Lutherstadt Wittenberg (2): Menjelajahi Sosok Martin Luther di Museum

Tampak depan.
Data pengunjung dari berbagai belahan dunia.
Sebaran umat di seluruh dunia dalam data juga bisa disimak di museum.

Melanjutkan kunjungan saya di kota Martin Luther yakni Wittenberg, kali ini saya ajak anda menyelami bagian dalam dari gereja All Saints. Gereja ini disebut juga dalam bahasa Jerman Schlosskirche yang juga menjadi fenomenal karena tempat bersejarah terjadinya reformasi gereja. Tokoh yang merencanakan dan mengawali perubahan gereja ini adalah Martin Luther. Ini bukan hanya menjadi sejarah gereja saja, melainkan juga sejarah dunia yang penting untuk diingat.

Martin Luther dilahirkan pada 10 November 1483. Dia pula tokoh yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, yang awalnya hanya dikenal dalam bahasa Latin. Setelah menempuh program doktoral Teologi di Italia, lima tahun kemudian ia protes terhadap kebijakan gereja saat itu. Kemudian 31 Oktober 1517, ia menancapkan 95 Thesisnya di pintu gereja All Saints atau yang juga dikenal Schlosskirche. Tahun 1525, Luther menikahi Katharina von Bora. Pada usia 63 tahun, Luther meninggal dunia.

Mengenali sosok Martin Luther, anda bisa datang ke Lutherhaus, dimana beliau pernah tinggal. Namun saya datang menjelajahi museum Schlosskirche yang juga menyimpan kronologis terjadinya reformasi gereja. Di gereja ini pula konon Luther dimakamkan bersama dua pengikutnya yang setia.

Untuk masuk ke museum ini ada bagian yang gratis dan ada bagian berbayar. Pada bagian gereja di dalam memperlihatkan umumnya gereja katolik di Jerman yang bergaya gothik. Sayangnya gereja ini sudah tak aktif dan dijadikan museum. Di sini ada benda-benda rohani yang masih terawat baik, meski sebenarnya dahulu ini adalah gereja katolik. Kini gereja ini menjadi pusat jutaan mata yang ingin tahu bagaimana terjadinya reformasi gereja yang terjadi lima ratus tahun lalu.

95 Thesis terbaca jelas.

Setelah puas berkeliling bagian dalam gereja, anda bisa melihat sisi luar gereja yang dibangun dengan informatif dan aktraktif bagi turis. Ada biografi Martin Luther dari kelahiran hingga kematiannya. Lalu juga isi Thesis Luther yang terbaca dengan baik dalam bahasa Jerman. Di sini pula ada data statistik sebaran gereja yang denominasi di seluruh dunia setelah terjadinya reformasi.

Altar.
Pengunjung yang tak pernah sepi.
Organ dan interior umumnya gereja bergaya gothik di Jerman.
Bagian belakang gereja.

Hal menarik lainnya, anda bisa melihat video dan audio dalam museum berbayar. Di depan pintu ada monitor data pengunjung yang mencatat kedatangannya. Saya adalah orang ke-79 dari Indonesia yang pernah berkunjung ke sini. Museum ini sendiri dibuka menjelang perayaan lima ratus tahun reformasi gereja tahun 2017 lalu.

Lutherstadt Wittenberg (1): Menyelusuri Lahirnya Reformasi Gereja di All Saints Church

Pintu gereja All Saints.
Tampak kelompok turis memenuhi depan pintu gereja.
All Saints Church sisi lain.

Sebelum saya menjejakkan kaki di Jerman, seorang pemuda yang aktif di salah satu denominasi gereja Kristen Protestan pernah menceritakan kota Lutherstadt. Dia yang saya kenal di tempat saya bekerja, berujar bahwa dia diundang untuk datang ke Lutherstadt Wittenberg untuk mengenal sejarah gereja Kristen Protesan yang menjadi salah satu dari agama-agama di Indonesia. Saya yang mendengar cerita dia pun menjadi antusias dan berharap suatu saat saya bisa berkunjung ke Jerman. Pada dasarnya saya senang belajar sejarah dan itu membuat saya memahami tentang proses kehidupan sesungguhnya.

Tahun 2017 lalu pada tanggal 31 Oktober di seluruh Jerman dijadikan hari libur. Hari libur ini tidak biasa karena ini dirayakan bertepatan dengan lima ratus tahun reformasi gereja yang diinisiasi oleh Martin Luther. Untuk menghormatinya maka pemerintah Jerman menjadikan hari libur sebagaimana pernah saya ceritakan di sini dua tahun lalu.

Setelah kami bermalam di Leipzig, suami menyanggupi mimpi saya untuk berkunjung ke kota Lutherstadt. Maklum saja saya tak pernah tahu bahwa mimpi pergi ke Jerman itu terwujud, termasuk menyelusuri Lutherstadt yang menjadi minat saya. Akhirnya selama satu jam lebih berkendara dari Leipzig ke Wittenberg, kami pun berkesempatan mampir.

Disebut juga gothic Schlosstor.
95 Thesis Luther yang terukir di pintu dalam bahasa Latin.
Salinan 95 Thesis yang bisa dibeli di toko sovenir.
Kini pintu itu disebut Thesentür.

Tempat pertama yang kami datangi pastinya adalah pusat informasi wisata. Rupanya letak tour information itu tepat persis di depan gereja All Saints Church yang menjadi sejarah dunia. Setelah kami mendaftarkan paket tur kota, kami pun menyelusuri bagian terpenting dari munculnya gerakan reformasi gereja yang dilahirkan Marthin Luther.

Sebagaimana anda tahu bahwa gerakan yang dibuat Martin Luther memberi dampak besar bagi gereja saat itu, tahun 1500-an. Jika anda pernah belajar sejarah tentang abad pertengahan di Eropa kala itu maka anda bisa paham apa yang melatarbelakangi Luther melakukan gerakan tersebut.

Gereja All Saints dikenal juga dalam bahasa Jerman Gothic Schlosskirche nampak jelas saat anda memasuki kota Wittenberg yang berada di tengah Jerman. Karena memang schlosstor atau gerbang kota itu dibuat pada abad 14 sebagai benteng pertahanan.

Kini gereja ini menjadi museum bersejarah yang didatangi jutaan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Satu lokasi yang wajib didatangi adalah pintu kayu asli yang menjadi saksi bagaimana sejarah gerakan reformasi itu dimulai. Di pintu yang disebut Thesentür dalam bahasa Jerman itu pada tanggal 31 Oktober tahun 1517 Luther menempelkan 95 Thesis yang menjadi acuan bahwa gereja perlu direformasi. Itu sebab selalu ada kelompok turis berfoto dan mendengarkan penjelasan tour guide di depan pintu tersebut.

Karena perang yang terjadi berulang kali melanda saat itu, gereja ini pun tak luput menjadi korban perang dan kebakaran. Tampak sudut-sudutnya terbakar dan sedikit bekas renovasi. Abad 19 King Frederic William IV dari Prusia memperbaiki pintu ini menjadi bentuk sekarang. Pun pintu bersejarah itu pun beralih kayu yang semula kayu diganti menjadi perunggu sebagai monumen. Teks Thesis Luther pun terukir indah di sini dalam bahasa latin tentunya. Wisatawan yang ingin mendapatkan salinan Thesis bisa diperoleh di toko sovenir.

Gereja bergaya arsitektur gothik ini kini menjadi tempat reformasi memorial yang berhubungan dengan Martin Luther. Di sini Luther dimakamkan berdekatan dengan Museum Luther yang akan dibahas kemudian.

Nantikan cerita saya selanjutnya!

Mengapa Wajib Berkunjung ke Dom Köln Bila ke Jerman?

Tampak depan yang dijadikan pintu masuk pengunjung.
Tampak dalam.

Singgah ke Köln yang berjarak tiga puluh menit dari Bonn dengan kendaraan pribadi, kami pun menyempatkan berkunjung ke Dom Köln. Dom Köln memang menjadi landmark keindahan kota Köln yang metropolis. Katedral ini berhadapan langsung dengan sungai rhein yang tampak indah dengan sorot lampu bila malam hari. Sayangnya kami datang di musim panas dimana kami harus menunggu lama hingga waktu malam tiba sementara kami harus bergegas ke kota berikutnya. Namun kami tetap berdecak kagum dengan pesona katedral yang sudah dibangun lebih dari tujuh ratus tahun lalu.

Bila anda berkunjung ke Jerman, sempatkanlah datang ke Köln dan berfoto di depan katedral ini. Tiap tahun ribuan turis datang berkunjung ke sini yang menjadikan tempat ini populer. Namun dibalik kemegahan dan popularitasnya, saya merangkum beberapa alasan mengapa perlu datang ke katedral ini?

1. Bangunan bergaya gothik

Situs awal pembangunan.
Ujung menara lancip menandakan gaya arsitektur gothik.
Pintu masuknya begitu terukir indah.

Katedral ini dibangun pada abad 13, tepatnya pada tahun 1248. Selesai memarkirkan mobil, kami keluar dan berhadapan dengan batu pondasi reruntuhan. Ditutupi dengan kaca dan disampingnya tertulis informasi sejarah pendirian gereja.

Di batu pondasi itu awalnya adalah situs kuil romawi Sebelum Masehi. Lalu setelah kehadiran misionaris, kuil dirombak dan dijadikan tempat peribadatan. Tercatat abad 7 dan 9 Masehi sudah terjadi pembabtisan jemaat di sekitar itu.

Jika melihat gaya arsitekturnya maka gereja ini termasuk bergaya gothik. Lebih jauh apa itu gaya arsitektur gothik, bisa dilihat di sini. Ciri ini terlihat dari dua menara gereja yang runcing. Tak hanya itu, langit-langit dalam gereja terlihat spasial vertikal dan horisontak yang indah dan presisi. Ini sebagai simbol salib. Tentu perlu tangan arsitek yang ahli hingga bangunan ini tampak sempurna.

Di pintu masuk tampak berujung runcing dan berhiaskan aneka ukiran yang indah dan sempurna dari para orang kudus. Tangan-tangan seniman telah membuat gereja ini benar-benar sebuah ekspresi keagungan Tuhan. Bahkan pembuatannya hingga beratus-ratus tahun agar tampak sempurna dan indah. Luar biasa!

2. Bisa melihat Köln dari atas

Köln dari atas puncak.
Di puncak, ruangnya dibatasi demi kenyamanan dan keamanan bersama.

Jika sudah tiba di Köln, pasti penasaran seperti apa penampakan kota yang sering dijadikan festival ini. Untuk itu anda perlu menaiki kurang lebih 600 tangga. Persiapkan energi dan fisik anda agar anda tidak menyerah dan tiba di puncak. Setibanya di puncak, rasa lelah anda terbayar dengan pemandangan menawan kota Köln atau keindahan sungai rhein.

Untuk menjangkau puncak, anda perlu membayar per orang 4€. Saran saya, gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman misalnya tidak menggunakan high heels. Di tengah puncak, anda bisa melihat lonceng terbesar. Anda juga bisa beristirahat sejenak. Lalu menaiki tangga hingga tiga per empat sebelum puncak, ada ruang yang bisa dijadikan persinggahan terakhir sebelum menjangkau puncak.

3. Tempat menyimpan relikui dari “Tiga Raja dari Timur” (Three Holy King)

Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem, tiga raja dari Timur yakni Caspar, Melchior dan Baltasar datang untuk menyembahNya. Mereka membawa emas, mur dan kemenyan. Di Bavaria, Jerman tradisi ‘tiga raja dari Timur’ masih dirayakan dan dijadikan hari libur. Dalam liturgi gereja katolik tradisi ini disebut epiphany.

Baca https://liwunfamily.com/2018/01/06/6-januar-dreikonigsfest-epiphany-hari-libur-di-jerman/

Nah di Dom Köln kita bisa menemukan relikui peninggalan ‘tiga raja dari Timur’ yang tersimpan indah. Kata pemandu wisata, gereja ini awalnya dibangun untuk menjadi tempat menyimpan peninggalan mereka.

4. Memiliki banyak lonceng

Di katedral ini ada 11 lonceng, termasuk 1 lonceng besar yang dibunyikan dengan perlengkapan khusus. Lonceng pertama beratnya hanya 3,8 ton dan lonceng terakhir tahun 1922 beratnya mencapai 24 ton. Lonceng terberat dan terakhir ini diberi nama Saint Peter. Dan katanya lonceng ini merupakan lonceng terbesar di dunia. Hmm, percaya sih.

Jika kita berhasil menjangkau setengah dari puncak, ada satu lorong menuju ruang lonceng. Wisatawan bisa berhenti sejenak, sebelum puncak menara. Sebagian pengunjung tampak mengambil foto.

5. Patung Bunda Maria dan Salib dari kayu

Di dalam gereja yang selalu penuh pengunjung, saya tidak sempat datang ke patung Milan Madonna yang terbuat dari kayu di abad 13. Saya masih terpukau dengan patung Bunda Maria memangku jenazah Yesus. Patung ini pun terbuat dari kayu. Demikian juga salib besar yang terbuat dari kayu yang hingga sekarang masih utuh. Padahal jika disimak, Dom Köln tak luput dari sasaran penyerangan perang dunia. Salib kayu ini dibuat pada abad 10.

6. Punya menara tertinggi

Kedua menara gereja memang tampak punya tinggi yang sama. Padahal dari informasi ternyata tingginya tidak sama. Menara utara lebih tinggi sedikit ketimbang menara selatan. Menara ini merupakan yang tertinggi di Eropa Barat mengalahkan menara Eiffel Paris.

Di menara ini konon sempat menjadi tempat pengintaian musuh saat terjadi perang dunia kedua. Menaranya berunjung rucing sesuai gaya arsitekturnya yang bergaya gothik, maka ukiran-ukirannya memerlukan kejelian spasial menurut saya.

Dom Köln terbuka setiap hari dan gratis. Jika ada pelayanan khusus gereja sebaiknya kita pertimbangkan jika hanya untuk tujuan wisata atau mengambil gambar. Untuk beberapa area seperti naik ke puncak atau ruang treasury chamber maka harus membayar sekian Euro. Gereja ini terletak tak jauh dari Hauptbahnhof Köln.

Photos Galery: Dom St. Stephan di Wina, Austria

Some following photos are about Dom St. Stephan in Vienna, Austria that took by me a few weeks ago. I thought Dom St. Stephan in Vienna and Dom St. Stephan in Passau, Germany have the linkage. How do you think?

***

Salah satu bangunan yang menandai kota Wina, Austria adalah Dom St. Stephan yang berada di pusat kota. Bahkan pengunjung bisa membayar untuk naik ke atas menara melihat keindahan kota Wina.

Bangunan bergaya gothic ini telah menjadi saksi sejarah ratusan tahun lalu, termasuk perang dunia kedua yang menghancurkannya. 

Barangkali sebagai turis, anda tertarik berkeliling pusat kota Wina dengan kereta kuda. Kereta kuda ini parkir tak jauh dari Dom St. Stephan. Silahkan bayar sejumlah Euro untuk 30 menit dan 1 jam!

Apakah ada kaitannya dengan Dom St. Stepan di Passau? Sepertinya ada. 
Dom St. Stephan Passau, Jerman kala pasar malam menjelang Natal.

Dom St. Stephan, Passau dari kejauhan.
 

 

Basilika Santo Stephan: Budapest, Hungaria (7)

 

wp-image-913643132
Tampak depan.

 

Sisi lain Basilika.

 

 

 

Sisi dalam dari langit-langit Basilika yang indah.

 

 

 

Basilika didekasikan untuk Raja Hungaria I seperti dalam informasi di atas.

 

 

Bangunan fenomenal yang mudah dikenal dan dijumpai di Budapest adalah Basilika Santo Stephanus. Sebagai katedral yang memiliki bangunan megah bergaya Neo-klasik, Basilika ini menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi di sini. Entah berapa jumlah umat Katolik di Hungaria namun katanya Paus, pemimpin Gereja Katolik selalu menyempatkan untuk adakan misa di sini.

Ini tempat pertama yang kami kunjungi karena letaknya yang dekat dengan penginapan kami. Lagipula kami beruntung datang kala masih tersedianya pasar Natal. Kemeriahan pasar yang digelar menjelang akhir tahun berada di depan lapangan Basilika.

Berdasarkan informasi tour guide, nama Santo Stephanus berasal dari Raja Hungaria I, Stephan. Kini Basilika ini adalah Gereja Katolik terbesar ketiga di Hungaria.

Saat kami memasuki Basilika, petugas jaga meminta kami mematuhi aturan. Karena bagaimana pun kita harus menghormati orang yang berdoa dan menjaga kekhusukkan. Selain itu, silahkan masukkan uang sukarela, nilainya 200 HUF bahkan boleh lebih jika mau.

Seperti layaknya di beberapa Basilika yang saya kunjungi, di sini begitu pun lukisan dan benda-benda rohani yang mempesona. Karena sore hari di kala musim dingin begitu gelap, kami sulit mendokumentasikannya. Cahaya Basilika begitu minim. Di sini juga, organnya begitu menawan.

Untuk melihat keindahan kota Budapest, anda bisa menaiki kubah Basilika dengan tangga atau lift. Sayangnya kami tiba tidak punya kesempatan melakukannya.

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Ciri Backsteingotik atau Brick Gothic (3)

Gereja Katolik St. Martin, dekat Landshut.
wp-image-1323664648Kota Landshut dari atas, Gereja Katolik St. Jodok (kanan) juga bercirikan arsitektur backsteingotik.


Salah satu Gereja Katolik lain di Munich yang juga punya ciri arsitektur backsteingotik. 


Melanjutkan hasil pengamatan soal arsitektur Gereja Katolik di seputar Bavaria, saya mendapatkan satu lagi ciri arsitektur yang jarang dijumpai. Suatu kali saya berhenti di Landshut, Niederbayern. Saya menjumpai bangunan yang berbeda dan indah sekali, termasuk pada Gereja Katolik yang jadi landmark kota tersebut. Beberapa Gereja Katolik lainnya di sekitar juga bercirikan sama, Backsteingotik dalam bahasa Jerman.

Baca:

  1. https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/
  2. https://liwunfamily.com/2017/12/23/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-gothic-2/

Di Landshut, ciri bangunan backsteingotik terdapat pada kastil “Burg Traunitz” yang begitu melegenda dan terlihat menawan dari bawah. Cerita kastil tersebut akan saya lanjutkan pada artikel selanjutnya.

Backsteingotik, sebenarnya diambil dari kata backstein yang merujuk pada batu bata merah. Kemudian gotik tentu merujuk pada ciri khas gothic, seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya. Pada bangunan gothic, ciri yang menonjol terlihat seperti keruncingan menara. Jadi backsteingotik bisa dikatakan perpaduan antara keduanya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, disebut Brick Gothic.

Sebenarnya tak hanya di Jerman, bangunan dengan ciri khas backsteingotik ditemukan. Bangunan seperti ini juga tampak mencolok di Polandia, Belanda dan Inggris. Itu yang saya ketahui. Ketika saya berbicara dengan seorang pastor di sini, dikatakan Gereja Katolik bercirikan backsteingotik lebih banyak terlihat di wilayah Jerman bagian utara. Pembangunan bercirikan gaya arsitektur ini sudah dimulai sejak abad 12 hingga 16 di wilayah Eropa yang berdekatan dengan laut Baltic.

 

Menurut anda apakah bangunan bercirikan backsteingotik terlihat lebih mudah dibandingkan kedua ciri arsitektur sebelumnya?

cropped-wpid-img-20140316-wa0012.jpgGereja Katolik St. Jodok tampak depan.

Gereja Katolik St. Jodok tampak samping.

Setelah saya amati dinding Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik ternyata bata merah tersusun dengan rapi dan arsitektural. Artinya, ini dibangun dengan penuh ketelitian dan terkesan kokoh hingga bertahan ratusan tahun. Konon tak tersedia lagi batu bangunan sehingga dipergunakan bata merah yang terbuat dari tanah liat.

Bata merah yang tersusun tersebut menjadi begitu menawan mata saat saya melihatnya dari kejauhan. Biasanya saya menemukan Gereja Katolik bercirikan baroque atau gothic, maka saat saya menemukan bercirikan backsteingotik tentu ini merupakan hal yang menarik. Ulasan bangunan bercirikan backsteingotik akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Namun setidaknya, ada juga Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik di Jerman bagian selatan.

Saya juga pernah mengunjungi gaya arsitektur backsteingotik di Vietnam Selatan, tepatnya di Ho Chi Minh City. Katedral Notre Dame bercirikan bangunan backsteingotik juga terlihat menawan sehingga dijadikan landmark kota.

Katedral Notre Dame, Ho Chi Minh City juga bercirikan arsitektur backsteingotik. Foto diambil 2010.


Ada pendapat?

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Gaya Gothic (2)

Gereja Katolik St. Paulus, Munich.

Gereja lain di wilayah Bavaria yang bercirikan gothic.

Dari semua foto, tentu anda bisa menyimpulkan persamaan dari penampakan luar Gereja Katolik tersebut yang bercirikan arsitektur gothic.

Ujungnya yang lancip pada menara Gereja Katolik di Bavaria atau kapel, bercirikan bangunan gothic.


Saya senang mengamati berbagai bangunan yang terdapat di wilayah Bavaria, Jerman. Saya tekankan pada pengamatan kali ini adalah Gereja Katolik, dimana setiap desa dan kota pasti ada Gereja Katolik karena mayoritas penduduk Bavaria memeluk Katolik. Di artikel sebelumnya, saya menjelaskan tentang ciri dan contoh bangunan bergaya baroque

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/

Selanjutnya, gaya arsitektur yang ditemukan adalah gothicArsitektur bergaya gothic dimunculkan di Eropa mulai abad 12 hingga abad 16. Kemudian memasuki abad 20 kebangkitan arsitektur gaya ini kembali ditiru pada bangunan-bangunan ternama semisal gedung pemerintahan, kastil atau universitas. Artinya bangunan bercirikan gothic yang semula terlihat pada Gereja Katolik, pun mengalami perkembangan, termasuk di Jerman. Anda bisa temukan semisal pada bangunan Rathaus di Munich, ibukota negara bagian Bavaria, Jerman.

Goethe, seorang filsuf terkenal Jerman menyebutkan gaya gothic sebagai “deutsche Architektur.” Saya tidak tahu mengapa bisa disebutnya begitu, mungkin bangunan gothic memerlukan keahlian spasial yang tinggi. Perlu anda ketahui bahwa bangunan bercirikan gothic selalu memiliki atap berujung runcing dan lancip. Tak hanya itu, langit-langit pada bangunan dibuat lengkungan berpotongan yang khas. Ini yang memudahkan saya mengetahui bahwa bangunan ini bercirikan gothic.

Saat memasuki Gereja Katolik di Jerman, dengan mudah saya melihat dari kejauhan bentuk bangunannya. Lalu di dalam, saya perhatikan bagaimana langit-langitnya dibuat begitu simetris. Artinya, ini membutuhkan keahlian yang sempurna. Saat perkembangan ciri bangunan gothic sekitar abad 12 memang diasosiasikan dengan Gereja Katolik. Karena unsur horisontal dan vertikal pada ciri bangunan gothic melambangkan keagungan Tuhan. Pada katedral misalnya, terlihat bahwa ciri gothic seperti membentuk salib.

Perhatikan langit-langit yang berupa potongan lengkungan yang struktural sempurna. Ini di Gereja Katolik St. Paulus.

Ini juga pada langit-langit Gereja, menjadi ciri bergaya gothic.


Ciri lain bangunan gothic ada pada lengkungan runcing yang tajam, yang disebut “Ogival architecture.Saya bisa melihatnya tidak hanya pada kubahnya saja, tetapi pada pintu dan jendela yang menghiasi Gereja. Awalnya saya berpikir ini semacam dekorasi saja, namun jika diperhatikan bentuknya mengikuti gothic secara struktural. Begitu pun pada potongan langit-langit yang menghiasi atas Gereja Katolik, ciri gothic begitu terlihat struktural. Saya yakin ini butuh kejelian. Itu sebab Goethe berpendapat, bangunan berciri gothic merupakan kejeniusan.

Alangkah lebih detil dan rinci lagi pengamatan seorang arsitek untuk membahas ini. Namun sebagai awam, saya mencoba membuat perbedaan ciri gaya arsitektur yang membedakan Gereja Katolik di wilayah region Bavaria.

Demikian pengamatan saya, ada satu ciri arsitektur lain yang akan saya bahas selanjutnya. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/26/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-ciri-backsteingotik-atau-brick-gothic-3/

Semoga bermanfaat!

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Gaya Baroque (1)

 

IMG_0515
Salah satu ciri bangunan baroque yang terkenal di Bavaria ditemukan di Frauenkirche, Munich (kubah kembar berwarna hijau). Sumber Foto: Dokumen pribadi.

 

 

wp-image-979286989
Menandai ciri bangunan baroque pada Gereja Katolik adalah kubahnya, seperti pada foto di atas. 

 

 

20170705_163538
Dom St. Stephan di Pasau, juga bercirikan baroque.

 

 

wp-image-1558792398
Basilika Santa Anna, Altötting.

Saya paling suka mengamati apa saja yang saya temukan, termasuk bangunan-bangunan di Eropa yang masih bertahan meski sudah lama didirikan. Salah satu gaya arsitekur yang menarik mata saya adalah Gereja Katolik. Di tiap desa atau kota di wilayah Bavaria pasti ditemukan Gereja Katolik. Itu sebab negara bagian ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Gereja Katolik yang saya kunjungi selalu saya perhatikan corak bangunan. Sejarah pendiriannya biasa saya jumpai dalam prasasti di sekitar Gereja. Itu artinya Gereja sudah didirikan berabad-abad lalu. Meski Gereja Katolik di sini tak sebesar Gereja saya di Jakarta, mungkin itu berdasarkan pertimbangan jumlah umat pada masa pendiriannya. Sedangkan Gereja Katolik di paroki saya di Jakarta misalnya bisa menampung hingga ribuan umat.

Ada dua gaya bangunan yang dominan pada Gereja Katolik di Bavaria yakni bercirikan baroque dan gothic. Lalu hampir sebagian besar, Gereja Katolik yang saya kunjungi, sekali lagi yang saya kunjungi, jadi bukan angka statistik alias tidak obyektif. Bahwa kebanyakan bentuknya bergaya baroque.

 

wp-image-3280717
Trevi fountain, bangunan fenomenal ciri baroque di Roma, Italia. 

 

Gaya ini dimunculkan Gereja Katolik pada periode abad 15 hingga 18, dimulai dari Roma, Italia. Salah satu bangunan baroque terkenal yakni trevi fountain sebagai contoh bangunan baroque pada taman kota. Di Jerman gaya arsitektur ini pun diadopsi pada pendirian Gereja Katolik, pada abad 17 hanya untuk sebagai ciri Gereja Katolik.

Saya bukan seorang arsitek tetapi saya suka mengamati. Bahwa bangunan bercirikan baroque selalu memiliki kubah yang sama. Lengkungan dan bentuknya mirip. Ini mengingatkan pada kubah kembar Frauenkirche yang juga jadi landmark kota Munich, ibukota negara bagian Bavaria. Bercirikan baroque terkadang juga dilengkapi lukisan fenomenal yang indah pada dinding sekitar altar atau langit-langit. Namun Gereja Katolik di tempat tinggal saya sekarang yang sederhana, tidak ada lukisan seperti itu. Namun Gereja tersebut bercirikan baroque.

 

wp-image-1740115703
Salah satu ciri lain dari bergaya baroque di Gereja Katolik adalah lukisan di dalam. Ini di Basilika Santa Anna, Altötting.

 

Bangunan bercirikan baroque dipopulerkan Gereja Katolik pada masa itu untuk membangkitkan emosional secara spiritual pada umat yang datang. Itu sebab sekitar di dalam Gereja dihiasi oleh lukisan tentang bagian dari Alkitab atau tokoh-tokoh orang kudus lainnya.

Ciri berikutnya adalah bergaya gothic akan saya jelaskan pada artikel berikutnya.

Altötting, Bavaria (4): Stiffpfarkirche St. Philip und Jacob, Gereja Tua Bersejarah

Gereja dan kedua menaranya tampak dari kejauhan.


Melanjutkan kisah perjalanan ziarah terbesar umat Katolik di Altötting, Jerman maka tiba kami di Stiffpfarkirche, Santo Philipus dan Santo Yakobus. Gereja ini terletak di seberang Gnadenkappele, The Chapel of Grace atau di sebelah selatan kapel Black Madonna. Kubahnya ada dua seperti kembar, layaknya Gereja Frauenkirche di Munich.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Baca https://liwunfamily.com/2013/08/19/wisata-gratis-di-muenchen/

Gereja ini termasuk bangunan tertua sekitar abad 9 sudah berdiri. Namun mengingat masih satu kompleks ziarah, Gereja ini direnovasi bergaya Gothic. Ciri khasnya terletak pada menara atau kubah Gereja yang tajam runcing. Ini menjadi ciri banyak bangunan di Bavaria. Saya bisa temukan bangunan Gothic lain semisal Rathaus di Munich.

Langit Gereja dibangun bergaya gothic yang runcing.

Altarnya yang klasik masih terpelihara sampai sekarang.

Organ lama sejak tahun 1724.

Merenovasi Gereja ini dimulai dari tahun 1488 hingga 1508. Padahal abad 13, Gereja ini sudah resmi menjadi paroki sendiri. Sebagian bangunan sudah sejak lama ada, namun ada juga bangunan baru yang kemudian ditambahkan pada abad 16. Selain menara Gereja yang runcing dengan tinggi 48 meter, ciri khas lain dari Gereja ini adalah banyaknya peninggalan sejarah yang menyimpan memori kematian.

Itu sebab Paus Benedictus XVI menjadikan Gereja ini sebagai harta warisan Kekristenan yang patut dipelihara. Seperti bangunan yang bertahan sejak lama, abad 9 dan kemudian Altar klasiknya yang menjadi pusat perayaan Ekaristi. Ada pula organ, alat musik di Gereja ini yang sudah ada sejak tahun 1724. Namun lebih dari itu, Gereja ini menyimpan sejarah kematian.

Apa itu?

Der Tod von Edding (Altötting)

Manusia suatu saat pasti mati. Ini yang menandai Tod von Altötting, yakni patung mekanik dengan gigur tengkorak setinggi 50 sentimeter ditempatkan di kayu berlapis perak yang tinggi. Patung populer ini  sudah ada sejak abad 17 mengingatkan wabah penyakit yang pernah melanda Eropa Tengah. Jika anda mengingat sejarah yang pernah dipelajari dulu di sekolah, penyakit pes melanda juga area ini pada masa itu.

Wabah ini mendatangkan musibah kematian banyak orang. Mereka percaya musibah berhenti ketika manusia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu sebab Gereja ini disebut Gereja Pertobatan. Meski ini sebuah legenda tentang kematian, namun dentang patung yang dimainkan “Tod von Edding” seperti jam ini menandai bahwa manusia akan mati di suatu waktu.

Den Toten Der Kriege

Lanjut adalah Salib besar tergantung dengan Bunda Maria di bawah kaki Yesus dengan wajah berduka. Ini adalah prasasti dari nama-nama mereka yang menjadi korban perang dunia pertama, 1914-1918 dan perang dunia kedua, 1939-1945. Tak hanya itu, di sini juga terdapat  nama-nama mereka yang dianggap hilang oleh keluarga. Ini bisa menjadi sejarah suram bahwa kekejian perang tidak akan terulang lagi.

Krippenopfer

Patung Yesus Bermahkota Duri tampak berduka.

Daftar nama yang terbunuh pada April 1945 yang dikenang dan dihormati


Berlanjut ke sudut lain bangsal Gereja, adalah sebuah patung Yesus Berkepala Duri yang terlihat berduka. Kedukaan ini digambarkan karena di sini, pada April 1945 telah terjadi penembakan terhadap mereka yang dikenal berjasa, termasuk pemimpin kota Altötting pada masa itu. Di depan patung terdapat Salib dan beberapa lilin yang digunakan untuk berdoa kepada mereka yang tewas tertembak. Ini dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati mereka yang gugur pada masa perang dunia kedua.

Tak jauh dari situ tertulis sejumlah nama-nama mereka yang wafat karena perang di masa lampau. Sebuah Jahreskrippe milik Gereja, yakni diorama yang berisi figur tentang kejadian kelahiran Yesus Kristus. Hingga digambarkan wafatNya, dengan Salib besar tergantung di sekitar itu.

Bangsal Gereja.

Kapel yang terletak di atas.

Begitu luasnya bangsal Gereja, ada tangga menuju ke kapel kecil di atas. Di situ, siapa pun bisa berdoa meski tak luas tempatnya. Bunda Maria digambarkan berwajah duka. Lanjut ke area lain, menjorok ke bawah ada semacam tiga peti orang yang sudah meninggal terbuat dari lapisan perak. Tak ada informasi siapa yang terkubur di situ.

Gereja tua bersejarah ini menyimpan berbagai misteri kematian baik dikarenakan wabah penyakit maupun korban perang dunia. Itu semua menandai misteri ilahi bahwa suatu saat manusia pasti kembali kepada Sang Pencipta. Pintu Gereja pun terbuka bagi siapa saja yang datang untuk berdoa dan memohon rahmat dari Tuhan.

Semoga bermanfaat!

 

Altötting, Bavaria (3): Sekali Lagi, Basilika Santa Anna

Tampak depan.

Prasasti di dekat pintu masuk.

Tampak Altar dari kejauhan.

Orangtua saya memilih nama Anna sebagai nama babtis. Sebagai penyandang nama Anna, saya pun menyempatkan lagi berkunjung ke Basilika Santa Anna yang letaknya masih dalam satu komplek ziarah di Altötting. Sebelumnya, saya pernah menuliskan Basilika St. Anna di sini

Santa Anna diakui Gereja Katolik sebagai ibu dari Bunda Maria. Di Basilika ini terdapat peninggalan reliqui atau peninggalan Santa Anna untuk menghormatinya.

Baca https://liwunfamily.com/2014/09/22/basilika-st-anna/

Basilika ini letaknya tak jauh dari biara, tempat tinggal Bruder Konrad. Di Basilika ini terdapat replika tubuh Bruder Konrad yang dihormati itu. Peti kaca diletakkan di samping altar utama. Bruder Konrad banyak berjasa bagi pelayanan dan pengembangan rohani umat di tempat ziarah ini.

Prasasti yang menandai Paus Pius X dan Raja Ludwig III dari Bavaria di sini.

Salah satu altar samping.

Organ besar di atas.

Altar utama dari dekat dan organ kedua di sisi altar.

Replika Bruder Konrad.

Sisi dalam Basilika untuk berdoa.

Salah satu dekorasi yang menghiasi Basilika.

Basilika ini mampu menampung umat hingga delapan ribu orang. Dibangun sejak abad 17 dengan kubah setinggi 60 meter. Bangunan bergaya Neo Baroque, sempat terjadi beberapa kali renovasi hingga akhirnya berdiri megah seperti sekarang ini. Altar yang menjadi pusat perayaan Ekaristi terlihat indah dari pintu luar Gereja. Di samping kanan kiri, terdapat dua belas altar samping dan altar tinggi.

Di Basilika ini ada dua organ sebagai alat musik meriah mengiringi perayaan Ekaristi. Yang pertama disebut die Große Marienorgel Santa Anna sudah ada sejak tahun 1916. Organ memiliki tinggi 15 meter dengan dua galeri di kanan kiri menambah kemegahan Basilika kala berlangsungnya perayaan Ekaristi. Organ kedua, die Chororgel yang berukuran lebih kecil dan masih baru. Kedua organ yang masih indah dan  terpelihara sampai sekarang. 

Tercatat ada delapan Paus yang pernah berkunjung ke sini, mulai dari Paus Pius X hingga Paus Benedictus XVI.

Semoga bermanfaat kunjungan saya ke Altötting!