Leberknödelsuppe: Makanan Khas Jerman (2)

Leberknödelsuppe buatan sendiri, tak kalah dengan restoran. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Makanan khas Jerman yang akan saya masak bernama Leberknödelsuppe. Selain di Jerman, makanan ini juga mudah ditemui di restoran Austria juga. Makanan ini seperti bola-bola bakso dan sangat pas dimakan saat musim dingin yang sudah happening di Jerman. Maklum sekarang sudah minggu Advent pertama yang dirayakan umat Katholik di seluruh dunia.

Di restoran Jerman pada umumnya Leberknödelsuppe disajikan bersama mashed potato. Namun daripada memesan di restoran, sebaiknya kita coba sendiri. Berhasil!

Bahan-bahan:

  • Roti Baguette (roti perancis)
  • Hati sapi 400 gram
  • Bubuk oregano (satu sendok teh)
  • Susu 200 militer
  • Telur (3 buah)
  • Bawang bombay (1 buah)
  • Bawang merah sedikit saja atau tergantung selera
  • Daun seledri iris halus
  • Tepung roti (2-3 sendok)
  • Bumbu penyedap (2 sachet)
  • Air masak 3 liter

 

Bentuk adonan seperti bola. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Cara memasak:

  1. Potong roti perancis seperti dadu. Singkirkan dalam wadah tertutup.
  2. Panaskan susu dan masukkan ke dalam roti perancis yang sudah dipotong dadu.
  3. Hancurkan hati sapi yang murni, diperhatikan agar dalam hati tidak terdapat serat-serat lemak. Jika ada, sebaiknya dibuang. Jadi ini benar-benar murni hati sapi.
  4. Hancurkan bawang merah bersama hati sapi dan dua buah telur.
  5. Potong-potong lebih kecil lagi dengan tangan roti yang sudah bercampur susu tadi. Lalu masukkan ke dalam adonan hati sapi yang sudah hancur bersama bumbu tadi.
  6. Masukkan ke dalam adonan yakni satu sendok makan garam, setengah sendok teh lada bubuk, daun seledri yang diiris halus dan tepung roti.
  7. Hancurkan adonan lagi dengan tangan hingga bisa membentuk bola. Bentuk bola-bola seperti gambar dengan kedua tangan. Singkirkan dalam wadah.
  8. Masak air hingga mendidih dan campurkan bersama dengan bumbu penyedap. Atau gunakan air kaldu yang panas.
  9. Kecilkan api atau masak dalam api kecil, lalu masukkan satu per satu adonan bola hingga tenggelam. Masak hingga 25 menit.
  10. Leberknödelsuppe siap disajikan untuk 4-6 orang.


Tips:

  1. Saat membuat bulatan bola, alangkah baik tangan dalam keadaan basah.
  2. Jika tidak ada bawang bombay, bisa manfaatkan bawang merah sebagai pengganti.
  3. Untuk menghancurkan hati sapi bisa ditumbuk atau menggunakan mixer.
  4. Bawang merah diiris halus lalu bisa dihaluskan dengan mixer atau diuleg.
  5. Pilih bumbu penyedap rasa sapi agar rasa kaldu menjadi kuat.
  6. Adonan bola akan berhasil kita buat jika dimasukkan dalam air berkuah kaldu akan tenggelam, lalu sekitar 25 menit adonan bola akan naik.

“Das ist nicht mein Bier!”

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sudah lama tak berjumpa dengan abang, sahabat baikku ini. Kami pun bertemu saat saya dan suami sedang berada di Singapura, sementara abang hanya mampir sebentar. Saya tinggalkan suami yang sedang bertemu dengan teman sesama Jerman dan menjumpai abang di restoran Jerman di sekitar Orchad Road.

“Wie geht’s Dir, Anna?”, sapa abang. Takjub saat ia berbahasa Jerman kala berada di luar Deutschland.

“Danke. Mir geht’s super. Und Du?”, sahutku sambil cipika cipiki ala orang München.

“Alles gut, Anna.”

“Tumben abang ajak aku minum bir, bukan kopi.”, tanyaku penuh selidik.

“Ich vermisse Deutschland, Anna.” Kami pun berdua tertawa.

Abang memesan bir sementara aku merindukan Bretzel, roti bertabur garam kesukaanku.

“Apa rencanamu selanjutnya, Anna?”

Berat bagi setiap orang untuk menghadapi perubahan dalam hidup. Siapa sangka bahwa semua berubah begitu cepat. Siapa sangka bahwa rencana tak semulus kenyataan. Tak ada yang bisa menduga kapan perubahan itu terjadi. Kesiapan menghadapi perubahan seharusnya diiringi juga kesiapan mendengarkan opini orang lain.

“Keine Ahnung.”, jawabku tidak tahu.

“Dengar Anna. Der Mensch denkt, Gott lenkt. Verstehest Du?”

“Bang, ini Asia. Bukan Jerman. Orang selalu ingin tahu urusan orang lain. Mengapa begini? Mengapa begitu? Mereka tak tahu bahwa semua ada alasan dibalik perubahan hidup.”

“Das ist nicht mein Bier! What others think of me is not my bussiness. Jangan dengarkan orang lain berbicara tentang perubahan hidupmu! Sebenarnya yang kau takuti adalah opini orang lain, bukan perubahan hidup itu sendiri.”

Gayanya yang lugas dan apa adanya membuatku terkagum-kagum pada sahabat baikku ini. Ia pun meminum bir di hadapannya sedikit demi sedikit sambil mengamati orang lalu lalang di sekitar restoran kami. Bir ukuran satu liter, kini tinggal setengahnya. Luar biasa!

“Kamu tahu ‘kan filosofi orang jerman tentang ‘Das ist nicht mein Bier’?”

Aku pun mengangguk tanda mengerti.

Dalam hidup ada kalanya perubahan dimulai dari kejadian terburuk untuk membentuk pribadi yang terbaik.

“Tak semua orang memahami perubahan yang terjadi dalam hidupmu karena mereka tak mengetahui alasanmu. Kau tak perlu membuktikan kepada semua orang tentang alasan perubahan hidup. Buktikan kepada diri sendiri bahwa kamu mampu menghadapi perubahan.”

Aku tertegun sejenak tentang kata-katanya yang bijaksana.

“Jadi kalau mereka bilang kamu begini. Kamu begitu. Ambil bir kayak gini dan bilang ‘Das ist nicht mein Bier’.” Kata abang sekali lagi sambil mengangkat bir dan mempraktekkannya di hadapanku.

Aku pun merenungkan beberapa saat sambil menghabiskan Bretzel, roti kesukaanku.

“Fertig, Anna?”, tanyanya padaku mengakhiri pembicaraan. Aku mengangguk sambil ia menepuk bahuku untuk meyakinkanku.

Aku menghabiskan minumanku. Abang sudah terlebih dulu menghabiskan birnya.

Kami berpisah di stasiun MRT Orchad Road. Abang naik MRT menuju Changi Airport sementara aku masih menunggu suamiku.

Perubahan dalam hidup tidak serta merta membuat orang siap menghadapinya. Terkadang mereka juga tak siap menghadapi komentar orang lain. Menghadapi perubahan hidup bukan berarti bebas komentar dari orang lain. Suka atau tidak sebagai makhluk sosial kerap kita masih diberi komentar-komentar baik positif maupun negatif. Dan mereka adalah bagian yang tak luput dari perubahan.

Bir Jerman

image

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Anda suka minum bir? Datanglah ke jerman terkenal punya harga murah untuk bir di daratan Eropa. Tidak diragukan lagi Jerman memiliki lebih dari 300 varian bir yang patut dicoba rasanya. Bir seperti minuman untuk segala musim di jerman, meski rasa terbaik untuk merasakan sensasinya ada di musim panas. Bahkan melalui perayaan “Oktoberfest” yang biasa digelar di akhir september hingga awal Oktober setiap tahunnya, anda seperti dibawa ke dalam “surganya bir”.

Jerman terkenal dengan varian bir lokal yang memang rata-rata hampir diproduksi di tiap region dan memiliki rahasia tersendiri dalam pembuatannya, meski di awal tahap produksinya semua sama. Namun jika anda ingin mencoba bir lokal, anda dapat mencoba seperti “Paulner” dan “Löwenbrau”. Ada juga yang biasa disukai “Pils”, kependekan dari Pilsener.

Di lower Rhine, ada bir “Altbier” yang masih diproduksi tradisional. Kemudian di selatan, ada “Weizenbier” sementara ada bir versi Berlin, “Berliner Weisse” atau white beer yang biasa disajikan dengan fruit juice. Di Berlin ada juga “Schultheiss”, “Berliner Kindl” dan “Engelhardt”. Jika anda suka bir hitam, boleh dicoba “Dunkel” atau “Schwarzbier”. Jadi memang bir di jerman juga punya spesialisasinya, entah dari soal warna, rasa, penyajiannya hingga momentum minumnya.

image

(“Wiessbier” buatan Erdinger yang juga cukup kesohor hingga terjual di Indonesia juga. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Di wilayah Bayern terdapat pabrik tertua pembuatan bir sejak tahun 1040 di Fresing, hanya 25 menit dengan kereta dari pusat kota München. Tak jauh dari Freising, Erdinger juga memproduksi bir yang juga populer bahkan saya berhasil menemukan merek bir ini di Indonesia juga.

Bir memang jadi minuman lokal khas Bayern hingga disajikan secara massal saat Oktobrfest. Bir biasa disajikan dengan ukuran 1 liter atau gelas jumbo. Wow! Bagi mereka pecinta bir, Bavarian menawarkan “Löwenbräu”, “Hofbräu” dan “Paulner” dan masih banyak lagi.

image

(Lokasi Theresienwiese yang biasa dijadikan perayaan Oktoberfest yang masih tertutup salju di bulan Februari. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Oktoberfest terkenal sebagai tradisi terbesar yang diselenggarakan setiap tahunnya. Konon tradisi ini berawal dari niat untuk merayakan pernikahan Raja Ludwig (kemudian menjadi Raja Bavarian) dengan istrinya, Therese von Saxe-Hildburghausen. Memang perayaan Oktoberfest sendiri dirayakan di hall luas di Theresienwiese, München dan biasanya diakhiri pada hari minggu di minggu pertama Oktober.

Jika anda tertarik, anda harus mempersiapkan akomodasi jauh-jauh hari mengingat membludaknya turis yang ramai dengan tingkat hunian yang tinggi.

image

(Biergarten di München. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Oh ya, disini juga ada “Biergarten” yaitu tempat dimana kita bisa minum bir dalam ukuran jumbo sambil relax atau santai. Ada juga istilah “Bier Kellner” yakni mereka para pramusaji yang menyediakan bir jumbo kepada pelanggan. Bier Kellner paling banyak wira wiri jika musim oktoberfest. Tahun 2012 lalu tercatat Bier Kellner perempuan di Oktoberfest berhasil membawa gelas bir jumbo berikut isi birnya sebanyak 13. Walah…

Sebagai negara pecinta bir, sampai ada slogan “Das ist nicht mein Bier” yang kerennya dalam bahasa inggris “That is none of my business!”. Dalam bahasa indonesia slank diartikan “Emang Gue Pikirin” atau “Masalah buat lo!”. Bagaimana tertarik datang ke Jerman?