Bruder Konrad: Kediaman Terakhir dan Dokumentasi Karyanya

Profil Bruder Konrad yang didokumentasikan.

Benda peninggalan Bruder Konrad.
Pada 21 April 1894, Bruder Konrad wafat di sini.
Ruang pribadi dan kamar tidur Bruder Konrad.

Mengunjungi kompleks perziarahan Ältoting ternyata tak hanya Gnadennkapelle atau Black Madonna saja, peziarah yang datang bisa melihat kapel Bruder Konrad. Semula gereja ini adalah kapel St. Anna yang didirikan tahun 1657. Pada perkembangannya kapel ini dipergunakan sebagai memori Bruder Konrad. Selanjutnya kapel St. Anna menjadi basilika St. Anna, yang letaknya tak jauh juga.

Siapa itu Bruder Konrad, silahkan baca di bawah ini!

Ketika saya mengunjungi Ältoting sebelumnya, kapel Bruder Konrad sedang mengalami renovasi. Akhirnya kami tidak bisa masuk ke dalam. Lalu kali berikutnya, saya mendapati kapel tersebut sudah selesai direnovasi. Banyak orang datang ke situ untuk menghadiri misa yang memang sedang diselenggarakan. Sedangkan sebagian umat lainnya datang mengunjungi kediaman terakhir Bruder Konrad dan dokumentasi karyanya yang menjadi museum.

Saya merasa perjalanan saya menjadi lengkap. Saya pernah mengunjungi rumah kelahiran Bruder Konrad dan kini saya berhasil mengunjungi kediaman terakhir saat beliau wafat. Di kapel Santa Anna, yang kini menjadi kapel Bruder Konrad adalah tempat dimana beliau berkarya yang mendedikasikan hidupnya untuk orang miskin, kelaparan dan tak mampu. Bruder Konrad sendiri banyak menghabiskan diri melayani umat waktu Eropa saat itu terlanda bahaya kelaparan, epidemi penyakit dan perang. Devosinya pada Bunda Maria diperlihatkan melalui ruang doa miniatur yang bisa dilihat pengunjung.

Keranda bekas peninggalannya.
Media lukisan, surat dsb dari orang-orang yang merasakan pengalaman iman melalui Bruder Konrad.
Ruang yang menyimpan media pengalaman iman melalui perantara Bruder Konrad.

Salah satu pengunjung melukiskan pengalaman iman dimana dia disembuhkan dari sakit yang dideritanya.

Di sini pengunjung bisa melihat karya Bruder Konrad yang didokumentasikan dengan baik. Kita bisa melihat bagaimana umat yang berdoa melalui perantara Bruder Konrad terkabul doanya. Melalui dokumentasi ini, beliau layak menjadi orang kudus. Pengalaman iman ini didokumentasikan melalui banyak media seperti lukisan, surat, bahkan donasi untuk kelanjutan karya Bruder Konrad.

Naik ke atas, pengunjung bisa melihat ruang doa dan audiensi Bruder Konrad yang pernah dilakukan selama hidupnya. Dan di sudut kamar lain adalah ruang sederhana dimana beliau wafat dengan damai.

Bruder Konrad adalah salah satu figur yang memperlihatkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, seperti yang pernah disabdakan Tuhan Yesus. Figur Bruder Konrad memberi harapan kepada umat di Eropa saat itu yang dilanda polemik kehidupan. Banyak orang datang ke sini tidak hanya sekedar mencari tahu tetapi juga menyadari pengalaman beriman yang sudah ditampakkan beliau. Bahwa harapan itu akan selalu ada, asalkan kita datang padaNya.

Selamat berhari Minggu!

Advertisements

Ekspresi Pengalaman Beriman Lewat Lukisan? Temukan di Gnadenkapelle, Ältoting

Salah satu lukisan yang menyentuh, mereka selamat saat serangan bom melanda Jerman di perang dunia pertama dan perang dunia kedua.

Lukisan lain dimana orangtua yang berhasil mendapatkan keturunan.

Dan anda akan melihat dinding kapel dipenuhi ucapan syukur lewat media lukisan.

Tak terhitung jumlahnya.

Bulan Oktober menjadi salah satu bulan yang dirayakan gereja katolik untuk melakukan devosi kepada Bunda Maria. Itu sebab banyak umat katolik seluruh dunia menyempatkan diri berdoa rosario hingga berziarah dalam waktu ini. Saya pun tak ketinggalan menyempatkan diri berziarah ke Black Madonna, Ältoting. Ini bukan kali pertama, sehingga anda bisa mencari di kolom kata kunci, kunjungan saya ke Ältoting sebelumnya.

Kompleks ziarah Ältoting telah ada lama di Bavaria, Jerman sejak abad 15. Lokasi kompleks ziarah ini menjadi begitu fenomenal ketika banyak peziarah yang merasa doanya terkabulkan. Menurut saya, ini adalah pengalaman iman yang dirasakan berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang menyebutnya mujizat dan ada pula yang menyadarinya sebagai bagian dari pengalaman beriman.

Ada peziarah yang mengekspresikan pengalaman iman dengan memikul salib ini berjalan keliling kapel.

Gnadenkappelle Ältoting.

Berkaitan dengan pengalaman beriman, ada sisi menarik dari kapel Black Madonna di sini. Saya sudah mendatangi tempat-tempat ziarah umat katolik, meski belum semua di seluruh dunia. Di kapel ini saya menemukan seluruh dinding kapel dipenuhi lukisan para peziarah yang merasa terkabul ujud doanya. Bahkan saya rasa pengelola tidak sanggup lagi memajang luapan ekspresi umat yang doa-doanya terkabul lewat media kanvas ini.

Lukisan ini sudah sejak lama menjadi media pengalaman beriman bagaimana orang yang meyakini bahwa Tuhan itu ada. Contohnya ada lukisan yang menggambarkan bagaimana mereka diselamatkan ketika Jerman mendapat serangan bom perang dunia pertama (PD 1) dan perang dunia kedua (PD 2). Satu keluarga melukiskan bagaimana Bunda Maria menyelamatkan mereka saat PD 1 dan PD 2. Lain lagi, lukisan yang bercerita Bunda Maria menyelamatkan nyawa dia saat terjadi kecelakaan pada tahun sekian. Lukisan lain, ada kelompok turis Jerman yang diselamatkan Bunda Maria saat berlibur di Thailand Selatan tahun 2004 kala terjadi Tsunami hebat yang meluluhlantakkan beberapa negara, termasuk sebagian Indonesia.

Saya yang mengamati lukisan-lukisan tersebut tertegun sesaat, apakah ini mujizat atau keajaiban dalam hidup?

Lukisan lain juga memperlihatkan bagaimana orangtua bersyukur berhasil mendapatkan keturunan yang diimpikannya.

Tak jauh dari kapel, saya melihat beberapa orang duduk dan membuat sketsa di kanvas. Sesekali mereka memperhatikan kapel dan mulai menggambar. Mereka duduk tenang mencari inspirasi. Bisa jadi mereka pun telah terkabul doanya dan sedang mengekspresikan pengalaman mereka.

Terkadang ada hal dimana kita merasa bahwa apa yang kita minta kepada Tuhan itu mustahil, tetapi di sini saya melihat bahwa segala sesuatunya itu mungkin asalkan kita beriman. Itu sebab saya katakan ekspresi pengalaman beriman di sini menjadi bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah ditinggalkan saat manusia kehilangan harapan.

“Menschen lebt mit Hoffnung” kata pastor pemimpin ibadat saat para peziarah memadati kapel ini. Manusia hidup dengan harapan. Karena harapan membuat hidup menjadi bermakna dan tidak sia-sia.

Apa pun ekspresi pengalaman beriman anda kepada Tuhan, percayalah bahwa harapan itu selalu ada. Di tempat ziarah ini saya belajar harapan tetap ada, asalkan anda datang padaNya.

Selamat berhari Minggu!

Geburthaus Papst Benedikt XVI, Mengenal Lebih Dekat Paus Benediktus XVI di Rumah Kelahirannya

Tampak depan museum.

Prasasti yang jadi panduan.

Letaknya berseberangan dengan Rathaus.

Informasi lain seputar bangunan museum.

Apakah anda masih mengenal tokoh dunia, Paus Benediktus XVI? Paus adalah jabatan tertinggi dalam hierarki gereja katolik. Paus yang berasal dari Jerman ini juga mengundurkan diri dari yang jabatan yang seharusnya diembannya karena alasan kesehatan. Namun siapakah Paus Benediktus XVI tersebut?

Untuk melihat sosoknya lebih dekat, saya mendapati rumah kelahirannya yang disebut dalam bahasa Jerman yakni geburthaus. Di Jerman saya bisa mendapati geburthaus para tokoh publik agar kita bisa mengenal sepak terjang mereka lebih dekat lagi. Salah satunya Paus yang berasal dari Bavaria, Jerman ini. Dilahirkan dengan nama Joseph Aloisius Ratzinger, beliau lahir pada 16 April 1927 di Marktl, Bavaria. Tepatnya di rumah yang sekarang dijadikan museum ini.

Kami hanya melintas sebentar ke kota kecil Marktl, sehingga masih terlalu pagi untuk membuka pintu museum. Rumah yang dijadikan museum ini begitu mudah terjangkau karena berada di seberang Rathaus, kantor pemerintahan kota Marktl. Sebelum kita memasuki pintu masuk saja, kita sudah mengenali figur Paus Benediktus XVI dalam bentuk patung atau plakat.

Rumah kelahiran Paus Benediktus XVI kemudian diubah menjadi museum dan dibuka sejak April 2007. Bangunan ini sendiri sudah didirikan sejak tahun 1701. Untuk berkunjung, kita perlu bayar dan menyimak pemberlakukan jam operasionalnya. Semisal bulan November hingga masa Paskah maka museum tutup.

Di museum ini kita bisa mendapati bagaimana sosok Paus dalam mendapati panggilan iman sejak lahir, kanak-kanak hingga terpilih menjadi Paus. Anda juga bisa mendapati figur Paus di salah satu dinding Frauenkirche di München. Konon beliau pernah menjabat sebagai uskup di situ.

Baca https://liwunfamily.com/2013/08/19/wisata-gratis-di-muenchen/

Berbagai benda peninggalan masih terawat apik di sini. Selain media visual seperti foto, di sisinya selalu tersedia informasi yang jelas. Di museum tersedia juga audio dalam lima bahasa, termasuk bahasa Inggris. Setiap tahunnya, ribuan pengunjung datang ke museum ini untuk mengenal Paus Benediktus XVI.

Menariknya bahwa bangunan-bangunan lama yang punya nilai sejarah tinggi masih dipertahankan di sini. Masih terawat dan terdokumentasikan dengan baik adalah bagian dari upaya pelestarian sejarah. Mungkin ide rumah kelahiran para tokoh nasional bisa dijadikan museum suatu hari kelak.

Museumsdorf Bayerischer Wald: Religiusitas Masyarakat Bavaria di Masa Lalu (4)

Di beberapa rumah di wilayah pedesaaan ditemukan berbagai kapel sederhana yang memudahkan warga berdoa.

Di museum ini diletakkan satu bagian yang mengumpulkan benda-benda rohani di masa lalu. Salib selalu dipajang di sudut ruangan di rumah dan berbagai bangunan di masa lalu.

Salah satu isi kapel sederhana di wilayah penduduk Bavaria di masa lalu.

Museum yang saya kunjungi beberapa waktu lalu memperlihatkan tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman di masa lalu. Saya menuliskannya menjadi beberapa bagian agar lebih spesifik menjelaskannya. Ulasan terakhir adalah tentang kehidupan beragama di Bavaria. Jika anda berkunjung ke Bavaria, ada banyak bangunan Gereja Katolik mendominasi dibandingkan bangunan ibadah lainnya. Pasalnya sudah sejak berabad-abad lalu Bavaria memang kental dengan keyakinan dan tradisi gereja katolik.

Pada abad pertengahan sekitar abad 17 dan abad 18 Jerman, yang dikenal Prusia membentuk kekaisaran monarki. Namun wilayah Bavaria yang banyak menganut katolik lebih memilih untuk membentuk kewenangan dan menjadi kerajaan tersendiri, yang masuk dalam kekaisaran Prusia masa itu. Pada tahun 1825 – 1848 Bavaria dipimpin oleh Raja Ludwig I. Sejarahnya bisa terlihat dalam link di sini. Bavaria tidak ingin didominasi oleh Protestan masa itu. Ini sudah membuktikan Bavaria sudah identik dengan katolik sejak dulu.

Baca https://liwunfamily.com/2018/06/10/walhala-di-jerman-jangan-pernah-lupakan-sejarah/

Terbentuknya kerajaan Bavaria menyebabkan masyarakatnya memiliki identitas dan kultur yang berbeda, bahkan mereka menganggap diri sebagai Bayerisch, bukan Deutsche.Bangunan gereja katolik dengan gaya arsitekturnya di Bavaria sudah pernah saya bahas di link di bawah ini:

Selain itu di museum yang saya kunjungi, ada satu bagian yang memperlihatkan tentang kehidupan religius masyarakat masa lalu. Mulai dari benda-benda rohani hingga informasi seputar keyakinan beragama.

Sebagai contoh mereka menempatkan patung Santo Johannes Nepomuk atau Johannes von Pomuk di dekat jembatan penghubung sungai karena diyakini memberikan berkat. Riwayat orang kudus ini dikarenakan, santo Johannes Nepomuk dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke sungai. Karena kesalehan hidupnya empat abad setelah kelahirannya, ia dinyatakan orang kudus. Itu sebab patungnya diletakkan di dekat di jembatan atau sungai di sini.

Patung santo Johannes Nepomuk dengan bentuk sudah tidak utuh dan indah lagi yang ditemukan di salah satu jembatan dekat sungai.

Kapel sederhana ini dibangun tahun 1826 di salah satu pedesaan.

Salah satu tugu batu yang mengingatkan tentang wabah pes yang ditemukan di salah satu wilayah penduduk.

Jika anda melihat rumah dan bangunan di sini selalu dilengkapi salib. Di rumah salib dipasang di sudut ruangan. Di wilayah pedesaan di Bavaria juga masih terdapat kapel kecil sederhana yang terbuat dari kayu. Ini memudahkan masyarakat untuk berdoa dan dekat dengan Tuhan. Ada juga kapel atau ruang doa yang tak besar dibangun di wilayah pertanian. Selain itu di jalan-jalan di pedesaan juga kerap dijumpai tugu batu yang diletakkan benda-benda rohani.

Mengapa dibangun tugu batu ini? Konon ini mengingatkan orang untuk dekat dengan Sang Pencipta. Selain itu, bahwa dulu pernah terjadi wabah penyakit yang mematikan. Tugu batu ini sebagai peringatan agar tidak terjadi lagi masa suram itu.

Pada abad pertengahan Eropa dilanda wabah penyakit pes yang sangat mematikan. Ribuan orang mati dan tidak bisa memiliki perawatan secara optimal. Penyakit ini membunuh hampir dua per tiga masyarakat kala itu. Itu sebab mereka menjulukinya “Black Death” karena penyebarannya sangat cepat melalui udara dari korban yang sudah meninggal. Banyak orang kala itu menutup diri karena khawatir bersentuhan dengan wabah penyakit ini. Periode suram di Eropa sudah terjadi pada abad 14. Namun kembali wabah penyakit ini melanda lagi pada abad 17 di Jerman. Ada yang menyebut masa suram wabah penyakit pada abad 17 dan abad 18 di Eropa disebut “Great Plague”. Di Jerman sendiri bahkan sampai ada kuburan massal karena begitu banyak korban meninggal.

Namun sebenarnya korban terbanyak dari penyakit ini adalah para biarawan-biarawati. Pasalnya tidak ada lagi keluarga atau orang yang mau merawat orang yang menjadi korban penyakit ini. Bahkan mereka dibiarkan meninggal tanpa mendapat perawatan dan penghormatan. Hanya biarawan-biarawati dari gereja yang diutus untuk merawat hingga memakamkannya bila sudah meninggal.

Begitulah kehidupan religius yang saya lihat di museum ini. Semoga bermanfaat!

Semangat Senin!

Fronleichnam 31 Mei, Mengapa Libur?

Dom St. Peter di Regensburg.

Hari ini tanggal 31 Mei menjadi hari libur di wilayah tempat tinggal saya. Kalender menandai tanggal 31 dengan warna merah yang tidak tebal seperti biasanya. Itu artinya, tidak semua wilayah bagian di Jerman pada hari ini menjadi hari libur. Hari libur pada hari ini disebut Fronleichnam. Bagi penduduk yang sebagian besar merayakannya maka mengalami libur di hari ini. Sebagian lagi tetap beraktivitas seperti biasa. 

Apa itu?

Fronleichnam adalah salah satu perayaan dalam kalender Gereja Katolik setelah 60 hari Kamis Putih, hitungan tri hari suci menjelang Paskah. Fronleichnam dirayakan untuk menghormati tubuh dan darah Yesus yang telah wafat di Salib. Tentu hanya Gereja Katolik saja yang merayakannya. Itu sebab hari ini bisa dikatakan hari raya Corpus Christi.

Dahulu di banyak tempat di Bavaria, Jerman mengadakan tradisi di hari Fronleichnam ini. Imam dan para putra-putri altar mengarak Sakramen Mahakudus dari jalan menuju Gereja. Umat yang mengikutinya bernyanyi dan berdoa. Mungkin masih ada yang melaksanakan tradisi ini pada hari ini. Namun di tempat tinggal kami, tradisi hanya dilakukan lewat pemberkatan di Gereja saja. Sejak kemarin saya dan sebagian umat sudah memenuhi Gereja dan melakukan penghormatan Sakramen Mahakudus setelah perayaan ekaristi.

Hari Fronleichnam tidak hanya dijadikan hari libur bagi sebagian Jerman. Ada sebagian negara di dunia yang memiliki mayoritas penduduk katolik juga menjadikan hari ini sebagai hari libur. Tadinya saya berencana ke tetangga sebelah untuk belanja, rupanya negara tetangga juga libur. Mungkin saya pergi ke Jerman sebelah utara yang tidak libur namun saya urungkan niat, lain kali saja. 

Di bulan Mei ini memang ada lima tanggal merah yang membuat sebagian orang senang berpergian, apalagi di sini udaranya sudah menjelang musim panas. Sebagian lagi memilih untuk beristirahat di rumah bersama keluarga. Pada hari libur semua kegiatan bisnis dan perdagangan libur seperti pada hari Minggu. Tak ada aktivitas perkantoran dan pertokoan. 

Begitulah, semoga bermanfaat!

Eingelszell, Biara Trappist Satu-satunya di Austria

Tampak luar.

Berada di pinggir sungai Donau dari Jerman, Austria kemudian arus sungai berujung di Laut Hitam.

Perjalanan di hari minggu, sepi. Itu sebab di Jerman dan Austria menyebut hari minggu sebagai ‘Ruhetag’ atau Restday.

Kemana anda menghabiskan akhir pekan bersama keluarga? Karena tak ada tujuan, saya dan suami menyusuri perbatasan Jerman – Austria dan mungkin kami bisa sightseeing ke tempat menarik lainnya.

Rute yang panjang selama perjalanan, mungkin saya ceritakan bagian per bagian saja.

Ada hal menawan mata saat menyusuri sungai Donau dari Jerman hingga ke Austria. Pemandangan di kedua sisi begitu indah. Keindahan pun tampak menjulang dari kejauhan yakni menara Gereja Katolik yang indah. Ini berbeda dari gaya arsitektur yang pernah saya bahas sebelumnya.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/15/passau-jerman-kota-bertemunya-tiga-sungai-nan-indah/

Gereja Katolik ini berada dalam komplek biara trappist yang katanya hanya satu di Austria. Gaya bangunan Gereja yakni rococo, yang memang jika diperhatikan agak mirip dengan gaya arsitektur baroque pada umumnya.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/

Kata rococo dipopulerkan di Perancis pada akhir abad 18. Istilah ini merujuk bukan pada bangunannya tetapi lebih pada detil ornamen yang menghiasi Gereja. Hal ini bisa dilihat pada ukiran di kursi umat semacam hiasan palem atau tanaman merambat. Di sini saya juga melihat di langit-langit antara kapel dan pintu masuk. Saya juga melihat ornamen tanaman merambat pada bilik pengakuan dosa di dalam Gereja. Terlihat detil, mewah dan sempurna.

Tampak dalam.

Orgeln atau organ, alat musik yang juga dilingkupi ornamen tanaman merambat.

Ornamen gaya rococo tampak jelas di bilik pengakuan dosa.

Sebagai perayaan genap 200 tahun, pada tahun 1786, perusahaan besar alat tulis yang sudah mendunia, Faber-Castell memberikan orgeln (organ) untuk memeriahkan perayaan misa. Ini diberikan langsung oleh Alexander Graf von Faber-Castell. Memang tak jauh letaknya dari Gereja, ada pabrik alat tulis tersebut di situ.

Selain beberapa hal yang disebutkan di atas, dalam Gereja masih tersimpan baik relikui Santo Faustus. Nama santo ini dirayakan setiap tanggal 28 September. Relikui. Santo Faustus lahir pada abad 4. Dia adalah pujangga Gereja, pengkotbah yang ulung dan penganjur berdirinya banyak biara. Semasa hidupnya, ia dikenal dengan saleh. Itu sebab mengapa Gereja ini menghormati dan menempatkan relikuinya di sini.

Bangku umat.

Relikui Santo Faustus.


Pabrik Faber-Castell yang letaknya tak jauh dari situ.

Di Austria, biara ini katanya satu-satunya biara trappist, yang menekankan pada kehidupan biara yang tidak terlalu terhubung dengan dunia luar. Para biarawan/wati biasanya menghabiskan sepanjang hari dengan berdoa, meditasi dan bekerja. Salah satu pekerjaan yang menarik di biara ini adalah perkebunan anggur. Banyak wisatawan datang di musim panas mampir sebentar membeli karya pekerjaan mereka.

Begitulah, tempat lain akan dilanjutkan berikutnya. Semoga bermanfaat!

Basilika Santo Stephan: Budapest, Hungaria (7)

 

wp-image-913643132
Tampak depan.

 

Sisi lain Basilika.

 

 

 

Sisi dalam dari langit-langit Basilika yang indah.

 

 

 

Basilika didekasikan untuk Raja Hungaria I seperti dalam informasi di atas.

 

 

Bangunan fenomenal yang mudah dikenal dan dijumpai di Budapest adalah Basilika Santo Stephanus. Sebagai katedral yang memiliki bangunan megah bergaya Neo-klasik, Basilika ini menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi di sini. Entah berapa jumlah umat Katolik di Hungaria namun katanya Paus, pemimpin Gereja Katolik selalu menyempatkan untuk adakan misa di sini.

Ini tempat pertama yang kami kunjungi karena letaknya yang dekat dengan penginapan kami. Lagipula kami beruntung datang kala masih tersedianya pasar Natal. Kemeriahan pasar yang digelar menjelang akhir tahun berada di depan lapangan Basilika.

Berdasarkan informasi tour guide, nama Santo Stephanus berasal dari Raja Hungaria I, Stephan. Kini Basilika ini adalah Gereja Katolik terbesar ketiga di Hungaria.

Saat kami memasuki Basilika, petugas jaga meminta kami mematuhi aturan. Karena bagaimana pun kita harus menghormati orang yang berdoa dan menjaga kekhusukkan. Selain itu, silahkan masukkan uang sukarela, nilainya 200 HUF bahkan boleh lebih jika mau.

Seperti layaknya di beberapa Basilika yang saya kunjungi, di sini begitu pun lukisan dan benda-benda rohani yang mempesona. Karena sore hari di kala musim dingin begitu gelap, kami sulit mendokumentasikannya. Cahaya Basilika begitu minim. Di sini juga, organnya begitu menawan.

Untuk melihat keindahan kota Budapest, anda bisa menaiki kubah Basilika dengan tangga atau lift. Sayangnya kami tiba tidak punya kesempatan melakukannya.

6 Januar Dreikönigsfest: Epiphany, Hari Libur di Jerman

wp-image-347231914
6 Januari dirayakan sebagai hari raya Dreikönigen atau tiga raja. Tiga raja tampak di kandang Yesus yang berada di sisi kanan (berjubah ungu dan merah) dan satu lagi di belakang keduanya.

 

6 Januari di Jerman dijadikan hari libur, yang disebut Dreikönige. Hal ini merayakan hari penampakan Tuhan dalam hitungan liturgi Gereja Katolik. Sementara bagi teman-teman asal Rusia dan Kazakhstan yang memeluk Kristen Ortodox maka pada hari ini mereka merayakan hari raya seperti Natal.

Kebanyakan aktivitas sudah mulai padat setelah tanggal 6 Januari di Jerman. Itu artinya 8 Januari besok mulai memasuki hari normal, libur sudah berakhir.

Tradisi 6 Januari masing-masing wilayah di Eropa berbeda-beda semisal di Italia, Spanyol termasuk Jerman. Namun kesamaannya adalah tradisi selalu mengundang minat dan antusias anak-anak untuk terlibat meramaikan.

Anak-anak di wilayah Bavaria dengan mengenakan kostum dan didampingi guru mendatangi rumah ke rumah. Mereka mengetuk pintu. Lalu mereka bernyanyi, ada pula yang mengucapkan doa. Setelah itu, si empunya rumah bisa memberikan coklat atau sesuatu yang manis. Namun kadang terselip pesan donasi di dalam tradisi ini. Akhirnya dengan sukarela, 5€ diberikan. Namun sepenuhnya, ini bukan tuntutan. Umumnya mereka sudah senang saat kita membukakan pintu dan menyambut mereka saat bernyanyi.

wp-image-1057010199
Dua orang anak mengenakan kostum dengan aksesoris seperti raja yang didampingi guru mereka (jubah ungu) datang ke rumah-rumah memeriahkan perayaan hari raya Dreikönigen.

Contoh penulisan di pintu rumah pada tahun 2017.

Bagi saya, anak-anak tidak hanya dikenalkan kepada tradisi saja namun ini melatih kepercayaan diri mereka saat berhadapan dengan orang asing. Pastinya ini masih tentang keramaian anak-anak dengan perayaan coklat atau permen.

Untuk umat yang merayakannya di Gereja maka kami mulai menandai pintu rumah dengan kapur. Di Indonesia, kapur dibagikan usai misa setelah pemberkatan. Di Bavaria, Jerman, tradisi menuliskan kapur bisa dilakukan sendiri. Mereka bisa mengawalinya dengan berdoa, agar tahun ini diberkahi banyak kesuksesan.

Penulisan kapur yakni 20 + C + M + B + 18 yang dimaksudkan bahwa 20 dan 18 adalah angka tahun ini, 2018. Sedangkan C, M dan B adalah inisial nama tiga raja, dreikönigen yang dirayakan pada 6 Januari yaitu Caspar, Melchior dan Balthasar. Tiga raja ini yang datang mencari Yesus dan selalu ada dalam kandang Natal atau diorama Natal.

Namun C, M dan B juga bisa diartikan sebagai Christ Mansionem Benedicat. Artinya adalah Kristus memberkati rumah ini. Maka dalam penulisan ada lambang salib (+) yang ditambahkan.

Jika mereka yang melihat dan tak mengerti, mungkin berpikir ini adalah jimat atau mantera. Sesungguhnya ini adalah perilaku beragama yang mengawali tahun.

Semoga bermanfaat!

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Ciri Backsteingotik atau Brick Gothic (3)

Gereja Katolik St. Martin, dekat Landshut.
wp-image-1323664648Kota Landshut dari atas, Gereja Katolik St. Jodok (kanan) juga bercirikan arsitektur backsteingotik.


Salah satu Gereja Katolik lain di Munich yang juga punya ciri arsitektur backsteingotik. 


Melanjutkan hasil pengamatan soal arsitektur Gereja Katolik di seputar Bavaria, saya mendapatkan satu lagi ciri arsitektur yang jarang dijumpai. Suatu kali saya berhenti di Landshut, Niederbayern. Saya menjumpai bangunan yang berbeda dan indah sekali, termasuk pada Gereja Katolik yang jadi landmark kota tersebut. Beberapa Gereja Katolik lainnya di sekitar juga bercirikan sama, Backsteingotik dalam bahasa Jerman.

Baca:

  1. https://liwunfamily.com/2017/12/21/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-baroque-1/
  2. https://liwunfamily.com/2017/12/23/mengamati-gaya-arsitektur-gereja-katolik-di-bavaria-jerman-gaya-gothic-2/

Di Landshut, ciri bangunan backsteingotik terdapat pada kastil “Burg Traunitz” yang begitu melegenda dan terlihat menawan dari bawah. Cerita kastil tersebut akan saya lanjutkan pada artikel selanjutnya.

Backsteingotik, sebenarnya diambil dari kata backstein yang merujuk pada batu bata merah. Kemudian gotik tentu merujuk pada ciri khas gothic, seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya. Pada bangunan gothic, ciri yang menonjol terlihat seperti keruncingan menara. Jadi backsteingotik bisa dikatakan perpaduan antara keduanya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, disebut Brick Gothic.

Sebenarnya tak hanya di Jerman, bangunan dengan ciri khas backsteingotik ditemukan. Bangunan seperti ini juga tampak mencolok di Polandia, Belanda dan Inggris. Itu yang saya ketahui. Ketika saya berbicara dengan seorang pastor di sini, dikatakan Gereja Katolik bercirikan backsteingotik lebih banyak terlihat di wilayah Jerman bagian utara. Pembangunan bercirikan gaya arsitektur ini sudah dimulai sejak abad 12 hingga 16 di wilayah Eropa yang berdekatan dengan laut Baltic.

 

Menurut anda apakah bangunan bercirikan backsteingotik terlihat lebih mudah dibandingkan kedua ciri arsitektur sebelumnya?

cropped-wpid-img-20140316-wa0012.jpgGereja Katolik St. Jodok tampak depan.

Gereja Katolik St. Jodok tampak samping.

Setelah saya amati dinding Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik ternyata bata merah tersusun dengan rapi dan arsitektural. Artinya, ini dibangun dengan penuh ketelitian dan terkesan kokoh hingga bertahan ratusan tahun. Konon tak tersedia lagi batu bangunan sehingga dipergunakan bata merah yang terbuat dari tanah liat.

Bata merah yang tersusun tersebut menjadi begitu menawan mata saat saya melihatnya dari kejauhan. Biasanya saya menemukan Gereja Katolik bercirikan baroque atau gothic, maka saat saya menemukan bercirikan backsteingotik tentu ini merupakan hal yang menarik. Ulasan bangunan bercirikan backsteingotik akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Namun setidaknya, ada juga Gereja Katolik yang bercirikan backsteingotik di Jerman bagian selatan.

Saya juga pernah mengunjungi gaya arsitektur backsteingotik di Vietnam Selatan, tepatnya di Ho Chi Minh City. Katedral Notre Dame bercirikan bangunan backsteingotik juga terlihat menawan sehingga dijadikan landmark kota.

Katedral Notre Dame, Ho Chi Minh City juga bercirikan arsitektur backsteingotik. Foto diambil 2010.


Ada pendapat?

Mengamati Gaya Arsitektur Gereja Katolik di Bavaria, Jerman: Gaya Baroque (1)

 

IMG_0515
Salah satu ciri bangunan baroque yang terkenal di Bavaria ditemukan di Frauenkirche, Munich (kubah kembar berwarna hijau). Sumber Foto: Dokumen pribadi.

 

 

wp-image-979286989
Menandai ciri bangunan baroque pada Gereja Katolik adalah kubahnya, seperti pada foto di atas. 

 

 

20170705_163538
Dom St. Stephan di Pasau, juga bercirikan baroque.

 

 

wp-image-1558792398
Basilika Santa Anna, Altötting.

Saya paling suka mengamati apa saja yang saya temukan, termasuk bangunan-bangunan di Eropa yang masih bertahan meski sudah lama didirikan. Salah satu gaya arsitekur yang menarik mata saya adalah Gereja Katolik. Di tiap desa atau kota di wilayah Bavaria pasti ditemukan Gereja Katolik. Itu sebab negara bagian ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Gereja Katolik yang saya kunjungi selalu saya perhatikan corak bangunan. Sejarah pendiriannya biasa saya jumpai dalam prasasti di sekitar Gereja. Itu artinya Gereja sudah didirikan berabad-abad lalu. Meski Gereja Katolik di sini tak sebesar Gereja saya di Jakarta, mungkin itu berdasarkan pertimbangan jumlah umat pada masa pendiriannya. Sedangkan Gereja Katolik di paroki saya di Jakarta misalnya bisa menampung hingga ribuan umat.

Ada dua gaya bangunan yang dominan pada Gereja Katolik di Bavaria yakni bercirikan baroque dan gothic. Lalu hampir sebagian besar, Gereja Katolik yang saya kunjungi, sekali lagi yang saya kunjungi, jadi bukan angka statistik alias tidak obyektif. Bahwa kebanyakan bentuknya bergaya baroque.

 

wp-image-3280717
Trevi fountain, bangunan fenomenal ciri baroque di Roma, Italia. 

 

Gaya ini dimunculkan Gereja Katolik pada periode abad 15 hingga 18, dimulai dari Roma, Italia. Salah satu bangunan baroque terkenal yakni trevi fountain sebagai contoh bangunan baroque pada taman kota. Di Jerman gaya arsitektur ini pun diadopsi pada pendirian Gereja Katolik, pada abad 17 hanya untuk sebagai ciri Gereja Katolik.

Saya bukan seorang arsitek tetapi saya suka mengamati. Bahwa bangunan bercirikan baroque selalu memiliki kubah yang sama. Lengkungan dan bentuknya mirip. Ini mengingatkan pada kubah kembar Frauenkirche yang juga jadi landmark kota Munich, ibukota negara bagian Bavaria. Bercirikan baroque terkadang juga dilengkapi lukisan fenomenal yang indah pada dinding sekitar altar atau langit-langit. Namun Gereja Katolik di tempat tinggal saya sekarang yang sederhana, tidak ada lukisan seperti itu. Namun Gereja tersebut bercirikan baroque.

 

wp-image-1740115703
Salah satu ciri lain dari bergaya baroque di Gereja Katolik adalah lukisan di dalam. Ini di Basilika Santa Anna, Altötting.

 

Bangunan bercirikan baroque dipopulerkan Gereja Katolik pada masa itu untuk membangkitkan emosional secara spiritual pada umat yang datang. Itu sebab sekitar di dalam Gereja dihiasi oleh lukisan tentang bagian dari Alkitab atau tokoh-tokoh orang kudus lainnya.

Ciri berikutnya adalah bergaya gothic akan saya jelaskan pada artikel berikutnya.