Spicy Sartèsburger ala McDonalds: Kuliner Budapest, Hungaria (5)

Pesanan kami di McDonalds.

 

Burger biasa namun sausnya luar biasa. Ini Hungaria!

 

Murah sekali 1000 HUF sudah bisa makan berdua, dibandingkan kami makan di restoran beberapa kali. 

 

 

Kami juga makan di Burger King. Di bon ini ada kode pembuka pintu toilet.

 

 

Restoran McDonalds berada di gedung seberang. Bagus ya!

 

Tak hanya jajanan lokal yang dicoba oleh kami di Budapest, saya dan suami pun mencicipi dua gerai restoran cepat saji di sini. Kami mencoba Burger King dan McDonalds. Meski kemasannya mirip di seluruh dunia namun pastinya ada yang membedakannya dan disesuaikan dengan rasa kuliner lokal.

Untuk Burger King, kami tak sempat merekam dengan foto karena begitu antusias menikmati makanan. Maklum saja, tangan kami juga sibuk mengecek internet untuk destinasi wisata selanjutnya karena WIFI yang tersedia di Burger King. Belum lagi, ini juga jadi alasan untuk mampir karena kami berdua ingin menumpang toilet. Seperti biasa kode pintu toilet ada di ujung bon pembayaran makanan. Begitulah!

Selanjutnya untuk McDonalds, kami mendapati restoran ini pun dipadati oleh banyak orang sehingga kami harus berebut tempat duduk di saat jeda makan siang. Bagusnya ada pramusaji di luar kasir yang mendatangi tiap pelanggan untuk mencatat pesanan secara otomatis. Ini jadi lebih mudah dan cepat mengantri.

Ide ini mungkin bisa ditiru di Indonesia saat antrian di depan kasir untuk memesan makanan sudah mulai menumpuk. Ada pramusaji yang berjalan menghampiri pelanggan dan membuat pesanan otomatis.

Spicy Sartèsburger ini memiliki rasa yang unik dan pastinya tidak didapatkan di negara lain. Karena menggunakan saus paprika dengan citarasa lokal, seperti makan goulasch saja. Selain burger dan sedikit sayuran, tentu sausnya ini yang menggugah rasa pelanggan. Tak hanya itu, makanan ini murah sekali. Dengan membayar 500HUF maka saya sudah mendapatkan minuman, kentang goreng dan burger. Ini setara dengan 3€ menurut saya.

Tempatnya juga asyik untuk berfoto dan melepas rehat setelah berjalan seharian penuh. Lagi pula di sini anda juga bisa mendapatkan gratis internet.

Thai Leves Ràkkal & Olasz Paradicsom Leves Mozzarellàval: Kuliner Budapest, Hungaria (4)

Shrimp soup atau Thai Leves Ràkal.

 

Dua cappucino.

 

Nasi Jasmin.

 

 

Tempatnya asyik untuk nongkrong.

 

 

Ini bonnya, bisa bayar dengan Euro.

Menyusuri kuliner di Budapest tak ada habisnya. Begitu banyak tempat nongkrong yang asyik untuk menghabiskan romansa malam. Kami berhenti di area turis, namanya La Lucia Wok & Grill di Vàci utca 25, Budapest. Rasanya kami berdua ingin sesuatu yang hangat seperti kopi dan sup melewati dinginnya malam di sini.

Dengan ramah kami disambut oleh pramusaji. Senangnya di Budapest, hampir semua pramusaji yang kami temui bisa berbahasa Inggris sebagai pengantar. Bahkan kami juga sering mendapati pramusaji berbahasa Jerman saat tahu kami dari Jerman. Menarik ya!

Kami berdua pesan cappucino, suami pesan yang agak besar sementara saya cukup cangkir kecil. Cappucino di sini berasa seperti di Italia, Baristanya paham sekali meracik kopi. Kami cukup menghangatkan tubuh di sini karena di luar suhunya benar-benar dingin dan berangin.

Suami pesan sup yang ditulis berasal dari Italia, namanya Olasz Paradicsom Leves Mozzarellàval. Ini semacam sup hangat bersaus tomat dan keju mozarella di dalam. Kesan suami, rasanya cukup enak. Ya, saya percaya saja karena suami tak seperti biasanya menawari saya untuk mencicipi makanannya. Bisa jadi supnya benar enak.

Pesanan saya adalah sup juga tetapi dari Thailand. Saya sudah katakan sebelumnya bahwa saya rindu ingin makan nasi. Suami pun memenuhi permintaan saya. Syukurlah, kafe ini menyediakan nasi juga meski saya harus membayar lebih untuk seporsi nasi Jasmin. Biasanya sup khas Thailand yang saya pesan disajikan dengan roti, namun permintaan khusus dari saya pun bisa dipenuhi oleh pramusaji.

Sup dari Thailand ini semacam kari hijau yang berkuah santan, namanya Thai Leves Ràkal. Ini semacam shrimp soup dimana terdapat beberapa potong udang, irisan jamur dan irisan bawang merah besar yang berkuah santan kari. Mungkin saya sudah rindu masakan Asia atau saya juga lapar sehingga bagi saya, makanan ini enak sekali. Terbayar sudah niat makan nasi di sini.

Tempatnya yang asyik dan makanannya yang enak tentu membuat siapa saja betah berlama-lama di kafe tersebut. Seperti biasa, ada WIFI gratis dan layanan toilet. Kode membuka toilet ada di bawah struk pembayaran. Begitulah di beberapa negara Eropa, anda perlu membayar dan mendapatkan kode untuk membuka pintu toilet.

PS: Saya lupa mengambil foto pesanan suami karena begitu asyiknya menikmati makanan saya.

Bagaimana menurut anda?

10 Saran Berkunjung: Budapest, Hungaria (2)

Sungai Danube membelah kota Buda dan Pest.
Jembatan penghubung kota Budapest.
wp-image-679459984
Cantiknya di malam hari. Siapa pun ingin berkunjung ke sini.

Budapest adalah ibukota negara Hungaria yang terkenal elok karena dilalui oleh sungai Danube atau Donau. Sungai ini juga melalui Passau, Jerman. Tak hanya itu, kota ini populer dengan arsitektur bangunannya yang indah dan terkenal di Eropa. Kota ini sendiri dihuni oleh dua puluh persen dari total penduduk Hungaria.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/19/passau-germany-2-kota-persinggahan-para-turis/

Sungai Danube membelah kota Buda di sisi satu dan pest di sisi lain. Setelah tiba saya baru tahu bahwa ini adalah gabungan dua kota yang dilalui oleh sungai Danube. Jika mengacu pada sejarah, peradaban manusia dimulai di wilayah yang subur di dekat sungai. Ya, di sini perpaduan kebudayaan romawi dan celtic tumbuh. Hungaria adalah salah satu negara tertua di Eropa. Wow!

Saya dan suami berkunjung dengan berkendara mobil dari Jerman. Kami sempat berpindah hotel sehingga kami bisa mengenali kehidupan di Budapest selama di sana.

Berikut sarannya:

Mata uang Hungaria.

(1). Hungaria menggunakan mata uang Hungarian Forints (HUF). Sebagai contoh, kami menukar uang 50€ di penukaran uang maka kami dapat 15.400 HUF. Itu artinya 1€ setara dengan 308HUF. Di beberapa restoran dan kafe, ada yang menerima transaksi dalam bentuk Euro. Namun umumnya, mereka ingin pembayaran dalam mata uang mereka. Lagipula anda sangat perlu HUF bilamana anda membayar toilet umum, berbelanja di supermarket atau membayar tiket parkir mobil.

Kotak Hijau adalah toilet umum berbayar.

(2). Mengacu pada pengalaman menggunakan toilet di tempat wisata, Budapest tak ubahnya di kota-kota besar di Eropa. Budapest menggunakan layanan toilet umum berbayar. Untuk WC dengan pintu otomatis, anda harus punya uang 250HUF. Namun jika ada petugas kasir yang berjaga, kisaran toilet berbayar antara 150HUF sampai 250HUF. Mau yang gratis? Saya pernah menumpang di Kafe atau restoran cepat saji. Namun anda harus membeli sesuatu terlebih dulu lalu bon pembayaran biasanya tersedia kode untuk membuka pintu WC.

wp-image-287559774
Perhatikan papan informasi berwarna merah sebagai halte pemberhentian sightseeing city tour!
Tidak semua bus dilengkapi WIFI, namun setiap bus menyediakan layanan bahasa dengan headset atau tour guide berbahasa Inggris.

(3). Kota Budapest begitu luas dan banyak tempat yang layak dikunjungi. Kami berencana hanya sebentar namun rupanya kami perlu berlama-lama untuk menjelajahi banyak tempat. Saran saya, anda bisa ikut paket sightseeing city untuk 48 jam. Kami membayar 26€ atau setara dengan 8.000HUF per orang. Selain mendapatkan headset dalam 25 bahasa, anda bisa berkeliling kota dan mengunjungi tempat wisata yang ditawarkan. Dalam beberapa bis, ada yang menyediakan layanan WIFI untuk umum. Ingat, selama di bus ini kita dilarang berdiri atau harus duduk di kursi yang tersedia, tidak boleh makan/minum, tidak boleh merokok dan minuman alkohol juga harus menjaga kebersihan dalam bus.

Untuk koneksi internet luar negeri, selain paket roaming, sewa travel wifi dari Indonesia merupakan salah satu yang dapat menghemat cost karena bisa patungan atau tethering sampai 5 gadget. JavaMifi bisa jadi alternatif solusi buat sewa wifi karena selain keuntungan di atas, baterainya juga awet sampai 15 jam. Untuk sewa bisa langsung ke http://www.javamifi.com.

wp-image-1788339951
River boat tour menyusuri sungai Danube di malam hari. 

(4). Beberapa tempat ada yang harus membayar tiket masuk, namun ada pula yang tidak perlu membayar. Ada pula yang membayar sukarela seperti saat kami masuk ke Basilika St. Stephan. Namun paling menarik adalah jika anda ikut paket seperti yang saya ceritakan di atas maka anda akan mengikuti river boat tour. Di sini kita bisa menyaksikan keindahan Budapest kala malam hari menyusuri sungai Danube.

Taksi berwarna kuning atau sepeda sewa berwarna hijau. Sesuaikan dengan kocek anda!
Ini juga sepeda sewa yang menggunakan aplikasi telepon pintar.

(5). Selama di Budapest, kami tidak mengenakan kendaraan umum. Kami lebih banyak mengikuti bus hop on hop off dan berjalan kaki. Moda transportasi di Budapest ada bermacam-macam seperti bis, tram, taksi hingga sepeda yang bisa disewa. Menariknya, sepeda ini semacam menggunakan aplikasi dan otomatis bisa digunakan.

Mesin otomatis parkir berbayar.

(6). Karena kami menggunakan kendaraan pribadi, Budapest menyediakan mesin otomatis pembayaran parkir. Lahan parkir begitu terbatas di Budapest, mobil-mobil diparkir di pinggir jalan. Untuk pembayaran satu hari misalnya dikenakan biaya 200HUF. Setelah anda membayar, anda wajib menempelkannya di dekat kaca mobil depan. Jika anda ketahuan tak membayar parkir, mobil anda akan diderek oleh petugas dan mendapatkan surat tilang. Mayoritas pemilik mobil di Hungaria sudah menggunakan stiker berbayar yang tertempel di kaca depan mobil mereka.

wp-image-1140656817
Ice-skating di dekat Heroes Place.

(7). Budapest juga terkenal dengan spa atau thermal untuk berendam. Anda bisa mendatangi area pusat kota. Di situ terdapat thermal terbesar dan menarik wisatawan untuk rileksasi. Jadi siapkan pakaian renang dan handuk jika ingin melakukannya di Budapest! Jika tidak, mungkin anda tertarik main ice-skating di luar.

Mall terbesar di Budapest dengan arsitektur yang indah.
Central Market Hall atau Fővàm tèr.

(8). Untuk berbelanja, di Budapest terdapat area butik ternama di dunia hingga mal. Saran saya, jika anda ingin ke mal maka bisa berkunjung ke Bàlna, shopping center. Ada juga Great Market Hall (Fővàm tèr) sebagai pasar tradisional dan terbesar. Di sini anda bisa membeli sovenir khas Hungaria atau mencicipi penganan lokal.

(9). Selama di Budapest, anda wajib mencicipi kuliner mereka yang juga terkenal dengan rasa paprikanya. Selain goulasch dengan berbagai variasi, Hungaria menawarkan wisata gastronomi di Budapest. Makanannya menurut saya bercampur antara gaya Austria dengan mediterania.

(10). Alangkah indah dan panjang waktu berwisata di musim panas. Di musim dingin saat kami datang, kami merasa waktu gelap sudah mulai sejak jam 4 sore. Jam 7 atau 8 malam, kota Budapest pun sudah sepi dan sunyi. Belum lagi kondisinya jadi lebih dingin semisal mengikuti river boat tour di malam hari. Datang di musim dingin maka anda perlu menyiapkan pelindung tubuh dari kepala hingga alas kaki yang super hangat dan nyaman.

Semoga bermanfaat!

Smoked Salmon with Potatoes, Glühwein dan Crepes, Jajanan Pasar Natal: Kuliner Budapest, Hungaria (3)

Smoked Salmon with Potatoes.

Masih ingatkah anda artikel tentang salmon grilled yang saya jumpai di Christkindlmarkt di Jerman?

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/22/finnischer-lachsgrill-ikan-salmon-yang-dipanggang-makanan-khas-jerman-22/

Setibanya di Basilika Santo Stephanus, kami melihat pasar Natal serupa seperti di Jerman. Pasarnya begitu megah dan terlihat eksklusif yang dijadikan pasar rakyat yang meriah. Banyak turis datang menikmati sajian kuliner atau membeli berbagai pernak-pernik khas Hungaria.

Salah satu yang membuat kami lapar adalah kedai yang terlihat banyak asap dan letaknya tepat di depan lapangan basilika. Kedai tersebut menjual salmon yang dipanggang dan beberapa sajian lainnya. Kami menyukai ikan dan sengaja berhenti di situ untuk mencicipinya. Meski harganya lebih mahal saat kami beli di Jerman.

 

Petugas pemanggang salmon benar-benar paham bagaimana membuat tekstur ikan yang sesuai. 

 

Pramusaji menuangkan potongan kentang bersisian dengan salmon panggang.

 

 

Nikmat sekali!

Saat pramusaji memenuhi permintaan kami, dia meletakkan irisan salmon yang dipanggang dan masih berasa panas di selembar piring kertas. Dia bertanya, apa yang dikehendaki selanjutnya? Pilihannya roti ciabatta atau kentang. Kami pilih kentang yang diolah dengan cara ditumis dan diberi bawang bombay serta daun seledri yang ditaburi sedikit. Rasa kentang ini juga enak sekali. 

Kentang tersebut diletakkan bersisian dengan salmon panggang. Porsinya yang lumayan besar cukup buat saya dan suami. Lagipula saat membayar, kami terkejut juga mendapati harganya yang lumayan mahal yakni sekitar 15€. Meski saya membayar dengan mata uang Hungaria, namun rasanya sajian ini lebih mahal saat kami dapati model sajian yang sama di Jerman hanya sekitar 10€.

Harga mahal namun rasa yang lezat cukup membuat kami senang juga. Sepertinya si pemanggang salmon tahu betul bagaimana membuat tekstur daging salmon enak dan tidak hangus. Enak sekali! Sedangkan jika memilih smoked salmon dengan roti ciabatta harganya jauh lebih murah. Untuk menikmatinya cukup diberi siraman lemon sedikit. Enak sekali meski tak banyak bumbu yang digunakan.

 

wp-image-1858705261
Pfannkuchen atau crepes.

 

 

wp-image-1710999197
Glühwein.

 

 

wp-image-1953881364
Kedai yang menjual di pasar Natal.

 

Selain salmon with potatoes, ada lagi crepes dan glühwein. Crepes, semacam Pfannkuchen di Jerman. Di sini hanya tepung, telur dan air sedikit. Lalu dipanaskan di wajan datar hanya beberapa menit.

Di Indonesia, jajanan ini dijual menjadi makanan populer di pusat perbelanjaan. Di Indonesia, crepes lebih krispi sedangkan di sini lebih lembut, mungkin bahan yang digunakan berbeda.

Isian crepes bisa bermacam-macam sesuai selera. Saya paling suka cokelat saja atau ditaburi madu juga boleh. Ini bisa jadi jajanan kaki lima yang mudah dijumpai di Eropa. Anda bisa mensontek gaya saya membuatnya di sini.

Baca https://liwunfamily.com/2017/09/24/jangan-hanya-tahu-makan-crepes/

Untuk minumannya, ternyata ada juga glühwein di sini. Saya lupa berapa harganya dalam mata uang HUF, namun kira-kira harganya sekitar 3€. Tak perlu deposit gelas seperti layaknya di pasar Natal di Jerman. Mereka menuangkan glühwein dalam gelas bermaterial sekali pakai.

Glühwein menjadi minuman hangat dan terbaik disajikan saat musim dingin seperti sekarang di sini.

Demikian hasil perburuan kuliner di pasar Natal. Pastinya masih ada lagi sajian kuliner lain yang ditemukan di Budapest. 

Semoga bermanfaat!

Christmas Market still Exist in here: Budapest, Hungary (1)

Christmas just passed away a week ago but we are still celebrating until 6th January every year in according to Catholic Liturgy. When we were on vacation in Budapest during few days, we stopped by awhile in Christmas Market that held near Basilica Sint Stephan. This market seems huge in order to the most of tourists visited to look around and trying local cuisine.

The attractive things is shown up to visitors when Basilica perfomes the lights and instruments by thema Christmas season. The duration is for 3-4 minutes to perform spectacular lights. Every visitors can see how adorable the sparkling nights around Basilica’s hall.

Here there are photos such as down

Basilica St. Stephan.

In front of the hall of Basilica.

The Nativity of scene.

Christmas market around.

Some visitors enjoy food and beverages that found by booths of market.

Punch and mulled wine booth.


Who is this? No information around. 


Kürtőskalàcs, Jajanan Kue Kaki Lima: Kuliner Budapest, Hungaria (3)

Kürtőskalács sedang dipanggang.
Kue dipanggang dengan karamel hingga berkerak.

 

Kue tampak sedang diuleni seperti roti biasa.

 

Kue ini juga bisa ditemukan di pinggir jalan, seperti tampak dalam foto dimana kedai tersebut belum buka.

 

Di Budapest, saya senang mengamati pasar Natal yang berada dekat dengan Basilika Santo Stephanus. Salah satu kios yang ramai dikunjungi adalah kedai kue khas kuliner setempat. Setelah dari sini, saya lihat banyak kedai kue serupa di kaki lima yang juga menjual kue sama. Itu artinya kue ini populer di Budapest.

 

Nama kue tersebut, Kürtőskalács yang wajib anda coba jika berkunjung ke sini. Ini semacam kue tradisional yang manis dan dikonsumsi sehari-hari. Menurut saya, kue ini seperti roti gulung yang dibungkus dengan rasa manis semacam karamel pada permukaannya sehingga mengkilap. Rasanya benar-benar renyah dan mengenyangkan menurut saya. Namun saat saya datang ke sini, kue ini memiliki berbagai varian rasa sebagaimana yang anda sukai misalnya vanila, strawberry dan sebagainya. 

Ada yang bilang kue ini juga dijumpai di daratan Eropa yang lain, namun memang paling banyak dijumpai di Hungaria. Kue ini dibuat dengan adonan seperti roti beragi, digulung dan dipanggang dalam bara api hingga berwarna kecoklatan. Setelah itu, diberi rasa sesuai selera yang dikehendaki.

Semua kedai yang saya jumpai menawarkan cara yang sama dengan rasa berbeda-beda, yakni kue diuleni, dipanggang dan kemudian diberi rasa sesuai permintaan. Harganya bervariasi namun di pasar musiman seperti Christmas Market tentu harganya bisa sedikit lebih mahal. Saya sarankan anda mencoba di jajanan kaki lima yang lain karena ternyata ini termasuk jajanan yang digemari jika berkunjung ke Hungaria.

Begitu asyiknya menikmati kue hingga saya lupa mengambil foto kue tersebut. 

Borjùpaprikà Galuskàva, Veal Stew with Galuska: Kuliner Budapest, Hungaria (2)

 

 

Borjùpaprikàs Galuskàva.
Coca cola dan teh hijau.

Kami kelaparan begitu tiba dari Jerman. Akhirnya berjalan tak jauh dari hotel, tempat kami menginap ada sebuah restoran di sudut jalan yang terlihat unik. Namanya KIRÀLY 100 Gastro Corner, Budapest. Anda bisa mencarinya sendiri yang letaknya berdekatan dengan wilayah hotel dan penginapan.

Konsep restorannya instragamable buat anak muda sehingga tempat ini tak pernah sepi dikunjungi. Ada barnya juga di dalam jika tak ingin makan apa pun. Lalu di sudut restoran, ada banyak tempelan mata uang berbagai negara. Ternyata pernah ada orang Indonesia juga makan di situ dan menempelkan selembar seratus ribu rupiah. Karena banyak orang, saya enggan mengambil foto sudut aneka uang tersebut.

Untuk pesanan saya, anda bisa lihat di artikel ini. Sedangkan kali ini, saya mengulas jenis makanan Hungaria yang terkenal dengan paprikanya. Makanan ini dipesan suami saya, Borjùpaprikàs Galuskàva. Ini semacam pot yang berisi potongan galuskàva dengan goulasch.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/29/gulyasleves-piros-labas-dan-tejfolos-ubokasalata-budapest-hungaria-1/

Galuskàva ini bisa dibilang semacam spätzle jika di Jerman dan sekitarnya. Si pramusaji menjelaskan dalam bahasa Inggris, ini semacam dumpling. Menurut saya, ini seperti mie telor atau pasta bagi kebanyakan orang Italia. Di Hungaria, mereka membuat galuskàva sebagai hidangan yang disantap bersama goulasch atau sup paprika.


Sedangkan borjùpaprikàs adalah nama lain dari goulasch paprika. Ini berisi potongan daging sapi, irisan paprika dan tomat yang disertai krim berbumbu seperti goulasch dan dimasak hingga daging melunak. Saya tanya ini ke rekan kerja suami dulu yang memang berasal dari Hungaria. Membuatnya pun mudah asalkan kita sudah punya bumbu kemasan. Dalam buku menu, masakan ini dalam bahasa Inggris disebut ‘veal stew with galuska‘ yakni daging yang direbus bersama mie.

Mereka yang suka foto-foto dijamin suka dengan suasana restoran yang menarik mata.

 

 

Ada bar juga dan tempelan berbagai mata uang, termasuk selembar seratus ribu dari Indonesia.

 

Bon dan alamat restoran mungkin bisa dikunjungi. Tertulis dalam mata uang HFU, mata uang Hungaria namun saya bisa membayar dengan Euro.

Hungaria terkenal dengan citarasa makanan paprika, bahkan beberapa tempat bisa dinamakan paprika seperti hotel atau restoran. Karena kuliner Hungaria juga dikenal mendunia, Budapest menawarkan tur gastronomi untuk mencicipi kuliner mereka.

Berdasarkan informasi dari tour guide kami, makanan Hungaria memiliki citarasa yang dekat dengan Austria dan Mediterania. Sementara untuk jajanan kue-kue begitu mirip dengan Perancis. Petualangan rasa saya belum berakhir, nantikan cerita kuliner saya yang lain.

Selamat Tahun Baru 2018! Happy New Year! viel Glück🎉🎊

Gulyàsleves Piros Làbas dan Tejfólós Ubokasalàta: Kuliner Budapest, Hungaria (1)

Gulyàsleves Piros Làbas.

Lihat kuahnya yang berbeda dari goulasch yang biasa saya ulas.

Roti untuk goulasch.


Saya berulangkali memposting goulasch dalam blog ini hingga suatu kali ada seorang pembaca bertanya makanan sejenis apa goulasch itu. Dia bertanya demikian pasalnya goulasch yang saya tampilkan selalu berbeda-beda. Itu sebab variasi goulasch tidak membosankan dan mudah diterima siapa saja. Buktinya, goulasch dari Hungaria bisa mendunia dan populer.

Saat berkunjung ke Budapest, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi goulasch. Saya cari dalam daftar menu tetapi tidak ketemu hingga pramusaji membantu saya menunjukkannya dalam daftar menu. Nama dalam daftar menu tertulis ‘Gulyàsleves Piros Làbas‘ dengan porsi kecil. Anda tahu meski saya memilih porsi kecil, saya pun tak kuasa menghabiskannya. Artinya, porsi tersebut cukup besar menurut saya, ditambah irisan roti.

Selang lima belas menit, datang pesanan minuman saya yakni green tea, yang diberi tambahan irisan lemon dan madu cair. Setidaknya baik juga untuk tubuh kala saya dan suami terlambat makan siang. Kami berdua baru saja tiba di Budapest, dengan mengendarai mobil pribadi. Suhu di luar sekitar 5 derajat celcius.

Tejfólós Ubokasalàta.


Pramusaji pun menawari saya salat sebagai makanan pembuka. Saya senang karena mengira ini adalah complimentary, baru kemudian saya tahu bahwa salat ini dibayarkan. Di beberapa restoran di Jerman, salat biasa dihidangkan sebagai makanan pembuka namun tidak dikenakan biaya. Ini semacam salat mentimun buatan ibu mertua, hanya saja irisan mentimun ditambahkan mayonaise dan ditaburi paprika bubuk. Hanya mentimun saja dalam salat, yang kemudian disebut Tejfólós Ubokasalàta

Kemudian pramusaji membawa beberapa irisan roti di hadapan saya. Itu berarti saya menyantap goulasch dengan roti. Lalu dia pun bersegera menghidangkan goulasch, sepertinya masih dalam kondisi panas. Isian sup ada kentang, wortel, buncis dan irisan daging sapi. Untuk menikmatinya, tentu bersama dengan roti.

Menurut saya, ini semacam sup daging buatan ibu saya di Jakarta. Hanya saja, kuahnya berbeda dan terasa lebih kaya rempah. Kuah goulasch di sini tidak terasa kental dibandingkan jika saya buat sendiri di Jerman. Soal variasi isi sup, saya pikir itu menjadi kekayaan goulasch sendiri sehingga bisa diterima oleh siapa saja dan dikreasikan menurut citarasa setempat. Misal, saya bisa kreasikan dengan sosis goulasch karena di Jerman ada banyak varian sosis. 

Harganya goulasch sekitar 1400HUF, dinilai dalam mata uang Hungaria. Sedangkan salat mentimun sekitar 750HUF. Meski restoran bisa menerima mata uang Euro, namun pastikan jika anda traveling ke Hungaria maka anda perlu memilikinya juga untuk transaksi lebih baik. 

Untuk menu pilihan suami, akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat!