Pfingsten in Deutschland, Hari Raya Pentakosta 

Hari Minggu kemarin (20/5) dan Senin (21/5) menjadi hari libur di Jerman, Austria, Ceko dan sekitarnya. Pasalnya hari Minggu dirayakan sebagai hari Pentakosta atau lima puluh hari setelah Paskah dalam liturgi Gereja Katolik. Saya sendiri tidak tahu alasannya hingga hari Senin setelah Minggu juga menjadi hari libur. Hari Senin yang libur tersebut diikenal Pfingsmontag.

Hari libur bisa dipandang menyenangkan dalam hitungan kalender akademik di wilayah saya tinggal. Kami libur dua minggu. Meski senang karena libur tetapi ada satu hal yang tidak menyenangkan. Ini bukan libur biasa karena kami harus menyiapkan diri untuk ujian yang sebentar lagi akan datang. Begitulah!

Saat saya tanya pada suami, apa yang jadi kebiasaan dan mungkin istimewa yang bisa ditemukan saat Pfingsten. Jawabnya ada tradisi dan kebiasaan jaman dulu untuk merayakannya termasuk pernak-pernik seperti makanan khusus, kebiasaan hingga hal-hal yang harus ada saat Minggu dan Senin yang dirayakan sebagai hari Pentakosta. Berangsur-angsur perkembangan jaman tradisi tersebut sudah jarang dilakukan, bahkan saya belum menemukannya. 

Hari Pentakosta tidak hanya dirayakan oleh Gereja saja, tetapi oleh kebiasaan dan budaya masyarakat jaman dulu yang menandai akan segera datang musim panas. Karena hidup di empat musim, Jerman pun tak lepas dari tradisi merayakan pergantian musim. Pfingsten menjadi tradisi ucapan syukur bagi masyarakat jaman dulu yang menggantungkan penghidupan dari bertani atau beternak. Mereka duduk dan makan bersama menikmati hasil panen dan berharap berkat untuk panen berikutnya.

Bagi saya yang merayakan hari Pentakosta dalam hitungan liturgi Gereja Katolik di Indonesia, Pfingsten tidak begitu meriah. Namun bagi mereka yang memiliki empat musim, tentu ada tradisi yang memang perlu dirayakan sehingga menjadi hari libur. Di Jerman bagian selatan kami saling berucap “Frohe Pfingsten… und erholsame Feiertage.”

Semoga bermanfaat!

31 Oktober: Perayaan 500 Tahun Reformasi Gereja

 

wp-image-1520883665
Ilustrasi. Salah satu Gereja Kristen Protestan di Austria. Di depan Gereja terpampang spanduk “Perayaan 500 Tahun Reformasi Gereja.” 

Hari ini di Jerman dijadikan hari libur bukan karena perayaan Halloween. Ini terjadi hanya pada tahun ini saja, artinya tidak setiap tahun tanggal 31 Oktober adalah hari libur. Pemerintah Jerman di setiap Bundesland, baik yang mayoritas Katolik maupun mayoritas Kristen Protestan merayakan hari ini sebagai peringatan 500 tahun Reformasi Gereja. Dan besok 1 November pun di wilayah mayoritas Katolik seperti wilayah saya akan libur sebagai perayaan Allerheiligen

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/22/grabgesteck-hiasan-karangan-bunga-untuk-makam/

Bagi penduduk Jerman bisa menjadikan hari Senin kemarin sebagai HARPITNAS, ‘hari kejepit nasional’ dan memilih ambil cuti dan libur panjang sejak wiken. Begitu yang saya alami di Indonesia. Akhirnya saya pun demikian, tidak ada kelas sementara. Lalu apa yang terjadi sebenarnya 500 tahun lalu?

Begini, anda pernah dengar nama MARTIN LUTHER yang adalah orang Jerman. Jika anda masih ingat pelajaran Sejarah di sekolah dulu, siapa itu Martin Luther? Saya masih mengingat nama ini dengan baik. 

Martin Luther adalah seorang Profesor Teologi yang lahir di Jerman. Kala itu 500 tahun lalu, Gereja Katolik pernah mengalami masa krisis, termasuk ekonomi. Luther yang adalah ahli Teologi datang dan menolak beberapa ajaran termasuk praktik Gereja Katolik yakni jual-beli surat Indulgensi. Di saat itu Jerman memang menganut seratus persen Katolik untuk penduduknya. Hal yang saya ingat saat masih sekolah dan belajar Sejarah, Luther menolak praktik indulgensi yang dikeluarkan Gereja. Dia punya pendapat lain yang kemudian dituliskan dalam berbagai thesis.

Martin Luther juga menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, yang semula Bahasa Latin. Puncaknya adalah pada tahun 1517, thesis Luther menyebar ke beberapa lokasi di Jerman tentang ajaran dan pendapatnya mengenai teologi. Dua minggu kemudian thesis ini menyebar ke seluruh Jerman hingga berbulan-bulan berikutnya menjangkau ke Eropa. Untuk menandainya, dia menempelkan thesis itu di pintu Gereja “All Saints Day” pada tanggal 31 Oktober 2017. Gereja ini masih berdiri hingga sekarang di wilayah Wittenberg. Sejarah baru pun dimulai dan memunculkan para pengikut Martin Luther selanjutnya, dan denominasi Gereja seperti Kristen Protestan.

Tahun ini Pemerintah Jerman memberi penghormatan secara khusus kepada salah satu putra terhebatnya yang menandai sejarah peradaban manusia, Martin Luther. Itu sebab pada hari ini, 31 Oktober dijadikan hari libur nasional.

Semoga bermanfaat!