Keajaiban Hidup Adalah Saat Kita Bisa Melewati Krisis: Film To The Wonder (2013)

  • Judul film: to the Wonder
  • Genre: Drama
  • Tahun: 2013
Ilustrasi film.

Sinopsis film

Film ini bercerita tentang drama kehidupan antara sepasang suami-isteri dan kehidupan panggilan selibat sebagai seorang imam, pemuka agama katolik. Diawali dengan kisah cinta antara Neil, seorang warga Amerika dengan Marina, warga negara Eropa timur yang bertemu di Paris. Mereka saling jatuh cinta meski Marina sudah memiliki seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun. Perjalanan cinta mereka tampak dari kunjungan mereka ke Mont Saint-Michel, Normandia yang membuat mereka begitu bahagia penuh cinta. Di film ini diperlihatkan bagaimana indahnya Normandia sebagai kebesaran Tuhan dan kemesraan mereka berdua. Bagi Marina, perjalanan cintanya dengan Neil adalah sebuah keajaiban (the Wonder).

Setelah mereka menikah secara resmi, Neil mengajak Marina untuk pindah ke negeri Paman Sam. Di USA, Neil mendapatkan pekerjaan baru sementara Marina harus beradaptasi di tempat baru. Bersamaan dengan itu, ada Romo Quintana, seorang imam yang harus melayani umatnya dengan berbagai persoalan kehidupan sosial. Romo Quintana bekerja mengunjungi orang yang bermasalah dengan hukum di penjara. Keseharian Romo Quintana juga melayani umat yang sakit atau mengalami permasalahan sosial.

Kebahagiaan Neil dan Marina berubah ketika Neil bertemu dengan perempuan sepermainan masa kecilnya bernama Jane. Meski Jane sudah menikah, tetapi Jane kini sedang menghadapi permasalahan rumah tangga dengan suaminya. Pertemuan Jane dan Neil yang intens menyebabkan keduanya jatuh cinta. Neil pun berselingkuh dari Marina. Perselingkuhan tidak dibenarkan bagaimana pun. Romo Quintana hadir menguatkan mereka untuk tetap bersama.

Drama hidup Neil dan Marina semakin meruncing ketika Marina tahu bagaimana Neil berselingkuh. Di sisi lain, anak perempuannya Tatiana mulai bosan karena tak ada teman bermain. Tatiana ingin kembali ke Eropa. Permasalahan pun timbul tentang ijin tinggal Marina dan putrinya di USA, batas visanya sudah mulai berakhir. Sepertinya Neil tak ingin memperpanjang visa mereka apalagi Neil cemburu begitu mendapati Marina pernah pergi kencan dengan seorang tukang kayu. Neil marah besar kepada Marina.

Pada akhirnya Neil dan Marina bercerai. Neil tampak bersama Marina ke bandara untuk mengantarkan Marina pulang kembali ke Prancis. Kisah pernikahan mereka berakhir di situ. Sementara Romo Quintana yang pernah mengalami krisis panggilan sebagai seorang imam semakin dikuatkan dengan doa Santo Patrick “Kristus bersama saya dan seterusnya” dimana doa yang dilafalkan Romo Quintana membuatnya bertahan untuk terus melayani umat yang membutuhkan kasih Tuhan. Mereka yang sakit, mereka yang miskin, mereka yang terpinggirkan adalah mereka yang memerlukan lawatan kasih Tuhan lewat Romo Quintana. Film ditutup dengan Romo Quintana yang melafalkan doa Santo Patrick.

Pesan moral

Saya tidak bisa berpendapat untuk film review karena saya tidak cukup ahli menjelaskannya. Film ini dinominasikan dalam Venice Film Festival tahun 2012. Film ini tidak terlalu banyak dialog, mungkin orang memandangnya membosankan tetapi bagi saya ini seperti refleksi pemain dalam peran kehidupannya. Setiap orang di dunia memiliki perannya masing-masing. Bagaimana ia merefleksikan peran dalam hidupnya, itu yang membuatnya sarat makna.

Setiap orang dalam hidup pasti pernah mengalami krisis. Krisis sendiri diambil dari bahasa Yunani “Κρίση” yang berarti suatu peristiwa hidup yang menuntun pada ketidakpastian dan memberi situasi membahayakan. Krisis dalam pengertian lain berasal dari negeri Tiongkok. Huruf karakter China yang menunjukkan ‘krisis’ bisa memiliki dua pengertian yakni ‘bahaya’ atau ‘kesempatan’ sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Krisis dalam film ditunjukkan ketika pasangan berbahagia Neil dan Marina menikah dan pindah ke negeri Paman Sam. Krisis perkawinan seperti perselingkuhan hingga berbuntut perceraian terjadi ketika Neil dan Marina mulai kehilangan gairah hidup, dimana dahulu cinta yang mereka sebut itu ‘keajaiban’. Bahwa migrasi seseorang bisa saja membuat krisis, ini pula yang dihadapi Tatiana, putri Marina yang tidak memiliki teman dan sulit menerima ayah barunya, Neil.

Krisis tidak melulu terjadi pada orang miskin atau orang yang bermasalah pada hukum. Toh, seorang imam seperti Romo Quintana pun mengalami krisis panggilan dalam hidupnya. Hidup itu bisa mendatangkan krisis. Krisis normatif misalnya bagaimana orang melalui masa pubertas atau ada juga yang mengalami ‘mid-life crisis’ yang berarti krisis itu bisa terjadi seiring usia. Namun bagaimana menangani krisis hidup, itu yang diperlihatkan dalam film ini.

Bagaimana anda menyebut ‘keajaiban’ atau ‘the wonder’ dalam hidup ini? Silahkan saksikan sendiri film yang sudah tayang beberapa tahun lalu! Anda bisa memaknainya dengan krisis yang kini melanda dunia atau anda ingin memahaminya untuk kalangan sendiri? Selamat menonton!

Hidup itu Adalah Anugerah: Film Theory of Everything (2014)

  • Judul film: Theory of Everything
  • Genre: Drama Biografi
  • Durasi: 2 jam 3 menit
Adegan dimana Stephan dan Jane pergi berlibur bersama.

Sinopsis film

Film ini dimulai dengan pengantar Stephan Hawking sebagai mahasiswa di Universitas Cambridge bersama Jane Wilde. Jane awalnya malu mendekati Stephan, tetapi kemudian keduanya semakin dekat untuk menjadi kekasih. Sementara Stephen mulai memperhatikan rasa sakit yang dideritanya sampai suatu hari, ia mengalami kecelakaan di kampus yang membuatnya sadar bahwa ia menderita penyakit yang sangat fatal.

Stephen memutuskan untuk perlahan-lahan menjauh dari Jane, tetapi Jane bersikeras bahwa mereka masih harus bersama. Kemudian mereka memutuskan untuk menikah. Stephen segera menyelesaikan gelar doktor dalam fisika kosmologis. Jane selalu berada di sisi Stephen, meskipun penyakit Stephen sudah menyebar dan mengganggu sistem tubuh, keseimbangan, bahkan panca indera.

Stephen dan Jane memiliki dua anak dan hidup bahagia. Pekerjaan Stephen telah diakui secara publik. Jane selalu siap mendukung karier Stephen dengan kondisi Stephen yang lumpuh. Namun seiring waktu, Jane kehilangan antusiasme dan frustrasi dengan kehidupan berkeluarga bersama Stephen, meskipun Jane tidak mengungkapkannya.

Ibu Jane tahu permasalahan yang dihadapi Jane, kemudian ia menyarankan untuk bergabung dengan paduan suara gereja agar Jane dapat mengisi waktu luangnya. Melalui kegiatan ini, Jane bertemu dengan seorang guru paduan suara bernama Jonathan. Jonathan mendekati Jane dan sangat akrab dengan Stephen Hawking. Jonathan banyak membantu Jane untuk membantu Stephen, yang lumpuh agar Stephan bisa bergerak. Jonathan membantu keluarga Stephen bepergian ke luar rumah seperti pergi berlibur. Jane mulai jatuh cinta pada Jonathan.

Ada desas-desus tentang kedekatan Jonathan dan Jane antara keluarga dan kerabat mereka. Jonathan menyadari hal ini dan berusaha menjauh dari Jane. Tetapi Jane tahu bahwa dia membutuhkan Jonathan untuk membuat hidupnya bergairah lagi, dan Stephen mengizinkannya. Jane memiliki anak ketiganya.

Suatu hari Jane pergi berkemah bersama Jonathan dan ketiga anaknya sementara Stephen melihat opera bersama saudari perempuannya. Di ruang opera, Stephen mengalami kekambuhan penyakitnya dan segera dibawa ke rumah sakit. Stephan mengalami masa kritis dan koma. Untuk menyelamatkan hidup Stephan, dokter harus melakukan trakeotomi pada Stephan karena ototnya lumpuh. Di sisi lain, operasi akan membuat kemampuan berbicara terganggu. Jane memutuskan untuk melanjutkan operasi trakeotomi tersebut. Setelah Stephan pulih, Jane berusaha mencari cara untuk tetap berkomunikasi dengan Stephan.

Untuk mendukung kegiatan Stephan, Jane menyewa seorang perawat profesional bernama Elaine. Elaine tahu cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kerja Stephan. Kedekatan Elaine dan Stephan memungkinkan Jane untuk perlahan-lahan menarik diri dari kehidupan Stephan. Stephan juga mendapat bantuan program robot yang membantunya berbicara. Meskipun Stephan lumpuh dan tidak dapat berkomunikasi, dia masih dapat bekerja dan berhasil menerbitkan buku. Dunia mengakui karya Stephan.

Jane menyadari bahwa dia sudah mencintai Jonathan dan kembali dengan Jonathan. Akhirnya Stephen dan Jane bercerai, dan kemudian Jane menikahi Jonathan. Film berakhir dengan Stephen mengundang Jane untuk menerima gelar “Ksatria” dari Ratu Inggris meskipun mereka bercerai.

Pesan moral

Cinta adalah segalanya dalam hidup yang memberi semangat untuk tetap bergairah menjalani kehidupan meski masalah dan cobaan datang. Jane, isteri Stephan membuktikan cintanya dengan mendukung karir suami dan melayani suaminya yang harus hidup di kursi roda seumur hidup. Bahkan saat Jane sudah bercerai pun, ia tetap berada di dekat Stephan untuk membantu karirnya.

Di sisi lain, Stephan memaknai sakit yang dialaminya lewat karya dan keahliannya. Meski ia harus hidup di kursi roda tetapi Stephan membuktikan bahwa selalu ada cara untuk tidak mudah menyerah pada keadaan hidup. Ketika ia divonis tak bisa berbicara, ada mesin robot yang membantunya berkomunikasi dan tetap berkarya.

Hidup ini adalah anugerah. Dari film ini, saya belajar untuk mensyukuri apa pun keadaan yang terjadi. Tuhan selalu punya cara agar kita bisa memaknai apa yang sedang terjadi dalam hidup, baik itu suka maupun duka. Hidup ini tidak ada yang sia-sia, sebaliknya akan lebih bermakna ketika kita tahu bahwa untuk apa kita hidup di dunia ini.

Meski film ini sudah lima tahun lalu, tetapi film ini tetap punya sarat makna yang bisa dijadikan film keluarga. So, mumpung masih berdiam di rumah, film apa yang menjadi rencana anda hari ini?

5 Alasan Menonton Film Layaknya Bioskop di Rumah Itu Baik Juga

Ilustrasi.

Sebagaimana anda tahu bahwa wabah corona sedang melanda dunia sekarang ini, bahkan di wilayah tempat tinggal saya. Salah satu kebijakan untuk menanggulangi penyebarannya agar tidak semakin meningkat kasusnya, maka pemerintah di sini menutup bioskop dan tempat hiburan. Tentu ini bukan berarti menghentikan kebiasaan menonton film bersama pasangan dan anggota keluarga, bila akhir pekan tiba.

Akhirnya salah satu cara menghabiskan waktu selama berdiam di rumah adalah menonton film layaknya bioskop di rumah. Memang tak perlu punya home theater untuk bisa menonton film di rumah. Asalkan kita bisa melakukan aktivitas bersama di rumah demi keamanan dan kenyamanan bersama, supaya bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak dikehendaki seperti penyebaran Covid-19 yang tidak terduga.

Ternyata lima alasan berikut menujukkan bahwa menonton film di rumah itu baik juga loh. Apalagi menonton film di rumah menjadi pilihan agar kita tidak berpergian sampai waktu yang ditetapkan pemerintah berakhir.

1. Lebih akrab dan intim dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya

Kehadiran gadget, online games dan media sosial dsb membuat masing-masing di antara kita bisa larut dalam kesibukan masing-masing di rumah. Belum lagi jika satu sama lain punya hobi yang berbeda-beda. Untuk mensiasatinya tak ada salahnya dengan duduk di sofa yang nyaman di rumah dan pilih menonton film bersama-sama.

‘Cinema-Therapy’ menjadi istilah yang diberikan Konselor perkawinan sebagai salah satu cara meningkatkan keintiman dengan pasangan perkawinan. Lain lagi, pengamat sosial menyatakan bahwa film yang tepat, yang menggali diskusi dan bertemakan keluarga akan memberi dampak positif bagi relasi antar keluarga.

2. Bebas menentukan film yang dikehendaki

Alasan baik selanjutnya adalah menonton film di rumah memberi kebebasan untuk menentukan film yang dikehendaki. Misalnya film kartun dan bertema keluarga bisa diputar ulang untuk mengisi waktu lowong anak-anak selama di rumah. Memilih film yang dikehendaki di rumah juga membuat para orangtua bisa menseleksi film yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, film untuk anak yang sedang pubertas tentu bukan lagi film kartun, tetapi film remaja yang mendidik.

3. Lebih fokus menonton dan terhindar dari gangguan orang-orang asing/tidak dikenal

Alasan baik berikutnya adalah kita bisa lebih fokus menonton film bila di rumah. Bila menonton film di bioskop bisa saja kita bertemu orang-orang yang mengganggu selama dalam ruang studio film. Orang yang berisik berkomentar misalnya sepanjang film ditayangkan. Suara telepon genggam atau orang mengunyah makanan bisa menjadi momen mengganggu bila anda tak suka itu. Belum lagi ada saja orang usil atau orang yang bertindak tak sopan misalnya yang mengganggu kenyamanan menonton.

Menonton film di rumah membuat kita nyaman mengambil posisi yang disukai. Kita juga bisa membuat aturan agar tidak ada gangguan selama menonton misalnya. Bila kita ingin ke toilet atau ada keperluan sementara, kita bisa menghentikan sebentar (=pause) yang kemudian bisa melanjutkan menonton lagi. Ini semua hanya bisa dilakukan bila menonton film layaknya bioskop di rumah.

4. Lebih santai, bahkan sambil menikmati cemilan yang dikehendaki

Menonton film di rumah terkesan santai karena kita bebas menentukan waktu dan film yang ditonton. Kita bisa santai menonton film sambil menikmati pop corn buatan sendiri. Rasa manis pop corn bisa kita atur sendiri. Tak hanya pop corn, kita bisa sediakan aneka cemilan lain yang disukai agar bisa menikmati tayangan film favorit.

5. Pastinya lebih murah

Alasan terakhir tentu menonton film di rumah menjadi lebih murah dibandingkan menonton film di tempat lain. Film pun bisa ditonton berkali-kali sehingga lebih hemat. Hemat anggaran lain adalah pembelian snack dan minuman yang diperlukan selama menonton. Kita bisa menyediakannya di rumah. Menonton film ala bioskop di rumah bisa menjadi ajang rekreasi bersama, yang saat ini tidak bisa dilakukan di luar rumah.

Sambil menunggu kondisi membaik, berdiam di rumah dengan hiburan menonton film bersama anggota keluarga bisa jadi pilihan. Mumpung di akhir pekan, film pilihan apa yang ingin ditonton keluarga anda di rumah?

Film Joker: Ketika Saya Tidak Mengerti Tawa Joker

Film Joker ditayangkan di Jerman mulai tanggal 10 Oktober, lebih lambat dari penayangan di Indonesia. Anda tahu bahwa film ini butuh proses waktu untuk dialihbahasakan menjadi bahasa Jerman. Dan saya pun tertarik menontonnya minggu lalu bersama suami dalam bahasa Jerman.

Film ini mengingatkan saya pada film-film yang harus saya tonton saat saya masih berkuliah di jurusan psikologi. Dimana sepanjang film saya harus mengamati perilaku aktor dan significant others, sehingga memunculkan tanya, mengapa dia berperilaku demikian. Namun kali ini saya tidak membuat analisa apalagi menilai tokoh Joker dalam sudut pandang keilmuan psikologi dan membuat revieu film karena saya bukan ahli untuk itu.

Hal yang pasti diingat penonton dalam film Joker adalah tawanya yang khas dan tak berhenti. Tetapi apanya yang lucu sehingga Arthur si Joker harus tertawa. Itu pula yang ditanya si ibu dengan seorang anak di dalam bis ketika Joker menghibur anak tersebut. Ibu itu meminta Joker berhenti mengganggu anaknya. Joker tertawa dan terus tertawa. Ibu itu bertanya hal yang sama seperti Psikiatri di dalam penjara pada adegan terakhir. Pertanyaannya “Apanya yang lucu?”

Joker bukannya berhenti menjawab, dia malahan tertawa tak henti. Karena Joker juga sebagai komedian pun melakukan tawa yang sesungguhnya tak dimengerti. Dia harus mengkonsumsi obat tiap hari untuk gangguan psikologis yang dialaminya. Joker pun menjawab bahwa dia tak mengerti apa yang terjadi padanya.

Joker sebagai alat tawa (komedian/badut) tampak berusaha menghibur banyak orang. Ini terlihat bagaimana Joker mengisi acara stand up comedy atau menghibur anak-anak di rumah sakit. Joker di satu sisi adalah orang berkarakter baik. Namun tawanya berubah menjadi karakter jahat ketika dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah.

Joker yang seharusnya menceritakan sisi lucu sebagai komedian dalam talkshow ‘Murray’ tetapi dia malah menceritakan bahwa dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah. Lagi si moderator talkshow, Murray bertanya pada Joker, “Apakah itu lucu menurut anda?” saat Joker menceritakan bahwa ia adalah penembak itu. Joker pun kembali tertawa lagi dan menembak moderator talkshow.

Juga Joker membunuh ibunya yang menurutnya telah berbohong padanya. Lalu datang temannya ke rumahnya dan bertanya, mengapa dia berpenampilan terbaik? Joker pun menjawab bahwa dia merayakan ibunya yang baru saja meninggal. Ini tidak masuk akal. Dia pun kembali tertawa lebih keras dan menembak salah seorang temannya yang datang berkunjung padanya.

***

Saat kita tahu bahwa seseorang tertawa, kita berpikir bahwa ada sesuatu yang lucu sehingga perlu ditertawakan. Kita berpikir ketika ada orang tertawa bahwa dia adalah orang yang sedang berbahagia. Tawa menjadi simbol sukacita. Tetapi justru sukacita itu tidak dirasakan Arthur. Dia tertawa karena dia sendiri pun tak mengerti, mengapa dia harus tertawa?

Arthur si Joker yang sering tertawa dengan tawa yang identik hidup penuh sukacita justru hidup dalam kesusahan di pinggir kota yang kumuh. Dia berjuang keras karena hidupnya yang secara ekonomi begitu sulit.

Lesson learned dari film ini, tentu berbeda-beda tergantung pemahaman masing-masing penonton. Bagi suami saya, film ini terasa membosankan seperti adegan Joker yang tertawa panjang dan lama. Tetapi saya katakan bahwa tawa Joker itu penuh makna sehingga disorot lebih lama. Joker hanya berperan bahwa tawa itu tidak selalu terasa sukacita dan terhibur.

Sungguh saya tak mengerti tawa Joker.

Masih Perlukah Menonton Film Sebagai Media Pengajaran?

Ilustrasi.

Dalam dunia perkuliahan tak lengkap pengajaran tanpa menyaksikan film, hal ini menjadi salah satu bentuk teaching aid. Film juga digunakan guru/dosen/mentor/trainer sebagai bagian dari visual context yang dimunculkan agar peserta didik bisa memahami maksud pembelajaran yang seharusnya. Kita ingin membuat pembelajaran melandasi perilaku juga ‘kan.

Saya pernah menjadi siswa dan merasakan betul asyiknya menonton film yang berkaitan dengan materi belajar. Saya juga pernah ditempatkan menjadi posisi mentor/trainer dimana harus meriset beberapa film agar relevan dengan tema pengajaran. Dengan begitu saat film ditayangkan, saya bisa rehat sejenak di kelas dan mengobservasi peserta didik.

Film menjadi menarik atau tidak sebagai alat bantu belajar harus diperhatikan dari dua sisi, kelebihan dan kekurangan. Tak jarang peserta didik diajak untuk mendiskusikan film yang ditontonnya lalu dikaitkan dengan materi pengajaran. Namun terkadang menonton film menjadi membosankan bagi peserta didik. Lalu kira-kira apakah masih relevan di masa kini?

Kelebihan menonton film di kelas:

  • Menghadirkan visual pembelajaran yang menarik ketimbang ceramah dan teori.

Sebagai pengajar rasanya sulit tanpa menghadirkan tayangan visual agar peserta didik bisa mencerna yang dimaksud. Berbicara teori misalnya tentang komunikasi tidak akan mudah dipahami tanpa dipraktikkan. Praktik yang sesungguhnya bisa ditemukan dalam dunia nyata yang mudah tergambar dalam film. Oleh karena itu pengajar harus sudah mempersiapkan dan meriset film apa yang cocok dan tepat sesuai tema? 

  • Membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan aktif.

Setelah dikatakan bahwa akan ada sesi menonton film, serempak seluruh kelas berwajah ceria dan bersemangat. Mengapa? Manusia pada dasarnya adalah makhluk visual. Mereka menyenangi hal-hal yang mudah dilihat dan diamati untuk dipelajari, ketimbang anda menjelaskannya berulang-ulang. Alhasil suasana kelas yang semula sepi dan pasif menjadi lebih hidup ketika film diputar. 

  • Alat bantu belajar yang menyenangkan dan menarik peserta didik.

“Diskusikan apa yang dialami tokoh dalam film tersebut!” Tentu instruksi pengerjaan ini lebih memudahkan peserta didik untuk menjawab daripada meminta mereka berdiskusi suatu fenomena sosial yang hanya menjadi imajinasi. Tak jarang film lebih mudah diingat dalam pemikiran dibandingkan berbagai teori yang diceramahkan kepada peserta didik. Ini tentu memudahkan untuk mengajari sesuatu ketimbang menjelaskan dengan bahasa lisan.

  • Mengambil sisi tambahan atau yang berbeda dari tema pembelajaran.

Tak semua orang menyukai pengajaran baik melalui tulisan maupun lisan. Namun film pastinya disukai untuk disimak karena orang punya kecenderungan ingin tahu dan suka mengamati. Melalui film, peserta didik yang dijadikan penonton diharapkan mengambil sisi tambahan dan pastinya hal positif yang tidak ditemukan dalam pengajaran. Mengapa? Film memberikan situasi yang nyata dan realita tersebut lebih diterima ketimbang masih teori tertulis atau penjelasan lisan.

    Kekurangan yang mungkin terjadi setelah menonton film di kelas:

    • Peserta didik menjadi kurang fokus

    Siapa bisa menebak seratus persen peserta didik akan benar-benar menyimak film yang disajikan? Ketika dikatakan ‘Kita akan menonton film’ maka sebagian senang dan sebagian lagi bisa jadi melakukan hal lain diluar pembelajaran seperti pergi ke toilet, mengobrol dengan temannya, menerima telpon di luar kelas, dan hal lain. Oleh karena itu saat menonton film, pengajar tidak berarti juga berhenti sejenak. Namun ini bisa dijadikan untuk mengamati peserta didik. 

    • Menjadi tidak serius 

    Tergantung bagaimana anda menemukan film yang sesuai dengan tema pembelajaran. Terkadang demi menyelipkan aktivitas menonton sehingga suasana kelas menjadi menyenangkan, si pengajar/mentor/dosen lupa apakah film ini benar-benar sesuai dengan tema pembelajaran. Kekuatan meriset film yang sesuai juga diperlukan. Selain itu, saat menonton sebagian peserta didik masih tidak serius terhadap sajian tayangan, masih menganggap hiburan semata. Ada baiknya film sudah ditonton terlebih dulu dan diketahui alur ceritanya, lalu dipertimbangkan lagi apakah sesuai dengan pembelajaran? Namun jika punya keterampilan membuat video alangkah baik video bisa dibuat dan disesuaikan dengan kondisi pembelajaran.

    • Terlalu bertele-tele dan membosankan

      10-15 menit adalah durasi perhatian peserta didik menyimak film di kelas. Jika lebih akan membuat bosan. Jika ingin menyajikan film yang panjang namun bermutu, bisa meminta untuk dijadikan bahan tontonan diluar kelas atau jadi PR. Tayangan film yang panjang dan durasi yang bertele-tele sesungguhnya menyita waktu pembelajaran juga. 

      Berdasarkan uraian di atas, film masih dirasa perlu sebagai media pembelajaran bila relevan dengan tema, direct atau tidak bertele-tele, durasi yang cukup pendek dan diakhiri dengan diskusi seputar film tersebut. Demikian sekedar berbagi. Ada tanggapan?😁