Brussels (5): 5 Gereja Katolik yang Mempesona di Sentra Turis

Gereja di area Royal Palace, Brussels.
Bagian dalam The ‘Our Lady of Assistance’ Church, dengan tabernakelnya begitu indah dekat altar.
Gereja Santo Nikolaus yang diperkirakan berusia hampir satu abad.

Hari ini adalah hari raya Rabu Abu, yang dirayakan umat katolik di seluruh dunia. Di Jerman, istilah Rabu Abu disebut ‘Aschermittwoch‘ yang menandai dimulainya masa prapaskah. Karnaval dan festival yang meriah kemarin sudah berakhir dan ditutup dengan faschingsdienstag. Apa yang disebutkan di atas adalah tradisi gereja katolik. Kini saya ajak anda menyelami lima gereja katolik yang letaknya di pusat kota Brussels dan menjadi sentra turis.

Kami sengaja tak memilih sightseeing tour agar kami bisa bebas memilih kemana kaki kami melangkah di pusat kota. Tak terasa bahwa kami telah mengunjungi lima gereja yang berada di pusat kota, yang menjadi destinasi wisata bagi para turis. Gereja yang sudah berusia ratusan tahun ini ternyata masih mengagumkan, bahkan masih menyimpan magnet untuk membawa turis berkunjung. Ada yang sekedar berfoto karena begitu indah, ada yang melihat-lihat tetapi ada pula yang berdoa. Setidaknya kami tidak lupa berkunjung ke rumah Tuhan.

1. The church of St. James on Coudenbourg

Tampak kejauhan.
Ditandai dengan patung Raja Leopod I yang menunggang kuda.
Tampak dalam gereja yang megah.

Gereja pertama yang wajib dikunjungi adalah gereja bergaya neo klasik khas gereja katolik. Semula saya berpikir ini adalah kastil atau bangunan seperti museum, ternyata ini adalah gereja. Karena di depan bangunan ini adalah seorang ksatria yang sedang menunggang kuda. Siapakah dia? Apakah ada kaitan antara ksatria ini dengan gereja? Kami pun menyebrangi dan segera memasuki pintu utama.

Berdiri di area royal palace, gereja ini dibangun pada abad 18. Setelah dibangun, gereja ini menjadi biara dan paroki dengan mengambil santo pelindung, Santo James. Namun gereja ini pun tak luput dari pergolakan perang saat Revolusi Prancis terjadi. Kemudian gereja dikembalikan lagi seperti fungsi semula sebagai gereja katolik di dekat istana, dimana umat bisa datang dan berdoa. Lihat saja, ruangnya begitu megah, bahkan untuk tim paduan suara yang bernyanyi di sini begitu lapang. Bendera negara Belgia tampak tergantung di langit-langit.

Rupanya kstaria yang menunggang kuda yang diabadikan di depan gereja adalah Raja Leopod I yang mengambil sumpah menjadi penguasa tahun 21 Juli 1831. Informasi ini tertera di prasasti di bawah patung. Anda harus berhati-hati mengambil foto di dekat tugu kstaria ini. Letaknya di sentra jalan dan menjadi lalu lalang tram, bis dan kendaraan sehingga anda perlu memeriksa saat sepi jalanan untuk berfoto.

2. The ‘Notre-Dame’ Church

Tampak depan.

Gereja kedua yang kami datangi adalah notre-dame Brussels. Sayangnya saya mengambil gambar sudah larut malam dan misa dalam bahasa Prancis sudah dimulai. Jadi saya mengambil gereja tampak depan saja. Meski tak semegah seperti gereja Notre-Dame di Paris, tetapi gereja ini masih aktif melayani umat.

Di depan pintu, tertera informasi bahwa gereja ini disebut ‘Die Notre-Dame du Finistéré Kirche’ yang dibangun pada abad 18 dan mengalami beberapa kali perbaikan. Gereja ini bertuliskan ‘finis terrae’ diambil dalam bahasa Latin berarti ‘di ujung bumi’ untuk membedakan gereja Notre-Dame lain yang juga ada di Brussels juga. Gereja ini tak sepenuhnya bergaya arsitektur Baroque, ada pula Neo Klasik.

3. The ‘Our Lady of Assistance’ Church

Tampak kejauhan.
Menaranya tampak jelas.
Kubah gereja.

Gereja ketiga yang juga menjadi destinasi wisata turis di Brussels adalah gereja katolik Santa Maria Pembantu Abadi, begitu bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun ada pula yang menyebutnya gereja Notre-Dame juga atau tepatnya Church of Notre-Dame de Bon Secours. Gereja ini tampak depan terdapat relief ziarah menuju tempat ziarah Compostela, di Spanyol. Tempat ziarah impian suatu saat nanti.

Abad 12 gereja ini sudah berdiri sebagai gereja bergaya arsitektur Baroque dan banyak dikunjugi umat. Seiring dengan berjalannya waktu, gereja diubah menjadi bergaya renaissance pada abad 17. Gereja ini pun tak luput dari serangan perang kala itu. Namun gereja tetap berdiri tegak menaungi umatnya. Tabernakel dekat altar begitu indah, pun patung Bunda Maria pelindung gereja. Gereja ini masih aktif untuk berdoa dan tempat menyelenggarakan misa.

4. The Saint Nicholas Church

Figur Santo Nikolaus.
Diorama kelahiran Yesus.
Dalam gereja.

Gereja keempat juga masih aktif untuk melayani umat. Bahkan saya dan suami sempat berlama-lama di gereja ini untuk berdoa dan sekedar mencari kesunyian di tengah hiruk pikuk pusat kota. Meski gereja ini tak besar tetapi ini membuat kami betah di dalam. Gereja ini disebut juga Basilika Santo Nikolaus. Tak disangka gereja katolik di sentra turis ini semua masih aktif dikunjungi umat dan tempat ibadah.

Diperkirakan gereja ini telah ada abad 11 Masehi, dengan mengambil santo pelindung Nikolaus. Kemudian abad 14 gereja direnovasi bergaya gothik. Gereja indah ini menjadi korban perang pada tahun 1600-an. Renovasi dan perbaikan kembali dilakukan terutama bagian depan gereja dan bertahan hingga sekarang.

5. Saint Michael & Gudula Cathedral

Begitu megahnya gereja ini, saya sampai tidak bisa mendokumentasikan keseluruhannya.

Katedral Brussels adalah gereja tak sempat saya singgahi dan hanya sekedar berada di luar gereja. Padahal gereja ini benar-benar berkesan dari interior hingga eksteriornya. Tempatnya tepat di area pusat turis dan dekat pasar sentral. Eksteriornya menakjubkan dan megah. Lihat saja kaca jendela gereja ini terpatri baik. Tak hanya banyak orang senang duduk di sekitar luar gereja, burung gereja tampak senang bertebangan bahkan elang hinggap di atas gereja.

Abad 9 katedral ini semula hanya kapel yang dibangun untuk menjadi rumah ibadah. Tak terasa pertumbuhan jumlah umat membuat gereja ini berkembang menjadi katedral yang megah. Pada abad ke-13 katedral dibangun total dengan gaya arsitektur gothik. Jika anda ingin tahu keindahan kota Brussels, datanglah tiap Sabtu minggu kedua dan keempat dimana anda bisa naik ke atas menara puncak gereja.

Memang rumah Tuhan tak luput dari traveling kami. Sejenak kita bisa berdiam diri hanya untuk menemukan makna perjalanan yang sedang dilakukan. Benar bahwa selalu ada yang menarik berada di rumah Tuhan.

Selamat memasuki masa prapaskah bagi anda yang memperingatinya!

Amsterdam (5): 6 Gereja Menawan di Pusat Kota

Basilika Santo Nikolaus tampak belakang.

Ketika berkunjung ke Belanda, hal yang ingin saya lakukan adalah berkunjung ke gereja karena saya dulu pernah bersekolah di sekolah katolik yang dididik oleh beberapa suster dan pastor yang berasal dari Belanda. Saya hanya membayangkan bahwa di Belanda pasti ada banyak gereja. Itu sebab salah satu tujuan saya adalah mendatangi gereja di Amsterdam, meski saya dan suami tidak pergi ke semua gereja di Amsterdam.

Enam gereja yang saya liput berikut memiliki bangunan arsitektur yang indah. Tampak menara gereja menjulang yang mudah terlihat siapa saja. Gereja ini ada yang menjadi kebanggaan kota Amsterdam dan ada yang memang terletak di jantung kota Amsterdam. Sebagian gereja yang saya liput masih aktif melayani ibadah dan kebaktian tetapi ada juga yang hanya menjadi museum.

1. Basilika Santo Nikolaus

Basilika Santo Nikolaus dari seberang Amsterdam Central Station.

Tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Basilika Santo Nikolaus, atau di Indonesia dikenal sebagai gereja sinterklas. Tokoh yang sering dikenal kala natal tiba. Itu pula yang mendasari saya untuk datang ke gereja tersebut. Sayangnya, saya datang di waktu kurang tepat. Jam 17.00 gereja katolik ini sudah tutup. Mengingat saya datang saat libur natal, saya berpikir bisa menyaksikan lebih dekat basilika ini, yang menurut sebagaian besar orang, basilika ini sangat indah dengan interior, ukiran jendela kaca dan muralnya. Saya hanya memandangi dari kejauhan karena letaknya di jantung kota Amsterdam sehingga membuatnya menjadi icon kota Amsterdam.

Dari dekat, Basilika Santo Nikolaus dengan dua menaranya.

Letak gereja katolik ini di seberang pusat informasi turis dan stasiun utama kereta. Dua menara gereja ini mengingatkan gereja-gereja di Jerman seperti Frauenkirche dengan mengusung gaya arsitektur neo-baroque. Dua kapel yang didedikasikan untuk santo Yosep dan santa Maria berada di sisi kanan dan kiri gereja. Basilika ini selesai dibangun tahun 1887 yang didedikasikan untuk santo nikolaus, pelindung kota Amsterdam. Pengunjung yang datang pasti terpesona dengan mural di dalam yang berisi 11 rasul Yesus, tanpa Yudas Iskariot di situ.

2. Oede kerk

Menara gereja.
Kini menjadi museum.

Gereja kedua ini saya tidak menemukan keseluruhan gereja, saya hanya mengambilnya dari jarak dekat. Disebut ‘old church‘ gereja tua karena paling tua didirikan yakni tahun 1280. Di gereja ini ada kursi untuk bangsawan dan pemimpin. Berangsur-angsur tiap abad terjadi perubahan dan restorasi. Kekacauan terjadi ketika gerakan Luther merambah ke Amsterdam. Gereja ini menjadi saksi sejarah tentang reformasi gereja di situ.

Hal menarik dari gereja ini adalah empat loncengnya yang melambangkan Iman, Harapan, Kasih dan Kebebasan. Berbagai ornamen dan lukisan yang menghiasi gereja ini berasal dari abad pertengahan. Kaca jendela gereja terukir indah dan penuh warna. Organnya juga spetakuler seperti umumnya gereja katolik di Jerman yang saya kunjungi.

3. Westerkerk

Gereja dari kejauhan.

Ini adalah gereja pertama yang saya kunjungi setelah berkunjung ke Anne Frank Huis. Letaknya dekat dengan museum keju, museum tulip dan museum Anne Frank. Gereja ini adalah gereja protestan yang menjadi kebanggaan kota Amsterdam. Gereja ini masih aktif menyelenggarakan kebaktian tiap Minggu, sedangkan tiap hari gereja dibuka jam 10.30 waktu setempat. Sebagai informasi, gereja dibangun pada abad 17 dengan towernya yang bisa dijangkau untuk melihat keindahan kota Amsterdam.

4. Zuiderkerk

Gereja ini memiliki menara setinggi 80 meter.

Bangunan keempat adalah gereja yang kini diubah menjadi pusat informasi. Dahulu bangunan ini adalah gereja pertama protestan di Amsterdam yang dibangun antara tahun 1603 hingga tahun 1611. Hal paling indah dari gereja ini adalah menaranya yang memainkan instrumen antara jam 12.00 hingga jam 13.00 waktu siang hari. Sejak tahun 1929, gereja ini tak aktif lagi sebagai gereja akibat minim pembiayaan mungkin. Sejak tahun 1988, pemerintah setempat mengalihfungsikan menjadi pusat informasi tata kota dan perumahan.

5. De Krijtberg

Gereja tampak dari kejauhan.

Gereja kelima adalah sekitar area shopping centre. Ini adalah gereja katolik yang disebut Paroki Santo Nikolaus. Gereja ini didedikasikan untuk Santo Fransiskus Xaverius dengan gaya arsitektur Neo-Gothic. Tak jauh dari gereja ada Ignatiushuis atau komunitas pengikut Santo Ignatius. Dibuka sejak tahun 1883, gereja ini masih aktif melayani umat seperti penyelenggaraan perayaan ekaristi, pengakuan dosa dan lain-lain.

6. De Nieuwe Kerk

Gereja yang letaknya di depan alun-alun.
Kiri adalah sebagian bangunan royal palace dan tampak ‘new church’.

Gereja terakhir adalah De Nieuw Kerk yang letaknya dekat dengan Royal Palace. Gereja ini adalah gereja protestan yang selesai dibangun pada abad 15. Konstruksinya sendiri sudah sejak abad 14, dengan gaya arsitektur neo-gothic. Pembangunan ‘new church’ sebagai terjemahan Nieuw Kerk dilakukan mengingat gereja ‘old church‘ atau oude kerk di atas sudah tidak muat lagi menampung jumlah umat. Tetapi berlangsungnya jaman mengubah fungsi gereja, kini ini menjadi museum dan tempat perhelatan resmi kenegaraan.

Demikian cerita liputan enam gereja yang saya telusuri di Amsterdam. Benar juga, selalu ada yang menarik di rumah Tuhan.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Lutherstadt Wittenberg (2): Menjelajahi Sosok Martin Luther di Museum

Tampak depan.

Data pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Sebaran umat di seluruh dunia dalam data juga bisa disimak di museum.

Melanjutkan kunjungan saya di kota Martin Luther yakni Wittenberg, kali ini saya ajak anda menyelami bagian dalam dari gereja All Saints. Gereja ini disebut juga dalam bahasa Jerman Schlosskirche yang juga menjadi fenomenal karena tempat bersejarah terjadinya reformasi gereja. Tokoh yang merencanakan dan mengawali perubahan gereja ini adalah Martin Luther. Ini bukan hanya menjadi sejarah gereja saja, melainkan juga sejarah dunia yang penting untuk diingat.

Martin Luther dilahirkan pada 10 November 1483. Dia pula tokoh yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, yang awalnya hanya dikenal dalam bahasa Latin. Setelah menempuh program doktoral Teologi di Italia, lima tahun kemudian ia protes terhadap kebijakan gereja saat itu. Kemudian 31 Oktober 1517, ia menancapkan 95 Thesisnya di pintu gereja All Saints atau yang juga dikenal Schlosskirche. Tahun 1525, Luther menikahi Katharina von Bora. Pada usia 63 tahun, Luther meninggal dunia.

Mengenali sosok Martin Luther, anda bisa datang ke Lutherhaus, dimana beliau pernah tinggal. Namun saya datang menjelajahi museum Schlosskirche yang juga menyimpan kronologis terjadinya reformasi gereja. Di gereja ini pula konon Luther dimakamkan bersama dua pengikutnya yang setia.

Untuk masuk ke museum ini ada bagian yang gratis dan ada bagian berbayar. Pada bagian gereja di dalam memperlihatkan umumnya gereja katolik di Jerman yang bergaya gothik. Sayangnya gereja ini sudah tak aktif dan dijadikan museum. Di sini ada benda-benda rohani yang masih terawat baik, meski sebenarnya dahulu ini adalah gereja katolik. Kini gereja ini menjadi pusat jutaan mata yang ingin tahu bagaimana terjadinya reformasi gereja yang terjadi lima ratus tahun lalu.

95 Thesis terbaca jelas.

Setelah puas berkeliling bagian dalam gereja, anda bisa melihat sisi luar gereja yang dibangun dengan informatif dan aktraktif bagi turis. Ada biografi Martin Luther dari kelahiran hingga kematiannya. Lalu juga isi Thesis Luther yang terbaca dengan baik dalam bahasa Jerman. Di sini pula ada data statistik sebaran gereja yang denominasi di seluruh dunia setelah terjadinya reformasi.

Altar.

Pengunjung yang tak pernah sepi.

Organ dan interior umumnya gereja bergaya gothik di Jerman.

Bagian belakang gereja.

Hal menarik lainnya, anda bisa melihat video dan audio dalam museum berbayar. Di depan pintu ada monitor data pengunjung yang mencatat kedatangannya. Saya adalah orang ke-79 dari Indonesia yang pernah berkunjung ke sini. Museum ini sendiri dibuka menjelang perayaan lima ratus tahun reformasi gereja tahun 2017 lalu.

Lutherstadt Wittenberg (1): Menyelusuri Lahirnya Reformasi Gereja di All Saints Church

Pintu gereja All Saints.

Tampak kelompok turis memenuhi depan pintu gereja.

All Saints Church sisi lain.

Sebelum saya menjejakkan kaki di Jerman, seorang pemuda yang aktif di salah satu denominasi gereja Kristen Protestan pernah menceritakan kota Lutherstadt. Dia yang saya kenal di tempat saya bekerja, berujar bahwa dia diundang untuk datang ke Lutherstadt Wittenberg untuk mengenal sejarah gereja Kristen Protesan yang menjadi salah satu dari agama-agama di Indonesia. Saya yang mendengar cerita dia pun menjadi antusias dan berharap suatu saat saya bisa berkunjung ke Jerman. Pada dasarnya saya senang belajar sejarah dan itu membuat saya memahami tentang proses kehidupan sesungguhnya.

Tahun 2017 lalu pada tanggal 31 Oktober di seluruh Jerman dijadikan hari libur. Hari libur ini tidak biasa karena ini dirayakan bertepatan dengan lima ratus tahun reformasi gereja yang diinisiasi oleh Martin Luther. Untuk menghormatinya maka pemerintah Jerman menjadikan hari libur sebagaimana pernah saya ceritakan di sini dua tahun lalu.

Setelah kami bermalam di Leipzig, suami menyanggupi mimpi saya untuk berkunjung ke kota Lutherstadt. Maklum saja saya tak pernah tahu bahwa mimpi pergi ke Jerman itu terwujud, termasuk menyelusuri Lutherstadt yang menjadi minat saya. Akhirnya selama satu jam lebih berkendara dari Leipzig ke Wittenberg, kami pun berkesempatan mampir.

Disebut juga gothic Schlosstor.

95 Thesis Luther yang terukir di pintu dalam bahasa Latin.

Salinan 95 Thesis yang bisa dibeli di toko sovenir.

Kini pintu itu disebut Thesentür.

Tempat pertama yang kami datangi pastinya adalah pusat informasi wisata. Rupanya letak tour information itu tepat persis di depan gereja All Saints Church yang menjadi sejarah dunia. Setelah kami mendaftarkan paket tur kota, kami pun menyelusuri bagian terpenting dari munculnya gerakan reformasi gereja yang dilahirkan Marthin Luther.

Sebagaimana anda tahu bahwa gerakan yang dibuat Martin Luther memberi dampak besar bagi gereja saat itu, tahun 1500-an. Jika anda pernah belajar sejarah tentang abad pertengahan di Eropa kala itu maka anda bisa paham apa yang melatarbelakangi Luther melakukan gerakan tersebut.

Gereja All Saints dikenal juga dalam bahasa Jerman Gothic Schlosskirche nampak jelas saat anda memasuki kota Wittenberg yang berada di tengah Jerman. Karena memang schlosstor atau gerbang kota itu dibuat pada abad 14 sebagai benteng pertahanan.

Kini gereja ini menjadi museum bersejarah yang didatangi jutaan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Satu lokasi yang wajib didatangi adalah pintu kayu asli yang menjadi saksi bagaimana sejarah gerakan reformasi itu dimulai. Di pintu yang disebut Thesentür dalam bahasa Jerman itu pada tanggal 31 Oktober tahun 1517 Luther menempelkan 95 Thesis yang menjadi acuan bahwa gereja perlu direformasi. Itu sebab selalu ada kelompok turis berfoto dan mendengarkan penjelasan tour guide di depan pintu tersebut.

Karena perang yang terjadi berulang kali melanda saat itu, gereja ini pun tak luput menjadi korban perang dan kebakaran. Tampak sudut-sudutnya terbakar dan sedikit bekas renovasi. Abad 19 King Frederic William IV dari Prusia memperbaiki pintu ini menjadi bentuk sekarang. Pun pintu bersejarah itu pun beralih kayu yang semula kayu diganti menjadi perunggu sebagai monumen. Teks Thesis Luther pun terukir indah di sini dalam bahasa latin tentunya. Wisatawan yang ingin mendapatkan salinan Thesis bisa diperoleh di toko sovenir.

Gereja bergaya arsitektur gothik ini kini menjadi tempat reformasi memorial yang berhubungan dengan Martin Luther. Di sini Luther dimakamkan berdekatan dengan Museum Luther yang akan dibahas kemudian.

Nantikan cerita saya selanjutnya!

Mengapa Wajib Berkunjung ke Dom Köln Bila ke Jerman?

Tampak depan yang dijadikan pintu masuk pengunjung.

Tampak dalam.

Singgah ke Köln yang berjarak tiga puluh menit dari Bonn dengan kendaraan pribadi, kami pun menyempatkan berkunjung ke Dom Köln. Dom Köln memang menjadi landmark keindahan kota Köln yang metropolis. Katedral ini berhadapan langsung dengan sungai rhein yang tampak indah dengan sorot lampu bila malam hari. Sayangnya kami datang di musim panas dimana kami harus menunggu lama hingga waktu malam tiba sementara kami harus bergegas ke kota berikutnya. Namun kami tetap berdecak kagum dengan pesona katedral yang sudah dibangun lebih dari tujuh ratus tahun lalu.

Bila anda berkunjung ke Jerman, sempatkanlah datang ke Köln dan berfoto di depan katedral ini. Tiap tahun ribuan turis datang berkunjung ke sini yang menjadikan tempat ini populer. Namun dibalik kemegahan dan popularitasnya, saya merangkum beberapa alasan mengapa perlu datang ke katedral ini?

1. Bangunan bergaya gothik

Situs awal pembangunan.

Ujung menara lancip menandakan gaya arsitektur gothik.

Pintu masuknya begitu terukir indah.

Katedral ini dibangun pada abad 13, tepatnya pada tahun 1248. Selesai memarkirkan mobil, kami keluar dan berhadapan dengan batu pondasi reruntuhan. Ditutupi dengan kaca dan disampingnya tertulis informasi sejarah pendirian gereja.

Di batu pondasi itu awalnya adalah situs kuil romawi Sebelum Masehi. Lalu setelah kehadiran misionaris, kuil dirombak dan dijadikan tempat peribadatan. Tercatat abad 7 dan 9 Masehi sudah terjadi pembabtisan jemaat di sekitar itu.

Jika melihat gaya arsitekturnya maka gereja ini termasuk bergaya gothik. Lebih jauh apa itu gaya arsitektur gothik, bisa dilihat di sini. Ciri ini terlihat dari dua menara gereja yang runcing. Tak hanya itu, langit-langit dalam gereja terlihat spasial vertikal dan horisontak yang indah dan presisi. Ini sebagai simbol salib. Tentu perlu tangan arsitek yang ahli hingga bangunan ini tampak sempurna.

Di pintu masuk tampak berujung runcing dan berhiaskan aneka ukiran yang indah dan sempurna dari para orang kudus. Tangan-tangan seniman telah membuat gereja ini benar-benar sebuah ekspresi keagungan Tuhan. Bahkan pembuatannya hingga beratus-ratus tahun agar tampak sempurna dan indah. Luar biasa!

2. Bisa melihat Köln dari atas

Köln dari atas puncak.

Di puncak, ruangnya dibatasi demi kenyamanan dan keamanan bersama.

Jika sudah tiba di Köln, pasti penasaran seperti apa penampakan kota yang sering dijadikan festival ini. Untuk itu anda perlu menaiki kurang lebih 600 tangga. Persiapkan energi dan fisik anda agar anda tidak menyerah dan tiba di puncak. Setibanya di puncak, rasa lelah anda terbayar dengan pemandangan menawan kota Köln atau keindahan sungai rhein.

Untuk menjangkau puncak, anda perlu membayar per orang 4€. Saran saya, gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman misalnya tidak menggunakan high heels. Di tengah puncak, anda bisa melihat lonceng terbesar. Anda juga bisa beristirahat sejenak. Lalu menaiki tangga hingga tiga per empat sebelum puncak, ada ruang yang bisa dijadikan persinggahan terakhir sebelum menjangkau puncak.

3. Tempat menyimpan relikui dari “Tiga Raja dari Timur” (Three Holy King)

Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem, tiga raja dari Timur yakni Caspar, Melchior dan Baltasar datang untuk menyembahNya. Mereka membawa emas, mur dan kemenyan. Di Bavaria, Jerman tradisi ‘tiga raja dari Timur’ masih dirayakan dan dijadikan hari libur. Dalam liturgi gereja katolik tradisi ini disebut epiphany.

Baca https://liwunfamily.com/2018/01/06/6-januar-dreikonigsfest-epiphany-hari-libur-di-jerman/

Nah di Dom Köln kita bisa menemukan relikui peninggalan ‘tiga raja dari Timur’ yang tersimpan indah. Kata pemandu wisata, gereja ini awalnya dibangun untuk menjadi tempat menyimpan peninggalan mereka.

4. Memiliki banyak lonceng

Di katedral ini ada 11 lonceng, termasuk 1 lonceng besar yang dibunyikan dengan perlengkapan khusus. Lonceng pertama beratnya hanya 3,8 ton dan lonceng terakhir tahun 1922 beratnya mencapai 24 ton. Lonceng terberat dan terakhir ini diberi nama Saint Peter. Dan katanya lonceng ini merupakan lonceng terbesar di dunia. Hmm, percaya sih.

Jika kita berhasil menjangkau setengah dari puncak, ada satu lorong menuju ruang lonceng. Wisatawan bisa berhenti sejenak, sebelum puncak menara. Sebagian pengunjung tampak mengambil foto.

5. Patung Bunda Maria dan Salib dari kayu

Di dalam gereja yang selalu penuh pengunjung, saya tidak sempat datang ke patung Milan Madonna yang terbuat dari kayu di abad 13. Saya masih terpukau dengan patung Bunda Maria memangku jenazah Yesus. Patung ini pun terbuat dari kayu. Demikian juga salib besar yang terbuat dari kayu yang hingga sekarang masih utuh. Padahal jika disimak, Dom Köln tak luput dari sasaran penyerangan perang dunia. Salib kayu ini dibuat pada abad 10.

6. Punya menara tertinggi

Kedua menara gereja memang tampak punya tinggi yang sama. Padahal dari informasi ternyata tingginya tidak sama. Menara utara lebih tinggi sedikit ketimbang menara selatan. Menara ini merupakan yang tertinggi di Eropa Barat mengalahkan menara Eiffel Paris.

Di menara ini konon sempat menjadi tempat pengintaian musuh saat terjadi perang dunia kedua. Menaranya berunjung rucing sesuai gaya arsitekturnya yang bergaya gothik, maka ukiran-ukirannya memerlukan kejelian spasial menurut saya.

Dom Köln terbuka setiap hari dan gratis. Jika ada pelayanan khusus gereja sebaiknya kita pertimbangkan jika hanya untuk tujuan wisata atau mengambil gambar. Untuk beberapa area seperti naik ke puncak atau ruang treasury chamber maka harus membayar sekian Euro. Gereja ini terletak tak jauh dari Hauptbahnhof Köln.

Photos Galery: Dom St. Stephan di Wina, Austria

Some following photos are about Dom St. Stephan in Vienna, Austria that took by me a few weeks ago. I thought Dom St. Stephan in Vienna and Dom St. Stephan in Passau, Germany have the linkage. How do you think?

***

Salah satu bangunan yang menandai kota Wina, Austria adalah Dom St. Stephan yang berada di pusat kota. Bahkan pengunjung bisa membayar untuk naik ke atas menara melihat keindahan kota Wina.

Bangunan bergaya gothic ini telah menjadi saksi sejarah ratusan tahun lalu, termasuk perang dunia kedua yang menghancurkannya. 

Barangkali sebagai turis, anda tertarik berkeliling pusat kota Wina dengan kereta kuda. Kereta kuda ini parkir tak jauh dari Dom St. Stephan. Silahkan bayar sejumlah Euro untuk 30 menit dan 1 jam!

Apakah ada kaitannya dengan Dom St. Stepan di Passau? Sepertinya ada. 
Dom St. Stephan Passau, Jerman kala pasar malam menjelang Natal.

Dom St. Stephan, Passau dari kejauhan.
 

 

Basilika Santo Stephan: Budapest, Hungaria (7)

 

wp-image-913643132
Tampak depan.

 

Sisi lain Basilika.

 

 

 

Sisi dalam dari langit-langit Basilika yang indah.

 

 

 

Basilika didekasikan untuk Raja Hungaria I seperti dalam informasi di atas.

 

 

Bangunan fenomenal yang mudah dikenal dan dijumpai di Budapest adalah Basilika Santo Stephanus. Sebagai katedral yang memiliki bangunan megah bergaya Neo-klasik, Basilika ini menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi di sini. Entah berapa jumlah umat Katolik di Hungaria namun katanya Paus, pemimpin Gereja Katolik selalu menyempatkan untuk adakan misa di sini.

Ini tempat pertama yang kami kunjungi karena letaknya yang dekat dengan penginapan kami. Lagipula kami beruntung datang kala masih tersedianya pasar Natal. Kemeriahan pasar yang digelar menjelang akhir tahun berada di depan lapangan Basilika.

Berdasarkan informasi tour guide, nama Santo Stephanus berasal dari Raja Hungaria I, Stephan. Kini Basilika ini adalah Gereja Katolik terbesar ketiga di Hungaria.

Saat kami memasuki Basilika, petugas jaga meminta kami mematuhi aturan. Karena bagaimana pun kita harus menghormati orang yang berdoa dan menjaga kekhusukkan. Selain itu, silahkan masukkan uang sukarela, nilainya 200 HUF bahkan boleh lebih jika mau.

Seperti layaknya di beberapa Basilika yang saya kunjungi, di sini begitu pun lukisan dan benda-benda rohani yang mempesona. Karena sore hari di kala musim dingin begitu gelap, kami sulit mendokumentasikannya. Cahaya Basilika begitu minim. Di sini juga, organnya begitu menawan.

Untuk melihat keindahan kota Budapest, anda bisa menaiki kubah Basilika dengan tangga atau lift. Sayangnya kami tiba tidak punya kesempatan melakukannya.

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Ciri Backsteingotik atau Brick Gothic (3)

Gereja Katolik St. Martin, dekat Landshut.
wp-image-1323664648Kota Landshut dari atas, Gereja Katolik St. Jodok (kanan) juga bercirikan arsitektur backsteingotik.


Salah satu Gereja Katolik lain di Munich yang juga punya ciri arsitektur backsteingotik. 


Melanjutkan hasil pengamatan soal arsitektur Gereja Katolik di seputar Bavaria, saya mendapatkan satu lagi ciri arsitektur yang jarang dijumpai. Suatu kali saya berhenti di Landshut, Niederbayern. Saya menjumpai bangunan yang berbeda dan indah sekali, termasuk pada Gereja Katolik yang jadi landmark kota tersebut. Beberapa Gereja Katolik lainnya di sekitar juga bercirikan sama, Backsteingotik dalam bahasa Jerman.

Baca:

  1. https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/
  2. https://liwunfamily.com/2017/12/23/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-gothic-2/

Di Landshut, ciri bangunan backsteingotik terdapat pada kastil “Burg Traunitz” yang begitu melegenda dan terlihat menawan dari bawah. Cerita kastil tersebut akan saya lanjutkan pada artikel selanjutnya.

Backsteingotik, sebenarnya diambil dari kata backstein yang merujuk pada batu bata merah. Kemudian gotik tentu merujuk pada ciri khas gothic, seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya. Pada bangunan gothic, ciri yang menonjol terlihat seperti keruncingan menara. Jadi backsteingotik bisa dikatakan perpaduan antara keduanya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, disebut Brick Gothic.

Sebenarnya tak hanya di Jerman, bangunan dengan ciri khas backsteingotik ditemukan. Bangunan seperti ini juga tampak mencolok di Polandia, Belanda dan Inggris. Itu yang saya ketahui. Ketika saya berbicara dengan seorang pastor di sini, dikatakan Gereja Katolik bercirikan backsteingotik lebih banyak terlihat di wilayah Jerman bagian utara. Pembangunan bercirikan gaya arsitektur ini sudah dimulai sejak abad 12 hingga 16 di wilayah Eropa yang berdekatan dengan laut Baltic.

 

Menurut anda apakah bangunan bercirikan backsteingotik terlihat lebih mudah dibandingkan kedua ciri arsitektur sebelumnya?

cropped-wpid-img-20140316-wa0012.jpgGereja Katolik St. Jodok tampak depan.

Gereja Katolik St. Jodok tampak samping.

Setelah saya amati dinding Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik ternyata bata merah tersusun dengan rapi dan arsitektural. Artinya, ini dibangun dengan penuh ketelitian dan terkesan kokoh hingga bertahan ratusan tahun. Konon tak tersedia lagi batu bangunan sehingga dipergunakan bata merah yang terbuat dari tanah liat.

Bata merah yang tersusun tersebut menjadi begitu menawan mata saat saya melihatnya dari kejauhan. Biasanya saya menemukan Gereja Katolik bercirikan baroque atau gothic, maka saat saya menemukan bercirikan backsteingotik tentu ini merupakan hal yang menarik. Ulasan bangunan bercirikan backsteingotik akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Namun setidaknya, ada juga Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik di Jerman bagian selatan.

Saya juga pernah mengunjungi gaya arsitektur backsteingotik di Vietnam Selatan, tepatnya di Ho Chi Minh City. Katedral Notre Dame bercirikan bangunan backsteingotik juga terlihat menawan sehingga dijadikan landmark kota.

Katedral Notre Dame, Ho Chi Minh City juga bercirikan arsitektur backsteingotik. Foto diambil 2010.


Ada pendapat?

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Gaya Gothic (2)

Gereja Katolik St. Paulus, Munich.

Gereja lain di wilayah Bavaria yang bercirikan gothic.

Dari semua foto, tentu anda bisa menyimpulkan persamaan dari penampakan luar Gereja Katolik tersebut yang bercirikan arsitektur gothic.

Ujungnya yang lancip pada menara Gereja Katolik di Bavaria atau kapel, bercirikan bangunan gothic.


Saya senang mengamati berbagai bangunan yang terdapat di wilayah Bavaria, Jerman. Saya tekankan pada pengamatan kali ini adalah Gereja Katolik, dimana setiap desa dan kota pasti ada Gereja Katolik karena mayoritas penduduk Bavaria memeluk Katolik. Di artikel sebelumnya, saya menjelaskan tentang ciri dan contoh bangunan bergaya baroque

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/

Selanjutnya, gaya arsitektur yang ditemukan adalah gothicArsitektur bergaya gothic dimunculkan di Eropa mulai abad 12 hingga abad 16. Kemudian memasuki abad 20 kebangkitan arsitektur gaya ini kembali ditiru pada bangunan-bangunan ternama semisal gedung pemerintahan, kastil atau universitas. Artinya bangunan bercirikan gothic yang semula terlihat pada Gereja Katolik, pun mengalami perkembangan, termasuk di Jerman. Anda bisa temukan semisal pada bangunan Rathaus di Munich, ibukota negara bagian Bavaria, Jerman.

Goethe, seorang filsuf terkenal Jerman menyebutkan gaya gothic sebagai “deutsche Architektur.” Saya tidak tahu mengapa bisa disebutnya begitu, mungkin bangunan gothic memerlukan keahlian spasial yang tinggi. Perlu anda ketahui bahwa bangunan bercirikan gothic selalu memiliki atap berujung runcing dan lancip. Tak hanya itu, langit-langit pada bangunan dibuat lengkungan berpotongan yang khas. Ini yang memudahkan saya mengetahui bahwa bangunan ini bercirikan gothic.

Saat memasuki Gereja Katolik di Jerman, dengan mudah saya melihat dari kejauhan bentuk bangunannya. Lalu di dalam, saya perhatikan bagaimana langit-langitnya dibuat begitu simetris. Artinya, ini membutuhkan keahlian yang sempurna. Saat perkembangan ciri bangunan gothic sekitar abad 12 memang diasosiasikan dengan Gereja Katolik. Karena unsur horisontal dan vertikal pada ciri bangunan gothic melambangkan keagungan Tuhan. Pada katedral misalnya, terlihat bahwa ciri gothic seperti membentuk salib.

Perhatikan langit-langit yang berupa potongan lengkungan yang struktural sempurna. Ini di Gereja Katolik St. Paulus.

Ini juga pada langit-langit Gereja, menjadi ciri bergaya gothic.


Ciri lain bangunan gothic ada pada lengkungan runcing yang tajam, yang disebut “Ogival architecture.Saya bisa melihatnya tidak hanya pada kubahnya saja, tetapi pada pintu dan jendela yang menghiasi Gereja. Awalnya saya berpikir ini semacam dekorasi saja, namun jika diperhatikan bentuknya mengikuti gothic secara struktural. Begitu pun pada potongan langit-langit yang menghiasi atas Gereja Katolik, ciri gothic begitu terlihat struktural. Saya yakin ini butuh kejelian. Itu sebab Goethe berpendapat, bangunan berciri gothic merupakan kejeniusan.

Alangkah lebih detil dan rinci lagi pengamatan seorang arsitek untuk membahas ini. Namun sebagai awam, saya mencoba membuat perbedaan ciri gaya arsitektur yang membedakan Gereja Katolik di wilayah region Bavaria.

Demikian pengamatan saya, ada satu ciri arsitektur lain yang akan saya bahas selanjutnya. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/26/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-ciri-backsteingotik-atau-brick-gothic-3/

Semoga bermanfaat!

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Gaya Baroque (1)

 

IMG_0515
Salah satu ciri bangunan baroque yang terkenal di Bavaria ditemukan di Frauenkirche, Munich (kubah kembar berwarna hijau). Sumber Foto: Dokumen pribadi.

 

 

wp-image-979286989
Menandai ciri bangunan baroque pada Gereja Katolik adalah kubahnya, seperti pada foto di atas. 

 

 

20170705_163538
Dom St. Stephan di Pasau, juga bercirikan baroque.

 

 

wp-image-1558792398
Basilika Santa Anna, Altötting.

Saya paling suka mengamati apa saja yang saya temukan, termasuk bangunan-bangunan di Eropa yang masih bertahan meski sudah lama didirikan. Salah satu gaya arsitekur yang menarik mata saya adalah Gereja Katolik. Di tiap desa atau kota di wilayah Bavaria pasti ditemukan Gereja Katolik. Itu sebab negara bagian ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Gereja Katolik yang saya kunjungi selalu saya perhatikan corak bangunan. Sejarah pendiriannya biasa saya jumpai dalam prasasti di sekitar Gereja. Itu artinya Gereja sudah didirikan berabad-abad lalu. Meski Gereja Katolik di sini tak sebesar Gereja saya di Jakarta, mungkin itu berdasarkan pertimbangan jumlah umat pada masa pendiriannya. Sedangkan Gereja Katolik di paroki saya di Jakarta misalnya bisa menampung hingga ribuan umat.

Ada dua gaya bangunan yang dominan pada Gereja Katolik di Bavaria yakni bercirikan baroque dan gothic. Lalu hampir sebagian besar, Gereja Katolik yang saya kunjungi, sekali lagi yang saya kunjungi, jadi bukan angka statistik alias tidak obyektif. Bahwa kebanyakan bentuknya bergaya baroque.

 

wp-image-3280717
Trevi fountain, bangunan fenomenal ciri baroque di Roma, Italia. 

 

Gaya ini dimunculkan Gereja Katolik pada periode abad 15 hingga 18, dimulai dari Roma, Italia. Salah satu bangunan baroque terkenal yakni trevi fountain sebagai contoh bangunan baroque pada taman kota. Di Jerman gaya arsitektur ini pun diadopsi pada pendirian Gereja Katolik, pada abad 17 hanya untuk sebagai ciri Gereja Katolik.

Saya bukan seorang arsitek tetapi saya suka mengamati. Bahwa bangunan bercirikan baroque selalu memiliki kubah yang sama. Lengkungan dan bentuknya mirip. Ini mengingatkan pada kubah kembar Frauenkirche yang juga jadi landmark kota Munich, ibukota negara bagian Bavaria. Bercirikan baroque terkadang juga dilengkapi lukisan fenomenal yang indah pada dinding sekitar altar atau langit-langit. Namun Gereja Katolik di tempat tinggal saya sekarang yang sederhana, tidak ada lukisan seperti itu. Namun Gereja tersebut bercirikan baroque.

 

wp-image-1740115703
Salah satu ciri lain dari bergaya baroque di Gereja Katolik adalah lukisan di dalam. Ini di Basilika Santa Anna, Altötting.

 

Bangunan bercirikan baroque dipopulerkan Gereja Katolik pada masa itu untuk membangkitkan emosional secara spiritual pada umat yang datang. Itu sebab sekitar di dalam Gereja dihiasi oleh lukisan tentang bagian dari Alkitab atau tokoh-tokoh orang kudus lainnya.

Ciri berikutnya adalah bergaya gothic akan saya jelaskan pada artikel berikutnya.