Altötting, Bavaria (3): Sekali Lagi, Basilika Santa Anna

Tampak depan.

Prasasti di dekat pintu masuk.

Tampak Altar dari kejauhan.

Orangtua saya memilih nama Anna sebagai nama babtis. Sebagai penyandang nama Anna, saya pun menyempatkan lagi berkunjung ke Basilika Santa Anna yang letaknya masih dalam satu komplek ziarah di Altötting. Sebelumnya, saya pernah menuliskan Basilika St. Anna di sini

Santa Anna diakui Gereja Katolik sebagai ibu dari Bunda Maria. Di Basilika ini terdapat peninggalan reliqui atau peninggalan Santa Anna untuk menghormatinya.

Baca https://liwunfamily.com/2014/09/22/basilika-st-anna/

Basilika ini letaknya tak jauh dari biara, tempat tinggal Bruder Konrad. Di Basilika ini terdapat replika tubuh Bruder Konrad yang dihormati itu. Peti kaca diletakkan di samping altar utama. Bruder Konrad banyak berjasa bagi pelayanan dan pengembangan rohani umat di tempat ziarah ini.

Prasasti yang menandai Paus Pius X dan Raja Ludwig III dari Bavaria di sini.

Salah satu altar samping.

Organ besar di atas.

Altar utama dari dekat dan organ kedua di sisi altar.

Replika Bruder Konrad.

Sisi dalam Basilika untuk berdoa.

Salah satu dekorasi yang menghiasi Basilika.

Basilika ini mampu menampung umat hingga delapan ribu orang. Dibangun sejak abad 17 dengan kubah setinggi 60 meter. Bangunan bergaya Neo Baroque, sempat terjadi beberapa kali renovasi hingga akhirnya berdiri megah seperti sekarang ini. Altar yang menjadi pusat perayaan Ekaristi terlihat indah dari pintu luar Gereja. Di samping kanan kiri, terdapat dua belas altar samping dan altar tinggi.

Di Basilika ini ada dua organ sebagai alat musik meriah mengiringi perayaan Ekaristi. Yang pertama disebut die Große Marienorgel Santa Anna sudah ada sejak tahun 1916. Organ memiliki tinggi 15 meter dengan dua galeri di kanan kiri menambah kemegahan Basilika kala berlangsungnya perayaan Ekaristi. Organ kedua, die Chororgel yang berukuran lebih kecil dan masih baru. Kedua organ yang masih indah dan  terpelihara sampai sekarang. 

Tercatat ada delapan Paus yang pernah berkunjung ke sini, mulai dari Paus Pius X hingga Paus Benedictus XVI.

Semoga bermanfaat kunjungan saya ke Altötting!

1 November: Hari Raya Orang Kudus, Allerheiligen di Jerman. Begini Tradisinya

Ilustrasi. Area pemakaman di Austria. Pada tanggal 1 November pun di Austria dijadikan hari libur nasional.

Contoh hiasan karangan bunga kering.

Biasanya area pemakaman di Jerman atau di Austria selalu ada Kapel atau Gereja, meski tak semua berlaku begitu. 



Bagi wilayah Bundesland, negara bagian yang bermayoritas Katolik maka 1 November menjadi hari libur. Di sini disebutnya Allerheiligen atau All Saints Day dalam bahasa Inggris. Ritual ini tidak hanya karena keyakinan semata sebagai umat Katolik, namun juga menjadi tradisi bagi orang Jerman yang sudah dilakukan selama ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 

Adalah Jerman sebagai negara pertama yang melaksanakan ziarah ke kubur pada saat perayaan Hari Raya Orang Kudus. Dulu perayaan ini lebih banyak diselenggarakan di wilayah tempat kelahiran para santo atau santa yang sudah dimulai sejak abad 2 Masehi. Namun kemudian Paus Gregorius III mengumumkan perayaan ini diselenggarakan sebagai tradisi Gereja secara universal.

Sejak dua bulan lalu, supermarket dan toko-toko bunga di Jerman sudah dipenuhi dengan hiasan bunga kering. Nantinya hiasan ini diletakkan di atas makam. Hiasan ini tidak wajib, hanya sebagai pelengkap saja. Biasanya para ibu dan perempuan memikirkan hal ini sebelum tanggal 1 November.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/22/grabgesteck-hiasan-karangan-bunga-untuk-makam/

Kemarin sebagai hari libur, tiap Gereja sudah memiliki tradisi turun temurun dari generasi ke generasi untuk merayakan acara ini. Ada yang sudah memulainya di Gereja lalu kemudian dilanjutkan di makam. Ada juga yang langsung menyelenggarakan di kapel yang ada di makam. Sebagai informasi, di tiap kota memiliki area makam masing-masing. Jadi sebagai penghormatan kemarin, saya dan keluarga di sini datang ke dua kota yang berdekatan untungnya. Di makam, kota pertama perayaan untuk menghormati dan mendoakan keluarga dari pihak ayah mertua. Lalu, di makam kota kedua untuk menghormati dan mendoakan keluarga dari pihak ibu mertua.

Di Jakarta biasanya perayaan yang saya ikuti cukup mengikuti misa di Gereja. Jika punya banyak waktu saat di Jakarta, beberapa Gereja ada juga yang menyelenggarakan ziarah kubur juga. Namun saya tak pernah bisa ikut karena kesibukan bekerja tentunya.

Karena di Jerman dijadikan hari libur dan sudah menjadi tradisi dipastikan semua orang datang ke makam kemarin. Parkir pun penuh dan perlu berjalan jauh untuk mencapai makam. Dan udara kemarin tidak bersahabat alias dingin sekitar 8 derajat di luar namun tidak menyurutkan niat mereka untuk menghormati dan mendoakan para leluhur. 

Perayaan ibadat sederhana dan singkat dipimpin oleh Pastor. Suasana haru tampak di makam kala masing-masing orang berkumpul di di dekat makam keluarga. Ibadat juga diikuti dengan pemberkatan makam oleh Pastor. Pastor berkeliling di sekitar makam. Acara pun selesai. Di sini pula dijadikan ajang jumpa sanak keluarga dan family yang lama tak berjumpa. Namun sedih juga bilamana tak ada lagi sanak keluarga. Saya melihat seorang nenek yang sudah sepuh seorang diri berdoa sambil menangis di hadapan makam keluarganya. 

Mengunjungi makam dan berdoa bagi anggota keluarga dan kerabat yang sudah meninggal memang menyentuh bagi siapa saja. Tradisi ini pun dirayakan Gereja Katolik secara khusus pada 1 November. Di Jerman tradisi ini masih dipelihara hingga sekarang. 

Karena kondisi yang tak nyaman saat ibadah berlangsung, tak ada pengambilan dokumentasi. Semoga bisa dimaklumi😁

31 Oktober: Perayaan 500 Tahun Reformasi Gereja

 

wp-image-1520883665
Ilustrasi. Salah satu Gereja Kristen Protestan di Austria. Di depan Gereja terpampang spanduk “Perayaan 500 Tahun Reformasi Gereja.” 

Hari ini di Jerman dijadikan hari libur bukan karena perayaan Halloween. Ini terjadi hanya pada tahun ini saja, artinya tidak setiap tahun tanggal 31 Oktober adalah hari libur. Pemerintah Jerman di setiap Bundesland, baik yang mayoritas Katolik maupun mayoritas Kristen Protestan merayakan hari ini sebagai peringatan 500 tahun Reformasi Gereja. Dan besok 1 November pun di wilayah mayoritas Katolik seperti wilayah saya akan libur sebagai perayaan Allerheiligen

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/22/grabgesteck-hiasan-karangan-bunga-untuk-makam/

Bagi penduduk Jerman bisa menjadikan hari Senin kemarin sebagai HARPITNAS, ‘hari kejepit nasional’ dan memilih ambil cuti dan libur panjang sejak wiken. Begitu yang saya alami di Indonesia. Akhirnya saya pun demikian, tidak ada kelas sementara. Lalu apa yang terjadi sebenarnya 500 tahun lalu?

Begini, anda pernah dengar nama MARTIN LUTHER yang adalah orang Jerman. Jika anda masih ingat pelajaran Sejarah di sekolah dulu, siapa itu Martin Luther? Saya masih mengingat nama ini dengan baik. 

Martin Luther adalah seorang Profesor Teologi yang lahir di Jerman. Kala itu 500 tahun lalu, Gereja Katolik pernah mengalami masa krisis, termasuk ekonomi. Luther yang adalah ahli Teologi datang dan menolak beberapa ajaran termasuk praktik Gereja Katolik yakni jual-beli surat Indulgensi. Di saat itu Jerman memang menganut seratus persen Katolik untuk penduduknya. Hal yang saya ingat saat masih sekolah dan belajar Sejarah, Luther menolak praktik indulgensi yang dikeluarkan Gereja. Dia punya pendapat lain yang kemudian dituliskan dalam berbagai thesis.

Martin Luther juga menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, yang semula Bahasa Latin. Puncaknya adalah pada tahun 1517, thesis Luther menyebar ke beberapa lokasi di Jerman tentang ajaran dan pendapatnya mengenai teologi. Dua minggu kemudian thesis ini menyebar ke seluruh Jerman hingga berbulan-bulan berikutnya menjangkau ke Eropa. Untuk menandainya, dia menempelkan thesis itu di pintu Gereja “All Saints Day” pada tanggal 31 Oktober 2017. Gereja ini masih berdiri hingga sekarang di wilayah Wittenberg. Sejarah baru pun dimulai dan memunculkan para pengikut Martin Luther selanjutnya, dan denominasi Gereja seperti Kristen Protestan.

Tahun ini Pemerintah Jerman memberi penghormatan secara khusus kepada salah satu putra terhebatnya yang menandai sejarah peradaban manusia, Martin Luther. Itu sebab pada hari ini, 31 Oktober dijadikan hari libur nasional.

Semoga bermanfaat!

Menanti Senja di Roma, Italia

Silahkan baca:

Dom Salzburg: Perpaduan Seni Baroque dan Gothic Sejak Tahun 774

Dom Salzburg tampak depan.

Menara gereja seperti layaknya gereja di Jerman.

Pintu gereja ada tiga yang menandai Iman, Harapan dan Kasih.

Kemegahannya sudah tampak dari pintu masuk.

Wajar saja jika butuh waktu berpuluh-puluh tahun membangun gereja ini. Lihat kubahnya terukir indah dengan pahatan yang sempurna dan lukisan indah.

Bilik pengakuan dosa.

Lekukan kubah yang indah dan menawan.

Lukisan uskup pendahulu gereja.

Organ besar di tengah atas dan dua organ kecil. Keren.

Altar, persembahan misa kudus.

Kapel bawah tanah.

Berjalan menyusuri kota lama Salzburg yang berdekatan dengan Rathaus, kami menemukan Dom Salzburg yang kemegahannya sudah terlihat mata dari jauh. Lonceng gereja berbunyi berkali-kali kala jam 3 sore. Kami mengikuti arah dimana lonceng dibunyikan. Rupanya setelah kami mencari tahu lonceng gereja telah ada sejak 1628. Panggilannya begitu kuat mendetang.

Di depan gereja beberapa turis tampak mengambil foto. Ada taman dan air mancur yang megah khas Baroque. Gerbang gereja dihiasi patung pahatan yang sempurna dengan tahun pembuatannya. Wow, gereja ini menyimpan sejarah yang terekam selama berabad-abad lamanya. 

Di katedral ini pula saksi bisu dimana Mozart, tokoh dunia musik terkenal dibabtis. Konon gereja yang dibangun sejak tahun 774 lalu sempat terjadi kebakaran yang hebat, gereja direnovasi lagi tahun 1181 dan baru selesai 1628. Ratusan tahun membangun gereja ini? Tak salah karena setiap kubahnya dibuat detil khas Baroque dengan lukisan yang menawan. Katedral ini juga menyimpan memori kala sempat menjadi sasaran perang dunia kedua. Kemudian direnovasi dan selesai 1959. Luar biasa!

Ada tiga pintu, namun untuk masuk gunakan pintu tengah. Pintu pertama bertuliskan 774, pintu kedua bertuliskan 1628 dan pintu ketiga 1959. Ketiga pintu ini merupakan simbol IMAN, HARAPAN dan KASIH. Kubahnya yang tinggi menggambarkan keindahan dengan lukisan dan pahatan karya seni. Ini disebut ciri gothic. Sempurna! Di sisi gereja ada lukisan para orang kudus dan tempat untuk berdoa. Sejenak saya berdoa dan suami tampak memotret setiap sisi gereja. 

Di koridornya ada patung empat pengarang Injil yakni St. LUKAS, St. MATIUS, St. MARKUS dan St. YOHANES. Di belakang gereja saya melihat bilik kayu yang kokoh dengan ukuran semacam kamar privat. Ini adalah ruang pengakuan dosa. Di Indonesia ruangan ini selalu menyatu dengan bangunan gereja. Di sini terpisah dan sepertinya masih menjadi gaya lama. 

Bangku di depan altar sepertinya bangku lama saat gereja ini berdiri karena tampak tua dan sederhana sekali. Tak sebanding dengan kemegahan gereja yang luar biasa. Namun bangku umat sudah tampak moderen seperti layaknya gereja yang saya temui di Jakarta. Mungkin di bangku lama untuk tempat spesial para diakon atau petugas misa, mungkin loh.

Di sekitar atas altar saya mendapati organ lama seperti yang pernah saya jumpai di Dom Passau, Jerman. Organ besar ada di tiga tempat dan yang terbesar di atas balkon gereja. Tak terbayang keindahan suara yang dihasilkan kala koor menyanyikan pujian bagi Tuhan. Pastinya merdu menambah kekhusyukan ibadah.

Altar yang menjadi pusat perayaan ibadah dibangun dengan keindahan ciri khas Baroque. Di sisi altar ada lukisan sepertinya ini adalah lukisan tokoh setempat dengan pakaian kebesaran dan khas seperti uskup di masa lalu atau pengagas bangunan ini. 

Tak jauh dari tempat koor, ada tangga menuju ke bawah. Di bawah ada kapel untuk ukuran umat yang tak banyak. Di kapel ini ada foto dan museum untuk menyimpan benda-benda rohani pada masa awal gereja. Lalu masih di lantai bawah gereja dijelaskan bahwa uskup pertama dari gereja dimakamkan di sini. 

Jika menelisik bangunan Dom Salzburg sekilas seperti Dom di Passau bentuk bangunannya. Namun ciri gothik terlihat dari atas gereja dengan kubahnya yang menjulang. Untuk masuk gereja, tidak ada biaya alias gratis. 

Namun saran saya sebagai berikut:

  • Berpakaianlah yang sopan dan pantas karena dimana pun tempat ibadah, petugas selalu melarang turis bila berpakaian yang kurang sopan.
  • Tidak makan dan minum selama di gereja.
  • Jaga kebersihan!
  • Buka topi!
  • Tidak berisik.
  • Dilarang ambil foto tentang orang yang berdoa!
  • Tidak mengambil foto di area altar. Di depan altar boleh.

Demikian laporan pandangan mata saya. Bagaimana pengalaman anda melihat tempat ibadah yang menurut anda menarik?