Tantangan Apa Saja yang Dihadapi Kerja Multi Bangsa?

Welcome Monday! Let’s talk about working a multicultural environment. As known, I am part of team global now. This post tells regarding my experience what I have learned. Culture, values, language and some aspects can influence to interact each other. Sometimes those factors lead to misunderstandings or tension at workplace. Again I thought every one is unique and be flexible to encounter what differences happened. To be wise is the essential in working within intercultural. I am so proud to know every one from across culture.

Semangat hari Senin! Memulai hari Senin pastinya berbicara soal pekerjaan. Bagaimana jika saya ajak anda berdiskusi soal kerja multi bangsa? Apa itu? Bekerja dengan orang-orang dari berbagai kalangan latar belakang budaya dan kebangsaan.

Bekerja bersama dengan orang-orang berbeda budaya dan kebangsaan bukan hal yang mudah. Namun bukan tidak mungkin pilihan bekerja ini ditekuni akhir-akhir ini. Apalagi di jaman globalisasi dan keterbukaan yang memudahkan orang bermigrasi satu negara ke negara lain.

Jerman adalah negara yang paling banyak diminati pekerja di benua Eropa. Pasalnya upah minumum di sini tertinggi di seluruh Uni Eropa. Jerman juga membuka banyak peluang kerja di sini. Mereka yang tidak punya keterampilan hingga mereka yang ahli sama-sama dihargai. Bahkan mereka yang mau dan tekun belajar sambil bekerja difasilitasi untuk magang.

Tak heran, saya bisa bekerja tidak hanya dengan orang Jerman sendiri. Ada banyak migran dari berbagai negara yang sudah lama menetap dan tinggal di sini. Bekerja dengan orang multi bangsa memiliki kesan tersendiri.

Berikut hasil pengamatan dan pengalaman saya secara subyektif.

1. Tantangan bahasa

Bagaimana pun kemampuan bahasa adalah kunci kita berinteraksi dengan orang lain. Menguasai bahasa Jerman tentu amat disukai saat anda bisa tinggal di Jerman. Seberapa pun lancarnya bahasa Inggris anda, namun jika tidak bisa bahasa Jerman bukan merupakan suatu keunggulan. Beberapa teman mahasiswa yang mengambil jurusan menggunakan bahasa Inggris dan belum lancar bahasa Jerman sering kesulitan saat di dunia kerja. Mereka kerap salah paham dengan instruksi.

“Ini Jerman bung!” Sebaiknya gunakan bahasa Jerman meski bahasa asing lainnya dikuasai dengan baik. Sebagai mahasiswa yang bekerja paruh waktu, bukan tidak mungkin pilihan ini diambil. Kata teman saya, bekerja paruh waktu bukan masalah uang yang diperoleh tetapi mereka dapat lebih mudah praktik berbahasa Jerman.

Alasan teman saya tadi ada benarnya juga. Seorang teman, dosen bahasa Italia bercerita bahwa dia mengambil pekerjaan tambahan bersama saya karena sudah tiga kali gagal ujian B1, tingkat kemampuan bahasa Jerman yang disyaratkan jika ingin menetap di Jerman. Atas saran temannya, dia bekerja paruh waktu. Katanya, bekerja menjadi kesempatan praktik berbahasa Jerman.

Belum lagi saya yang sedang belajar bahasa Jerman baku dan benar dihadapkan dengan orang-orang yang terkadang berbahasa lokal, Boarisch. Ini semacam dialek dan bahasa lokal yang banyak digunakan masyarakat Bavaria umumnya. Bukan tidak mungkin, saya dan beberapa pendatang yang tidak paham kerap bertanya untuk memahami.

2. Tantangan budaya

Budaya dalam bekerja ada macam-macam. Katakanlah di Jerman dikenal dengan budaya dispilin waktu dan tertib saat bekerja. Jangan pernah terlambat saat bekerja! Anda pasti sudah tahu konsekuensi bekerja bila datang terlambat.

Budaya lain misalnya tidak menggunakan telepon untuk kepentingan pribadi saat bekerja. Beberapa kali teman saya mendapatkan peringatan karena berinteraksi dengan telepon genggamnya. Budaya tidak mengobrol saat bekerja. Orang Jerman senang bekerja dalam sunyi. Ada saatnya kita berbicara dan ada saatnya bekerja. Mereka tidak begitu sering menyelenggarakan rapat namun harus ada laporan pekerjaan. Budaya lain pastinya ada saja dan banyak tentunya.

Bagaimana pun budaya menjadi tantangan saat kita bekerja dengan orang multi bangsa. Karena sudah terbiasa, budaya tersebut pun membentuk jadi kebiasaan. Ada banyak migran yang sudah sekian tahun tinggal di sini. Mereka jadi paham dengan budaya dan tradisi di sini. Misalnya, mereka tidak suka mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan kerja.

Budaya komunikasi yang direct, misalnya. Bos atau team leiter dalam bahasa Jerman akan mengatakan secara langsung jika kita sangat rajin atau punya performa yang luar biasa. Mereka bisa memuji langsung di tempat. Sebaliknya, mereka juga tak segan-segan marah atau menyatakan pendapat ketidaksetujuannya secara langsung, tanpa disembunyikan.

3. Tantangan etos dan mental kerja

Itu sebab Jerman dikenal dengan keunggulan kualitas produknya. Mereka juga dikenal orang yang tekun bekerja. Saya pikir kita sudah sering mendengar etos dan mental kerja orang dari masing-masing negara. Di sini mereka senang jika kita rajin bekerja, bukan pemalas. Bahkan kerja 6-8 jam, pekerja diberi hak istirahat 30 menit. Makan siang pun harus cepat-cepat, tidak ada santai untuk melakukan urusan pribadi. Malah jika sedang sibuk bekerja, tak ada waktu istirahat. Untuk pekerja paruh waktu seperti saya, kita dibayar per jam. Tentu ini yang mempengaruhi seberapa banyak jumlah jam dalam bekerja. Itu yang menentukan upah.

Seberapa pun besar atau kecilnya pekerjaan, harus ada jaminan keselamatan dan kesehatan kerja. Siapa sih yang bisa menjamin jika terjadi kecelakaan kerja. Namun sejauh ini saya dan beberapa rekan kerja mendapati bahwa kita jarang sekali atau bahkan mengeluh tidak masuk kantor karena sakit. Hidup di sini lebih sehat rupanya.

4. Tantangan kepribadian

Terakhir menurut saya, tantangan bekerja multi bangsa adalah kepribadian. Kita menjumpai aneka kepribadian orang dari berbagai latar belakang bangsa dan budaya yang membentuknya. Bukan hal mudah untuk menerima dan bekerja bersama dengan orang multi bangsa. Bisa jadi kita bertemu dengan orang yang sulit, “ajaib” bahkan mungkin tak menarik untuk diajak kerjasama. Akhirnya saya selalu meyakini, setiap orang itu unik.

Kepribadian juga terpancar dari cara mereka berinteraksi dan memperlakukan satu sama lain dalam dunia kerja. Prinsipnya adalah saya harus bisa menghargai karena siapa saya, bukan siapa mereka. Pada akhirnya mereka terkesan dengan saya. Mereka berpendapat orang Asia begitu sopan dan santun dalam bekerja.

Begitulah sekelumit pengalaman bekerja multi bangsa yang saya yakin masih banyak yang harus dijelaskan lebih detil lagi. Namun saya percaya bahwa pengalaman ini menjadikan kita menjadi pribadi yang menarik.

Saat kita bekerja multi bangsa dan kita bekerja dengan baik, mereka bukan mengenal siapa saya. Mereka mengenal darimana saya berasal, negara saya.

Advertisements

Tiga Hambatan Berbicara Bahasa Asing

 

Ilustrasi.

 

Speaking foreign language in this time is not a life style, but the needs to understand the world. As expat, I have to do it. In the past I heard speaking foreign language is talent. You have no talent, it isn’t able to learn easy. 

Now in order to speak foreign language, forget it your talent! When you would really love to learn it, you could!

In refering my experience, I have some barriers to speak as usually to others. These barriers are detailed in Bahasa Indonesia as my mother language. 

To be advices, I need your comments if you are also learning foreign language in this time. 

*** 

Menguasai banyak bahasa di dunia adalah suatu keunggulan dalam berelasi dan bahkan menambah pundi-pundi penghasilan. Semakin terbukanya jalur orang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain tentu membuka kemungkinan untuk menguasai bahasa asing, disamping bahasa ibu.

Kursus bahasa asing pun berjamur. Buku-buku belajar bahasa asing pun diciptakan. Kursus metode online pun ditawarkan. Ini semua memicu kemudahaan untuk bersegera belajar bahasa asing.

Bahasa asing yang dulu mungkin untuk sekedar gaya hidup. Kini bahasa asing pun menjadi kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedang mempelajari bahasa asing. Berikut alasan yang menghambat orang berkomunikasi dalam bahasa asing.

(1). Hambatan Kepribadian

Hambatan kepribadian adalah hal yang utama menghambat seseorang berbahasa asing. Hambatan ini seperti pemalu, tak percaya diri hingga karakteristik lain yang menjadi identifikasi kepribadian. Mereka yang memiliki pribadi tertutup, tak suka bergaul dan berkomunikasi dengan orang asing nyatanya menjadi lambat berbahasa asing. Karena mereka cenderung tak melatih diri berbahasa asing. 

Kepercayaan diri adalah modal utama berbicara bahasa asing. Jangan pikirkan grammatik atau tata bahasa yang dipakai! Sebagai pemula belajar bahasa asing, saya dituntut untuk percaya diri saat mengungkapkan pendapat. Hal terpenting niat dan minat berkomunikasi secara terbuka. Jangan biarkan hambatan kepribadian membuat anda lambat menguasai bahasa asing!

(2). Hambatan Psikologi

Siapa pun ingin terkesan berkomunikasi sempurna seperti berbicara dalam bahasa ibu! Namun nyatanya itu tak mudah. Hambatan psikologi adalah alasan kedua yang menantang saya berbicara bahasa asing. Hambatan itu seperti ketakutan dan kekhawatiran tentang struktur atau tata bahasa.

Ketidakpercayaan diri pun bisa muncul saat belum menguasai banyak kosakata bahasa asing. Ketika saya harus berbicara dengan orang asing dalam bahasa asing terkadang kurang percaya diri pun muncul bahwa saya sulit menjelaskan. Alasannya saya tak punya kosakata yang sesuai.

(3). Hambatan budaya

Hidup di luar sebagai expat dan mengenal banyak orang dari multi etnis dan ras bukan hal yang mudah. Kecenderungan etnosentris, mengagungkan bangsa sendiri kerap masih terjadi. Jadi terbayang saja, teman yang sama-sama expat berbicara bahasa asing sering dianggap lelucon karena aksen dan dialeknya yang lucu.

Tak hanya itu, sebagian orang Asia seperti saya mengalami pengucapan yang tak jelas atau salah untuk kata yang menggunakan huruf umlaut (ö, ü, ë). Hal ini berdampak secara psikologis sehingga menjadi hambatan berkomunikasi.

Demikian pengalaman pribadi tentang bagaimana hambatan terjadi saat berkomunikasi bahasa asing. Apakah anda pernah mengalami hal serupa?