wp-image-287559774
Perhatikan papan informasi berwarna merah sebagai halte pemberhentian sightseeing city tour!

 

 

Tidak semua bus dilengkapi WIFI, namun setiap bus menyediakan layanan bahasa dengan headset atau tour guide berbahasa Inggris.

 

(3). Kota Budapest begitu luas dan banyak tempat yang layak dikunjungi. Kami berencana hanya sebentar namun rupanya kami perlu berlama-lama untuk menjelajahi banyak tempat. Saran saya, anda bisa ikut paket sightseeing city untuk 48 jam. Kami membayar 26€ atau setara dengan 8.000HUF per orang. Selain mendapatkan headset dalam 25 bahasa, anda bisa berkeliling kota dan mengunjungi tempat wisata yang ditawarkan. Dalam beberapa bis, ada yang menyediakan layanan WIFI untuk umum. Ingat, selama di bus ini kita dilarang berdiri atau harus duduk di kursi yang tersedia, tidak boleh makan/minum, tidak boleh merokok dan minuman alkohol juga harus menjaga kebersihan dalam bus.

wp-image-1788339951
River boat tour menyusuri sungai Danube di malam hari. 

(4). Beberapa tempat ada yang harus membayar tiket masuk, namun ada pula yang tidak perlu membayar. Ada pula yang membayar sukarela seperti saat kami masuk ke Basilika St. Stephan. Namun paling menarik adalah jika anda ikut paket seperti yang saya ceritakan di atas maka anda akan mengikuti river boat tour. Di sini kita bisa menyaksikan keindahan Budapest kala malam hari menyusuri sungai Danube.

 

Taksi berwarna kuning atau sepeda sewa berwarna hijau. Sesuaikan dengan kocek anda!

 

 

Ini juga sepeda sewa yang menggunakan aplikasi telepon pintar.

 

(5). Selama di Budapest, kami tidak mengenakan kendaraan umum. Kami lebih banyak mengikuti bus hop on hop off dan berjalan kaki. Moda transportasi di Budapest ada bermacam-macam seperti bis, tram, taksi hingga sepeda yang bisa disewa. Menariknya, sepeda ini semacam menggunakan aplikasi dan otomatis bisa digunakan.

Mesin otomatis parkir berbayar.

(6). Karena kami menggunakan kendaraan pribadi, Budapest menyediakan mesin otomatis pembayaran parkir. Lahan parkir begitu terbatas di Budapest, mobil-mobil diparkir di pinggir jalan. Untuk pembayaran satu hari misalnya dikenakan biaya 200HUF. Setelah anda membayar, anda wajib menempelkannya di dekat kaca mobil depan. Jika anda ketahuan tak membayar parkir, mobil anda akan diderek oleh petugas dan mendapatkan surat tilang. Mayoritas pemilik mobil di Hungaria sudah menggunakan stiker berbayar yang tertempel di kaca depan mobil mereka.

wp-image-1140656817
Ice-skating di dekat Heroes Place.

(7). Budapest juga terkenal dengan spa atau thermal untuk berendam. Anda bisa mendatangi area pusat kota. Di situ terdapat thermal terbesar dan menarik wisatawan untuk rileksasi. Jadi siapkan pakaian renang dan handuk jika ingin melakukannya di Budapest! Jika tidak, mungkin anda tertarik main ice-skating di luar.

 

Mall terbesar di Budapest dengan arsitektur yang indah.
Central Market Hall atau Fővàm tèr.

(8). Untuk berbelanja, di Budapest terdapat area butik ternama di dunia hingga mal. Saran saya, jika anda ingin ke mal maka bisa berkunjung ke Bàlna, shopping center. Ada juga Great Market Hall (Fővàm tèr) sebagai pasar tradisional dan terbesar. Di sini anda bisa membeli sovenir khas Hungaria atau mencicipi penganan lokal.

(9). Selama di Budapest, anda wajib mencicipi kuliner mereka yang juga terkenal dengan rasa paprikanya. Selain goulasch dengan berbagai variasi, Hungaria menawarkan wisata gastronomi di Budapest. Makanannya menurut saya bercampur antara gaya Austria dengan mediterania.

(10). Alangkah indah dan panjang waktu berwisata di musim panas. Di musim dingin saat kami datang, kami merasa waktu gelap sudah mulai sejak jam 4 sore. Jam 7 atau 8 malam, kota Budapest pun sudah sepi dan sunyi. Belum lagi kondisinya jadi lebih dingin semisal mengikuti river boat tour di malam hari. Datang di musim dingin maka anda perlu menyiapkan pelindung tubuh dari kepala hingga alas kaki yang super hangat dan nyaman.

Semoga bermanfaat!

Ingin Makan Murah di Jerman? Datang ke Imbiss!

Gerai imbiss Asian Food menjual bakmi goreng kemasan praktis dan diberi garpu plastik. Ini ukuran kecil dengan sayuran harga kisaran kurang dari 3€.

Di imbiss Asian Food disiapkan tempat duduk sederhana jika ingin makan langsung. Total makan berdua hanya kisaran 10€ dibandingkan makan di restoran bisa mencapai 30€. 

Gerai imbiss yang menjual pizza, harga 5€ sementara di Italia mungkin hanya kurang dari 2€.

Imbiss yang jual kacang, gula-gula dan aneka manisan lainnya.

Imbiss (kanan) yang menjual döner dan burger seperti foodtruck tampak belakang.



Jika di Indonesia ada warung makan kaki lima, warung tenda atau gerobak keliling maka di Jerman ada istilah Imbiss. Imbiss semacam tempat menjual makanan kecil yang berada di jalanan, outdoor atau indoor. Anda tidak mungkin menemukan imbiss seperti layaknya restoran yang besar dan nyaman. Meski terkadang ada imbiss yang memiliki tempat duduk untuk menikmati makanan yang baru saja anda beli, namun ini tidak seperti di restoran. Kebanyakan imbiss juga tidak memiliki tempat duduk untuk menikmati makanan yang dibeli. Itu berarti pembeli menikmati makanannya tidak di tempat.

Apakah imbiss bisa disebut restoran cepat saji? Tanya saya pada beberapa teman orang Jerman. Tidak bisa disebut imbiss seperti layaknya gerai fast food seperti yang anda kenal produk dari negeri Paman Sam. Karena makanan yang tersedia di imbiss meski terbilang disajikan secara cepat namun ini bukan makanan junk food. Anda bisa menemukan gerai imbiss makanan asia seperti mie, dönner atau makanan dari Italia seperti pizza. Ada juga gerai imbiss untuk makanan Jerman seperti curry wurst, thürienger dan rost bratwurst. Intinya imbiss menyajikan pelayanan yang cepat kala banyak orang Jerman tak punya waktu untuk memasak atau di sela kesibukan bekerja saat makan siang tiba.

Jika di restoran, anda akan menemukan dekorasi mewah dan suasana yang nyaman maka di imbiss anda mungkin terpaksa makan sambil berjalan atau makan di tepi jalan. Ini menjadi pilihan bagi mereka yang bekerja dan tak punya cukup waktu untuk makan siang. Dengan perbandingan tersebut, tentu harga porsi makanan yang ditawarkan di imbiss jauh lebih murah ketimbang di restoran. Misalnya saya pesan bakmi goreng. Di sini ada bakmi goreng juga dengan rasa kurang lebih sama seperti di Indonesia. Harga di imbiss mulai dari 2,5€ hingga 7€ sedangkan di restoran bisa lebih dari 10€. Perbedaan harga seporsi bakmi goreng di imbiss bisa disebabkan ukuran porsi yang dipilih dan campuran bakmi yang dikehendaki.

Contoh imbiss di Italia, yang menjual hot dog, es krim dan lainnya.

Gerai imbiss ini mungkin juga bisa anda jumpai di wilayah Eropa lainnya. Semisal di Italia, mereka juga punya imbiss tetapi penyebutannya mungkin berbeda. Di italia, imbiss biasa menjual es krim, pizza dan minuman. Sedangkan di Swiss, penyebutan imbiss berasal dari schnellimbiss. Sebagian penduduk Swiss berbahasa Jerman. Schnell diterjemahkan menjadi ‘cepat’ dan imbiss diterjemahkan menjadi ‘snack’ atau ‘kudapan’. Karena terlalu panjang, mereka lebih suka menyebutnya imbiss saja.

Menurut saya harga makanan di imbiss lebih murah dibandingkan di restoran. Pertama, seperti yang saya katakan harga untuk sewa tempat tidak sebesar seperti restoran yang memerlukan tempat yang luas berikut furniture. Ini tentu sudah menghemat biaya yang tidak dikenakan pada porsi makanan. Kedua, sebagian besar imbiss tidak ada pramusaji seperti restoran. Dalam melayani pelanggan mungkin hanya satu atau dua orang dalam satu gerai. Itu pun tugas mereka kadang memasak, meracik makanan, melayani tamu, menerima pembayaran sekaligus merapihkan dan membereskan dagangan mereka. Sementara di restoran tentu butuh lebih dari dua orang untuk melakukan banyak tugas tersebut seperti koki masak, pramusaji, staf kebersihan dan mungkin manajer restoran.

Apakah anda punya pengalaman lain soal makan di gerai seperti imbiss? Silahkan berbagi di kolom komentar!