Ini Alasan Kita Tidak Boleh Memotong Pembicaraan di Jerman

Lain budaya lain pula cara berkomunikasinya. Pengalaman ini yang saya amati lewat acara talkshow di televisi atau kebiasaan berkomunikasi di tempat kerja di Jerman. Ini menginspirasi saya untuk menuliskannya alasan, mengapa kita tidak boleh memotong pembicaraan. Dimana pun adalah hal tak baik bila kita memotong pembicaraan orang. Ini termasuk alasan kesopanan.

Saya pun mengamati berbagai diskusi talkshow di televisi pun begitu anggun dan tampak elegan. Di sini, saya mengamati talkshow tidak mungkin dua orang bisa berbicara bersamaan dan saling serang. Si moderator juga tampak menguasai panggung dan tidak memotong apa yang disampaikan pembicara. Di situ saya paham bahwa ada alasannya.

Mengapa demikian?

1. Orang Jerman adalah orang yang santun

Tiap orang mengklaim dirinya adalah orang Jerman maka mereka tahu identitas dirinya sebagai orang yang santun. Ada salam pembuka saat bertegur sapa seperti “Guten Morgen!” atau salam lain seperti “Servus!”, “Gruß Gott!”, “Guten Tag!”, “Moi Moi” atau sekedar “Hallo” saja sudah memberi tanda sapaan dan salam. Mengakhiri perjumpaan pun demikian, ada kata selamat tinggal atau sampai jumpa lagi seperti “Pfiat Dich!”, “Ciao!”, “Auf Wiedersehen!” atau “Schönen Tag!” dan sebagainya. Bahkan ketika kita hendak masuk ke kamar atau ruang kerja orang lain, kita perlu mengetuk pintu dan beri salam. Begitu santunnya maka anda bisa bayangkan bagaimana reaksi mereka jika anda memotong pembicaraan? Selain hal itu dipandang tidak sopan, tentu anda dianggap bukan orang yang santun.

2. Grammatik atau tata bahasa

Alasan berikutnya, tentu menyangkut persoalan grammatik atau tata bahasa. Secara struktur kata, kata kerja dalam bahasa Jerman itu ditempatkan di belakang. Sementara tata bahasa dalam bahasa Indonesia adalah subyek kemudian predikat. Misal, “ich muss arbeiten weil ich Geld für meine Familie brauche” yang diterjemahkan menjadi “Saya harus kerja karena saya butuh uang untuk keluarga saya” dimana “brauche” adalah kata kerja untuk orang pertama. Meski kata kerja tidak selalu ditempatkan di belakang kalimat, namun umumnya ditempatkan di belakang. Dengan begitu, guru bahasa Jerman di sini berpendapat bahwa kita harus menunggu lawan bicara selesai berbicara terlebih dulu agar tahu maksud keseluruhannya. Bayangkan bahwa anda memotong pembicaraan padahal lawan bicara belum mengucapkan kata kerja dan keseluruhan maknanya.

3. Komunikasi yang direct

Saya pernah ikut acara rapat di sini, mereka cukup singkat menyelenggarakan rapat. Cara orang di sini berkomunikasi itu direct, langsung dan tanpa basa-basi. Ini mungkin terdengar menyakitkan buat orang seperti saya, tetapi itulah mereka yang tidak menutupi apa pun. Dalam diskusi atau pembicaraan, tiap orang punya hak yang sama untuk berpendapat. Namun mereka berbicara to the point dan berdasarkan data. Orang di sini adalah orang yang berpikir logis sehingga mereka tidak akan berbicara melantur atau berlebihan. Tentu kita tidak mungkin juga memotong pembicaraan karena mereka pun berbicara apa adanya, tidak berbelit-belit.

Ketiga alasan di atas adalah hasil diskusi saya dengan beberapa teman di sini. Itu menarik buat saya tuliskan untuk menginspirasi.

Jika ada hal yang urgent dan important yang harus disampaikan sehingga perlu memotong pembicaraan maka anda perlu beri kode atau tanda untuk diberi kesempatan berbicara. Biasanya mereka cukup paham dan langsung mengerti.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Menikah Karena Cocok, Bercerai Karena Tidak Cocok

Seorang artis yang baru saja naik pamornya telah berhasil diliput media karena akan menikah. “Ya, kami berdua akan segera menikah. Doakan saja ya!” Demikian kata si artis saat diwawancara sebuah televisi. Ketika ditanya awak media, mengapa menikah? “Karena kami cocok.” Itu jawaban si artis lagi.

Lalu beberapa tahun kemudian, televisi menyiarkan lagi bahwa artis ini baru saja menggugat cerai pasangan. Kembali lagi media memberitakan tentang prahara perkawinan si artis ini. Kembali media bertanya apa penyebab perceraian? “Karena tidak ada kecocokan.” Begitulah jawabannya.

Apakah pernikahan itu? Apakah pernikahan menjadi sebuah alasan setelah mendapatkan kecocokan dengan pasangan?

Hal menarik setelah saya menyimak pernyataan artis tersebut, ukuran kecocokan dan ketidakcocokan adalah berdasarkan komunikasi. Jika tidak ada hambatan dalam berkomunikasi dikatakan cocok. Padahal semua orang jelas mengetahui saat ini era komunikasi yang super canggih yang bisa meminimalisir hambatan komunikasi. Lalu ketika komunikasi terhambat, dikatakan ada ketidakcocokan.

Setiap orang selalu punya alasan mengapa memutuskan menikahi pasangan. Cinta adalah dasar utama yang tak bisa dijelaskan dan digambarkan, termasuk dikomunikasikan.

Meski mudah mengatakan bahwa sulit mempraktikkan rumus komunikasi yang  baik dengan pasangan. Pasalnya berpasangan terjadi karena dua individu yang berbeda karakter apalagi budaya dan gaya hidup. Perbedaan tidak memicu kecocokan atau ketidakcocokan tetapi memahami bahwa ada saatnya cocok dan ada saatnya tidak cocok.

Namun bukan berarti cocok berkomunikasi itu menikah lalu ketidakcocokan berkomunikasi lantas bercerai.

So, anda sendiri bagaimana? Ada pendapat?

Taklukkan Amarah dengan “Gaya Sandwich”

Siapa pun boleh marah? Siapa pun bisa marah? Siapa pun juga berhak marah? Karena marah adalah hak setiap orang. Marah juga salah satu bentuk luapan perasaan atas ketidaksukaan, ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu hal.

Anda boleh marah terhadap kesalahannya, tetapi bukan pada pelakunya!

Acapkali saat marah, komunikasi ditujukan secara emosional dan direct (langsung). Karena amarah adalah cara untuk meluapkan perasaan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu hal.

Beberapa waktu lalu, saya membaca “teori sandwich” untuk berkomunikasi secara elegan saat marah. Mungkin anda berpikir seperti saya, boro-boro berpikir komunikasi yang elegan saat marah. Namun setelah saya merenung dan mengingat saat dimana saya dimarahi maka saya berkesimpulan teori ini baik juga.

Teori ini hanya sekedar mengingatkan bahwa marah ditujukan pada kesalahan dan tepat sasaran. Masing-masing pihak merasa nyaman, baik yang dimarahi maupun yang memarahi. Semacam win-win solution atau cara untuk melampiaskan kemarahain secara nyaman dan elegan tentunya.

Hal ini biasa diterapkan untuk mengedukasi seseorang misalnya. Atau penerapan dilaksanakan pada situasi atasan-bawahan, guru-murid atau orangtua-anak, dan sebagainya. Anda berhak memarahi karena ada otoritas dan alasan yang kuat mendasari.

Ada pesan orang bijak yang mengatakan, untuk mengetahui tabiat seseorang lihatlah saat dia sedang marah. Kemarahan adalah tes yang menguji kecerdasan emosional seseorang.

Semacam sandwich, ada tiga lapisan yakni lapisan pertama berisi roti. Pada lapisan pertama, kemarahan dinyatakan dengan sapaan yang positif. “Saya pikir anda sudah melakukan yang terbaik saat mengerjakan tugas anda. Anda sudah datang sejak pagi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan segera.” Demikian kalimat dari si bos kepada anak buahnya. Intinya pada lapisan pertama adalah hal yang berisi kalimat pembuka bersifat positif dan pengantar saja.

Pada lapisan kedua di sandwich berisi daging. Di sini kemarahan ditujukan pada inti atau isinya. Apa kemarahan anda? Namun tidak menyerang secara pribadi melainkan langsung (direct) pada kemarahan yang ingin diungkapkan. “Saya marah sekali ketika saya mengetahui bahwa anda telah menyalahi wewenang dengan berhubungan dengan banyak media massa. Anda adalah seorang communications specialist. Sementara membuat pernyataan di media massa adalah tugas saya sebagai manajer atau kepala staf di sini. Anda diperkerjakan untuk…”  Demikian lanjutan dialog bos dan anak buah, melanjutkan contoh di atas. Di lapisan kedua, ungkapkan kemarahan anda dan alasan kemarahan. Jangan bertele-tele!

Di lapisan terakhir sandwich tentu adalah roti lagi. Tutup kemarahan anda dengan ungkapan yang santun dan menyarankan. “Saya rasa ini sudah cukup sebagai peringatan pertama. Saya sampaikan surat ini agar anda memahami struktur organisasi bekerja dengan baik. Saya berharap anda tidak mengulanginya lagi. Terus pertahankan kinerja baik anda!” Demikian dialog lanjutan penutup dialog antara bos dengan anak buahnya.

Bagaimana menurut anda?

Tiga Hambatan Berbicara Bahasa Asing

 

Ilustrasi.

 

Speaking foreign language in this time is not a life style, but the needs to understand the world. As expat, I have to do it. In the past I heard speaking foreign language is talent. You have no talent, it isn’t able to learn easy. 

Now in order to speak foreign language, forget it your talent! When you would really love to learn it, you could!

In refering my experience, I have some barriers to speak as usually to others. These barriers are detailed in Bahasa Indonesia as my mother language. 

To be advices, I need your comments if you are also learning foreign language in this time. 

*** 

Menguasai banyak bahasa di dunia adalah suatu keunggulan dalam berelasi dan bahkan menambah pundi-pundi penghasilan. Semakin terbukanya jalur orang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain tentu membuka kemungkinan untuk menguasai bahasa asing, disamping bahasa ibu.

Kursus bahasa asing pun berjamur. Buku-buku belajar bahasa asing pun diciptakan. Kursus metode online pun ditawarkan. Ini semua memicu kemudahaan untuk bersegera belajar bahasa asing.

Bahasa asing yang dulu mungkin untuk sekedar gaya hidup. Kini bahasa asing pun menjadi kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedang mempelajari bahasa asing. Berikut alasan yang menghambat orang berkomunikasi dalam bahasa asing.

(1). Hambatan Kepribadian

Hambatan kepribadian adalah hal yang utama menghambat seseorang berbahasa asing. Hambatan ini seperti pemalu, tak percaya diri hingga karakteristik lain yang menjadi identifikasi kepribadian. Mereka yang memiliki pribadi tertutup, tak suka bergaul dan berkomunikasi dengan orang asing nyatanya menjadi lambat berbahasa asing. Karena mereka cenderung tak melatih diri berbahasa asing. 

Kepercayaan diri adalah modal utama berbicara bahasa asing. Jangan pikirkan grammatik atau tata bahasa yang dipakai! Sebagai pemula belajar bahasa asing, saya dituntut untuk percaya diri saat mengungkapkan pendapat. Hal terpenting niat dan minat berkomunikasi secara terbuka. Jangan biarkan hambatan kepribadian membuat anda lambat menguasai bahasa asing!

(2). Hambatan Psikologi

Siapa pun ingin terkesan berkomunikasi sempurna seperti berbicara dalam bahasa ibu! Namun nyatanya itu tak mudah. Hambatan psikologi adalah alasan kedua yang menantang saya berbicara bahasa asing. Hambatan itu seperti ketakutan dan kekhawatiran tentang struktur atau tata bahasa.

Ketidakpercayaan diri pun bisa muncul saat belum menguasai banyak kosakata bahasa asing. Ketika saya harus berbicara dengan orang asing dalam bahasa asing terkadang kurang percaya diri pun muncul bahwa saya sulit menjelaskan. Alasannya saya tak punya kosakata yang sesuai.

(3). Hambatan budaya

Hidup di luar sebagai expat dan mengenal banyak orang dari multi etnis dan ras bukan hal yang mudah. Kecenderungan etnosentris, mengagungkan bangsa sendiri kerap masih terjadi. Jadi terbayang saja, teman yang sama-sama expat berbicara bahasa asing sering dianggap lelucon karena aksen dan dialeknya yang lucu.

Tak hanya itu, sebagian orang Asia seperti saya mengalami pengucapan yang tak jelas atau salah untuk kata yang menggunakan huruf umlaut (ö, ü, ë). Hal ini berdampak secara psikologis sehingga menjadi hambatan berkomunikasi.

Demikian pengalaman pribadi tentang bagaimana hambatan terjadi saat berkomunikasi bahasa asing. Apakah anda pernah mengalami hal serupa?

How to Understand Business Communication over Phone in Germany: Etika Berkomunikasi Profesional via Telepon di Jerman

Every country has own way to communicate for business purpose or personally communication, including in Germany. In commonly German people can make difference how to communicate in formal and non formal. To following communication professional by phone, I had some tips to assist my friends who the most are staying in my origin country, Indonesia. This written in below is only clue how to understand business communication  by phone in Germany.

Refer to my capacity on communications skill, I would like to share my experiences regarding the business communication effectively in Germany. As my second home now, I know this is contrary with all happening in my country. For example, I can accept phone anytime in Jakarta including weekend when I have had a horribly busy day to handle urgent event. But in here, they really appreciate weekend as family day. While I was working at office in Jakarta, chit chat or gossip by phone could be accepted as long as you have no problem in working performance. In here, every one can notice me at work when I got calling only for chit chat. They are really serious in working. No time for chit chat or gossip.

They are surely selective to communicate with people especially in business area or working issue. They will use “Sie” as you, not “Du” when they use in formal speaking in working. They used to call your family name after saying “Herr” for male and “Frau” for female. In Indonesia as my country, they prefer directly call a first name after saying “Pak” for male and “Ibu” for female.

At this moment, my focused on the communication over phone in Germany, here are the tips in according to my experiences. This is only recommendations, not to bear your minds when you are in here.

  1. Do not make noisy in public area or meeting time! So you must ensure your phone on vibrate or silent mode.
  2. When you want to accept this calling, please make away to find the silent place!
  3. After saying “HALLO” then tell your family name.
  4. Do not make a gossip or chit chat on phone! Say it in directly by phone on working hours.
  5. They always like to make a professional schedule by phone. They are really strict with a schedule you made previously. This is respectful for them when you follow the plan. You change, it could be ‘disaster’ for them.
  6. Do not call regarding business matters after 5 PM and weekend!

This is still open opinion. You can drop your comments in below regarding professional communication by phone in Germany. Just two cents✌

 

Ilustrasi.

 

Tiap wilayah ada kebiasaannya. Ketika saya datang ke Seoul, Korsel 2012 saya mengamati bahwa generasi muda semua begitu sibuk dengan hape di tangan, meski mereka sedang berpacaran. Hal ini jadi bahan diskusi antara saya dengan teman sekamar dari Belgia. Nah, bagaimana dengan di Jerman?

Orang Jerman termasuk selektif dalam membangun komunikasi, terutama dengan orang asing. Orang Jerman mampu membedakan komunikasi formal dan informal itu saja, mana keperluan pribadi dan bagian mana untuk kepentingan kantor atau bisnis.

Nah, dalam urusan menerima telpon di sini maka pertama kali setelah menyebut kata ‘Hallo’ maka kita menyebutkan nama keluarga atau family name, misal “Hallo, Liwun.” Jadi tidak menyebut nama Anna di awal. Untuk meyakinkan si penelpon bahwa dia benar-benar menelpon yang dituju, maka si penerima telpon sebutkan nama keluarga dulu. Baru jika si penelpon ingin berbicara dengan ‘Anna’ misalnya maka si penelpon akan menyebutkan spesifik nama atau nama depan (vorname). Itu kebiasaan menerima telpon.

Tak semua orang Jerman suka punya hape, bilamana dirasa perlu dan sesuai kebutuhan. Bukan karena mereka tidak mampu tetapi karena mereka tidak mau. Mereka tidak suka disibukkan dengan suara panggilan telpon. Jika anda berada di sini sebaiknya pilih tanda bergetar atau silent agar membuat orang sekitar nyaman. Daripada seluruh mata akan memandang anda hanya karena bunyi suara hape anda yang annoying itu.

Etika bertelepon selanjutnya adalah menerima telepon yang santun saat anda di area publik. Daripada berteriak-teriak terima panggilan telpon, lebih baik anda menyingkir ke tempat sepi. Atau anda bisa masuk ke mobil pribadi sehingga anda bebas berteriak-teriak menerima telepon juga. Tak ada orang yang tak sopan berteriak-teriak terima telpon saat di dalam kendaraan umum bagi orang Jerman. Di bis atau kereta mereka tampak silent dengan buku/koran atau diam.

Jangan pernah menelpon ke rumah setelah jam 10 pagi kecuali anda sudah janji sebelumnya! Kebanyakan kita memakai rekaman telepon rumah untuk meninggalkan pesan. Anda pun terbiasa untuk membuat janji bertemu misal periksa ke dokter, dengan menelpon terlebih dulu kecuali dalam keadaan gawat darurat. Anda akan sangat dihargai bila memenuhi waktu perjanjian tepat waktu di sini. 

Lalu setelah jam 5 sore untuk berbicara urusan kantor atau urusan pekerjaan, eits tunggu dulu. Jika rekan anda sudah memperbolehkan untuk ditelpon, tak masalah tetapi kebanyakan mereka memasukkan dalam mail box dan akan membalas telepon anda bila dirasa perlu. Jadi amati setiap aturan dari jam telepon bekerja di tiap instansi karena tidak mungkin seperti di Indonesia berlaku jam kantor dari jam 08.00-17.00. Bisa saja beda hari beda jam pula pemberlakuan terima telepon untuk urusan pekerjaan.

Lalu kebiasaan menerima telepon layaknya miss ringring bukan kebiasaan orang Jerman. Jika ingin bergosip atau berbicara panjang lebar maka mereka lebih pilih bertemu langsung ketimbang via telepon. Semestinya bicara di telepon adalah poin yang penting dan diperlukan. Bagi anda cukup via SMS atau teks singkat, lakukan itu ketimbang mereka menerima telepon apalagi saat bekerja. Jika itu penting dan urgent, mungkin anda bisa pertimbangkan telepon.

Jika ingin telepon ke orang yang dituju, sebutkanlah Herr untuk pria dan Frau untuk perempuan. Lalu pastikan nama keluarga, bukan nama panggilan meski anda adalah teman baik sekali pun. Setelahnya anda bisa bercakap-cakap seperti biasa, namun tata krama mereka di telepon begitu.

Baca https://liwunfamily.com/2014/04/08/mencermati-gaya-komunikasi-orang-jerman/

Kesimpulannya

  • Gunakan salam pembuka saat menerima telepon yakni HALLO!
  • Beritahukan nama keluarga lebih dulu (family name) bukan nama panggilan.
  • Berbicara yang santun, direct atau tidak berbelit-belit saat telepon.
  • Terima telepon di tempat yang sepi. Jika di area publik, menyingkirlah!
  • Beri nada getar atau silent pada hape anda saat rapat atau di kendaraan umum.
  • Jika urusan pekerjaan menelponlah tidak saat wiken, hari libur atau setelah jam 5 sore.

Bagaimana ada pendapat?

Komunikasi Juga Butuh Kepercayaan Loh

image1
Nothing is quite as precious as TRUST. Tulisan ini saya temukan di dinding toko emas di Singapore. Begitu menyentuh bahwa KEPERCAYAAN itu mahal harganya. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada banyak hambatan dalam berkomunikasi, seperti yang saya jelaskan di sini. Namun sesungguhnya ada satu elemen yang mendasari suatu komunikasi. Apa itu? KEPERCAYAAN. Berikut hasil percobaan dan pengalaman saya.

Suatu kali saya pernah tersesat sendirian traveling ke negeri Gingseng, Korsel. Pengalamannya saya tulis di sini. Saya berusaha berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk bertanya alamat hotel. Sebagian besar orang yang saya tanyakan, mereka memilih tidak ingin berkomunikasi dengan saya. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN kepada saya yang adalah orang asing menurut mereka.

Atau saya bereksperimen saat kuliah, Psikologi Komunikasi bahwa kepercayaan juga menentukan komunikasi. Saya berdiri di halte bis lalu mengajak orang berbicara. Saya adalah orang asing dan memulai suatu komunikasi yang baru. Tentu mereka yang percaya pada saya, akan terus berkomunikasi. Namun sebagian besar menolak berkomunikasi. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN.

Terhadap orang yang asing atau orang yang baru dikenal, tentu tak mudah membangun komunikasi. Itu sebab seorang konselor pertama-tama harus membangun suasana KEPERCAYAAN dulu kepada kliennya. Dengan begitu klien dapat nyaman berkomunikasi dengan konselor. See that!

So, KEPERCAYAAN menjadi kunci juga dalam berkomunikasi. Siapa yang tidak merasa terkesan saat seorang MOTIVATOR berkomunikasi kepada pendengarnya? Ada KEPERCAYAAN sehingga anda pun mau mendengarkan, rela bayar seminarnya, beli buku-bukunya dan sebagainya. KEPERCAYAAN itu membuat anda bertahan mendengarkan ceramah dari seseorang yang anda kenal handal dan kompeten di bidangnya. Anda percaya bahwa dia layak membangun komunikasi dengan anda.

Jika anda terima telpon dari orang asing yang tidak anda kenal, belum tentu juga anda merespon untuk berkomunikasi lebih lanjut. Mengapa? Karena rendahnya KEPERCAYAAN anda pada si penelpon yang notabene orang asing itu.

Lalu misalkan anda berteman dengan seorang sahabat yang sudah anda kenal baik dan percaya seratus persen kepadanya. Suatu kali dia kedapatan berbohong pada anda. Kepercayaan anda yang seratus persen di awal, bisa jadi berkurang karena kebohongan tersebut. Kemudian ketika sahabat anda ingin berkomunikasi lagi dengan anda setelah kebohongan itu, tentu anda bisa ragu berkomunikasi kembali atau anda mau berkomunikasi namun dengan kepercayaan yang tidak sepenuhnya.

Kepercayaan juga menjadi dasar berkomunikasi.

Seorang sales juga perlu berkomunikasi dengan baik, pertama tentunya harus membangun kepercayaan dulu dengan kliennya. Siapa mau tertarik dengan tawaran sales di awal jika tidak percaya? 

Komunikasi itu tidak murah. Mengapa? Karena kepercayaan itu mahal harganya. Jadi bangunlah kepercayaan yang baik sehingga orang mempercayai apa yang anda katakan saat berkomunikasi!

Dalam buku yang berjudul ‘Trust and Betrayal in the Workplace: Building Effective Relationships in Workplace’ yang ditulis oleh Dennis Reina PhD dan Michelle Reina PhD dikatakan bahwa anda membutuhkan kepercayaan dalam berkomunikasi dengan kolega di tempat kerja. Kejujuran misalnya sangat diperlukan dalam membangun interaksi dengan rekan kerja. Bukankah anda perlu menjadi orang yang ‘trustworthy‘ di tempat kerja ‘kan? Berkomunikasilah yang seadanya, tanpa ditutupi meski kejujuran terkadang susah. Namun dengan begitu mereka tahu bahwa anda adalah orang yang dapat dipercaya.

Semoga bermanfaat!

Rahasia Perkawinan 50 Tahun: “Komunikasi Itu Kuncinya!”

Ilustrasi. Setiap pasangan suami-isteri berharap mampu melampaui usia perkawinan emas hingga opa oma. 

Adalah opa oma usia sepuh, teman orangtua mertua di Jerman yang baru saja merayakan ulangtahun perkawinan emas. Saya tertegun dengan loyalitas hubungan kasih antara dua insan tersebut, yang menurut kebanyakan pasangan tak mudah dilalui. Saya hadir dalam perhelatan sederhana yang mereka adakan. Ini semacam perayaan syukur, jadi ada pastor dan beberapa kerabat yang diundang kemudian makan bersama.

Selesai berdoa, ada semacam testimonial dari opa oma tersebut bagaimana mereka mampu bertahan hingga melewati usia perkawinan emas. Siapa pun pasangan suami-isteri berharap dapat melampaui usia perkawinan emas dan seterusnya hingga ‘Till Death do us apart‘ ya ‘kan?

Komunikasi suami-isteri tidak berbicara siapa yang dimenangkan dan siapa yang kalah, seperti komunikasi politik. Komunikasi suami-isteri juga bukan tentang bagaimana mencari untung-rugi dengan membuat reklame yang menarik massa seperti yang digunakan dalam periklanan. Komunikasi suami-isteri adalah hubungan dua orang yang sepakat menikah dan membentuk keluarga, tidak ada menang-kalah atau untung-rugi. Tentu harus tahu sama tahu, suka sama suka, cinta sama cinta, susah sama senang, sakit sama sehat yang harus dilalui bersama. Sweet banget ‘kan?

Masalahnya saat berumahtangga semua itu tidak mulus, termasuk komunikasi. Komunikasi yang sulit dilakukan adalah saat menyampaikan segala keinginan dan kesulitan satu sama lain. Satu pihak ada yang menjadi bossy, pihak lain menjadi tertekan. Bagaimana membangun komunikasi suami-isteri secara nyaman jika ini yang terjadi?

Komunikasi suami isteri itu komunikasi kolaboratif yang saling membangun. Satu pihak berbicara, pihak lain mendengarkan. Komunikasi dua arah dan membangun dialog. Satu pihak bertanya, pihak lain menjawab. Ada diskusi, bukan instruksi. Apakah mudah? Susah jawabannya. 

Selama ini orang memandang komunikasi adalah hal sepele dan tak perlu ada keterampilan komunikasi dalam berumahtangga. Kebanyakan berpikir kursus persiapan perkawinan lebih ditekankan pada pengetahuan reproduksi dan pengasuhan. Padahal saat ini banyak ditemukan penyebab perceraian adalah karena komunikasi. Baca di sini

Membangun komunikasi positif antar suami-isteri bila mengutip testimonial rahasia opa oma di atas, ada tiga hal:

  • Kasih sayang

Apakah cara anda berkomunikasi sama antara supervisor/bos di kantor dengan anak anda di rumah? Pasti berbeda. Di kantor, anda bisa berbicara direct dan formal. Di rumah, anda berbicara lebih lembut, intonasi merendah, basa-basi dengan anak, ada pelukan/belaian ke anak dan sebagainya. Apa yang membedakan komunikasi keduanya? Kasih sayang. Coba deh saat anda berbicara dengan orang yang anda kasihi apakah sama saat anda berbicara dengan orang asing tak dikenal! Bahasa cinta itu mengalahkan segalanya. Buktinya bahasa cinta membuat anda menikah dengannya ‘kan.

  • Apresiasi

Siapa pun senang dipuji. Bahkan anda bisa memutuskan resign jika bos kurang melakukan apresiasi terhadap kinerja anda. So mengapa tidak memulai untuk berikan pujian kepada pasangan anda sendiri? Hargailah apa yang sudah dilakukan suami/isteri pada anda. Misal sebagai suami, hargai isteri yang sudah membersihkan rumah dan mengasuh anak dengan baik. Sebagai isteri, hargai suami yang sudah bekerja giat untuk memenuhi kehidupan keluarga. Apresiasi itu sederhana saja, kata si opa dalam cerita di atas. Mengucapkan kata ‘terimakasih’ kepada pasangan, sudah berarti.

    • Kesepakatan

      Kesepakatan antar suami-isteri adalah sama-sama menang. Baik suami maupun isteri mampu menemukan kata sepakat dalam urusan rumah tangga. Mampu menyelesaikan setiap masalah bersama-sama. Kata opa, “Saat ada masalah rumah tangga, jangan melarikan diri! Selesaikan dulu berdua bersama-sama.” Luar biasa!

      Semoga bermanfaat!