‘Staycation’: How to Spend Weekend with Family at Home

Last weekend I had offered five things to recharge your body in this link. Refer to weekend happening, my opinion is about ‘staycation’. Staycation is only term to describe how to spend your weekend meaningful with family or your beloved ones at home.

Read https://liwunfamily.com/2017/12/03/do-you-need-a-recharge-here-are-five-ideas-to-think-about/

This aims actually to urge people to feel togetherness and family bonding without staying out from home. Weekend is the right time to make it true. Vacation sounds more money, but not for ‘staycation’. The point is only how to make a lovely time and joyful with family at home. So it is meant you should do what you want being your family.

We called it family. It can be your parents, your spouse, your kids, your siblings, your best friend etc. That is how you treat them as part of your life in this time.

To figure out the idea, here the list is written as suggestions within weekend.

1. Cooking and eating 

Who loves cooking? You? Go ahead! Maybe it’s not you. You can decide it who will be the person in charge to be chef at home. Don’t bother yourself with this task! Make it simple basic home cooking. Cooking together can be a good idea.

I’ve tried this idea on Sunday after church time. I did cooking with my own style and recipe with my German family in here. You know it is not easy to accept my Asian foods. The good point, they tried my foods then this was awesome taste.

So cooking and eating in family are not only a philosophy or ritual to remain together. This meant the traditionally way to talk each other across generations. This moment is automatically being precious for every one in family.

2. Watching movie

What is your family movie? A family drama, funny movies or the genre legend film should be options to watch together at home. Watching movie at home is the way to discuss and define family values. What is the underlying message in the movie? That is sample question that you can ask to kids.

Movie is the attractive and informative media to improve the communication between parents and kids. This can be opportunity to train our children regarding the values in life. Watching movie at home is inexpensive things to spend weekend with family.

I know you can consider such movies age-appropriate for kids based on your culture. I think there is always valuable lesson learned for life taken from movies.

3. Do sports

In wise wisdom, sports that bring family in togetherness. Sports is the way to be more active physically in exercise together. Don’t be serious to make rule in playing together! A rule or obligations at games can be obstacles to exercise instead of chance within family.  Allocate time in weekend to walk around your area home. Do you have fitness properties at home? Maximize it to bring family time.

Doing sport in family is the way to promote healthy life and well-being. This is not benefit only for yourself, but involved family members. This activity reduces stress only, also it can promote family bonding.

4. Reading books

Family is the first instituion of learning. Reading books parents with kids is the best way to stimulate their imagination and develop their knowledge. Weekend is the right time to make it happen with your kids. After reading, you can discuss the moral of book. The lesson learned from book encourages children to understand over the world.

5. Play fun games

Playing games at home is the priceless way to spend your weekend. How to develop the family fun games? Choose the game that can be played with a few more than two players. Make up the games with own friendly budget entertainment. The point of games is only how to interact each other while creating beautiful memories.

Who wants to share another ideas? Drop your comment please!

Sometimes we stuck in weekend to stay out from home. We choose to make relax and waste money only for awhile. I just offered to you how to figure out the new ways to stay together with family at home.

Have a blessed Sunday on second week of Advent!🌲

 

 

Advertisements

Alami 7 Tahun Dalam Kesialan, Jika Lakukan Ini

Ilustrasi tangga.

Ilustrasi di kafe.

Suatu kali saya dan teman baik saya, orang Jerman janji bertemu di kafe. Saya menyetujui untuk bertemu karena sudah lama tidak bertemu. Dulu bertetangga baik, sekarang kami berjauhan rumahnya. Beda budaya tidak masalah, itu prinsip saya namun saling menghargai satu sama lain. Saya kadang dapat banyak inspirasi cerita yang bisa dituliskan dari berteman. Itu sebab saya suka berteman dengan mereka dari berbagai negara.

Di depan kafe, saya menunggu dia datang. Lima menit sebelum rencana pertemuan, dia sudah di depan kafe. Kami cipika-cipiki atau melakukan ‘Bussi Gesselchaft‘ layaknya sahabat yang lama tak bertemu. Kemudian kami memasuki kafe dan menentukan tempat duduk. 

Saat menuju posisi duduk yang dimaksud, tangan saya ditarik. “Warum?” Saya tanya mengapa tangan saya ditarik. “Das ist kein gehweg.” Katanya ini bukan jalan, lalu saya diajaknya menuju jalan gang lain ke posisi duduk yang dimaksud. Apa yang terjadi?

Rupanya saya terlalu antusias menuju tempat duduk dan mengabaikan bahwa ada orang yang sedang memperbaiki lampu di langit-langit kafe dengan menggunakan tangga. Anda tahu tangga yang dimaksud seperti segitiga dan ada ruang lowong di tengahnya. Saya berpikir saya akan bisa tetap berjalan di tengah tangga yang lowong itu. Normal saja kan?

Saya memang tidak memahami mitos atau takhayul. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tak lepas dari mitos. Misal di Jerman ada kebiasaan yang juga berkembang karena kepercayaan misalnya tentang perkawinan. Atau mitos memecahkan porselen dan sebagainya. Begitu pun yang terjadi saat saya akan melewati di tengah tangga yang lowong. Apa lagi ya takhayul yang berkembang?

Teman saya ini bercerita, bahwa dua puluh tahun lalu usaha restoran yang ditekuninya bangkrut. Dia punya hutang bank yang harus dibayar setiap bulan hingga beberapa tahun lamanya. Belum selesai masalahnya, dia diceraikan dan ditinggalkan oleh mantan suaminya. Dia putus asa mengatasi hidup hingga seseorang menawari pekerjaan. Dia bekerja di suatu perusahaan jasa namun hanya bertahan setahun. Dia dipecat dari perusahaannya. Lalu dia merenungi hidup setelah berbagai cobaan datang padanya.

Sambil menikmati kopi dan kue yang tersaji, dia bercerita tentang masa lalunya. Saya mengenalnya sebagai perempuan tangguh yang sudah berkeluarga dan punya suami serta dua anak yang bahagia. Pantas saja dia masih mengenakan nama keluarga yang berbeda dengan suaminya sekarang. Rupanya karena masa lalunya itu. Saya mengenal dia dengan baik saat dulu masih bertetangga dan suka mengobrol di sela-sela waktu lowong. Karena saya suka bercerita dan sepertinya dia juga senang bercerita maka kami klop sebagai teman, apalagi dia bisa berbahasa Inggris. Jadi terkadang dia membantu saya berbahasa Jerman.

Pengalaman dua puluh tahun lalu dalam kesialan berturut-turut menurut dia karena dia pernah melakukan kesalahan. Dia pernah melewati lowong tangga kala seorang karyawan di restorannya memperbaiki lampu di langit-langit. Seharusnya dia menunggu atau melewati jalur lain. Dia mengatakan selama kurang lebih tujuh tahun dia melalui badai kehidupan, namun menurut dia itu adalah nasib buruk atau kesialan. 

Awalnya saya tidak mempercayai bahwa bangsa maju seperti Jerman masih ada keyakinan takhayul seperti itu. Namun siapa sangka bahwa seseorang pernah melanggar mitos itu dan mengkaitkan pengalaman hidup. Boleh percaya, boleh juga tidak percaya. 

Perlu ada moral of story sepertinya. Setelah saya bercerita tentang takhayul itu pada suami, dia malahan tidak tahu tentang itu. Dengan bijak suami saya mengatakan bahwa hidup itu tidak selalu berjalan maju seperti yang diinginkan. Ada kala hidup bisa berjalan mundur atau berputar arah untuk mencapai yang dibutuhkan. Sepakat!

Ada pendapat?

Mengapa Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau?

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Pagi itu aku mendapat tugas membersihkan kebun belakang yang lama tidak dibersihkan. Di situ terdapat aneka tanaman dan pepohonan yang sengaja ditanam sejak jaman nenek mertua. Lalu, saya melihat ada pohon apel yang ditanam di kebun belakang tetapi buahnya tidak terlalu baik dan tak ada yang suka karena rasanya yang masam. Suami bilang bahwa bibit apel di tetangga sebelah itu sama dengan kebun kami, tetapi mengapa rasa buah apelnya berbeda? Beberapa kali kami suka mendapati kiriman panen apel dari tetangga sebelah dan kami suka rasanya. Hingga akhirnya saya dan suami berdiskusi perihal ini, mengapa rumput tetangga selalu lebih hijau. Artinya, mengapa milik orang lain selalu lebih baik (sempurna) dari milik sendiri.

Panjang lebar sambil membersihkan kebun dan berdumel soal rasa apel yang masam, suami saya menjawab pertanyaan saya secara bijaksana. Bahwa kita selalu melihat rumput tetangga selalu lebih hijau daripada milik sendiri. Dengan jenis apel yang sama, mengapa apel milik tetangga lebih enak rasanya. Karena kecenderungan kita untuk melihat milik orang lain dari apa yang kita pikirkan. Padahal milik diri sendiri juga tidak lebih baik dari milik tetangga. Hanya karena kita membayangkan apel tersebut enak rasanya, lalu begitu mudah menyimpulkan bahwa apel milik tetangga jauh sempurna dari milik sendiri.

Jadi jika yang anda pikirkan tentang orang lain adalah hal yang sempurna dan lebih baik dari milik sendiri maka anda menjawab pertanyaan tersebut, rumput tetangga selalu lebih hijau.

Lalu bagaimana mengatasi agar rumput sendiri lebih hijau atau sama hijaunya seperti milik tetangga?

Caranya adalah BERSYUKUR! Bersyukur terhadap apa yang dimiliki dan tidak membandingkannya dengan orang lain.

Kembali ke soal rumput tetangga yang selalu lebih hijau kelihatannya, kita perlu memahami seberapa besar upaya kita agar bisa merawatnya. Saat ditanya, mengapa apel tetangga lebih enak dari milik sendiri ternyata ada banyak perawatan yang harus dilakukan, tidak sekedar menerima dan membiarkannya saja. Jadi jangan iri jika orang lain lebih hebat dari anda soal A, B atau C karena bisa jadi mereka bekerja giat untuk mendapatkannya. Ingat, setiap kerja keras akan selalu dihargai. Jika ingin rumput anda lebih hijau dari tetangga, maka hal kedua adalah kerja keras.

Selebrasi Hari Jadi dengan Suami/Isteri

Anda kenal tokoh Nazarudin, Filsuf dalam berbagai buku yang juga sering diceritakan Pastor Anthony de Mello? Dalam merayakan hari jadi, berikut kisah Nazarudin yang bisa mengingatkan anda.

Nazarudin berkata kepada Isterinya, “Dulu di tahun pertama kita menikah saat aku pulang bekerja, aku dapati engkau membawakan aku sandal dan anjing menggonggong. Kini setelah lima tahun menikah, aku pulang bekerja, aku lihat anjing membawakan aku sandal dan engkau menggonggong.” Lalu Isteri Nazarudin menyahut, “Hey, yang penting kini tetap ada yang membawakan sandal untukmu.”

blog 3

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Saya selalu ingat kisah Nazarudin, Filsuf terkenal itu tentang perkawinan saat sudah melewati setahun usia perkawinan. Ternyata tidak mudah melewati tahun-tahun awal perkawinan. Tahun lalu saat genap setahun perkawinan, saya dan suami merayakannya di Bali.

Semoga empat langkah berikut menginspirasi anda untuk merayakan hari jadi dengan suami/isteri tercinta:

1. Syukuri
Berapa usia perkawinan anda? Setahun, lima tahun, sepuluh tahun bahkan hingga tahun emas perkawinan mungkin anda bisa melewatinya bersama.Tak menjadi soal berapa pun usia perkawinan anda untuk tetap mensyukuri kebersamaan dengan pasangan saat satu hari jadi tiba, misalnya tanggal pernikahan, tanggal anda dilamar, tanggal dimana anda resmi menjadi suami/isteri, dsb. Saya dan suami mampir sebentar di Gereja di Kuta, ikut misa harian hanya untuk bersyukur tepat di hari jadi kami. Bersyukur adalah cara untuk saling mengapresiasi satu sama lain dalam suka duka perkawinan. Bersyukur bahwa dari sekian miliar pria/wanita di dunia, ada seorang yang Tuhan berikan untuk anda. Bersyukur bahwa anda dan pasangan mampu menerima kekurangan dan melewati hari demi hari dengan segala problemanya. Di kesempatan lain, saya juga mengingat pasangan lain yang merayakan selebrasi perkawinan perak dan emas dalam upacara meriah. Semua upacara syukur itu dilakukan semata-mata hanya untuk menyadari satu hal, anda dan pasangan mampu melewati berbagai krisis yang tak mudah dilalui oleh setiap pasangan suami/isteri. Ingat bahwa di masa kini, banyak pasangan yang harus menghadapi problematika perkawinan yang berujung pada perpisahan.

2. Refleksi
Apa yang telah terjadi di masa lalu dengan suami/isteri adalah berkah bukan masalah. Dengan begitu, anda saling menyadari kelemahan dan kekuatan satu sama lain. Refleksi dilakukan untuk menyadari seberapa jauh anda mampu berperan sebagai suami/isteri di mata suami/isteri, bukan sosok ideal yang didengungkan oleh berbagai bacaan. Tak ada yang sempurna, termasuk pasangan hidup anda sendiri. Jadikan hari jadi sebagai upaya refleksi untuk melihat ke masa depan secara bersama-sama, tidak lagi ke masa lalu. Mendiskusikan bersama apa yang harus diperbaiki. Mendiskusikan kembali hal-hal yang selama ini terlewatkan dan luput dari pemikiran anda. Tampaknya sepele memang, seperti tidak merapikan tempat tidur misalnya, atau membalas pesan singkat dengan segera tetapi jika tak pernah  dikomunikasikan bagaimana bisa dapat solusi.

3. Rayakan
Dimana anda akan merayakannya? Berlibur di pantai atau menyepi di pegunungan. Dimana pun anda akan merayakannya, jadikan saat itu sebagai hari kebahagiaan. Bahwa ternyata hal yang paling membahagiakan dalam hidup manusia adalah saat mereka bersama orang yang dikasihi. Nyatakanlah perasaan bahagia anda, perasaan sayang dan cinta anda, yang mungkin sekarang sudah jarang diucapkan. Rayakan bagaimana pertama kali suami/isteri menyatakan perasaan kepada anda. Rayakan bagaimana proses lamaran menikah itu terjadi. Rayakan, bukan berarti mewah atau mahal, tetapi berbeda dari kebiasaan sehari-hari. Hal ini untuk mengingatkan kembali janji perkawinan bersama, atau tanggal hari jadi yang selama ini terlupakan.

4. Rencanakan
What’s next? Lalu apa setelah merayakan hari jadi? Rencanakan apa yang akan diperbuat di masa depan. Rencanakan bersama tentang ide-ide yang dulu sulit dikomunikasikan karena kesibukan masing-masing. Rencanakan pekerjaan, pertemanan, rumah, mobil, anak atau apa pun bersama pasangan anda. Toh, kini keputusan menyangkut kepentingan bersama, berdua.

5. Ingatkan
Mengapa anda hidup berpasang-pasangan? Karena anda memerlukan seorang yang saling melengkapi satu sama lain, termasuk saat anda lupa. Saling mengingatkan itu penting. Ingatkan jika pasangan sedang marah, agar segera reda. Ingatkan soal makan saat sedang sibuk kerja agar tak jatuh sakit. Ingatkan untuk minum obat agar tetap sehat. Ingatkan untuk tidak berbelanja berlebihan agar ada yang bisa ditabung. Ingatkan soal kewajiban kepada anak agar menghargai ayah dan ibunya. Ingatkan tugas dan tanggung jawab di rumah agar rumah selalu terawat baik. Ingatkan untuk selalu berdoa agar Tuhan selalu hadir dalam biduk perkawinan anda. Dan mungkin masih banyak lagi.

Komunikasi antar Suami Isteri

a life

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Suatu waktu ada seorang teman baik cerita tentang masalah perkawinannya ke saya. Dia baru saja menikah dengan seorang pria baik-baik yang juga saya kenal baik. Kini mereka berdua sedang menantikan anak keduanya. Namun di tengah penantian anak kedua mereka, sang Isteri datang bercerita pada saya bahwa ia sedang bermasalah dengan suaminya. Ia bertutur bahwa hampir tiap malam selama sebulan mereka bertengkar untuk sesuatu yang tidak mereka pahami satu sama lain. Lalu, saya pun jadi bingung mendengarnya.

Sebenarnya, saya tidak ingin menanggapi persoalan pribadi mereka yang saya kenal baik, entah suami dan isteri. Ketika saya berusaha meninggalkan curahan hati isteri, ia pun menarik tangan saya dan meminta saya untuk mendengarkannya. Alasannya satu karena saya dianggapnya ahli komunikasi. Jadi persoalannya adalah komunikasi suami dan isteri. Saya pun menanggapinya, meski komunikasi adalah pekerjaan saya namun prakteknya komunikasi suami isteri tidak seperti dalam pekerjaan.

“Hello Mbak, gimana saya dengan suami yang berasal dari dua negara dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Kami berdua kadang-kadang juga mengalami kebuntuan komunikasi karena perbedaan bahasa dan budaya yang jadi melatarbelakangi. Hanya satu yang membuat kami terus bersama adalah saling mengerti satu sama lain.”

Apa ada ilmu komunikasi antar suami isteri?

Intinya dalam komunikasi antar suami isteri adalah

1. Saling memahami satu sama lain
Meski bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu buat kami berdua, saya dan suami. Intinya memang cuma bahasa Inggris yang bisa menjadi bahasa pengantar satu sama lain. Apakah suami dan saya jago berbahasa Inggris? Jawabnya tentu tidak. Kami kerap mengalami mis komunikasi karena tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan. Ternyata komunikasi tidak harus berbahasa yang sama, sepanjang kita bisa memahami apa yang disampaikan oleh pasangan, sepatutnya komunikasi sudah terjadi. Komunikasi adalah target memahami pesan yang kita sampaikan. Jadi bersyukurlah jika anda dan pasangan berasal dari bahasa Ibu yang sama. Minimalisir segala perdebatan dan diskusi hanya soal komunikasi. Sebenarnya komunikasi apa yang anda maksud hingga bermasalah? Tak selamanya komunikasi itu selalu berawal dari suara mulut dan telinga untuk mendegarkan. Gunakan hati anda juga untuk memahami. Upayakan semua panca indera anda bekerja, agar pesan tidak hanya harus diterima tetapi juga dipahami.

2. Saling memaafkan dan mengampuni satu sama lain
Tak melulu komunikasi itu lancar seperti jalan tol. Bisa jadi komunikasi macet. Bisa jadi komunikasi menimbulkan masalah dan konflik. Komunikasi antar suami isteri adalah komunikasi untuk bisa saling memaafkan dan mengampuni satu sama lain. Maafkan suami, jika ia lupa tanggal ulang tahun anda. Gunakan isyarat komunikasi bahwa hari itu adalah hari ulang tahun anda. Ampuni isteri, jika ia lupa membuatkan sarapan dan kopi pagi sebelum berangkat ke kantor. Beri sinyal lewat sms, “Kayaknya ada yang lupa buatkan sarapan pagi deh ”. Upayakan komunikasi bukan hanya sebagai alat menyerang pasangan, tetapi juga komunikasi menjadi sarana untuk mendamaikan, memaafkan dan mengampuni pasangan.

3. Saling mendengarkan satu sama lain
Jika anda sudah mengetahui kodrat suka berbicara alias cerewet, maka komunikasi juga menjadi penting untuk saling mendengarkan satu sama lain. Beri kesempatan pasangan untuk mengutarakan pendapatnya bila selama ini kita terlalu mendominasi pembicaraan. Mendengarkan penuh perhatian artinya kita melibatkan diri dalam percakapannya. Mendengarkan aktif berarti kita merespon hal-hal yang disampaikan. Konon hal terindah dalam komunikasi suami isteri adalah saat keduanya bisa saling mendengarkan satu sama lain.

4. Saling berbagi satu sama lain
Komunikasi suami isteri artinya bila kita bisa berbagi satu sama lain tentang pengalaman keseharian. Hanya pasangan kita, tempat untuk kita berbagi keluh kesah setiap hari. Bagikanlah segala pengalaman menyenangkan dan menyedihkan lewat berbagai komunikasi kepada pasangan. Meski kisah yang anda alami adalah hal yang sepele, tetapi kisah yang anda bagikan menjadi luar biasa karena berbagi cerita adalah bentuk eksistensi relasi suami isteri. Berbagi cerita akan menularkan virus kepada pasangan untuk juga melakukan hal yang sama seperti anda.

5. Saling membantu satu sama lain
Komunikasi juga meliputi saling membantu sama lain, artinya bantu pasangan untuk bisa mengkomunikasikan pengalaman, perasaan dan pendapatnya. Komunikasi lisan menjadi sulit dilakukan, gunakan berbagai saluran komunikasi agar komunikasi bisa berjalan. Saya pernah merasakan pedihnya hubungan jarak jauh (long distance relationship), tetapi komunikasi membantu kami memahami apa yang sedang terjadi di sana dan di sini. Saat komunikasi terjadi, seolah-olah tak ada jarak yang membentang di antara kami. Jadi gunakan komunikasi untuk saling membantu sama lain dengan pasangan, agar tetap terhubung.

5 Perubahan Setelah Menikah

wp-image-1427468669

 

Memasuki kehidupan baru pernikahan bukan perkara mudah bagi setiap orang, apalagi bagi mereka yang baru pertama kali menjalani mahligai perkawinan. Pernikahan bukan soal perubahan status dari yang semula “single” menjadi “married”. Pernikahan memberi rasa sensasi yang berbeda bagi setiap orang setelah ia bergumul untuk memantapkan pilihan menikah.

Mengapa demikian? Karena pernikahan pastinya akan membawa perubahan bagi setiap orang. Sadar atau tidak, perubahan bagi mereka yang menikah adalah proses yang mesti dilalui agar pilihan hidup menikah bukan sekedar keterpaksaan menikah karena umur, status, materi atau desakan pihak lain.

Perubahan yang mungkin terjadi usai menikah seperti yang dialami kebanyakan pasangan berikut ini:

1. Perubahan berat badan.
Banyak orang beranggapan tubuh perempuan paling rawan mengalami peningkatan usai menikah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari isu pemakaian alat kontrasepsi, perubahan hormon hingga gaya hidup yang permisif. Tak heran mereka yang memperhatikan penampilan anda, akan takjub bahwa berat badan anda akan bertambah. Baik pria maupun perempuan menganggap penambahan berat badan bagian dari perubahan perkawinan yang menunjukkan kepuasan. Benar demikian? Namun bukan berarti mereka yang lebih kurus usai menikah tidak merasa puas. Sejauh ini belum ada studi kaitan antara besaran berat badan dengan kepuasan pernikahan.

2. Perubahan pola pikir.
Dahulu sebelum menikah pola pemikiran dan tanggungjawab hanya untuk diri sendiri sekarang usai menikah tentu berbeda. Anda perlu melibatkan pasangan hidup dalam berpikir dan memutuskan pilihan, meski keputusan tersebut hanya menyangkut persoalan anda sendiri seperti pekerjaan, hobi dan minat, pertemanan, dsb. Anda pun kini tak lagi menyatakan “saya” tetapi “kita” yang berarti anda tidak seorang diri dalam berpikir dan bertindak.

3. Perubahan pengelolaan keuangan.
Anda dan pasangan mulai memikirkan masa depan bersama yang menyangkut urusan uang. Dahulu saat masih “single” anda bisa dengan bebas membelanjakan kebutuhan dan kesenangan pribadi. Sekarang saat menikah, anda mesti memikirkan mana yang menjadi prioritas untuk dibelanjakan. Anda juga perlu mendiskusikan perihal keuangan dengan pasangan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Masalah finansial bisa menjadi batu sandungan dalam relasi suami isteri jika tidak dipahami dengan baik usai menikah. Ingatlah bahwa menikah bukan soal peningkatan atau pengurangan finansial anda tetapi masalah tanggungjawab untuk masa depan bersama.

4. Perubahan waktu kebersamaan dengan teman/sahabat.
Dahulu saat “single” anda bisa bebas nongkrong dan menghabiskan waktu bersama teman/sahabat. Kini anda harus memikirkan bahwa menikah memberi anda tanggungjawab baru. Kebebasan yang bertanggungjawab dan punya batasan usai menikah adalah perlu sehingga tidak menimbulkan konflik dengan pasangan di kemudian hari. Anda yang menikah mulai berubah mengatur jadwal pertemuan dengan teman/sahabat. Pasangan yang baik adalah mendukung kebebasan bertanggungjawab bersama sahabat/teman dibandingkan membatasi atau melarangnya.

5. Perubahan peran.
Anda yang sudah menikah pun sudah bertambah peran menjadi suami atau isteri. Anda pun dipersiapkan untuk berperan sebagai orangtua bagi anak-anak anda nantinya. Perubahan peran ini tentunya tak mudah dihadapi bagi mereka yang menikah sehingga tak jarang mereka memilih menunda memiliki anak.

Kesimpulan

Perubahan setelah menikah tiap-tiap orang tidak bisa digeneralisasikan. Saya menuliskan berdasakan hasil diskusi dan pengamatan dengan teman-teman. Pastinya perubahan setelah menikah menunjukkan perubahan kepribadian dalam diri seseorang. Apakah dia berubah lebih baik atau malah berubah lebih buruk setelah menikah? Hanya orang-orang terdekat dan sekitarnya yang mengenalinya.

5 Hal Ini Bisa Jadi Tidak Siap Menikah

wpid-1-2.jpg
Siapkah anda berkomitmen? Sumber foto: Dokumen pribadi

Hidup ini adalah sebuah keputusan dari pilihan-pilihan yang ditawarkan di dunia ini. Begitu pemahaman saya, termasuk menikah. Memutuskan menikah mudah tetapi kesulitan selanjutnya adalah memelihara keputusan itu sehingga menjadi “kontrak batin” dengan pasangan hidup. Disebut pasangan hidup karena anda akan menghabiskan hidup bersama pasangan dalam suka dan duka. Ini yang berat.

 

Nah, ada alasan mengapa buat sebagian orang menikah menjadi hal yang menakutkan. Sebagian besar dari orang yang saya tanyakan menjawab, tidak siap.

1. Tidak siap berkomitmen
Usai menikah, anda tidak seperti kala waktu berpacaran. Anda bisa marah dan mengancam putus. Yang terjadi kemudian putus nyambung, putus nyambung. Menikah tidak seperti itu. Anda harus berbeda saat marah. Jika anda menghentikan hubungan dengan pasangan, tidak lagi seperti pacaran, tapi anda akan menghadapi segudang masalah lainnya. Menikah adalah sebuah komitmen dua orang yang terlibat dalam institusi yang kelak akan disebut keluarga. Komitmen itu tidak sekedar janji dengan pasangan tetapi juga janji yang anda ucapkan di hadapan Tuhan (melalui nikah agama), orangtua dan keluarga besar. Selain itu juga memiliki konsekuensi hukum, karena pernikahan anda tercatat secara hukum administratif. Tidak siap berkomitmen berarti kebebasan anda terancam. Bisa jadi seperti itu pemikirannya. Oleh karena itu, komitmen pernikahan disebut janji suci.

2. Tidak siap secara finansial
Ada yang berpikir bahwa menikah akan menyelasaikan masalah finansial anda. Belum tentu begitu. Baik lajang maupun berumahtangga sama-sama punya masalah finansial. Sebelum menikah, anda misalnya sudah dihadapkan pada biaya pernikahan. Setelah menikah muncul lagi biaya-biaya hidup yang ditambah dengan hadirnya anak dan kompleksnya biaya tak terduga lainnya. Tetapi memang begitu pernikahan. Dengan menikah, anda diharapkan mampu mengelola keuangan anda sehingga mandiri. Jika masih bergantung pada orangtua, saudara atau orang lain secara finansial, coba telisik lagi, apakah anda sudah siap menikah?

3. Tidak siap menjadi orangtua
Memang anak bukan satu-satunya tujuan pernikahan tetapi siap atau tidak, menikah akan menggiring anda sebagai orangtua. Peran orangtua tidak ringan. Kerap pasangan yang sudah menikah memutuskan untuk menunda dulu memiliki anak agar siap menghadapi peran selanjutnya sebagai ayah dan ibu.

4. Tidak siap berkorban
Jika sudah menikah, banyak hal harus dikorbankan. Waktu dan tenaga dicurahkan agar kelanggengan dan harmonisasi pernikahan berjalan mulus. Teman saya yang sudah menikah berujar, pengorbanan terbesar usai menikah adalah korban perasaan, meninggalkan ego pribadi dan memikirkan “kita” anda dan pasangan, bukan diri sendiri. Memutuskan menikah berarti mengorbankan kebebasan anda untuk sebuah pilihan hidup bersama yang tak mudah. Ini yang masih sulit. Tak jarang orang meninggalkan pernikahan karena belum bisa mengorbankan kebebasan mereka.

5. Tidak siap akan perubahan hidup
Saya belum cek data berapa besar pengaruh perubahan hidup usai menikah, tetapi yang jelas berdasarkan pengamatan dan testimoni dari orang sekitar, menikah membawa perubahan. Perubahan fisik tentu akan mudah terlihat, misalnya usai menikah mereka mengalami kenaikan berat badan. Namun yang tidak disadari perubahan non fisik yang memang tidak terlihat tetapi dirasakan betul oleh orang yang mengenalnya. Seharusnya menikah memberikan perubahan hidup yang lebih baik dan positif dibandingkan saat masih melajang. Tentunya tidak setiap orang dapat menerima perubahan hidup yang menurut mereka sudah aman dan nyaman. Satu hal, perubahan hidup usai menikah akan mempengaruhi kehidupan relasi anda selanjutnya. Siapkah anda?

Ketidaksiapan menikah tidak ditentukan oleh usia, budaya, ras/suku, pola asuh, pergaulan tetapi faktor internal personal, hanya anda dan Tuhan yang tahu jawabannya.

Hambatan Komunikasi dengan Pasangan

image

(Hal terpenting dalam komunikasi dengan pasangan adalah kemampuan memahami apa yang tidak dikatakan)

Jika waktu lalu, saya membahas tuntas tentang 7 hambatan komunikasi pada umumnya dalam link berikut https://liwunfamily.wordpress.com/?s=hambatan+komunikasi

Kini mari kita kupas hal-hal yang menjadi hambatan komunikasi dengan pasangan, suami/isteri sebagai orang yang kita cintai.

1. Budaya
Jika anda dan pasangan berlatarbelakang budaya yang sama, tentu tidak menjadi masalah. Jika anda dan pasangan berasal dari budaya yang berbeda, maka suami/isteri perlu saling memahami. Misalnya, konflik komunikasi yang kerap terjadi dengan rekan saya yang baru saja menikah dengan pria WNA. Si wanita Indonesia terbiasa basa-basi dalam menyatakan pendapat, sedangkan suami yang WNA ingin “to the point”.

Budaya akan membentuk kebiasaan berkomunikasi dalam diri individu tersebut seperti tutur kata, isi pembicaraan dan gaya bicara. Jadi wajar jika kita menemukan hambatan dalam berkomunikasi yang dikarenakan budaya. Kenali budaya pasangan sebagaimana waktu masih berpacaran dulu.

2. Waktu
Pernah mengalami konflik karena salah menyampaikan pesan atau usai berkomunikasi? Bisa jadi waktu adalah penyebabnya. Tak mungkin usai bekerja, kita bercerita hal-hal yang membangkitkan emosi. Cari waktu yang tepat jika kita ingin mengungkapkan hal yang sensitif, misalnya usai makan malam. Atau, atur waktu dengan pasangan agar tidak salah momentum.

3. Teknologi
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan anda tahu dan paham tentang teknologi. Pasalnya teknologi berkembang setiap saat. Pahami dulu mengenai kecakapannya memanfaatkan alat komunikasi. Lalu pahami juga situasi yang terjadi, misalnya hujan kadang menjadi penghambat penerimaan pesan.

4. Wawasan
Jangan paksa juga pasangan memahami cerita atau keluh kesah anda karena bisa jadi pasangan tidak paham tentang topik anda. Pahami hal-hal yang menjadi minat, pekerjaan dan aktivitas pasangan sehingga kita bisa merespon dan memberikan feedback saat pasangan bercerita. Toh, kita ingin jadi pasangan yang “nyambung” atau setidaknya “tidak bodoh-bodoh” amat saat diajak bicara.

Agar tidak terjadi hambatan dalam berkomunikasi, berikut elemen-elemen yang diperlukan:

1. Jujur
Jika anda berbohong suatu saat anda tidak akan bisa menutupinya lagi. Katakan sejujurnya di awal dibandingkan pasangan tahu yang sebenarnya di kemudian hari.

2. Percaya
Beri kepercayaan pada pasangan untuk menjelaskan. Jangan memiliki asumsi atau pemikiran sepihak yang belum tentu benar. Jika anda tidak percaya pada pasangan, buat apa anda menikah? Percaya adalah kunci dari pernikahan.

3. Kerelaan untuk mendengarkan
Berilah waktu pada pasangan untuk bercerita dengan ikhlas. Toh, anda juga tidak suka bila pasangan memotong pembicaraan anda atau dia cuek saja. Perlakukan pasangan sebagaimana anda ingin diperlakukan saat bercerita. Beri kesempatan pada pasangan pula untuk menjelaskan.

4. Sabar
Seberapapun panjangnya ia bercerita atau seberapa emosionalnya anda saat dia bicara, tetaplah sabar. Jangan terpancing emosi. Akan ada giliran bagi anda untuk merespon. Jadilah pasangan yang aktif untuk meredam emosinya, bukan memancing emosinya.

5. Fokus
Jangan mengkaitkan topik pembicaraan tentang masa lalu atau hal-hal yang tidak berkaitan. Buatlah sesederhana mungkin dan tidak menggeneralisasikan suatu permasalahan.

6. Empati
Berupayalah untuk memahami pasangan dengan empati. Pahami apa yang sedang diceritakan pasangan dengan bahasa tubuh bahwa anda peduli dan mengerti apa yang dirasakan. Misalnya memeluk pasangan, meraba dengan penuh kelembutan, mengusap air matanya, dsb.