5 Alasan Menonton Film Layaknya Bioskop di Rumah Itu Baik Juga

Ilustrasi.

Sebagaimana anda tahu bahwa wabah corona sedang melanda dunia sekarang ini, bahkan di wilayah tempat tinggal saya. Salah satu kebijakan untuk menanggulangi penyebarannya agar tidak semakin meningkat kasusnya, maka pemerintah di sini menutup bioskop dan tempat hiburan. Tentu ini bukan berarti menghentikan kebiasaan menonton film bersama pasangan dan anggota keluarga, bila akhir pekan tiba.

Akhirnya salah satu cara menghabiskan waktu selama berdiam di rumah adalah menonton film layaknya bioskop di rumah. Memang tak perlu punya home theater untuk bisa menonton film di rumah. Asalkan kita bisa melakukan aktivitas bersama di rumah demi keamanan dan kenyamanan bersama, supaya bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak dikehendaki seperti penyebaran Covid-19 yang tidak terduga.

Ternyata lima alasan berikut menujukkan bahwa menonton film di rumah itu baik juga loh. Apalagi menonton film di rumah menjadi pilihan agar kita tidak berpergian sampai waktu yang ditetapkan pemerintah berakhir.

1. Lebih akrab dan intim dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya

Kehadiran gadget, online games dan media sosial dsb membuat masing-masing di antara kita bisa larut dalam kesibukan masing-masing di rumah. Belum lagi jika satu sama lain punya hobi yang berbeda-beda. Untuk mensiasatinya tak ada salahnya dengan duduk di sofa yang nyaman di rumah dan pilih menonton film bersama-sama.

‘Cinema-Therapy’ menjadi istilah yang diberikan Konselor perkawinan sebagai salah satu cara meningkatkan keintiman dengan pasangan perkawinan. Lain lagi, pengamat sosial menyatakan bahwa film yang tepat, yang menggali diskusi dan bertemakan keluarga akan memberi dampak positif bagi relasi antar keluarga.

2. Bebas menentukan film yang dikehendaki

Alasan baik selanjutnya adalah menonton film di rumah memberi kebebasan untuk menentukan film yang dikehendaki. Misalnya film kartun dan bertema keluarga bisa diputar ulang untuk mengisi waktu lowong anak-anak selama di rumah. Memilih film yang dikehendaki di rumah juga membuat para orangtua bisa menseleksi film yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, film untuk anak yang sedang pubertas tentu bukan lagi film kartun, tetapi film remaja yang mendidik.

3. Lebih fokus menonton dan terhindar dari gangguan orang-orang asing/tidak dikenal

Alasan baik berikutnya adalah kita bisa lebih fokus menonton film bila di rumah. Bila menonton film di bioskop bisa saja kita bertemu orang-orang yang mengganggu selama dalam ruang studio film. Orang yang berisik berkomentar misalnya sepanjang film ditayangkan. Suara telepon genggam atau orang mengunyah makanan bisa menjadi momen mengganggu bila anda tak suka itu. Belum lagi ada saja orang usil atau orang yang bertindak tak sopan misalnya yang mengganggu kenyamanan menonton.

Menonton film di rumah membuat kita nyaman mengambil posisi yang disukai. Kita juga bisa membuat aturan agar tidak ada gangguan selama menonton misalnya. Bila kita ingin ke toilet atau ada keperluan sementara, kita bisa menghentikan sebentar (=pause) yang kemudian bisa melanjutkan menonton lagi. Ini semua hanya bisa dilakukan bila menonton film layaknya bioskop di rumah.

4. Lebih santai, bahkan sambil menikmati cemilan yang dikehendaki

Menonton film di rumah terkesan santai karena kita bebas menentukan waktu dan film yang ditonton. Kita bisa santai menonton film sambil menikmati pop corn buatan sendiri. Rasa manis pop corn bisa kita atur sendiri. Tak hanya pop corn, kita bisa sediakan aneka cemilan lain yang disukai agar bisa menikmati tayangan film favorit.

5. Pastinya lebih murah

Alasan terakhir tentu menonton film di rumah menjadi lebih murah dibandingkan menonton film di tempat lain. Film pun bisa ditonton berkali-kali sehingga lebih hemat. Hemat anggaran lain adalah pembelian snack dan minuman yang diperlukan selama menonton. Kita bisa menyediakannya di rumah. Menonton film ala bioskop di rumah bisa menjadi ajang rekreasi bersama, yang saat ini tidak bisa dilakukan di luar rumah.

Sambil menunggu kondisi membaik, berdiam di rumah dengan hiburan menonton film bersama anggota keluarga bisa jadi pilihan. Mumpung di akhir pekan, film pilihan apa yang ingin ditonton keluarga anda di rumah?

Saya adalah Saya: Manusia itu Unik

Ich bin Ich. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Suatu kali, saya mendapat cerita dari seorang kawan tentang penderitaannya ketika mendengar sang ibu membandingkan kawan saya dengan kakaknya yang sulung. Kawan saya, yang adalah anak kedua, merasa kesal, kontan, dia marah kepada sang ibu. Sang ibu, sebagai ibu juga kaget terhadap reaksi si anak. Harapan sang ibu, anaknya yakni kawan saya, akan berubah dan mengikuti teladan kakak sulungnya. Tak disangka, terjadilah adu mulut antara sang ibu dengan anaknya, kawan saya itu.

Saya pun pernah turut menjadi bagian dari perbandingan antara saya dengan orang lain, entah perilaku, sifat, kepribadian, kinerja, kepemimpinan, de el el, yang jika ditulis bisa berlembar-lembar. Atau, saya pun bukan manusia yang sempurna. Saya juga pernah membandingkan antara orang lain dengan orang lain-nya lagi. Wow, begitu hebatnya manusia sehingga ia bisa menjadi subjek sekaligus objek.

Satu kalimat kunci saat belajar Psikologi, bahwa kepribadian itu unik. Tidak pernah ditemukan orang yang sama di dunia ini, bahkan orang yang kembar identik sekalipun. Sangking uniknya, Tuhan memilih ‘bahan-bahan’ yang sempurna sehingga menjadi diri kita. Sampai saat ini, di dunia yang serba canggih sekalipun, belum ada manusia yang mampu mengalahkan Tuhan dalam menciptakan manusia. Robot sekalipun belum menyentuh sisi kemanusiaan yang dibuat oleh Tuhan.

Nah, manusia itu unik. Saya adalah saya.

Jika mendengar istilah ‘membandingkan’, yang terbayang adalah menilai, menganalisa hingga memutuskan (meski belum lihat kamus bahasa indonesia, benar atau salah) satu hal dengan hal lain. Ada proses berpikir hingga merasakan lalu kemudian melakukan atau memutuskan. Membandingkan bisa jadi ada yang diunggulkan dan ada yang direndahkan. Iya kan? Ada pihak yang dijagokan dan ada pihak yang diremehkan. “Halah, si anu itu bisanya apa sih? Beda kayak si nganu, yang jago banget bla bla bla…” coleteh teman sebelah saya ketika kami sedang mendiskusikan Capres dan Cawapres. Hebat juga oi, sebagai rakyat memang kita memiliki hak untuk berpendapat apapun, membandingkan antara satu orang yang jadi bakal pemimpin dengan yang lainnya.

Sangking uniknya seseorang, kita pun sadar atau tidak, telah menyakiti seseorang tanpa menyadari bahwa setiap orang itu unik. Tidak ada orang yang suka dibandingkan dengan orang lain dalam hal apapun. Karena setiap orang memiliki cara dan gaya tersendiri sehingga ia dikenal dan diakui.  Padahal maksud orang yang membandingkan (mencoba mencari celah positif), membandingkan seseorang dengan orang lain yakni agar si anu bisa belajar atau meneladani si nganu.  Pernahkah mendengar bahwa sebenarnya setiap orang itu sadar atau tidak belajar dari orang di sekitarnya. Si A belajar dari si B, si B belajar dari si C, si C belajar dari si D, si D belajar dari si E, dan si E belajar dari si A? Lihat betapa besar kekuatan si A.

Dari kecil, orangtua suka membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Bersyukurlah kawan jika anda adalah anak tunggal, meski bisa saja anda dibandingkan sepupu atau anak tetangga. Saat menjadi murid, guru masih membandingkan antara satu murid engan murid lain. Saat bekerja, bisa jadi ada atasan atau rekan sekerja yang masih suka membandingkan kita dengan rekan sekerja lainnya. Meskipun kita pun melakukan hal yang sama untuk atasan dan rekan sekerja kita.

Baiklah, pernyataan saya adalah saya bukan berarti mencintai diri sendiri, egois atau mengacuhkan keadaan sekitar. Hal yang mau ditekankan disini adalah setiap orang adalah unik. Dengan cara dan gayanya, manusia berpikir, mengalami dan berperilaku. Saya adalah saya, berarti menghargai orang lain dan tidak ‘memasukkan’ orang lain ke dalam ‘kotak’ pikiran saya. Saya adalah saya, berarti terimalah saya apa adanya. Dengan demikian, saya diakui dan dicintai.

2009