Black Friday 29 November: Fenomena “Gila Belanja” Datang Lagi

Ilustrasi.

Fenomena berbelanja itu bisa berbeda-beda tergantung kebiasaan lokal. Ini yang dimanfaatkan pengelola bisnis untuk melihat peluang orang untuk berbelanja. Misalnya hari belanja yang dilangsungkan bersamaan dengan hari lajang di Tiongkok. Meski hari lajang hanya sekedar lucu-lucuan semata, nyatanya aktivitas berbelanja menjadi kesempatan serius berbisnis. Cerita saya tersebut bisa dicek di hari lajang atau hari belanja.

Di Indonesia juga memang ada fenomena hari belanja online nasional. Saya lupa bahkan tidak tahu kapan biasanya diselenggarakan program promo diskon berbelanja di Indonesia. Saya hanya tahu bahwa program diskon biasanya digelar saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dan atau diskon menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Pada dua kesempatan tersebut, saya mendapati pusat perbelanjaan dipenuhi orang berbelanja.

Demikian pula di Jerman, fenomena orang berbelanja akan nampak pada saat Hari Raya Natal. Jangan harap dapat parkir mobil! Kata suami mengingatkan. Mungkin mall yang tak banyak seperti di Jakarta akan dipenuhi orang lalu lalang berbelanja. Promosi pun berseliweran, entah secara online atau diskon toko. Berbelanja pasti disukai, tua dan muda.

Lalu bagaimana BLACK FRIDAY itu sesungguhnya?

Saya sendiri baru menyadarinya setelah berseliweran di mall, terdapat berbagai promosi yang dipajang toko-toko. Gaung ‘black friday’ pun terdengar di radio dan terlihat di brosur-brosur belanja yang dikirim ke rumah-rumah. Beberapa kenalan perempuan pun mulai membuat janji berbelanja di mall terdekat. Akhirnya saya jadi paham, Black Friday sudah menjadi bagian dari gaya hidup kekinian, dimana dulu warga Jerman itu tak mengenal fenomena hari khusus berbelanja tersebut.

Sekarang anda jadi paham bahwa hari khusus atau waktu khusus berbelanja itu memang bukan tradisi di sini. Itu sama seperti Halloween, yang bukan menjadi tradisi tetapi industri bisnis telah menjadikan gaya hidup kekinian para generasi sekarang. Black friday dicetuskan pertama kali di negeri Paman Sam yang didasari atas kesempatan tutup tahun sebelum Hari Raya Natal datang. Seperti yang saya katakan di atas, intensitas orang berbelanja akan tinggi menjelang Natal sehingga hari Jumat terakhir di bulan November dijadikan hari obral dan diskon yang menarik simpati orang berbelanja.

Ketika saya membuat janji berbelanja dengan beberapa kenalan asal Eropa Timur, mereka pun menjelaskan fenomena berbelanja akhir tahun sudah hal lumrah di negara mereka. Sebut saja Rumania, Ceko dan Hungaria serta negara lainnya. Istilah Black Friday buat mereka bukanlah hal baru. Bahkan mereka menantikan kesempatan sekarang ini untuk membeli banyak barang yang diinginkan. Karena mereka berharap potongan harga dan diskon untuk barang-barang, termasuk elektronik.

Jika dahulu saya menganggap orang pasti berbelanja saat menjelang hari raya, ternyata fenomena itu bertambah dengan program hari atau pekan khusus berbelanja. Ajakan berbelanja itu pun sudah datang dengan beberapa kenalan perempuan di sini, meski saya tidak termasuk ‘gila berbelanja’. Saya senang mengamati keriuhan orang yang sibuk memilih barang dan membayarnya. Lalu muncul pertanyaan saya, mengapa mereka berbelanja? Apakah mereka membutuhkannya atau sekedar konformitas hari berbelanja?

Bersiaplah Jumat, 29 November nanti untuk sibuk berbelanja di pusat perbelanjaan atau berbelanja online!

11 November, Hari Jomblo atau Hari Belanja Online?

Semarak belanja online yang menawarkan diskon dan program menarik lainnya sudah berseliweran saat saya mengunjungi beberapa website berbahasa Indonesia. Pikiran saya pun melayang pada beberapa artikel saya sebelumnya di tanggal yang sama di beberapa tahun belakangan. Ya, artikel saya di tanggal 11 November masih bertema sama, yakni hari lajang. Seperti biasa, kali ini saya mencari tahu dari teman mahasiswa asal Tiongkok yang kebetulan saya kenal di sini.

Apakah benar ada hari lajang dan hari belanja online bersamaan di Tiongkok?

Hari lajang adalah istilah lucu yang muncul untuk menggambarkan mereka yang masih lajang agar tidak sendiri. Masih lajang di sini diidentikkan mereka yang kebetulan tidak punya pacar. Istilah lucu itu diambil dalam bahasa slang ‘Guanggun Jie’ untuk menyebut angka 1 yang muncul sebanyak empat kali pada hari ini, 11 November.

Saya pun semakin penasaran apa arti Guanggun Jie kepada teman asal Tiongkok tersebut. Dia mengatakan bahwa Jie berarti festival atau perayaan. Sedangkan guanggun dapat diartikan sebagai a funny way to call someone who is being single at this moment dalam bahasa slang setempat.

Menurut saya ini, ini seperti bahasa slang di Jakarta yang menyebut orang lajang sebagai ‘jomblo‘. Hmm, menarik saat saya bertukar pikiran dengan teman beda bangsa ini. Dia pun bertanya apa sebutan bahasa slang untuk orang yang masih lajang di Indonesia. Kami berdua tertawa sejenak ketika saya sendiri pun tidak bisa menjelaskan apa arti ‘jomblo’?

Lalu dia menjelaskan kepada saya bahwa segala sesuatu yang dirayakan sebagai festival itu di Tiongkok dikaitkan sebagai bisnis. Ini yang mendasari alasan hari lajang dijadikan hari belanja online. Ketika orang masih lajang dipandang punya ‘me time’ untuk menyenangkan diri dengan berbelanja.

Ketika dunia belahan barat merayakan hari valentine sebagai hari kasih sayang bagi mereka yang berpasangan, maka negeri Tiongkok menganggap perlunya hari lajang agar bisa menyenangkan diri sendiri juga. Caranya adalah memberi peluang dan diskon yang menarik minat untuk berbelanja, tanpa memandang status lajang atau tidak.

Tidak selamanya 11 November sebagai hari lajang atau berbelanja sehari penuh. Dia berpendapat bahwa sebagian orang di Tiongkok ada juga yang memutuskan menikah pada 11 November. Ini untuk menggaungkan bahwa satu pasangan hidup seumur hidup. Karena hari ini memiliki angka 1 sebanyak empat kali. ‘Guanggun‘ bisa diterjemahkan menjadi tunggal atau ‘Kamu lah satu-satunya sebagai pasangan hidup saya.’ Oh romantis sekali ya, seperti hari kesetiaan.

Untuk menutup diskusi saya soal hari lajang dengan teman negeri asal Panda ini, saya pun bertanya bagimana mengatakan apakah anda masih lajang kepada orang lain. Lalu dia menjawabnya “Ni shi dan shen ma”. Ini berarti tidak ada kata ‘Guanggun‘ yang dimaknai sebagai jomblo. Dia pun menyahut bisa saja tetapi ini terdengar aneh. Kami berdua pun tertawa.

ni shi Guanggun ma” bisa juga ditanyakan kepada orang lain tetapi orang pasti akan tertawa mendengarnya. Ini adalah kalimat tanya yang menempatkan kata ‘Guanggun’ atau jomblo, tetapi ini terkesan aneh dan lucu.

Sekarang anda tahu mengapa tanggal 11 November ini bisa menjadi hari jomblo atau hari berbelanja online?