Mesir (16): Roti yang Wajib Anda Tahu

Roti yang biasa dijajakan tampak di Kairo.
Sepertinya ini roti pita, bisa dibelah di tengah atau dinikmati langsung juga bisa.

Dimana pun anda berada, makanan pokok adalah makanan yang menjadi kebiasaan untuk disantap dalam keseharian. Di Indonesia misalnya makanan pokok adalah nasi. Ada saja orang yang mengaku belum makan jika dia belum mengunyah nasi. Padahal dia sudah menghabiskan roti dan salad kentang. Makanan pokok seolah-olah menjadi wajib hukumnya karena hal itu menjadi utama dalam kebiasaan makan sehari-hari.

Kembali ke negara Mesir yang masih saya ulas, kira-kira apa ya makanan pokok di sana?

Selain nasi, orang Mesir juga menjadikan roti sebagai makanan pokok. Itu sebab roti selalu disajikan di etalase makanan. Konon roti sudah menjadi catatan sejarah sebagai kuliner tertua di dunia. Bahkan kehidupan masyarakat Mesir sebelum masehi sudah mengetahui bagaimana membuat roti sebagai menjadi makanan pokok. Roti itu simbol kehidupan, menurut masyarakat Mesir.

Sebagai simbol kehidupan, orang Mesir menyebut kehidupan sebagai ‘Aish‘ sehingga mereka memiliki roti yang sejak lama disebut Aish Baladi. Aish ini bukan lafal kosakata bahasa Arab untuk roti. Aish baladi menjadi makanan sehari-hari yang bisa dinikmati kapan saja, siapa saja dan dengan makanan pendamping yang sesuai selera. Bahkan hanya makan aish baladi saja sudah cukup mengenyangkan karena ini terbuat dari gandum yang dipanggang. Roti jenis ini mudah ditemukan dan dijajakan di toko roti atau warung makan.

Saya menemukan beberapa varian roti tetapi sayangnya tak ada informasi nama roti-roti tersebut. Roti pita misalnya yang pernah saya ulas sebelumnya di kuliner chicken shawarma. Ini seperti donner, dengan roti pita yang dibelah di tengah kemudian isian daging disisipkan ke dalam. Roti pita ini termasuk flatbread.

Ini saya tidak tahu apa namanya.
Ini juga apa namanya ya?
Ini yang saya suka, tetapi saya tidak tahu namanya.

Flatbread seperti kebanyakan makanan Timur Tengah maka roti bisa dinikmati layaknya tortilla. Anda tinggal menggulung daging dan sayur sebelum masuk dalam mulut. Selain shawarma, roti pita juga disajikan untuk hawawashi.

Jenis roti lainnya, saya tidak tahu namanya. Hanya saja roti ini menjadi pilihan untuk dinikmati sebagai makanan pokok selain nasi.

Saya sendiri paling suka mengunyah flatbread mereka yang diberi sedikit rempah. Rasa roti ini gurih dan teksturnya renyah. Sampai saya selesai liburan, saya lupa bertanya apa nama roti tersebut.

Apakah anda suka mengkonsumsi roti juga bila tak ada roti atau kentang?

Advertisements

Mesir (5): Hibiscus Tea, Teh Hitam, Teh Mint dan Kegemaran Minum Teh

Hibicus tea yang berwarna merah dan teh hitam yang berwarna cokelat gelap.

Ada hal menarik jika kita bertamu ke rumah warga Mesir, mereka memberi minum teh kepada tamu. Hal ini kerap saya dapatkan semisal saat bertandang ke rumah salah seorang warga di desa wisata di Assuan. Para tamu yang notabene adalah turis dari berbagai dunia, mendapatkan suguhan minuman teh dari si empunya rumah.

Teh Mesir.

Pengalaman lainnya soal minum teh adalah saat kami datang ke toko sovenir yang menjadi rangkaian tur. Sebelum seorang pria yang menjadi sales menjelaskan produk mereka, pria ini meminta rekannya untuk membawakan minuman untuk kami sebagai tamu yang datang. Dan minuman teh datang, kemudian pria yang notabene sales menjelaskan bahwa warna teh merah adalah teh karkadeh atau hibiscus tea dan warna teh gelap adalah teh hitam.

Penyambutan tamu dengan teh.

Tentang teh hitam, saya pernah membahasnya di link ini.

Pengalaman lain adalah di kapal wisata kami juga disuguhi teh mint setelah tiba di pintu utama kapal. Teh penyambutan ini diberikan ke tiap wisatawan yang menginap di kapal wisata sesudah kami seharian di luar melakukan pelesiran dengan suhu yang luar biasa panas. Anda bisa bayangkan suami saya tidak terbiasa minum teh dan beberapa jam di luar sudah membuatnya tak nyaman karena suhu yang sangat panas. Akhirnya dia terpaksa menerimanya. Saya jelaskan teh mint baik untuk kesehatan setelah kami berpanas ria di luar.

Teh memang baik untuk kesehatan seperti yang saya jelaskan di link ini. Siapa pun tak menyangkal itu.

Selain baik untuk kesehatan, warga di sini berharap kita akan kembali lagi datang ke Mesir karena kita sudah minum teh suguhan mereka. Itu barangkali alasan beberapa pasangan yang sudah senior dan berusia lanjut datang rutin ke Mesir sebagai liburan mereka. Mereka meninggalkan Eropa dan terbang ke Mesir untuk liburan.

Teh lokal yang berasal dari Mesir itu berwarna merah. Saya sendiri memilih minum teh hitam. Tetapi suatu kesempatan, saya mencoba teh karkadeh yang ternyata saya tidak suka rasanya. Mungkin beda selera, suami saya akhirnya memilih minum teh karkadeh daripada dia tidak mendapat minum sama sekali.

Begitulah keramahan warga Mesir bila menyambut kita sebagai tamu. Di kapal wisata pun, kami mendapatkan beberapa kesempatan tea time di teras kapal.

Jika anda suka minum teh, jangan lewatkan kesempatan mencoba teh karkadeh dari Mesir!