Tag Archives: indomie

Belajar ‘Branding’ dari Indomie


(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Artikel ini tidak bermaksud advertorial namun saya jadi tertarik membahas mengenai ‘branding’ produk ini setelah saya mendapati artikel bahwa produk ini sudah menjangkau ke Nigeria, Afrika. Ternyata tidak hanya sampai di Afrika, saya pun bisa mendapati produk ini di Jerman. 

Sejalan dengan pendapat seorang ahli marketing (2000) bahwa bagaimana produk bisa semakin dikenal, salah satunya melalui multiple market places. Ini mungkin cara dimana indomie tidak saja bisa dirasakan di Indonesia, namun hingga mancanegara. 

Kali ini saya ingin mengulas bagaimana pembentukan citra indomie hingga saya pun ingin beli meski jauh dari Indonesia. Bahkan saya saja sampai membawa 1 dus Indomie ke Korea Selatan buat seorang teman Indonesia yang menitipkan indomie. Itu artinya branding indomie melekat pada mereka yang pernah merasakan nikmatnya makan indomie. 
Saya jabarkan dalam empat (4) P berikut ini:

1. Placement (Branding)

Teknik marketing ini merujuk pada bagaimana indomie dikenal sebagai produk mie dengan citarasa Indonesia. Strategi placement branding semula muncul saat booming film di era tahun 1940-an yang menunjukkan bagaimana seorang artis dalam film dengan citra produk yang melekat pada mereka. Produk tersebut bukan sekedar tempelan film namun bertujuan mempengaruhi siapa pun yang melihat.

Begitu pun dengan indomie, meski ada produk lain memiliki aneka rasa masakan khas Indonesia, namun indomie mampu melekat kekhasannya sebagai produk Indonesia. Dari pemilihan nama saja, saat saya memilih indomie di toko Asia, si kasir langsung menebak saya berasal dari Indonesia. Semula banyak orang Asia di sekitar saya menduga saya dari Thailand atau Filipina, namun saat membayar indomie maka mereka pun tahu asal saya.

Bisa jadi ini karena pengaruh iklan yang melukiskan budaya Indonesia. Iklan indomie yang saya kenang adalah bukan tentang bagaimana memasak indomie itu sendiri atau rasa indomie, namun kekhasan atau budaya Indonesia. Menarik bukan? 

2. Price

Sebagai anak kos dulu, saya pernah merasakan bagaimana menikmati indomie seperti makan di restoran. Mengapa? Saya tidak punya uang tetapi cukup dengan indomie saya bisa merasakan rasa yang kurang lebih sama dengan makanan yang dimaksud. Artinya, harga indomie cukup terjangkau untuk kocek saya kala itu.

Ada banyak pula pilihan produk mie instan lain di Jerman, dari yang berharga murah atau setara dengan indomie hingga yang mahal. Namun hanya dengan kisaran 0,39€ – 0,70€ atau 39 cents Euro hingga 70 cents Euro, saya sudah bisa mengobati rasa rindu masakan Indonesia meski jauh di mata. Harga itu bervariasi saat saya temukan di berbagai supermarket dan toko Asia di sini.

3. Product

Produknya bagaimana? Anda bisa menilai sendiri. Menurut saya, meski indomie berasal dari Indonesia namun bahasa yang digunakan pun menyesuaikan. Lihat saja contoh indomie rasa kari ayam maka ditulis Nodelsuppe mit Hühnergeschmack! Jadi siapa pun yang tidak paham bahasa Indonesia dapat mengerti rasa kemasan yang beraneka ragam di muka depan produk. Ini pula termasuk petunjuk memasaknya dalam bahasa setempat di muka belakang produk.

Dalam produk muka depan, jelas ditampilkan rasa kemasan, termasuk imej yang menggambarkan makanan tersebut saat disajikan. Setidaknya visualisasi akan membantu saat orang memilih produk. Soalnya saya pernah traveling di Asia, lalu saya dan suami mampir ke toko membeli kemasan mie instan setempat, namun di produk muka depan tidak tertera seperti apa penampakan setelah memasak. Saya dan suami hanya bisa menebak seperti apa hasilnya setelah dimasak. 

Lalu informasi 3 menit di sampul muka produk cukup membuat puas bagi mereka yang ingin segera makan tanpa berlama-lama memasak. Memang ada yang lebih dari 3 menit? Ada saja. Artinya tiap produk punya informasi masing-masing, namun indomie punya keunggulan, dalam 3 menit anda sudah bisa makan.

4. Promotion

Saya masih ingat ketika di Indonesia, iklan indomie begitu touching, bukan karena soal produk makanan, namun soal budaya Indonesia. Iklan indomie begitu menggaung apalagi saat baru meluncurkan rasa baru karena iklannya yang berdurasi cukup lama dan berulang-ulang. Saya yakin promosi indomie sudah cukup mendulang kesuksesannya. 

Sekali lagi di akhir, saya tegaskan bahwa ini tidak bermaksud iklan atau advertorial namun belajar bagaimana strategi komunikasi suatu produk bisa mendunia. Tulisan ini juga bukan karena ikut kontes menulis atau kompetisi blog, tapi murni ini pendapat saya. Terimakasih indomie. 

Advertisements

Product Branding: Hal-hal Menyangkut Pemilihan Barang (Produk)



Indomie adalah salah satu produk yang saya pilih bagaimana bisa mencitrakan sebagai buatan Indonesia.

Saya lagi tertarik mempelajari branding. Branding adalah bagian dari strategi komunikasi sehingga menarik bagi saya, tidak hanya sebagai promosi namun mempengaruhi perilaku. Bagaimana product branding mempengaruhi seseorang untuk memilih produk itu.

Apa itu product branding? Menurut saya, sesuatu produk yang ditampilkan ke publik kemudian bagaimana publik menerima atau terkesan dengan produk tersebut. 

Tergelitik oleh rasa ingin tahu saya, mengapa kita atau saya pilih produk A, bukan B atau C? Nah, berikut hasil pengalaman dan pengamatan saya:

1. Ada pengalaman

“Ketika saya coba produk tertentu, tangan saya jadi gatal atau alergi. Setelah saya tes produk ini, saya tidak alergi,” kesan seorang ibu pada produk deterjen pakaian. Ada pengalaman yang baik dan buruk tentu mempengaruhi seseorang memilih sesuatu produk. 

Saya pernah dulu tergabung dalam riset marketing suatu produk. Sebelum diluncurkan produk yang baru, perusahaan menggali pendapat dan pengalaman masyarakat lewat survey. Hasil riset membantu memetakan pengalaman baik dan buruk responden yang ditanya sehingga perusahaan akan mengkaji agar produk nanti yang akan diluncurkan aman, tidak menimbulkan alergi, misalnya.

Rupanya riset pasar juga membantu mendapatkan product branding yang sesuai dengan pengalaman baik di masyarakat, lalu memperbaiki produk bilamana ada pengalaman tidak baik.

2. Saran/rekomendasi orang lain

“Ayo, silahkan coba produk yang saya pakai! Dijamin wajah kamu bebas dari jerawat!” seru seorang teman pada rekan di sebelahnya di suatu apotik. Akhirnya orang yang ditawari seperti terbius menuruti dan kemudian membeli produk tersebut.

Apakah anda pernah mengalami hal yang sama? Tergiur dari rekomendasi seseorang yang anda percayai. Mengapa kita jadi pilih produk itu? Karena kita percaya pada saran orang tersebut lalu memilih produk itu. Jika anda cukup percaya pada pemikiran diri sendiri, tentu anda tidak tergoda. 

3. Pengaruh iklan

“Sebagai model, saya sering melakukan macam-macam treatment rambut yang membuat rambut rapuh dan rusak. Setelah saya keramas dengan sampo X, rambut saya sehat,” kata model iklan. Terbius oleh penampilan dalam iklan tersebut akhirnya pilih produk itu.

Iklan atau Advertising memang diciptakan untuk meningkatkan penjualan suatu produk. Rasanya sulit mengenal produk bilamana tidak pernah diiklankan. Begitu besar pengaruh iklan sehingga orang pilih produk tertentu. Tak salah bila meyakinkan publik, iklan disajikan lebih sering, lebih menarik dengan figur-figur berpengaruh.

4. Kemasan Menarik

Awalnya saya tertarik membeli produk itu karena kemasannya menarik. Setelah saya coba di rumah, khasiatnya biasa saja,” kata seseorang bercerita suatu produk. 

Salah satu yang menentukan nilai jual suatu produk adalah kemasannya. Seperti cerita di atas, pilihan produk ditentukan oleh kemasannya yang menarik konsumen.Hal ini juga yang membuat desain visual hingga pengepakan (packaging) bekerja keras mendapatkan atensi publik agar orang memilihnya.

5. Harga

“Saya suka produk ini karena harganya murah. Kalau khasiatnya sama saja seperti yang mahal, tentu saya pilih yang murah” kata seorang ibu yang bersaksi soal suatu produk. Ada orang yang pilih produk karena harganya yang murah dan terjangkau, namun tak sedikit orang yang juga memilih karena kualitas produk meski mahal.

You get what you pay for. Kurang lebih begitu menerjemahkan bahwa anda mendapatkan apa yang dibayar. Jangan komplen bilamana barang yang anda beli tidak sesuai, hanya karena tergiur dengan harga yang murah! Namun jangan pula menuduh barang murah namun kualitasnya rendah. Semua pilihan produk ada di tangan anda.

6. Ada bonus pengikat

“Siapa tahu saya bisa jalan-jalan keluar negeri, hanya dengan membeli produk ini!” seru seorang remaja di toko swalayan. Bonus jalan-jalan keluar negeri begitu memikatnya sehingga memutuskan beli produk tersebut dalam jumlah banyak. 

Melihat keinginan publik buat traveling, misalnya perusahaan produk kemudian menjanjikan hadiah atau bonus bilamana pilih produknya. Bonus pengikat lain seperti ‘beli satu dapat satu’ atau dapat bonus produk lain gratis juga bisa jadi mempengaruhi anda pilih produk. Apa pun bonus pengikatnya tergantung keputusan anda untuk memilihnya.

Demikian hasil pengalaman dan pengamatan saya. Anda sendiri bagaimana? Lalu mengapa saya tidak menulis faktor kualitas produk? menurut saya semua orang pasti menginginkan kualitas yang terbaik dari suatu produk, terlepas dari harga/iklan/bonus/kemasan/rekomendasi orang lain. 

Tentunya kualitas produk adalah hal yang utama yang menentukan product branding.