Parkir Bertumpuk? Siasat Atasi Lahan Parkir Kendaraan

Satu ruang parkir, bisa untuk 6 mobil.

Seiring dengan bertambahnya kepemilikan kendaraan dan berkurangnya lahan maka ini menjadi tantangan tersendiri di kota-kota besar untuk mendapatkan tempat parkir. Strategi pemerintah untuk mensiasati lahan parkir bisa beragam. Mulai dari kebijakan tarif parkir yang beragam sesuai lokasi parkir, harga parkir yang tinggi, kerjasama dengan pihak swasta untuk mengelola parkir umum hingga membuat kendaraan umum yang nyaman sehingga orang lebih memilih naik public transportation. Itu adalah sepanjang pengalaman saya saja selama ini.

Pengalaman kami menginap di suatu hotel di kota besar, ternyata hotel tidak menyediakan lahan parkir. Itu berarti kami harus menemukan (P+R) area parkir umum sebelum datang. Ini yang kami alami di Amsterdam dan Brussels, dimana biaya parkir untuk dua kota besar tersebut cukup merogoh kocek. Sebagai perbandingan, biaya parkir 24 jam di Amsterdam itu sekitar 45€ sedangkan di Brussels sekitar 18€. Sistim perparkiran yang moderen, otomatis dan mandiri (self service) adalah perpakiran yang dikembangkan di kota-kota besar.

Pusat kota yang jadi pusat destinasi wisata, jangan harap bisa parkir sembarang atau parkir langsung di depan lokasi jika kendaraan yang dibawa bukan kriteria yang diperbolehkan. Wah, ini seperti pengalaman kami di Split, Kroasia dimana mobil kami diangkut oleh petugas penertiban parkir. Akhirnya kami harus membayar sejumlah denda untuk mengeluarkan mobil kami. Ada administrasi yang dibayarkan dengan jumlah yang tak kecil memberi pelajaran kami untuk tidak lagi parkir sembarang tempat dimana pun.

Mesin pembayaran otomatis di Amsterdam.

Pengalaman parkir lainnya, saat kami berada di kota Stuttguart. Masih di Jerman, rupanya ini adalah siasat mengatasi lahan terbatas dengan pertumbuhan kendaraan yang bertambah. Kami menginap di salah satu hotel di pusat kota yang menyediakan lahan parkir berbayar dan tidak langsung terhubung dengan hotel. Artinya, parkir ini tidak masuk dalam layanan hotel. Jarak parkir dengan hotel sekitar 10-15 menit dari hotel.

Baca juga: Pengalaman mobil diangkut petugas karena salah parkir

Parkir sistem ini disebut Duplex-Garage, yang bisa memaksimalkan satu lokasi 15 sampai 20 meter. Kemudian parkir ini bisa mencapai tiga tingkat untuk satu lahan parkir mobil. Saya yang mengamati sistim parkir ini terkesan dengan pengelolaannya untuk mengatasi lahan parkir di kota besar yang semakin sulit. Hal yang perlu diperhatikan juga, tinggi dari kendaraan yang diparkirkan. Ini hanya untuk kendaraan pribadi dengan tinggi yang sewajarnya. Itu sebab petugas hotel pertama kali bertanya dulu tinggi dan tipe kendaraan kami.

Petugas hotel memberikan kunci pintu utama parkir dan kunci untuk naik turun kendaraan. Untuk lokasi parkir yang biasanya kita bebas menentukan tempat parkir, dengan sistim ini tidak. Kendaraan sudah tercatat lokasi parkirnya, Anda harus parkir di lokasi nomor ini. Hal ini dimakudkan untuk administrasi dan keamanan bersama. Kemudian kami masuk dalam area parkir umum yang dimaksud dengan lokasi beberapa blok jauhnya.

Setibanya di lokasi parkir yang dimaksud sesuai petunjuk nomor parkir. Untuk 1 tempat mobil misalnya, ada kategori a, b dan c yang berarti ada tiga lokasi untuk satu tempat. Untuk menaikkan dan menurunkan kendaraan, ada kunci yang dimainkan. Tak usah khawatir mengenai ketahanan material yang digunakan, ini semua aman dan sudah teruji.

Begitu sekelumit pengalaman parkir bertumpuk yang kini menjadi solusi atasi lahan parkir yang semakin sulit. Mengingat pertambahan kendaraan yang tak sebanding dengan ketersediaan lahan parkir kendaraan. Saya sendiri baru mendapati di Jerman. Jika anda tahu sistim parkir seperti ini, silahkan bagikan di kolom komentar.

Amsterdam (3): Hotel Suites Tanpa Resepsionis, Pernah Coba?

Amsterdam adalah salah satu kota yang dilalui banyak kanal.
Informasi keterangan hotel, tempat saya menginap. Kami puas dengan layanannya.

Traveling untuk bekerja atau liburan dan menginap di hotel bukan aktivitas pertama buat saya. Tetapi mencoba hotel tanpa resepsionis, ini adalah pengalaman pertama saya. Saya pernah mencoba berbagai hotel mulai dari yang berbintang sampai hotel melati, tetapi bagaimana hotel yang menawarkan tanpa resepsionis dan melakukan check in secara elektronik. Bisa jadi anda sudah pernah mengalaminya, silahkan bagikan dalam kolom komentar! Sementara anda yang belum pernah pasti penasaran ‘kan.

Seiring dengan berjamurnya fasilitas pelesiran berbagai orang di dunia di masa kini, tentu hotel sebagai tempat penginapan pun menawarkan berbagai fasilitas kekinian yang menarik minat wisatawan. Namun modernitas teknologi komunikasi bisa jadi mempermudah tamu hotel untuk self check in, membuat lebih praktis hingga tak perlu ada pekerja di bagian resepsionis. Segalanya dilakukan secara virtual yang terhubung lewat aplikasi dan komunikasi smartphone.

Saat saya liburan di Amsterdam, saya mencari hotel di pusat kota agar kami bisa dekat dengan berbagai destinasi wisata yang ditawarkan. Kami tak perlu merogoh kocek lagi untuk transportasi selama liburan dan mobil bisa kami parkirkan selama liburan. Oleh karena itu kami memilih hotel Sweets Beltbrug yang letaknya sekitar 20-30 menit berjalan kaki ke pusat kota. Selain itu hotel juga dekat dengan pusat kuliner dan mudah dijangkau dengan lokasi parkir umum. Kami puas dengan menginap di sini. Pelayanannya sungguh bagus.

Hotel suits ini berbeda dari kebanyakan hotel lainnya. Jumlahnya ada sekitar 28 suites dan lokasinya dekat dengan jembatan yang dahulu dijadikan transportasi air. Bangunan kamar kami dibuat tahun 1933 dengan rancangan arsitek P. L. Kraemer yang didominasi bata kuning. Tahun 2017 kamar di hotel SWEETS berganti kepemilikan dan dikelola untuk pariwisata kota. Tanpa mengubah struktur asli bangunan, kamar suites di dekat sungai ini menawarkan kenyamanan menginap di Amsterdam, yang dikenal memiliki banyak kanal.

Pemandangan di sekitar kamar.
Dekat dengan pusat kota.
Amsterdam tetap cantik meski di musim dingin, apalagi di musim panas.

Semula kamar suites kami adalah pos kontrol untuk jalur transportasi air, sebagaimana anda tahu bahwa Amsterdam terdiri dari beberapa jalur kanal. Kemudian seiring dengan kebutuhan pariwisata dan berkurangnya jalur transportasi air, pos kontrol diubah sesuai desain ulang tata kota. Kini pos itu menjadi kamar suites yang elegan dan mewah bagi turis seperti kami yang datang.

Kamar dibuat senyaman mungkin bagi tamu hotel. Fasilitas lengkap, hotel didesain unik, segalanya bersih dan pelayanan virtual yang ramah. Mengapa virtual? Kami tidak bertemu dengan siapa pun sebagai petugas layanan hotel, kami hanya berkomunikasi via email, telepon dan SMS. Lalu bagaimana check in saat kami datang?

Saya mendapatkan pemberitahuan bahwa hotel akan memberikan kode untuk self check in sebelum jam 16.00 atau waktu resmi check in. Kode diberikan via email yang mengharuskan kita mengunduh aplikasi Flexi Pass di google play store untuk android dan pilihan lain untuk Iphone dan sebagainya. Setelah tiba di hotel, kode yang diberikan via email dimasukkan dalam kode aplikasi Flexi Pass sebagaimana diminta. Setelah kami check in virtual, maka smartphone didekatkan beberapa saat di pintu kamar hingga tanda dari pintu untuk membukanya. Itu sudah menandakan kami telah check in. Proses check in hanya satu kali. Jika terjadi error atau pintu belum juga terbuka maka silahkan kontak petugas hotel yang berhubungan via email.

Untuk kebutuhan selanjutnya, ada kunci elektronik berbentuk kartu sebagaimana umumnya hotel yang menawarkan kartu elektronik sebagai kunci. Bila ada keperluan urgent atau genting, maka komunikasi bisa dilakukan secara virtual. Terbayang bahwa akomodasi atau tempat menginap di masa mendatang berikutnya bisa jadi memangkas anggaran untuk petugas jaga atau resepsionis misalnya.

Kelebihan dan kekurangan dengan sistim ini pasti ada. Bagi mereka yang tidak bisa terbiasa dengan panduan virtual, tidak menggunakan smart phone atau tidak suka dengan self service sebaiknya perlu berpikir ulang. Kelebihannya pun sudah diduga seperti yang anda tahu. Pengelola bisa memangkas anggaran staf resepsionis dan staf di muka hotel. Staf hotel pun bisa berkantor dimana saja.

Beberapa hotel di Jerman pun sudah mulai menerapkannya menurut pendapat seorang teman mahasiswa yang bekerja part time sebagai zimmermädchen. Saya berpikir mungkin ini bisa jadi alternatif ide penginapan moderen di tahun mendatang. Sementara hotel-hotel yang tumbuh di pusat kota besar di Eropa memang semakin sulit mendapatkan lokasi parkir. Anda bisa bayangkan pula hotel self service termasuk parkir mobil yang kemudian ditanggung tamu hotel.

Selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman parkir bertumpuk di suatu hotel di pusat kota.

Jika anda ingin datang ke Amsterdam, anda bisa mencoba layanan hotel suites nan ekslusif ini di pusat kota Amsterdam. Info lebih lanjut, cek website hotelnya.

5 Model Kreasi Tempat Tidur yang Buat Tamu Hotel Senang

Model angsa dan love dari handuk hotel.

Dahulu saat saya masih bekerja di Indonesia, traveling adalah bagian dari pekerjaan saya. Berpindah dari satu hotel ke hotel lain sebagai kebutuhan pekerjaan. Saya abai dengan service room yang menjadi kamar tidur saya menginap. Karena saya biasanya sudah lelah bekerja di luar dan tidak memperhatikan dekorasi kamar sebagai layanan kamar hotel. Menurut saya, kamar hotel sudah bersih, rapi dan wangi sudah cukup.

Itu dulu.

Seiring dengan traveling sebagai liburan saat berpindah ke Jerman, saya tentu ingin sesuatu yang berbeda. Berbeda maksudnya saya menjadi tidak bosan di kamar tidur. Kebayang kan jika liburan, kita ingin mendapat sensasi pengalaman berbeda. Salah satu kreasi yang berbeda adalah tempat tidur.

Saya pernah mengulas, mengapa kebanyakan hotel berwarna putih untuk seprei, selimut dan sarung bantal. Silahkan temukan jawabannya di sini!

Nah, room boy atau zimmermädchen dalam bahasa Jerman tidak hanya bertugas membersihkan kamar tamu hotel saja. Mereka harus ramah dan siap menyediakan berbagai keperluan dan kebutuhan tamu hotel. Satu yang menarik saat saya baru-baru ini berpergian ke Mesir adalah kreasi room boy untuk mendekorasi kamar tidur sehingga tampil cantik.

Kreasi ini sebenarnya berawal dari kreativitas staf pembersih kamar agar tamu hotel merasa nyaman di kamar. Sebenarnya ini adalah handuk hotel dan kadang bantal yang dikreasikan sehingga lucu, unik dan mengesankan buat tamu hotel. Akhirnya saya dan suami pun terkesan atas inisiatif dan kreasi mereka yang berhasil membuat kami senang setelah kami meninggalkan kamar begitu berantakan sebelumnya.

Berikut 5 model kreasi yang saya dokumentasikan sehingga bisa jadi inspirasi anda.

1. Model angsa

Model ini sudah biasa ditempatkan untuk mendekorasi tempat tidur. Biasanya model angsa didapati untuk kamar suami isteri sehingga terkesan romantis. Saya sendiri pernah mendapati model angsa sewaktu saya berlibur dalam rangka bulan madu dulu. Entah mengapa kami mendapatkan sambutan yang indah di atas tempat tidur. Angsa dari handuk hotel plus cokelat dari pihak hotel.

Model angsa ini juga memang memerlukan keterampilan untuk memilin handuk sehingga bisa meliuk menyerupai badan dan kepala angsa.

2. Model orang

Buat saya menggambar orang saja sudah susah, apalagi membuat figur orang dari handuk hotel. Kreativitas ini keren menurut saya. Bahkan suami saya sampai tertawa terpingkal-pingkal manakala dekorasinya adalah figur yang mencerminkan dirinya. Ini dari semua dari handuk besar dan handuk midi yang biasanya untuk tangan. Dibentuk menyerupai figur pria yang sedang santai. Agar lebih mengesankan, ada topi dan kacamata surya milik suami. Ditambah vas bunga diletakkan di sisi figur orang. Keren ya!

Model orang lainnya yang dibuat si room boy adalah menggunakan bantal dan T-Shirt diletakkan di kursi di depan pintu kamar. Untuk kepalanya, ada handuk midi dibentuk menjadi kepala ditambah kacamata surya milik suami. Setelah kamar, kamar mandi dan tempat tidur tertata rapi dan bersih maka dekorasi orang ini diletakkan di kursi yang melengkapi meja tulis kamar. Tampak figur orang sedang duduk, dengan celana tidur suami diletakkan di kursi. Lucu sekali!

3. Model binatang

Jujur saya sendiri terkesan dengan kreativitas si room boy. Dia tidak hanya membuat kamar bersih dan tertata rapi tetapi juga membuat tamu hotel seperti saya jadi berbahagia mendapati kamar rapi dengan hiasan seperti gajah misalnya. Gajah dibentuk dari dua bantal sebagai badan. Sedangkan kepala, belalai dan ekor berasal dari handuk. Agar semakin mengesankan badan gajah, kain dekorasi tempat tidur menutupi bantal. Lucu ya!

Lain lagi bentuk hewan lainnya adalah kera yang bergelantungan di langit kamar. Ya, tiap kamar mendapati handuk besar untuk berjemur di pinggir kolam renang. Dua handuk milik saya dan suami dibentuk seperti kera bergelantungan. Keren sekali!

4. Model bunga

Satu lagi yang menarik adalah bunga berikut tangkainya yang dibuat meliuk. Semua terbuat dari handuk. Supaya meyakinkan itu adalah bunga, ada vas bunga sesungguhnya diletakkan di tengah.

5. Model yang susah dideskripsikan

Terakhir adalah model yang sendiri bingung menyebutnya apa. Apakah ini figur hewan atau bunga? Saya tak paham, tetapi menarik untuk disimak.

Satu lainnya pun demikian, tampak seperti kalajengking atau apa? Namun bentuknya yang unik telah membuat saya terkesan.

So, dari lima model di atas yang saya terangkan, bagaimana pendapat anda?

Mesir (2): Malam Pertama Menginap di Hotel, Malam Kedua di Kapal Wisata

Sunset di sungai Nil, kota Luxor.

Makan malam dari kapal wisata.

Tiba di Hurghada, bandara internasional, kami segera mengurus visa. Antrian begitu banyak mengingat pesawat yang kami tumpangi dari Jerman membawa turis yang hendak berlibur. Setelah urusan visa dan bagasi selesai, kami bergegas menuju pintu keluar.

Di petunjuk informasi agen tur kami dikatakan bahwa ada petugas tur yang menjemput. Ternyata seorang petugas biro perjalanan mengarahkan kami pada mobil mini van menuju hotel, tempat kami menginap malam pertama. Rupanya dalam mobil sudah ada turis-turis dari Jerman juga yang menuju ke hotel dengan jalur yang sama.

Dance performance sebagai program malam di hotel kami menginap malam pertama.

Buah jambu biji ada di Mesir.

Tiba di hotel, petugas resepsionis menyambut kami dengan ramah dalam bahasa Jerman. Karena kami sudah lapar, kami langsung bisa menuju lokasi restoran, tempat makan malam. Cerita soal makanan bisa dicek sebelumnya di sini.

Setelah makan malam, kami melihat sekelompok tamu hotel duduk di tepi kolam renang menikmati shisa dan menonton film di layar lebar. Kami melewatinya karena kami mendengar atraksi musik dan tarian yang lebih menarik. Lokasinya ada di amphiteater. Ini adalah amphiteater buatan hotel yang membuat tamu hotel bisa menyaksikan apa saja di panggung dengan bangku-bangku mirip stadion.

Perjalanan dari Hurghada ke Luxor.

Atraksi undian dari hotel hingga tarian mempesona kami sebagai tamu hotel. Kami jadi tidak bosan selama di hotel yang berada di tepi laut merah ini. Pihak hotel juga menyediakan aneka minuman seperti kopi, teh hingg cocktail gratis. Sedangkan minuman alkohol harus membayar ekstra. Tersedia juga gratis popcorn dan permen kapas sesuai permintaan.

Ini liburan malam pertama, kami sudah lelah. Padahal tidak ada perbedaan waktu antara Jerman dan Mesir di musim panas.

Masjid besar di kota Qena.

Melewati kota Qena.

Besok pagi kami harus berpindah kota dari Hurghada ke Luxor. Setelah makan pagi di restoran, ada mini van yang menjemput kami sebelum kami berpindah naik bis ke Luxor.

Kami menempuh perjalanan selama 5 jam dari Hurghada dengan menumpang bis ekslusif, tanpa khawatir kepanasan. Padahal suhu udara di Mesir mencapai 40 derajat celcius. Luar biasa kan!

Kami berhenti 30 menit di untuk istirahat dan ‘urusan toilet’. Sepanjang perjalanan, kami hanya menemukan padang luas yang berbatu dan gersang.

Bis hampir mendekati kota Luxor, tiba-tiba tour guide mengatakan bahwa kami tiba di kota yang cukup besar bernama Qena. Kota ini berada di selatan Mesir. Kami bisa mengamati bagaimana kehidupan masyarakat Mesir umumnya.

Setelah kota Qena, kami langsung menuju Luxor. Kota Luxor berarti kota yang terkesan lux karena terdapat istana raja. Kota ini dilalui sungai nil. Di sini kami akan melalui wisata sungai nil dan menginap satu minggu di kapal wisata.

Tampak desain lobby kapal menuju ke kamar.

Tiba di kapal wisata tujuan, pemandu tur sudah menyambut kami. Kami langsung mendapatkan kamar tidur dan bergegas mendapatkan himbauan mengenai panduan perjalanan selama kami di kapal.

Makan siang dan makan malam dilayani secara prasmanan. Malam ini kami berlabuh di Luxor. Dan selama tujuh hari kami menginap di sini, dengan fasilitas seperti hotel bintang lima. Di kamar mandi didesain ekslusif dengan bathtube misalnya. Atau dek atas terdapat balkon, kafe, kolam renang, klinik dan fasilitas lainnya akan diceritakan secara terpisah.

Mengapa Handuk Hotel itu Berwarna Putih?

Apakah anda pernah menyadari bahwa kebanyakan hotel selalu menyediakan handuk itu berwarna putih? Ini seperti pertanyaan selintas yang saya pikirkan karena seringnya saya traveling. Sebelumnya saya pernah mengulas, mengapa seprei dan sarung bantal hotel itu berwarna putih. Saya pun sudah mendapati jawabannya dan tertulis di link ini. Kini pertanyaan selanjutnya adalah soal handuk yang juga sama-sama putih, apakah jawabannya sama?

Lalu apakah handuk anda pribadi di rumah juga berwarna putih?

Sejujurnya saya tidak ingin handuk di rumah itu berwarna putih. Saya berpikir pasti tidak mudah juga untuk mencucinya dengan baik dan cermat. Itu alasan pertama, mengapa saya tak punya handuk warna putih di rumah. Alasan lainnya, saya pernah menelusuri harga handuk berdasarkan warna. Semula saya hendak punya handuk warna putih di rumah, rupanya handuk warna putih itu harganya lebih mahal dibandingkan handuk warna lainnya. Jadi dua alasan tersebut menyatakan bahwa saya tak punya handuk warna putih.

Sementara handuk warna putih lebih sering digunakan pihak hotel tentu dengan ragam alasan yang berbeda. Alasan pertama seperti warna putih pada handuk besar, handuk ukuran sedang dan handuk ukuran kecil sangat cocok dipadupadankan dengan desain interior kamar mandi hotel. Anda tahu kan bahwa hotel membuat tamunya nyaman dan betah di kamar mandi. Dengan begitu, kamar mandi pun dirancang istimewa agar tamu merasa senang di kamar mandi. Warna putih sebagai warna primer membuat handuk cocok diletakkan atau digantung di dalam kamar mandi.

Alasan kedua tentunya berkaitan dengan jaminan kebersihan dan higenitas yang ditawarkan hotel. Anda tahu juga bahwa sudah banyak tamu datang silih berganti di kamar yang anda sewa, juga pastinya anda bukanlah orang pertama menggunakan handuk yang diberikan pihak hotel. Handuk putih yang bersih dan tanpa noda mencerminkan bagaimana hotel menjamin kebersihan dan higenitas agar anda sebagai tamu percaya dan tinggal di hotel. Warna putih pada handuk juga memudahkan kita sebagai tamu mendeteksi bersih atau tak bersihnya sanitasi dan fasilitas lainnya.

Alasan ketiga berkaitan dengan warna putih itu tetap punya kesan elegan dan modis. Warna putih dengan bahan material yang berbeda maka handuk terlihat mewah saat diletakkan di kamar mandi. Warna putih juga kerap disandingkan dengan berbagai dekorasi pernak pernik yang ada di kamar mandi sehingga tampak serasi dan istimewa.

Alasan selanjutnya, warna putih pada handuk juga memberi kesan kamar mandi yang bersih, segar dan cerah. Ini memberi dampak psikologis pada tamu tentang suasana kamar mandi yang nyaman. Siapa pun jadi betah berlama-lama di kamar mandi jika suasana kamar mandi demikian bersih dan menyegarkan.

Alasan terakhir yang perlu anda tahu adalah soal pemeliharaan dan perawatan handuk. Handuk dibuat dalam satu warna senada, yakni putih. Agar dalam siklus pencucian, ini membuat mudah untuk dilakukan. Tidak ada warna lain selain putih sehingga pencucian pun lebih hemat dan praktis tentunya. Tak hanya itu, jika ada hal yang tak bersih dan masih kotor maka handuk berwarna putih akan mudah dikenali.

So, semoga ini bermanfaat untuk anda. Selamat liburan musim panas!

Pernah Berpikir Alasan Telepon Dipasang di Kamar Mandi Hotel?

Saya sering traveling ke banyak tempat dan menginap di hotel. Saya biasanya mengamati hotel-hotel yang ekslusif dan berkelas seperti hotel bintang 4 misalnya, mengapa mereka meletakkan telepon di kamar mandi. Awalnya saya tidak menyadari itu hingga saya mengalami hal yang urgent saat traveling.

Suatu kali saya dan suami pergi menginap di suatu hotel mewah, saya yang sedang berada di kamar mandi terpaksa mengangkat telepon. Telepon ini paralel dan ada juga di dekat di kamar tidur. Rupanya petugas hotel menelpon kamar saya karena suami saya sedang menunggu di lobby hotel dan ia ketinggalan telepon genggamnya. Lalu suami meminta petugas hotel menelpon ke kamar kami dan saya memang sedang berada di kamar mandi. Begitulah, saya langsung menyadari, apa fungsinya telepon di kamar mandi?

Apakah anda pernah berpikir hal yang sama seperti saya?

Saya pun berusaha cari tahu, apa maksudnya. Pertama, ini merupakan salah satu persyaratan dari kebijakan hotel yang memang punya kategori dan kelas tertentu. Artinya, memang tidak harus semua kamar mandi meletakkan telepon di dalamnya. Kriteria tertentu hotel ternyata mewajibkan untuk meletakkan telepon di situ.

Alasan kedua adalah tentu keamanan dan keselamatan. Konon telepon diletakkan di kamar mandi agar bisa menjamin keamanan dan kenyamanan orang yang memang memerlukan bantuan orang lain. Telepon ini menjadi alat bantu berkomunikasi bagi mereka yang berada di kamar mandi dan memerlukan bantuan gawat darurat. Ini alasan logis dan bisa jadi itu benar bahwa ada alat komunikasi tersedia.

Namun, sekarang sudah ada telepon genggam, apakah masih diperlukan juga?

Alasan lain juga menyebutkan bahwa peletakkan telepon di kamar mandi itu menandakan komunikasi yang privat. Saya sih belum pernah menjumpai telepon di kamar mandi hotel itu bisa menggunakan loudspeaker. Itu artinya telepon di kamar mandi adalah telepon konvensional yang perlu langsung dengan telinga. Anda kan belum pernah mendapati penggunaan telepon di kamar mandi sambil mencukur kumis, karena anda menggunakan loudspeaker. Itu sebab komunikasi per telepon di kamar mandi adalah benar-benar privat.

Bagi orang-orang sibuk dan padat dalam jadwal pekerjaan, telepon di kamar mandi membuat mereka tetap terhubung. Karena bagaimana pun komunikasi itu diperlukan agar anda tetap terhubung dengan dunia.

So, saya jadi paham bahwa selalu ada alasan dibalik sesuatu. Tentunya pemasangan telepon di kamar mandi pun pasti ada gunanya juga.

Bagaimana menurut anda?

Jangan Lupa Bawa Jam Weker Saat Traveling ke Eropa!

Pertama kali saya menjejakkan kaki ke benua biru alias Eropa, rekan kerja saya mengingatkan saya untuk bawa jam weker. Rekan kerja saya ini sudah berusia separuh baya, seusia dengan ibu. Dia sendiri sudah menjangkau lebih dari 50 negara di dunia. Jam terbang traveling yang dimiliki rekan kerja saya ini patut diacungi jempol sementara saya saat itu baru bisa menjejakkan kaki sebatas Asia saja. Itu sebab saya mendengar saran traveling darinya, termasuk pesannya. Jangan lupa bawa jam weker!” katanya saat saya hendak ke Jerman pertama kali.

Rupanya tak hanya rekan kerja saya itu, teman saya asal negara Paman Sam pun berpendapat hal yang sama. Saat saya bertanya, mengapa saya harus membawa jam weker. Teman ini menjawab sepanjang pengalamannya traveling di benua biru, dia memang belum menemukan jam di kamar tidur hotel. Setelah mendengarkan pengalaman dua orang yang sudah punya jam terbang tinggi traveling, akhirnya saya pun membawa jam weker kecil untuk diletakkan di kamar tidur hotel saat di Eropa nanti.

Mengapa demikian?

Saya sendiri belum sepenuhnya melakukan traveling ke seluruh negara di benua biru, tetapi saya sudah menjangkau beberapa negara. Sepanjang pengalaman saya, memang tidak ada jam di kamar tidur. Katanya sih memang aturannya hotel tidak wajib menyediakan jam di kamar tidur.

Pendapat lain mengatakan bahwa jam digital sekarang sudah menyatu dengan telepon di tiap kamar. Jika anda butuh waktu lokal, anda bisa melihat jam digital di telepon kamar. Jadi jika tamu butuh jam dan jam weker untuk mengingatkan, tamu hotel bisa memanfaatkan telepon kamar. Saya sendiri belum pernah menemukannya dan memanfaatkannya.

Alasan lain, kini hampir tiap orang punya handphone. Pada telepon genggam anda tersedia jam yang secara otomatis disesuaikan dengan kondisi waktu lokal anda berada. Tak sesulit waktu dulu dimana anda perlu punya jam tangan dan bawa jam weker untuk mengingatkan anda. Manfaatkan telepon genggam.

Dibalik alasan di atas, sebagian orang terbiasa menggunakan jam weker. Ada rasa janggal bila tak ada jam weker dan atau jam di dalam ruangan tidur. Itu sebab mereka membawa jam weker berukuran kecil untuk diletakkan di ruang tidur. Intinya, penggunaan jam weker sepenuhnya menjadi kebijakan tamu hotel, bukan lagi pengelola hotel.

Tetapi mengapa tidak ada jam di kamar hotel?

Jam tidak disediakan di kamar tidur hotel dikarenakan demi alasan kenyamanan tamu. Anda tahu ‘kan bahwa detak jarum jam itu sangat mengganggu bagi orang yang sensitif terhadap bunyi-bunyian. Lebih baik jam ditiadakan agar tiap tamu bisa tidur nyaman dan nyenyak, tanpa terganggu bunyi detak jam.

Kekhawatiran lain, banyak juga tamu yang usil terhadap keberadaan jam di kamar tidur. Begitu usilnya, ada juga perilaku tamu yang membawa jam dan menjadikannya sovenir. Tentu ini tidak dibenarkan. Untuk menghindari hal tak terduga demikian maka keberadaan jam di kamar tidur hotel ditiadakan.

In Glühwein geschmorte Ochsenbacke und Halbgefrorenes von der Zwetschge: Makan Malam Kreasi Natal Ala Hotel (2)

Ilustrasi.

Music performance.

Daftar menu bertemakan Natal.

Melanjutkan pos sebelumnya tentang malam malam di hotel yang bertemakan Natal, maka saat ini saya membahas makanan utama dan hidangan penutup.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/03/winterlicher-blatstsalat-und-consumme-vom-steinpilz-makan-malam-kreasi-natal-ala-hotel-1/

Usai pramusaji menarik semua peralatan makan yang kotor, mereka menuangkan minuman air mineral lagi ke dalam gelas saya. Lalu mereka menata kembali meja makan di hadapan saya. Kemudian mereka datang membawakan peralatan makan yang baru seperti garpu dan pisau. Ini adalah makanan utama.

Sambil kami menikmati obrolan santai, kami menunggu pramusaji menghidangkan utama bertemakan Natal. Nama lengkap makanan ini adalah In Glühwein geschmorte Ochsenbacke auf Kartoffel-Meerttichstampf, geschmolzenen Zwiebeln und feinern Schmorgemüse. Panjang nama menu berikut ini, hingga membuat saya puas dan cukup kenyang malam itu. 

Bagaimana menurut anda bila mengetahui nama makanan tersebut?

Makanan utama.

Glühwein biasa disajikan kala musim dingin tiba di Jerman. Di gerai pasar menjelang Natal atau Christkindlmarkt, kita akan mudah menemukan minuman hangat di tenggorokan ini. Atau anda juga bisa membeli bebas di supermarket dan menikmatinya di rumah. Makanan utama bertemakan Natal ini, terbuat dari daging sapi dengan kentang tumbuk sebagai pelengkap. Rasanya mengenyangkan dan nikmat sekali. 

Daging sapinya lembut dan warna hitam kecoklatan berasal dari kuahnya. Ini mungkin berasal dari glühwein. Lalu ditaburi bawang goreng menambah citarasa makanan ini. Sempurna!

Makanan utama selesai disantap. Pramusaji datang lagi merapikan peralatan makan di meja. Mereka bertanya soal rasa makanan kemudian saya pun menjawab dengan wajah sumringah. “Geshmack gut?” tanya salah seorang pramusaji dalam bahasa Jerman pada saya. Respon saya pun sudah menunjukkan saya puas dengan hidangan utama malam itu.

Eits, masih ada hidangan penutup yang menjadi dessert malam itu. Meski perut saya sudah tak muat lagi menampung namun saya penasaran dengan penutup hidangan tersebut. Pramusaji pun datang membawakan serbet baru dan sendok kecil. 

Makanan penutup.



Pramusaji lain datang menghidangkan semangkuk kecil es krim dengan taburan kacang walnus. Lanjut menunya adalah Halbgefrorenes von der Zwetschge mit lauwarmen Zimtschaum und Walnusskrokant. Meski di luar dingin sekali namun ruang dalam yang hangat membuat siapa saja menyukai hidangan penutup ini. Es krim yang nikmat.

Semoga anda terkesan dengan menu yang saya ceritakan dari pos pertama dan kedua! 🌲

Winterlicher Blatsalat und Consumè vom Steinpilz: Makan Malam Kreasi Natal ala Hotel (1)

Pohon cemara berhias atribut Natal di hotel.

Pilihan menu istimewa dalam daftar di sini.

Suatu kali saya dan suami makan malam di hotel dalam edisi menjelang Natal. Pastinya ada menu berbeda yang ditawarkan ketimbang makan di rumah. Perbedaannya tentu soal rasa dan tampilan yang menggiurkan. Menarik mata dan sensasi rasa!

Dalam edisi menjelang Natal, pilihan di buku menu pun istimewa. Begitu istimewanya sehingga saya akan membuatnya berseri dua bagian. Jadi saya mendapatkan empat sajian mulai dari minuman dan roti pembuka hingga makanan penutup. 

Minuman pembuka.

Roti di awal, toppingnya adalah butter.

Untuk kali pertama yang saya muat adalah salat dengan nama lengkapnya yang keren, kleiner Winterlicher Blattsalat in Kürbiskerndressing mit gerösteten Nüssen. Ini adalah sejenis salat di musim dingin dengan dressing seperti biasa mayonnaise dan taburan kacang sebagai topping. Rasanya sudah pasti enak.

Jadi salat dan roti disajikan sebagai makanan pembuka bersama minuman alkohol sesuai pesanan. Namun saya bisa memesan minuman tanpa alkohol juga, seperti air mineral favorit saya tentunya. Tamu juga bisa memesan soft drinks sesuai keinginan jika suka. Tips pertama yang didapat, makanlah salat sebagai hal pertama bukan sebagai penutup!

Salat yang dimaksud.

Puas makan salat, pramusaji datang lagi mengambil piring salat dan menata meja makan. Layaknya hal yang perlu diperhatikan dalam table manner. Kali ini pramusaji menempatkan sendok sup di atas meja. Pikiran saya pun langsung terbayang bahwa makanan selanjutnya pasti berkuah.

Selang beberapa lama, pramusaji datang lagi membawa sajian berbeda. Semangkuk kecil roulade dengan kuahnya yang berwarna kecoklatan. Nama makanan selanjutnya adalah Consumè vom Steinpilz mit Sherry und Pistazien-Crèpe-Roulade. Lengkap! Dari asal nama maka makanan ini semacam roulade daging. Rasanya hangat di tenggorokan, apalagi di luar suhunya minus 2 derajat. 

Rouladesuppe yang dimaksud.

Di mangkuk hanya tersedia dua roulade namun cukup mengenyangkan. Kuahnya menyegarkan membuat siapa pun ingin menikmati makanan ini perlahan demi perlahan. Tips kedua, seni menikmati makanan adalah makanlah perlahan-lahan dan kunyah selama mungkin!

Pramusaji datang dan bertanya rasa makanan. Saya pun sigap menjawab dalam bahasa Jerman bahwa makanan ini enak. Mereka pun tersenyum senang sambil merapikan alat makan saya. Makanan selanjutnya akan segera dihidangkan.

Nantikan edisi kedua makanan ini!❤

Lemon Sauce Grilled Calamari dan Salmon Orange Sauce: Makan Malam Romantis

Lemon sauce grilled calamari.

Salmon orange sauce.

Jika anda ingin mencoba sesuatu yang romantis dengan pasangan anda, anda perlu mencoba makan malam di tempat yang berbeda. Meski harus mengeluarkan kocek tebal namun bukan tidak mungkin anda mendapatkan pengalaman berbeda bersama suami/isteri anda. Siapa tahu ide ini lebih dari sekedar romantis semata, namun sensasi petualangan kuliner seperti yang saya alami. 

Seorang Chef dari Perancis dalam bahasa Jerman berkata “Essen ist ein Bedürfnis, Genießen ist eine Kunst.” Dapat diterjemahkan secara bebas, makan adalah kebutuhan namun menikmatinya adalah sebuah seni. Dan itu betul, saya rasakan saat menyantap menu tersebut di hotel berbintang empat. 

Selama ini kita berpikir bahwa kita makan agar kenyang, tetapi sesungguhnya kita perlu menikmati apa yang dimakan sebagai sebuah seni. Seni meracik makanan sehingga lebih dari sekedar rasa lezat di lidah. Seni membuat makanan sehingga terlihat indah saat disajikan. Menurut saya itu adalah seni. 

Makan malam sudah menjadi biasa dilakukan, namun makan malam romantis bersama pasangan bisa jadi seni dalam perkawinan. Mengapa? Kita menikmati kebersamaan dalam suasana yang dirindukan berdua, yang mungkin selama ini terlewatkan.

So, seperti yang saya katakan sebelumnya. Ini petualangan kuliner yang saya rasakan bersama suami, menikmati makan malam romantis. Biasanya saya sibuk cari tahu bagaimana pembuatan makanan ini, namun kali ini saya membiarkan diri menikmati masakan yang tersaji indah di depan mata.

Bagaimana pengalaman anda menikmati makan malam romantis dengan pasangan? Ditunggu komentarnya!