Tag Archives: identitas diri

Masihkah Pekerjaan Menentukan Identitas Sosial?


Dalam diskusi budaya antara Timur dan Barat, ditemukan bahwa bagi orang Timur katakanlah Indonesia, begitu mudah menanyakan apa profesi seseorang bahkan dengan orang asing atau yang baru dikenal. Namun, ternyata hal ini dalam budaya Barat menjadi dianggap ‘tidak sopan’ jika kita menanyakan ‘apa pekerjaan anda?’ pada orang lain meski bertanya pada seorang teman.

Semakin maju dunia, pekerjaan tidak lagi dipandang hanya bekerja di kantor, berangkat pagi pulang sore atau bekerja dengan sebutan ‘guru’, ‘dokter’, ‘karyawan’ dan aneka profesi lainnya. Kini bekerja pun bisa tanpa harus ke kantor, mereka yang bekerja secara online. Atau profesi pekerjaan pun cakupannya menjadi luas saat sekarang. 

Sebagai misal, ada 2 orang tukang batu. Lalu, saya yang semula tidak tahu apa pekerjaan mereka sebenarnya, bertanya begini “Apa yang anda lakukan hari ini?” Orang pertama menjawab “Saya menyusun batu” di kesempatan terpisah, saya bertanya pada orang kedua, dia pun menjawab “Saya membangun istana.” 

Dengan pertanyaan sama ternyata saya bisa menghasilkan dua respon yang berbeda. Jika melihat jawaban orang pertama, jelas saya bisa memandang orang ini mungkin tukang bangunan atau tukang batu. Sedangkan pada orang kedua, saya bisa berpikir mungkin orang tersebut adalah seorang Arsistek, Perancang Bangunan, Supervisor/Mandor pekerja bangunan, dsb. Padahal keduanya adalah tukang batu. 

Begitu mudah kita bertanya, apa yang sedang kau kerjakan sekarang? Itu dimaksudkan untuk bertanya profesi pekerjaannya. Profesi pekerjaan dipandang sebagai identitas sosial. 

Lalu orang mengkotak-kotakkan dalam kelompok tertentu dan mengkaitkan dengan tindakan dan norma sosial. Jika seorang pembela hukum, tidak boleh salah. Jika seorang dokter, tidak boleh sakit. Jika seorang ahli agama, tidak boleh salah. Jika seorang guru, harus santun. Dan seterusnya untuk hal lain. Identitas sosial ini yang kemudian dikaitkan profesi pekerjaan. 

Boleh dibilang, di tengah berbagai tuntutan ekonomi misalnya, masih ada saja orang yang berpikir salah karir. Atau hukum ‘The right man is in the right place’ belum tentu juga benar saat dilakukan seleksi karyawan. Namun profesi pekerjaan disandang sebagai identitas sosial, sehingga untuk mengenal seseorang, tanyakan apa pekerjaannya. 

Ada yang memilih pekerjaan karena pilihannya, namun ada pula karena terpaksa memilih dengan berbagai alasan. 

Ada yang bangga dengan profesi pekerjaannya, lalu ketika terjadi masalah. Orang-orang sekitar mencap dan mengkaitkan dengan pekerjaan. Misal, “Jadi guru kok bicaranya tak sopan”; “Jadi dokter kok bisa sakit ya” ; “Ahli komunikasi kok bicara saja tidak jelas” dan segala macamnya. 

Namun lepas dari apa pekerjaan kita dan identitas sosial yang melekat pada kita, kita sebenarnya ingin dikenal jadi diri sendiri. Ini saya, tanpa embel-embel gelar kesarjanaan atau profesi pekerjaan. 

Di sini saya paham, budaya di Jerman (Barat) bahwa mereka mampu memisahkan urusan pekerjaan dengan personal. Jika saya dan beberapa orang terlibat dalam diskusi obrolan pertemanan, tidak lagi kami berbicara soal pekerjaan. “Saat di dalam kantor, saya pakai jubah bos, namun di luar kantor saya adalah teman baik dan *****” kata teman saya sambil menyebutkan namanya. 

Jika di kartu identitas diri (KTP) saya di Indonesia ada kolom pekerjaan, di Jerman dalam kartu identitas diri tidak dicantumkan profesi pekerjaan. Artinya saya ingin dikenal lepas dari apa pun profesi saya. Ich bin Ich.

Advertisements