Puisi Cinta dalam Bahasa Jerman: Liebesgedicht

Karena banyaknya kata kunci yang masuk ke sini tentang kalimat romantis dalam bahasa jerman https://liwunfamily.wordpress.com/2014/02/14/kalimat-romantis-bahasa-jerman/, saya kembali mengutip puisi cinta yang saya dapatkan. Singkat, padat namun maknanya dalam. Bagi anda yang sedang merayu dan ingin menggunakannya, saya persilahkan. Du bist mir nahe Du bist mir nahe, auch wenn Ich Dich nicht sehe. Du bist bei … Continue reading Puisi Cinta dalam Bahasa Jerman: Liebesgedicht

Apa Kaitan Rasa Asin dan Jatuh Cinta? Ternyata Ini Dia

Saya suka sekali memasak, meski memasak bukan hobby tetapi buat saya memasak adalah seni meracik masakan dengan rasa dan hati. Jika hati sedang tak baik, marah-marah dan jengkel, bukan tidak mungkin rasa masakan juga ajaib. Beberapa kali saya sempat dikomplen karena rasa masakan yang ajaib, misalnya membuat sambal yang terlalu pedas lalu mama akan bilang … Continue reading Apa Kaitan Rasa Asin dan Jatuh Cinta? Ternyata Ini Dia

5 Pertanyaan, Apakah Benar Cinta Butuh Logika?

Sewaktu membuat karya ilmiah seputar perkawinan, saya pernah menghadiri sebuah seminar perkawinan. Hal yang saya kenang sampai sekarang adalah cerita berikut: Ada seorang Pastor mendapati seorang wanita yang baru saja menikah minggu lalu, sedang datang ke Gereja untuk berdoa. Pastor pun menghampiri dan memberi ucapan selamat atas pernikahannya. Namun sebelum memberi ucapan selamat dengan menyodorkan … Continue reading 5 Pertanyaan, Apakah Benar Cinta Butuh Logika?

CERPEN (2): Ncrut Ncrit

Sebut saja Ncrut, Pria paruh baya yang memiliki wajah rupawan, duit melimpah tetapi tak punya hati. Misi hidup Ncrut di dunia adalah menjadikan Ncrit adalah miliknya, sebagai yang utama dari para selir yang dimiliki tetapi tidak diakui sebagai orang yang dicintainya. Ncrit adalah perempuan biasa namun memiliki pesona yang luar biasa. Banyak pria mengaguminya bukan … Continue reading CERPEN (2): Ncrut Ncrit

Puisi (8): Monolog Menunggu

Perempuan : “Aku bosan menunggu. Pekerjaan yang paling membosankan itu adalah menunggu. Tak pasti, aku tak suka itu.” Malaikat : “Sabarlah sayang. Kau tahu saatnya kan tiba.” Perempuan : “Sabar, Sabar, Sabar. Sampai kapan sabar? Sudah habis kesabaranku.” Malaikat : “Menunggu itu adalah sebuah proses untuk menguji kesabaran setiap orang. Jika kamu bisa melewatinya, buah … Continue reading Puisi (8): Monolog Menunggu

Puisi (5): Diam Sama Dengan Emas

Ada kala diam adalah emas Tak selamanya diam juga emas Kadang diam tak menghasilkan apa pun yang kuharapkan Diam tak menjawab pintaku Aku diam Dia pun diam Aku tak mengerti apa maunya Serba salah Aku hanya manusia biasa Aku tak sempurna Dengan diam, aku berharap kau mengerti Aku bingung Diam membuatku bertanya tentang dirimu Kau … Continue reading Puisi (5): Diam Sama Dengan Emas

CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

Rupa wajah yang tak setampan Romeo dalam Shakespeare. Mata yang tajam seperti elang dengan sorot seperti surya di pagi hari. Sesungging senyum seperti wangi bunga di pagi hari, meluluhkan hati. Wanita mana yang tak terpesona oleh mata dan senyum yang memanah hati? Pangeran Kodok. Kuberanikan diri menyapa keangkuhan hatinya. Ia hanya mengganggukan kepala. Sopan dan … Continue reading CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

Puisi (9): Aku Sudah Jatuh Cinta

Cinta itu buta Sewajarnya ia tidak melihat betapa bodohnya aku Tanpa melihat Aku sudah jatuh cinta Cinta itu tuli Sepertinya ia akan bisa mendengar betapa kencang degup jantungnya Kala aku memandang wajahnya Aku sudah jatuh cinta Cinta itu bisu Sepertinya ia tak akan sanggup berkata-kata Saat waktu mempertemukan kami Aku sudah jatuh cinta Cinta itu … Continue reading Puisi (9): Aku Sudah Jatuh Cinta

CERPEN (4): Merajut serpihan hati

Kala mentari menghiasi hari dengan terang, Perempuan itu berjalan mengais serajut mimpi. Tak ditemukan apa yang dicarinya. Ia mengiba pada mentari. Wajahnya peluh oleh keringat, hatinya penuh oleh gelora harapan tapi mimpi tak kunjung datang. Matanya terus mencari, tangannya bergerak-gerak mengais sesuatu yang ditemuinya di jalan. Kosong. Hampa. Perempuan itu tidak menemukan apa pun. Mentari … Continue reading CERPEN (4): Merajut serpihan hati

Puisi (1): Seperti Malaikat dan Iblis

Kamu seperti Malaikat, Hatimu menyentuhku dengan pesona ketegaranmu menghadapi hidup Kamu seperti Iblis, Kamu menggodaku dengan sejuta rayu meluluhkan jiwa Kamu seperti Malaikat, Bayanganmu hadir menyelamatkan kerapuhan jiwaku Kamu seperti Iblis, Rayuanmu siap menerkam kelemahan diriku Kamu seperti Malaikat, Kebijaksanaanmu meluluhkan pikiranku Kau seperti Iblis, Memperlakukan diriku bak seorang Ratu Iblis Kamu seperti Malaikat, Hadirmu … Continue reading Puisi (1): Seperti Malaikat dan Iblis