Jika Ada Orang yang Tak Mau Bersalaman, Jangan Tersinggung! Ini Alasannya

Ilustrasi berjabat tangan. Foto diambil di negara Liechenstein.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah Indonesia itu artinya adalah setiap negara atau tempat berlainan adat kebiasaannya. Kita harus menjunjung kultur dimana kita berada. Salah satunya adalah soal kebiasaan berjabat tangan sebagai salam penutup atau pembuka pertemuan. Ini menjadi topik diskusi saya bersama teman multi bangsa di sini.

Sebagaimana anda tahu, Jerman kini menjadi negeri impian bagi banyak orang di dunia. Saya di sini bisa berjumpa dengan aneka ras bangsa di seluruh dunia. Kebiasaan tiap orang pun berbeda-beda. Seperti tema diskusi kami adalah berjabat tangan. Ada orang yang suka berjabat tangan saat bertemu dengan siapa saja yang dikenal dan tidak dikenal. Ada orang yang tak hanya berjabat tangan saja tetapi juga memeluk. Lain lagi ada yang berjabat tangan, menepuk bahu atau mencium pipi kanan kiri. Lain orang lain kebiasaan. Itu pemikiran saya.

Suatu hari kami duduk di kafe. Seorang teman yang sedang hamil bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan dokter kandungan dan dokter tersebut tidak ingin berjabat tangan saat dia memberikan tangannya. Lalu satu sama lain di antara kami pun mulai mengajukan pendapat dan pengalaman tentang kebiasaan berjabat tangan. Ini menjadi diskusi yang hangat dan saya bagikan kepada anda.

Ada tiga hal berjabat tangan yang harus diperhatikan. Itu berarti jika ada orang yang tak ingin memberikan tangannya untuk berjabat tangan, sebaiknya anda tak perlu tersinggung. Bisa jadi berikut salah satu alasannya.

1. Budaya

Ada budaya berjabat tangan itu wajib dilakukan saat bertemu orang lain, tetapi ada juga budaya berjabat tangan hanya dilakukan hanya pada orang yang dikenal akrab saja. Jika kita mengenal orang tersebut, maka berjabat tangan menjadi salam pembuka tanda persahabatan. Sementara ada juga berjabat tangan sebagai awal perkenalan yang hangat dalam relasi antar manusia.

Berjabat tangan dalam sudut pandang budaya juga dikatakan oleh teman lain bahwa itu semua tergantung gendernya. Teman lain mengatakan ada perempuan yang tidak ingin berjabat tangan dengan sesama perempuan, melainkan salam pembuka dilakukan dengan berpelukan atau cium pipi kanan kiri. Sedangkan berjabat tangan yang dilakukan perempuan hanya pada pria saja, untuk menghindari pelukan dan cium pipi kanan kiri. Begitulah lain budaya lain kebiasaan ‘kan.

Budaya lain yang diceritakan teman lain asal Afrika adalah berjabat tangan dimulai dari orang yang lebih tua terlebih dulu. Saya yang mendengarnya takjub juga bahwa saya terkadang tidak memikirkan usia apalagi gender saat berjabat tangan. Budaya dan kebiasaan membuat kita memahami satu sama lain bahwa ini yang membuat kita bertumbuh dan berkembang dimana pun kita berada.

Berjabat tangan menurut teman lain asal Asia menandakan suatu persetujuan atau kesepakatan. Jika kita setuju pada suatu hal maka itu ditandai dengan berjabat tangan. Hal lain juga soal jabat tangan adalah mengakhiri perjumpaan. Sedangkan teman Asia lainnya justru tidak berjabat tangan tetapi meletakkan tangan di dada saat bertemu sambil mengucapkan salam tertentu. Itu memang budaya dan kebiasaannya memberikan salam kepada orang lain.

2. Profesi pekerjaan

Menyambung berjabat tangan dengan profesi rupanya ada keterkaitan. Beberapa profesi ada yang melarang berjabat tangan karena ini bisa menghantar kuman atau hal-hal tidak dikehendaki. Seperti misalnya dokter yang memang riskan terhadap risiko penularan dengan berjabat tangan. Meski kini telah ada pencuci tangan higenis yang selalu tersedia di ruang praktik dokter, tetapi nyatanya lebih baik mencegah hal-hal tidak dikehendaki.

Ada sebagian dokter memberi salam seperti mengepalkan tangan lalu disentuhkan pada kepalan tangan pasien yang datang. Itu yang saya alami di sini. Dokter keluarga saya menceritakan bahwa mengepalkan tangan dan menyentuhkan kepalan tangannya pada kepalan tangan pasien adalah caranya berjabat tangan. Ini adalah cara kebiasaannya untuk memulai dan mengakhiri pertemuan dengan pasien.

Pekerjaan lain juga misalnya koki atau juru masak saat dia sedang bekerja. Seorang teman yang bekerja menjadi asisten juru masak dilengkapi pakaian khusus dan sarung tangan saat bekerja di dapur. Nah selama bekerja, dia tidak bersalaman ketika bertemu dengan rekan lainnya. Karena tangan punya banyak risiko penularan terhadap kuman dan bakteri yang tidak dikehendaki. Untuk menghindari hal tersebut maka dia memang tidak berjabat tangan selama bekerja.

3. Agama

Alasan lain soal berjabat tangan atau tidak adalah soal keyakinan atau agama. Dalam misa untuk umat katolik, ada satu sesi kita memberikan salam satu sama lain sambil mengucapkan salam damai. Tetapi saat saya menghadiri misa di suatu negara, berjabat tangan dengan memberi ucapan salam damai tidak menjadi wajib. Rupanya ini tidak menjadi kultur di negara tersebut. Ada yang memberikan tangannya mengucapkan salam damai, ada pula yang enggan apalagi terhadap orang di sekitarnya yang tak dikenal.

Berjabat tangan dalam kaitan keyakinan juga diutarakan teman asal Timur Tengah. Berjabat tangan tidak dilakukan antara perempuan dan laki-laki atau berbeda gender. Sesuai keyakinan, mereka hanya memberikan salam dengan cara lain dengan orang berbeda gendernya seperti menganggukkan kepala, melambaikan tangan atau memberi tangan di dada.

Kesimpulan

Berjabat tangan memang simbol persahabatan dan persaudaraan bahwa kita setara. Namun menarik soal berjabat tangan, teman saya asal Amerika yang pernah tinggal di Indonesia bercerita bahwa orang Indonesia itu begitu santun. Dia berkunjung ke suatu tempat di Indonesia, orang di sana ramah dan hangat, kata teman saya tersebut. Orang Indonesia berjabat tangan dengan hati, mereka memberi tangan lalu meletakkannya di dada mereka. Itu sangat manis, kata teman saya asal Amerika. Tidak ada jabat tangan yang begitu menyentuh selain di Indonesia, lanjut teman saya tersebut.

Lepas dari tiga hal dan penjelasannya di atas, semoga ini bisa menjadi informasi bahwa berjabat tangan itu tergantung konteksnya. Jika ada orang yang tak ingin berjabat tangan dengan anda, sebaiknya jangan tersinggung!

Advertisements

How to Understand Business Communication over Phone in Germany: Etika Berkomunikasi Profesional via Telepon di Jerman

Every country has own way to communicate for business purpose or personally communication, including in Germany. In commonly German people can make difference how to communicate in formal and non formal. To following communication professional by phone, I had some tips to assist my friends who the most are staying in my origin country, Indonesia. This written in below is only clue how to understand business communication  by phone in Germany.

Refer to my capacity on communications skill, I would like to share my experiences regarding the business communication effectively in Germany. As my second home now, I know this is contrary with all happening in my country. For example, I can accept phone anytime in Jakarta including weekend when I have had a horribly busy day to handle urgent event. But in here, they really appreciate weekend as family day. While I was working at office in Jakarta, chit chat or gossip by phone could be accepted as long as you have no problem in working performance. In here, every one can notice me at work when I got calling only for chit chat. They are really serious in working. No time for chit chat or gossip.

They are surely selective to communicate with people especially in business area or working issue. They will use “Sie” as you, not “Du” when they use in formal speaking in working. They used to call your family name after saying “Herr” for male and “Frau” for female. In Indonesia as my country, they prefer directly call a first name after saying “Pak” for male and “Ibu” for female.

At this moment, my focused on the communication over phone in Germany, here are the tips in according to my experiences. This is only recommendations, not to bear your minds when you are in here.

  1. Do not make noisy in public area or meeting time! So you must ensure your phone on vibrate or silent mode.
  2. When you want to accept this calling, please make away to find the silent place!
  3. After saying “HALLO” then tell your family name.
  4. Do not make a gossip or chit chat on phone! Say it in directly by phone on working hours.
  5. They always like to make a professional schedule by phone. They are really strict with a schedule you made previously. This is respectful for them when you follow the plan. You change, it could be ‘disaster’ for them.
  6. Do not call regarding business matters after 5 PM and weekend!

This is still open opinion. You can drop your comments in below regarding professional communication by phone in Germany. Just two cents✌

 

Ilustrasi.

 

Tiap wilayah ada kebiasaannya. Ketika saya datang ke Seoul, Korsel 2012 saya mengamati bahwa generasi muda semua begitu sibuk dengan hape di tangan, meski mereka sedang berpacaran. Hal ini jadi bahan diskusi antara saya dengan teman sekamar dari Belgia. Nah, bagaimana dengan di Jerman?

Orang Jerman termasuk selektif dalam membangun komunikasi, terutama dengan orang asing. Orang Jerman mampu membedakan komunikasi formal dan informal itu saja, mana keperluan pribadi dan bagian mana untuk kepentingan kantor atau bisnis.

Nah, dalam urusan menerima telpon di sini maka pertama kali setelah menyebut kata ‘Hallo’ maka kita menyebutkan nama keluarga atau family name, misal “Hallo, Liwun.” Jadi tidak menyebut nama Anna di awal. Untuk meyakinkan si penelpon bahwa dia benar-benar menelpon yang dituju, maka si penerima telpon sebutkan nama keluarga dulu. Baru jika si penelpon ingin berbicara dengan ‘Anna’ misalnya maka si penelpon akan menyebutkan spesifik nama atau nama depan (vorname). Itu kebiasaan menerima telpon.

Tak semua orang Jerman suka punya hape, bilamana dirasa perlu dan sesuai kebutuhan. Bukan karena mereka tidak mampu tetapi karena mereka tidak mau. Mereka tidak suka disibukkan dengan suara panggilan telpon. Jika anda berada di sini sebaiknya pilih tanda bergetar atau silent agar membuat orang sekitar nyaman. Daripada seluruh mata akan memandang anda hanya karena bunyi suara hape anda yang annoying itu.

Etika bertelepon selanjutnya adalah menerima telepon yang santun saat anda di area publik. Daripada berteriak-teriak terima panggilan telpon, lebih baik anda menyingkir ke tempat sepi. Atau anda bisa masuk ke mobil pribadi sehingga anda bebas berteriak-teriak menerima telepon juga. Tak ada orang yang tak sopan berteriak-teriak terima telpon saat di dalam kendaraan umum bagi orang Jerman. Di bis atau kereta mereka tampak silent dengan buku/koran atau diam.

Jangan pernah menelpon ke rumah setelah jam 10 pagi kecuali anda sudah janji sebelumnya! Kebanyakan kita memakai rekaman telepon rumah untuk meninggalkan pesan. Anda pun terbiasa untuk membuat janji bertemu misal periksa ke dokter, dengan menelpon terlebih dulu kecuali dalam keadaan gawat darurat. Anda akan sangat dihargai bila memenuhi waktu perjanjian tepat waktu di sini. 

Lalu setelah jam 5 sore untuk berbicara urusan kantor atau urusan pekerjaan, eits tunggu dulu. Jika rekan anda sudah memperbolehkan untuk ditelpon, tak masalah tetapi kebanyakan mereka memasukkan dalam mail box dan akan membalas telepon anda bila dirasa perlu. Jadi amati setiap aturan dari jam telepon bekerja di tiap instansi karena tidak mungkin seperti di Indonesia berlaku jam kantor dari jam 08.00-17.00. Bisa saja beda hari beda jam pula pemberlakuan terima telepon untuk urusan pekerjaan.

Lalu kebiasaan menerima telepon layaknya miss ringring bukan kebiasaan orang Jerman. Jika ingin bergosip atau berbicara panjang lebar maka mereka lebih pilih bertemu langsung ketimbang via telepon. Semestinya bicara di telepon adalah poin yang penting dan diperlukan. Bagi anda cukup via SMS atau teks singkat, lakukan itu ketimbang mereka menerima telepon apalagi saat bekerja. Jika itu penting dan urgent, mungkin anda bisa pertimbangkan telepon.

Jika ingin telepon ke orang yang dituju, sebutkanlah Herr untuk pria dan Frau untuk perempuan. Lalu pastikan nama keluarga, bukan nama panggilan meski anda adalah teman baik sekali pun. Setelahnya anda bisa bercakap-cakap seperti biasa, namun tata krama mereka di telepon begitu.

Baca https://liwunfamily.com/2014/04/08/mencermati-gaya-komunikasi-orang-jerman/

Kesimpulannya

  • Gunakan salam pembuka saat menerima telepon yakni HALLO!
  • Beritahukan nama keluarga lebih dulu (family name) bukan nama panggilan.
  • Berbicara yang santun, direct atau tidak berbelit-belit saat telepon.
  • Terima telepon di tempat yang sepi. Jika di area publik, menyingkirlah!
  • Beri nada getar atau silent pada hape anda saat rapat atau di kendaraan umum.
  • Jika urusan pekerjaan menelponlah tidak saat wiken, hari libur atau setelah jam 5 sore.

Bagaimana ada pendapat?