Mencermati Pencegahan Rokok di Kalangan Remaja di Jerman

Preventing Tobacco Among Young People in Germany

The automatic cigarette machine. 

This article intended to inform how the government’s issues policy in Germany to reduce the numbers of smokers and also to prevent young people to be smoker. Youth and young adult is a potential target smoking habits as part of life style.

Although I am not smoker, but this only concerned on the effectiveness of government’s policy banned all the advertising tobacco in television or other media. Not only related with advertising, when you want to buy tobacco then you must swipe your identity card in automatic cigarette machine. This meant that you are deserved to smoke cigarette due to more than 18 years old.

I observed in Germany there is no tobacco advertising in magazines or internet. As smokers, you can buy cigarettes in certain spot, near cashier. When you wanna have cigarettes, asking the cashier to have those. Shopkeepers may not sell tobacco to anyone under the age of 18.

This article is written as below in Bahasa Indonesia that aimed to explain the regulations in preventing  tobacco among young people. As I known, Indonesia is still yet to control over selling tobacco in supermarket or public area.

*****

In Bahasa Indonesia

Salah satu mesin otomatis jual rokok di tempat umum. Di situ tertera, anda harus membuktikan sudah berada di atas 18 tahun.

Salah satunya tersedia di restoran atau kafe, namun anda bisa menyimak peringatan merokok ‘Rauchen bitte erst ab 18.’ 

 

wp-image-1692476591
Rokok yang dijual di supermarket biasanya di dekat kasir untuk mengontrol penjualan rokok bagi mereka yang berhak yakni sudah berada di atas 18 tahun. 


 

Saya tidak merokok, tetapi saya suka mengamati perilaku dan iklan rokok. Di Jerman ternyata sulit menemukan iklan rokok di televisi. Anda juga tidak menemukan iklan rokok di internet dan majalah. Saya mengamati itu hingga sekarang.

Namun nyatanya jika anda di Jerman maka anda masih menemukan iklan rokok bertebaran di luar atau bioskop. Iklan rokok biasanya memiliki personifikasi sebagai gaya hidup kekinian. Sosok yang dijadikan model dalam iklan rokok bahkan bisa menjadi idola bagi remaja. Ini tentu mempengaruhi remaja untuk memodeling perilaku hanya karena citra diri dari model.

Di tahun 2016, Jerman mengeluarkan aturan bahwa lima puluh persen dari kemasan rokok harus berisi peringatan bahaya merokok. Pada akhirnya sebagaimana yang pernah saya tulis, visualisasi menyeramkan di kemasan rokok berdampak pada penurunan penjualan rokok. Ini dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi bahaya rokok dengan memasang informasi peringatan dalam porsi kemasan rokok yang cukup besar.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/02/apakah-ada-hubungan-sampul-rokok-terhadap-perilaku-merokok/

Di tahun 2013 Jerman juga sudah mulai melarang kampanye penjualan rokok untuk remaja. Remaja dan orang muda biasanya merupakan target potensial untuk penjualan rokok. Bagaimana pun masa remaja adalah masa pencarian jati diri sedangkan iklan rokok dipersonifikasi sebagai sosok yang keren. Bagi remaja, iklan ini mudah diterima sehingga merokok bisa menjadi gaya hidup mereka. Sudah beberapa tahun belakangan ini, kampanye iklan rokok untuk remaja di Jerman dilarang.

Kebijakan pemerintah Jerman tidak hanya pada iklan saja, namun juga pengecekan penjualan rokok untuk remaja. Untuk membuktikan itu, saya mengamati bagaimana kasir supermarket mengontrol pembeli rokok saat suatu kali saat saya berbelanja di situ. Di depan antrian saya berdiri tampak dua perempuan remaja. Saya menebak mereka masih remaja karena gaya pakaian mereka plus konten bahasa yang mereka ucapkan pun bahasa slank.

Untuk mendapatkan rokok di supermarket, biasanya diletakkan di sekitar kasir. Salah satu dari remaja tersebut meminta  pada kasir sebungkus rokok. Tak mudah bagi kasir untuk memenuhi permintaan mereka. Kasir pun meminta mereka menunjukkan kartu identitas diri. Kasir mengecek usia mereka dari kartu identitas diri, kemudian kasir dapat memberikan rokok pada mereka. Ternyata memang kasir telah menjalani prosedur penjualan rokok dengan baik, yakni menjual rokok kepada mereka yang sudah berada di atas 18 tahun.

Untuk mendapatkan sebungkus rokok, biasanya orang yang merokok bisa membelinya di tempat tertentu di supermarket, diletakkan di dekat kasir. Selain itu, tersedia pula mesin otomatis penjualan rokok di beberapa tempat semisal restoran atau tempat umum yang menjadi area publik. Namun lagi-lagi, untuk menjalankan mesin ini ada ketentuan untuk menggesek kartu identitas diri untuk membuktikan kelayakan membeli rokok.

Saya pikir bahwa cara ini efektif untuk menghindari penjualan rokok pada remaja.

Bagaimana menurut anda? Ada pendapat?

 

 

 

Candu Iklan atau Kualitas Produk? Berikut Ulasannya

Ilustrasi. Contoh sederhana saat memlih produk teh. Apa yang menyebabkan anda memutuskan untuk memilihnya?

Sebelum lanjut membaca, pertanyaannya apakah anda membeli suatu produk karena merek yang diiklankan atau kualitas produk? Sebelumnya baca juga ulasan saya tentang kekuatan branding di sini. Bahwa alasan orang memilih produk, salah satunya adalah pengaruh iklan.

Iklan kerap dijadikan perusahaan untuk melakukan pencitraan produk. Misalnya nih, saat di Jerman saya ingin membeli hape baru. Si sales menawarkan dua produk HAPE A atau HAPE B. Kedua hape dengan tipe xx memiliki spesifikasi yang sama baik HAPE A atau HAPE B. Harganya tentu berbeda, HAPE A lebih mahal. Saya tertarik HAPE A bukan karena harganya, namun percaya pada iklan yang berulang-ulang di media. 

Lalu sales hape berpendapat kedua hape yang ditawarkan punya spesifikasi yang kurang lebih mirip. Namun HAPE B memang tidak menggunakan iklan terlalu banyak untuk ‘menjual’ produknya. Ini sebab harga HAPE B tidak begitu mahal. Dari situ saya paham bahwa terkadang saya masih terpengaruh iklan untuk membeli produk. Dan ternyata biaya iklan juga dipertimbangkan suatu perusahaan sehingga harganya pun diperhitungkan lebih mahal, ketimbang produk yang jarang atau tak pernah beriklan.

Perusahaan yang menampilkan produk lewat berbagai iklan di media massa percaya bahwa iklan produk menjanjikan merek daripada kondisi produk. Menurut para ahli ini disebut ‘Brand Promise‘ kepada konsumen sebagai kampanye pemasaran. Iklan menawarkan janji dengan memusatkan pada kekuatan dopamin. Dopamin diyakini sebagai bahan kimia yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian yang menggiring keputusan seseorang. 

Siapa sih yang tidak tergiur oleh janji? Naluri manusia saat dijanjikan tentu langsung bahagia. Iklan membangun kesenangan pada anda sehingga kita mempercayainya. Ingat saja jika ada pria menjanjikan untuk menikahi seorang perempuan, otomatis perempuan itu percaya pada si pria. Ini sekedar contoh. Jadi ingat juga janji politik para politisi, toh kita pun mempercayainya. Lagi-lagi ini contoh betapa kuatnya janji sehingga percaya kemudian memutuskan.

Intinya:

Kembali ke soal produk iklan, ulasan para ahli berpendapat sebaiknya perusahaan meningkatkan kualitas produk ketimbang kuantitas iklan. 

Kini keterbukaan orang berpendapat sebagai blogger misalnya mereka bisa menuliskan hasil pengalaman menggunakan produk yang berkualitas. Bukankah ini bisa menjadi kampanye pemasaran yang baik bahkan lebih murah?

Semoga setelah ini ada yang menawari saya menulis advertorial produk😎 Ini tipsnya jika mau mencoba. 

Ada pendapat?