Amsterdam (4): Light Festival Show, Perpaduan Seni, Cahaya dan Urban Design yang Menarik

Amsterdam light festival.
Jalur tur warna hijau adalah pilihan saya.
Tema kupu-kupu dari artis asal Jepang.
Ini dari Korea Selatan.
Mobil hanyut karena banjir.

Musim dingin membuat malam begitu cepat datang. Jam 4 sore hari hari sudah mulai gelap namun tiap musim punya keindahan tersendiri, termasuk musim dingin. Ini pula yang membuat beberapa kota di Eropa memanfaatkannya menjadi aktraksi wisata seperti Amsterdam Light Festival. Light festival lainnya juga saya nikmati di Brussels, ibukota Belgia dan beberapa kota lain di Eropa.

Dikutip dari laman resmi, Amsterdam light show digelar setiap tahun di musim dingin yang menampilkan iluminasi mengagumkan yang melibatkan artis, designer dan arsitek dari berbagai dunia. Saat kami datang festival sedang berlangsung hingga 19 Januari 2020. Untuk tema festival kali ini adalah DISRUPT, yang bisa diartikan kekacauan tetapi bisa juga menginspirasi perubahan.

Beruntungnya saya bisa hadir menyaksikan keindahan seni dan cahaya yang dipadukan bersamaan. Ini sama seperti saat saya datang ke kota Seoul, Korea Selatan ketika ada malam festival lampion karena acara seperti ini hanya terjadi pada periode tertentu saja. Semua begitu indah menghiasi kota. Atraksi ini menjadi pilihan keluarga dimana anak-anak bergembira memperhatikan iluminasi cahaya yang dimainkam. Seperti yang saya lihat, beberapa keluarga membawa anak-anak serta dalam acara night boat tour.

Night boat tour di malam hari saat light festival terbagi dua jalur yakni hijau dan merah. Kami memilih rute warna hijau, dengan tiket harga 23,50€ per orang. Untuk tiket rute warna merah sepertinya hampir sama besarnya. Jika anda sudah memesan secara online, anda berhak mendapatkan potongan harga. Durasi perjalanan night boat tour warna hijau berlangsung selama 75 menit. Di dalam ada penjelasan dalam bahasa Belanda dan terjemahan dalam bahasa Inggris. Secara informatif, pemandu wisata yang merangkap kapten boat menjelaskan bagian demi bagian iluminasi dengan baik.

Pakaian digantungkan.
Restoran di tepi kanal pun ikut meramaikan festival cahaya.
Hanya tulisan saja sudah keren.
Tema lingkungan hidup, es meleleh dan di sini anda tidak hanya melihat es mengambang di air tetapi juga ada suaranya yang menyerupai bongkahan es meleleh.
Anda bisa melihat kan bayangan di atas yang dihasilkan dari iluminasi seniman.
Ini iluminasi seperti bayangan anak memanjat, padahal itu hanya karya seniman.
Di bawah jembatan ini, jika sepasang kekasih berciuman maka cinta mereka akan sejati. Mitosnya!

Sepanjang rute kami mendapatkan sajian cahaya yang menarik. Saya merasa ini menjadi atraksi wisata yang layak anda coba jika anda berkunjung ke Amsterdam. Amsterdam light festival dalam berbagai versi juga bisa anda lakukan. Saya melihat ada night romantic boat tour dimana ada layanan glühwein dan minuman selama tour. Tetapi untuk night boat tour yang saya lakukan di tahun ini ditiadakan minuman atas kebijakan pemerintah kota.

Untuk memesan Amsterdam Light Festival bisa dipesan secara online atau membeli langsung di tempat. Lokasi tiket dan titik keberangkatan untuk jalur merah di pusat informasi turis atau di seberang Amsterdam Central Station. Sedangkan jalur hijau berada sekitar seratus meter kemudian.

Saya hanya membayangkan jika pariwisata di Indonesia bisa menggarap ide ini. Ada banyak kota di dunia yang menjadikan wisata air sebagai aktraksi wisata yang menarik. Sungai yang bersih bukan tak mungkin akan menjaga alam tetap lestari dan mendatangkan pundi-pundi pariwisata buat wisatawan. Who knows ya!

Brussels, Belgia (1): Christmas Market Masih Ada Sampai Awal Januari dan Light Festival yang Menawan

Pohon natal besar.
Diorama kelahiran Yesus, atau die Krippe dalam bahasa Jerman.
Konser musik di pasar natal.
Kemeriahan orang menikmati pasar natal.

Setelah saya mampir di Antwerpen dan menikmati kemeriahan pasar natal maka saya melengkapi kemeriahan selanjutnya di ibukota Belgia, Brussels. Masih dalam suasana natal hingga 6 Januari 2020, liturgi Gereja Katolik merayakannya pada tanggal tersebut adalah Hari Raya Tiga Raja atau dalam bahasa Jerman disebut Heilige Drei Könige. Itu sebab kebanyakan pekerja mengambil cuti libur sampai Senin (6/1) karena hari ini masih menjadi hari libur di Jerman. Begitu pun pasar natal yang sudah berakhir sebelum natal di Jerman tetapi sebagian negara Eropa ada yang masih menggelarnya sampai awal Januari atau sebelum Hari Raya Tiga Raja.

Belgia adalah contoh negara yang masih menggelar kemeriahan pasar rakyat tahunan ini mulai awal Desember hingga awal Januari tahun berikutnya. Christmas Market di Brussels serupa dengan kota Antwerpen dan kota lain di Belgia yang berakhir sampai 5 Januari 2020. Saya memilih datang ke Christmas Market terbesar di Belgia, yakni pusat kota, Grote Markt hingga ke Grand Palace. Menurut saya, Brussels punya Christkindl Markt terbesar karena kuliner yang dijajakan pun dari berbagai belahan negara Uni Eropa. Saya bisa mendapati jajanan dari negeri Balkan misalnya. Tentang jajanan atau street foods, saya buat di artikel terpisah.

Lokasinya luas dan dilengkapi ice skating yang menjadi wahana keluarga. Di Antwerpen saya tidak berhasil menemukan ice skating tetapi di Brussels, saya menemukannya. Jajanan kuliner yang tersedia pun beraneka ragam. Sebagai kota pemerintahan Uni Eropa, jajanan pasar natal juga dipenuhi dari berbagai negara. Untuk jajanan, saya tulis terpisah. Ragam sovenir dan pernak-pernik natal pun lengkap. Aneka minuman alkohol, minuman hangat, minuman dingin hingga es krim pun ada.

Ada tenda-tenda makan dan duduk bagi pengunjung yang besar menyebabkan pasar natal ini tak sepi pengunjung dari sore hingga tengah malam. Konser natal yang dibawakan sekelompok musik pun membuat suasana semakin ramai. Ini gratis! Ditambah semarak Brussels Light Festival Show di sekitar pasar natal membuat suasana semakin mempesona.

Saya pun ikut bingung memilih jajanan yang begitu banyak dan hasrat untuk mencobanya. Harganya pun lebih terjangkau. Aneka cokelat pun memikat mata dan wajib dicoba jika kita berada di Belgia. Cokelat dikemas dengan aneka kreasi dan rasa yang memanjakan lidah siapa saja. Aroma olahan cokelat di kedai pasar natal membuat saya semakin tergoda.

Ice skating.
Brussels Light Festival.

Lights show di pertokoan dan pusat perbelanjaan.
Restoran dan jalan-jalan pusat kota dipenuhi keindahan iluminasi.
Indahnya!

Tak lengkap Christkindlmarkt tanpa datang ke kandang natal yang menampilkan drama figur kelahiran Yesus Kristus. Die Krippe ditempatkan di area Grand Palace, yang menjadi sentra perhatian turis. Kandang besar berisi diorama natal menarik atensi wisatawan untuk berfoto. Di tengah stadthall terdapat pohon natal besar dan tinggi yang meriah dan menawan. Tentu spot ini tidak ketinggalan buat siapa saja untuk berfoto ria. Meski cahaya temaram namun suasana permainan cahaya menjadi pesona tersendiri.

Saya bersyukur saat datang di kala Brussels Light Festival. Area tiap gang Grote Markt dipenuhi permainan iluminasi cahaya yang menarik. Tak lupa area Grand Palace yang menambah iluminasi dan instrumen bersamaan yang menarik para wisatawan. Anda bisa menyimaknya di cuplikan singkat video yang terekam. Keren!

Cuplikan Natal di Brussels.

Keriaan Oktoberfest 2019 yang Telah Berlalu

Patung Theresienwiese yang menjadi sejarah keberadaan Oktoberfest.

Langit mendung, tak cerah.

Meski cuaca tak mendukung, pengunjung di luar aula juga padat.

Wahana ini paling menegangkan. Anda berani?

Tahun ini saya dan suami datang ke Oktoberfest di awal Oktober. Biasanya saya datang ke acara festival budaya tahunan tersebut setiap bulan September. Tahun ini acara volkfest terbesar di Bavaria tersebut diperpanjang hingga 6 Oktober 2019. Itu sebab kami memutuskan datang menjelang penutupan.

Pertama, kondisi cuaca sungguh tidak mendukung. Rupanya sepanjang hari hujan melanda wilayah Bavaria. Kami berangkat suhu mendekati 8 derajat celcius. Padahal sekarang ini masih musim gugur. Kami urung pakai transportasi umum. Dengan begitu tidak ada acara minum bir buat kami karena kami mengendarai kendaraan pribadi. Kami berencana menikmati musik dan wahana permainan.

Begitu tiba di lokasi, hujan tak berhenti meski suhunya dua sampai empat derajat celcius lebih hangat dibandingkan sebelumnya. Saya mulai merasa kedinginan karena hujan terus mengguyur di luar prediksi. Ditambah saya memakai dirndl tanpa jaket. Lengkap sudah rasa tak nyaman dibalik keriaan volkfest yang biasanya kami hadiri. Tahun lalu kami begitu ceria dalam liputan saya di Oktoberfest 2018 ini.

Pengunjung ceria memenuhi wahana permainan.

Tiap booth di luar makanan didesain unik dan menarik.

Aula sudah penuh.

Schweinwurstl dan sauekraut.

Goulash suppe.

Kami segera parkir mobil, jaraknya tak begitu jauh dari lokasi. Biaya parkir sepanjang hari 20€. Kami pikir hujan akan berlalu, ternyata tidak. Kami segera merapat ke aula-aula yang menawarkan acara istimewa dan kuliner. Rupanya hujan gerimis membuat suasana aula menjadi lebih penuh. Pengunjung memadati aula sembari menghindari hujan di luar. Tanpa reservasi di aula, kemungkinan kecil untuk menikmati acara di aula.

Padat sekali pengunjung oktoberfest saat kami datang. Suara orang berbicara dalam bahasa bukan deutsch, menandakan pengunjung adalah turis mancanegara. Kami akhirnya hanya mendapat bangku di luar aula untuk memesan makan siang. Pemeriksaan di tiap aula begitu ketat. Demikian pula petugas jaga dan keamanan sigap dan lalu lalang menjaga kenyamanan pengunjung.

Langit mendung menggelayuti ibukota Bavaria. Namun begitu, semakin sore pengunjung semakin memenuhi acara Oktoberfest. Pengunjung membludak penuh tawa dan teriakan di tiap wahana permainan. Aula penuh bahkan ada yang sudah ditutup karena padatnya aula di dalam. Suara blaskapelle dan musik terdengar di masing-masing aula. Keriaan pengunjung di aula begitu terasa hingga pengunjung tanpa reservasi begitu sulit masuk.

Begitulah pengalaman Oktoberfest kami tahun ini yang telah berlalu.

Festival Budaya, Gäuboden Volkfest 2019 di Straubing

Musim panas adalah musim perhelatan festival budaya yang hampir di adakan di tiap kota di Bavaria, wilayah tempat tinggal saya sekarang. Puncak festival budaya nanti saat Oktoberfest, akhir September di Munich. Volkfest, biasa disebut demikian dalam bahasa Jerman merupakan perayaan keriaan warga dengan bernyanyi, makan bersama, bermain dengan berbagai atraksi hiburan yang tersedia hingga menikmati bir yang membuat warga rileks berkumpul bersama. Itu adalah hasil pemahaman dan pengamatan saya selama ini.

Baru-baru ini saya dan suami datang ke Gäuboden Volkfest yang diselenggarakan tiap tahun di Straubing. Tahun ini sudah digelar sejak tanggal 9 sampai 19 Agustus di lokasi yang bernama Gäuboden di Straubing. Volkfest yang juga masuk terbesar di Bavaria, selain Oktoberfest juga berisi pameran. Pameran sendiri tidak hanya soal budaya Bavaria itu sendiri, ada juga kerajinan, industri rumahan hingga teknologi yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Total ada 16 gedung pameran disediakan panitia. Pengunjung pun puas, termasuk saya. Menurut saya, ini memang acara budaya terbesar setelah Oktoberfest.

Seperti biasa, jika acara Volkfest seperti ini anda akan menemukan banyak orang mengenakan pakaian tradisional untuk perempuannya adalah drindl dan laki-laki mengenakan celana lederhose. Tiap harinya ada berbagai macam hiburan yang disediakan panitia yang membuat pengunjung tak pernah sepi. Ini tampak dari ribuan mobil terparkir dan banyaknya bis yang difasilitasi untuk melayani pengunjung. Kami saja sulit mencari lokasi parkir karena begitu penuh di saat wiken dan hari libur.

Agar menarik bagi semua kalangan, tentu ada hiburan warga yang meriah terutama bagi anak-anak dan remaja melalui wahana permainan yang moderen dan menggembirakan. Tersedia aneka kuliner khas Bavaria, restoran dan kafe yang melayani pengunjung. Bagi para ibu seperti saya bisa membeli aneka perlengkapan rumah tangga dan hasil makanan industri rumahan. Lengkap!

Bagaimana sejarah Gäuboden Volkfest ini sebenarnya?

Dikutip dari laman http://www.bavaria.by yang menyatakan bahwa acara ini telah ada sejak tahun 1812. Ini merupakan festival budaya terbesar kedua di Bavaria. Dahulu ini menjadi acara pameran hasil produksi pertanian tahunan di sekitar Bavaria. Namun berangsur-angsur keikutsertaan pengisi pameran beragam, seperti tahun ini saja ada pameran produksi industri rumahan dan aneka teknologi yang membantu meringankan pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Mittelalterfest, Festival Abad Pertengahan di Jerman

Lomba memanah yang menarik. Lihat kostum mereka!

Ini spanduknya.

Apa yang anda lakukan jika anda pernah hidup seperti di film Robin Hood di Eropa pula? Jika itu adalah salah satu keinginan anda, mungkin anda bisa bergabung dengan komunitas berikut yang ada di Jerman. Komunitas ini memang memiliki minat dan kesamaan gaya hidup pada masa abad pertengahan. Itu sebab saya melihat spanduk bertuliskan “grosses Mittelalterfest” yang diikuti seribu peserta. Wow!

Bermain perang-perangan seperti di film dengan perlengkapan dan kostum mirip tempo dulu.

Tenda peserta.

Tampak menyatu dengan alam, salah satu ruang makan.

Saya dan suami berkendara menyusuri kota di Bavaria yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Mata saya memandang banyak orang berpakaian seperti layaknya aktor dan aktris yang berperan di film Robin Hood. Karena kami penasaran, kami pun berhenti dan mencari tahu. Saya pun segera mendokumentasikan festival orang-orang yang punya minat pada kehidupan abad pertengahan tersebut.

Suami saya bertutur bahwa ada beberapa kolega kerjanya yang juga punya minat sama pada festival ini. Mereka mengadakan pertemuan rutin untuk berbagi kebersamaan dan kecintaan pada abad pertengahan yang sudah berlalu ratusan tahun lalu. Melalui festival yang digelar rutin, tentu mereka membawa misi untuk mengedukasi masyarakat luas tentang kehidupan di abad pertengahan. Ini hanya dugaan saya saja karena saya tak berani bertanya atau mewawancarai panitia penyelenggara.

Sepatu kayu yang dijual dan menarik pengunjung.

Salah satu ruang tidur yang terekam kamera. Tampak selimut tebal berbulu dan lilin sebagai penerangan.

Salah satu sudut ruangan yang mereka gunakan, benar-benar alami.

Oven membuat roti dari kayu.

Pertanyaan saya, apakah anda bisa bertahan beberapa lama untuk tidak menggunakan listrik, perlengkapan moderen bahkan menggenggam smartphone anda?

Saya mengamati bagaimana perlengkapan makan terbuat dari tembikar, kayu atau gading gajah. Wow! Bahkan seseorang perempuan yang saya amati berpakaian tempo dulu itu mengenakan alas kaki pun dari kayu. Sedangkan jubah-jubah pria dan wanita seperti yang ditemukan dalam film Robin Hood pun tampak dijual di sini bagi mereka yang tertarik membeli. Untuk jubah dan selimut berbulu tampak memenuhi di ruang tidur untuk menghangatkan badan. Saya mengamati juga ada lilin dan obor sebagai penerangan. Jadi jangan bayangkan ada televisi atau radio sebagai hiburan.

Untuk mengisi waktu luang selama festival sekaligus hiburan, saya mengamati sebagian kelompok duduk di suatu tenda, berdiskusi, tertawa dan bermain bersama. Kelompok lain, saya melihat sedang menyiapkan makan siang dengan membuat perapian terlebih dulu. Tak hanya itu, ada kompetisi memanah mirip seperti di film Robin Hood. Lainnya, tampak sibuk di lapangan luas mendekati panggung hiburan dengan musik atau nyanyian. Dan kelompok lain membuat kompetisi bermain perang dua kelompok dengan peralatan seperti film Robin Hood. Menarik!

Mereka tampak berbahagia dengan situasi yang sedang mereka jalani selama festival. Tampaknya ini bisa menjadi ide di saat kita jenuh dengan modernitas, festival ini memberikan makna terdalam relasi antar pribadi satu sama lain dan relasi dengan alam. Hmm…

Bagaimana menurut anda?

Suka yang Manis? Coba Yuk Jajanan Manis Kaki Lima di Passau, Jerman

Pojok wahana bermain di salah satu festival musiman.

Menjelang pergantian musim dari musim panas ke musim gugur maka ada festival yang biasanya digelar masyarakat Bavaria di sini. Puncaknya festival tentunya nanti saat Oktoberfest pada akhir September hingga awal Oktober. Tua muda dan semua senang datang ke festival karena meriah dan menjadi ajang silahturahmi. Di festival ini pula ada biergarten bagi mereka pecinta bir tentunya.

Namun kali ini saya tidak membahas keriaan para beer lovers melainkan jajanan manis yang dijual di acara tersebut. Siapa bilang jajanan manis hanya untuk anak-anak saja? Saya juga suka kok.

Apa saja

1. Lebkuchenherz

Kue yang satu ini wajib dibeli jika datang ke festival seperti Oktoberfest misalnya. Sesuai namanya, kue ini berbentuk hati (herz). Kue ini juga dikenal sebagai gingerbread. Dari namanya saja sudah ketebak, kue ini terbuat dari jahe.

Biasanya nih para remaja yang sedang berpacaran membelikannya untuk si pacar. Tidak hanya karena berbentuk hati saja tetapi tulisan yang tertempel di kue. Misalnya ‘ich liebe dich’ atau ‘meinem Liebling’ yang tentunya memberikan kesan tersendiri buat si pacar. Namun kue ini tak menutup siapa saja untuk membelinya karena rasanya yang manis dan juga hangat.

2. Kacang-kacang manis, cokelat dan gula-gula

Mandeln, kacang almond manis.

Zukrawate, permen kapas.

Untuk jajanan manis tentu tak lepas dari namanya gula-gula dan juga cokelat. Di sini cokelat bisa dibentuk dengan indah seperti menyerupai buah-buahan atau sate misalnya.

Ada juga jajanan manis yang pernah saya beli dulu saat masih sekolah. Yaitu permen kapas yang terbuat dari gula yang kemudian digiling sehingga menghasilkan kapas halus yang dikumpulkan dalam satu batang lidi. Jajanan permen kapas berkisar 1,5€ hingga 2,5€.

Kacang almond manis disebut mandeln dalam bahasa Jerman dibungkus dengan karamel gula. Rasanya tentu saja manis dan enak.

3. Crepes

Jajanan berikutnya sudah sering saya bahas. Yups, crepes adalah sejenis pancake atau panekuk yang terbuat dari tepung dan telur. Lalu ada beragam isian sesuai selera. Saya pilih yang sederhana saja yakni cokelat nutela. Setelah selesai, crepes ditaburi gula tabur. Jajanan ini sudah saya jumpai dari Perancis, Luxemburg, Italia hingga ke Hungaria.

4. Baumstriezel

Saya pernah meliput jajanan kaki lima di christmas market di Budapest, Hungaria, yang bisa dicek di sini. Di Budapest, saya tidak sempat beli. Karena penasaran, saya membelinya di sini. Namanya Baumstriezel di sini. Ini semacam kue karamel yang dibungkus dengan aneka selera pembeli. Pilihannya ada taburan kelapa, taburan cokelat, kacang almond hingga vanila. Saya pilih dengan kacang almond. Jangan tanya rasanya karena ini benar-benar enak!

5. Es krim

Terakhir, jajanan manis pasti tak lepas dari es krim. Soft es krim di sini dijual dengan berbagai rasa dan bentuk yang indah. Begitu antusiasnya saya menikmati es krim hingga lupa mendokumentasikannya dalam foto.

Jadi dari lima jajanan manis di atas, manakah yang ingin anda coba?

Donau Flammen, Festival Datangnya Musim Panas

Pesta kembang api mewarnai datangnya musim panas.

Pusat keriaan kembang api di jembatan kota Vilshofen.

Tampak kapal wisata berhenti sesaat saat pesta kembang api. Sementara di pinggir sungai terlihat banyak tenda untuk festival.

Masihkah anda ingat cerita saya soal datangnya musim panas yang dirayakan oleh masyarakat di Austria? Linknya ada di sini. Seolah tak mau kalah dengan negeri tetangga, minggu lalu dirayakan festival di sungai Donau atau yang dikenal Donau Flammen pada 6-7 Juli lalu.

Baca https://liwunfamily.com/2018/06/25/indahnya-festival-awal-musim-panas-di-austria/

Acara meriah ini diadakan di kota Vilshofen. Tidak hanya masyarakat yang tinggal di situ saja, namun para wisatawan dapat menyaksikan keindahan pesta kembang api di atas kapal wisata. Pastinya kembang api memberikan keindahan tersendiri di malam itu. Namun suara ledakan kembang api tidak mengelegar sehingga nyaman terdengar.

Di pinggir sungai tampak festival musim panas yang dihadiri banyak orang. Saya yakin setelah ini akan bermunculan festival-festival lainnya di kota lain. Ya, musim panas memberikan keriaan tersendiri.

Sedangkan di sungai donau sendiri terlihat berbagai kapal wisata. Di situ para penumpang disuguhi sajian kuliner istimewa hingga hiburan di tiap kapalnya. Acara festival donau flammen diadakan rutin tiap tahun dalam menyambut awal musim panas.

Indahnya Festival Awal Musim Panas di Austria

Tampak di atas lereng perbukitan cahaya seperti lilin di gelapnya malam.

Di sisi kiri berwarna hijau dan kanan berwarna merah adalah kembang api sementara penumpang di atas kapal tampak menyaksikan dan mengabadikannya.

Tampak empat kapal di seberang berhenti untuk menyimak festival, sementara di bukit ada sejumlah api yang menghiasi gelapnya malam.

Menyusuri keindahan sungai donau, atau yang dikenal juga dengan danube, tak habis. Beberapa kali saya menampilkan keindahan alam sungai ini dari berbagai sudut kota dan negara. Indahnya alam memang memperlihat perbedaan dari empat musimnya, termasuk musim panas. Kali ini saya memotret bagaimana masyarakat di sekitar sungai Donau di Austria merayakan awal musim panas.

Tiap musim memang memiliki kisahnya sendiri sesuai tradisi leluhur yang mungkin belum ditinggalkan meski sudah memasuki dunia yang katanya moderen ini.

Sabtu malam (23/7) festival awal musim panas digelar di lereng perbukitan yang melibatkan pasukan pemadam kebakaran setempat. Dimana tampak cahaya yang indah dan sengaja dibentuk di tengah gelapnya malam. Di sisi lain di pinggir sungai donau ada kerlap-kerlip kembang api yang indah dan menawan di langit. Indah tentunya di gelap malamnya. Semakin romantis ketika banyak orang menyaksikan keindahan festival api ini dari atas kapal yang melintasi sungai donau, termasuk saya. Luar biasa!

Penumpang dari sejumlah kapal baik berbendera Jerman maupun Austria tampak asyik menyimak keindahan festival ini. Sebagian lagi tampak mengabadikannya lewat ponsel. Di lereng bukit di atas hutan dan di sekitar sungai dengan nuansa warna-warni kembang api. Musim panas telah datang! Masing-masing kapal menghibur setiap penumpangnya dengan suguhan istimewa. Hmm, indah!

Festival awal musim panas menurut pendapat beberapa orang di sana memang selalu digelar setiap tahun. Biasanya diselenggarakan di minggu ketiga bulan Juni. Menariknya kita bisa ikut menyaksikan sembari menikmati hiburan di kapal.

Der Steffl-Kirtag di Dom St. Stephan, Wina Austria

Kamis minggu lalu adalah hari libur nasional di Jerman. Hari itu adalah hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga. Di hari itu, di Jerman dikenal juga sebagai hari Ayah. Saya dan suami mengadakan pelesiran ke Wina, Austria. Tentunya hari itu juga adalah hari libur di Austria.

Kami pun bergegas menuju ke Dom St. Stephan. Di Passau sendiri Dom St. Stephan begitu megah terbangun. Bagaimana di Wina, Austria? Itu yang mendasari kami ke sana. 

Setibanya di sana, kami menemukan lautan orang yang datang berkunjung ke Dom. Mereka mulai antri mengular masuk ke dalam Dom. Sedangkan sebagian orang berada di sekitar dom. Rupanya di luar Dom digelar acara Der Stiffl-Krittag. Tampak panggung yang jadi mimbar, belum dimulai. Ketika saya datang kamis kemarin, acara ini baru saja dibuka secara resmi. Acara ini akan berlangsung dari hari kamis kemarin (10/5) hingga Minggu (20/5). Hari Minggu besok dirayakan sebagai hari Pentakosta bagi umat Katolik seluruh dunia. 

Acara ini digelar secara meriah di sekitar Dom. Kios ala Christkindlmarkt, pasar menjelang Natal tampak dipenuhi pengunjung untuk berbelanja atau hanya tertarik mengamati aneka dagangan. Di sisi lain kios penganan dan minuman dipenuhi ragam orang yang duduk-duduk sembari ngobrol. Di dekat panggung tampak para lansia dan pengunjung duduk menikmati bir dan makanan khas Jerman. Sementara di sudut makanan terlihat area bermain anak. Lengkap!

Der Steffl-Kirtag diadakan setiap tahun sejak 2002 setelah perayaan lima puluh tahun dibukanya kembali Dom akibat sempat rusak di tahun 1945. Namun saat saya datang pun masih ada bagian-bagian Dom yang direnovasi. Artinya terus diperbaiki agar bisa bertahan dalam gerusan jaman. Acara det Steffl-Kirtag juga menjadi bagian dari penggalangan dana untuk pemeliharaan dan perawatan Dom. 

Jika anda datang setelah paskah, silahkan mampir ke Dom St. Stephan Wina! Anda berkesempatan untuk mencicipi aneka kuliner sembari menyaksikan kemeriahan acara ini. 

Semoga bermanfaat!

Landshut, Bavaria (1): Festival Pernikahan “Die Landshuter Hochzeit” yang Bersejarah

Kota Landshut diambil dari atas. Tampak menara Basilika Santo Martin.


Begitu terkenalnya Landshut dengan festival musiman 4 tahun sekali, dimana sepasang pangeran dan puteri menikah, Landshut kerap dijadikan obyek pengambilan foto pre-wedding. Tampak pasangan asal Turki sedang berpose.

Landshut dari sisi lain, tampak Gereja Katolik St. Jodok.


Landshut adalah pusat pemerintahan dari Niederbayern, Bavaria. Kota ini memiliki benteng pertahanan Trausnitz yang memiliki arsitektur menarik mata, berupa tumpukan bata merah bercirikan backsteingotik. Kastil di atas bukit berdekatan dengan benteng pertahanan pun masih terjaga dengan baik hingga sekarang.

Selain itu, menara Gereja Katolik dianggap tertinggi di Bavaria juga begitu terlihat mencolok karena bergaya backsteingotik. Baik kastil, benteng dan gereja tampak masih terawat baik. Tak hanya tempat bersejarah lainnya, banyak orang datang dari seluruh Jerman untuk menyaksikan festival pernikahan tempo dulu, abad 15 yang digelar musiman.

Dari buku seputar Jerman, saya mendapati ada satu festival yang digelar setiap empat tahun sekali. Festival akbar ini mengingatkan pada perayaan pernikahan pangeran dan putri di tahun 1475. Kota Landshut dikenal sebagai kota penyelenggaraan festival empat tahun sekali pernikahan akbar “Die Landshuter Hochzeit” yang pernah ada dan melegenda yakni seorang Pangeran dari Bavaria dengan Puteri dari Raja Polandia pada abad 15. Pernikahan ini semacam politik, yang mempertemukan Barat dan Timur. Pernikahan bersejarah tersebut terdokumentasi dengan baik melalui festival musiman tersebut.

Dokumentasi foto festival musiman yang dimaksud.

Ada yang berperan sebagai pangeran dan puteri sebagaimana layaknya yang terjadi pada abad keemasan, abad 15.


Dahulu perayaan festival ini diselenggarakan setiap tahun, namun pada tahun 1985 diputuskan untuk diadakan setiap empat tahun sekali. Setiap festival melibatkan ribuan orang Landshut mengenakan kostum orang-orang layaknya di abad pertengahan tempo dulu. Semua orang memenuhi jalan utama dan pusat kota Landshut menyaksikan parade bagaimana penyelenggaraan pernikahan pangeran dan puteri tempo dulu digelar. Meriah sekali jika saya lihat dari dokumentasinya.

Jika menyimak sejarah tersebut, mungkin itu sebab di wilayah Landshut terdapat bangunan bercirikan backsteingotik seperti pada Gereja Katolik yang saya ceritakan sebelumnya. Mengapa? Di Polandia, banyak bangunan bercirikan backsteingotik  begitu terlihat mempesona dan menjadi destinasi wisata.

Festival terakhir dilaksanakan pada musim panas tahun ini, kemudian akan dilaksanakan lagi pada musim panas tahun 2021 mendatang.

Cerita Landshut akan berlanjut pada artikel selanjutnya.