Gado-gado: Begini Penampakannya Bila Si Pembuat Bukan Orang Indonesia

Makanan adalah kenangan. Begitu yang dikatakan seorang teman asal Barcelona, Spanyol yang pernah berkunjung ke Indonesia. Ia terkenang akan gado-gado yakni makanan khas Indonesia yang pernah dinikmatinya. Hingga kami berkenalan di Jerman dan dia mengenal saya dari Indonesia maka ia pun berpikir agar saya bisa membuatkan gado-gado untuknya.

Saya tidak pernah membuat gado-gado tetapi saya suka sekali makan gado-gado. Gado-gado itu paling nikmat jika dibuat langsung setelah kita memesannya. Lalu kemudian diuleg dengan jumlah cabai yang dikehendaki, ditambah terasi, gula merah dan garam. Selanjutnya adalah segenggam kacang tanah yang sudah digoreng dan ditambahkan air asam jawa untuk membuat saus kacangnya.

Meski hanya sekedar sayuran yang direbus dan ditambah tahu tempe namun nikmatnya gado-gado memang tak terkalahkan. Menyantap gado-gado dengan nasi putih atau lontong sudah membuat saya kenyang dan bergizi pula. Saya jadi rindu makan gado-gado.

Kerinduan saya akhirnya terjawab ketika teman asal Spanyol ini menunjukkan kedai makanan Asia. Kedai ini dikelola oleh pemuda Jerman yang masih mahasiswa. Pegawainya pun masih mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Makanan yang disajikan di sini memang selera Asia namun tidak benar-benar asli seperti yang biasa kita kenal. Si pemilik kedai yang ahli masak, memiliki kreativitas untuk meraciknya, termasuk gado-gado yang kita kenal selama ini di Indonesia.

Saat saya memesan gado-gado memang tidak ditangani langsung dengan si pemilik, hanya pegawainya saja. Saya tidak punya kesempatan untuk bertanya dan menggali lebih jauh soal gado-gado buatannya. Karena si pegawai hanya menyajikan nama makanan sesuai petunjuk si pemilik. Gado-gado dibuat sekitar lima menit. Beberapa orang bukan Asia pun sama-sama memesan gado-gado seperti saya.

Gado-gado menjadi pilihan mereka di sini karena ini makanan yang menyehatkan. Isinya adalah sayuran dan tak banyak bumbu digunakan. Hanya sambal kacang saja, yang dibuat terpisah dan bisa digunakan sesuai selera pemesan. Sambal kacang pun tak berbau terasi. Tak ada kerupuk. Hanya saja saya menemukan tahu yang sudah digoreng dan kentang yang direbus. Tak ada nasi putih untuk menikmatinya.

Awalnya saya ragu, apakah saya cukup kenyang dengan makanan ini saja? Saya berpikir ada nasi untuk menikmatinya. Saya cukup menikmati kentang rebus dan telur rebus yang dijadikan satu sajian. Sisanya adalah sayuran yang mungkin tidak pernah dijumpai pada gado-gado umumnya. Bayangkan ada kol merah, kacang polong, daun mint dan daun ketumbar. Untuk menikmatinya, ada saus kacang. Jika sambal kacang menggunakan cabai dan terasi, ini tidak.

Begitulah penampakan gado-gado buatan orang di sini, alias bukan orang Indonesia. Namun pelajaran yang dipetik adalah bahwa makanan Indonesia sudah mulai dikenal dunia. Kuliner Indonesia tidak hanya nasi goreng dan bakmi goreng saja yang biasa dijumpai di kedai Asia, kini mereka juga mengenal gado-gado.

Advertisements

Ini Dia Tipsnya Buat Nasi Uduk Pakai Rice Cooker

Coconut rice made by rice cooker.

Coconut rice is one of traditional dish which made rice blended with coconut milk, lemon grass and bay leaves. We are used to call coconut rice as “Nasi Uduk” and literally easy to find in Jakarta, capital city of Indonesia. I have never been cooked “nasi uduk” in Indonesia yet.

A few weeks ago I have invited some Indonesian friends to cook together at my house. We made coconut rice by rice cooker. To be honest, coconut rice should be cooked by steam drum.  By cooking, we discussed the lesson learned how to make the best “Nasi Uduk” next time. At least, we acquired some points. Finally food is always make friendship.

***

Pertama, saya mau sampaikan selamat menjalankan ibadah puasa bagi pengunjung blog yang merayakannya. Semoga ibadah puasa diberi kelancaran dan membawa berkah. 

Lanjut ke postingan tentang nasi uduk yang begitu dikenal di Jakarta dan sekitarnya. Kali ini saya berbagi pengalaman membuat nasi uduk pertama kali untuk saya dan teman-teman asal Indonesia di sini. Tak ada orang yang percaya bahwa saya bisa memasak nasi uduk di sini dengan rice cooker

Adalah beberapa teman mahasiswa asal Indonesia yang bertandang ke rumah saya pada hari Sabtu malam. Kami sepakat untuk memasak makanan citarasa Indonesia seperti nasi uduk dan ayam goreng penyet. Andai ada restoran Asia di sini yang menyediakannya, pasti sudah saya beli. 

Sejujurnya ini kali pertama buat saya dan teman-teman memasak nasi uduk. Di Jakarta misalnya saya terbiasa makan nasi uduk untuk sarapan pagi. Atau nasi uduk dihidangkan dengan pecel lele atau pecel ayam. Ini benar-benar favorit saya. Saya lebih memilih untuk membeli nasi uduk kesukaan saya di warung. Dalam benak saya, memasak nasi uduk pastilah repot dan lama. 

Apa yang terjadi jika saya rindu makanan favorit seperti ini saat berada jauh dari tanah air?

Saya undang teman mahasiswa asal Indonesia untuk memasak dan makan bersama di rumah. Saya sudah membeli semua bahan yang diperlukan. Tak ada satu pun dari kami yang ahli memasak, apalagi membuat nasi uduk. Jadi orang perantauan membuat kami harus belajar memasak. Dan akhirnya kami pun berhasil membuat menu yakni nasi uduk, ayam goreng penyet, lalap dan tahu goreng.

Berikut cara memasak nasi uduk dengan menggunakan rice cooker.

  1. Siapkan beras, santan, daun salam, garam dan sereh. 
  2. Cuci beras. Masukkan beras di dalam wadah rice cooker.
  3. Beri air sebanyak 1 ruas jari, tambahkan santan, garam, sereh dan daun salam.
  4. Masak hingga tanak sekitar 30 menit.

Dari percobaan menggunakan rice cooker, berikut tips yang perlu diperhatikan agar hasilnya maksimal.

  1. Saya menggunakan beras langkorn asal Thailand. Warna dan tekstur beras tidak seperti yang diharapkan. Jika ada pilihan beras yang mirip atau sama seperti di Indonesia, bisa anda coba. 
  2. Rice cooker yang saya punya juga berbeda dengan rice cooker kebanyakan di Indonesia. Saya membelinya bukan di Indonesia. Sepertinya tidak tepat jika dibuat untuk membuat nasi uduk. Alhasil, bagian bawah nasi agak berkerak.

Pada akhirnya saya belajar bahwa segala cara bisa dilakukan jika kita mau berusaha melakukannya. Makanan adalah cara mengobati rasa rindu tanah air. Meski tidak seperti yang diharapkan, setidaknya saya dan teman-teman bisa menikmati kebersamaan dalam nasi uduk.

Apakah anda ada cerita lain soal nasi uduk?

Buat Bakso Sendiri, Siapa Takut!

Meatballs.

Bakso in Bahasa Indonesia is usually called Meatballs nor the meatballs soup. It is a such favorit dish in Indonesia literally easier to find in everywhere. I love eating bakso because it is so tasty and inexpensive. But how I lived years without “Bakso” when I lived away. This was an idea which had urged me making experiment. The first experiment was totally failed. Then I learned further how to make the right way “Bakso” at home. Finally, I done without regret. Thus, following post is a my recipe as my second experiment. 

Happy Tuesday!

***

Siapa sangka bisa membuat bakso sendiri karena merindukannya? Begitu ucapan ibu saya saat saya mengirim foto dan video singkat pembuatan bakso yang saya lakukan di rumah. Pasalnya, bakso adalah salah satu makanan favorit saya. Di Indonesia, makanan ini begitu populer dan mudah dijumpai. Dari Indonesia bagian barat hingga timur, semua mengenal bakso karena citarasa dan harganya yang terjangkau. 

Apa yang saya lakukan jika saya rindu makan bakso saat jauh dari tanah air?

Pada akhirnya saya pun berhasil membuatnya setelah melakukan kegagalan saat eksperimen pertama. Kegagalan saya saat percobaan membuat bakso dikarenakan komposisi tepung dengan daging tidak sesuai. Alhasil, percobaan kedua saya jadi tahu membuat bakso setelah dibantu oleh seorang teman Indonesia juga yang sedang studi di sini.

Meski ada juga kuliner Jerman yang mirip dengan bakso, seperti yang ditulis di sini, namun rasa bakso asal Indonesia tidak terkalahkan menurut saya. Kata teman saya, bakso di Indonesia berasa nikmat karena adanya penyedap rasa. Setelah saya praktikkan buat bakso di sini, rahasia kenikmatan makan bakso sebenarnya berasal dari kualitas daging dan kuah bakso. 

Langsung saja, saya bagikan pengalaman membuat bakso sapi dengan mie bihun.

Bahan yang diperlukan: 

  1. 250 gram daging sapi giling.
  2. 2-3 sendok tepung tapioka.
  3. 4 siung bawang putih.
  4. 2 pak maggi fleischsuppe.
  5. Bubuk kaldu sapi (rindfleischbrühe).
  6. 1 bungkus mie bihun.
  7. Daun seledri.
  8. Bawang goreng.
  9. Garam dan merica.
  10. Air.
  11. Cabai merah dan tomat.
  12. Bawang goreng yang sudah jadi (Röstzwiebeln).

    Cara Membuat: 

    Pertama, bakso

    1. Rebus air 600-700 ml. Tambahkan 2 kotak maggi fleischsuppe. Tambahkan dua sendok teh kaldu sapi (rindfleischbrühe).
    2. Sambil menunggu air mendidih, buat adonan bakso. Siapkan wadah. Haluskan bawang putih dan merica. Kemudian campurkan bumbu tersebut di dalam daging giling. Hancurkan dengan baik. Tambahkan tepung tapioka. Beri garam!
    3. Hancurkan adonan dengan tangan hingga bercampur rata.
    4. Saat air mendidih, remas adonan dalam genggaman tangan. Keluarkan adonan dengan sendok sehingga berbentuk bulat! Masukkan dalam air mendidih.
    5. Masak hingga bakso berasa matang. Singkirkan sementara.

    Kedua, mie bihun

    1. Siapkan bihun dalam wadah. 
    2. Rebus air hingga merendam bihun.
    3. Saat air sudah mendidih, tuang ke dalam wadah bihun hingga terendam. 
    4. Setelah bihun sudah matang, tiriskan dari airnya. 

    Ketiga, daun seledri

    1. Cuci bersih daun seledri.
    2. Iris kecil-kecil daun seledri dengan baik.

    Keempat, sambal bakso

    1. Cuci bersih cabai merah dan tomat.
    2. Rebus cabai dan tomat dalam air hingga melunak.
    3. Tiriskan cabai dan tomat dari air.
    4. Hancurkan keduanya tanpa garam.

    Kelima, penyajian

    1. Siapkan mangkuk. Masukkan garam.
    2. Tambahkan bihun dan daun seledri.
    3. Masukkan bakso dan kuahnya.
    4. Tambahkan bawang goreng dan sambal, jika suka.
    5. Siap disajikan selagi panas.

    Bagaimana? Mudah ‘kan!

    Tips Buat Bubur Kacang Ijo Bagi Pemula

    Green been porridge as my breakfast today.

    A following traditional dish comes from Indonesia which called “Bubur Kacang Ijo.” It is definitely such green been porridge as picture seen above. I cooked many times for breakfast because of sweet taste. Upon my various experiments, I’d share through this post the best suggestion how delicious to make own green been soup. When you make it for yourself, you will control how much sugar do you need. 

    So have a great day!

    ***

    Makan Bubur kacang ijo di Indonesia mungkin hal biasa karena mudah ditemukan. Menjadi hal luar biasa ketika makan bubur kacang ijo di luar Indonesia. Bubur yang kaya akan vitamin dan bergizi tinggi ini sangat saya rindukan. Alhasil saya pun mencobanya di rumah. Bubur kacang ijo itu ternyata bisa untuk sarapan pagi di sini.

    Berikut adalah tips membuat bubur kacang ijo bagi orang perantauan seperti saya. 

    Pertama

    Bagaimana pun cara anda memasak dengan panci atau rice cooker, sebaiknya rendam dulu kacang ijo yang dikehendaki dalam air semalaman. Saya pernah memasak kacang ijo tanpa direndam, alhasil saya menghabiskan banyak gas/listrik untuk membuatnya empuk.

    Kedua,

    Di sini tersedia aneka santan kemasan. Hanya saja suatu kali, saya sudah terlanjur membuka kemasan santan tanpa ada kesempatan memasak. Akhirnya saya menyimpannya di kulkas dan gunakan lagi untuk memasak kacang ijo. Alhasil bubur kacang ijonya berasa basi dan tak enak. Sebaiknya gunakan santan kelapa yang memang masih baru, tidak bekas.

    Ketiga,

    Gunakan gula merah atau gula pasir. Menurut saya, itu semua tergantung selera anda. Jika anda menggunakan gula merah maka pastikan anda perlu menghancurkannya terlebih dulu sehingga mencair saat dimasukkan dalam adonan bubur. Atau, anda bisa panaskan gula merah hingga benar-benar mencair. Sebelum dicampur ke dalam bubur, sebaiknya saring terlebih dulu gula merah yang sudah dipanaskan.

    Keempat,

    Kerap muncul pertanyaan, kapan sebaiknya memasukkan santan dan gula? Menurut saya, kita masukkan gula setelah 20-30 menit memasak bubur kacang ijo. Atau biarkan kacang ijo sudah berasa empuk dan pecah. Kemudian dilanjutkan santan. Sebaiknya tidak memasukkannya secara bersamaan di awal memasak kacang ijo.

    Kelima,

    Ini yang perlu dipertimbangkan saat anda memasak kacang ijo dengan rice cooker. Mungkin anda perlu memasaknya hingga satu jam. Itu pengalaman saya agar kacang ijo benar-benar empuk.

    Jika anda suka bubur kacang ijo, sebaiknya anda membuatnya sendiri. Mengapa? Anda bisa mengatur seberapa banyak manis yang diperlukan. Anda juga bisa mengontrol pemilihan gula dan kacang ijo yang benar-benar berkualitas.

    Semoga bermanfaat!

    Bakmi Goreng und Nudeln Gebraten Huhn – Krabben: Makanan Asia di Jerman (18)

    Makanan Indonesia seperti nasi goreng dan bakmi goreng ternyata cukup populer diminati oleh masyarakat di sini. Terbukti kedua menu tersebut ada dalam daftar menu di restoran atau kedai Imbiss Asia. 

    Begitu pengalaman saya di sini dan teman-teman setelah kami memutuskan makan di restoran Asia. Mereka yang penasaran dengan masakan Asia pun luluh dengan rasa makanan yang tak pernah dicoba sebelumnya. 

    Kedua teman saya memilih untuk menikmati mie atau yang biasa disebut nudeln dalam bahasa Jerman. Untuk bakmi goreng memang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Cukup diberi deskripsi isi sajian makanan tersebut. Sementara mungkin masakan Asia lainnya memang diterjemahkan dalam bahasa Jerman.

    Pertama, bakmi goreng

    Bagaimana menurut anda berdasarkan tampilan foto? Apakah terlihat cukup enak? 

    Bakmi goreng ini seperti layaknya bakmi goreng di Indonesia pada umumnya. Ada isian aneka sayuran dengan tambahan telur dan udang di dalam. Menurut saya rasa bakmi ini agak manis. Sepertinya menggunakan kecap manis sebagai penguat rasa. 

    Hal menarik dalam mie ini adalah kacang polong. Apakah ini variasi rasa? Saya sendiri tidak tahu.

    Kedua, nudeln gebraten hühn-krabben

    Makanan selanjutnya yang memang hampir serupa adalah sejenis mie goreng juga namun berbeda bumbu dan isian.

    Dalam bahasa Jerman, bakmi goreng bisa dikatakan “nudeln gebraten” bahkan mie yang digunakan sama persis dengan bakmi goreng. Isian di dalam juga seperti sayuran dan telur juga ada.

    Sesuai nama menunya yakni Hühn dan Krabben, maka bakmi ini menggunakan suwiran daging ayam dan kepiting. Rasanya asin dan gurih seperti layaknya mie seafood. Ini tidak semanis bakmi goreng dari Indonesia.

    So, ada pendapat?

    Tumpeng: Indonesian National Dish Officially

    Tumpeng.

    The incredible dishes named by Tumpeng from Indonesia. When we want to celebrate anniversary or have a special event in traditionally, we usually make tumpeng in promoting a feeling grateful. This is a kind of ceremony to invite people eating together and to be symbolized opening of ceremony officially by cutting a cone of yellow-steamed rice.

    To cut a cone of tumpeng must be doing by a senior or someone who has authority to celebrate that anniversary. After that, people can enjoy food together by choosing what is favor dishes in tumpeng. Tumpeng is a specialized authentic Indonesia cuisine through generations. 

    All foods encircled by boiled vegetables, meats and traditionally dishes such as tempeh, tofu, seafoods, or mashed potato fritters. On center, it was surely for yellow steamed rice as symbolized glory of God as the creator of universe. The steamed rice must be coloured yellow that made from turmeric. 

    Medan, North Sumatera: Sri Mariamman Temple

    Sri Mariamman Temple Medan, North Sumatera – Indonesia.

    The top of tower in fully ornaments.

    The entrance door of temple.

    Inside of temple.

    This is awesome.

    This ornaments seem on top of walls.

    One chamber of Temple.

    Continued to explore Medan, a capital city of North Sumatera, Indonesia in previously post, I stopped for awhile in the oldest Hindu temple. I saw the tower of temple from far away so really awesome. Indeed, in beginning you found the special gate which can find usually as common temples in South India. I have met a guy who had physically look India people. He was friendly to welcome me and to make some pictures inside. 

    I asked the detailed information to a guy whom I met in first time. He can speak Bahasa Indonesia as well. This temple was built since 1884 and aimed to serve worship of Goddes Mariaman. That is a reason we called this temple as Sri Mariamman Temple. Goddes Mariamman is one of Goddes who is believed to have power in healing severe illness and diseases. People came to pray including the community called by Tamil. They have been lived in Medan for centuries ago. 

    I am sure you will wonder with the surrounding architecture of temple. Based on the literature, this architectural known by Dravidian architectur. There were a lot of statues to represent the Goddes. This was incredible how unique and detailed ornaments to decorate the beautiful temple became more eternally peace for reality of visiting.

    When you visit Medan, you can stop by in Kampung Madras. This temple located in Kampung Madras, not far from Sun Plaza. I found two Tamil generations who have been living in here since born then allowing to make some photos inside. They were typically looking like India people.

    Actually I was still curious what the linkage between Sri Mariamman in Medan and Sri Mariamman temples in Penang, Malaysia or Singapore. I found both in that cities while traveling. All architectures and ornaments were really no difference. No answer! The guy who I met previously, he was been with other guy to discuss something important. Then I raised my hand, palm forward and mouth ‘Terimakasih’ as nonverbal sign to appreciate him. Terimakasih means a Indonesian word to express gratitude. I left this temple in still questioning.

    Read https://liwunfamily.com/2015/02/03/mengunjungi-sri-mariamman-temple-di-medan-penang-dan-singapura/

    Medan, Sumatera Utara: Vihara Setia Budi, Letaknya Tersembunyi di Keramaian Kota

    Vihara Setia Budi di Kota Medan.

    Tampak kejauhan bahwa Vihara ini letaknya tersembunyi.

    Setelah puas berfoto di Istana Maimun, yang bisa anda temukan pada cerita saya sebelumnya, teman kerja saya belum merasa puas berkeliling kota Medan. Kemudian tukang becak yang mengayuh kami samar-samar mendengar percakapan kami. Dia pun mengusulkan untuk membawa kami ke Vihara yang terkenal di kota ini. Si tukang becak paham bahwa kami memang tak ingin bersembahyang di sana, hanya menyelusuri kota Medan yang plural dan penuh perpaduan antar bangsa. 

    Baca https://liwunfamily.com/2017/11/15/mengapa-istana-maimun-medan-wajib-dikunjungi/

    Kertas sembahyang.

    Nuansa merah memenuhi ruangan.

    Untunglah ada tukang becak yang membawa kami, ketika kami tiba di sana ternyata letak Vihara tersembunyi. Meski kami sudah melihat dari kejauhan bangunan tinggi menjulang tersebut yang bercirikan khas Tiongkok, namun ternyata tidak mudah juga dicapai. Bangunan ini dikelilingi tembok yang tinggi sebagai pelindung keamanan.

    Kami disambut oleh seorang penjaga di sana. Dengan ramah kami jelaskan maksud kedatangan, kemudian bapak itu mempersilahkan kami masuk. Berbagai simbol keagamaan pun sudah terlihat dari gerbang masuk. Ada informasi tertulis untuk umat yang datang misalnya tidak membawa minyak pelita karena kekhawatiran hal-hal yang tidak dikehendaki terjadi. Di sudut lain, ada informasi tertulis untuk memasukkan uang ke kotak sumbangan yang tersedia, bukan pada Pek Ho Ya.

    Sekitar Vihara.

    Di dalam Vihara.

    Dupa sembahyang ditancapkan di sini.

    Salah seorang umat sedang mempersiapkan diri untuk bersembahyang.

    Nuansa Vihara di sekitarnya berwarna merah serupa pada tempat ibadah untuk umat Budha pada umumnya. Beberapa orang tampak sedang bersembahyang di situ. Mereka yang bersembahyang meletakkan dupa yang terbakar dan menancapkan di tempat yang sudah tersedia. Baik dupa maupun lilin, semuanya terlihat berwarna merah.

    Ketika saya dan teman hendak berpamitan, kami mencari bapak penjaga untuk berterimakasih karena sudah membolehkan kami masuk. Bapak tersebut menjelaskan bahwa Vihara ini sudah lama berdiri sebelum kemerdekaan, tahun 1945. Saat saya cari informasinya di internet, dikatakan Vihara sudah ada sekitar 1908. Ada pula yang mengatakan sebelum meninggalnya seorang Pengusaha asal Medan pada tahun 1921, yang menjadi donatur terbesar Vihara ini. Namun pastinya Vihara ini tak lekang oleh waktu, masih berdiri kokoh di tengah keramaian kota Medan.

    Bila kita mengunjungi tempat ibadah, berikut hal yang perlu diperhatikan dan perlu disimak di sini

    Baca https://liwunfamily.com/2014/05/21/8-tips-mengunjungi-tempat-ibadah-yang-jadi-lokasi-wisata/

    Semoga bermanfaat!

    Nasi Goreng Indonesia Digemari di Luar Negeri? Datang ke ‘Yuen China Restaurant’ di Salzburg, Austria!

    Nasi goreng khas Indonesia. Terlihat sederhana namun harganya tidak sederhana. Rasanya enak sekali!

    Sayur bambu dan jamur yang dipesan suami.

    Daftar minuman tersedia di sini.

    Suasana restoran khas Asia.

    Ini semacam tungku untuk menghangatkan makanan, di dalam ada lilin yang menyala. Makanan diletakkan di atas tungku ini agar tetap hangat.

    Letaknya di kota tua, tak jauh dari rumah kelahiran Mozart.

    Ini jadi nasi goreng termahal saya.

    Siapa yang tak kenal nasi goreng di Indonesia? Dari harga termurah sepuluh ribu rupiah di pedagang gerobak hingga harga termahal puluhan ribu rupiah di restoran eksklusif untuk seporsi nasi goreng. Saya suka nasi goreng bila berada di luar Indonesia dan rindu masakan tanah air. Mengapa? Nasi goreng adalah menu masakan Indonesia yang mudah dijumpai di luar negeri. 

    Konon kata ibu saya, nasi goreng adalah makanan rakyat dimana masa perang ketika banyak orang begitu susah untuk makan, mereka menggoreng nasi agar tetap bisa dimakan dengan enak. Betul saja bumbu nasi goreng yang sederhana, berbeda dengan masakan Indonesia lain yang kaya bumbu maka nasi goreng digemari lidah orang-orang non Indonesia. Termasuk suami juga suka nasi goreng yang menjadi makanan favorit sejak kenal Indonesia. 

    Tak percaya bahwa nasi goreng populer di luar negeri. Datanglah ke ‘China Restaurant Yuen’ di Salzburg, Austria! Letaknya tak jauh dari Mozart Geburthaus, rumah kelahiran Mozart di kota tua. Terdapat beberapa menu nasi goreng di sini. Saya pikir pramusaji atau pemiliknya adalah orang Indonesia namun ternyata tidak. Katanya banyak orang juga datang dan memesan nasi goreng, bukan hanya dari Indonesia saja. Mereka pun menyebut ‘Nasi Goreng Khas Indonesia’ dalam daftar menu mereka.

    Saya pesan nasi goreng dan suami pesan sayur bambu. Tak berapa lama pramusaji yang ramah menyediakan pesanan kami dalam wadah yang dihangatkan dengan lilin. Dengan begitu makanan akan tetap hangat. Maklum saja Salzburg tetaplah kota yang sejuk dan dingin sehingga paling enak jika menyantap makanan selagi hangat. Enak sekali! Kerinduan saya terbalaskan di sini. Rindu masakan di rumah. 

    Bagi anda di Indonesia, nasi goreng adalah menu biasa. Namun bagi saya di luar sini, nasi goreng pun menjadi istimewa. Ini pertama kali saya makan nasi goreng seporsi dengan harga paling mahal. Biasanya saya makan nasi goreng di pedagang kaki lima hanya sepuluh ribu rupiah. Kini saya makan nasi goreng dengan harga lebih dari seratus ribu rupiah yakni 11,90€. Ya sudah, harga tak masalah. Setidaknya rasa lidah terobati, rindu masakan Indonesia.

    Apakah anda suka nasi goreng juga? Bagaimana pengalaman anda dengan nasi goreng?

    Makanan Asia di Jerman (2): Asian Food Haiky

    Bagi mahasiswa perantau, rindu makanan Asia bisa datang ke sini karena diskon 10% dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Ini Thailand Chicken Curry.

    Detilnya chicken curry ada sayur rebung, paprika, timun, wortel, kol dan daging ayam lalu diberi santan dan kuah kari.

    Jika anda datang ke Jerman, tak usah khawatir bila rindu masakan khas Asia. Pasalnya hampir di semua kota di Jerman ada restoran citarasa Asia. Di restoran Asia di sini kita bisa menjumpai masakan khas Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. Tentunya rasa masakan ini tak jauh berbeda dengan masakan yang biasa kita jumpai di Indonesia. Lagi pula makanan Asia kebanyakan no pork alias halal dimakan.

    Nasi dan sayuran kuah santan bumbu kari khas Thailand. Ketika lihat gambar di daftar menu, dipikir ini semacam cap cay ternyata kari hanya isinya sayuran saja.

    Kali ini saya mampir di restoran franchise Asian Food Haiky yang katanya ada di beberapa kota besar di Jerman. Restoran ini ada di sebuah mall di Selatan Jerman. Setiap jam makan siang tiba, jangan harap anda bisa langsung makan tanpa mengantri! Itu artinya butuh kesabaran memesan makanan di sini.

    Hal pertama yang dilakukan adalah anda berdiri di depan kasir lalu pilih makanan yang akan dimakan. Agar orang di belakang anda tidak mengomel saat anda masih berpikir menu yang akan disantap maka sebaiknya lihat dulu menu makanannya baru memesan di depan kasir. Semua daftar menu dijelaskan secara rinci dalam bahasa Jerman. Misalnya Thai Chicken Curry maka akan dirincikan Huhn (daging ayam) mit cocos sauße (saus kari dengan santan) und reis (nasi). Tentu perincian jenis makanan membuat orang mudah menangkap visualisasi makanan bagi orang yang tidak familiar masakan Asia sebelumnya. 

    Jadi saat memesan makanan, anda tidak mendapatkan buku menu makanan seperti di restoran melainkan terpajang di atas kasir. Ada makanan yang memiliki image foto, ada pula yang tidak. Jadi rincian makanan memang diperlukan untuk membayangkan makanan tersebut. 

    Semua karyawan dalam restoran ini adalah pendatang dari Asia. Jadi bisa dibayangkan kadang miskomunikasi pun terjadi antara kasir dengan pelanggan yang mungkin lafal kata dan intonasi yang cepat dalam bahasa Jerman. Untuk itu, daftar menu makanan di papan display juga menggunakan nomor. Anda bisa langsung menyebutkan nomornya dan jumlah makanan yang dipesan. 

    Ada beberapa makanan yang memang langsung tersaji di depan mata saat anda menyebutkan, misal nasi goreng. Mereka ada nasi goreng juga loh. Saat kasir dan si pemesan bertransaksi uang, bisa jadi karyawan lain sudah menyiapkan nasi goreng di hadapan anda. Namun bisa juga saat memesan makanan, makanan tersebut memerlukan waktu untuk memasaknya. Jadi anda perlu bersabar menunggu kira-kira 10-15 menit bila waktu makan siang tiba. 

    Jangan berharap anda bisa memesan segelas es teh manis seperti di Indonesia! Di sini minuman tersedia dalam kemasan yang praktis. Jangan harap pula ada minuman gratis semacam teh tawar di setiap makanan! Jadi anda mesti bayar meski minum segelas air putih sekalipun.

    Untuk peralatan makan sendiri, anda perlu menyiapkannya sembari anda memesan makanan di kasir. Silahkan ambil apa yang anda perlukan seperti sendok, garpu, pisau, tisu dan sedotan. Karena semua itu tidak tersedia di atas meja anda. 

    Seperti biasa di atas meja tersedia garam tabur, kecap dan lada bubuk jika anda merasa perlu menambahkan. So far, pelayanannya baik. Semua makanan di sini tersedia dalam porsi yang besar bagi saya yang terbiasa makan dalam porsi kecil. Namun beberapa pilihan makanan ada yang ditawarkan ukuran medium dan ukuran besar. 

    Jika makan siang tiba, mungkin anda harus berbagi bangku dengan pelanggan lain. Silahkan bertanya dengan sopan “Ist der Sitzplatz frei?” Tentunya mereka pun akan berbagi kursi dengan anda. Namun jika anda sungkan, di restoran ini tersedia paket makan yang langsung dibawa pulang. Kemasannya menarik dan praktis dibawa pula. 

    Oh ya, plusnya lagi di tempat ini adalah bebas internet. Sepanjang anda punya nomor lokal atau nomor telpon Jerman maka anda akan bisa terkoneksi dengan WIFI. Selain itu apabila anda adalah mahasiswa, tunjukkan kartu mahasiwa maka anda akan dapat diskon 10%. Asyik ‘kan!

    Selamat makan!